Senin, 31 Agustus 2026

FIRMAN TUHAN MENJAFI KEGIRANGAN BAGIKU

 Catatan Kotbah Minggu XIII S.Trinitatis



Minggu, 30 Agustus 2026

Ev. Yeremia 15:15-21


FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU


Selamat hari Minggu! Kotbah Minggu ini memberikan pelajaran berharga agar tetap hidup di dalam kebenaran. Ada kekuatan yang diberikan Tuhan kepada orang yang benar-benar hidup di dalam kebenaran.  Tuhan sendiri memberikan energi, memulihkan dan memagari serta membentingi dia dalam melakukan tugas pelayanannya. 


Yeremia sendiri adalah contoh hidup orang benar. Konsekwensi orang yang hidup di dalam kebenaran mendapatkan penolakan dari dunia, orang bensr hidup sendirian, dicemooh, bahkan diusir dari istana, dijatuhkan ke sumur tua dan dipenjarakan. Namun Yeremia tidak berputus asa karena ada rahasia yang membuat Yeremia bertahan dan berjuang untuk melayani Tuhan di dalam kebenaran. 


Mari kita ambil.pesan berharga dari kotbah Yeremia 15:15-21 untuk kita:


1. Firman Tuhan menjadi kegirangan 


Yeremia 15:16 (TB)  Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam. 


Firman Tuhan adalah sumber kehidupan, kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi Yeremia. Setiap mendengar perkataan-perkataan Tuhan menjadi kegirangan baginya. 

Firman Tuhan yangdisampaikan tidak menjadj beban baginya. Sekalipun setiap Yeremia menyampaikan Firman Tuhan kepada umat Allah selalu terjadi resistensi, penolakan bahkan cemoohan dia tidak menjadi surut, bahkan dengan penuh kegirangan memberitakannya.


Dalam catatan tafsir Kitab Yeremia, Yeremia menghadapi nabi-nabi palsu, yaitu Pashur dan Hanaya. Nabi Yeremia menderita dan terpukul berat menunaikan tugas penyambung lidah Allah. Yeremia mau dibunuh (Yer 26:1-24).

Dilawan oleh Hananya (dalam Yer 28:1-17). Kemudian dipenjarakan (dalam Yer 37:1-21) dan dibuang ke dalam perigi (dalam Yer 38:1-28).

Pernah diusir dari istana karena istana telah dipengaruhi oleh nabi-nabi palsu yang menyatakan damai padahal sudah akan perang, yang menyatakan aman padahal sudah diambang kehancuran. 


Yeremia sendirian terpukul, namun harus tetap melaksanakan tugas penyambung lidah Allah (nabi). Firman yang disampaikan oleh Allah harus diteruskan kepada umatNya. Yeremia dalam semua beban penderitaan itu tak membuat dia surut dan mundur tetapi Firman menjadi kehirangan baginya karena ketaatan dan takut akan Tuhan. 


Memang Yeremia berkata Yeremia 15:18 (TB)  "Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai."


Ini bukan keluhan atau ungkapan penyesalan atas panggilan menjadi penyambung lidah Allah tetapi doa. Yeremia berdoa terbuka dihadapan Allah atas pengalaman yangvterjadi melakukan tugas penyambung lidah Allah. Yeremia tidak mengeluh kepada manusia, atau orang yang dianggap dpat mempermudah dia dalam beban tanggungjawabnya tetapi mencurahkan apa yang terjadi di dalam pelayannya dihadapan Tuhan. 


​Di sinilah letak rahasia ketahanan rohani sang nabi: Firman Tuhan tidak pernah dirasakannya sebagai beban keagamaan yang menghimpit atau kewajiban yang menekan. Sebaliknya, Firman itu menjadi “kesukaan dan kegirangan hati”. Ketika dunia di sekitarnya penuh dengan ancaman dan kekecewaan, perkataan Allah menjadi nutrisi yang memberi energi baru, menenangkan kecemasan, dan menyalakan kembali sukacita batiniah yang tidak dapat dirampas oleh situasi sekitarnya.


​Kesukaan itu lahir dari kesadaran yang teguh akan identitasnya: “sebab nama-Mu telah menyeru atasku.” Yeremia tahu siapa pemilik hidupnya. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah milik Allah Semesta Alam dan terus "mencerna" Firman-Nya setiap hari, maka pelayanan dan dinamika kehidupan tidak akan lagi terasa sebagai beban berat, melainkan sebagai kebangkitan jiwa dan sumber kekuatan yang tak pernah habis.


2. Tuhan sendiri mengembalikan dan memulihkan keadaan


Yeremia 15:19 (TB)  Karena itu beginilah jawab TUHAN: "Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku, dan jika engkau mengucapkan apa yang berharga dan tidak hina, maka engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku. Biarpun mereka akan kembali kepadamu, namun engkau tidak perlu kembali kepada mereka. 


Apa jawaban Tuhan terhadap doa Yeremia: Tuhan mengembalikan dan memulihkannya. 


Di tengah beratnya tekanan pelayanan, Yeremia sempat mengalihkan pandangannya dari Tuhan kepada rasa sakit hatinya sendiri. Ia menyuarakan kepahitan dan keraguan akan penyertaan Allah. Namun, Tuhan tidak merespons keluh kesah itu dengan penolakan atau pemecatan. Allah hadir sebagai Gembala yang memulihkan, sekaligus Bapa yang mengoreksi dengan penuh kasih.

Tuhan memberikan syarat pemulihan melalui kata “Jika engkau mau kembali” (bahasa Ibrani: ’Im-tashuv). Kata tashuv memanggil Yeremia untuk berbalik—bukan hanya berbalik dari dosa, melainkan berbalik dari rasa putus asa, kepahitan, dan kecenderungan mengesampingkan janji Allah.


Tuhan juga meminta Yeremia untuk memisahkan “apa yang berharga” dari “apa yang rendah” (mizzolel). Pelayanan dan hidup yang memuliakan Tuhan menuntut penyucian niat dan pemikiran. Yeremia diajak untuk berhenti memfokuskan diri pada kata-kata cemoohan manusia yang sia-sia, dan kembali memegang teguh firman Allah yang bernilai kekal.

Ketika Yeremia mau membiarkan hatinya dipulihkan dan disucikan, Tuhan memulihkan posisinya: “engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku” (harfiah: menjadi mulut Allah). Poin ini memberikan pengharapan besar bahwa Tuhan tidak pernah membuang kita saat kita lelah atau patah semangat. Ketika kita datang membawa hati yang mau dipulihkan dan dibersihkan dari kepahitan, Tuhan sanggup memakai kita kembali menjadi saluran keberkatan dan alat kemuliaanNya.



3. Tuhan memagari dan membentengi dia dari setiap upaya jahat yang menjatuhkannya


Yeremia 15:21 (TB)  Aku akan melepaskan engkau dari tangan orang-orang jahat dan membebaskan engkau dari genggaman orang-orang lalim." 


​Puncak dari pertolongan Allah kepada Yeremia diwujudkan dalam sebuah janji perlindungan yang absolut. Tuhan tidak berjanji untuk menghapuskan musuh atau meluputkan Yeremia dari ancaman dan perlawanan. Sebaliknya, Tuhan berkata, “mereka akan berperang melawan engkau.” Namun, fakta bahwa ada serangan tidak pernah berarti bahwa musuh akan menang.


​Tuhan berjanji membuat Yeremia menjadi “tembok tembaga yang teguh” . Di zaman kuno, tembaga adalah simbol bahan yang amat kuat, tidak mudah berkarat, dan tahan terhadap denturan senjata berat. Ketika dunia sekitar mencoba merubuhkan imannya, menekan jiwanya, dan merancang hal yang jahat, Yeremia dipagari oleh pertahanan ilahi yang jauh lebih kuat dari benteng mana pun di bumi.

​Kekuatan tembok tembaga itu tidak berasal dari ketangguhan pribadi Yeremia, melainkan dari Janji Penyertaan: “sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau.” Allah bertindak sebagai Perisai dan Pembebas. Poin ini menegaskan bahwa ketika kita dipanggil dan berjalan di dalam kehendak Tuhan, perlawanan atau rancangan jahat manusia mungkin ada, tetapi itu tidak akan pernah sanggup menghentikan atau mengalahkan kita. Kehidupan, pelayanan, dan masa depan orang percaya berada di dalam benteng perlindungan Allah yang tidak tergoyahkan.


Sahabat yang baik hati, bagaimana kita menghidupi pesan Yeremia ini? Sekalipun sulit pekerjaan seorang penyambung lidah Allah, mengalami pergumulan, hamvatan dan tantangan tetapi dia berkata: Firman Tuhan menjadi kegirangan. Yeremia percaya dalam memberitakan Firman dia selalu dibentengi oleh Tuhan dan Tuhan sendiri yang memulihkan keadaannya. Amen


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy

BERPEGANG TEGUH KEPADA KEBENARAN

 Catatan Kotbah Minggu XII S. Trinitatis



Minggu, 23 Agustus 2026

Ev. Efesus 4:7-16


BERPEGANG TEGUH KEPADA KEBENARAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kita semua mengharapkan kedewasaan iman. Dewasa berarti matang, mandiro dan tangguh menghadapi berbagai persoalan hang datang. Dewasa adalah proses sam seperti seorang anak yang terus bertumbuh hingga dewasa. Dulu diasuh namun setekah dewasa menjadi mengajaid pengasuh. Duku dilayani, setelag dewasa menjadi memiliki tangggung jawab untuk melayani. 


Demikianlah nasihat Paukus dalam kotbab Minggu ini agar jemaat Efesus dewasa dan semakin beroleh kebijaksanaan dalam menghadapi gangangan kehidupan. Disini kita temukan ada tiga hal menarik, makna kenaikan Krostus bagi orang percaya, Kristus memperlengkapi orang percaya dengan berbagai karunia dan ketiga menjadi dewasa. 


Tiga poin ini memperlihatkan alur yang indah: dimulai dari karya Kristus (fondasi), masuk ke peran/karunia dalam gereja (proses), dan bermuara pada tujuan akhir pertumbuhan jemaat (buah/hasil).


Marilah kita ambil pelajaran dari ketiga poin di bawah ini.


1. Kristus yang Naik ke Sorga Menaikkan Kehidupan Orang Percaya (Ayat 7-10)


“Itulah sebabnya Alkitab berkata: ’Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan hadiah-hadiah kepada manusia.’” (Ayat 8)


Paulus mengutip Mazmur 68:19 yang menggambarkan seorang Raja/Pemenang perang yang naik ke bukit kemenangan dan membagikan jarahan perang kepada rakyatnya. Kristus telah turun ke bagian bumi yang paling bawah (kematian/kubur) dan telah bangkit serta naik ke tempat tinggi di atas segala langit untuk memulihkan seluruh alam semesta.


Kenaikan Kristus bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan proklamasi kemenangan atas dosa, maut, dan kuasa gelap. Karena Kepala (Kristus) telah ditinggikan, maka tubuh-Nya (orang percaya) ikut diangkat dari keterpurukan dosa menuju posisi yang penuh dengan pengharapan dan kemuliaan.


Banyak orang percaya merasa hidupnya "terpuruk" atau terjebak dalam rasa frustrasi. Poin ini mengingatkan jemaat bahwa status rohani kita ikut "dinaikkan" bersama Kristus. Kita tidak lagi hidup dalam kekalahan, melainkan hidup dari posisi kemenangan yang telah Kristus sediakan.


​Poin pertama yang perlu kita hayati adalah: Kristus yang Naik ke Sorga dan Menang, Dikelilingi Kemuliaan untuk Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Kita. 


​Sering kali, kehidupan di dunia ini mencoba merendahkan martabat kita. Kegagalan, kemiskinan, dosa masa lalu, penderitaan, atau kata-kata jahat orang lain sering membuat kita merasa tidak berharga, minder, dan merasa seperti 'terpuruk di tempat paling bawah'.

​Namun, mari kita lihat apa yang dilakukan Yesus bagi kita di Efesus pasal 4 ini. Paulus menggambarkan Kristus seperti seorang Raja Pemenang Perang. Dia rela turun ke tempat yang paling bawah—turun ke dalam dunia yang kelam, memikul kayu salib, dan merasakan kehinaan kematian.


​Mengapa Dia melakukan itu? Supaya ketika Dia bangkit dan naik ke tempat tinggi di atas segala langit, Dia tidak naik sendirian! Dia membawa kemenangan itu untuk kita. Dia mematahkan belenggu dosa dan maut yang selama ini memperbudak manusia, lalu Dia membagikan 'hadiah kemenangan' itu kepada kita.

​Kenaikan Kristus adalah proklamasi pemulihan harga diri dan martabat manusia. Di dalam Kristus, Bapak dan Ibu tidak lagi didefinisikan oleh kegagalan atau status sosial duniawi Anda. Efesus 2:6 bahkan mencatat bahwa di dalam Kristus, kita telah didudukkan bersama-sama dengan Dia di tempat sorga.

​Karena Kristus sudah menang dan naik ke tempat tinggi, harkat hidup orang percaya telah dinaikkan! Jangan lagi hidup dengan mentalitas pecundang, jangan mau diperbudak oleh rasa takut dan kecemasan dunia, sebab Kepala kita—yaitu Kristus—adalah Raja atas segala raja yang telah menang!"


2. Kristus memperlengkapi jemaat untuk membangun Tubuh-Nya (Ayat 11-13)


“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus...” (Ayat 11-12)


Kata memperlengkapi dipakai καταρτισμός baca Katartismos. 

​Dalam Dunia Medis Kuno: Kata katartismos digunakan oleh dokter/ahli bedah Yunani untuk menggambarkan proses menyambung kembali tulang yang patah atau mengembalikan sendi yang terlepas (dislokasi) ke posisi semula agar anggota tubuh itu bisa berfungsi normal kembali.


​Dalam Dunia Nelayan: Kata bentukannya (katartizo) digunakan di Injil Matius 4:21 ketika murid-murid sedang "membereskan/memperbaiki jala" (mending the nets) yang robek agar siap dipakai melaut lagi. Seorwng pekerja sebelum berangkat terlebih dahulu memperlengki apa yang dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan. 


​Di ayat 11-12, Paulus mencatat bahwa Raja yang menang itu memberikan karunia-karunia jabatan: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar. Untuk apa semua jabatan itu diberikan? Ayat 12 memberi tahu kita: 'untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan.'

​Kata 'memperlengkapi' di sini dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani, memakai kata 'Katartismos'. Istilah ini unik sekali. Di zaman dulu, kata ini dipakai oleh para dokter untuk menyambung tulang yang patah atau terlepas, dan dipakai para nelayan untuk memperbaiki jala yang robek.


​Apa artinya bagi kita hari ini?

​Gereja bukanlah tempat pertunjukan di mana Pendeta bertindak sebagai pemain tunggal dan jemaat hanya menjadi penonton yang memberi tepuk tangan. Tidak! ​Tugas pelayanan adalah tugas seluruh jemaat. Setiap Bapak, Ibu, dan pemuda yang ada di tempat ini telah menerima kasih karunia dan dipanggil untuk melayani.

​Tugas gereja dan para pemimpin adalah melakukan Katartismos: merangkul jemaat yang hatinya patah, memulihkan semangat yang robek, dan melatih setiap kita agar bisa berfungsi memakai karunia masing-masing—baik itu karunia mengajar, menyemangati, memberi, melayani, maupun mendoakan.

​Ketika setiap anggota tubuh bergerak dan saling menopang, di situlah Tubuh Kristus akan bertumbuh dengan sehat, kuat, dan berdampak bagi kota kita."


3. Jadilah dewasa, jangan seperti anak-anak (Ayat 14-16)


“Sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran... Tetapi dengan teguh memegang kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Ayat 14-15)

Paulus memberi peringatan keras tentang bahaya menjadi "anak-anak secara rohani" (Yunani: νήπιοι - nepioi). Anak-anak itu mudah bingung, gampang ditipu oleh pengajar sesat (diombang-ambingkan gelombang), dan emosional.


Kematangan rohani ditandai dengan dua hal yang seimbang: Kebenaran (Truth) dan Kasih (Love) (ayat 15: “memegang kebenaran di dalam kasih”). Kebenaran tanpa kasih menjadi kaku/menghakimi; kasih tanpa kebenaran menjadi kompromi/lemah. Kedewasaan sejati terjadi ketika setiap anggota gereja terhubung rapat (diberkas dan diikat menjadi satu) dan saling menopang dalam kasih.


​Jadilah Dewasa, Jangan Seperti Anak-Anak.

​Di ayat 14, Paulus mengingatkan kita agar jangan lagi menjadi 'Nepioi'—anak-anak secara rohani. Bagaimana ciri anak-anak rohani itu? Mereka mudah diombang-ambingkan angin pengajaran, gampang terkecoh oleh berita bohong atau pengajaran sesat di media sosial, dan mudah sekali tersinggung atau patah semangat ketika ada masalah.


​Tuhan tidak ingin kita berhenti hanya menjadi bayi-bayi rohani yang terus menuntut untuk disuapi. Tuhan rindu kita semua bertumbuh menjadi dewasa.


​Lalu, apa ukuran kedewasaan rohani menurut ayat 15? Paulus menuliskan frasa yang sangat indah: 'Aletheuontes en Agape'— yaiitu menghidupi kebenaran di dalam kasih.

​Kedewasaan rohani bukan diukur dari berapa lama kita sudah Kristen, bukan dari seberapa hafal kita isi Alkitab, melainkan dari keseimbangan antara Kebenaran dan Kasih.

​Jika kita punya kebenaran tetapi tidak punya kasih, kita akan menjadi orang yang kaku, suka menghakimi, dan melukai sesama.

​Jika kita punya kasih tetapi tidak punya kebenaran, kita akan menjadi orang yang kompromi dengan dosa.

​Tetapi ketika kita memegang teguh firman Tuhan dan menyampaikannya dengan hati yang penuh kasih, itulah tanda jemaat yang dewasa!

​Dan ingatlah, di ayat 16 dikatakan bahwa pertumbuhan itu terjadi saat kita terhubung satu sama lain. Sama seperti anggota tubuh manusia, mata tidak bisa berdiri sendiri tanpa leher dan saraf penunjang. 


Mari kita buang sifat egois, mari kita saling menopang dalam kasih, sehingga bertumbuh menjadi tubuh Kristus yang kuat, sehat, dan berdampak bagi banyak orang. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak 

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



TAATI HUKUM DAN TEGAKKAN KEADILAN

 Catatan Kotbah Minggu XI S.Trinitatis



Minggu, 16 Agustus 2026

Ev. Yesaya 56:1-8


TAATI HUKUM DAN TEGAKKAN KEADILAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, topik minggu ini sangat menarik dan benar-benar menyentuh konteks sosial yang terjadi di sekitar kita. Ada kesewenangan, power abuse, ketidak adilan, penindasan, yang kuat menindas yang lemah, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Muncul pula pameo di masyarakat ada hukum untuk dilanggar, penegak hukum menjafi penindas bagi sesamanya. Masyarakat yang hidup di dalam ketidak adilan akan menuju kehancuran. Hal inilah yang diantisipasi setelah umat Allah kembali dsri pembuangan. Tuhan melalui nabi Yesaya hendak menata kehidupan umat Allah setelah kembali dsri pembuangan menyuarakan dengan tegas harus: menaati hukum, meneggakkan keadilan dan memberi ruang kepada semua orang, merangkul mereka yang terpinggirkan dan mungkin yang dinilai negatip di tengah-tengah masyarakat. Umat Allah hidup di dalam kehendak Tuhan dan hadir untuk memberikan kedamaian dan ketentraman bagi semua orang. 


Perikop Yesaya 56:1-6 adalah bagian dari Kitab Trito-Yesaya yang berlatar belakang masa pasca-pembuangan (ketika umat Israel baru kembali dari Babel ke Yerusalem). Kondisi sosiologis waktu itu sangat rapuh; kota Yerusalem hancur, bait Allah sedang dibangun kembali, dan ada kebingungan moral serta spiritual tentang bagaimana cara menata kembali kehidupan sebagai umat Allah yang kudus detelah kembali dari pembuangan. 


Sekarang baiklah kita dalam kotbah ini, ada tiga pokok penting yang kita temukan sangat luar biasa pesan kotbah Minggu ini, yaitu; taati hukum, tegakkan keadilan dan ranggkullah semua orang. 


1. Taati Hukum (Ayat 1-2)

“...Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan... Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya, yang memelihara hari Sabat dan tidak melanggar kekudusannya...”


Setelah kembali dari Babel, umat Israel rentan jatuh kembali pada dosa-dosa masa lalu yang menyebabkan mereka dibuang. Tuhan mengingatkan bahwa pemulihan fisik (kembali ke tanah air) harus dibarengi dengan pemulihan spiritual. Salah satu jangkar rohani utamanya adalah memelihara hari Sabat (ayat 2). Sabat bukan sekadar hari libur, melainkan pengakuan bahwa Tuhan adalah pemilik hidup mereka dan tanda ketaatan total pada hukum-Nya di tengah dunia yang serba sibuk.


Sama seperti pengalaman perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Allah memberikan hukum Taurat kepada umatNya. Mereka harus memelihara perintah Allah agar mereka hidup, panjang umur dan diberksti di negeri yang Tuhan berikan kepada mereka. 

Ketaatan kepada hukum Tuhan bukanlah beban, melainkan jalan kebahagiaan dan perlindungan bagi umat-Nya.


​Kata yang digunakan dalam Ibrani adalah "syamar" secara sederhana berarti "mendengar" atau "menuruti" peraturan secara pasif. Arti literalnya adalah menjaga, mengawal, memelihara, melindungi, atau mengawasi dengan waspada.

Sedangkangkan hukum dipakai (misphat). ​Dalam konsep Alkitab, Mishpat bukan sekadar hukum legalistik tertulis (seperti undang-undang sipil), melainkan tatanan hidup moral dan sosial yang sesuai dengan kehendak Allah.

​Mishpat adalah standar kebenaran Allah yang mengatur bagaimana manusia harus memperlakukan Allah dan sesamanya agar tercipta keselarasan dan kedamaian (shalom).


Di tengah dunia modern ini, kita diajak membangun disiplin rohani yang konsisten, menjaga kekudusan hidup, dan memberikan waktu yang khusus (seperti makna Sabat) untuk menyembah dan berserah kepada Tuhan.


2. Tegakkan Keadilan (Ayat 1)

“...Sebab dalam waktu dekat akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan.”


Disini ada hubungan keyakinan dan praktek hidup. Bukan hanya mempercayao kebenaran tegapi melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan menghubungkan ibadah (ketaatan hukum) dengan tindakan sosial (keadilan). Sering kali terjadi ketimpangan sosial di Yerusalem pasca-pembuangan di mana orang-orang kaya atau berkuasa menindas yang lemah. Tuhan menegaskan bahwa keselamatan-Nya berjalan beriringan dengan keadilan. Umat yang telah diselamatkan dari pembuangan Babel harus mencerminkan karakter Allah yang adil dalam kehidupan sehari-hari.


​Kata yang dipergunakan disini afalah 'Asu' berarti lakukan, wujudkan, kerjakan! Dan kata 'Tzedakah' bukan sekadar keadilan di atas kertas atau ruang pengadilan, melainkan keadilan yang mengalir dari hati yang benar di hadapan Tuhan, yang mewujud dalam tindakan kasih kepada sesama.


​Mengapa nabi Yesaya meneriakkan hal ini kepada umat yang baru pulang dari Babel? Karena saat itu, di tengah-tengah keruntuhan kota Yerusalem, egoisme manusia mulai muncul. Orang yang kuat menindas yang lemah, yang kaya memeras yang miskin. Mereka rajin beribadah, tetapi kehidupan sosial mereka penuh dengan kelicikan. ​Tuhan memberikan sebuah prinsip rohani yang tegas: Iman kita kepada Tuhan tidak pernah bisa dipisahkan dari cara kita memperlakukan sesama manusia. 


Ibadah kita kepada Tuhan tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja saja, melainkan harus berdampak keluar. Menegakkan keadilan berarti hidup dengan jujur di tempat kerja, tidak memeras sesama, berbicara benar, dan membela mereka yang diperlakukan tidak adil di sekitar kita.



3. Rangkul Semua Orang / Inklusif dan anti diskriminasi (Ayat 3-6)

“Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN berkata: ’Tentulah TUHAN akan memisahkan aku dari pada umat-Nya’; dan janganlah orang kebiri berkata: ’Lihatlah, aku ini pohon yang kering.’”


Ini adalah poin yang sangat revolusioner dan indah dalam teks ini. Dalam hukum Taurat yang lama (Ulangan 23:1), orang kebiri (cacat) dan orang asing dilarang masuk ke dalam jemaah Tuhan. Namun, di Yesaya 56 ini, Tuhan membuka pintu rumah-Nya lebar-lebar. Tuhan meruntuhkan tembok pemisah tersebut. Asalkan mereka memelihara Sabat dan memegang perjanjian-Nya, orang asing dan orang cacat pun akan dibawa ke gunung-Ku yang kudus dan diberi sukacita di rumah doa-Ku (ayat 7). Allah menunjukkan bahwa anugerah-Nya melampaui batas ras, fisik, atau latar belakang sosial.


Rangkullah Semua Orang. Ini adalah pesan Tuhan yang sangat radikal dan penuh kasih karunia. ​umat Allah membangun komunitas dengan tidak membeda-bedakan latar belakang dan dosa apa yang telah dilakukannya. Semuanyabtelah mendapat kasih karunia untuk membangun umat Allah menjadi beaar. Jika kita membaca Kitab Ulangan pasal 23, hukum lama mencatat bahwa orang asing dan orang yang cacat fisik dilarang keras masuk ke dalam jemaah Tuhan. Mereka dianggap tidak layak, terbuang, dan berada di luar pagar kasih karunia. ​Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati mereka yang terpinggirkan ini. Orang asing merasa minder, orang yang cacat merasa dikucilkan dan berkata: 'Lihatlah, aku ini seperti pohon yang kering, hidupku tidak berguna.'

​Tetapi mari kita lihat apa yang terjadi di Yesaya pasal 56 ini. Tuhan meruntuhkan tembok pemisah itu! Tuhan membuka pintu rumah-Nya lebar-lebar dan berkata: 'Jangan katakan Aku memisahkan kamu. Masuklah! Jikalau engkau memegang perjanjian-Ku, engkau akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan engkau akan dipenuhi sukacita di rumah doa-Ku.'


Anti diskriminasi ini menjadi tema sentral dalam isu oerjuangannhak asasi manusia. Setiap orang harus dilindungi. 


Sahabat yang baik hati! hari ini kita dipanggil untuk memiliki hati seperti hati Allah yang merangkul semua orang. Jangan ada diskriminasi, pengotak-ngotakan, atau sikap memandang rendah orang lain berdasarkan suku, status ekonomi, masa lalu, atau keterbatasan fisik. Tugas gereja adalah menjadi wadah kasih yang merangkul mereka yang terpinggirkan dan terluka agar mereka menemukan kasih Kristus. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy




TENANGLAH, JANGAN TAKUT

 Catatan Kotbah Minggi X S.Trinitatis



Minggu, 9 Agustus 2026

Ev. Matius 14:22-33


TENANGLAH, JANGAN TAKUT!


Selamat Hari Minggu!  Menjalani hidup ini akan selalu ada tantangan. Kita harus menyadarinya tantangan adalah realitas hidup, tak seorang pun kita hidup tanpa masalah atau pergumulan hidup. Semua itu mesti dijalani dengan berani dan tegar. Menjalani tantangan dengan segala potensi tentu tak cukup, karena potensi dan kemampuan kita terbatas. Inilah kelebihan orang beriman bahwa kita percaya Tuhan senantiasa hadir dan mengulurkan tanganNya menolong dan menyelamatkan kita.


Sebelum kisah murid-murid diterpa badai perikop kotbah ini Yesus memberikan makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan. Suatu mujizat yang tidak oernah terpikirkan oleh orang banyak. Ada banyak keaan bahkan ada muncul ide agar Yesus dijadikan raja karena mampu menyediakan makanan bagi banyak orang. Usai makan ada juga makanan yang tersisa, Yesus menyuruh murid-murid mengumpulkan sisa makanan sebanyak 12 bakul. 


Usai peristiwa ini Yesus memerintahkan murid-murid untuk bergerak menyeberang danau melanjutkan pelayanan. Murid pun berlayar dahulu sebagaimana perintah Yesus semantara Yesus sendirk naik ke bukit dan berdoa.  Kehidupan berdoa ini menjadi bagian penting agar kita dalam kehidupan sehari hari mesti memulainya dalam doa. Doa adalah keterbukaan hati kita di hadapan Allah yang Maha Tahu dan membuka diri dihadanNya dan memberikan ruang bagi allah mengatur dan menggerakkan hidup kita. Denganndoa kita mengucapkan syukur atas apa yang tekah kita kerjakan dan memohon kekuatan untuk apa yang akan kita kerjakan. Kita tidak tahu akan apa hang terjadi esok namun orang percaya di salam doa yakin dan percaya Tuhan ada dan hadir menolong kita.


Demikianlah dalam kotbah ini, saat murid-murid berlayar sebagaimana perintah Tuhan Yesus, di dalam pelayaran mereka ada badai yang menghambat, menghantam perahu dan hendak menenggelamkan mereka.  Disinilah Tuhanà Yesus hadir meneduhkan badai dan menyertai murid berlayar aampai ke mampu menghadapi badai ini. 


Marillah kita gali beberapa pesan menarik dari kotbah mingu ini menjadi berkat bagi kita:


01. Badai Sakal dan ketakutan Murid


Pada ayat 22 angin yang menerpa perahu murid disebut dengan "angin sakal". Angin sakal adalah angin yang datang dari depan, yang sulit dikendalikan, tetapinharua berjalan kalai berbalik akan mudah membuat perahu terbalik. Angin yang datang dari depan, menyulitkan laju perjalanan kapal kalau angi. Sakal kencang bisa saja perahu akan menukik ke bawah menumpahkan seluruh isi kapal.  Angin sakal suati angin yang ditakuti para nelayan karena datang tiba-tiba dan tidak ada tanda-tanda awal. Badai semacam ini akan membuat perahu tidak bisa berjalan ke depan, jadi tidak mungkin mereka melaju. Selain itu kapal tidak bisa berbalik arah akan membuat perahu mudah terhempas. 


Hal ini yang ditunjukkan dalam perikope kotbah ini: angin kencang dan badai nampak bermusuhan dan mengancam mereka, badai ingin menghambat mwreka melaju dan hendak menenggelamkan dan membalikkan perahu yang mereka tumpangi. Dengan angin shakal memunculkan badai kencang ini membuat mereka goncang. Tentu ada ketakutan di antara mereka dan itu wajar dan sifat manusiawi. Normal itu jika setiap ada ancaman yang membahayakan ada rasa takut dalam diri. Di samping cemas atas terpaan badai, muncul pula rasa takut yang menghantui pikiran mereka, dengan munculnya sosok banyangan yang semakin mendekati mereka. Mungkin dlm benaknya mereka ini hantu atau setan danau yang akan mengakhiri kisah mereka. Ketakutan pun berbalik setelah sosok bayangan itu jelas, rupanya bukan hantu tetapi Tuhan Yesus yang berjalan di atas air. Yesus yang berjalan di atas air mendekati perahu dan ingin bersama dengan muridsebagaimana pesan awal. Kehadiran Yesus membuat mereka tenang, nyaman dan tidak takut.


Ada pesan penting di sini ketakutan membuat kita samar-samar bahkan semakin gelap mata. Dalam berbagai hal ketakutan membuat orang melakukan hal aneh dan bodoh yang semakin menjerumuskan kita pada perilaku aneh yang semakin tak rasional. Lihatlah seperti murid-murid ini, ketakutan mereka mengganggap banyangan yang datang itu adalah hantu. Padahal bukan hantu melainkan Tuhan sendiri. Dalam banyak hal itu bisa terjadi ketakutan bahkan hingga pengalaman traumatik orang akan mengurungnya sulit keluar dari ketakutan, sekalipun jalan solutif yang ditawarkan dia akan terkungkung dan dipenjara oleh ketakutannya. Bukankan ketakutan Petrus dalam perikope ini yang memberikan rasa pd angin k3ncang membuat dia hendak tenggelam? Padahal Yesus sendiri yang menyuruh mereka berperahu dan Yesus sendori yang menyuruh Petrus berjalan di atas air.


02. Tuhan segera menolong

Melihat Yesus berjalan di atas air, menimbulkan ketakjuban Petrus, langsung spontan meminta agar Yesus mengajak Petrus berjalan di atas air, Yesus pun mengundangnya dan Petrus berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Namun alkitab mencatat ayat 30 "tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam". Disini ada hal menarik dalam dirimPetrus, yaitu mengikuti panggilan dan tiupan angin. Spontanitas Petrus berjalan mendapatkan Yesus adalah iman yang digerakkan melakukannperintah Yesus. Iman itu bergerak dan hendak mengikuti dan melaksanakan apa yang Yesus sampaikan. Perjalanan melakukan perintah itu, ada oula tantangan, yaitu badai. Lihatlah teks ini, disebutkan ketika Petrus merasakan tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam. Ini hal menarik yang perlu didalami. Ketika kita lebih mendengarkan badai dan ancaman tak ada yang bisa kuta lakukan, justru ketakutan demi ketakutan yang semakin menenggelamkan kita. Padahal Yesus ada di depan dan penuh kuasa untuk menolong hingga kita sampai kepadanya. Ini pelajaran penting dari kotbah ini, ketakutan terhadapa ancaman yang melebihi rasa percaya mendapatkan Yesus akan menenggelamkan. Kita mesti percaya pada Yesusyang memikiki kuasa menolong dan menyelamatkan kita. Dia tidak membiarkan kita tenggelam. Seperti Petrus yang berseru, ya Tuhan tolong lah aku. Maka Dia pun akan segera datang dan mengulurkan tanganNya menolong kita. Hal ini mengingatkan kita akan Firman yang begitu indah dsri Mazmur 50:15 "Berserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau dan engkaunakan memuliakan Engkau."


03. Berilah Kesaksian dan muliakan Tuhan

Hal ketiga dari kotabah ini perlu juga kita teladani. Pengalaman menerima pertolongan dari Yesus mendorong Petrus memberikan kesaksian dan pengakuan iman: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah". Hal ini penting bahwa pengalaman iman yang merasakan pertolongan Tuhan harus disertai dengan syukur dan kesaksian. Syukur dan kesaksian Petrus disini menguatkan imannya untuk bersaksi bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah. Syukur dan kesaksian seperti ini akan mempertebal rasa percaya pada Tuhan Yesus. Sebaliknya jangan anggap pertolongan Tuhan adalah sebagai kewajibannya saja yang tidak perlu disyukuri. Pemahaman seperti ini bisa saja muncul, bahwa ada banyak orang mengakui kebaikan Tuhan namun tidak disertai dengan ungkapan syukur karena kebaikan Tuhan dianggap sebagai kewajiban Tuhan. Tuhan menghendaki kita menjadi kesaksian bagiNya (band Kis 1,8) memberitakan dan mengungkapkan kebaikan Tuhan dalam hidup kuta, sehingga semua orang daoat memukikan Tuhan melalui kesaksian kita. Orang percaya yang berkonfessio adalah bagian ketiga yang perlu kita dalami dari pesan kotbah minggu ini. Mari hitung berkat dan tindakan Allah yang kita alami dalam hidup ini, dan mari sampaikan syukur dan terima kasih kita.


Penutup: Jangan takut, Tuhan ada

Kotbah minggu ini sangat penting menguatkan kita dalam mengahadapi terpaan badai kehidupan. Ada banyak aral amyang mengjambat perjalanan kita. Saat ini Yesus berkata: Jangan takut. Kita yakin dan percaya Tuhan ada bersama kita. Jika badai hendak menenggelamkan hidupmu, berserulah padaNya, Dia akan segera menolong dan menyelamatkan kita. Ketika kita telah menerima pertolongan dari Tuhan jangan lupa bersyukur dan memberikan kesaksian. Pengalaman hidup kita dapat menjadi kesaksian bagi orang lain sehingga semakin banyak pula orang yang memuliakan Allah dalam hidupnya. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



Sabtu, 01 Agustus 2026

JANJI TUHAN SEMUANYA DIPENUHI

 Catatan Kotbah Minggu IX S.Trinitatis

Minggu 2 Agustus 2026

Ev. Yosua 21:43-45




SEMUA JANJI TUHAN DIPENUHI


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Kanaan adalah negeri yang dijanjikan Tuhan bagi jmat Allah. Janji itu diwarisi sejak pemanggilan Abraham. Ada 4 janji Tuhan kepada Abraham yaitu: kesejahteraan, nama ysng masyur, menjadi bangsa yang besar dan diam di negeri Kanaan yang penuh susu dan madu yaitu Kanaan.


Sejarah leluhur bangsa Israel dipenuhi dengan dinamika kehidupan bapak leluhur Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan selalu campur tangan dan turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi umatNya. Semua itu dituliskan di dalam Alkitab. TUHAN memelihara umatNya hingga terus bertambah banyak, pernah tinggal dan diperbudak di Mesir dan Tuhan membebaskan mereka, menuntun mereka dipadang gurun sampai menduduki tanah Kanaan. Tuhan memakai Musa membebaskan Israel dari perbudakan Mesir dan dengan tangan yang kuat serta mujizat yang luar biasa. Musa adalah pemimpin yang dipakai Tuhan mebebaskan dan menuntut umat Allah selama di padang gurun. Musa berhenti di Nebo. Allah mengangkat Josua menggantikan Musa memimpin bangsa Israel menduduki tanah Kanaan. 


Atas semua perjalanan yang dialami oleh Yosua dan perjalanan umat Allah me duduki tanah Kanaan, dia menyampaikan suatu statement yang berharga, yaitu: semua janji Allah telah dipenuhi. Ini suatu pengakuan Yosua, dimana janji-janji Allah kepada leluhur Israel nyata dan benar digenapi oleh Tuhan. 


Baiklah dalam kotbah Minggu ini, kita gali beberepa pokok penting menolong kita menghidupi Firman ini. 


1. Kanaan – Tanah Perjanjian 


Ayat 43: “Jadi TUHAN memberikan kepada orang Israel seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk memberikannya kepada nenek moyang mereka. Mereka menduduki negeri itu dan diam di sana.”


Sahabat yang baik hati, Kanaan bukan sekadar tanah biasa. Kanaan adalah bukti ikatan janji Allah yang ditarik jauh ke belakang, sejak zaman Abraham, Ishak, dan Yakub. Ratusan tahun berlalu, generasi berganti, tetapi janji Allah tidak pernah kedaluwarsa! Bangsa Israel bisa menduduki dan diam di Kanaan bukan karena kehebatan taktik perang Yosua, bukan pula karena jumlah tentara mereka yang kuat. Mereka mendapatkan tanah itu semata-mata karena rahmat dan kesetiaan Allah atas janji-Nya.


Kanaan adalah negeri yang dijanjikan Tuhan bagi umatNya. Tanah bukan hanya sebagai tempat berladang dan bertani serta beternak atau dimana mereka tinggal. Tanah perjanjian ini adalah syarat utama juga bagi jmat Allah menjadi suatu bangsa. Syarat suatu bangsa jika ada rakyatnya, ada pemimpinnya dan ada wilayahnya. Jadi pendudukan Kanaan adalah bahahian dari pemenuhan janji Allah menjadikan Israel sebagai bangsa. 


​Kanaan adalah tanah Perjanjian karena Tuhan sendiri membuat kovenan (perjanjian) tanah tersebut yang kita baca pada ​Kejadian 12:7 — Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ”Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Lalu didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. dan ​Kejadian 15:18 — Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: ”Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.”


Sahabat yang baik hati! Benar apa kata Yosua, Allah temah memenjhi janjiNha dan memberikan Kanaan menjadi milik pusaka. Kehidupan iman kita hari ini juga berdiri di atas janji-janji Allah. Sama seperti Israel yang akhirnya melangkah masuk menduduki Kanaan, ingatlah bahwa setiap "tanah perjanjian" dalam hidup Anda—baik itu pemulihan keluarga, masa depan anak-anak, jawaban atas doa-doa Anda, hingga janji keselamatan dalam Kristus—pasti digenapi oleh Tuhan pada waktu-Nya yang sempurna.



2. Allah Memberikan Ketenteraman


Ayat 44: “Dan TUHAN mengaruniakan kepada mereka ketenteraman di segala penjuru... Tidak ada seorang pun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka; TUHAN menyerahkan semua musuh mereka ke dalam tangan mereka.”


Tanah Kanaan bukanlah ganah kosong, retapi telah ada beberapa suku bangsa yang telah berdiam di Kanaan. Tuhan melalui Yosua memimpin pendudukan tanah Kanaan. 

​Sebelum bangsa Israel masuk, tanah Kanaan dihuni oleh suku-suku yang tangguh seperti orang Amori, Het, Feris, Yebus, dan Kanaan (Ulangan 7:1). Dan ​Bangsa Filistin (yang menduduki wilayah pesisir selatan Kanaan) adalah salah satu musuh paling dominan dan berbahaya dalam sejarah Israel.


Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketegangan perang, berpindah-pindah kemah, dan dibayangi ketakutan, firman Tuhan mencatat bahwa Allah mengaruniakan ketenteraman (rest/shalom) di segala penjuru.

Ketenteraman di sini bukan berarti musuh hilang begitu saja dari muka bumi, melainkan jaminan bahwa kuasa Allah membentengi mereka, sehingga tidak ada musuh yang sanggup menjatuhkan mereka lagi. Perhentian ini adalah hadiah dari kemenangan yang dikerjakan oleh tangan Tuhan sendiri.


Yosua 21:44 mencatat bahwa "tidak ada seorang pun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka," ini membuktikan bahwa benteng setinggi apa pun dan musuh sebesar apa pun tidak mampu menahan kuasa Allah. Ketenteraman yang Israel nikmati terjadi karena Tuhan melumpuhkan kekuatan suku-suku Kanaan tersebut di hadapan mereka.


Sahabat yang baik hati! Mungkin hari-hari ini ada di antara saudara yang merasa lelah menghadapi "musuh-musuh" kehidupan: beban ekonomi yang berat, kecemasan akan masa depan, persoalan kesehatan, atau konflik yang tak kunjung usai. Ingatlah, kita tidak berjuang dengan kekuatan sendiri! Ketika kita menyerahkan pertempuran kita kepada Tuhan, Ia sanggup mengaruniakan ketenteraman (shalom) yang melampaui segala akal di hati dan rumah tangga kita.



3: Janji Allah Semuanya Terpenuhi


Ayat 45: “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya dipenuhi.”


Ini adalah kalimat puncak (klimaks) yang sangat menggetarkan hati. Perhatikan penekanan kata di ayat 45: "tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya dipenuhi."

Tidak ada satu pun kata, tidak ada satu pun kalimat dari janji Allah yang gugur di tengah jalan atau terlewatkan. Manusia boleh ingkar janji, dunia boleh mengecewakan, tetapi Allah kita adalah Allah yang konsisten, sempurna, dan Maha Setia. Waktu Tuhan mungkin terasa panjang bagi ukuran kita, tetapi penggenapan-Nya selalu tepat pada waktunya dan tidak pernah terlambat.


Sahabat yang baik hati Inilah keyakinan kita bahwa Allah tetap setia pada janjiNya dan apa yang dijanjikanNya sepenuhnya digenapinya. Mengapa kita bisa sangat yakin akan hal ini? Karena Alkitab kita dari awal sampai akhir menegaskan karakter Allah kita:

​Di Bilangan 23:19, dikatakan bahwa Allah bukanlah manusia yang bisa berdusta atau ingkar janji.

​Di Yesaya 40:8, rumput bisa kering dan bunga bisa layu, tetapi firman serta janji Allah tetap teguh selama-lamanya.

​Dan di 2 Korintus 1:20, Rasul Paulus menegaskan bahwa di dalam Yesus Kristus, seluruh janji Allah adalah Ya dan Amin!


Sama seperti Yosua yakin bahwa semua janji Allah dipenuhi karena:

3.1 . Pengalaman pribadi:  

Yosua telah melihat sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dalam pengalaman hidupnya, seperti ketika Allah memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan memberikan tanah Kanaan kepada mereka.

2. Sejarah umat Israel:  

Yosua juga melihat bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dalam sejarah umat Israel, seperti ketika Allah memilih Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai bapa bangsa Israel.

3. Karakter Allah: 

Yosua tahu bahwa Allah adalah Bapa yang setia dan adil, yang selalu memenuhi janji-Nya. Allah tidak pernah berdusta atau menyangkal janji-Nya.

4. Pengalaman Musa:  

Yosua juga belajar dari pengalaman Musa, yang telah melihat bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dalam hidupnya.


Dengan demikian, Yosua yakin bahwa semua janji Allah dipenuhi karena pengalaman pribadi, sejarah umat Israel, karakter Allah, dan pengalaman Musa. Mari bersyukur atas janji setia Tuhan pada umatNya. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy.



KARYA ALLAH UNTUK ORANG YANG DIKASIHINYA

 Catatan Kotbah Minggu VIII S. Trinitatis



Minggu, 26 Juli 2026

Ev. Roma 8:26-30


KARYA ALLAH BAGI ORANG PILIHANNYA


Selamat Hati Minggu ! Sahabat yang baik hati! 

Kehidupan di dunia sering kali menghadapkan kita pada situasi yang menguras energi, emosi, dan iman. Di tengah tekanan hidup, manusia sering kali merasa sendirian dan kehilangan arah. Syukurlah ada Firman Tuhan menjadi suluh dan penuntun dalam.hidup orang percaya sehingga hidup kita diarahkan kepada pengharapan dimana Allah Tutut bekerja mendatanhkan kebaikan bagi kita.


Dalam kotbah ini melalui suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menyingkapkan sebuah rahasia ilahi yang menguatkan: bagi orang-orang pilihan-Nya, Allah tidak pernah tinggal diam. Dia secara aktif, intim, dan berdaulat sedang merajut karya agung-Nya di dalam setiap lini kehidupan kita


Melalui teks kotbah Minggu ini Roma 8:26-30, kita dapat melihat dengan jelas tiga cara luar biasa bagaimana Allah bekerja di dalam dan melalui hidup orang-orang yang dikasihi-Nya.


1. Menopang di saat lemah melalui kehadiran Roh Kudus

Satu realitas yang tidak bisa kita pungkiri sebagai manusia adalah keterbatasan. Ada momen-momen kelam di mana beban hidup terasa begitu berat hingga kita mengalami kelelahan rohani (spiritual exhaustion). Di titik tersebut, jangankan untuk bangkit, bahkan untuk merangkai kata-kata dalam doa pun kita sudah tidak mampu lagi. Namun, di tengah ketidakberdayaan itu, Allah memberikan solusi yang intim. Ayat 26-27 menjelaskan bahwa Roh Kudus hadir sebagai Penolong (Parakletos) yang mengambil alih kelemahan kita. Ketika lidah kita kelu dan kata-kata kita habis, Roh Kudus sendiri yang bersyafaat bagi kita kepada Bapa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dia mengerti kedalaman hati kita dan menyelaraskan setiap pergumulan kita dengan kehendak Allah yang sempurna. Kita tidak pernah berdoa sendirian; Roh Kudus senantiasa menopang dan mengintersepsi kelemahan kita.


Kata "nembantu" / "menolong" dalam Yunani: Sunantilambanetai (συναντιλαμβάνεται). Akar kata: Gabungan dari tiga kata: Sun (bersama-sama), Anti (berhadapan/melawan), dan Lambano (mengambil/memikul). Dari Yunaninya makna teologis: Kata ini menggambarkan seseorang yang melihat sesamanya sedang memikul beban yang sangat berat dan hampir jatuh, lalu ia datang, berdiri di seberangnya (anti), dan ikut mengangkat beban itu bersama-sama (sun). Roh Kudus tidak mengambil alih beban hidup kita secara instan sehingga kita pasif, tetapi Dia masuk ke dalam pergumulan kita dan memikul beban itu bersama-sama dengan kita.


2. Allah Turut bekerja: segala sesuatu untuk kebaikan kita

Salah satu ayat yang paling sering dikutip namun juga sering disalahpahami adalah ayat 28: "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia." Janji ini bukan berarti hidup orang Kristen akan steril dari air mata, kegagalan, atau penderitaan.


Kata kunci dari ayat ini Allah Turit bekerja. Allah tidak tinggal diam, tetapi disadsri atau tidak kita sadsri Allah aktif melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi orang pilihanNya. Kata: "segala sesuatu". Allah menggunakan seluruh fragmen kehidupan kita—baik keberhasilan yang manis maupun kegagalan yang pahit, baik sukacita yang meluap maupun duka yang mendalam—lalu merajutnya menjadi satu kesatuan yang indah. Kebaikan yang dimaksud di sini bukanlah kenyamanan duniawi, melainkan kedewasaan rohani dan pembentukan karakter. Allah memakai setiap musim hidup kita untuk mengikis kedagingan kita, sehingga iman kita keluar sebagai emas yang murni dan tahan uji.


Dalama istilah Yunani kata "turut bekerja" dopakai sunergei (συνεργεῖ) — asal kata dari "Sinergi". Akar Kata: Sun (bersama-sama) dan Ergo (bekerja). Allah beraama kita bersama-sama bekerja.  Apa artinya ini? Allah adalah sang Konduktor Agung. Dia mengorkestrasi, menjahit, dan menyinergikan setiap fragmen kejadian. Secara terpisah, sebuah kejadian mungkin terasa pahit (seperti garam murni yang asin), tetapi ketika Allah menyinergikannya (sunergei) dengan komponen lain, hasil akhirnya adalah "kebaikan" (agathon) bagi pematangan rohani kita.


3. Menjamin kepastian keselamatan yang Sempurna

Karya Allah bagi orang pilihan-Nya bukanlah proyek spekulatif yang bisa gagal di tengah jalan. Pada ayat 29-30, Paulus memaparkan apa yang sering disebut para teolog sebagai lima rangkaian keselamatan (The Golden Chain of Salvation), sebuah uraian yang menjelaskan bagaimana karya keselamatan itu bekerja pada orang yang dipamggil dan dikasihi Allah, yakni:


3.1. Dipilih (Foreknown): Allah telah mengenal dan menetapkan kasih-Nya kepada kita sejak sebelum dunia dijadikan.

3.2. Ditentukan (Predestined): Tujuan hidup kita sudah ditetapkan, yaitu untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, Yesus Kristus.

3.3. Dipanggil (Called): Melalui pemberitaan Injil, Allah mengetuk dan menggerakkan hati kita untuk datang kepada-Nya.

3.4. Dibenarkan (Justified): Status kita diubah dari orang berdosa menjadi orang benar melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.

3.5. Dimuliakan (Glorified): Ini adalah jaminan akhir. Meskipun kita masih hidup di dunia yang fana, di mata Allah yang melintasi waktu, kemenangan akhir kita di surga kelak sudah menjadi sebuah kepastian yang mutlak.


Kelima uraian ini kita memahami bagaimana rencana dan karya keselamatan Allah kepada orang yang dipilihnya. 


Sahabat yang baik hati!

Karya keselamatan dan pemeliharaan Allah bagi kita adalah karya yang tuntas. Dia yang telah memulai pekerjaan baik di dalam kita, Dia pula yang akan setia mengawal dan menyelesaikannya hingga akhir.


Sebagai respons kita, mari kita menanggalkan segala kekhawatiran. Ketika hari ini kita merasa lemah, ingatlah ada Roh Kudus yang sedang berdoa bagi kita. Ketika kita menghadapi penderitaan, percayalah bahwa Allah sedang merajutnya untuk kebaikan karakter kita. Masa depan dan kekekalan kita berada di tangan Allah yang berdaulat, dan tidak ada satu kuasa pun di dunia ini yang dapat menggagalkan rencana-Nya bagi hidup Anda. Amin.


Salam dari

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy,

Sabtu, 25 Juli 2026

HARI SUKACITA BAGI UNAT ALLAH

 Catatan Kotbah Minggu VII S.Trinitatis

Minggu, 19 Juli 2026

Ev. Ester 9: 11-19




HARI SUKACITA BAGI UMAT ALLAH: Dari Air Mata Menjadi Sukacita


Selamat Hari Minggu, sahabat yang baik hati dalam hidup ini selalu ada tantantangan dan resiko. Ada dua hal yang bisa terjadi dari risiko kesialan atau keberunguhan kesialan adalah resiko menkmpa diri kita sehingga menanggung dari dampak negatif sesangkan sisi lain risiko yang dilampah akan menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Mungkin anda pernah mengalaminya saat tidak mau menghadapi risiko kita hanya ikut arus yang pada akhirnya arus itu akan menentukan hidup kita. Nasib ditentukan oleh arus. Berbeda dengan konteks kotbah ini, menghadapi resiko adalah cara untuk pembebasan. 


Ester dan kaum Yahudi di kerajaan Persia diperhadapkan kepada resiko yang luar biasa yaitu hukum mati. Siasat Haman telah berhasil meyakinkan raja Ahazyweros untuk menghukum gantung Mordekhai termasuk seluruh kaum Yahudi, karena Mordekhai dan kaum Yahudi tidak menyembah raja. Mereka setia kepada agama Yahudi. Sebelumnya Haman telah meyakinkan raja agar semua penduduk negeri taat pada raja maka ditetapkan undang-undang untuk taat menyembah raja. Haman tahu sikap Mordekhai karena ketaatannya kepada agama Yahudi. Disinilah kelicikan Haman hendak meleyapkan Mordekhai yang dikagumi diistana. Haman telah mempersiapkan sula atau tiang gantung sudah dipersiapkan dan umat itu akan dibantai massal.


Ester berani melangkah, dengan melakukan cara yang luar biasa. Sebagai permaisuri, dia sadar betul dihadapan raja Ahazyweros bahwa dia adalah keturunan Yahudi. Dengan ala bangsawan Ester mempersiapkan jamuan besar di Istana dan usai jamuan raja tentu menanyakan apa permintaan Ester. Ester pun mengutarakan isi hatinya dan memohon pembebasan bagi orang Israel. Ester menyampaikan ada siasat buruk Haman atas pamannya Mordekhai maka raja pun mengabulkan permintaan Ester, membalikkan keadaan membebaskan kaum Yahudi dari hukum mati dan sula yang dipersiapkan tiang gantung bagi Mordekhai menjadi tiang gantjng untuk Haman dan kesepuluh anak-anaknya


Hari kematian bagi bangsa Israel berubah menjadi hari sukacita dan kemenangan berkat keberanian mengambil resiko dari seorang bernama Ester. Permaisuri raja yang terkenal dengan kecantikannya. 


Jika kita membaca latar belakang kitab Ester, itulah yang dialami oleh bangsa Yahudi di pembuangan Persia. Melalui muslihat jahat Haman, sebuah undang-undang kerajaan telah dikeluarkan: pada tanggal 13 bulan Adar, seluruh bangsa Yahudi—tua, muda, wanita, dan anak-anak—boleh dibunuh dan dijarah harta bendanya. Bangsa Yahudi berada di ambang kemusnahan. Mereka menangis, berpuasa, dan meratap. Namun, hari ini di Ester 9:11-19, kita melihat sebuah pembalikan keadaan yang luar biasa (the great reversal). Hari yang seharusnya menjadi hari pembantaian bagi orang Yahudi, justru berbalik menjadi hari di mana mereka memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka.


Ester 9:19 (TB) Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan, yakni yang diam di perkampungan merayakan hari yang keempat belas bulan Adar itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar makanan. 


1: Kemenangan yang Tuntas (Ayat 11-15)


Ester 9:14-15 (TB) Raja pun menitahkan berbuat demikian; maka undang-undang itu dikeluarkan di Susan dan kesepuluh anak Haman disulakan orang.

Jadi berkumpullah orang Yahudi yang di Susan pada hari yang keempat belas bulan Adar juga dan dibunuhnyalah di Susan tiga ratus orang, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan.


Keberanian Ester memperjuangkan hak hidup Mordekhai dan kaum Yahudi merupakan teladan hang sangag baik. Bukan hanya pembebasan yang dinikmati oleh kaum Yahudi tetapi Raja menerbitkan undang-undang baru hang memberikan pembebasan dan jaminan kelsngsungan hidup kaun Yahudi di kerajaan Persia. 


Ketika Raja Ahasyweros memberikan izin kepada Ester dan Mordekhai untuk menulis undang-undang baru yang membolehkan orang Yahudi membela diri, mereka tidak melakukannya dengan setengah-setengah. Di benteng Susan, musuh-musuh yang selama ini membenci dan mengancam mereka berhasil dikalahkan, termasuk sepuluh anak laki-laki Haman (akar dari kejahatan tersebut).

Ada satu frasa menarik yang diulang-ulang di ayat 10, 15, dan 16: “...tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan.”


Hari kemenanagan bagi Yahudi bukanlah dipergunakan untuk pelampiasan dendam pada Haman dan kaumnya, tetapi dalam rangka bersyukur dan tetap menjaga kemurnian hati mereka. Sekalipun undang-undang baru memperbolehkan mereka mengambil rampasan harta Haman di Susan namun mereka tidak melakukan itu. Tidak satupun harta rampasan mereka sentuh. Padahal, undang-undang raja membolehkan mereka mengambil jarahan. Perjuangan ini bukan tentang memperkaya diri atau keserakahan materi. Ini adalah tentang kelangsungan hidup dan penegakan keadilan Tuhan.



2: Ketenteraman Setelah Perjuangan (Ayat 16)


Ester 9:16 (TB) Orang Yahudi yang lain, yang ada di dalam daerah kerajaan, berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta mendapat keamanan terhadap musuhnya; mereka membunuh tujuh puluh lima ribu orang di antara pembenci-pembenci mereka, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan. 



Setelah melalui ketegangan yang luar biasa, berpuasa berhari-hari, dan menghadapi peperangan, firman Tuhan mencatat bahwa umat Tuhan akhirnya “mendapat ketenteraman.” Mereka bisa beristirahat.

Tuhan kita bukanlah Allah yang membiarkan umat-Nya terus-menerus berada dalam medan pertempuran yang melelahkan.


Segala sesuatu ada waktunya: Ada waktu untuk menabur air mata, tetapi ada waktu untuk menuai sorak-sorai. Badai tidak pernah berjalan selamanya. Setelah angin ribut yang hebat, Tuhan Yesus sanggup berkata, "Diam, tenanglah!" dan ketenteraman pun terjadi.

Demikianlah kaum Yahudi di Persia. Mereka lelah berjuang mereka kompak berkabung sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Ester dan doa mereka teekabul karena negosiasi Ester di jamuan makan istana berhasil. 


Ada orang saat mengahadaoi kesulitan hanya berurai air mata, terbawa perasaan dan tidak ada uoaya-upaya kongkrit yang dilakukan. Pengalaman peejuangan kaum Yahudi bebas dsri genosida adalah jawaban atas doa bersama kerjasama dan sikap.kooperstif dari seluruh elemen masyarakat. Buahnya adalah ketentraman mereka. 


Buah perjuangan mereka adalah mereka tenteram hidup di negeri Persia dan jaminan atas kelangsungan hidup. Raja Persia akhirnya menjamin ketenttaman mereka tinggal dan hidup di negeri itu. 


Arrtnya apa: ketentraman tidak datang dengan sendirinya, kesejahteraan tidak turun dsri langit tetapi hadir dan dinikmati karena jerih payah, doa, mau dioimpin dan kerjasama dengan banyak orang. 


3: Merayakan Kebaikan Tuhan Bersama Sesama (Ayat 18-19)


Ester 9:18-19 (TB) Akan tetapi orang Yahudi yang di Susan berkumpul, baik pada hari yang ketiga belas, baik pada hari yang keempat belas dalam bulan itu. Lalu berhentilah mereka pada hari yang kelima belas dan hari itu dijadikan mereka hari perjamuan dan sukacita. 

Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan, yakni yang diam di perkampungan merayakan hari yang keempat belas bulan Adar itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar makanan. 


Bagaimana orang Yahudi merespon kebaikan Tuhan yang luar biasa ini? Mereka menjadikannya hari gembira, perjamuan, dan saling mengirim bingkisan (makanan). Momen inilah yang kelak menjadi Hari Raya Purim.

Perhatikan bahwa sukacita mereka tidak dinikmati sendirian. Mereka saling berbagi bingkisan.


Merayakan kebaikan Tuhan bukan hanya pada saat mereka mengalaminya, tetali membuat peristiwa itu menjafi kenangan sepanjang masa dengan menetapkan hari raya Purim. Pelajaran ini pentkng, ada banyak orang bersyukur hanya saat menerima yang baik, saat hari berlalu semua kenangan indah terlupakan. Peristiwa pembebasan dan penetapan jaminan hidup kajm Yahudi di Persia dijadikan sebagai agenda tahunan dengan menetapkan hari raya Purim. Cara kaum Yahudi memlngingat kebaikan Tuhan sepanjang masa..


Tentu demikianlah kotbah ini.mrngajak kita. Kebaikan Tuhan yang kita terima harus dialirkan kepada orang lain. Sukacita iman Kristen adalah sukacita yang komunal (bersama), bukan individualis. Ketika kita diberkati, tujuannya adalah agar kita menjadi berkat. Ketika kita ditolong keluar dari masalah, tujuannya adalah agar kita bisa menghibur orang lain yang sedang mengalami masalah yang sama.


Penutup: Aplikasi Praktis 


1. Percayalah pada Skenario Tuhan (Providenisa Allah): Walau kadang Tuhan seolah "diam" dan tidak terlihat, Dia sedang merajut jalan keselamatan bagi kita di balik layar, sama seperti yang Dia lakukan bagi Ester dan Mordekhai.

 2. Rayakan Setiap Kebaikan Kecil: Jangan hanya fokus pada masalah yang belum selesai. Ingat dan hitunglah berkat Tuhan satu per satu. Jadikan hidup kita penuh ucapan syukur.

 3. Berbagilah di Masa Sukacita: Sama seperti orang Yahudi yang saling mengirim bingkisan, mari kita miliki hati yang murah hati untuk berbagi kebahagiaan dan berkat kepada sesama yang membutuhkan di sekitar kita.


Sahabatku, ingatlah nusuh boleh merancangkan yang jahat, dunia boleh menekan kita, tetapi jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita? Mari jalani minggu yang baru ini dengan iman yang teguh, karena Allah yang menyelamatkan bangsa Yahudi di zaman Ester adalah Allah yang sama yang menyertai dan membela hidup kita di dalam Yesus Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.


Salam dari kami:

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


BERTINDAK DENGAN CARAORANG PERCAYA

 Catatan Minggu VI S.Trinitatis

Minggu, 12 Juli 2026

Ev. 3 Yohanes 3;5-8




BERTINDAK DENGAN CARA ORANG PERCAYA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini mengajak kita untuk menghidupi iman percaya. Orang yang menghidupi iman percayanya ditunjukkan dengan cara bertindaknya. 


Khusus di surat Yohanes yabg ketiga ini rasul menasihatkan bagaimana cara bertindak orang beriman terhadap orang asing. Rasul Yohanes menasihatkan cara bertindak orang percaya terhadap orang asing adalah kasih. Kita mengasihi saudara-saudara kita dan kita mengasihi musuh-musuh dan orang yang membenci kita. Jangan bertindak seperti orang jahat membalaskan kejahatan dengan jahat kebencian dengan kebencian permusuhan dengan permusuhan. Tetapi terimalah mereka sebagai saudara, tuntun dalam kebenaran dan jangan membalaskan perlakuan buruk dari mereka yang berlaku buruk.


Dalam sosiologi dijelaskan ada suatu sikap komunitas terfent terhadap.orang asing, ada yang menggangap orsng asing lebih unggulnsehongva membuka diri agar keunggulan orsng lain dapat meresap ke komjnitasnya. Sebaliknya.ada yang merasa taku atau menganggap orang asing menjadi ancaman pada komunitasnya inilah yang disebut dengan "xenophobia". Artinya takut terhadap orang asing, karena dengan kehadiran orang asing komunitasnya terancam. 


Sekarang dalam kotbah ini rasul Yohanes memberikan nasihat kepada kita, meneladani cara bertindak orang percaya yang nyata di dalam 3 Yohanes ini yaitu bernama Gayus. Dia orang yang saleh dan setia kepada Tuhan sikapnya terhadap ornag asing benar-benar cara orang percaya, 


Setidaknya ada tiga cara dan sikap orang percata terhadap orang asing.



1. Menerima dengan Ketulusan Hati (Ayat 5)


Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang setia, dalam segala sesuatu yang engkau lakukan untuk saudara-saudara, walaupun mereka adalah orang-orang asing. (3 Yohanes 1:5)


Amsal orang bijak mengatakan: "Sangat mudah untuk mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi sebuah kekristenan yang sejati diuji saat kita harus mengasihi orang yang belum kita kenal." Pada ayat yang kelima ini, Rasul Yohanes memberikan sebuah pujian yang luar biasa kepada seorang jemaat bernama Gayus. Yohanes menyebut Gayus sebagai "orang yang setia." Mengapa dia disebut setia? Apakah karena dia rajin beribadah di bait Allah saja? Tidak. Gayus disebut setia karena dia membuka pintu rumahnya dan memberikan tumpangan kepada saudara-saudara seiman yang belum pernah dia kenal sebelumnya—yaitu para misionaris keliling, orang-orang asing yang sedang berjalan memberitakan Injil.


Daoat kita bayangkan situasi pada zaman itu. Zaman dulu belum ada hotel yang aman, belum ada aplikasi penginapan seperti sekarang. Mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumah adalah sebuah risiko yang besar. Bisa saja mereka orang jahat, bisa saja mereka membawa penyakit, atau bisa saja mereka justru merepotkan keluarga kita.

Tetapi lihat bagaimana cara bertindak Gayus. Dia tidak melihat orang asing dengan mata kecurigaan. Dia melihat mereka dengan mata iman. Dia menerima mereka dengan ketulusan hati yang penuh. Mengapa? Karena dia tahu, di dalam Kristus, orang asing yang melayani Tuhan itu bukan lagi orang luar, melainkan saudara seiman.


Dunia hari ini mengajarkan kita untuk menjadi orang yang individualis dan penuh kecurigaan. Seringkali, ketika ada orang baru atau orang asing datang ke lingkaran kehidupan kita—baik itu di lingkungan rumah, di tempat kerja, atau bahkan di bangku gereja ini—sikap pertama kita adalah memasang dinding pembatas. Kita cenderung menutup diri karena takut kenyamanan kita terganggu.

Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: Tindakan iman orang percaya dimulai dari ketulusan hati untuk menerima sesama.

Menerima dengan ketulusan hati berarti kita menghargai setiap orang yang Tuhan izinkan berpapasan dalam hidup kita. Ketika kita menyambut orang lain tanpa pamrih, tanpa membeda-bedakan suku, latar belakang, atau status sosialnya, di situlah kita sedang memancarkan kasih Kristus yang nyata.



2. Menolong dengan Standar Yang Tinggi (Ayat 6-7)



“...Engkau akan bertindak baik, jika engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah. Sebab oleh karena nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.” (3 Yohanes 1:6-7)


Setelah kita memiliki ketulusan hati untuk menerima orang lain, tindakan selanjutnya tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Rasul Yohanes melanjutkan nasehatnya di ayat ke-6 dengan kalimat yang sangat mendalam: “Engkau akan bertindak baik, jika engkau menolong mereka... dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.”


Perhatikan ayat ini: “dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.” Dalam teks aslinya, kalimat ini memiliki arti: menolong dengan cara yang layak dan hormat, seolah-olah kita sedang melakukannya untuk Allah sendiri.

Artinya apa bagi kita? Ketika kita menolong sesama, ketika kita menolong pekerjaan Tuhan, atau ketika kita memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita berikan, tetapi Tuhan melihat bagaimana cara kita memberikannya. Tuhan menginginkan standar terbaik.

Banyak orang di dunia ini menolong dengan prinsip "sekadar". Sekadar gugur kewajiban, sekadar memberikan sisa-sisa yang kita miliki, atau sekadar memberi supaya tidak merasa bersalah. Kalau ada baju bekas yang sudah robek dan tidak layak pakai, baru disumbangkan. Memberi dan menolong dengan standar yang tinggi, artinya orang lain senang menerima bantuan bukan hang tidak berguna bagi kita tetapi yang baik dari kita kita bagi dengan orang lain jadi bukan dengan sekedar saja. 


Firman Tuhan hari ini menantang kita untuk mendobrak mentalitas "sekadar" itu. Gayus dipuji karena ketika dia menolong para hamba Tuhan yang asing itu, dia memberikan tumpangan terbaik, makanan terbaik, dan bekal perjalanan yang terbaik. Mengapa? Karena di ayat 7 dikatakan, orang-orang asing ini pergi berjalan demi nama Kristus. Mereka tidak meminta-minta kepada orang yang tidak mengenal Allah. Mereka berjalan dengan iman.

Saudara-saudari, setiap kali kita mengulurkan tangan untuk menolong sesama, khususnya mereka yang bergerak demi kebenaran dan kasih, ingatlah bahwa kita sedang melakukannya untuk Tuhan.


Demikian kita di tempat kerja kita, di dalam pelayanan gereja, atau di tengah keluarga, mari kita bawa prinsip ini: Berikan standar yang terbaik.

 * Jika kita menolong orang dengan tenaga kita, berikan tenaga yang tulus, bukan dengan bersungut-sungut.

 * Jika kita menolong dengan materi kita, berikan dengan sukacita dan hormat, bukan dengan sikap merendahkan orang yang ditolong.

Sebab ketika kita memberikan yang terbaik bagi sesama, kita sedang memuliakan Allah yang sudah terlebih dahulu memberikan yang terbaik bagi hidup kita—yaitu Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Jangan pernah memberikan yang "sisa" kepada Tuhan yang telah memberikan "segala-galanya" bagi kita.


3. Mengambil Bagian dalam Pelayanan Bersama (Ayat 8)


“Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh menjadi rekan-rekan kerja untuk kebenaran.” (3 Yohanes 1:8)


Kita telah melihat bagaimana kita musti menerima dengan ketulusan, dan bagaimana kita musti menolong dengan standar terbaik. Sekarang, sampai kita pada puncaknya di ayat ke-8. Rasul Yohanes menuliskan sebuah kalimat yang menjadi payung besar dari seluruh khotbah kita hari ini: “...supaya kita boleh menjadi rekan-rekan kerja untuk kebenaran.”


Perhatikan kata "rekan kerja". Di dalam bahasa aslinya, kata yang digunakan adalah sunergos—yang menjadi akar kata "sinergi" dalam bahasa kita hari ini. Artinya, bekerja bersama-sama, saling menopang, dan bergerak dalam satu tim.

Mari kita merenungkan hal ini secara mendalam: Tidak semua orang di antara kita dipanggil untuk berdiri di depan mimbar dan berkhotbah. Tidak semua orang dipanggil untuk pergi ke pedalaman menjadi misionaris, atau meninggalkan pekerjaannya demi menjadi pendeta. Tuhan menempatkan kita di ladang yang berbeda-beda. Ada yang menjadi pengusaha, karyawan, guru, ibu rumah tangga, dokter, atau petani. Tetapi dengarkan kebenaran ini: Setiap kita memiliki panggilan yang sama untuk menjadi rekan kerja Allah dalam menyatakan kebenaran.


Ketika Gayus membuka pintu rumahnya, memberikan makan, dan menyediakan bekal bagi para hamba Tuhan yang asing itu, Gayus mungkin tidak ikut berjalan kaki keliling kota untuk mengajar. Gayus tetap tinggal di rumahnya. Tetapi di mata Tuhan, melalui kebaikan dan topangan fasilitas yang Gayus berikan, Gayus telah otomatis mengambil bagian dan ikut serta dalam setiap jiwa yang diselamatkan oleh penginjil tersebut! Gayus adalah seorang partner—seorang rekan kerja dalam kebenaran.


Ini adalah sebuah penghiburan sekaligus tantangan yang luar biasa bagi kita hari ini.

Ketika Anda mendukung pelayanan gereja dengan talenta Anda (mungkin sebagai pemusik, penerima tamu, atau pendoa syafaat)... Ketika daoat berpartisipasi untuk mendukung pos-pos pekabaran Injil atau pendidikan anak-anak yang kurang mampu...

Bahkan ketika Anda menolong orang asing di luar sana yang sedang berjuang menyatakan kebaikan demi nama Tuhan.


Di situlah Anda sedang berpartner dengan Allah. Anda sedang ber-sinergi dengan kerajaan surga! Pelayanan kebenaran ini tidak pernah bisa dikerjakan oleh satu orang pendeta atau satu orang majelis saja. Ini adalah pelayanan bersama.


Penutup 


Cara kita bertindak terhadap orang asing atau sesama di sekitar kita adalah cerminan langsung dari iman kita kepada Kristus. Ketika kita menerima mereka dengan ketulusan hati, menolong mereka dengan standar terbaik, dan mengambil bagian dalam pelayanan bersama, kita sedang mengubah dunia yang dingin dan penuh kecurigaan ini menjadi dunia yang hangat oleh kasih Allah.


Jangan pernah berpikir, "Ah, saya hanyalah jemaat biasa, apa yang bisa saya lakukan?" Ingatlah Gayus. Dia bukan rasul, dia bukan pengkhotbah besar, namanya hanya dicatat sekilas di dalam surat yang pendek ini. Namun, ketulusan dan kerelaannya menjadi rekan kerja bagi kebenaran dicatat abadi di dalam Alkitab untuk menjadi teladan bagi kita semua hari ini.

Mari kita pergi dari tempat ini dengan komitmen baru: menjadi rekan kerja Allah yang setia, di mana pun Tuhan menempatkan kita minggu ini.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin! Tuhan memberkati


Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



Jumat, 24 Juli 2026

KESELAMATAN BAHI SEMUA ORANG

 Catatan Kotbah Minggu V S.Trinitatis

Minggu, 5 Juli 2026

Ev. Zakaria 8:20-23




KESELAMATAN BAGI SEMUA ORANG


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati keselamatan dan perlindungan merupakan lebutuhan utama manusia. Zaman dahulu orang membangun kota disertai dengan pembangunan tembok keliling yang tinggi dengan tujuan perlindungan. Semua penduduk kota amang dsri sersngan musuh. Dalam konteks yang berbeda demikian kita di zaman ini kata "safety" (kedelamatan) merupakan sesuatu yang sangat penting. Contohnya jika anda naik mobil atau pesawat selalu diingatkan untuk menggunakan safety belt (belt keselamatan). Bagi yang kerja di pabrik dan di lapangan akan selalu diwajibkan memakai pakaian pelindung kecelakaan kerja. Bahkan tidak sedikit orang mengasuransikan dirinya, usahanya dalam asuransi dengan tujuan safety dan perlindungan.


Bangsa Israel kembali ke Yerusalem, Allah memerintahkan mereka kembali membangun tembok Yerusalem dan membangun Bait Allah kembali. Allah akan hadir dan berdiam di Sion, Allah sendiri akan menjaga dan melindungi umatNya. Dari Sion datang keselamatan dan perlindungan umatNya. Allah memerintah dari Sion melindungi dan menyelamatkan umatnya dari ancaman bangsa-bangsa sekitar. Bahkan dalam penglihatan Zakaria, Allah bukan hanya melindunhi dan menyelamatkan umatNya, tetapi akan datang banyak bangsa-bangsa yang mencari keselamatan kepada Tuhan. 


Itulah sebebnya penting pembangunan tembok Yerusalem dan Bait Allah. Masalahnya adalah pembangunan itu tertunda, ada banyak orang-orang yang telah kembali dari pembuangan Babel tidak peduli terhadap pembangunan tembok Yerusalem dan Bait Allah. Demikian Nabi Zakaria hadir untuk memotivasi umat Allah membangun kembali Bait Allah yang terbengkalai. Bagaimana mungkin Allah hadir di Sion, sementara mereka tidak mau merampungkan pembangunan Bait Allah. 


Inti kitab Zakharia adalah pesan pengharapan dan dorongan bagi bangsa Israel untuk membangun kembali Bait Allah setelah kembali dari pembuangan di Babel. Kitab ini menegaskan bahwa rencana Allah pasti digenapi dan menubuatkan secara detail tentang kedatangan Mesias (Yesus Kristus) di masa depan.


Konteks Kitab Zakharia berada pada masa pasca-pembuangan, tepatnya ketika bangsa Yahudi kembali dari pembuangan di Babel ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Allah. Nabi Zakharia melayani sekitar tahun 520–518 SM, di bawah pemerintahan Raja Darius I dari Persia. Raja Koresh yang Agung sebelumnya telah mengizinkan orang Yahudi pulang pada tahun 538 SM.


Zakharia (bersama rekannya, Nabi Hagai) bertugas memotivasi umat Israel untuk melanjutkan pembangunan Bait Allah Kedua yang sempat terbengkalai. Karena Zion adalah kota Allah, Allah hadir dan memerintah dari Sion


1. Keselamatan Bagi bangsa-bangsa


Zakharia 8:20 (TB) Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. 


Keselamatan akan datang dari Sion, bukan hanya untuk umat Allah, tetapi dalam penglihatan nabi Zakaria masih akan datang banyak bangsa-bangsa yang akan datang menerima keselamatan dari Sion. Keselamatan bukan hanya untuk Yehuda semata tetapi kepada seluruh bangsa - bangsa. 


Apa yang disampaikan oleh Nabi Zakaria ini terus digenapi di dalam perjalanan gereja. Yesus mengutus murid-muridnya memberitakan Injil dan mengajar serta membaptis mereka di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, Segala bangsa ikut menerima keselamatan. Jumlah umat Kristen di seluruh dunia diperkirakan mencapai 2,3 hingga 2,5 miliar jiwa, yang menjadikannya agama terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Joshua Project, umat Kristen ini tersebar di lebih dari 6.400 suku bangsa (people groups) yang berbeda di seluruh dunia.


Ada kesan bagi sebahagian orang yang telah kembali ke Yerusalem, tidak peduli lagi pada pembangunan Bait Allah, mereka membangun rumah, kebun dan ladang serta berbagai upaya lainnya namun mengabaikan pembangunan Bait Allah. Itu suatu bukti bahwa umat yang kembali da pembuangan 


2. Mari melunakkan hati Tuhan


Zakharia 8:21 (TB) Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami pun akan pergi! 


Ada istilah yang menarik dipakai oleh nabi Zakaria dalam kotbah ini "melunakkan hati Tuhan". Melunakkan hati Tuhan" adalah tindakan atau sikap seseorang yang dengan sungguh-sungguh berdoa, merendahkan diri, dan bertobat di hadapan Tuhan. Ini adalah pengakuan akan kedaulatan Tuhan, di mana manusia berupaya memohon belas kasih, pengampunan, atau anugerah dari-Nya saat menghadapi kesulitan atau akibat dari kesalahan. 


Dalam PL setidaknya kita temukan 6 kali muncul istula ini "melunakkan hati Tuhan" dan 3 kali itu di dalam kitab Zakaria (7:22; 8:21, 8:22:) selebihnya pada Kejadian 32:11 2 Tawarokh 33:12 Mikha 1:9. Jika kita perhatikan konteksnya permohon dengan sikap rendah hati dihadapan Tuhan. Allah mutka dan kalau murkanya tiba semua akan binasa. Disinilah istilah melunakkan hati Tuhan yakni dengan memohon dan mengasihani.


Mengapa Zakaria sampai tiga kali memakai istilah ini suatu pertanyaan penting. Bagi Zakaria Allah telah mengasihani umatNya, sedungguhnya wajar kakau Tuhan murkah dan marah. Allah telah memulangkan mereka dari pembuangan Babel ke Yerusalem, mereka telah banyak memulai aktifitas dan sudah ada yang mapan dengan rumah-rumah, ladang dan ternak tetapi mereka mengabaikan partisipasi membangun Bait Allah. Mereka diperintahkan membangun Bait Allah bertujuan untuk kesejahteraan mereka, namun banyak yang mengabaikannya. Sikap seperti ini akan mendatangkan murka Allah. 


Disinilah Zakaria memotivasi umat Allah untuk menaati perintah Allah menuntaskan pembangunan Bait Allah. Cara itulah itulah yang terbaik untjk melunakkan hati Tuhan. Beribadah dan menaati perintahNya serta menjntaskan pembangunan Bait Allah di Yerusalem. Allah hadir dan menyertai umatNya. Bukan hanya itu, bangsa-bangsa akan datang mencari Tuhan di Sion. 


3. Tuhan menyertai kamu


Zakharia 8:23 (TB) Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Allah menyertai kamu!" 


Nabi Zakaria mentampaikan akan ada pertambahan orang-orang yang datang beribadah ke Sion. Mereka adalah orang-orang yang telah mengetahui orang yang di Urapi dari Yahudi. Bangsa-bangsa akan datang menyembah Allah di Sion karena mereka mengetahui umat Allah diberkati oleh Tuhan.


Apa yang disampaikan oleh Zakaria ini sama seperti seorang perempuan hang sudah lama sakit pe darahaan, saat Yesus lewat di kotanya, dia tidak bekesempatan mendapat penumpangan tangan Yesus, tetapi dia berperinsip hanya dengan menjamah jubahNya saja aku sudah sembuh. Matius 9:20-21 (TB) Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.

Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." 


Demikianlah Zakaria melihat "kecemburuan" aatau kerinduab bangsa-bangsa kepada umat Allah yang telah diberkati oleh Tuhan. Setelah bangsa-bangsa melihat dan mengetahuinya Allah telah memberkati Israel pada akhirnya mereka datang dan mengajak orang banyak orang datang menyembah Allah di Sion. 


Sahabat yang baik hati, kasih Allah universal. Dia bukan hanya memberkati Israel, tetapi memberkati semua orang, segala bangsa. Keselamatan datang dari orang yang diurapi dari Yahudi tetapi keselamatan bukan hanya untuk Israel tetapi kepada semua orang. 


Apa yang dinubuatkan Zakaria telah digenapi. Allah telah menggenapi janji keselamatan di dalam Yesus Kristus, barang siapa yang percaya kepadanya tidak akan binasa. Yesus mengutis murid-muridNya menjadikan segala bangsa menjadi murid dan membaptis mereka serta mengajar mereka melakukan kehendak Allah. Kotbah minggu ink mengingatkan kita juga tanggungjawab orang percaya mengabarkan keselamatan ke segala bangsa sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan Yesus. (Baca Mati 28:19-20). Marilah kita menunaikannya agar semua orang beroleh keselamatan. Amin. Tuhan memberkati!


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


FIRMAN TUHAN MENJAFI KEGIRANGAN BAGIKU

  Catatan Kotbah Minggu XIII S.Trinitatis Minggu, 30 Agustus 2026 Ev. Yeremia 15:15-21 FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU Selamat hari M...