Kamis, 25 September 2014

ISSU BEGU GANJANG DAN KETANGGAPAN PELAYAN GEREJA

ISSU BEGU GANJANG DAN KETANGGAPAN PELAYAN GEREJA

Oleh: Nekson M Simanjuntak

Photo: Pdt Renova Sitorus berkordinasi dengan pemuka agama dan aparatur 
mendiskusikan langkah antisipatif tanggkal issu Begu Ganjang di Manduamas 
(Diakses dari status FB Pdt Renova Sitorus, Kamis, 25 September 2014)


A.      Pengantar
Cukup prihatin fenomena masalah Begu Ganjang masih terus masalah yang fenomenal dalam masyarakat Batak. Hal itu bukan saja berada di wilayah Bona Pasogit, namun juga merambah ke daerah per
antauan orang Batak.

Rabu, 25 September sesuai pemberitaan Pdt. Renova Sitorus dalam status FBnya dia berkordinasi dengan pemuka agama dan muspika kecamatan Manduamas Tapteng. Ini membuktikan bahwa hingga sekarang fenomena issu Begu Ganjang merupakan salah satu masalah fenomenal dalam masyarakat Batak. Saya salut dengan Pendeta Renova yang berkodinasi dengan pemuka agama dan mendiskusikan bersama langkah-langkah antisipatif dalam menghempang issu begu ganjang dalam masyarakat. Hal seperti ini adalah langkah yang paling efektif dalam menghentikan meluasnya issu Begu Ganjang di suatu daerah. Jika tidak tanggap dampaknya akan meluas dan akan terjadi korban kekerasan massa kepada orang yang dituduh sebagai pemelihara begi ganjang.

atas peristiwa ini, kembali saya membaca ulang tulisan saya tentang issu begu ganjang yang pernah saya muat dalam notes. 

B.      Beberapa Pandangan Tentang Begu Ganjang.
Jika kita runut dan evaluasi berbagai berita dan pemberitaan tentang issu begu ganjang, setidaknya ada empat pemahaman yang berbeda perihal Begu Ganjang yang muncul di tengah-tengah masyarakat, yaitu:

1.       Begu ganjang sebagai warisan agama Batak purba.
Pandangan ini masih kuat hidup di tengah-tengah masyarakat Batak hingga kini. Khususnya masyarakat yang sangat dekat pada pemahaman kekuatan magic dan perdukunan. Pandangan ini didukung pula dengan ada risert dari leteratur Batak bahwa sebelum  kekristenan ada dukun yang memelihara begu dengan tujuan baik dan jahat. Tujuan baik biasanya sebagai  'parjaga' untuk melindungi seseorang atau memelihara ketentraman suatu kampung atau pelindung dari niat jahat dari luar kampung. Keyakinan semacam ini masih banyak di kalangan masyarakat batak. Sedangkan tujuan jahat adalah membuat penyakit dengan mengirim pangulu balang dan mendatangkan seseorang atau suatu kampung.

Menurut kepercayaan orang Batak, sebelum kekristenan ada 7 begu yang terdiri dari 2 jenis, yaitu begu yang sudah ada sejak awal dan begu yang berasal dari manifestasi orang mati. Ketujuh begu tersebut adalah :
1. Begu Toba, yaitu begu yang menguasai suatu kampung dan merupakan begu lokal.
2. Begu Jau, adalah begu yang datang dari kampung lain untuk mengganggu penduduk desa tetangga.
3. Begu Siherut, begu yang mengakibatkan orang semakin kurus dan kemudian mati.
4. Begu Ladang, begu yang menguasai ladang/hutan, dan mengganggu orang di sana.
5. Begu Antuk, begu penyebab penyakit menular, seperti kolera yang menyebabkan kematian yang tiba-tiba.
6. Begu Siharhar, adalah begu seorang ibu yang mati pada saat melahirkan atau mati karena bunuh diri.
7. Begu Ganjang atau Begu Nurnur, yaitu begu dari orang yang peti matinya terlalu sempit/pendek.

Khusus mengenai Begu Ganjang : Menurut kepercayaan "hasipelebeguon" jika seorang dikuburkan dengan peti mati yang terlalu sempit/pendek maka di dalam kubur dia meronta-ronta sehingga begu-nya menjadi tinggi, setinggi pohon enau (aren-bagot). Di antara ke-tujuh begu di atas begu ganjang inilah yang bisa dipelihara atau dimiliki oleh seseorang dengan suatu "kesepakatan" tumbal antara sang begu dan calon pemilik. Begu inilah, katanya, yang bisa diperintah oleh pemiliknya untuk mengganggu, menyakiti, membunuh orang-orang yang tidak disukainya . Oleh tingginya begu ini maka setiap orang yang didatanginya otomatis menengadah ke atas dan kesempatan itulah dipergunakan begu ganjang untuk mencekik korban.

Pandangan seperti ini sebenarnya telah banyak berubah di kalangan orang Batak khususnya setelah datangnya kekristenan yang menekankan dunia orang meninggal tidak ada kaitannya dengan dunia orang hidup. Namun harus diakui masih ada yang menyakini memahami pandangan ini dan tetap ada di tengah-tengah pemahaman sebagian orang Batak. Apalagi mereka yang dekat keyakinannya akan perdukunan. Namun bagi sebahagian orang hal ini sungguh sulit diterima akal karena dianggap tidak logis dan tak masuk akal.

2.       Begu ganjang tidak ada tapi penyamaran kuasa jahat atau iblis.
Ini yang diyakini oleh sebagian orang Batak yang telah menjadi Kristen dan sangat mudah menerima dan mengembangkan exorcism (pengusiran roha jahat). Pandangan ini mengakui tidak ada begu yg ada roh jahat atau roh iblis yg ingin mempengaruhi kehidupan manusia. Roha jahat bisa masuk di dalam diri seseorang melalui suatu pintu masuk dalam jiwa seseorang. Pintu masuk dimaksud adalah bisa dalam berbagai hal misalnya, fisik yang lemah, keturunan dukun, mengalami pergumulan beran dan kurang beriman. Roh jahat ini bisa memasuki jiwa seseorang dan mempengaruhinya  untuk terikat pada roh jahat. Masuknya roh jahat dalam diri seseorang biasanya menghambat seseorang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Maka agar tidak ada penghalang pada ibadah yg murni perlu ada pengusiran roh jahat.

Pandangan semacam ini banyak dikembangkan oleh orang Kristen yang mengembangkan diskusi exorcisme dan okultisme. Di beberapa orang Kristen ini sangat diterima, bahkan menjadi bidang pelayanan yang sangat populer. Namun sebagian Kristen juga kurang menerima pandangan semacam ini karena teori masih mengambang dan sulit dibuktikan secara logis.

3.       Begu ganjang sebagai fenomena sosial.
Ini pandangan yg modern dengan berbagai kasus begu ganjang yang diadili baik secara hukum formal dan pembuktian dalam pencarian bukti yang disaksikan masyarakat tidak pernah ada bukti yang memuaskan bahwa seseorang dapat dibuktikan sebagai orang memelihara begu ganjang. Dalam berapa kasus ada hal-hal yang tidak masuk akal; misalnya dengan klaim dukun ada kertas berisi nama-nama yang telah meninggal dimana sebagian sudah meninggal dan sebagian lagi belum. Daftar yang belum meninggal ini diisukan akan menjadi sasaran berikutnya.  Penemuan kertas ini sangat misteri dan nampaknya kurang berterima. Contoh lain pihak dukun mengklaim menemukan boneka dengan tertusuk-tusuk jarum, namun proses penemuan bonega kurang transparan. Artinya ini proses pembuktian parbegu ganjang dalam beberapa kasus sangat jarang memuaskan namun motif-motifnya sangat memicu pada suatu misteri, namun tidak secara langsung menyebutkan orang tertentu dalam pemelihara begu ganjang, namun dengan isiarat dan petunjuk-petunjuk tertentu untuk menyalurkan kebencian kepada pihak yang dituduhkan sebagai parbegu ganjang.

Pandangan ketiga ini berpendapat bahwa kasus begu ganjang ini muncul karena ada situasi tertentu yang muncul dalam masyarakat yang sulit di terima akal yang bisa kita sebut ‘unlogic’. Misalnya dengan adanya kasus meninggal tiba2 atau ada penyakit yang aneh secara medis tidak mendapatkan penjelasan yang memadai di suatu kampung atau daerah. Peristiwa semacam ini bisa menimbulkan pertanyaan di tengah-tengah masyarakat dan mencoba meraba-raba apa sesungguhnya yang terjadi. Dalam situasi seperti ini sangat mudah masuk pengaruh untuk pembuktian macam ini ditanyakan kepada dukun atau ahli yang didaulat dapat membuktikan atau menjelaskan keadaan ini. Dalam berbagai kasus dukun semacam ini dapat memberikan ciri-ciri yang dimiliki seseorang dan dengan secara mudah di tangkap masyarakat dengan menuduh seseorang pelaku yang memelihara begu ganjang sebagai faktor penyebab munculnya peristiwa yang ‘unlogic’ dimaksud.  Teori pembuktian seperti ini biasa sangat cepat di terima dalam masyarakat yang dekat pemahamannya pada magic. Sehingga sang dukun dapat dengan mudah mempengaruhi masyarakat untuk menuduh seseorang di kampung tersebut sebagai pemelihara begu ganjang. 

Pandangan ini berpendapat jika suatu peristiwa dikampung tersebut yang ‘unlogic’ dapat dijelaskan dan ditangani secara cepat dan logis maka peristiwa begu ganjang tidak akan terjadi dalam masyarakat. Dalam pandangan ini sangat berharap agar para medis dan pelayan gereja dapat menjelaskan fenomena dalam masyarakat secara logis dan rasional, sehingga masyarakat tidak diberi ruang untuk bertanya kepada dukun atau yang didaulat memiliki kemampuan membuktikan parbegu ganjang. 

4.       Teori penyaluran kebencian pd seseorang.
Ini bisa berdekatan dengan point 3, namun beda motifnya. Jika pada no 3 pada peristiwa 'unlogic' maka pada point ke empat ini lebih pada iri atau kebencian pada seseorang. Misalnya seseorang di kampung pekerja keras dan usahanya tergolong baik, sehingga yang lain yang pernah bersinggungan atau selisih menjadi faktor yg dominan untuk tuduhan-tuduhan pada seseorang sebagai parbegu ganjang. Dalam teori sosial bisa ini dikatakan sebagai ‘dirty tactic’ memanipulasi data dan informasi dengan membungkus issu begu ganjang sebagai penyaluran kebencian. Teori semacam ini bisa dilakukan oleh seseorang karena kalah dalam suatu usaha, atau iri terhadap keberhasilan dan kelebihan orang lain. Namun dalam proses pembuktiannya hampir sama dengan point ketiga. Seseorang memiliki kelebihan atau berhasil dalam suatu usaha atau pekerjaan karena dianggap bekerjasama atau karena memelihara begu. Untuk proses pembuktian ini biasanya diundang dukun yang dianggap ahli dan didaulat memiliki kemampuan untuk membuktikan seseorang parbegu ganjang.

C.      Peran Gereja dan Pelayan
Apakah yang dapat kita lakukan dalam penangkalan Begu Ganjang? Dalam melihat konteksnya,  latar belakang issu begu ganjang  berkaitan dengan keyakinan dan respon masyarakat keluar dari situasi tertentu  yang dianggap tidak biasa. Misalnya terus gagal panen, ada musibah atau peristiwa-peristiwa aneh yang menjadi perbincangan warga. Dalam situasi seperti ini agar issu Begu Ganjang dapat ditangkal, maka beberapa hal dapat dilakukan oleh gereja dan pelayan adalah sebagai berikut:  
1.       Cepat dan tanggap mewaspadai jika ada semacam kegelisahan dalam masyarakat!
Pendeta mesti tanggap darurat dan dengan cepat mengantisipasi untuk memberikan pencerahan dalam masyarakat jika terjadi fenomena sebagaimana dikemukakan di atas, jangan sampai diberi ruang untuk mendatangkan datu atau dukun untuk menanyakan perihal yang terjadi dalam masyarakat. Biasanya jika ada rapat-rapat di dalam masyarakat yang memberi ruang untuk menanyakan dukun atau orang yang didaulat mampu membuktikan hal ihkwal yang terjadi. Disinilah muncul issu Begu Ganjang yang biasanya dengan modus yang hampir sama di beberapa daerah. Gereja harus memiliki langkah-langkah baik pendekatan kepada kepala desa dan bekerjasama dengan tokoh masyarakat lainnya agar tidak sampai ada pikiran atau niat masyarakat kampung untuk mengundang secara resmi di kampung tersebut apalagi dengan ritus tertentu. Dalam hal ini gereja perlu bekerjasama dengan aparatur pemerintah seperti keamanan atau berbagai lintas ilmu untuk memberikan penjelasan yang lebih logis dalam mengamati dan mencermati fenomena yang ada di dalam masyarakat atau desa.

2.       Perlu pendekatan theologis yang tegas bahwa tidak ada kaitan roh orang meninggal dengan orang yang hidup.
Sebagian orang Batak masih melekat pemahamannya tentang Begu Ganjang sekalipun telah menjadi Kristen. Mereka percaya kepada begu itu oleh issu dan provokasi dari orang-orang yang layak mereka percayai, ditimpali lagi oleh perasaan benci terhadap orang yang dicurigai, tanpa berpedoman pada nalar apalgi pada iman Kristiani yang seharusnya mereka pergunakan sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan. Alkitab tidak pernah berbicara tentang roh orang mati seperti konsepsi 'hasipelebeguon batak' di atas dengan segala jenis dan peranannya. Rasul Paulus, memang, pernah berbicara mengenai "roh-roh jahat di udara" -namun itu menunjuk kepada kuasa iblis dalam segala bentuknya (Efesus 6, 12) - tapi Paulus telah menyodorkan kepada kita "perlengkapan rohani" untuk menghadapi semuanya itu (baca Efesus 6, 10-20). Perlu ditekankan bahwa "ndang tutu adong begu di portibi on, jala ndang adong debata dungkon ni Nasasada i" (1 Kor. 8, 4)

Hal yang tidak kalah pentingnya adanya penegasan pada Luk 16:23-26 tentang Lazarus dan orang kaya, dikatakan: “Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.” (ay.26).

3.       Gereja melakukan pendidikan iman untuk menjelaskan bahwa dunia orang mati tidak berkaitan lagi dengan orang yang hidup.
Bukankah jaman missionaris ini sudah teruji? Di dalam berbagai kasus missionaris diberi tanah yang nota bene dianggap sebagai parbeguan atau di anggap angker dan terbukti para miissioner tidak dimakan begu. Sehingga tidak ada lagi semacam keraguan di tengah-tengah jemaat akan pemahaman roh  orang meninggal.

4.       Gereja dan Pelayan mesti bertindak sebagai pelindung korban.

Ini sangat penting agar tidak terjadi tindak kekerasan di tengah-tengah warga masyarakat. Amatlah tragis jika pelayan membiarkan masyarakat melakukan tindak kekerasan yang bisa berakibat kehilangan nyawa namun gereja tidak berbuat apa-apa. Gereja mesti terpanggil mengeliminasi kekerasan dan tindak kriminal di tengah-tengah masyarakat. 

Rabu, 24 September 2014

MEMAKNAI SUMPAH JABATAN

Memaknai Sumpah Jabatan 

Oleh : Nekson M Simanjuntak

Gabe its Aufgabe
Pemberian adalah Tanggujawab


Pada bulan September dan Oktober 2014 Indonesia sedang sibuk melaksanakan pelantikan para wakil Rakyat. Di berbagai media acara pelantikan dan angkat sumpah jabatan para wakil rakyat merupakan berita paling ramai bahkan menjadi sajian berita menarik berbagai Daerah serta segala dinamikanya. Hal ini akan berlangsung ke depan di berbagai daerah lainnya hingga DPR di Senayan. Penantian puncaknya mungkin yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia adalah Pelantikan Presiden Jokowi -Jusuf Kallah tanggal 22 Oktober 2014.

Perihal pelantikan para wakil rakyat tersebut, saya jadi teringat satu istilah dari orang German yang mengatakan   Gabe its Aufgabe, artinya "pemberian adalah tanggungjawab." Istilah ini memberikan pengertian yang dalam akan arti dan makna pekerjaan dan tugas khususnya dalam pelayanan gerejawi. Pekerjaan adalah pemberian yang mesti dihormati dan dihargai melalui suatu tanggungjawab dan mesti dilakukan dengan kerja keras, displin dan taat pada rule atau aturan yang ada. Jika diitinjau dari sudut theologi, pekerjaan adalah pemberian Allah. Allah sendiri yang memberikan mandat bagi pemangku jabatan. Dalam pelayanan gerejawi, pekerjaan adalah panggilan yang mesti dilakukan secara bertanggungjawab pada Allah sang pemberi pekerjaan. Karena Allah adalah sang pemberi, maka tanggung jawab dalam pelayanan gerejawi bukanlah bertanggungjawab pada manusia tetapi pada Allah yang sendiri. Pekerjaan dalam pelayanan gereja mesti dipahami oleh setiap pelayan, bahwa pelayan bukanlah pemilik dalam gereja tetapi sebagai pekerja. Pekerjaan adalah titipan dari sang pemberi yaitu pemilik. Pemilik dan pekerja harus dibedakan. Pemilik adalah Allah sendiri dan pekerja adalah pelayan yang dipanggil. Ibarat ladang, pemilik ladang bukanlah pekerja, tetapi adalah Allah sendiri. Allah sendiri yang memanggil dan mengutus orang bekerja di ladang milik kepunyaanNya. Pemilik berwewenang penuh memilih dan menentukan siapa yang menjadi pekerja diladangnya dan berwewenang penuh memberikan upah pada orang-orang yang dipekerjakannya. Pemahaman pelayan terhadap milik dalam pelayanan gerejawi penting, untuk meningkatkan kesadaran bahwa pelayan adalah Hamba Tuhan yang diberi kesempatan dan dipercayakan melakukan tugas dan dilakukan mesti sesuai dengan rule yang ada. Seorang pekerja tidak dapat seenaknya bekerja, namun memiliki ketaatan dan ketundukan pada aturan yang ditetapkan pemilik. Demikianlah seorang hamba Tuhan mesti memiliki ketaatan dan ketundukan pada Aturan yang ditetapkan Allah melalui uraian tugas tohonan masing-masing. 

Hal yang sama tertitip pesan akan makna ungkapan ini bagi para pemangku jabatan yang dilantik dan yang akan dilantik di bulan September dan Oktober ini baik para legislatif, eksekutif dan jajarannya. Pemberian adalah tanggjawab meruapakan suatu ungkapan sangat baik direnungkan dalam mengabdikan diri sebagai wakil rakyat dan aparatur negara. Tugas dan jabatan yang diemban adalah pemberian Allah yang diterima melalui suatu proses politik oleh rakyat. Tugas itu diberikan dan dipercayakan oleh rakyat dengan harapan dilaksanakan dengan tanggungjawab sebagai wujud ketaatan dan komitmen dalam mengabdikan dan mengabadikan diri sebagai pelayan rakyat. 

Pemberian adalah tanggungjawab, hal ini yang mesti dihayati dan ditumbuhkembangkan oleh semua pemangku jabatan (gerejawi dan publik).  Dengan istilah ini semua pelayan menyadari bahwa pekerjaannya sebagai pelayan mesti disyukuri sebagai pemberian dan kepercayaan Tuhan. Kepercayaan ini adalah sangat berharga dan memiliki nilai yang sangat tinggi. Tentu akan banyak godaan, tantangan, persaingan bahkan gesekan dalam berbagai dinamika menjalankan tugas. Pemangku jabatan yang menerima mandat mesti taat dan mengabdikan hidupnya mengabdi pada yang memberikan mandat. 

Dalam menunaikan tanggungjawab yang besar ini Alkitab 2 Timoteus 4:5 memberikan pesan: “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!”. Ini adalah suatu pesan yang sangat baik direnungkan dan dihayati sebagai bentuk ketaatan dalam menunaikan tanggungjawab. 

Kutuliskan ini sebagai pesan buat beberapa teman yang telah dilantik menjadi anggota Dewan!

Senin, 22 September 2014

PATUNG YESUS TERBENGKALAI DI SIATAS BARITA

PATUNG YESUS TERBENGKALAI DI SIATAS BARITA
Oleh : Nekson M Simanjuntak

Harapan: Dua Tangan Memberkati
Kenyataan: Dua Tangan Memohon Pengampunan 


Pembangunan patung Yesus setinggi 40 meter di Siatas Barita berdekatan dengan Salib Kasih sebenarnya akan menjadi harapan masyarakat Tapanuli Utara mengabadikan Siatas Barita menjadi Obyek Wisata Rohani di Tapanuli. Menurut Rencana peresmian Patung ini dijadwalkan Desember 2013 sebagai kado Natal buat Masyarakat Tarutung dan Masyarakat Batak umumnya, namun apa hendak di kata lain harapan dengan kenyataan. Pembangunan patung ini macet dan terbengkalai, bahkan dalam dua kali berkunjung ke sana tak ada aktifitas tanda-tanda untuk kelanjutan pembangunan ini.

Jika pembangunan ini selesai, diperkirakan patung ini akan menjadi patung Tuhan Yesus tertinggi kedua atau ketiga di dunia, sejajar seperti di Rio de Jeneiro Brazil atau di Dilly, Timor Leste. Setiap saya duduk di rumah (kebetulan teras rumah dinas yang kutempati sekarang di Tangsi persis berhadap dengan patung ini, atau juga di kantor saya di Pearaja akan selalu menarik-narik pandangan untuk menatap ke arahnya. Apa yang kulihat ini, dua tangan ini  mungkin direncanakan sebagai gambar untuk memberkati bagi setiap orang di lembah Silindung, namun bagiku pemandangan ini menjadi tangan yang menengadah ke langit memohon pertolongan dan ampun atas dosa dan khilaf dalam seluruh proses pembangunan Patung ini.  Inilah kurasa tragisnya pembangunan patung Tuhan Yesus di Siatas Barita, Tarutung yang hingga saat ini terbengkelai dan tak ada tanda-tanda akan kelanjutannya. 

Saya tidak berpretensi untuk investigasi terbengkalainya Patung ini, namun saya hanya berefleksi bahwa merencanakan Wisata Rohani mesti didasari iman yang rohani dan diikuti spiritualitas tinggi, bukan sebagai obyek bisnis dan proyek, namun suatu usaha untuk melekatkan hal rohani bagi setiap yang mengunjunginya. sehingga benar-benar menjadi berkat bagi sekelilingnya ataupun bagi setiap orang yang datang berkunjung.  

Kutuliskan ini sebagai ungkapan keprihatinan kepada dua tangan yang menengadah ke langit, bagiku ini bukan sebagai tangan yang memberkati, namun tangan yang menengadah ke langit untuk memohon pertolongan pengampunan atas pengerjaan patung ini!


QUICK COUNT, KPI DAN KETAKUTAN

QUICK COUNT, KPI dan KETAKUTAN
Pemberhentian Penayangan QC Mengubur Kebebasan Pers dan Kemunduran Demokrasi;
Suatu Kommentar atas Sikap KPI Pada Pilpres 2014
Oleh : Nekson M Simanjuntak





Sabtu, 12 Juli 2014, KPI instruksikan pemberhentian penayangan dan publikasi hasil QC lembaga survei dan Real Count dari dua kubu Pilres di seluruh stasiun TV di Indonesia. Pemberhentian ini didukung oleh komisi I DPR RI. Sikap ini diambil karena takut terhadap ancaman atau benturan fisik para pendukung kedua capres/cawapres yg sama klaim kemenangan. Sesungguhnya pemberhentian itu adalah bentuk ketakutan demi menjaga keamanan. Harga mahal dibalik pemberhentian tersebut adalah telah membunuh dan mengubur kebebasan pers sendiri yang diperjuangkan di era reformasi. Apalagi KPI ada dan diperjuangkan dengan tujuan kebebasan pers.

Instruksi KPI ini dianggap sebagai jalan alternatif mengatasi situasi nasional yg terbelah kepada kedua pasangan capres/cawapres yg sama2 klaim unggul dlm Pilpres 9 juli. Pemberitaan keunggulan masing-masing capres yg didukung oleh data quick count dari berbagai lembaga surey dan semakin hangat dan dinilai panas. Delapan lembaga survei menangkan Jokowi-JK dgn kisaran 52-53% sementara Prabowo/Hatta unggul tipis menurut 4 lembaga survey. Konsentrasi kekuatan massa tentu akan tertuju pada hasil pilpres ini karena berharap agar presidan pilihannya menang. 

Persaingan ketat Pilpres ini dianggap rawan konflik, berbagai elemen masyarakat pun serukan pengawalan ketat perhitungan suara dan desak KPU independen tanpa dipengaruhi pihak manapun dan tanpa takut terhadap presser (tekanan) dan mendorong pihak Kepolisian untuk jamini perhitungan suara yg jujur dan tanpa kecurangan. Bahkan Presiden didesak untuk mengawal Pilpres ini secara jujur hingga penetapan pemenang pemilu oleh KPU tanggal 22 juli. Berbagai desakan terhadapmpemerintah tersebut adalah sungguh ssangat wajr  karena itulah tujuan bernegara. Namun sangat berbeda jika KPI menghentikan publikasi perhitungan cepat tersebut karena lembaga ini bertujuan mendorong kebebasan pers dan membuka akses informasi seluas-luasnya bagi masyarakat agar dapat mengakses informasi dan fenomena yang terjadi di tengah2 masyarakat. 

Bagaimana kita melihat instruksi KPI ini dari segi kebebasan dan demokrasi ke depan ? Kebebasan Pers adalah salah satu produk reformasi yang mungkin dibanggakan dan mungkin hanya sisi ini yang tertinggal, sementara agenda lain masih dianggap lambat.  Bagi penulis hal ini sangat mengejutkan. Setelah 16 tahun reformasi lembaga KPI yang mesti mendorong transparansi dan kebebasan pers justru melakukan tindakan yang berlawanan dgn tujuan KPI itu sendiri. Betul alasan ini sangat logis demi keamanan nasional. Apakah dengan ancaman terjadinya keributan dari pendukung capres/cawapres maka masyarakat Indonesia harus mundur dari kebebasan pers atau membunuh dan mengubur kebebasan pers. Apakah tidak ada hukum bagi yang akan melakukan keributan karena pilihannya tidak menang, dimana polisi, dimana pihak keamanan dan dimana negara?

Apapun hendak dikata bahwa Langkah KPI ini sungguh bertentangan dengan tujuan KPI, jika karena ancaman keamanan seharusnya KPI merekomendasikan untuk memperkuat keamanan dan penegakan hukum bukan mengorbankan kebebasan pers sebagai garda depan dalam demokrasi. Dalam hal ancaman dan ketakutan situasi panas para pendukung mestinya KPI dorong pihak keamanan meningkatkan kewaspadaan dan penegakan hukum yg tegas bagi yg mencoba melakukan kisruh serta menyuarakan jaminan kenyamanan pilihan yg berbeda. Hal ini penting dilakukan agar masyarakat tidak bermain-main dengan hukum. Apakah kalau capres tertentu kalah dapat melakukan kisruh dan anarkis. Sekali lagi langkah yg dilakukan KPI yg hentikan pemberitaan Quick Count ini telah membunuh dan mengubur kebebasan pers. Mestinya lembaga ini mendorong pemberitaan yg lebih bebas dan bertanggungjawab sehingga masyarakat dapat mengakses informasi yg berbeda dan menghargai perbedaan dalam payung hukum yang kuat. Mestinya yang didorong adalah tanggung jawab dan pencerahan berbagai elemen masyarakat. Misalnya jika lembaga survey melakukan penelitian dan surveynya keliru tentu ada sanksi moral yg sangat tinggi, jika tak penuhi kaidah yang beri sanksi dan mengubur lembaga survey tersebut agar tak bisa lakukan penelitian picisan. Demikian terhadap stasiun televisi yang memberitakan pembohongan publik misalnya maka ijinnya dicabut dan hukum yg tegas. Moment ini sebetulnya mesti moment penting dalam pendidikan bagi masyarakat menuju demokrasi yg sesungguhnya dan proses edukasi bahwa jika tak menang capres/cawapres tetap menghargai hasil dan tidak melakukan tindakan anarkis. Sehingga masyarat terdidik dengan sikap fair play, mental satria dan legowo dalam setiap pertarungan.

Artinya KPI seharusnya mempertahankan kebebasan pers dan rekomendasikan kebebasan yg bertanggungjawab. Bisa bebas mendirikan lembaga survey dan buat Quick Count namun turuti kaidah dan bersedia kena sanksi berat jika tak penuhi kaidah. Langkah seperti ini yg mestinya dilakukan KPI bagi masyarakat bukan instruksikan pemberhentian data dan informasi yg berdampak hak memperoleh informasi yg dibutuhkan oleh masyarakat. Demikian dengan stasiun TV jika dlm pemberitaan tak memenuhi kode etik pemberitaan dapat KPI dapat memberikan sanksi yg tegas. 

Langkah KPI ini akan menjadi preseden buruk ke depan dalam berdemokrasi di Indomesia khususnya di Pemilu (Pileg dan Pilpres) dan Pilkada. Kalau sempat moment ini menjadi diundangkan tak boleh lembaga survey publikasi lewat media hasil hitungan cepat dalam pemilu dan pilkada proses tranparansi dalam demokrasi telah terkubur. Akses informasi pun jauh dari harapan masyarakat. Bukan kah dalam Pilkada akan terbuka klaim kemenangan dan berbagai pihak yang bertarung dalam perebutan Kepala Daerah? Dengan pemberhentian publikasi oleh KPI maka lembaga2 survey tidak dapat lagi melaksanakan fungsi penelitian dan publikasi yang sangat berharga bagi masyarakat. Padahal lembaga-lembaga survey yang independen dan obyektif adalah lembaga yang dipakai oleh masyarakat sebagai indikator lain dalam menilai hasil perhitungan suara oleh KPU dalam Pemilu. Kebebasan yang dikubur KPI akan sulit bangkit karena pengalaman Pilpres ini dan dengan alasan keamanan akan menjadi jalan mudah menutupi transparansi. Dalam setiap pemilu mesti dalam prinsip boleh berbeda namun masing-masing orang harus bertanggungjawab dlm kebebasannya, bebas dari tekanan dan intimidasi. Dalam alam demokrasi negara harus menjamin setiap orang nyaman dalam perbedaan.

Salam demokrasi, merdeka!

SELAMAT DATANG ANAKKU TIMOTIUS

SELAMAT DATANG ANAKKU TIMOTIUS
Jadilah anak yang baik, kestaria dan berbudi bhakti
Oleh: Nekson M Simanjuntak


Minggu, 20 Juli 2014 menjadi hari istimewa bagi keluarga kami! Pagi seperti biasa kami serapan dan kemas-kemas untuk mengikuti ibadah pukul 09.00 di HKBP Kapuk. Memang sudah satu bulan kami di Jakarta di rumah mertua sambil menunggu urusan yg belum kunjung tampak titik terangnya. Setiba di gereja Theofilus anak kedua kami masuk ke ruangan atas gereja untuk ikuti pengajaran Sekolah Minggu. Sementara Theresia Carlita anak pertama kami, istriku dan saya sandiri memasuki gedung dan duduk menenangkan diri berdoa dan mengikuti kebaktian, nyanyian pujian dan pembacaan Firman.

Dalam ibadah saya berdoa agar Tuhan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi bangsa Indonesia khususnya berkaitan dengan pengumuman hasil Pilpres 22 Juli 2014. Kegalauan ini bukan saja soal situasi kondusif Kota Jakarta, namun berdasarkan konsultasi Dokter Soetikno Sabtu, kemarin tgl 19 Juli di rumah Sakit Harapan Kita bahwa Dokter memperkirakan kelahirannya tangal 22 Juli bertepatan dengan pengumuman KPU dan telah membuat beberapa surat untuk kami bawa tanggal 22 Juli pukul 09.00 di ruang Cempaka RS Harapan Kita. 


Selama mengikuti ibadah saya mencoba konsentrasi untuk ikuti nyanyian dan doa sesuai dengan urutan acara, namun dalam benak tetap juga muncul bagimana nanti tanggal 22 Juli ya, apalagi baru baca status teman FaceBook ada katanya tokoh politik tertentu bagi baju kotak2 padahal Jokowi sudah instruksikan agar tak turun ke jalan. Itu pertanda tak baik sebagaiman disinyalir akan ada rusuh dan tindakan anarkhis karena tak berterima hasil rekapitulasi Pilpres. Kekhawatiran saya ini juga bertambah kerena ingat betul peristiwa Mei 1998 yg menyeramkan itu. Pada waktu itu saya baru tiba di Jakarta untuk menjalani masa praktek yg di HKBP Slipi. Saya yakinkan diri saya dlm doa apalagi teks kotbah dari Yes 44,6-8 yang sudsh saya baca sebelumnya menekankan Allah satu-satunya Tuhan, pencipta, pemelihara dan yang menentukan awal dan akhir sejarah. Menambah keyakinan saya bahwa Allah itu baik, Dia hidup dan berkuasa atas hidup umatNya.

Dalam pikiran yang galau begitu, saya perhatikan istriku dan saya sapa: "bagaimana Ma, sehat?" Dia jawab: "baik!", kami pun ikuti nyanyian Buku Ende sesuai dengan jadwal acara. Menjelang pukul 10.00 saya perhatikan istri saya agak gelisah dan rupanya dia mengalami sakit perut dan mulas. Saya langsung tawarkan untuk siap2 berkemas saja sesuai dengan pengalaman anak pertama dan kedua, tanda seperti itu adalah tanda2 kelahiran. Kami pun keluar dari gereja dan permisi dari sintua agar didoakan kami mau menuju rumah sakit. Di jalan saya sms dokter Soetikno namun tak dijawab dan kami terus menuju RS Harapan Kita karena seperti penjelasan dokter selalu ada dokter jaga yang selalu stand by. Kami pun permisi bersama mertua saya dari penatua dan mergegas meninggalkan gereja, pergi ke rumah sebentar untuk membawa perlengkapan bersalin sebagaimana telah dipersiapkan.

Sekitar jam 11.00 kami tiba di RS Harapan kita dan mendaftar ke ICU sambil menunjukkan surat yg sudah diberikan dokter Soetikno. Kami pun dituntun ke ruang Cempaka, C.06. Perawat pun datang untuk cek jantung bayi dan hits ibunya setelah ditunggu setengah jam data2 computer itu ditunjukkan sama kami bahwa betul ibunya sudah kontraksi dan akan melahirkan. Dokter jaga memberikan beberapa nasehat sambil menunggu kelahiran. Dalam mengerang sakit sayapun berikan nasihat dan beberapa canda agar istri saya bisa tertawa, kadang tertawa kadang tak perdulikan canda saya sambil menahan rasa sakit. Dokter jaga pun beri tahu bahwa Dr Sietikno tidak bisa hadir dan sudah direkomendasikan ke Dr Vira, kami pun mengiayakan dan di dalam keyakinan kami serahkan semuanya kepada dokter.

Dengan perjuangan seorang ibu dengan segala rasa sakit dan situasi menegangkan itu sekitar pukul 16.54 anak kami pun lahir. Setelah keluar dia menangis kencang, saya memeluk istri saya kamu memang hebat dan luar biasa anak kita sudah lahir. Para perawat pun membersihkannya dan seluruh perawatan lainnya, kulihat anakku dan kusebut dalam hatiku, kamu hebat nak. Berat badannya 4.045 KG dan panjang 54CM.

Dalam ruang bayi saya diberi penjelasan perawat tentang keadaan bayi dari tangan, kaki, kepala, hidung, mata, lobang dubur dan seluruhnya lengkap dan sehat setelah didandani diberikan untuk saya untuk saya gendong. Dalam gendonganku saya berdoa dan menciumnya: "Anakku kamu hebat , jadilah anak yang baik, berjiwa kesatria dan berbudi bhakti.

Kutuliskan ini hanya sekedar catatanku saja, kelak anakku setelah bisa membaca boleh membacanya.


Oh, ya, sedikit kutambahkan , kami panggil engkau Timotius. Itulah namamu, mengingatkan aku akan murid seorang paulus yang sangat muda namun memiliki pelayanan yang baik. Bahkan Paulus sendiri meneguhkannya jangan seorangpun menganggap engkau muda, jadilah teladan bagi semua orang, dalam perkataan, dalam iman dan kasih!

SIKAP MENANG SENDIRI - SIGURU DOK

Sikap Menang Sendiri - Siguru Dok
Suatu Catatan Kepada Competitor Yang Tak Mengaku Kalah
Oleh: Nekson M Simanjuntak



Sikap menang sendiri adalah perilaku yg kurang terpuji. Sikap ini muncul dalam diri seseorang yg menonjolkan diri dan memuji diri sendiri secara berlebihan. Biasa tidak mau menerima apa yg namanya kelebihan orang lain, bahkan selalu berpikir negatif dan menyusun segala argumentasi untuk menyalahkan orang lain. Orang seperti ini tidak mau dievaluasi atau koreksidiri, tidak mau mendengar nasehat. Dalam bahasa Batak sifat ini disebut dengan Siguru Dok. Siguru Dok daoat diterjemahkan: "segaka sesuatu mesti menurut dia, di luar dia tak ada yg benar."

Dalam kehidupan sosial, Sikap Menang Sendiri - Siguru Dok ini tidak bisa bekerja sama atau koperatif, tidak pernah akomodatif semuanya beririentasi pada diri sendiri. Siguru Dok biasanya pintar bersilat lidah dan membela diri, dalam keadaan salahpun bisah menyalahkannorang lain tanpa dasar, cekatan melihat titik lemah orang lain dan lihai membuka ruang menyerang lawan, dalam berkonflik apapun dilakukannya agar menang. Pada akhirnya Siguru Dok akan ditinggalkan temannya, karena susah memegang janji dan sikap dan tabiat mengorbankan orang lain demi kepentingan menang sendiri

Vocation: adalah manusiawi jiwa kita memiliki keinginan untuk mendapatkan apresiasi dari orang lain. Tentu pula sebagai makhluk sosial kita hidup berdapingan dgn orang lain. Adalah sangat mulia hidup yg korektif - evaluasi kelemahan diri demi kualitas yg terbaik dan menghargai orang lain akan mendapat penggargaan. Dalam komunitas masyarakat mementingkan kepentingan umum disampung kepentingan pribadi adalah suatu panggilan.

suara perubahan mental...!

TRADISI MUDIK DAN INKULTURASI RELIGIUS

Tradisi Mudik - Inkulturasi Religius
Colek Lebaran 2014 Lalu
Oleh: Nekson M Simanjuntak


Mudik berasal dari kata 'udik' artinya 'desa' dan 'kampungan'. Mudik berarti seseorang atau sekelompok masyarakat yang kembali ke desa atau ke kampung halaman. Perayaan besar keagamaan menjadi kesempatan penting untuk mudik. Bagi beragama Islam mudik lebaran menjadi salah satau moment yang sangat penting, demikian dengan umat Kristen pada saat Natal dan Tahun Baru. Tradisi mudik ini menjadi fenomena dalam masyarakat Indonesia dan menjadi agenda tahunan yang mendapat perhatian serius dari pemerintah untuk mempersiapkan segala fasilitas yang dibutuhkan seperti jalan umum, jembata, dan jalur-jalur alternatif dipersiapkan secara serius agar semua pemudik dapat sampai di ke tujuan masing2.

Mudik adalah Inkulturasi Religius.
Hal menarik dari mudik adalah adanya inkulturasi tradisi keagamaan menjadi praktek kehidupan masyarakat Indonesia. Agama Yahudi misalnya adalah menjadi kewajiban bagi mereka untuk merayakan Paskah di Bait Suci Yerusalem. Perayaan paskah di Yerusalem ini sangat banyak dimanfaatkan oleh para imam di bait suci dan penduduk sekitar. Bagi Yahudi Diaspora adalah menjadi kewajiban religius untuk naik ke Yerusalem; beribadah serta sampaikan kurban di Bait Suci. Hal menarik disini adalah keyakinan religius yang mewajibkan merayakan paskah di Yerusalem menjadi perilaku masyarakat Yahudi diaspora secara rutin yang kembali ke kampung halamannya.

Tradisi Kekristenan mudik juga merupakan peristiwa religius. Menurut kitab suci peristiwa ini dimulai dengan tindakan politik yang merecanakan sensus penduduk diseluruh kekuasaan Romawi namun menjadi peristiwa keagamaan yg mengagungkan (Band Lukas 2). Sensus ini ditetapkannoleh Kaisar Agustus agar seluruh penduduk kekaisaran Romawi kembali ke kampung halamannya. Dalam memenuhi peristiwa politik ini pula Yesus lahir di Bethlehem karena Yusuf dan Maria adalah orang Nazareth. Peristiwa lahirnya Yesus di Bethlehem merupakan Perayaan Natal atau yang disebut dengan Merry Christmass. Dalam merayakan Natal banyak umat Kristen merayakannya di kampung halaman yang kita sebut dengan mudik. Mereka yang hidup diperantauan pulang ke kampung merayakan natal dan tahun baru di Bona Pasogit. Mudik di masa natal bukan sebagai pulang kangen dan pelepas rindu semata, namun memiliki makna khusus untuk penghargaan terhadap kampung halaman. Makna ini digali dari peristiwa religius. Peristiwa natal di mana Yusuf dan Maria kembali ke kampung halamannya dan dalam kembali ke kampung halaman ini nubuatan keselamatan di genapi (band Mikha 5,1). Hal ini menjadi term menarik yang diyakini umat kristen sebagai suatu pesan moral akan tingginya arti bona pasogit. Apa yang mau dilihat disini adalah kekristenan memahami iperistiwa pulang kekampung terjadi keselamatan besar. Hal ini dimaknai sebagi peristiwa religius yang sangat penting dalam sejarah keselamatan dan menjadi pendorong bahwa kembali ke kampung halaman. Perayaan natal adalah merayakan Yesus yang lahir di Betlehem, sekaligus mengenang yusuf dan maria yang kembali ke kampung halamannya.

Bagi masyarakat muslim di Indonesia, tradisi mudik di masa lebaran (idul fitri) nampaknya menjadi agenda tahunan masing2 prubadi dan keluargayang memiliki makna tersendiri. Berangkat dari pemahaman arti lebaran: lebar+an. Memohon keluasan hati atas dosa, khilaf dan sala terhadap sesama manusia. Dalam memohon maaf peristiwa silaturahmi sangat penting dengan saling mengunjungi, khususnya ke kampung halaman tempat sanak saudara kumpul. Defenisi yang sama dari Idul Fitri, fitri=fitrah manusia, kembali ke fitrah, setelah berpuasa manusia menahan diri atas segala godaan dan dosa manusia memperoleh kemenangan dan pencerahan budi, kembali ke fitrahnya dlm menjalani hidup. Mudik lebaran bukanlah semata2 mengisi liburan namun merupakan peristiwa religius dengan merayakan kemenangan iman dan kemenangan penguasaan diri atas godaan. Dalam idul fitri biasanya dirayakan melalui sembayang Id atau kemenangan. Dalam merayakan lebaran umat Islam berkewajiban memberikan zakad fitrah, sebagai persembahan atas berkat dan ridho Allah dalam hidupnya yang memberikan rizki, maka rizki yang diterima wajib hukumnya untuk dipersembahkan bagi sesama khususnya yang membutuhkan atau kekurangan, yatim dan anak terlantar. Apa yang mau kita lihat disi adalah peristiwa lebaran dengan mudik adalah pemenuhan kewajiban religius untuk memohon keluasan hati maaf dan kelapangan hati.

Mudik atau kembali ke kampung halaman yang dirayakan oleh umat muslim di saat lebaran, memiliki makna spiritualitas yang terdapat dalam tradisi Kekristenan di saat Natal dan Yahudi di saat paskah adalah peristiwa religius. Peristiwa religius ini memikiki dimensi iman dannikatan dengan kampung halaman. Melaksanakan keyakinan keagamaan ini menjadi fenomena masyarakat yang memikiki dampak berbagai dimensi kehidupan. Dalam makna demikin mudik atau kempali ke kampung halaman mestinya diikuti dengan peningkatan spiritualitas masing masing pengikutnya.

ALLAH TURUT BEKERJA MENDATANGKAN KEBAIKAN KITA

ALLAH TURUT BEKERJA MENDATANGKAN KEBAIKAN KITA 
Pokok2 Renungan dari Kotbah Minggu, 27 Juli 2014: Rom 8,26-30
Oleh: Nekson M Simanjuntak


Dalam memahami perikop kotbah ini ada baiknya kita membaca keseluruhan pasal 8, hal ini penting untuk memahami penjelasan Paulus tentang peran Roh Kudus dalam diri orang2 yang diselamatkan. Orang yang diselamatkan telah hidup menurut Roh. Mereka tidak lagi menurut daging, karena jika kita hidup menurut daging maka kita akan mati. Kristus tela telah menyelamatkan kita maka Roh mendiami kita. Roh bukan hanya diam pasif namun menjadi penggerak dalam nurani orang percaya. Atau dapat kita sebut dengan Hidup orang percaya adalah hidup yang dipimpin oleh Roh atau hidup yang digerakkan oleh Roh. Dalam duka Roh menghibur, dalam menghadapi pergumulan Roh mengajar, dalam keadaan tersesak Roh menolong dan melindungi. Hidup di dalam Roh adalah menjadi kesaksian bagi dunia bahwa kita adalah pewaris Kerajaan Allah, hidup di dalam Roh adalah hidup yang bertekun di dalam doa.

Dengan memahami penjelasan di atas kita bisa memahami begitu sentralnya peran Roh Kudus di dalam kehidupan orang percaya. Hal ini yang disimpulkan oleh Paulus dalam perikop kotbah minggu ini:

1. Roh membantu kita menghadapi pergumulan dan penderitaan. Paulus memberikan penjelasan bahwa semasa hidup ini, kita masih terus menghadapi pergumulan dan penderitaan (ay 2-23), itu adalah realitas yang harus dijalani oleh orang percaya. Namun Roh Kudus adalah penolong bagi orang percaya, bahkan dalam pergumulan dan penderitaan yang tak terucapkan dengan kata-kata Roh kudus membantu kita menyampaikan doa dan permohonan kita kepada Allah. Ini adalah suatu mistery hidup orang percaya bahwa di luar kemampuan naluri manusiawi kita bisa melakukan sesuatu dengan dibantu dan digerakkan oleh Roh Kudus. Bagian pertama ini sekaligus mengajarkan bahwa jika seseorang bisa keluar dari pergumulan berat semata mata bukan karena kepiawaiannya melainkan peran Roh Kudus, yang sekalipun tidak kita minta namun Roh bekerja melindungi kita.

2. Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita. Manusia tidak bekerja sendirian, atau dibiarkan oleh Allah bekerja sendiri mencari apa yang baik bagi dirinya sendiri. Manusia tidak ditinggalkan menghadapi kesulitan yang dijalaninya. Tetapi Allah bekerja mendatangkannkebaikan bagi kita. Sama seperti pesan Yesus ketika naik ke Sorga, bahwa murid2 tidak dibiarkan sebagai yatim. Hal yang sama dalam ayat 28 ini, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Pengalaman seperti itu dialami oleh Musa di Gurun, dalam Keluaran 14,14 dikatakan: "Tuhan berperang untuk kamu, asal kamu diam saja." Diam bukan berarti pasif, kita mesti berjalan dalam terang Tuhan, usaha kita kita serahkan kepada Tuhan agar diberkati dan sesuai dengan kehendakNya. Dalam pergumulan yang sangat berat serasa kuta tak mampu memikulnya, kita percaya bahwa Tuhan turut bekerja mendatangkan kebaikan. Pesan kedua ini memberikan motivasi yang besar bagi kita untuk menjalani hidup dan merencanakan kebaikan dalam hidup kita. Jika kita perhatikan dengan seksama dlm ayat 28 memang nampaknya ada syarat, yaitu bagi yang mengasihi Dia. Ini menjadi catatan penting, mengharapkan tindakan Allah dalam hidup kita mesti disertai dengan hidup yang mengasihi Allah. Percayalah dalam setiap usaha yang kita gumuli bahwa Dia turut bekerja untuk kebaikan kita.

3. Recana Allah yang indah sejak semula. Disini memang ada semacam penekanan yang membuka pemahaman tentang predestinasi, bahwa Allah telah menentukan kebaikan kita sejak semula. Marilah kita baca ayat 29-30, ditekankan bahwa Allah sejak semula telah melakukan sesuatu pada umatnya: dipilih-ditentukan-dipanggil-dibenarkan dan dimuliakanNya. 5 istilah ini menjadi penting bahwa semuanya tindakan itu didasarkan pada Allah sendiri. Hal ini penting untuk meyakinkan kita akan jaminan keselamatan Allah bagi orang percaya. Allah sendiri telah menentukan sejak semula tentang kebaikan dan warisan kesekanatan yang akan diterima oleh orang pilihannya. Agak berbeda dengan Calvin, Luther sedikit menekankan kehendak bebas pada diri manusia, sekalipun Allah sudah menentukan sejak semula tentang umat pilihanya namun jika tidak diterima dengan tanggung jawab bagi Luther itu adalah pelanggaran. Maka kebaikan itu agar menjadi warisan harus disertai dengan tanggung jawab dengan tetap percaya.

Tiga pokok penting akan kotbah hari minggu ini menjadi sangat menarik untuk diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Melalui kotbah ini kita diingatkan akan peran Roh Kudus yang sangat central dalam kehidupan orang percaya. Percaya bahwa Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita sesuai dengan rencana dan kehendakNya.

Salam!

ETIKA BERPENDAPAT

Penilaian Yang Berbeda!
Oleh: Nekson M Simanjuntak


Manusia diberi rasa agar bisa merasakan, diberi pikiran agar bisa menilai dan memberikan suatu evaluasi atas usaha dan pekerjaan yang dilakukan. Mengapa ini saya tuliskan karena minggu lalu, Saya terlibat dalam diskusi yang seru dalam melihat suatu photo. Dalam photo itu ada seseorang memberikan kenangkenangan kepada sahabatnya karena baru pulang dari perjalanan. Banyak orang berkommen wah bagus ingat teman, ada yang bilang kalau masih ada bagibagi donk pada umumnya kommen positip, namun yang menjadi keheranan saya salah satu kommen yang menunjukan rasa yang berbeda, ngapai pake2 photo segala, kalau yg beginian, masih banyak yg mesti dilakukan dan bersikap sinis atas photo dan prosesi orang dalam photo tersebut. Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa muncul pernyataan yang begitu sinis padahal oranga pada melihat hal positip.

Kita mesti menyadari bahwa perbuatan baik yang kita lakukan tak semuanya menyenangkan orang, harapan kita tentu setiap perbuatan baik kita mestinya mendapat apresiasi dan sikap positip dengan demikian kita dianggap melakukan suatu kebaikan. Perbuatan baik sekalipun dimata kita bisa saja dianggap tak berarti. Tak apalah kita menerima perbedan seperti itu mesti kita beri ruang bagi semua penilaian, baik yang positip aupun negatip. Karena baik buruknya yang kita lakukan bukan berada pada suatu penilaian, namun pada diri kita yang tulus melakukan kebaikan, yang menerima dampak dan tentu pada Allah sendiri sebagai hakim atas segala tindakan kita.

Munculnya perbedaan penilaian itu karena berbagai rasa yang berbeda, pengalaman manusia yang berbeda, latar belakang dan berbagai kepentingan yang berbeda. Penilaian adalah subyektif, tumpahan perasan pribadi. Ada kalanya menilai bukan pada obyek yang dinilai tapi pada diri pribadi yang berbuat baik, kalau dia suka pada pribadinya apapun dilakukannya adalah baik, sebaliknya kalau tidak suka terhadap pribadinya segala sesuatunya adalah dianggap tak baik. Inilah naifnya sebuah penilaian jika sudah menonjolkan subyektifitas, karena yang dinilai bukan lagi pada obyek yang dilakukan tetapi subyek.

Apa pelajaran yang mesti kita lihat dari sini, penilaian yang berbeda adalah wajar, jangan kecut dan tawar hati karena perbuatan baikmu dianggap jelek oleh orang lain. Baik buruknya perbuatanmu adalah terletak pada ketulusan hatimu, manfaat bagi orang lain dan pada Allah sendiri. Pada pihak lain jika kita menilai orang lain berupayalah obyektif, katakain baik pada halyang baik dan kurang pada yang kurang. Penilaianmu dapat membantu orang lain lebih termotivasi untuk melakukan lebih baik.

EME DOHOT SIMAREMEEME (LALANG DAN GANDUM)

Eme dohot Simaremeeme
Catatan 31 July atas berbagai rumor Penetapan KPU
Oleh: Nekson M Simanjuntak


Eme dohot simaremeeme, ima ra sada tuduson na sian Buku Nabadia na gabe gombaran na masa di situan na torop nuaeng di bangsonta. Pasimpang pasebut do barita masa andorang so masa boaboa paretongan na rasmi sian KPU, na deba mandok Jokowi do na monang, na deba nari mandok si Prabowo do namonang. Masipandok na monang na be do angka "Lembaga Survey" i hombar tu pandapotna. On do pe masa songoni ala ni lam tamba hamajuon, biar do roha ni pamarenta sotung pasual situan na torop ala ni paretongan i pola sampe ro pamarenta marhite KPI na pinaganjang Komisi Penyiaran Pers asa dipaso barita si songon i. Mangirput do angka Tivi di oraorai asa unang be dipaboaboa paretongan ni lembaga survey di paretongan ni suara na nidapotna diparsilumbaon Pilpres. Dapot ma tingki di tanggal 22 Juli dipaboa KPU ma paretongan na rasmi jala ditotophon Jokowi - JK do na monang di paretongan rasmi di pamilliton ni panggomgomi ni bangsonta Indonesia 53.15%. Alai andorang so i, dung hira dapot paretongan rasmi ala tar dua propinsinai na ma paretongan ni sude Propinsi, dibaritahon piga2 tivi do na mundur amanta si Prabowo sian sude parsirangguton ni Pilpres, jala aluhoninna ninna KPU tu panguhum. Ndang mansohot KPU diondamondami ditorushonnasida do paretongan sahat tu na manotophon na monang di paretonganna.

Ni tagam do sodung ma parsualon dungkon adong haputusan ni paretongan na rasmi sian KPU, hape marudut dope muse, ala mangadu do horong Prabowo tu panguhum na ginoar Mahkamah Konstitusi nang pe naung mundur sian parsiguluton Pilpres. mK do panguhom na manontuhon parpudi sahali di hasil ni paretongan KPU hombar tu undangundang. Ndang mulai dope manjujur angka alualu i, alai masa ma muse binege barita na lam tu jebuna ima disuan ma simaremeeme di barita alogo (jaha: situs) "dunia maya" na targoar surat kabar digital. Adong do pigapiga barita alogoi na tung mansai somal dibuha situan na torop ala sai paboahon angka barita masa di bangsonta jala dirajuji deba sai tio angka barita dapot disi. Alai dungkon ni parsirangguton ni pilpres on gabe adong na manumannuman barita alogo hira dos goarna alai baritana asing, isara dipaganda do http: www.kompas.comgabe tubu ma barita alogo sipaganda goarna: www.kompasnews.....com,www.detik.com gabe adong ma muse www.detiknews....com. tarditambatambai otik goarna manamaknamak. Songon i ma dipasumansuman goar ni barita alogoi diri manumannuman barita alogo naung tinanda ni hatoropan alai ia barita na binaritahonna tung holan sipaganda jala barita sipaototo do dibagasanna.

Tarhalomong do roha disi jala sungkunsungkun nang di roha: "ue..eee tahe, ninna roha tuang aha do nuaen niula ni jolma?" Loja ni jolma i, dipasuda tingki dohot ringgitna , ringit na holan pasuansuan simaremeeme di situan na torop, paombusombus barita alogo na so marimpola i jala pabalikbalik hasintongan. Gabe tarsunggul roha songon na dipaandar Tuhan Jesus taringot tu Eme dohot Simaremeeme. Didok di tudosan i, paboa dung disaburhon panabur i boni na denggan tu ladang i, pintor ro do bornginnai parjahat manaburhon simaremeeme. Rap tubu do duansa, tingki poso dope eme dht simaremeemei sarupa do i idaon nang pe apala tung marasing, didok sesean ma asa diloas manirang simaremeemei sian eme i, alai diorai tutu sotung tarbutbut emei alani naeng mabutbut simaremeemei. Diujungna di masa gotilon tandap mai tutu, ditutung do simaremeeme alai anggo emei dipalungguk jala dipamasuk doi tu lumbung. Boni na denggan ido na dapot tumpal.

Ua tung marsiajar ma nian hajolmaon on di tudosan na arga sian buku nabadia i, ai tung aha ma gunana holan na manaburhon simaremeeme jolmai tu situan na torop, pabalikbalik hasintongan jala patagamtagam jea? Nunga jumpang gotilon ai naung matoras do situan natorop i di barita masa nang di barita alogo pe, ai nga tau nasida mananda eme dohot simareme eme. Aut sugari ma angka boni na denggan disabur nunga lam tamba tumpalmu.

Tabe, na mauas di barita na sintong!

Takut Tenggelam? Ingat Tuhan Beserta Kita

Catatan Kotbah hari Minggu 10 Agustus 2014
Nats: Matius 14:22-33
Oleh: Nekson M Simanjuntak


Takut Tenggelam, ingat Tuhan Beserta Kita


Tantangan adalah realitas hidup, tak seorang pun kita hidup tanpa masalah atau pergumulan hidup. Semua itu mesti dijalani dengan berani dan tegar. Menjalani tantangan dengan segala potensi tentu tak cukup, karena potensi dan kemampuan kuta terbatas. Inilah kelebihan orang beriman bahwa kita percaya Tuhan senantiasa hadir dan mengulurkan tanganNya menolong dan menyelamatkan kita.
Sebelum memasuki kisah murid2 diterpa badai perikop ini menunjukkan aktifitas Yesus yang berdoa. Menjadi bagian penting agar kita dalam kehidupan sehari hari mesti memulainya dalam doa. Doa adalah keterbukaan hati kita di hadapan Allah yang Maha Tahu dan membuka diri dihadanNya dan memberikan ruang bagi allah mengatur dan menggerakkan hidup kita. Dengan demikian apapun yang kita alami dalam hidup apakah berupa tantangan atau badai kehidupan, kitanpercaya tuhan ada dan hadir menolong kita.

Marillah kita gali beberapa pesan menarik dari kotbah mingu ini menjadi berkat bagi kita:

01. Ketakutan menduga Tuhan jadi hantu
Hal ini yang ditunjukkan dalam perikope kotbah ini: angin kencang dan ombak nampak bermusuhan dan mengancam mereka, badai ingin menenggelamkan dan membalikkan perahu yang mereka tumpangi. Dengan angin shakal memunculkan badai kencang ini membuat mereka goncang. Tentu ada ketakutan di antara mereka dan itu wajar dan sifat manusiawi. Normal itu jika setiap ada ancaman yang membahayakan ada rasa takut dalam diri. Di samping cemas atas terpaan badai, muncul pula rasa takut yang menghantui pikiran mereka, dengan munculnya sosok banyangan yang semakin mendekati mereka. Mungkin dlm benaknya mereka ini hantu atau setan danau yang akan mengakhiri kisah mereka. Ketakutan pun berbalik setelah sosok bayangan itu jelas, rupanya bukan hantu tetapi Tuhan Yesus yang berjalan di atas air. Yesus yang berjalan di atas air mendekati perahu dan ingin bersama dengan muridsebagaimana pesan awal. Kehadiran Yesus membuat mereka tenang, nyaman dan tidak takut.

Ada pesan penting di sini ketakutan membuat kita samar2 bahkan semakin gelap mata. Dalam berbagai hal ketakutan membuat orang melakukan hal aneh dan bodoh yang semakin menjerumuskan kita pada perilaku aneh yang semakin tak rasional. Lihatlah seperti murid2 ini, ketakutan mereka mengganggap banyangan yang datang itu adalah hantu. Padahal bukan hantu melainkan Tuhan sendiri. Dalam banyak hal itu bisa terjadi ketakutan bahkan hingga pengalaman traumatik orang akan mengurungnya sulit keluar dari ketakutan, sekalioun jalan solutif yang ditawarkan dia akan terkungkung dan dipenjara oleh ketakutannya. Bukankan ketakutan Petrus dalam perikope ini yang memberikan rasa pd angin k3ncang membuat dia hendak tenggelam? Padahal Yesus sendiri yang menyuruh mereka berperahu dan Yesus sendori yang menyuruh Petrus berjalan di atas air.

02. Tuhan segera menolong
Melihat Yesus berjalan di atas air, menimbulkan ketakjuban Petrus, langsung spontan meminta agar Yesus mengajak Petrus berjalan di atas air, Yesus pun mengundangnya dan Petrus berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Namun alkitab mencatat ayat 30 "tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam". Disini ada hal menarik dalam dirimPetrus, yaitu mengikuti panggilan dan tiupan angin. Spontanitas Petrus berjalan mendapatkan Yesus adalah iman yang digerakkan melakukannperintah Yesus. Iman itu bergerak dan hendak mengikuti dan melaksanakan apa yang Yesus sampaikan. Perjalanan melakukan perintah itu, ada oula tantangan, yaitu badai. Lihatlah teks ini, disebutkan ketika Petrus merasakan tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam. Ini hal menarik yang perlu didalami. Ketika kita lebih mendengarkan badai dan ancaman tak ada yang bisa kuta lakukan, justru ketakutan demi ketakutan yang semakin menenggelamkan kita. Padahal Yesus ada di depan dan penuh kuasa untuk menolong hingga kita sampai kepadanya. Ini pelajaran penting dari kotbah ini, ketakutan terhadapa ancaman yang melebihi rasa percaya mendapatkan Yesus akan menenggelamkan. Kita mesti percaya pada Yesusyang memikiki kuasa menolong dan menyelamatkan kita. Dia tidak membiarkan kita tenggelam. Seperti Petrus yang berseru, ya Tuhan tolong lah aku. Maka Dia pun akan segera datang dan mengulurkan tanganNya menolong kita. Hal ini mengingatkan kita akan Firman yang begitu indah dsri Mazmur 50:15 "Berserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau dan engkaunakan memuliakan Engkau."

03. Berilah Kesaksian dan muliakan Tuhan
Hal ketiga dari kotabah ini perlu juga kita teladani. Pengalaman menerima pertolongan dari Yesus mendorong Petrus memberikan kesaksian dan pengakuan iman: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah". Hal ini penting bahwa pengalaman iman yang merasakan pertolongan Tuhan harus disertai dengan syukur dan kesaksian. Syukur dan kesaksian Petrus disini menguatkan imannya untuk bersaksi bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah. Syukur dan kesaksian seperti ini akan mempertebal rasa percaya pada Tuhan Yesus. Sebaliknya jangan anggap pertolongan Tuhan adalah sebagai kewajibannya saja yang tidak perlu disyukuri. Pemahaman seperti ini bisa saja muncul, bahwa ada banyak orang mengakui kebaikan Tuhan namun tidak disertai dengan ungkapan syukur karena kebaikan Tuhan dianggap sebagai kewajiban Tuhan. Tuhan menghendaki kita menjadi kesaksian bagiNya (band Kis 1,8) memberitakan dan mengungkapkan kebaikan Tuhan dalam hidup kuta, sehingga semua orang daoat memukikan Tuhan melalui kesaksian kita. Orang percaya yang berkonfessio adalah bagian ketiga yang perlu kita dalami dari pesan kotbah minggu ini. Mari hitung berkat dan tindakan Allah yang kita alami dalam hidup ini, dan mari sampaikan syukur dan terima kasih kita.

Penutup
Kotbah minggu ini sangat penting menguatkan kita dalam mengahadapi terpaan badai kehidupan. Jangan takut, Tuhan ada bersama kita. Jika badai hendak menenggelamkan hidupmu, berserulah padaNya, Dia akan segera menolong dan menyelamatkan kita. Ketikan kita telah menerima pertolongan dari Tuhan jangan lupa bersyukur dan memberikan kesaksian. Pengalaman hidup kita dapat menjadi kesaksian bagi orang lain sehingga semakin banyak pula orang yang memuliakan Allah dalam hidupnya.

DALAM KESUSAHAN TETAP BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN

  Catatan Kotbah Minggu Misericordias Domini Minggu, 19 April 2026 Ev. Habakuk 3:10-19 DALAM KESUSAHAN BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN Selamat Har...