Sabtu, 21 Maret 2026

TUHAN PEMBERI NAFAS KEHIDUPAN

Catatan Kotbah Minggu Judika 


Minggu, 22 Maret 2026

Ev. Yehezkiel 37:1-14


TUHAN PEMBERI NAFAS KEHIDUPAN


Selamat Hari Minggu ! Mungkinkan tulang-tulang kering ini hidup kembali? Kotbah minggu Judika ini merupakan penglihatan Nabi Yehezkiel akan kuasa Tuhan yang akan memulihkan Israel. Pemulihan ini adalah impian dari umat Allah yang terbuang di Babel. Di Babel mereka kehilangan harapan, identitas sebagai bangsa terciderai dibawah kuasa Babel. Berjuang memberontak dan membebaskan diri sesuatu yang tidak mungkin, yang paling memungkinkan bagi mereka adalah pasrah. Mereka akan mati dan sejarah bangsa lenyap di pembuangan Babel.


Dalam keputusasaan demikianlah, Tuhan memanggil Yehezkiel san memberitahukan tentang kekuasaan Tuhan. Tuhan pencipta dan pemberi kehidupan. Tuhan sendirilah yang menjadikan segala sesuatu dan Tuhan sendiri berkuasa memberikan kehidupan. Tulang-tulang kering yang berserakan bisa perintahkan untuk berkumpul, menumbuhkan urat-urat dan memberikan nafas kehidupan dan bangkit hidup kembali. Itulah kuasa Tuhan yang memberikan kehidupan. 


Bukan hanya itu,  dalam perikop kedua dalam pasal 37 ini, Allah akan memulihkan Israel, Yehuda dan Israel yang dulu tahluk oleh Asyur akan dikumpulkan dan dipersatukan menjadi bangsa. Yehezkiel 37:28 (TB)  Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya." Dengan demikian pemulihan akan jmat Allah bisa terjadi oleh kuasa Allah. 


Sahabat yang baik hati! Mungkin pertanyaan yang sama akan muncul dari kita, dalam ketiadaan harapan kita mungkin sudah apatis dan setiap apa yang membicarakan dan mendiskusikan suatu kegagalan sudah menutup diri dan tidak mau tau untuk membahasnya. Analogi tulang-tulang kering dari Yehezkiel membuat umat Allah memiliki suatu contoh dalam suatu keadaan ketidak mungkinan bagi manusia, itu sangat memungkinkan bagi Tuhan. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin. 


Sekarang marilah kita mengambil pelajaran berharga dari kotbah ini.


1. Tulang-tulang kering gambaran kematian 


Apa ysng terjadi pada masa pembuangan? Tulang-tulang kering merupakan analogi yang sangat ekstrim. Artinya sudah mati tinggal tulang belulang. Bagi masyarakat dan sylukur yang menghormati tulang belulang tentu melihat tulang belulang leluhur bukanlah sesuatu yang tabu. Bangsa Israel memiliki tradisi mengangkut tulang belulang leluhur mereka dan dimakamkan di Tanah Perjanjian. Orsng Batak yang mempersatukan tulang belulang "satu ompu" akan disatukan dan dimasukkan dalam satu tambak atau tugu. Artinya mereka yang sudah mati dan tidak mungkin lagi bangkit kembali. Namun generasi penerus mereka perlu ada ikatan, kekeluargaan dan penerus cita-cita leluhur.


Dalam kotbah ini Yehezkiel dibawa dalam suatu penglihatan dimana banyak tulang-tulang berserakan. Itu gambaran kematian yang telah terjadi bagi bangsa Israel atas perbuatan mereka sendiri. Ada pemberontakan, ada perpecahan dan ada juga pelanggaran sehingga mereka harus menjalani kematian. Kematian itu pula menyangkut ketiadaan harapan. Seseorang yang tiada lagi pengharapan tentu sudah memasuki zona kematian. 


Ketiadaan pengharapan itulah gambaran tukang-tulang yang dilihat oleh Yehezkiel. Sekaligus memperlihatkan ketiadaan harapan di masa pembuangan ini. Mereka putus asa dan tidak mungkin lagi bangkit menjadi bangsa yang beaar seperti cita-cita leluhur mereka. Mereka menganggap mereka sudah mati dan tidak mungkin lagi bangkit. 


Dalamnya keputusasaan yang ke dalamnya mereka sekarang dijerumuskan (ay. 11). Mereka semua menyerah sudah hilang lenyap. Mereka berkata, “Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, kekuatan kami habis, semangat kami hilang, pengharapan kami sudah lenyap semuanya


Keadaan demikian, Allah memperlihatkan kuasanya. Allah sumber kehidupan dan Allah sendiri yang memberikan nafas kehidupan. Apa yang tidak mungkin bagi manusia. Bagi Allah tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Maka jangan biarkan hidup ini tanpa harapan. Sekecil apapun kemungkjnan yang ada bahkan dalam ketidakmungkinan berserahlah pada kuasa Tuhan yang memungkinkan. 


2. Kuasa Tuhan yang menghidupkan

Jika kita baca kotbah ini. Coba kita perhatikan ada kuasa Firman. Berfirmankah Tuhan! Kuasa Firman itu kuat dan menjadikan sesuatu menjadi  seperti yang difirmankan. Kuasa Tuhan yang menghidupkan. 


2.1. Pengetahuan dan iman

Yehezkiel 37:3 (TB)  Lalu Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?" Aku menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!" 


Disini ada dialog menarik dari Yehezkial dan Allah sendiri? Pertanyaan ini sesungguhnya ingin menggali keimanan atau kepercayaan. Dalam mengubah suatu keadaan sangat ditentukan oleh kayakinan. Ada orang yang memiliki banyak pengetahuan tapi apakah mereka percaya? Ada orang mengetahui obat demam adalah paracetamol namun apakah mereka meminumnya? Disini, dialog Yehezkiel dan Tuhan, jika mengetahui Tuhan adalah pencipta, pemberi kehidupan dan pemelihara ciptaan maka percayalah kepada Tuhan dengan segala kuasanya yang dapat mengubah keadaan. Tulang-tulang kering dapat dihidupkan, maka percayalah Tuhan dapat menghidupkannya. 


Jadi pengetahuan tentang Tuhan harus disertai dengan keyakinan kepada Tuhan. Yehezkiel 37:13 (TB)  Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. 


2.2. Kuasa Firman:

"Maka berfirmanlah maka jadi". Kisah Penciptaan dalam Kitab Kejadian didasari pada keyakinan kuasa Firman. Allah menjadikan segala sesuatu dengan Firman. Ketika Tuhan berfirman jadilah, maka akan jadi. 


Demikian dengan penglihatan Yehezkiel mengenai kuasa Allah yang menghidupkan kembali tulang-tulang kering. ALLAH sendiri yang berfirman, nubuatan nabi Yehezkiel adalah Firman Allah karena Allah sedirilah yang memerintahkannya untuk bernubuat. Maka Yeheziel sendiri bernubuat akan tulang-tulang kering yang berserakan. 

Yehezkiel 37:5 (TB)  Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. 

Kuasa firman ini memberikan kehidupan, mempersatukan tukang-tulang dan menjmbuhkan urat dan kulit dalam dagingnya sehingga hidup kembali. 


Selanjutnya

Yehezkiel 37:9 (TB)  Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali."

Kuasa Firman ini terjadi sehingga nafas kehidupan dihembuskan dan beroleh kehidupan. Allah sendiri memberikan nafas kehidupan sehingga tulang-tulang kering benwr-benar hidup. Allah berkuasa atas kemstian dan kehidupan.


Bagian ketiga kuasa firman dalam kotbah ini, 

Yehezkiel 37:12 (TB) Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel.


Disini Yehezkiel meberikan keyakinan akan kuasa Allah membebaskan mereka dati pembuangan Babel. Jika Tuhan berfirman dan mereka percaya kuasa Firman Tuhan itu nyata membebaskan mereka


2.3. Peran Yehezkiel: bernubuat atas perintah Allah

Jika kita baca dengan seksama, tulang-tulang kering disatukan, tumbuhnya urat daging dan kulit hingga nafas kehidupan ada peran nabi Yehezkiel bernubuat. Kebangkitan tulang-tulang kering hidup kembali adalah kuasa Firman hang dinibuatkan oleh abdi Allah. 

Hal ini sangat penting ditekankan peran nabi Allah atau hamba Allah untuk memberikan semangat, harapan dan kuasa untuk menyampaikan dan menyatakan Firman Tuhan. Firman yang disampaikan memiliki kekuatan mengubah keadaan. 


Dialog Nabi Yehezkiel dengan Tuhan menjadi penting melihat peran hamba Tuhan.menyemangati, memptivasi dan meneguhkan iman yang sudah rapuh. Nabi Yehezkiel dengan kuasa Firman Tuhan memiliki kekuatan untuk membangkitkan semangat. Jika hamba Tuhan sudah putus asa bagaiamana jemaat ditehuhkan? Dalam kotbah ini Yehezkiel diperintahkan untuk bernubuat tentang tulang-rulang berserakan: dipersatukan dan nubuatan Yehezkiel atas perintah Tuhan berfirman jadilah urat-urat, daging dan kulit hingga Tuhan memberikan nafas kehidupan semuanya jadi.


Dari yang tidak mungkin menjadi mungkin itukah tugas orang percaya. Orang percaya dengan kuasa Firman Tuhan meneguhkan iman dan dapat mengubah sesuatu dari yang tidak mungkin menjadi mungkin.


3. Pesan Minggu Judika: Tetaplah berpengharapan, Tuhan memanggil kita

Paulus berpesan dalam 1 Korintus 13:13 ada tiga hal yang tetap pada diri orang percaya yaitu: iman, pengharapan dan kasih.

Apapun yang terjadi ketiga hal ini menjadi identitas dan prinsip yang kuat bagi orang percaya.


Iman, percaya kepada Tuhan, Tuhan Maha Kuasa, Dialah pencipta segala sesuatu dan pemelihara hidup kita. Dialah Tuhan yang memberikan kehidupan, mengubah derita menjadi sikacita, dari kematian menjadi kehidupan. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.


Pengharapan: melalui akal manusia memiliki perhitungan dalam mengukur dan menilai sesuatu. Tidak sedikit orang berputus asa dalam hidup ini karena pikiran yang rasional membuatnya tidak berdaya. Dengan pengharapan orang percaya memiliki sesuatu kekuatan, yaitu menyerahkan keputusan akhir kepada Tuhan. Kita berusaha, kita memiliki kemampuan untuk menganalisis sesuatu tetapi ketentuan dari segala sesuatu ada pada Tuhan. Apa yang terjadi esok ada pada tangan Tuhan dan kita berharap dibalik segala sesuatu yang terjadi Tuhan menyediakan yang terbaik bagi kita.


Kasih: apapun yang terjadi, tetap menghasilkan kebaikan. Itulah kasih. Orang percaya menghasilkan kasih bukan karena memiliki sesuatu atau mengharapkan sesuatu. Orang percaya berbuahkan kebaikan karena kasih itu melakukan sesuatu tanpa menuntut balas.


Kembali kepada konteks kita, tetaplah berpengharapan karena kita memiliki Tuhan yang mengubah sesuatu yang tidang mungkin jadi mungkin, mengubah derita menjadi sukacita dan mengubah kematian dengan memberikan nafas kehidupan. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


Sabtu, 07 Maret 2026

MENGARAHKAN HATI DAN PIKIRAN MENCARI TUHAN

 Catatan Kotbah Minggu Okuli

Minggu, 8 Maret 2026

Ev. 1 Kronika 22:14-19




MENGARAHKAN HATI DAN PIKIRAN MENCARI TUHAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Dua tokoh dalam kotbah Minggu ini merupakan teladan dalam mencari Tuhan sebagaimana topik Minggu. Mereka sama-sama.mewujudkan pembangunan Bait Allah. Daud merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan Bait Allah dan atas kehendak Tuhan pula Salomo memimpin pembangunannya hingga selesai. Sehingga Bait Allah adalah menjadi bangunan istimewa, diyakini Tuhan hadir dan memerintah dari Sion dan pusat ibadah bagi bangsa Israel. 


Menurut rencananya, bagi Daud dan Salomo Bait Allah merupakan pusat kebidupan Israel. Daud adalah perancang yang luar biasa menjadikan Sion sebagai pusat Kerajaan dan Pusat Ibadah. Setelah Daud menetapkan Sion sebagai Ibu Kota Israel, dia membangun kemahnya dan memerintah dari Sion dan hendak membangun Bait Allah bagi Tuhan. 


Setelah Istana Daud selesai, selanjutnya kerinduan Daud adalah membangun pusat Ibadah atau Bait Allah, dengan memindahkan Tabut Perjanjian ke Sion. Sebelum adanya Bait Allah, Umat Israel beribadah di Bethel (utara), dan beberapa titik yang ditentukan yang disebut dengan kota Kudus. Pemusatan Ibadah dirasa oleh Daud sangat penting untuk mempersatukan Israel. Selain itu kehadiran Bait Allah di Sion sekaligus hendak menjelaskan Allah memerintah umatNya karena Israel menganut sistem theokrasi. ALLAH sendirilah yang memilih dan mengangkat raja bagi umatNya.  


Apa jawaban Tuhan atas permohonan Daud membangun Bait Allah dan bagaimana dia merencanakannya? Dalam kotbah Minggu ini kita temukan bagaimana kesungguhan hati dan pikiran Daud mewujudkan pembangunan Bait Allah. Sekalipun Tuhan menolak Daud membangun Bait baginya karena tangannya terlalu banyak menumpahkan darah. Tuhan menghendaki anaknya Daud membangun Bait Allah bagi Tuhan. Sekalipun Tuhan menolak permintaan Tuhan, Daud taat dan mempersiapkan segala sesuatu agar anaknya Salomo dapat membangun Bait Allah. 


Untuk lebih mendalami kotbah ini baiklah kita: 


1. Kerinduan Daud dan ketaatan kepada Perintah Tuhan.


Dua catatan penting dari 1 Tawarikh 22 ini dari Daud.


1.1. Kekayaan dan kekuasaan tidak menjadikan segala sesuatu dapat dilaksanakan. 

Daud memiliki kekayaan dan sumber daya manusia yang berlimpah, arsitek, tukang kayu. Besi dan kayu dan selurun material yang dibutuhkan tersedia. Ditambah lagi dengan kapasitasnya sebagai raja. 

1 Tawarikh 22:14 (TB) Sesungguhnya, sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu seratus ribu talenta emas dan sejuta talenta perak dan sangat banyak tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang; juga aku telah menyediakan kayu dan batu. Tetapi baiklah engkau menambahnya lagi. 

1 Tawarikh 22:15-16 (TB) Lagipula engkau mempunyai sangat banyak pekerja, yakni pemahat-pemahat batu, tukang-tukang batu dan kayu dan orang-orang yang ahli dalam segala macam pekerjaan

emas, perak, tembaga dan besi, yang tidak terhitung banyaknya. Mulailah bekerja! TUHAN kiranya menyertai engkau!" 


Sunguhnya tidak ada lagi penghalang bagi Daud mendirikan Bait Allah. Namun Daud taat kepada keputusan Tuhan dan mengamanatkannya kepada Salomo. 


1.2. Daud taat kepada keputusan Tuhan dan mempersiapkan anaknya membangun Bait Allah.

Daud tidak memaksakan kerinduannya kepada Tuhan, dia memiliki kesadaran yang tinggi akan siapa diriNya. Penolakan Tuhan pada dirinya diterima dengan lapang dada. Dia mempersiapkan segala sesuatu agar anaknya dapat melaksanakan pembangunan dengan baik. Jika kita baca nas kotbah Minggu ini segala material: emas, kayu dan material bangunan lainnya dilengkapi. Demikian dengan para tukang dan ahli. Semuanya dilengkapi oleh Daud, mengarahkan seluruh stake holder yang berpengaruh dsri masyarakat agar mendukung Salomo mewujudkan pembangunan ini.


Tindakan Daud ini dapat menjadi refleksi yang mendalam. Umumnya orang ingin menjadi populer dan kegiatan berpusat pada diri sendiri, seolah dirinya sendirilah satu-satunya yang pantas dan layak untuk tugas dan suatu missi. Termasuk dalam pelayanan gereja seolah tanpa "aku" ini semua tidak bisa. Ego seperti ini tidak ada pada diri Daud. Dia taat kepada keputusan Tuhan dan memberdayakan segala potensi yang ada melaksanakan keputusan Tuhan.


1.3. Mulailah bekerja, Tuhan menyertaimu!

Daud mempersiapkan perbekalan yang dibutuhkan untuk pembangunan Bait Allah; baik material kayu, marmer, emas dan material lainnya, termasuk para ahli: ahli batu, ahli kayu, arsitek dan lainnya. Daud tidak berhenti saat Tuhan menolak Daud, namun Dia tetap mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan untuk membangun Bait Allah. Daud juga menyampaikan kepada seluruh stake holder yang ada untuk membantu Salomo mewujudkan pembangunan Bait Allah. 


Daud tidak egois, dalam banyak hal kita sering terjebak dengan pola pikir: "kalau bukan aku mana bisa", itulah pikiran yang ego, seolah dirinya sendiri sajalah yang dapat melakukan tugas-tugas dalam suatu pekerjaan atau lemabaga yang dipimpin. Daud tidak demikian, saat Tuhan mengatakan bukan dia, dia tetap mempersiapkan segala sesuatunya dan membantu penggantinya dapat melakukan pembangunan Bait Allah. 


2. Salomo: penyertaan Tuhan dan mewujudkan impian orangtuanya

Sekalipun Daud mempersiapkan segala materiaal dan ahli membangun Bait Allah, jika Salomo tidak mau dia bisa saja menghambur-hamburkan warisan dari ayahnya Daud. Ada banyak orang kaya tidak melanjutkan dan mengembangkan warisan ayahnya, pesan orangtuanya diabaikan dan menjadi kesusahan yang menyedihkan bagi orang tua. Salomo tidaklah demikian, tetapi tampil melebihi dari apa yang dipikirkan oleh Daud.


2.1. Penyertaan Tuhan

Jika kita baca 1 Tawarikh 22:18 (TB) "Bukankah TUHAN, Allahmu, menyertai kamu dan telah mengaruniakan keamanan kepadamu ke segala penjuru. Sungguh, Ia telah menyerahkan penduduk negeri ini ke dalam tanganku, sehingga negeri ini takluk ke hadapan TUHAN dan kepada umat-Nya. 


Kitab Tawarikh mencatatkan bahwa saat Daud mengamanatkan pembangunan Bait Allah, Daud memberkati Salomo dengan menegaskan: "penyertaan Tuhan." Kalimat ini sangat penting, dalam melakukan segala sesuatu dalam masa kepemimpinannya Salomo mengandalkan penyertaan Tuhan. 


Penyertaan Tuhan ini didukung pula pada kitab Amsal dari Salomo yang menekankan: Takut akan Tuhan. Berulang kali kita menemukan kata "takut akan Tuhan" Hidup orang yang meminta penyertaan Tuhan dalam hidupNya ditunjukkan dengan"Takut akan Tuhan." 


Dalam kitab Amsal saja kita menemukan 17 kalimat: "Takut Akan Tuhan". Takut akan Tuhan permulaan pengetahuan, terhindar dari jalan fasik, memperoleh pengertian dan jauh dari kejahatan, permulaan hikmat, jauh dari kebodohan, panjang umur dan diberkati Tuhan. Takut akan Tuhan tentram, terhindar dari maut. 


Dalam kepemimpinan Salomo, menyadari penyertaan Tuhan dan diikuti dengan takut akan Tuhan. Sehingga segala rencananya diberkati oleh Tuhan.  


2.2. Mewujudkan impian orangtuanya:

Pelajaran kedua dari Salomo adalah dia mewujudkan impian ayahnya bahkan melakukan lebih hebat dari apa yang dipikirkan ayahnya Daud. Kerajaan Salomo lebih luas ketimbang dari Daud, kejayaan dan kemasyuran Israel mengalami puncak kejayaan dimasa Salomo.

Kotbah Minggu ini, memberikan pelajaran, bagaimana Salomo meujudkan ipian ayahnya Daud. Dia benar-benar menerima ndat sepenunya dan mengerjakan pembangunan Bait Alah sampai selesai dan diamasuki. Daud tidak menghambur-hamburkan uang dengan poyah-poyah, tetapi meneruskan dan mewujudkan pembangunan Bait Allah yang sangat strategis dalam kehidupan bangsa Israel. 


2.3. Hikmat Salomo memimpin para pemimpin dan ahli

Memimpin para pemimpin dan memimpin para ahli, tentulah merupakan pekerjaan sulit, karena pemimpin sulit diatur. Demikian dengan para ahli, mereka semua memiliki keunikan tersendiri.


Saya bisa bayangkan bagaimana perdebatan ahli kayu dan batu, mungkin ahli batu menawarkan agar didepan diletakkan batu ukir terbaik, mungkin juga ahli kayu, agar kayulah dibuat terdepan. Pastilah memiliki tantangan dan kesulitan mengorganisir dan mengakomodir berbagai pemikiran dan kelebihan dari para ahli ini. Tentu semua ini dapat berjalan dengan baik karena hikma Salomo yang memimpin para pemimpin dan para ahli. Salomo memberdayakan orang-orang yang tepat, memberi ruang berpartisipasi dan memastikan monitoring setiap orang melaksanakan tugasnya masing-masing. 


3. Mengarahkan hati dan jiwa mencari Tuhan

1 Tawarikh 22:19 (TB) Maka sekarang, arahkanlah hati dan jiwamu untuk mencari TUHAN, Allahmu. Mulailah mendirikan tempat kudus TUHAN, Allah, supaya tabut perjanjian TUHAN dan perkakas kudus Allah dapat dibawa masuk ke dalam rumah yang didirikan bagi nama TUHAN." 


Dari kotbah ini kita menemukan suatu rahasia kesuksesan melakukan pekerjaan, yaitu: mengarahkan hati dan jiwa untuk mencari Tuhan. Diatas telah kita sampaikan baik Daud, Salomo dan para tukang yang dipercayakan untuk tugas-tugas semuanya memberikan hati dan jiwa mereka untuk mensukseskan pekerjaan. Tidak ada terpikir untuk mencari kepentingan diri, popularitas diri dan kesenangan diri. Tetapi semuanya terarah kepada upaya mewujudkan tujuan. Disini pastilah ada kerjasama yang baik, Salomo pemimpin yang bisa bekerjasama dan mengorganisir kerjasama dengan baik. 


Sahabat yang baik hati, pertanyaan di akhir kotbah ini bagi kita adalah? Apa yang hendak kita lakukan untuk mencari Tuhan? Mencari Tuhan adalah membangun kehidupan rohani, pertumbuhan iman anggota keluarga dan terciptanya spiritualitas yang baik di tengah-tengah keluarga. Daud telah memberikan teladan taat kepada keputusan Tuhan dengan mengamanatkan pembangunan kepada Salomo. Daud mempersiapkan segala sesuatu untuk mewujudkan pembangunan ini. Salomo juga demikian melanjutkan dan mewujudkan impian orang tuanya dan pemimpin dengan takut akan Tuhan. 


Apakah yang aku perbuat untuk lebih sungguh mencari Tuhan? Tentu kembali kepada kita, kesungguhan menaati perintah Tuhan, meneruskan pekerjaan baik, memelihara kehidupan rohani kita dengan baik. 


Tuhan memberkati dan memberikan kekuatan bagi kita melakukan FirmanNya. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak - Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


Sabtu, 21 Februari 2026

TUHAN DEKAT TATKALA AKU MEMANGGIL

Catatan Kotbah Minggu Invocavit (Dungi JouonNa ma Au)

Minggu, 22 Februari 2026

Ev. Ratapan 3:49-57




TUHAN DEKAT TATKALA AKU MEMANGGILNYA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, ada satu lagu dalam bahasa Batak: "Joujou Do Au," lagu ini mengisahkan seruan orang yang percaya atas derita yang dialami. Dalam lagu ini kita menemukan suatu sikap realitis, sekalipun kita percaya bahwa Tuhan memberikan apa yang kita minta dan selalu menjawab seruan yang kita minta namun kadang dalam hidup orang percaya harus berjalan dalam kesulitan. Allah hadir bukan saat senang dan tanpa tantangan, tetapi Allah itu ada bersama-sama dengan kita menjalani dan menyelesaikan kesulitan. 


Sahabat yang baik hati, demikianlah kita menemukan perasaan pahit yang dalam dari nabi Yeremia dalam ratapan ini. Sebagai umat Allah mereka percaya bahwa Tuhan itu Maha Kuasa yang dapat menyelesaikan semua permasalahan dalam hidup, mereka percaya di dalam Tuhan ada semua jawaban dan mereka percaya Tuhan akan mendengar seruan minta tolong namun orang percaya harus hidup realistis menjalani kesulitan itu sendiri. Percaya pada Tuhan bukan dalam hal senang, tetapi memberikan kekuatan dan jalan keluar di dalam kesulitan yang dihadapi. 


Kitab Ratapan adalah isi hati umat Allah yang menangis dan berurai air mata kesedihan. Sebagai umat mereka kehilangan harga diri, kehilangan kejayaan, kehilangan masa depan dan tinggal dinegeri asing menunggu kebinasaan. Apa yang membanggakan bagi mereka semua dilucuti: Bait Allah hancur, kota mereka tinggal puing, Umat Pilihan diangkut dan terbuang di negeri orang asing. Merwka meratap sedih dan hari-hari mereka berlalu dengan kesedihan dan air mata hang bercucuran. 


Di dalam kitab Ratapan, nabi Yeremia juga menghantarkan kepada umat Allah mengakui kesalahan dan menyampaikan permohonan tentang pengampunan. Yeremia menyadari bahwa pembuangan ini tidak datang dengan dirinya, retapi ada kesalahan dna pelanggaran akan perintah Allah. Maka di dalam kitab Ratapan inj satu dari hal yang ditekankan adalah pengakuan bersalah dan permohonan akan pengamlunan.


Dalam segala kesedihan yang mendalam masih asa setitik harapan yakni: Ratapan 3:20-23 (TB)  Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 

Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: 

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 

selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 


1. Ungkapan Kesedihan atas pembuangan


Ratapan 3:20, 48-49 (TB)  Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku. 

Air mataku mengalir bagaikan batang air, karena keruntuhan puteri bangsaku. 

Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya, 


Jika kita membaca keseluruhan pasal 3 ini, kita akan menemukan syair-syair yang berisi dalamnya kesedihan. Bacalah 3:1-19 semuanya kesulitan dan derita yang mendalam 

- sakit kena cambuk ayat 1

- dalam kegelapan ayat 2, 6

- daging dan kulit menyusut dan tulang dipatahkan ayat 4

- dikelilingi kesedihan dan kesusahan ayat 5

- Terikat rantai ayat 7

- rintangan jalan yang tisak dapat dilalui ayat 9

- laksana menghadpi beruang dan singa ayat 10

- sasaran anak panah ayat 12

- Ditertawakan dan diejek ayat 14

- Keyang dengan kepahitan ayat 15

- Gigi remuk ayat 16

- lupa akan kebahagiaan ayat 17


Ungkapan-ungkapan kesedihan ini masih banyak lagi disebutkan sepanjang pasal 3. Seluruh waktu yang dilaluinya semuanya kesedihan dan air mata, jiwa yang tertekan hingga tidak ada kata bahagia dan kesejahteraan. 



2. Tertindas dan diperlakukan dak adil

Ada dua istilah yang dipergunakan oleh kitab Ratapan tentang yang mereka alamai selama dipembuangan:


2.1. Seperti burung yang diburu

Ratapan 3:52 (TB)  Seperti burung aku diburu-buru oleh mereka yang menjadi seteruku tanpa sebab. 


Saya masih ingat masa kanak-kanak di kampung kebiasaan membawa ketapel. Ketapel digunakan untuk menyasar burung, padahal burung yang kena belum tentu dibutuhkan hanya membuktikan sasaran kena dan yang diketapel itu kena. Jadi burung yang disasar bukan karena dibutuhkan untuk berburu hanya sasaran saja. Burung yang diburu hanya mainan saja, mereka hanya membuktikan mereka bisa mengenai, kena, terluka atau mati tkdak ada urusan dengan pemburu.

Demikianlah perasaan umat Allah di dalam pembuangan diperlakukan semena, sesuka mereka. Tidak ada kepedulian apakah mereka terluka atau mati.


2.2. Binasa tenggelam banjir

Ratapan 3:54 (TB)  Air membanjir di atas kepalaku, kusangka: "Binasa aku!" 


Kita baru sedih ada peristiwa Banjir dan Longsor di Simatera Utara, Barat dan Banda Aceh di bilan Nopember 2025 lalu Ribuan orang meminggal dan masih ada yang tidak ditemukan manyatnya. Hal yang sangat menyentuh sekali dari sekian peristiwa tragis itu ada satu vidio yang direkam bagaimana perjuangan keluarga harus naik ke flavon dan membuka paksa atap rumahnya agar mereka bisa kekuar dari luapan air yang menimpa mereka permukaan air terus naik dan hendak menenggelamkan mereka.  Satu persatu mereka berusaha keluar dari banjir dan jika mereka tidak keluar maka luapan air yang terus meningkat akan menelan mereka.


Kitab Ratapan menjelaskan seolah hidup di dalam satu ruangan dimana banjir hendak menenggelamkan mereka. Hanya tinggal menunggu waktu dan maut akan menjemput mereka.


Dua contoh diatas dijelaskan bahwa tidak ada harapan untuk melepaskan diri karena ketidak berdayaan. Disinilah letak iman yang kita temukan dalam.kutab ratapan, begitu banyak sengsara dan kepahitan hang dialami, ketidak berdayaan melepaskan diri dari semua penderitaan namun tidak berputus asa. Dalam ayat berikut Yeremia berseru kepada Tuhan dan di dalam iman dia menemukan jawaban: Jangan Takut.


3. Jangan takut: berharap Pada Tuhan.

Ratapan 3:55-56 (TB)  "Ya TUHAN, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku!


Kelebihan orang percaya adalah dalam ketidak berdayaan ada keyakinan. Menyerahkan semua beban kepada Tuhan. Selalu ada saluran komunikasi untuk menyampaikan informasi, permohonan dan keadaan kita. Iman dibuktikan dengan kesetiaan menunggu tindakan Tuhan.


Dalam segala ketidak mungkinan untuk meraih masa depan, Yeremia tidak frustasi dan tidak putus asa namun dia berseru kepada Tuhan . Dalam doanya; Ya Tuhan, aku memanggil namaMu dari dasar lobang yang dalam. 


Memanggil lobang jarum, menjelaskan jalan yang semput dan sulit untuk dilalui. Umumnya kota di Jaman PL selain gerbang memiliki lobang jarum, hanya badan saja yang bisa melewati. (Band. Perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang kaya susah masuk lobang jarum Lukas 17:25)


Seruan yang disampaikan sesuatu permohonan yang sulit untuk dipenuhi. Karena tidak ada orang yang akan dengar dan mungkin sekuatbapaounkita berseru tidak akan ada yqlang mau mendengar karena berada jauh di dasar lobang.  Namun sekalipun sulit bukan berarti tidak mungkin. Bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Intulah iman orang percaya. Invocavit - Allah memanggil nama kita dan menjawab seruan ninta tolong kita.


Dalam situasi terjepit, berserulah kepada Tuha, Dia sanggup membuat kita melejit

Dalam situasi djbabat, Tuhan bekerja membuag kita semakin merambat

Dalam situasi ditekan, Tuhan berkerja mendatangkan ketenangan. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



Sabtu, 24 Januari 2026

TUHAN SEMESTA ALAM MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA

 Kotbah Minggu III Stlh Ephipanias

Minggu, 25 Januari 2026

Ev. Haggai 2:1-9



TUHAN SEMESTA ALAM MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, peran Bait Allah dalam kehidupan umat Allah sangat sentral. Sesuai dengan rencana Daud, Sion menjadi Kota Allah: Pusat Kerajaan dan Pusat Peribadahan dimana Allah hadir dan bersemayam di Bait Allah. Sekakipun Daud yang merencanakan pembangunan Bait Allah, namun raja Salomolah yang dipilih Tuhan membangun Bait Allah. 


Di Bait Allah mereka menerima pengajaran, tempat menyampaikan rasa bersyukur, berdoa, menyerahkan kurban persembahan dan berbagai aktifitas lainnya untuk menopang kehidupan rohani. Di Bait Allah juga mereka menerima bimbingan dan nasihat dari para imam untuk menuntun mereka tetap takut akan Tuhan dan memelihara perintahNya. Di daerah yang jauh dari Bait Allah mereka mendirikan synagoge. Di synagoge mereka melakukan aktifitas kerohanian, keagamaan, pendidikan dan ajaran moral tidak terlepas dari kehidupan Isrsel. Namun sekalipun ada synagoge Bait Alkah adalah remoat yang mereka rindukan sebagaimana banyak dituangkan dalam banyak Mazmur. Mazmur 26:8 (TB)  TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam. 

Hal terpenting disitu adalah diyakini Allah hadir Bait Allah dan bukti diam bersama-sama dengan umatNya. 


Umat Allah hampir tak percaya saat Babelonia meruntuhkan Bait Allah. Umat Allah percaya bahwa Bait Allah tempat Maha Kudus dimana Allah yang Maha kuasa mersemayam tetapi dapat diruntuhkan Babel dan tak satupun batu bertindih. Mereka diangkut ke pembuangan Babilonia dan ada rasa hampa dan keyakinan terhadap Tuhan yang diimani sirnah bagi sebahagian orang. Penaklukan Yerusalem oleh Babel di bawah Raja Nebukadnezar II terjadi dalam tiga tahap utama (sekitar 605, 597, dan 586 SM) sebagai respons atas pemberontakan Kerajaan Yehuda. Puncak kehancuran terjadi pada 586 SM, di mana Bait Suci pertama dibakar, tembok kota dirobohkan, dan penduduknya dibuang ke Babel, menandai dimulainya masa Pembuangan Babel. 

Syukurlah ada sisa-sisa Israel yang tetap berpengharapan dan memelihara perintah Allah dalam kehidupan mereka. Setelah 70 Tahun di Babelonia Tuhan memakai Raja Kores membebaskan Yehuda dari Babilonia. Mereka diberangkatkan untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah dan tembok Yerusalem. 


Hagai adalah salah satu nabi yang bekerja setelah pembuangan. Nabi Hagai meyakinkan kembali umat Allah agar percaya pada kasih setia Tuhan.  Tuhan setia menjaga, memelihara dan memberkati umatNya dalam segala keadaan. Allah memelihara mereka dalam pembuangan dan memulangkan mereka kembali ke Yerusalem. Bukan hanya kembali ke Yerusalem, tetapi raja Koresh membekali umatNya dengan sejumlah kebutuhan mereka dan mempersiapkan material yang dibutuhkan membangun kembali Bait Allah dan tembok Yerusalem. Allah telah membuktikan kasih setianya dalam perjalanan umatNya tetapi bagaimanakah jawaban umat atau kasih setia Tuhan? 


01. Motivasi Nabi Haggai


Ada pelajaran berharga dari peran nabi nabi Haggai ditengah-tengah umat Allah.  Hagai seorang nabi yang fokus memotivasi umat Allah untuk menyelesaikan pembangunan Bait Allah di Yerusalem. Setelah kembali dari pembuangan ada dua fokus program nasional umat Allah, yakni: pembangunan kembali tembok Yerusalem. Hal ini penting karena Yerusalem telah menjadi puing dan kota lama korban perang. Dapat dibayangkan selama 70 tahun di pembuangan, kota ini kosong dan tak berpenghuni, tentu sangat membutuhkan pembangunan agar kota itu ramai kembali seperti sedia kala. Kedua adalah pembangunan kembali Bait Allah. Ezra dan Nehemia bahu membahu untuk mewujudkan pembangunan Bait Allah. Memang ada dukungan dana pembangunan Bait Allah dari raja Koresh namun ada juga tanggungjawab umat untuk mengumpulkan uang dan berupa harta benda serta kewajiban agama seperti perpuluhan yang harus dipersembahkan untuk pembangunan Bait Allah. Ezra 1:2 (TB)  "Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. 


Disinilah nabi Hagai hadir untuk mengajak seluruh umat Allah untuk berkomitmen menyokong pembangunan Bait Allah. Jangan ada yang berdalih apalagi meragukan apa yang harus kami beri? Tuhan sendiri pemilik segala apa yang ada, tinggal bagaimana kita percaya sepenuhnya tanpa ragu akan berkat dan kasih setia Tuhan.


2. Mengenang kejayaan masa lalu mengasah harapan:  masih adakah yang menyaksikan Rumah Tuhan? 


Hagai 2:3 (TB)  (2-4) Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? 


Di atas sudah disampaikan bahwa peran Bait Allah sangat sentral dalam kehidupan umat Allah. Bait Allah adalah kebanggaan Israel yang dibangun oleh Raja Salomo. Salamo adalah raja yang sangat masyur dan tidak ada yang mengimbangi Salomo baik sebelum dia dan sesudah dia. 2 Tawarikh 9:22 (TB)  Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat. 


Kebanggaan atas bangunan Bait Allah merupakan aset termegah. Menurut catatan material pembangunan Bait Allah dirinci sebagai berikut. Bait Allah yang dibangun Raja Salomo (sekitar 966-959 SM) di Gunung Moria, Yerusalem, adalah simbol kemewahan luar biasa, dibangun selama 7 tahun menggunakan bahan terbaik seperti emas murni, kayu aras dari Libanon, kayu sanobar, dan batu-batu mahal. Seluruh interior, termasuk dinding, lantai, dan ruang belakang, dilapisi emas murni serta dihiasi ukiran kerub, pohon kurma, dan bunga, menciptakan nuansa istana surgawi yang bernilai tinggi dan megah. (Baca 1 Raja 5-6)


Kemegahan Bait Allah menjadi milik kebanggan umat Allah dibangkitkan oleh Nabi Hagai kembali dengan menanyakan siapakah diantara kamu yang melihat Rumah Allah? Pertanyaan retoris ini bertujuan mengembalikan semangat untuk membangun Bait Allah. Bait Allah adalah kekaguman dan kebanggaan umat Allah karena itu harus kembali dibangun. Setiap orang yang pernah melihat Bait Allah akan mengingat kembali kemegahan Allah ditengah-tengah umat Allah.


Setelah kembali ke Yerusalem ada harapan itu terwujud kembali. Nabi Hagai optimis atas bantuan pemerintah dan kalangan imam niscaya pembangjnan Bait Allah dapat terwujud. Hal inilah yang diyakinkan Hagai, pembangunan kembali Bait Allah adalah kesempatan berharga (kairos) untuk membangun kejayaan umat Allah. 


3. Motor Pembangunan adalah pemimpin: bekerjalah dan bangkitlah Tuhan menyertaimu


Hagai 2:2, 4 (TB)  (2-3) "Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada selebihnya dari bangsa itu, demikian:


(2-5) Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 


Transformasi dimulai dari kepala. Pemimpin adalah motor dan penggerak perubahan. Hal ini ditekankan oleh Hagai, makanya hal pertama yang disapa oleh Hagai adalah Bupati Yudea dan Imam yang memimpin di masa itu. 

Sealtiel adalah Bupati atau kepala daerah yang memiliki otoritas untuk program pembangunan. Segala perencanaan pembangunan kota akan ditentukan oleh Bupati. Maka disini Hagai menyapa dan menyemangati sebagai pemerintah hang bertanggung jawab untuk kemajuan dan pembangunan daerah. Pembangunan Bait Allah dan tembok Yerusalem adalah program strategis yang dapat meningkatkan harkat dan martabat Yudea. 


Sedangkan kepala imam pada saat Hagai adalah Yosua bin Yozadak. Hagai mendorong pemimpin agama karena perannya sangat menentukan spiritualitas umat. Imam memiliki otoritas untuk memberikan kewajiban agama (religius) berupa persembahan dan kurban serta pembiayaan untuk menopang pembangunan Bait Allah.  


Apa yang dilakukan oleh Hagai mengajak pemerintah dan rohaniawan untuk bangkit membangun Yerusalem. Hai bupati dan hai imam, hai pemimpin daerah dan pemimpin agama bangkitlah, bekerjalah! Tuhan sendiri yang menyertai dan memberkati pekerjaan hingga berhasil. 


4. Jangan Takut:


4.1. Jangan takut: di dalam Tuhan segala sesuatu tersedia 

Hagai 2:8 (TB)  (2-9) Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. 


Disatu sisi secara ekonomi mereka belum kuat. Mereka orang-orang yang baru kembali dari pembuangan masih ada yang membangun rumah dan membuka ladang pertanian atau usaha mereka. Namun alasan ekonomi tidak bisa menjadi alasan untuk tidak membangun Bait Allah. 


Hagai menegaskan jangan takut! Hal itu telah dimulai dengan peran Raja Koresh, memulangkan dan membekali mereka. Nehemia dipakai Tuhan dengan hikmat yang luar biasa, dia meminta agar raja Persia membuat surat kepada seluruh bupati untuk menopang pembangunan Bait Allah (Baca Nehemia 2-3). Ketiga diharapkan dari topangan unat melalui persembahan dan perpuluhan sebagaimana ketentuan religius yang tekah diwajibkan sejak zaman Musa. Ada kewajiban-kewajiban agama yang harus diberikan kepada pembendaharaan pembangunan Bait Allah. 


Wajar saja ada kekuatiran tentang biaya yang begitu besar untuk menopang pembangunan tersebut, namun Hagai menegaskan bahwa sumber segala sesuatu ada pada Tuhan sebagaimana disebutkan dalam ay 8. Pada Tuhan segala sesuatu ada: perak, emas dan segala kekayaan. Karena Dialah Allah semesta. 


4.2. Jangan takut: Tuhan memberikan damai sejahtera.

Hagai 2:9 (TB)  (2-10) Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam." 


Nabi Hagai menyebutkan hal damai sejahrera. Hal ini terkait dengan pengalaman real dimana akan selalu muncul negara adikuasa untuk menaklukan negara-negara sekitar. Sebagaimana kita tahu negara adikuasa silih berganti: Mesir, Assyur, Babelonia dan Persia. Tentu dengan realitas ini ada kekuatiran akan kekejaman perang. 


Dalam ancaman dan kekuatiran akan kekejaman perang ini, Hagai menjawab: Tuhan mendatangkan damai sejahtera. Allah adalah Maha Kuasa, berdaulat bukan hanya kepada Israel, atau Yehuda saja. Tetapi Tuhan berdaulat dan mengatur raja-raja dan semesta alam. Tuhan mendatangkan damai sejahtera. 


Sahabat yang baik hati, kehadiran Nabi Hagai menjadi motivasi bagi kita. Sebagai nabi dia memotivasi umat Allah agar memilikk semngat dan menumbuhkan optimis bahwa mereka bisa dan mampu membangun kembali Bait Allah. Dia bukan hanya memotivasi umat, tetapi juga menyemangati para pemimpin, baik pemerintah maupun pemimpjn agama. Posisi mereka sangat strategis untuk membangun kembali Bait Allah. Ada banyak kebutuhan, ada banyak kekuatiran tetali Tuhan semesta alam berkuasa untuk mengatasinya. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



Sabtu, 17 Januari 2026

DI DALAM DI KITA MENJADI KAYA DALAM SEGALA HAL

 Catatan Kotbah Minggu II Stlh Epiphanias

Minggu,  19 Januari 2026

Ev: 1 Korint 1:4-9




DI DALAM DIA KITA MENJADI KAYA DALAM SEGALA HAL


Selamat Hari Minggu bagi kita semua! Sahabat yang baik hati, kotbah Minggu ini merupakan kalimat pembuka dari Paulus kepada jemaat Korintus dalam memberikan resolusi atas permasalahan yang dihadapi di Jemaat Korintus. Tentu dalam menyelesaikan permasalahan kalimat pembuka sangat penting.  Jika dimulai dengan sinis jangan harap lawan bicara akan bersikap manis akan memiliki asumsi-asumsi negatif yang menyudutkan dirinya sendiri.  Jika terlalu banyak memuji dengan basa-basi yang omong kosong pula akan membuat pembicaraan tak berharga dan sulit bersambung. Maka dalam memulai percakapan dengan orang lain komunikasi yang disampaikan Paulus dalam Minggu ini sangat berharga untuk kita pelajari dalam kehidupan bergereja dan berbagai aspek dalam kehidupan kita. 


Paulus menyapa jemaat Korintus yang mengalami masalah besar, mereka terancam pecah, gontok-gontokan dan masuk pada kubu-bubu dengan sentiment yang tinggi. Jika tak ditangani dengan baik, perpecahan diantara jemaat pun tak terelakkan. Mereka yang sudah terkooptasi pada kubu-kubu menurut penginjil favorit akan menjadi alasan yang membuat terpecah belah (1 Kor 1:10-12). Ini sangat merugikan dan kehilangan arti persekutuan. Paulus akhir memberikan nasihat pentinyanya menyadari kesatuan di dalam jemaat dan kekayaan di dalam persekutuan di dalam Kristus. 


1.  Salam damai sejahtera.

Paulus sebenarnya ikut terseret dalam permasalahan di Korintus karena ada satu komunitas yang menamakan diri kelompok Paulus atau "pengikut Paulus". Namun Paulus tidak terpesona dengan komunitas yang mendukungnya atau terikat dengan itu tetapi kehilangan jemaat yang lain. Paulus hadir untuk lebih memenangkan semua orang di Korintus. Sapaannya hadir bukan untuk kelompok pendukungnya tetapi semua kelompok yang ada dalam Korintus dengan penuh damai.


Jika kita baca 1:2 disini Paulus menyebutkan mereka sebagai "jemaat Allah yang Kudus". Tujuan sapaan ini tentu sangat dalam bahwa mereka adalah suatu komunitas yang bukan didasarkan oleh para penginjil yang mereka favoritkan, persekutuan gereja bukankah kelompok yang saling memiliki kesamaa, tetapi gereja adalah persekutuan orang Kudus yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. 


Jika Allah sebagai pemilik gereja, maka seluruh orang yang bersekutu di dalam gereja semestinya taat dan tunduk pada sang pemilik. Hal ini membedakan gereja dengan dunia sekuler. Persekutuan gereja adalah sakral, yang dibangun diatas dasar iman dan percaya kepada Yesus Kristus. Karena itu segala aktifitas gerejawi hendaknya sadar bahwa  semua harus tunduk kepada Kristus.

Sapaan seperti ini mengingatkan jemaat Korintus akan hakekat gereja yang sesungguhnya. Jemaat yang hidup di dalam kasih karunia Tuhan Yesus Kristus. Hidup di dalam damai sejahtera Kristus menghantar setiap pribadi kepada penhorbanan Yssus Kristus. Setiap orang membenamkan ego masing-masing dan terpaut kepada damai sejahtera. 


Hal inilah yang menjadi pedoman bagi kita, setiap ada ketegangan dan konflik dalam gereja semua orang harus mau menundukkan diri di dalam kasih karunia Yesus Kristus. Tidak ada yang bisa disombongkan atau dapat dimegahkan dari diri sendiri atau kelompok sendiri, semuanya harus kembali kepada tujuan awal yaitu tinggal di dalam persekutuan yang kudus di dalam pengorbanan Yesus Kristus. 


2. Anugerah Yesus Kristus menjadikan kaya dalam segala hal.

Kalimat kedua ini mengajarkan tentang peranan anugerah dan kasih karunia di dalam jemaat.  kasih karunia di dalam Yesus Kristus adalah keselamatan. Orang-orang percaya diperlengkapi dengan berbagai karunia-karunia berdasarkan pemberian Roh Kudus  setiap orang berharga dan memiliki peran yang sangat baik untuk membangun tubuh Kristus. 


1 Korintus 1:4-5 (TB)  Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus.

Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan,


Hal inilah yang diingatkan oleh Paulus di awal pembicaraan ini bahwa semua orang sesungguhnya telah diperlengkapi oleh Kristus dengan anugerah dan kasih karunia yang diterima. Maka seharusnya jugalah orang percaya menyelesaikan segala perbedaan dan permasalahan yang timbul dalam jemaat dengan hikmat yang bertujuan kepada kemuliaan Allah.


Paulus yakin, mereka bukanlah orang-orang yang bodoh, miskin ide dan picik. Mereka semua adalah orang yang telah kaya dalam pemahaman dan pengetahuan, maka seharusnya orang percaya berhikmat dan memiliki wawasan yang luas dalam menghadapi setiap persoalan.


Dengan pemahaman ini Paulus hendak menekankan perbedaan dalam jemaat Korintus harus dilihat dari kekayaan dari berbagai anugerah dannkasih karunia. Maka semua kekayaan ini harus dirakit di dalam satu kesatuan yaitu hidup dalammkasih dan mempersembahkan kasih karunia masing-masih dalam membangun tubu Kristus (baca= gereja).


3. Anugerah di dalam Kristus membuat kita tak kekurangan.

Bagian berikut ini adalah menegaskan bagian diatas, jika anugerah Kristus menjadikan kaya, maka itu akan menjadikan jemaat tak kekurangan. Sungguh aneh jika kaya namun kekurangan, berarti tidak menggunakan kekayaan yang dimiliki untuk menutupi kekurangannya. 


Hal ini jugalah yang diingatkan Paulus, anugerah di dalam Yesus Kristus membuat gereja tak kekurangan. Itulah sebabnya dia berkata: 

1 Korintus 1:7 (TB)  Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.


Jika setiap orang dapat memberikan apa yang ada padanya menutupi kekurangan orang lain. Bukan hanya dalam ukuran materi, tetapi hal-hal yang bersifat immaterial seperti: ide, gagasan, perbuatan, sikap, tindakan dan keahlian. Jika semua mempersembahkan tentu komunitas orang percaya tak kekurangan. Namun jika semua hidup dalam keegoisan, memuji diri sendiri dan tak mau mempersembahkan kasih karunia yang ada padanya orang lain semuanya bisa menjadi serba kekurangan. Disinilahnoengelolaannpersekutuan itu harus baik karena bisa saja dalam berkelimpahan orang bisa kekurangan. Tetapi orang yang hidup di dalam anugerah Yesus Kristus orang percaya tak akan kekurangan.


Disini gereja perlu mengelola persekutuan dengan baik. Paulus percaya kekayaan yang dianugerahkan Kristus akan membuag jemaat tak berkekurangan. Demikian jugalah setiap persekutuan orang percaya dimana pun, mari saling menopang yang satu dengan yang lain menolong dan membantu kelemahan orang lain agar tak kekurangan sehingga kita tak bercacat hingga akhir. 1 Korintus 1:8 (TB)  Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.


Hidup di dalam damai dan kasih karunia Kristus akan membawa persekutuan kita kembali kepada hakekat gereja yang sesungguhNya. Gereja adalah milik Allah, hidup kudus dalam persekutuan orang Kudus. Baiklah masih-masing menjaga kedamaian dan kekudusan gereja.  Jauh dari gontok-gontokan, perpecahan dan kesombongan diri. 


Hidup dalam kasih karunia dan damai sejahtera di dalam Yesus Kristus menjadikan orang percaya kaya dalam segala hal; baik materi dan immateri serta saling membekali yang lain hingga tak kekurangan. 


4. Setia di dalam persekutuan.


1 Korintus 1:9 (TB)  Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. 


Pada bagian akhir ini kita diingatkan akan pentingganya persekutuan bagi orang percaya. Hidup  setia di dalam persekutuan orsng percaya adalah panggilan; di dalam persekutuan kita mengingat rumah dan komunitas dimana kita bertumbuh bersama, memahami yang satu dengan yang lain serta merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Di dalam persekutuan kita menyadari hidup kita membutuhkan orang lain dan orang lain membutuhkan kita. Di dalam persekutuan orang kudus, setiap orang dibangun dan sama-sama bertumbuh di dalam Tuhan. 


Kekayaan orang percaya ada di dalam persekutua, setiap orang memperhatikan jemaat yang lain. Saya pernah menghadiri suatu acara gereja dalam perusahaan besar. Semua acar berjalan dengan baik sintua dna panitia duduk bersama tiada sekat antara yang satu dan lain. Suasana itu ibarat keluarga yang sama dab setara. Itu berbeda dalam suasana kerja.merekq, dimana ada kelas-kelas antara pekerja, manajemen dan owner. Ini contoh kekayaan persekutuan orang percaya di dalam sosial masyarakat kita bisa saja memiliki sekat-sekat pemisah namun dalam persekutuan kita hidup di dalam persekutuan yang kudus hidup yang setara dan egaliter.


Selaian itu, di dalam persekutuan gereja kita memiliki solidaritas dan empaty. Apa yang terjadi pada satu anggota merupakan bahagian yang dirasakan oleh jemaat lainnya. Dalam hal ini Paulus menegaskan: 1 Korintus 12:26-27 (TB)  Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.

Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. 

Selanjutnya Paulus mengarahkan: 

Roma 12:15 (TB)  Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! 


Kehidupan yang demikian, egalitar, kebersamaan, kesetaraan dan solidaritas adalah kekayaan hidup orang percaya. Hal inilah mendorong Paulus menegaskan agar jemaat Korintus tetap setia di dalam persekutuan. Amin


Salam dari kami: 

Pdt Nekson M Simanjuntak - Jabartengdiy

TUHAN PEMBERI NAFAS KEHIDUPAN

Catatan Kotbah Minggu Judika  Minggu, 22 Maret 2026 Ev. Yehezkiel 37:1-14 TUHAN PEMBERI NAFAS KEHIDUPAN Selamat Hari Minggu ! Mungkinkan tul...