Sabtu, 06 Juni 2026

MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL

 Catatan Kotbah Minggu Trinitatis

Minggu, 31 Mei 2026

Ev. Matius 28:16-20



MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL

Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati! Kotbah minggu Trinitatis ini memiliki ayat yang istimewa, secara khusus pada ayat 19, Yesus secara eksplisit menyebutkan rumusan baptisan: "...dan baptislah mereka dalam nama "Bapa" dan "Anak" dan "Roh Kudus". Yesus mengamanatkan kepada murid-muridNya agar mereka mangajarkan apa yang telah diajarkan kepada mereka dan membaptis mereka di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Baptisan adalah sakramen, sakramen berarti sakral, pekerjaan Allah yang nyata. Dalam ajaran Kristen Protestan, sakramen dipahami sebagai ritus atau tindakan suci yang ditetapkan oleh Yesus Kristus sendiri. Sakramen berfungsi sebagai tanda lahiriah yang kelihatan dari anugerah Allah yang tidak kelihatan.

Dengan baptisan seseorang dimateraikan.masuk dalam.persekutuan tubuh Kristus dan menjadi ahli waris Kerajaan Allah. 


Inilah yang kita syukuri dan bukti syukur kita adalah menjadi saksi Allah Yang Tritunggal melalui hidup dan keteladanan hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang.


Sahabat yang baik hati 

Hari ini, seluruh gereja di dunia merayakan Hari Minggu Trinitatis atau Minggu Tritunggal. Sebuah momen di mana kita merenungkan salah satu misteri iman Kristen yang paling dalam: bahwa Allah kita adalah Allah Tritunggal, Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, RUMUSAN trinitatis bukan menjelaskan triteis sama sekali bukan. Tritunggal adalah ajaran kekristenan menjelaskan karya Keselamatan Allah menyelamat manusia. Bapa: Allah pencipta dan memelihara hidup manusia dan segala ciotaan: Anak: Allah di dalam Yesus Kristus menyelamatkan dan Roh Kudus: Allah menyertai kita sampai kedatangan Kristus kelak dalam kemuliaan. 


Seringkali, ketika berbicara tentang Tritunggal, otak kita menjadi pusing. Kita terjebak dalam rumus matematika atau logika yang rumit. Tetapi hari ini, melalui Amanat Agung dalam Matius 28, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Tritunggal bukan sekadar teori teologi yang kaku di atas kertas. Tritunggal adalah tentang karya keselamatan Allah, Yesus memberikan amanat mepada murid-muridnya untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid Kristus. Orang percaya dibaptis dan diutus dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.



Mari kita lihat bagaimana peran Allah Tritunggal bekerja nyata dalam Amanat Agung ini melalui tiga poin penting:


1: Otoritas Yesus dari Bapa yang mengubah Keraguan (Ayat 18)

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi."


Dari mana Yesus mendapat "segala kuasa" ini? Tentu saja dari Allah Bapa. Ini memperlihatkan kesatuan kehendak di antara Bapa dan Anak.

Menariknya, di ayat 17 dicatat bahwa ada murid yang menyembah, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Kadang kita merasa ragu, "Apakah Allah Bapa yang menciptakan semesta yang begitu besar itu peduli dengan hidup saya?"

 Melalui ayat ini, Yesus mendekat untuk mengusir keraguan itu. Otoritas Allah Bapa yang memegang kendali atas sejarah dunia, kini didelegasikan kepada Yesus. Artinya, hidup kita berada di dalam tangan pencipta yang berdaulat, yang mengasihi kita seperti seorang Bapa.


Tugas ini menekankan kepada kita saat ini: mengubah yang ragu-ragu menjadi yakin dan percaya sepenuhnya kepaa Allah Tritunggal. 


2: Mandat untuk Menjadikan Murid (Ayat 19)


"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus..."


Di sinilah inti dari Minggu Trinitatis. Mengapa Yesus memerintahkan untuk membaptis dalam nama tiga Pribadi, dan bukan cuma dalam nama-Nya sendiri?


Karena Allah kita adalah Allah yang relasional (suka bersekutu). Bapa, Anak, dan Roh Kudus hidup dalam persekutuan kasih yang sempurna sejak kekekalan. Ketika seseorang dibaptis "dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus", artinya orang tersebut dimasukkan ke dalam persekutuan kasih tersebut.


Menjadi murid Kristus bukan sekadar menjadi anggota agama baru atau menaati aturan moral baru. Menjadi murid berarti kita diadopsi menjadi anak-anak Bapa, ditebus oleh karya Sang Anak (Yesus), dan dituntun oleh Roh Kudus. Tugas kita adalah mengajak orang lain masuk ke dalam lingkaran kasih Tritunggal ini.


Selain menjadikan murid, tugas penting ini didalamnya berisi mengajarkan apa yang telah diperintahkan. Apa perintah Tuhan Yesus disebutkan dalam Yohanes 13:34-35 (TB) Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."


3: Penyertaan Roh Kudus sampai Akhir Zaman (Ayat 20)


"...dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."


Secara fisik, Yesus setelah momen ini terangkat ke surga. Lalu, bagaimana cara Yesus memenuhi janji-Nya untuk "menyertai kita senantiasa"?


 Dia memenuhinya melalui Pribadi ketiga, yaitu Roh Kudus (Sang Penolong/Parakletos) yang dicurahkan pada hari Pentakosta.


Roh Kudus adalah kehadiran Yesus yang tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Saat Anda lelah dalam pekerjaan, saat Anda takut bersaksi tentang kebenaran, atau saat Anda menghadapi pergumulan pelayanan, Roh Kuduslah yang memberikan kekuatan, keberanian, dan kata-kata untuk diucapkan. Kita tidak pernah berjalan sendirian.


Penutup:

Sebagai gereja dan orang percaya yang hidup dalam iman Trinitatis, apa yang harus kita lakukan?

 

a. Membangun Persekutuan yang Rukun (Cerminan Tritunggal): Allah kita adalah Allah persekutuan. Maka, gereja dan keluarga kita harus mencerminkan hal itu. Jauhkan perpecahan, gosip, atau kesombongan. Mari hidup rukun dan saling menopang, seperti Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang saling mengasihi.


 b. Bergerak Keluar (Pergi): Sifat dasar Allah Tritunggal adalah mengasihi dan bergerak keluar untuk menyelamatkan manusia. Bapa mengutus Anak, Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus, dan sekarang Allah Tritunggal mengutus *kita*. Iman Kristen tidak boleh egois (hanya dinikmati sendiri di dalam gereja), kita harus membagikan kasih itu kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari.


Selamat merayakan Minggu Trinitatis. Mari kita ingat bahwa kita tidak menyembah Allah yang jauh, yang duduk sendirian di takhta-Nya yang sepi. Kita menyembah Allah yang adalah Bapa kita yang memelihara, Anak yang menyelamatkan, dan Roh Kudus yang menyertai setiap langkah hidup kita sampai akhir zaman.

Pergilah dengan berani, karena Allah Tritunggal berjalan bersama saudara. Amin.


Tuhan memberkati

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy

BERAGAM KARUNIA DI DALAM SATU ROH

 Catatan Kotbah Minggu Pentakosta (Turunnya Roh Kudus)

Minggu, 24 Mei 2026

Ev. 1 Korintus 12:3-12



BERAGAM KARUNIA DI DALAM SATU ROH


Selamat Hari Minggu! Minggu Pentakosta adalah minggu yang istimewa di dalam Kalender Gereja HKBP karena pada Minggu ini kita diingatkan suatu peristiwa besar yang penting dalam kekristenan. Roh Kudus turun atas murid-murid sesuai yang dijanjikan oleh Yesus sebelum naik ke Sorga. Roh Kudus akan datang untuk menghibur, menolong dan membela para rasul dalam melaksanakan missi Allah yaitu memberitakan Injil dan menjadi Saksi Kristus dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. 


Setelah pencurahan Roh Kudus dalam Kisah Rasul 2, kisah penginjilan terus bergerak, baik kedua belas murid dan khususnya Paulus yang begitu gigih memberitakan Injil tanpa lelah. Dia terus berlari dari kota ke kota lain dari satu desa ke desa lain dan mendirikan jemaat. Dari semua kisah penginjilan penulis Kisah Para Rasul tidak pernah terlepas dari peranan Roh Kudus. Bahkan kemana mereka pergi dan apa yang harus mereka perbuat tidak terlepas dari peranan dan pekerjaan Roh Kudus. Bahkan tidak sedikit para teolog mengusulkan nama kitab Kisah Para Rasul dengan Kisah Karya pekerjaan Roh Kudus. Para rasul tidak akan mampu memberitakan Injil tanpa pertolongan Roh Kudus. 


1. Konteks Korintus yang terkotak-kotak dan ancaman kesombongan rohani


Selain ancaman perpecahan, persoalan kesombongan rohani terjadi di Jemaat Korintus. Ada satu pemahaman yang keliru yang harus diluruskan oleh Paulus khususnya di dalam Pasal 14. Paulus melihat ada kecenderungan sebahagian memahami bahwa bukti seseorang beriman dengan berbahasa Roh dan menjadi karunia yanv lebih dsrj karunia lainnya sehingga dalam Ibadah orang berbahasa roh yang tidak dimengerti oleh orang lain. 


Keganjilan ini diluruskan oleh Paulus, bahwa setiap.orang diberi berbagai-bagai karunia , ada karunia mengajar, ada bernubuat, ada berbahas aroh dan menafsirkan bahasa roh. 1 Korintus 14:2-3 (TB) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. 


Semua karunia roh dalam persekutuan jemaat sangat berguna dan biarlah karunia-karunia itu dipersembahkan untuk membangun jemaat. Jadi bukan kemampuan berbahasa roh menjadi satu-satunya indikator orang memiliki iman. Yang utama adalah Karunia apapun yang dimiliki mari dipersembahkan untuk pembangunan jemaat.


Paulus sendiri menyarankan bahwa baginya lebih baik di dalam pertemuan jemaat lebih baikmenyampaikan lima kata yang dimengerti untuk membangun jemaat dari beribu bahasa roh namun tidak dimengerti. 

Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 14:19 (TB) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.


Sahabat yang baik hati, marilah kita mendalamimkotbah Minggu ini, beragam karunia dalam satu roh. Banyak orang dengan banyak karunia-karunia di dalam satu sembgat yaitu roh untuk membangun persekutuan jemaat. 


2. Rupa-rupa Karunia Roh


Ada hal menarik penjelasan Paulus dalam kotbah ini, yaitu karunia roh adalah pemberian Roh Kudus. Pemberian karunia roh itu berbeda-beda kepada setiap orang, perbedaan karunia itu adalah kekuataan dan keunikan masing-masing, tetapi dalam persekutuan jemaat itu akan memperkaya dan saling melengkapi. Karunia roh adalah pemberian unik kepada setiap orang.


Karunia-karunia yang berbeda di dalam jemaat adalah kekayaan, sehingga semua orang dapat saling melengkapi dan menyempurnakan. Karunia yang ada pada satu jemaat belum tentu ada dan apa yang ada pada jemaat belum tentu ada pada saya, semua orang harus menyadari hal tersebut. Maka tugas persekutian orang percaya adalam memberdayakan karunia-karunia roh yang beragam itu untuk saling menolong dan melengkapi yang satu dengan yang lain.


Jauhkanlah dari prasangka bahwa karunia yang ada pada seseorang lebih berharga atau lebih mulia dari yang lain. Karunia-karunia roh tidak mengenal hierarkies (yang satu lebih tibggi dsri lainnya), tetapi semuanya sama dengan fungsi yang berbeda menurut pemberian Roh. Pemberian karunia-karunia pada seseorang sekaligus juga menjadi tanggung jawab untuk dipersembahkan untuk membangun tubuh Kristus.  


1 Korintus 12:4-5 (TB) Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. 

Pemberian Roh tidak dapat menjadi kesombongan diri atau pujian diri. Baiklah semua karunia yang diberi adalah demi kemuliaan Tuhan



3. Satu Roh: kepentingan bersama


1 Korintus 12:7 (TB) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. 


Dalam persekutuan jemaat semestinya harua ada "chemistri" atau senyawa. Semakin kita senyawa tentu semakin mudah untuk menggapai sesuatu tujuan. Dalam ungkapan orang Batak "aek godang aek laut, dos ni roha sibahen na saut". Semboyan seperti inilah kita memaknai karunia-karunia yang berbeda. Kita semua telah menerima pemberian dsri Tuhan, tapi pemberian itu untuk apa? Untuk kepentingan bersama.


Gereja mula-mula mencatat bahwa hidup orang percaya adalah "communion": semua orang menjadi satu keluarga besar dan apa yang ada pada masing-masing orang adalah untuk kepentingan bersama. Semua orang bekerja dan untuk menopang kehidupan bersama.

Kisah Para Rasul 4:32 (TB) Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 

Sikap hidup demikian membuat jemaat tidak berkekurangan, tetapi berkecukupan karena demua orang berkontribusi untuk kepentingan bersama.


Kepentingan gereja adalah satu, yaitu: memuliakan Tuhan. Roh Kudus akan menolong, menghibur dan membela orang percaya menjalani kehidupan ini sampai akhir zaman. Sering sekali dalam suatu rencana gereja melahirkan perselisihan hingga perpecahan karena terkooptasi dalam kubu mendukung dan tidak didukung (pengalaman Korintus). Akhirnya kepentingan bersama bukanlah lagi untuk Tuhan tetapi soal mendukung dan tidak didukung. 

Paulus menasihatkan 1 Korintus 12:11 (TB) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.


4. Miliki Solidaritas


1 Korintus 12:12 (TB) Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.


Mengapa hidup kommunion ini tidak bisa bertahan, tentu jika dianalisis ada banyak faktor: salah satunya adalah faktor ego, manusia semakin mementingkan dirinya sendiri serta budaya kita yang semakin individualis. Sebagaimana kasus Ananias dan Safirra miliknya yang dijual tidak sepenuhnya diserahkan kepada kommunion dan akhirnya dihukum Tuhan. Sekalipun sistem kommunion ini tidak dapat diterapkan sebagai sistem sosial atau sisstem ekonomi dalam suatu komunitas masyarakat, namun prinsip atau "roh" kebersamaan itu harus tumbuh di tengah-tengah orang percaya. 


Kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa hidup tanpa orang lain karena kita adalah mahkluk sosial. Demikian dalam kehiduoan bergereja kita semua saling melengkapi yang satu dengan yang lain. Tidak ada gereja yang terlalu kaya sehingga tidak membutuhkan dukungan orang lain, dan tidak ada gereja yang terlalu miskin sehingga tidak bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi gereja lain. Disinilah pentingnya orang percaya menggali makna "roh kebersamaan" atau solidaritas di Minggu Pesta Pentakosta. Roh Kudus mempersatukan jemaat, Roh Kudus memberikan pemahaman dan perngertian kepada yang satu dengan yang lain. 


Paulus memberikan contoh kesatuan dan solidaritas gereja sama seperti tubuh: satuntubuh ada banyak anggota, semua anggoga adalah bahagian tidak terpisahkan yang satu dengan lainnga. Semua anggota tubu diberi fungsi yang berbeda dan diantara anggota tidak tidak pernah merasa lebih layak atau lebih mulia dari anggota tubuh lainnya. Dan sebaliknya jika terjadi luka di kaki, bukan hanya kaki yang menjerit sakit tetapi semua anggota tubuh merasakan sakit. Atau tidak mungkin tangan kanan cemburu terhadap tangan kiri karena baik jam tangan atau cincin disematkan ke tangan dan jari manis tangan kiri. Semuanya satu apa yang dialami kaki adalah dialamj semua apa yang diterima satu anggota tubuh merupakan kebanggaan semua. 


Turunnya Roh Kudus ini merupakan moment yang baik untuk untuk menyadarkan kita ada kepentingan bersama di dalam persekutuan Tuhan. Kepentingan kita bersama adalah tinggal di dalam Kristus dan sebagai persekutuan orang Kudus nama Kristus dimuliakan. Yesus mengutus murid-muridNhya untuk menjadu saksi Kristus maka totalitas aktifitas gereja harus menjadi kesaksian bagi orang lain. Ingat, Roh Kudus menolong, menghibur dan membimbing kita. Amen


Tuhan Memberkati Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses D.18 Jabartengdiy


Selasa, 26 Mei 2026

TUHAN MEMBERKATI DAN MELINDUNGI ENGKAU

 Catatan Kotbah Minggu Exaudi


Minggu, 17 Mei 2026

Ev. Bilangan 6:22-27


TUHAN MEMBERKATI ENGKAU DAN MELINDUNGI ENGKAU


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, semua kita merindukan berkat dari Tuhan dan kita percaya Tuhan berkenan memberkati kita setiap saat. Coba anda ingat apa isi berkat yang disampaikan Pendeta saat menutup ibadah Minggu? Itulah kotbah kita pada Minggu ini, beekat imam yang disampaikan oleh anak-anak Harun dalam memberkati umat Allah.


Gereja-gereja umumnya memakai formula berkat ini dalam menyampaikan berkat dalam ibadah Minggu. Hal ini menekankan Allah memberkati umatNya dan melindungi umatNya. Setelah mendengar firman,
umat diutus kembali ke dunia dengan damai dan perlindungan Allah. Karena itu berkat bukan hanya akhir ibadah,
tetapi awal panggilan hidup Kristen di dunia. Orang percaya, bekerja dan melayani di dunia ini dengan pwnywrtaan Tuhan dan setiap orang yang menerima berkat mempersembahkan hidupnya dan segala pemberian Tuhan yang berguna bagi orang lain. 


Sahabat yang baik hati, kotbah di Minggu Exaudi ini dari Bilangan 6:22-27 mengingatkan kita akan perkenaan Allah memberkati kita dan kita memiliki tugas untuk melayani Tuhan dengan memberkati semua orang sebagaomana anak-anak Harus hang diperintahkan Tuhan membeekati umatNya. 


1. Konteks Kitab Bilangan: berjalan di Padang Gurun

Kitab Bilangan (Ibrani:  Bemidbar yang berarti "Di Padang Gurun") mencatat transisi bangsa Israel dari Gunung Sinai menuju Tanah Perjanjian. Berkat ini diletakkan di pasal 6, tepat setelah hukum tentang kenajisan (pasal 5) dan hukum tentang orang Nazir (pasal 6:1-21). Penetapan 

 

Maknanya: Setelah Tuhan memberikan aturan tentang kekudusan dan pemisahan diri, Ia memberikan "Formula Berkat" ini. Pesannya jelas: Ketaatan dan kekudusan bukan beban, melainkan jalan menuju berkat. Tuhan ingin umat-Nya berangkat ke medan perang dan padang gurun bukan dengan ketakutan, melainkan dengan "bekal" Nama-Nya.


Hal ini penting, penetapan anak-anak Harus menyampaikan berkat didahului dengan penjelasan akan pentingnya setiap imam memelihara kekudusan. Karwna merwka adalah hang dipilih oleh Tuhan menyampaikan berkat khusus. Hamba Tuhan yang menyampaikan berkat harus menyadari dirinya "saluran berkat" atau "mediator" perantara manusia menyampaikan permohonan kepada Allah dan sekaligus perantara Allah memyampaikan Firman dan berkat kepada umatNya. Sebagai penyalur berkat anak-anak Harun memelihara diri dari berbagai larangan dan pantangan jangan sampai melakukan pelanggaran pada hukum kenajisan.


2. Mengapa Berbentuk "Formula"? 


Bilangan 6:23 (TB)  .....Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: ....


Bahagian yang kedua, Allah sendiri menetapkan foemula berkat. Berkatbukan kata-kata keonhinan manusia atau imajinasi akan apa hang akan diteeima oleh seseorang dalam hidupNya. Allah menetapkan sendiri formula otu sendiri dengan keteeangan:  karena didalamnya ada pernyataan Tuhan yang dijanjikan kepada umatNya dan Allah sendirilah yang berjanji melaksanakannya dalam kehidupan umatNya. Osi beekat ini bukan peemohonan, teyapi deklarasi atau pernyataan bahwa Allah sendiri melaksanakan janjiNya dalam kehidupan umatNya. 

 

Artinya formula berkat imi adalah Inisiatif dari Tuhan: Para imam (Harun dan keturunannya) tidak boleh mengarang berkat sendiri. Ini menunjukkan bahwa sumber berkat adalah Tuhan, bukan manusia. Imam hanyalah saluran. Tuhan berkata, *"Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku..."* (ayat 27).

 Kepastian Janji: Dengan adanya formula yang tetap, umat memiliki kepastian. Di tengah ketidakpastian padang gurun, formula yang konstan ini menjadi sauh yang kuat bagi iman mereka.


Formula ini menyatukan identitas Israel sebagai umat yang "ditandai" oleh Nama YHWH. Di tengah bangsa-bangsa penyembah berhala, Israel memiliki Tuhan yang "berbicara" langsung memberkati mereka. Tuhan sendiri yang melindungi mereka dan Allah berkenan kepada umatNya. 


3. Apa isi pesan utama berkat?

Dalam konteks Kitab Bilangan, ada tiga pesan utama yang ingin disampaikan Tuhan melalui berkat ini:


3.1. Penyertaan Tuhan di tengah bahaya

Perjalanan di padang gurun penuh dengan musuh dan kekurangan. Dengan kata "melindungi" (*shamar*), Tuhan menegaskan bahwa Ia adalah pelindung (protektor) di tengah lingkungan yang tidak ramah. Berkat ini adalah "jaminan keamanan" bagi bangsa yang sedang bergerak.


Artinya sasaran dari bagian pertama adalah perlindungan fisik:

"TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau"


Barak (Memberkati): Akar katanya berkaitan dengan "lutut". Memberkati berarti Tuhan "merendahkan diri" untuk memberikan kebaikan kepada manusia. Ini mencakup berkat materi, kesehatan, dan keturunan.

Shamar (Melindungi): Kata ini berarti menjaga, memagari dengan duri, atau mengawasi. Maknanya adalah Tuhan tidak hanya memberi berkat, tapi juga memagari berkat itu agar tidak hilang atau dicuri.


Berjalan di padang gurun mmiliki tantangan luar biasa; ketidak pastian arah, kekeringan, musim panas yang sangat panas sampai 53 derajat celsus dan musim dingin sampai dibawah minus 6 derajat celcus. Selain alam, berjalan dipadang gurun sangat beebahaya dari binatang buas dan berbisa. Beejalan di padang gurun pada akhirnya harus berhadapan dengan badai gurun yang mematikan.


Disinilah jaminan pemeliharaan Tuhan, Tuhan memberkati dan melindungi umatNya. 


3.2. Pemulihan Hubungan (Sinar wajah Tuhan)


Ada satu istilah dalam PL saat Tuhan tidak berkenan kepada umatNya dengan kalimat: "menyembunyikan wajahNya". Maaih ingat peristiwa umat Allah membuat patung lembu emas? Allah begitu murka dan menyembunyikan wajahNya sampai Musa membuat penegasan yang yang memihak Tuhan ikut dalam barisannya dan lainnya akan dimusnahkan. (Band Kel 32:23-24). Arrinya kalau Tuhan menyembunyikan wajahnya maka mala petaka dan kebinasaanlah yang teejadi. 


Dalam berkat ini disampaikan: "Tuhan menyinari umatNya dengan  wajah Tuhan. Dalam formula ini, Tuhan menjanjikan bahwa "wajah-Nya menyinari" mereka. Ini adalah pesan pengampunan dan rekonsiliasi. Tuhan ingin umat-Nya tahu bahwa Ia tidak sedang marah, melainkan memandang mereka dengan senyum perkenanan.


Disini kita melihat makna Perkenanan Ilahi

"TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia"


Kata Panim (Wajah): Dalam budaya Ibrani, wajah yang menyinari berarti ekspresi kasih sayang, senyuman, dan kehadiran yang dekat.

Chanan (Kasih Karunia): Berarti menunjukkan kemurahan hati kepada seseorang yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Ini adalah kebaikan Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma.


Tuhan berkenan bersama-sama mereka. Allah tidak memalingkan muka lagi, tetapi senantiasa hadir dan selalu berkenan dijumpai dan disapa.


Swlain perkenaan Tuhan, Sinar dalam perjalanan sangat penting, sebagai petunjuk dan pemberi arah. Allah sendiri yang menuntun umatNya ke jalan yang Dia kehendaki. 


3.3. Persiapan untuk Penaklukan (Tuhan menampakkan wajahNya)


Sebelum mereka masuk ke Kanaan untuk berperang, mereka butuh Syalom. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Kata "Syalom" bukan sekadar damai tanpa perang, tapi keutuhan mental dan spiritual - sejahtera. Tuhan ingin mereka berperang dengan kondisi batin yang utuh dan tenang karena mereka tahu siapa yang menyertai mereka. Tuhan sendiri menampakkan wajahNya sehingga umatnya aman dan tenteram dalam menduduki dan mendiami negeri perjanjian.


Bahagian ketiga ini menjelaskan kedamaian total: 

"TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera"


Kata "Yissa Panav" (menghadapkan wajah): Secara harfiah berarti "mengangkat wajah". Bayangkan seorang bapa yang mengangkat anaknya dan menatap matanya dengan penuh perhatian. Tuhan memberikan perhatian penuh secara pribadi kepada anda.


Syalom (Damai Sejahtera): Ini adalah kata yang sangat kaya. Syalom bukan sekadar tidak ada perang, melainkan kondisi keutuhan, kelimpahan, kesehatan, dan keharmonisan di semua aspek hidup.


3. Penutup: 


Sahabat yang baik hati pada bagian penutup ini, saya maj mengingatkan formula ini dalam bentuk personal: Tuhan memberkati "engkau". Disini harus dicatat bahwa berkat dan perlindungan Tuhan itu disampaikan kepada personal. ALLAH sendiri menyampaikan berkatnya secara personal kepada kita pribadi lepas pribadi. Hubungan robadi kita kepada Tuhan sangat penting, jadi berkat itu tidak diperwakilkan tetapi diaampaikan langsung kepada pribadi lepas pribadi. 


Hal terakhir Tuhan berfirman: "Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel..." Allah sendirilah yang menyampaikan berkatnya, imam adalah saluranNya. 

Dalam bahasa Ibrani, Nama (Shem) mewakili karakter dan otoritas pribadi tersebut. Memberkati umat dengan Nama TUHAN berarti memeteraikan mereka sebagai milik kepunyaan Allah sendiri. Tuhan bukan hanya memberikan "sesuatu" (berkat), tapi Ia memberikan "Diri-Nya" kepada umat-Nya. Amin


Tuhan memberkati!

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



TUHAN MEMBERKATK DAN MELINDUNGA

Catatan Kotbah Minggu Exaudi

Minggu, 17 Mei 2026

Ev. Bilangan 6:22-27



TUHAN MEMBERKATI ENGKAU DAN MELINDUNGI ENGKAU


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, semua kita merindukan berkat dari Tuhan dan kita percaya Tuhan berkenan memberkati kita setiap saat. Coba anda ingat apa isi berkat yang disampaikan Pendeta saat menutup ibadah Minggu? Itulah kotbah kita pada Minggu ini, beekat imam yang disampaikan oleh anak-anak Harun dalam memberkati umat Allah.


Gereja-gereja umumnya memakai formula berkat ini dalam menyampaikan berkat dalam ibadah Minggu. Hal ini menekankan Allah memberkati umatNya dan melindungi umatNya. Setelah mendengar firman,
umat diutus kembali ke dunia dengan damai dan perlindungan Allah. Karena itu berkat bukan hanya akhir ibadah,
tetapi awal panggilan hidup Kristen di dunia. Orang percaya, bekerja dan melayani di dunia ini dengan pwnywrtaan Tuhan dan setiap orang yang menerima berkat mempersembahkan hidupnya dan segala pemberian Tuhan yang berguna bagi orang lain. 


Sahabat yang baik hati, kotbah di Minggu Exaudi ini dari Bilangan 6:22-27 mengingatkan kita akan perkenaan Allah memberkati kita dan kita memiliki tugas untuk melayani Tuhan dengan memberkati semua orang sebagaomana anak-anak Harus hang diperintahkan Tuhan membeekati umatNya. 


1. Konteks Kitab Bilangan: berjalan di Padang Gurun

Kitab Bilangan (Ibrani:  Bemidbar yang berarti "Di Padang Gurun") mencatat transisi bangsa Israel dari Gunung Sinai menuju Tanah Perjanjian. Berkat ini diletakkan di pasal 6, tepat setelah hukum tentang kenajisan (pasal 5) dan hukum tentang orang Nazir (pasal 6:1-21). Penetapan 

 

Maknanya: Setelah Tuhan memberikan aturan tentang kekudusan dan pemisahan diri, Ia memberikan "Formula Berkat" ini. Pesannya jelas: Ketaatan dan kekudusan bukan beban, melainkan jalan menuju berkat. Tuhan ingin umat-Nya berangkat ke medan perang dan padang gurun bukan dengan ketakutan, melainkan dengan "bekal" Nama-Nya.


Hal ini penting, penetapan anak-anak Harus menyampaikan berkat didahului dengan penjelasan akan pentingnya setiap imam memelihara kekudusan. Karwna merwka adalah hang dipilih oleh Tuhan menyampaikan berkat khusus. Hamba Tuhan yang menyampaikan berkat harus menyadari dirinya "saluran berkat" atau "mediator" perantara manusia menyampaikan permohonan kepada Allah dan sekaligus perantara Allah memyampaikan Firman dan berkat kepada umatNya. Sebagai penyalur berkat anak-anak Harun memelihara diri dari berbagai larangan dan pantangan jangan sampai melakukan pelanggaran pada hukum kenajisan.


2. Mengapa Berbentuk "Formula"? 


Bilangan 6:23 (TB)  .....Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka: ....


Bahagian yang kedua, Allah sendiri menetapkan foemula berkat. Berkatbukan kata-kata keonhinan manusia atau imajinasi akan apa hang akan diteeima oleh seseorang dalam hidupNya. Allah menetapkan sendiri formula otu sendiri dengan keteeangan:  karena didalamnya ada pernyataan Tuhan yang dijanjikan kepada umatNya dan Allah sendirilah yang berjanji melaksanakannya dalam kehidupan umatNya. Osi beekat ini bukan peemohonan, teyapi deklarasi atau pernyataan bahwa Allah sendiri melaksanakan janjiNya dalam kehidupan umatNya. 

 

Artinya formula berkat imi adalah Inisiatif dari Tuhan: Para imam (Harun dan keturunannya) tidak boleh mengarang berkat sendiri. Ini menunjukkan bahwa sumber berkat adalah Tuhan, bukan manusia. Imam hanyalah saluran. Tuhan berkata, *"Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku..."* (ayat 27).

 Kepastian Janji: Dengan adanya formula yang tetap, umat memiliki kepastian. Di tengah ketidakpastian padang gurun, formula yang konstan ini menjadi sauh yang kuat bagi iman mereka.


Formula ini menyatukan identitas Israel sebagai umat yang "ditandai" oleh Nama YHWH. Di tengah bangsa-bangsa penyembah berhala, Israel memiliki Tuhan yang "berbicara" langsung memberkati mereka. Tuhan sendiri yang melindungi mereka dan Allah berkenan kepada umatNya. 


3. Apa isi pesan utama berkat?

Dalam konteks Kitab Bilangan, ada tiga pesan utama yang ingin disampaikan Tuhan melalui berkat ini:


3.1. Penyertaan Tuhan di tengah bahaya

Perjalanan di padang gurun penuh dengan musuh dan kekurangan. Dengan kata "melindungi" (*shamar*), Tuhan menegaskan bahwa Ia adalah pelindung (protektor) di tengah lingkungan yang tidak ramah. Berkat ini adalah "jaminan keamanan" bagi bangsa yang sedang bergerak.


Artinya sasaran dari bagian pertama adalah perlindungan fisik:

"TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau"


Barak (Memberkati): Akar katanya berkaitan dengan "lutut". Memberkati berarti Tuhan "merendahkan diri" untuk memberikan kebaikan kepada manusia. Ini mencakup berkat materi, kesehatan, dan keturunan.

Shamar (Melindungi): Kata ini berarti menjaga, memagari dengan duri, atau mengawasi. Maknanya adalah Tuhan tidak hanya memberi berkat, tapi juga memagari berkat itu agar tidak hilang atau dicuri.


Berjalan di padang gurun mmiliki tantangan luar biasa; ketidak pastian arah, kekeringan, musim panas yang sangat panas sampai 53 derajat celsus dan musim dingin sampai dibawah minus 6 derajat celcus. Selain alam, berjalan dipadang gurun sangat beebahaya dari binatang buas dan berbisa. Beejalan di padang gurun pada akhirnya harus berhadapan dengan badai gurun yang mematikan.


Disinilah jaminan pemeliharaan Tuhan, Tuhan memberkati dan melindungi umatNya. 


3.2. Pemulihan Hubungan (Sinar wajah Tuhan)


Ada satu istilah dalam PL saat Tuhan tidak berkenan kepada umatNya dengan kalimat: "menyembunyikan wajahNya". Maaih ingat peristiwa umat Allah membuat patung lembu emas? Allah begitu murka dan menyembunyikan wajahNya sampai Musa membuat penegasan yang yang memihak Tuhan ikut dalam barisannya dan lainnya akan dimusnahkan. (Band Kel 32:23-24). Arrinya kalau Tuhan menyembunyikan wajahnya maka mala petaka dan kebinasaanlah yang teejadi. 


Dalam berkat ini disampaikan: "Tuhan menyinari umatNya dengan  wajah Tuhan. Dalam formula ini, Tuhan menjanjikan bahwa "wajah-Nya menyinari" mereka. Ini adalah pesan pengampunan dan rekonsiliasi. Tuhan ingin umat-Nya tahu bahwa Ia tidak sedang marah, melainkan memandang mereka dengan senyum perkenanan.


Disini kita melihat makna Perkenanan Ilahi

"TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia"


Kata Panim (Wajah): Dalam budaya Ibrani, wajah yang menyinari berarti ekspresi kasih sayang, senyuman, dan kehadiran yang dekat.

Chanan (Kasih Karunia): Berarti menunjukkan kemurahan hati kepada seseorang yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Ini adalah kebaikan Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma.


Tuhan berkenan bersama-sama mereka. Allah tidak memalingkan muka lagi, tetapi senantiasa hadir dan selalu berkenan dijumpai dan disapa.


Swlain perkenaan Tuhan, Sinar dalam perjalanan sangat penting, sebagai petunjuk dan pemberi arah. Allah sendiri yang menuntun umatNya ke jalan yang Dia kehendaki. 


3.3. Persiapan untuk Penaklukan (Tuhan menampakkan wajahNya)


Sebelum mereka masuk ke Kanaan untuk berperang, mereka butuh Syalom. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Kata "Syalom" bukan sekadar damai tanpa perang, tapi keutuhan mental dan spiritual - sejahtera. Tuhan ingin mereka berperang dengan kondisi batin yang utuh dan tenang karena mereka tahu siapa yang menyertai mereka. Tuhan sendiri menampakkan wajahNya sehingga umatnya aman dan tenteram dalam menduduki dan mendiami negeri perjanjian.


Bahagian ketiga ini menjelaskan kedamaian total: 

"TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera"


Kata "Yissa Panav" (menghadapkan wajah): Secara harfiah berarti "mengangkat wajah". Bayangkan seorang bapa yang mengangkat anaknya dan menatap matanya dengan penuh perhatian. Tuhan memberikan perhatian penuh secara pribadi kepada anda.


Syalom (Damai Sejahtera): Ini adalah kata yang sangat kaya. Syalom bukan sekadar tidak ada perang, melainkan kondisi keutuhan, kelimpahan, kesehatan, dan keharmonisan di semua aspek hidup.


3. Penutup: 


Sahabat yang baik hati pada bagian penutup ini, saya maj mengingatkan formula ini dalam bentuk personal: Tuhan memberkati "engkau". Disini harus dicatat bahwa berkat dan perlindungan Tuhan itu disampaikan kepada personal. ALLAH sendiri menyampaikan berkatnya secara personal kepada kita pribadi lepas pribadi. Hubungan robadi kita kepada Tuhan sangat penting, jadi berkat itu tidak diperwakilkan tetapi diaampaikan langsung kepada pribadi lepas pribadi. 


Hal terakhir Tuhan berfirman: "Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel..." Allah sendirilah yang menyampaikan berkatnya, imam adalah saluranNya. 

Dalam bahasa Ibrani, Nama (Shem) mewakili karakter dan otoritas pribadi tersebut. Memberkati umat dengan Nama TUHAN berarti memeteraikan mereka sebagai milik kepunyaan Allah sendiri. Tuhan bukan hanya memberikan "sesuatu" (berkat), tapi Ia memberikan "Diri-Nya" kepada umat-Nya. Amin


Tuhan memberkati!

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



KENAIKAN TUHAN YESUS DAN AMANAT MENJADI SAKSI KRISTUS

 Catatan Kotbah Hari Kanaikan Tuhan Yesus

Kamis, 14 Mei 2026

Ev. Kisah Rasul 1:1-11


KENAIKAN YESUS DAN AMANAT MENJADI SAKSI KRISTUS


Selamat Merayakan Hari Kenaikan Tuhan Yesus! Yesus naik ke Sorga bukanlah berpisah dan meninggalkan  murid-murid, tetapi Yesus kembali kepada hakekatNya yang Ilahi dan menyediakan tempat bagi orang-orang yang percaya kepadaNya. Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga sekaligus membuka harapan baru bagi orang percaya, bahwa pengharapan kita bukan hanya di dunia ini, tetapi kita telah memiliki jaminan sebagai ahli waris ke dalam Kerajaan Sorga.


Sahabat yang baik hati, Kotbah Minggu ini menjelaskan kepada kita tentang pekerjaan Yesus sealama 40 hari setelah kebangkitan, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid menguatkan dan meneguhkan mereka bahwa Yesus bensr-benar bangkit.  Kedua Yesus memberi amanat kepada murid-murid dan ketiga Yesus naik ke sorga. Ketiga hal inilah sangat penting untuk kita maknai dalam kehidupan kita. 


1. 40 Hari Yesus Menampakkan Diri


Penulis Kisah Para rasul sama dengan penulis Injil Lukas, itulah sebabnya diaapa dalam buku pertama telah dituliskan kepada Teofilus  tentang pelayanam Yesus. Maka dalam buku kedua ini kesaksian para rasul memberitakan Injil sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan Yesus. Berikut perlu kita perhatikan pada ayat 3


Kisah Para Rasul 1:3 (TB)  Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. 


Dalam awal buku Kisah Rasul ini disampaikan apa yang dilakukan Yesus selama 40 hari setelah kebangkitannya, yaitu menampakkan diri kepada murid-murid dan kepada orang banyak. Tujuannya adalah


Pertama; Yesus menampakkan diri untuk membuktikan bahwa Yesus benar-benar hidup. Ada banyak berita yang simpang siur di kalangan umum. Murid-murid memberitakan Yesus benar-bensr bangkit, namun kaum Farisi dan ahli Taurat menyebarkan issue doan hoax bahwa Yesus tidak bangkit bahkan mereka menyogok penjaga pintu kuburan. Dengan penampakan Yesus selama 40 hari di tengah-tengah murid dan dihadapan banyak orang bahwa Yesus membuktikan kebenaran. Penampakan Yesus di tengah-tengah umum menghentikan berita bohong dan hoax yang sengaja dibuat oleh kaum Farisi. 


Maka di hari kenaikan ini diamanatkan juga bagi kita untuk ambil bagian menghentikan dan melawan berita bohong. Kebohongan adalah dosa yang memanipulasi kebenaran. Kebenaran harus ditampilkan agar orang hidup dalam kebenaran. 


Kedua, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid bertujuan untuk meneguhkan mereka. Ada saja murid yang rapuh, mudah goyah dan sulit diyakinkan. Dengan penampakan Yesus kepada murid-murid, mengajar mereka bahkan makan bersama dengan mereka untuk menguatkan dan meneguhkan  mereka semua supaya percaya kepada Yesus dan kebenaran yang disampaikanNya. Peneguhan ini sangat penting karena mereka akan menghadapi berbagai tantangan dalam memberiyakan Injil..


Ketiga Yesus mengajak mereka untuk berdoa dan menunggu turunNya Roh Kudus yang akan menyertai dan mengajar murid-murid melakukan amanat Tuhan Yesus. Roh Kuduslah yang memampukan murid-murid melakukan tugas pemberitaan Injil.


2. Amanat Tuhan Yesus: Menjadi Saksi


Sebelum Yesus naik ke Sorga, satu amanat yang disampaikan kepada Para Rasul adalah: pengutusan. Para rasul adalah utusan Kristus di dunia ini untuk memberitakan Injil.  Jika kita baca keempat Injil memiliki penekanan khusus. Injil Matius menekankan: pemuridan. "Jadikanlah segala bangsa jadi muridKu." (Mat 28:19), Injil Markus: memberitakan Injil ke segala mahkluk (Markus 16:15), Injil Yohanes menekankan tugas penggembalaan: "Gembalakanlah domba-dombaku" (Yoh 21:15-19) dan Injil Lukas menekankan menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi (Kis 1:8).


Apakah kekuatan para murid dalam menjalankan tugas pengutusan ini. Penulis Kisah para Rasul yaitu Lukas menjawab bahwa Roh Kudus menjadi kekuatan untuk melaksanakan tugas pengutusan. Roh Kudus akan mengajar mereka tentang apa yang harus dikatakan, Roh Kudus akan menghibur dan Roh Kudus akan menyertai mereka sampai akhir zaman. Jika kita baca seluruhnya Kisah Para Rasul, sangat nyata karya Roh Kudus atas diri para rasul dalam memberitakan Injil. Roh Kudus secara aktif mengarahkan dan memberi petunjuk kemana harus pergi untuk memberitakan Injil.


Kamu akan menjadi saksiKu! Menyaksikan Yesus Kristus merupakan tugas berat bagi para Rasul. Beberapa pertimbangan adalah 1) Yesus menurut Kekaisaran Romawi adalah seorang yang dijatuhi hukuman mati. Jadi memberitakan tentang Yesus berurusan dengan hukum Romawi. Secara massif Kekaisaran Romawi melakukan penindasan dan pengejaran terhadap orang-orang yang memberitakan Yesus Kristus. 2) Bagi kalangan Yahudi, Yesus itu dihukum mati karena dianggap telah menyesatkan banyak orang, menamakan diri Anak Allah dan tuduhan lainnnya. Bahkan mereka merekayasa suatu kesaksian palsu dengan menyogok penjaga kubur Yesus. Jadi kalangan Yahudi selalu membenci para rasul karena pemberitaan tentang Yesus Kristus yang bangkit. Tentu masih banyak kalangan lainnya yang tidak menghendaki pemberitaan tentang Yesus Kristus. Tetapi mereka harus menyaksikan Yesus Kristus adalah Anak Allah, Dia Mesias yang dijanjikan menggenapi keselamatan. Dia mati dan dikuburkan bangkit oada hari ketiga untuk melakukan penebusan daro doaa dan maut. 


Para murid terus memberitakan Injil Yesus Krostus dan menjadi saksi atas semua yang terjadi dalam diri Yesus, karena mereka yang bersama-sama dengan Yesus: menerima pengajaran, kotbah dan mujizat yang dilakukan Yesus. Seturut dengan itu pula mereka harus memberitakan berita yang benar tentang Yesus Kristus dan melawan segala berita yang keliru tentang Yesus Kristus. Mereka tidak takut sekalipun harus martyr. Di dalam Yesus Kristus kita menemukan jalan keselamatan yang ditentukan Allah untuk menyelamatkan manusia.


Pemberitaan Murid harus bergerak dan terus progresif. Jangan tinggal di satu titik, tetapi terus berkelanjutan dari Pusat Kota orang Yahudi (Yerusalem), ke Yudea lingkar luar Yahudi, ke  Samaria (Yahudi yang dianggap bukan saudara lagi) sampai ke ujung bumi (orang asing atau seluruh bangsa). Ini menunjukkan berita keselamatan itu harus sampai ke ujung bumi, ke segala suku bangsa dan jangan sampai ada satu daerah di dunia ini Injil yang tdak disentuh oleh Injil.


Urutan Yerusalem, Yudea, Samaria dan Keujung Bumi juga sapat kita pahami bahwa tugas memberitakan Yesus Kriatua di mulai dsri rumah, orang terdekat, tetangga hinggsa sahabat jauh. Jadilah saksi-saksi Kristus di mana pun..


Menjadi saksi Kristus adalah tugas kita semua orang yang menerima Yesus Kristus. Menyaksikan Yesus Kristus bukan menunggu giliran untuk dipanggil seperti saksi di pengadilan. Tetapi memperkatakan, perbuatan, sikap dan pemikiran kita harus menjadi kesaksian yang harum bagi semua orang. Jangan takut, Roh Kudus penjamin, penghibur dan sumber kekuatan kita. Amin


3. Yesus Naik Ke Sorga: Pengharapan Baru.


Kisah Para Rasul 1:11 (TB)  dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." 


Murid-murid menatap ke langit, Yesus telah naik ke Sorga. Syukurlah malaikat menegor mereka agar jangan hanya menatap ke langit saja. Kaki mereka masih di bumi san harus berkarya di bumi namun tujuan kita adalah Sorga. Hal ini mengingatkan murid mereka menginjakkan kaki di bumi namun pengharapannya adalah ke Sorga.


Pesan ini sangat berharga, kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga menyadarkan kita ada tugas-tugas yang diberikan Tuhan kepada kita oleh karena itu marilah melakukan tugas-tugas kita masing-masing dengan penuh semangat karena dengan melakukan tugas dan pekerjaan kita itulah kita diberkati oleh Tuhan. Dengan bekerja, kita memperoleh berkat dan bekal dalam menjalani kehidupan ini. 


1 Korintus 15:19 (TB) Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.


Pengalaman murid-murid yang menatap ke langit menjadi pesan penting bagi kita bahwa sesibuk apapun kita di dunia ini dan seberat apapun beban yang kita pikul serta senikmat apapun rezeki yang kita terima di dunia ini ingatlah melihat ke atas. Kesuksesan di dunia ini bukanlah tujuan akhir hidup manusia tetapi bersama Bapa di Sorga. Yesus segera datang menjemput kita di tempat yang Dia telah sediakan. Jadi pengharapan kita ada di Rumah yang telah disediakan Yesus Kristus bagi kita.


Maka dalam merayakan hari Kenaikan ini, kita diingatkan kembali akan pengaharapan baru yaitu Tuhan Yesus naik ke sorga untuk menyediakan tempat bagi kita. Kita semua adalah ahli waris kerajaan Soega dan Kroatus akan datang menjemput kita untuk menikmati kwbahagiaan kekal di dalam Rumah Bapa di Sorga. Amin


Tuhan memberkati

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


TETAPLAH BERDOA

 Catatan Kotbah Minggu Rogate



Minggu, 10 Mei 2026

Ev. Kolose 1:9-14


TETAPLAH BERDOA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kita sudah memasuki Minggu Rogate, minggu sebelum hari kenaikan Tuhan Yesus. Waktu ini sangat penting bagi murid-murid, karena tidak berapa lama lagi Yesus bersama-sama dengan mereka. Minggu rogate ini sesungguhnya diarahkan kepada murid akan pesan-pesan akhir Tuhan Yesus sebelum naik ke sorga, yang menekankan tentang doa. 


Rogate berasal dari bahasa Latin "rogare" yang berarti "meminta" atau "berdoa". Ini adalah nama minggu ke-5 setelah Paskah dalam kalender gerejawi (terutama Protestan/HKBP) yang menekankan ajakan untuk berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan, berdasarkan Yohanes 16:24, "Mintalah, maka kamu akan menerima". Rogati bukan juga hanya meminta, tetapi kita meminta karena kita Tahu Tuhan itu maha baik dan ladanya ada segala sesuatu yang kita butuhkan.  Dalam hal berdoa kita harus menyadari bahwa Tuhan memngetahuo apa yang kita butuhkan sehingga atas kehe dakNyalah doa dan permohonan kita itu dijawab. 


Kita berdoa karena kita percaya kepada Tuhan, kita memohon kepadaNya dan permohonan ini membuat hubungan kita kepada Tuhan tidak terputus. Berdoa adalah nafas kehidupan orang percaya. Yesus sendiri sebelum naik ke sorga berdoa kepada murid-murid, orang percaya dan orang yang akan percaya agar semua mereka menjadi satu (baca Yoh 17) dan berpesan kepada murid-murid untuk berjaga-jaga dan berdoa. Yesus meneguhkan murid-murid sekalipun Yesus akan pergi namun berdoa Roh Kudus akan turun menyertai mereka, mengajar dan menghibur. Kalaupun Yesus pergi, mereka tidak ditinggalkan seperti yatim piatu, Dia akan datang kembali (Yoh 14:18). Artinya berdoa adalah hal yang tidak terpisahkan dari murid-murid. 


Kotbah Minggu ini tertulis dari Kolose 1:9-14 suatu keteladanan yang ditunjulkan oleh Paulus. Paulus seorang rasul yang terus menghidupi doa dan  terus berdoa untuk pertumbuhan jemaat yang dia dirikan dan jemaat mula-mula  agar diberikan hikmat, memiliki perilaku sebagaimana dikehendaki Tuhan serta luat menghadapi tantangan yang dialami. 


Baiklah kita mengambil beberapa pelajaran berharga dar catatan kotbah minggu ini:


1. Berdoa: kehidupano orang beriman (martangiang ngolu ni halak na porsea)


"Kami tiada berhenti-hentinya berdoa untuk kamu." Setidakbya kalimat ini menunjukkan dua hal, Pertama Paulus dalam kehidupan sehariannya adalah orang berdoa. Kedua doa Paulus bukanlah apa yang dibutuhkannya, tetapi di dalamnya Paulus berdoa syafaat bagi pertumbuhan iman jemaat Kolose (termasuk jemaat lain yang menghadapi masalah dan pergumulan). Paulus selalu berdoa terhadap apa yang terjadi di dalam jemaat. 


Aktifitas berdoa ini ditekankan oleh Paulus pula di beberapa suratnya yaitu: 

- Roma 1:9 " dalam doaku, aku selalu mengingat kamu (baca juga Efesus 1:16; Filipi 1:4; Koloses 1:3; 1 Tes 1:2; 2 Tes 1:11;  1 Tim 5:5 berdoa siang dan malam.

Dari beberapa ayat ini bagaimana Rasul Paulus menghiduli doa dalam pelayanannya dan secara rutin mendoakan jemaat dan orang-orang yang ikut bersama dia dalam pelayanan. 

Hal yang Paulus juga menasihatkan agar jemaat melakukan aktifitas doa:

- Rom 12:12 "...bertekunlah dalam doa"

- Kolose 4:2a "bertekunlah dalam doa.."

- 1 Tes 5:17 "Tetaplah berdoa"

Sesungguhnya masih banyak nats yang kita baca dari surat-surat Paulus bahwa doa adalah aktifitas yang tidak terpisahkan dari hidup Paulus.


Dengan contoh kehodupan Paulus ini, kehiduoan orang beriman adalah berdoa. Kita berdoa karena kita percaga kepada Tuhan dan apa yang kita minta ada pada Tuhan. Orang beriman berdoa bukan hanya memintah apa yang dia butuhkan dalam hidup, tetapi berdoa juga untuk orang lain. 


2. Doa Paulus Kepada Jemaat:


Paulus tak henti-hentinya mendoakan jemaat yang dialayani. Di dalam dka menhebutkan secara deteil tentang harapannya tentsng pertumbuhan iman jemaat. Dari aya bacaan kotbah minggu ini, kiga mencatat ada 4 hal isi doa Paulus kepada jemaat Kolose, yaitu:


a. Memiliki hikmat dan pengeritian (Sophia) ay 9. 


Pentingnya hikmat ini banyak dibicarakan dalam kitab Amsal. Dalam hidup ini orang percaya harus memiliki hikmat dalam situasi apapun. Paulus mengginakan kata sopia menjelaskan hikmat dan pengertian. Sophia (Yunani) adalah kata Yunani untuk "hikmat" atau "kebijaksanaan" yang muncul dalam Alkitab. Ini menggambarkan pemahaman mendalam, kecerdasan, dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan ilahi dalam kehidupan praktis, sering kali dipersonifikasikan sebagai perantara penciptaan Allah (seperti dalam Amsal 8). 

Dengan pedoman ini Paulus mengharapkan jemaat untuk memiliki hikmat dan pengertian sebagaimana dalam pengajaran iman, yang takut akan Tuhan karena permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan. 


b. Nyata dalam pekerjaan baik:

Identitas Kristen harus nyata dalam perbuatan baik. Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati. Beriman itu nyata dalam praxis kehiduoan. Bagaimana mungkin kita disebut menjadi terang namun tidak menunjukkan cahaya? Bagaimana mungkin kita menggarami namun rasa sudah hambar dan tidak memiliki kekuatan untuk mengjbah rasa? Disinikah Paulus terus berdoa agar jemaat mula-mula yang beriman menunjukkan sikap hidup yangbnyata dalam perbuatan baik. 


c. Bertumbuh dlm pengenalan akan Tuhan

Ada banyak rupa-rupa pengajaran, yang terjadi pada jemaat mula-mula, namun mereka harus memiliki filter dan mengujinya mana pengajaran yang benar. 1 Tesalonika 5:21 (TB)  Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

Munculnya rumusan konfessi atau lengakuan iman rasuli salah satu cara bapak-bapak gereja merumuskan berbagai ajaran yang menyesatkan. Demikian dengan kanonisasi alkitab cara melindjngi iman jemaat dsri sumber-sumber pengajaram iman. 


Paulus berdoa untjk jemaat agar bertumbhh dalam oengenalan hang bensr tentang Tuhan, terlindungi dsri rupa-rupa ajaran hang menyesatkan. Hal hang tidak kalah pentingny, jemaat semangkin mengenal Tujan atas semua apa hang terjadk dalam hidup. 


Di jaman now juga mesti diperhatikan ada banyak Argumentasi yang meniadakan iman baik dari rupa-rupa ajaran agama lain dan juga dari sains dan ilmu pengetahuan. Semua itu harus dibekali dan didoakan agar tetap mengenal Tuhan.  


d. Kuat, tekun dan sabar menghadapi kehidupan: 

Perjalanan iman ibarat seorang yang menunggu dan, penunungguan ini tidak ditentukan kapan, tetapi segera. Dia akan datang segera namun kita tidak tahu kapan dia akan datang.  Sementara ada banyak hal yang harus dijawab, ada banyak hal yang dilakukan menghadapi tekanan, ancaman, pengejaran dan lenganiayaan. Paulus berdoa kepada jemaat agar memiliki kekuatan. Kekuatan itu ada pada orang hang sabar dan tekun. 

Efesus 6:10 (TB)  Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 

Dan kekuatan kita adalah doa sebagaimana disebutkan dalam nyanhian BE 487:1

Tung halak na margogo, si partangiang i.

Dokdok pe sitaonon, ndang olo talu i.

Pos situtu rohana, di Debata na i.

Tuhan na manaluhon, sude pangalo i.


3. Mengucap Syukur dnan berterima kasih.


Selain berdoa, kotbah ini menekankan kita untuk bersyukur dan bersukacita. Di dalam doa jangan hanha memohon, tetapi bersyukur atas apa yang ada. Bersyukur menjauhkan orang dari sungut-sungut, bersyukur membuat seseorang menyadari pemberian Tuhan.


Paulus menyebutkan sumber ucapan syukur dan sukacita kita adalah karena kuta telah dilayakkan menjadi ahli waris dalam kerajaan Allah. Kristus telah menyelamatkan kita dengan tindakan penebusan dj dalam Yesus Kristus. Hutang dosan dan pelanggaran kita telah ditebus dengan harga yang mahal yaitu dengan darah Yesus Kristus yang tekah mati di kayu salib. 


Sahabat yang baik hati berdoa dan bersyukur dua hal yang tidak boleh terpisahkan, saat Tuhan memberikan apa yang telah kau minta di dalam doa, ingatlah bersyukur. Amin



Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


.

MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL

 Catatan Kotbah Minggu Trinitatis Minggu, 31 Mei 2026 Ev. Matius 28:16-20 MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL Selamat Hari Minggu! Sahabat yang b...