Sabtu, 24 Januari 2026

TUHAN SEMESTA ALAM MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA

 Kotbah Minggu III Stlh Ephipanias

Minggu, 25 Januari 2026

Ev. Haggai 2:1-9



TUHAN SEMESTA ALAM MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, peran Bait Allah dalam kehidupan umat Allah sangat sentral. Sesuai dengan rencana Daud, Sion menjadi Kota Allah: Pusat Kerajaan dan Pusat Peribadahan dimana Allah hadir dan bersemayam di Bait Allah. Sekakipun Daud yang merencanakan pembangunan Bait Allah, namun raja Salomolah yang dipilih Tuhan membangun Bait Allah. 


Di Bait Allah mereka menerima pengajaran, tempat menyampaikan rasa bersyukur, berdoa, menyerahkan kurban persembahan dan berbagai aktifitas lainnya untuk menopang kehidupan rohani. Di Bait Allah juga mereka menerima bimbingan dan nasihat dari para imam untuk menuntun mereka tetap takut akan Tuhan dan memelihara perintahNya. Di daerah yang jauh dari Bait Allah mereka mendirikan synagoge. Di synagoge mereka melakukan aktifitas kerohanian, keagamaan, pendidikan dan ajaran moral tidak terlepas dari kehidupan Isrsel. Namun sekalipun ada synagoge Bait Alkah adalah remoat yang mereka rindukan sebagaimana banyak dituangkan dalam banyak Mazmur. Mazmur 26:8 (TB)  TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam. 

Hal terpenting disitu adalah diyakini Allah hadir Bait Allah dan bukti diam bersama-sama dengan umatNya. 


Umat Allah hampir tak percaya saat Babelonia meruntuhkan Bait Allah. Umat Allah percaya bahwa Bait Allah tempat Maha Kudus dimana Allah yang Maha kuasa mersemayam tetapi dapat diruntuhkan Babel dan tak satupun batu bertindih. Mereka diangkut ke pembuangan Babilonia dan ada rasa hampa dan keyakinan terhadap Tuhan yang diimani sirnah bagi sebahagian orang. Penaklukan Yerusalem oleh Babel di bawah Raja Nebukadnezar II terjadi dalam tiga tahap utama (sekitar 605, 597, dan 586 SM) sebagai respons atas pemberontakan Kerajaan Yehuda. Puncak kehancuran terjadi pada 586 SM, di mana Bait Suci pertama dibakar, tembok kota dirobohkan, dan penduduknya dibuang ke Babel, menandai dimulainya masa Pembuangan Babel. 

Syukurlah ada sisa-sisa Israel yang tetap berpengharapan dan memelihara perintah Allah dalam kehidupan mereka. Setelah 70 Tahun di Babelonia Tuhan memakai Raja Kores membebaskan Yehuda dari Babilonia. Mereka diberangkatkan untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah dan tembok Yerusalem. 


Hagai adalah salah satu nabi yang bekerja setelah pembuangan. Nabi Hagai meyakinkan kembali umat Allah agar percaya pada kasih setia Tuhan.  Tuhan setia menjaga, memelihara dan memberkati umatNya dalam segala keadaan. Allah memelihara mereka dalam pembuangan dan memulangkan mereka kembali ke Yerusalem. Bukan hanya kembali ke Yerusalem, tetapi raja Koresh membekali umatNya dengan sejumlah kebutuhan mereka dan mempersiapkan material yang dibutuhkan membangun kembali Bait Allah dan tembok Yerusalem. Allah telah membuktikan kasih setianya dalam perjalanan umatNya tetapi bagaimanakah jawaban umat atau kasih setia Tuhan? 


01. Motivasi Nabi Haggai


Ada pelajaran berharga dari peran nabi nabi Haggai ditengah-tengah umat Allah.  Hagai seorang nabi yang fokus memotivasi umat Allah untuk menyelesaikan pembangunan Bait Allah di Yerusalem. Setelah kembali dari pembuangan ada dua fokus program nasional umat Allah, yakni: pembangunan kembali tembok Yerusalem. Hal ini penting karena Yerusalem telah menjadi puing dan kota lama korban perang. Dapat dibayangkan selama 70 tahun di pembuangan, kota ini kosong dan tak berpenghuni, tentu sangat membutuhkan pembangunan agar kota itu ramai kembali seperti sedia kala. Kedua adalah pembangunan kembali Bait Allah. Ezra dan Nehemia bahu membahu untuk mewujudkan pembangunan Bait Allah. Memang ada dukungan dana pembangunan Bait Allah dari raja Koresh namun ada juga tanggungjawab umat untuk mengumpulkan uang dan berupa harta benda serta kewajiban agama seperti perpuluhan yang harus dipersembahkan untuk pembangunan Bait Allah. Ezra 1:2 (TB)  "Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. 


Disinilah nabi Hagai hadir untuk mengajak seluruh umat Allah untuk berkomitmen menyokong pembangunan Bait Allah. Jangan ada yang berdalih apalagi meragukan apa yang harus kami beri? Tuhan sendiri pemilik segala apa yang ada, tinggal bagaimana kita percaya sepenuhnya tanpa ragu akan berkat dan kasih setia Tuhan.


2. Mengenang kejayaan masa lalu mengasah harapan:  masih adakah yang menyaksikan Rumah Tuhan? 


Hagai 2:3 (TB)  (2-4) Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? 


Di atas sudah disampaikan bahwa peran Bait Allah sangat sentral dalam kehidupan umat Allah. Bait Allah adalah kebanggaan Israel yang dibangun oleh Raja Salomo. Salamo adalah raja yang sangat masyur dan tidak ada yang mengimbangi Salomo baik sebelum dia dan sesudah dia. 2 Tawarikh 9:22 (TB)  Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat. 


Kebanggaan atas bangunan Bait Allah merupakan aset termegah. Menurut catatan material pembangunan Bait Allah dirinci sebagai berikut. Bait Allah yang dibangun Raja Salomo (sekitar 966-959 SM) di Gunung Moria, Yerusalem, adalah simbol kemewahan luar biasa, dibangun selama 7 tahun menggunakan bahan terbaik seperti emas murni, kayu aras dari Libanon, kayu sanobar, dan batu-batu mahal. Seluruh interior, termasuk dinding, lantai, dan ruang belakang, dilapisi emas murni serta dihiasi ukiran kerub, pohon kurma, dan bunga, menciptakan nuansa istana surgawi yang bernilai tinggi dan megah. (Baca 1 Raja 5-6)


Kemegahan Bait Allah menjadi milik kebanggan umat Allah dibangkitkan oleh Nabi Hagai kembali dengan menanyakan siapakah diantara kamu yang melihat Rumah Allah? Pertanyaan retoris ini bertujuan mengembalikan semangat untuk membangun Bait Allah. Bait Allah adalah kekaguman dan kebanggaan umat Allah karena itu harus kembali dibangun. Setiap orang yang pernah melihat Bait Allah akan mengingat kembali kemegahan Allah ditengah-tengah umat Allah.


Setelah kembali ke Yerusalem ada harapan itu terwujud kembali. Nabi Hagai optimis atas bantuan pemerintah dan kalangan imam niscaya pembangjnan Bait Allah dapat terwujud. Hal inilah yang diyakinkan Hagai, pembangunan kembali Bait Allah adalah kesempatan berharga (kairos) untuk membangun kejayaan umat Allah. 


3. Motor Pembangunan adalah pemimpin: bekerjalah dan bangkitlah Tuhan menyertaimu


Hagai 2:2, 4 (TB)  (2-3) "Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada selebihnya dari bangsa itu, demikian:


(2-5) Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 


Transformasi dimulai dari kepala. Pemimpin adalah motor dan penggerak perubahan. Hal ini ditekankan oleh Hagai, makanya hal pertama yang disapa oleh Hagai adalah Bupati Yudea dan Imam yang memimpin di masa itu. 

Sealtiel adalah Bupati atau kepala daerah yang memiliki otoritas untuk program pembangunan. Segala perencanaan pembangunan kota akan ditentukan oleh Bupati. Maka disini Hagai menyapa dan menyemangati sebagai pemerintah hang bertanggung jawab untuk kemajuan dan pembangunan daerah. Pembangunan Bait Allah dan tembok Yerusalem adalah program strategis yang dapat meningkatkan harkat dan martabat Yudea. 


Sedangkan kepala imam pada saat Hagai adalah Yosua bin Yozadak. Hagai mendorong pemimpin agama karena perannya sangat menentukan spiritualitas umat. Imam memiliki otoritas untuk memberikan kewajiban agama (religius) berupa persembahan dan kurban serta pembiayaan untuk menopang pembangunan Bait Allah.  


Apa yang dilakukan oleh Hagai mengajak pemerintah dan rohaniawan untuk bangkit membangun Yerusalem. Hai bupati dan hai imam, hai pemimpin daerah dan pemimpin agama bangkitlah, bekerjalah! Tuhan sendiri yang menyertai dan memberkati pekerjaan hingga berhasil. 


4. Jangan Takut:


4.1. Jangan takut: di dalam Tuhan segala sesuatu tersedia 

Hagai 2:8 (TB)  (2-9) Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. 


Disatu sisi secara ekonomi mereka belum kuat. Mereka orang-orang yang baru kembali dari pembuangan masih ada yang membangun rumah dan membuka ladang pertanian atau usaha mereka. Namun alasan ekonomi tidak bisa menjadi alasan untuk tidak membangun Bait Allah. 


Hagai menegaskan jangan takut! Hal itu telah dimulai dengan peran Raja Koresh, memulangkan dan membekali mereka. Nehemia dipakai Tuhan dengan hikmat yang luar biasa, dia meminta agar raja Persia membuat surat kepada seluruh bupati untuk menopang pembangunan Bait Allah (Baca Nehemia 2-3). Ketiga diharapkan dari topangan unat melalui persembahan dan perpuluhan sebagaimana ketentuan religius yang tekah diwajibkan sejak zaman Musa. Ada kewajiban-kewajiban agama yang harus diberikan kepada pembendaharaan pembangunan Bait Allah. 


Wajar saja ada kekuatiran tentang biaya yang begitu besar untuk menopang pembangunan tersebut, namun Hagai menegaskan bahwa sumber segala sesuatu ada pada Tuhan sebagaimana disebutkan dalam ay 8. Pada Tuhan segala sesuatu ada: perak, emas dan segala kekayaan. Karena Dialah Allah semesta. 


4.2. Jangan takut: Tuhan memberikan damai sejahtera.

Hagai 2:9 (TB)  (2-10) Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam." 


Nabi Hagai menyebutkan hal damai sejahrera. Hal ini terkait dengan pengalaman real dimana akan selalu muncul negara adikuasa untuk menaklukan negara-negara sekitar. Sebagaimana kita tahu negara adikuasa silih berganti: Mesir, Assyur, Babelonia dan Persia. Tentu dengan realitas ini ada kekuatiran akan kekejaman perang. 


Dalam ancaman dan kekuatiran akan kekejaman perang ini, Hagai menjawab: Tuhan mendatangkan damai sejahtera. Allah adalah Maha Kuasa, berdaulat bukan hanya kepada Israel, atau Yehuda saja. Tetapi Tuhan berdaulat dan mengatur raja-raja dan semesta alam. Tuhan mendatangkan damai sejahtera. 


Sahabat yang baik hati, kehadiran Nabi Hagai menjadi motivasi bagi kita. Sebagai nabi dia memotivasi umat Allah agar memilikk semngat dan menumbuhkan optimis bahwa mereka bisa dan mampu membangun kembali Bait Allah. Dia bukan hanya memotivasi umat, tetapi juga menyemangati para pemimpin, baik pemerintah maupun pemimpjn agama. Posisi mereka sangat strategis untuk membangun kembali Bait Allah. Ada banyak kebutuhan, ada banyak kekuatiran tetali Tuhan semesta alam berkuasa untuk mengatasinya. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



Sabtu, 17 Januari 2026

DI DALAM DI KITA MENJADI KAYA DALAM SEGALA HAL

 Catatan Kotbah Minggu II Stlh Epiphanias

Minggu,  19 Januari 2026

Ev: 1 Korint 1:4-9




DI DALAM DIA KITA MENJADI KAYA DALAM SEGALA HAL


Selamat Hari Minggu bagi kita semua! Sahabat yang baik hati, kotbah Minggu ini merupakan kalimat pembuka dari Paulus kepada jemaat Korintus dalam memberikan resolusi atas permasalahan yang dihadapi di Jemaat Korintus. Tentu dalam menyelesaikan permasalahan kalimat pembuka sangat penting.  Jika dimulai dengan sinis jangan harap lawan bicara akan bersikap manis akan memiliki asumsi-asumsi negatif yang menyudutkan dirinya sendiri.  Jika terlalu banyak memuji dengan basa-basi yang omong kosong pula akan membuat pembicaraan tak berharga dan sulit bersambung. Maka dalam memulai percakapan dengan orang lain komunikasi yang disampaikan Paulus dalam Minggu ini sangat berharga untuk kita pelajari dalam kehidupan bergereja dan berbagai aspek dalam kehidupan kita. 


Paulus menyapa jemaat Korintus yang mengalami masalah besar, mereka terancam pecah, gontok-gontokan dan masuk pada kubu-bubu dengan sentiment yang tinggi. Jika tak ditangani dengan baik, perpecahan diantara jemaat pun tak terelakkan. Mereka yang sudah terkooptasi pada kubu-kubu menurut penginjil favorit akan menjadi alasan yang membuat terpecah belah (1 Kor 1:10-12). Ini sangat merugikan dan kehilangan arti persekutuan. Paulus akhir memberikan nasihat pentinyanya menyadari kesatuan di dalam jemaat dan kekayaan di dalam persekutuan di dalam Kristus. 


1.  Salam damai sejahtera.

Paulus sebenarnya ikut terseret dalam permasalahan di Korintus karena ada satu komunitas yang menamakan diri kelompok Paulus atau "pengikut Paulus". Namun Paulus tidak terpesona dengan komunitas yang mendukungnya atau terikat dengan itu tetapi kehilangan jemaat yang lain. Paulus hadir untuk lebih memenangkan semua orang di Korintus. Sapaannya hadir bukan untuk kelompok pendukungnya tetapi semua kelompok yang ada dalam Korintus dengan penuh damai.


Jika kita baca 1:2 disini Paulus menyebutkan mereka sebagai "jemaat Allah yang Kudus". Tujuan sapaan ini tentu sangat dalam bahwa mereka adalah suatu komunitas yang bukan didasarkan oleh para penginjil yang mereka favoritkan, persekutuan gereja bukankah kelompok yang saling memiliki kesamaa, tetapi gereja adalah persekutuan orang Kudus yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. 


Jika Allah sebagai pemilik gereja, maka seluruh orang yang bersekutu di dalam gereja semestinya taat dan tunduk pada sang pemilik. Hal ini membedakan gereja dengan dunia sekuler. Persekutuan gereja adalah sakral, yang dibangun diatas dasar iman dan percaya kepada Yesus Kristus. Karena itu segala aktifitas gerejawi hendaknya sadar bahwa  semua harus tunduk kepada Kristus.

Sapaan seperti ini mengingatkan jemaat Korintus akan hakekat gereja yang sesungguhnya. Jemaat yang hidup di dalam kasih karunia Tuhan Yesus Kristus. Hidup di dalam damai sejahtera Kristus menghantar setiap pribadi kepada penhorbanan Yssus Kristus. Setiap orang membenamkan ego masing-masing dan terpaut kepada damai sejahtera. 


Hal inilah yang menjadi pedoman bagi kita, setiap ada ketegangan dan konflik dalam gereja semua orang harus mau menundukkan diri di dalam kasih karunia Yesus Kristus. Tidak ada yang bisa disombongkan atau dapat dimegahkan dari diri sendiri atau kelompok sendiri, semuanya harus kembali kepada tujuan awal yaitu tinggal di dalam persekutuan yang kudus di dalam pengorbanan Yesus Kristus. 


2. Anugerah Yesus Kristus menjadikan kaya dalam segala hal.

Kalimat kedua ini mengajarkan tentang peranan anugerah dan kasih karunia di dalam jemaat.  kasih karunia di dalam Yesus Kristus adalah keselamatan. Orang-orang percaya diperlengkapi dengan berbagai karunia-karunia berdasarkan pemberian Roh Kudus  setiap orang berharga dan memiliki peran yang sangat baik untuk membangun tubuh Kristus. 


1 Korintus 1:4-5 (TB)  Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus.

Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan,


Hal inilah yang diingatkan oleh Paulus di awal pembicaraan ini bahwa semua orang sesungguhnya telah diperlengkapi oleh Kristus dengan anugerah dan kasih karunia yang diterima. Maka seharusnya jugalah orang percaya menyelesaikan segala perbedaan dan permasalahan yang timbul dalam jemaat dengan hikmat yang bertujuan kepada kemuliaan Allah.


Paulus yakin, mereka bukanlah orang-orang yang bodoh, miskin ide dan picik. Mereka semua adalah orang yang telah kaya dalam pemahaman dan pengetahuan, maka seharusnya orang percaya berhikmat dan memiliki wawasan yang luas dalam menghadapi setiap persoalan.


Dengan pemahaman ini Paulus hendak menekankan perbedaan dalam jemaat Korintus harus dilihat dari kekayaan dari berbagai anugerah dannkasih karunia. Maka semua kekayaan ini harus dirakit di dalam satu kesatuan yaitu hidup dalammkasih dan mempersembahkan kasih karunia masing-masih dalam membangun tubu Kristus (baca= gereja).


3. Anugerah di dalam Kristus membuat kita tak kekurangan.

Bagian berikut ini adalah menegaskan bagian diatas, jika anugerah Kristus menjadikan kaya, maka itu akan menjadikan jemaat tak kekurangan. Sungguh aneh jika kaya namun kekurangan, berarti tidak menggunakan kekayaan yang dimiliki untuk menutupi kekurangannya. 


Hal ini jugalah yang diingatkan Paulus, anugerah di dalam Yesus Kristus membuat gereja tak kekurangan. Itulah sebabnya dia berkata: 

1 Korintus 1:7 (TB)  Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.


Jika setiap orang dapat memberikan apa yang ada padanya menutupi kekurangan orang lain. Bukan hanya dalam ukuran materi, tetapi hal-hal yang bersifat immaterial seperti: ide, gagasan, perbuatan, sikap, tindakan dan keahlian. Jika semua mempersembahkan tentu komunitas orang percaya tak kekurangan. Namun jika semua hidup dalam keegoisan, memuji diri sendiri dan tak mau mempersembahkan kasih karunia yang ada padanya orang lain semuanya bisa menjadi serba kekurangan. Disinilahnoengelolaannpersekutuan itu harus baik karena bisa saja dalam berkelimpahan orang bisa kekurangan. Tetapi orang yang hidup di dalam anugerah Yesus Kristus orang percaya tak akan kekurangan.


Disini gereja perlu mengelola persekutuan dengan baik. Paulus percaya kekayaan yang dianugerahkan Kristus akan membuag jemaat tak berkekurangan. Demikian jugalah setiap persekutuan orang percaya dimana pun, mari saling menopang yang satu dengan yang lain menolong dan membantu kelemahan orang lain agar tak kekurangan sehingga kita tak bercacat hingga akhir. 1 Korintus 1:8 (TB)  Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.


Hidup di dalam damai dan kasih karunia Kristus akan membawa persekutuan kita kembali kepada hakekat gereja yang sesungguhNya. Gereja adalah milik Allah, hidup kudus dalam persekutuan orang Kudus. Baiklah masih-masing menjaga kedamaian dan kekudusan gereja.  Jauh dari gontok-gontokan, perpecahan dan kesombongan diri. 


Hidup dalam kasih karunia dan damai sejahtera di dalam Yesus Kristus menjadikan orang percaya kaya dalam segala hal; baik materi dan immateri serta saling membekali yang lain hingga tak kekurangan. 


4. Setia di dalam persekutuan.


1 Korintus 1:9 (TB)  Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. 


Pada bagian akhir ini kita diingatkan akan pentingganya persekutuan bagi orang percaya. Hidup  setia di dalam persekutuan orsng percaya adalah panggilan; di dalam persekutuan kita mengingat rumah dan komunitas dimana kita bertumbuh bersama, memahami yang satu dengan yang lain serta merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Di dalam persekutuan kita menyadari hidup kita membutuhkan orang lain dan orang lain membutuhkan kita. Di dalam persekutuan orang kudus, setiap orang dibangun dan sama-sama bertumbuh di dalam Tuhan. 


Kekayaan orang percaya ada di dalam persekutua, setiap orang memperhatikan jemaat yang lain. Saya pernah menghadiri suatu acara gereja dalam perusahaan besar. Semua acar berjalan dengan baik sintua dna panitia duduk bersama tiada sekat antara yang satu dan lain. Suasana itu ibarat keluarga yang sama dab setara. Itu berbeda dalam suasana kerja.merekq, dimana ada kelas-kelas antara pekerja, manajemen dan owner. Ini contoh kekayaan persekutuan orang percaya di dalam sosial masyarakat kita bisa saja memiliki sekat-sekat pemisah namun dalam persekutuan kita hidup di dalam persekutuan yang kudus hidup yang setara dan egaliter.


Selaian itu, di dalam persekutuan gereja kita memiliki solidaritas dan empaty. Apa yang terjadi pada satu anggota merupakan bahagian yang dirasakan oleh jemaat lainnya. Dalam hal ini Paulus menegaskan: 1 Korintus 12:26-27 (TB)  Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.

Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. 

Selanjutnya Paulus mengarahkan: 

Roma 12:15 (TB)  Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! 


Kehidupan yang demikian, egalitar, kebersamaan, kesetaraan dan solidaritas adalah kekayaan hidup orang percaya. Hal inilah mendorong Paulus menegaskan agar jemaat Korintus tetap setia di dalam persekutuan. Amin


Salam dari kami: 

Pdt Nekson M Simanjuntak - Jabartengdiy

Sabtu, 03 Januari 2026

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru

Minggu, 4 Januari 2026

Ev. Yohanes 1:10-17



DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA


Selamat Tahun Baru dan Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati dengan rasa syukur kita masuki tahun 2026 ini. Kita percaya bahwa kalau kita diberikan Tuhan memasuki tahun baru tentu merupakan kasih karunia Guhan dan percaya ada rencana Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing di tahun ini.


Seturut dengan kotbah Minggu pertama di tahun ini setelah Tahun Baru dari Yohanes 1:10-17 kita diingatkan kita bisa menjalani kehidupan ini karena kasih karunia. Kehadiran Yssus Kristus adalah kepenuhan rencana Allah untuk.menyelamatkan dunia. Sesungguhnya dunia ini setelah jatuh di dalam dosa telah rusak dan dilingkupi oleh kegelapan. Allah melalui utusannya, para nabi menyampaikan janji keselamatan namun manusia tidak menuruti perintahNya. Allah sendiri di dalam Yesus Kristus turun ke bumi untuk memenuhi janji keselamatan. Dalam teologi Yohanes Pembaptis disebutkan dengan istilah "Firman menjadi daging" atau Allah menjadi manusia. Itulah kepenuhan Yesus Kristus yang datang menyelamatkan dunia dari pengaruh dosa, dari dunia yang dilingkupi kegelapan kepada terang Allah. 


Mengawali Minggu tahun 2026 ini, jika kita baca Nas kotbah Yohanes 1:10-17 ini baiklah kita ambil pesan firman Tuhan kepada kita saat ini:


1. Janji Tuhan Pasti


Kotbah Minggu ini memberikan suatu kepastian bagi kita Allah memenuhi janjiNya. Allah srtia di dalam janjiNya sekalioun umatNya tidak memenuhi janjiNya. Jika kiga runut sejarah keselamatan dalam theologi PL bahwa Allah mengikat perjanjian dengan umatNya. Allah setia memelihara janjiNya namun sebaliknya umatNya tidak setia, seringkali mereka meluoakan Tuhan dan melanggar perintahNya. Bahkan dalam aya 10-11 Allah itu Immanuel, ada di tengah-tengah umatNya namun umatNya sendiri tidak mengenalNya. Allah hadir di tengah-tengah umatNya namun umatNya sendiri tidak menerimaNya. Sekalioun demikian Allah tidak memperhitungkan pelanggaran umatNya dalam memenuhi janji Allah. Allah sendiri memenuji janjiNya karena dia setia. Allah memenuhi janjiNya karena kasihNya. Allah tetap mernyertai umatNya sekalipun mereka menolakNya.


Kotbah di awal tahun ini hendak menyapa kita, yang pasti Tuhan menyertai dan kasih karunianya menyertai kita. Allah telah membuktikan janjiNya dan kesetiaanNya bagaimana dengan kita? Alangkah ironisNya jika Allah yang setia itu dibalas dengan sikap acuh dan menolakNya dalam kehidupan kita. Diawal tahun ini kita diajak mari semakin mengenal jalan Allah dalam setiap kehidupan kita. Ada janji dan komitmen kita dihadapan Tuhan mari di tahin 2026 ini kita wujudkan. Jangan hanya janji tinggal janji tetapi dikerjakan dengan sungguh-sungguh. 


2. Orang percaya menerima Kuasa: 


Yohanes 1:12 (TB)  Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;


Apa kekuatan kita mengikuti Tuhan dengan setia? Di dalam ayat 12 di atas diberitahukan bahwa orang percaya menerima kuasa, yaitu kuasa anak-anak Allah yang percaya di dalam namaNya. 


Kuasa disini disebutkan dengan istilah "eksusian"  εξουσιαν atau eksusia. Exousia adalah kata Yunani yang paling sering diterjemahkan sebagai "otoritas" atau "kekuasaan". Kata ini terutama digunakan dalam hal pengaruh moral. Exousia juga dapat diartikan sebagai yurisdiksi atau kekuasaan atas suatu wilayah, hak, keistimewaan, atau kemampuan tertentu. Eksusia disoni melkat dengan entitas anak-anak Allah. Artinya kuasa itu melekat dengan status anak-anak Allah. Jika status anak Allah ini terpisah tidak memiliki kekuatan apapun.


Dengan pengertian ini kita memahami kuasa disini bukan jabatan atau posisi, kedudukan atau pangkat tetapi wibawa seseorang menyatakannsesuatu atau kuasa berupa kekuatan atau energy di dalam diri seseorang yang besar sehingga mampu menjalani kehidupan ini dengan setia sekalipun banyak beban. 


Kasih karunia menjadi anak-anak Allah bukan karena faktor genetik (daging) atau karena suatu hasil karya atau usaha manusia, tetapi karena iman. Orang yang percaya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus sebagai Yuruselamat memperoleh kuasa. Itulah kekuatan iman. 


Yesus sendiri menyebutkan kekuatan iman yang memindahkan gunung (Matius 17:20). Berikutnya iman yang mengalahkan dunia di sebutkan dalam 1 Yohanes 5:4-5 (TB)  sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? 


Bagaimna iman mengalahkan dunia? Itulahnkuasa dan kekuatan yang mengubah dunia yang helap menjadi terang, dunia yang penuh perseteruan menjadi penuh damai. Dunia yang penuh ambisi dan serakah menjadi dunia yang harmoni mendahulukan orang lain. Yesus sendiri berkata dalam Markus 10:43-44 (TB)  Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.


Kuasa pelayanan dan menjadi hamba baginorang lain adalah kuasa yang mengalahkan dunia. Jadi iman adalah andalah anak-anak Allah.


3. Firman menjadi daging


Yohanes 1:14 (TB)  Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.


Disini kita kembali diingatkan tema Natal tentang Immanuel. Allah yang transedent menjadi immanent, Allah yang jauh dalam jangkauan jauh telah menjadi dekat dengan kehadiran Yesus Kristus. Dia ada dan diam bersama sama dengan manusia, mengalami dan merasakan apa yang dialami manusia. Inilah cara Allah memenuhi janjiNya. Jadi hubungan manusia dengan Allah sangat dekat dan ada di tengah-tengah kita.


Firman yang telah menjadi daging penuh kasih karunia. Kehadiran Yesus di dunia adalah rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Sejak manusia jatuh dalam dosa manusia terasing, kena hukum dan jauh dari kasih karunia. Upah dosa adalah maut. Allah menghendaki manusia selamat. Allah memelihara janjiNya, memberikan kepada manusia perintah namun melanggarnya, berulang kali mengutus hambaNya namun ditolqk dan diabaikanNya. Semestinya oleh perbuatan dan pelanggaran manusia menerima hukum, tetapi lasih Allah kita diselamatkan. Maka Allah sendiri mengutus anakNya yang Tunggal sebagai jalan keselamatan. Inilah anugerah yang kita terima keselamatan bukan upaya manusia tetapi anugerah Allah di salam Yesus Kristus.


Firman menjadi daging adalah kebenaran. Kebenaran dimaksud bukankah benar karena perbuatan manusia teyapi  kebenaran Allah. Allah membenarkan manusia yang seharusnya mati oleh pelanggaran namun kita dibenarkan karena gratia. Gratia itu adalah kasih karunia Allah. Inilah kebenaran Allah yang menyelamatkan manusia. Firman telah menjadi daging adalah penuh kebenaran Allah. Inilah yang seharusnya diketahui oleh setiap orang agar menhadari kasih karunia Allah. Allah telah membenarkan kita bukan karena kita benar, tetapi karena kasihNya yang begitu besar Allah membenarkan kita melalui caranya sendiri.  


Sahabat yang baik hati! Di tahun baru 2026 ini kita diyakinkan akan kasih karunia Allah menyertai kita. Kita menjalani tahun Baru 2026 ini dengan diyakinkan Firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam 2 Korintus 12:9 (TB)  Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Amin


Selamat Tahun Baru

Pdt Nekson M Simanjuntak

PENGAJRAN IMAN DI TENGAH KELUARGA

 TAHUN TRANSFORMASI:

Penjaran Iman di Tengah-tengah Keluarga (Ulangan 6:7)



Pendahuluan

HKBP telah mengagendakan 2025-2028 merupakan Tahun Transformasi dengan agenda khusus setiap tahun. Pada Tahun 2025 menekankan Janji dan Komitmen Jemaat dan Pelayan. Diharapkan seluruh jemaat telah membaca ulang kembali makna dari setiap janji dan komitment yang telah diikrarkan di altar dihadapan Tuhan Yesus Kristus Raja Gereja dan dihadapan Jemaat yang ada. Janji dan komitmen ruas di adalah Janji orangg tua membawa anak saat dibaptis, janji saat sidi, janji pernikahan, janji penerimaan tahbisan pelayanan dan janji jemaat saat adanya peresmian huria dan Mameakhkn Batu Ojahan (MBO). Semua janji itu jika dibaca dan dimaknai ulang tahun transformasi ini patutlah jemaat HKBP memiliki spiritualitas yang tinggi dan rasa cinta akan kehidupan bergereja. Di dalam janji-janji itu termaktub ikrar dan janji yang menuntut ketaatan dan kepatuhan kepada Yesus Kristus Raja Gerejawi. Jika setiap jemaat melaksanakan janji dan komitmen di depan altar gereja akan berdampak pada perubahan dari warga jemaat yang lebih setia, lebih taat dan lebih giat dalam pelayanan Tuhan.


Tahun 2026: Pengajaran Iman di Tengah Keluarga

Kita telah memasuki tahun 2026 dengan menekankan "Pengajaran Iman di Tengah-tengah Keluarga". Dengan penekanan program tahun 2026 ini diharapkan setiap keluarga HKBP dapat menggunakan kesempatan penting ini membenahi keluarga agar benar-benar mengisi waktu berdoa bersama, bertumbuh bersama di dalam iman dan tangguh menghadapi tantangan jaman yang semakin berat serta setia di dalam iman kepada Yesus Kristus sebagai Yuruselamat.


Kita harus menyadari bahwa tantangan jaman terus menerpa keluarga, nilai-nilai keluarga semakin luntur, dan moralitas yang semakin runtuh di tengah-tengah peradaban ini. Kita harus menyadsri dunia terus berubah dengan segala konsekwensinya, dampak perubahan sosial semakin nyata di dalam kekuarga: maraknya penyakit sosial, ancaman narkoba, tawuran dan bergesernya orientasi seksual dengan maraknya LGBT, semakin banyaknya anggota keluarga memilih sendiri serta tantangan lainnya yang sulit kita deteksi. 


Pemerintah juga masih berjuang untuk menuntaskan stanting, namun di saat yang sama ada banyak keluarga menghadapi masalah anak-anak yang autis, anak yang aktif (hyper aktif/ADHD, Attention Deficit Hyperactivity Disorder) serta obesitas dan berbagai tantangan lainnya. Tidak kalah pentingnya fenomena di kalangan masyarakat anak-anak, remaja dan dewasa yaitu Nomophobia (No Mobile Phobia) dan FOMO (Fear Of Missing Out) adalah rasa takut merasa “tertinggal” karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Sebuah perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, tren, dan hal lainnya. Rasa takut ketinggalan ini mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik. Faktor utamanya adalah media sosial. 


Semuanya itu menjadi beban dan tantangan bagi keluarga Kristen di masa kini. Mungkin orang tua telah bersusah payah mencoba memberikan nasihat kepada anggota keluarga, berkonsultasi dengan ahli atau konselor di bidangnya serta yang dianggap dapat memberikan jalan keluar. Apapun tantangan jaman, gereja harus menerjemahkan nilai-nilai dan ajaran alkitab ke setiap zaman sehingga pengajaran Alkitab kontekstual sepanjang zaman. 


Dasar Pijakan: Ulangan 6:6-7

Memahami tahun transformasi 2026 dengan topik Pengajaran Iman Di Tengah-tengah Keluarga sangat krusial. Baiklah kita simak dasar Alkitab dari tema tahun 2026 ini


Ulangan 6:6-7 (TB)  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,  

haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.


Dari Nats diatas kita menerima pesan yang sangat berharga untuk didalami: 


1. Pengajaran iman di tengah-tengah keluarga adalah perintah Tuhan.


Tuhan menghendaki umatNya memiliki akar iman yang kuat sehingga Allah memerintahkan agar setiap orang tua mengajarkan iman kepada anak-anaknya. Jika kita hubungkan Credo Israel maka seriap orang tua akan menceritakan kesaksian leluhur mereka sebagai cerita yang diwariskan kepada anak dan cucu mereka.


Credo ini Israel tertulis pada Ulangan 6:21-23 (TB)  maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. 

TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita;

tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita.


Dengan Credo ini setiap angkatan dan generasi ke generasi umat Allah menjadi saksi atas perbuatan Tuhan dalam sejarah bangsa Israel di masa lalu.  Sekalipun itu jauh ratusan tahun sebelumnya tetapi setiap orang mengetahui perbuatan Allah. Formula Credo ini selalu dihapalkan dan diwariskan.


2. Metode Pengajaran: berulang-ulang


Sesuatu pengajaran yang diulang-ukang bukanlah hanya srbagai ilmu srmata, tetaoi sudah menjadi habit. Kebiasaan yang terbiasa dan melekat oada otak sebagai hapalan, pada hati sebagai afeksi dan tindakan sebagai motorik. 


Jika kita perhatikan dalam training atau pelatihan yang ada, seseorang akan terampil jika terus-meneurs diulangi. Perulangan itu penting agar benar-bensr meresak. Mengulanhi oengajaran bukan hanya sekedar tahu, tetapi dengan mengulang-ulangi akan menjadi endapan dalam spiritualitas seseorang


3. Membicarakannya dalam segala keadaan: topik yang selalu menarik


Jika ada top news, wawancara atau diskusi publi yang ditayangkan oleh TV, Podcas dan media sosial dalam bernmbagai flatform yang  viral salah satunya adalah topik yang relevan. Suatu topik yang menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat.  Mengapa kita mengikuti? Tentu karena topik yang diperbincangkan adalah topik yang viral dan relevan atau issu yang beredar di gengah masyarakat. Semakin banyak diperbincanhkan semakin menjadi topik yang hot news.


Tugas kita di dalam Ulangan 6:7 ini adalah mempercakapkan hal.iman meruoakan sesuatu topik yabg relevan  bagi keluarga. Membicarakannya saat bagun pagi, saat jalan-jalan saat duduk-duduk dll. Pokoknya dalam setiap waktu dan kesempatan keluarga menyampaikan pengajaran iman bagi anak-anak.  Pengajaran iman di dalam keluarga harus menjadi hit news yang selalu dibicarakan akan setiap orang bersikap dan bergegas untuk mengisi pengajaran iman dibalik muluapnya  informasi melalui media sosial yang didalamnya belum tentu dilandaskan kebenaran.


Pengajaran iman di tengah-tengah keluarga menjadi aktifitas yang selalu menjadi perhatian kita sehari-hari. Saat berada di rumah, saat jalan-jalan atau saat di luar rumah atau saat mau berbaring di tempat tidur. 


HKBP di Tahun 2026 ini hendaknya memiliki perencanaan yang baik di setiap huria agar sehinga momen program tahun 2026 tidak berlalu atau hanya label saja. 


Selamat Tahun Baru 2026

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh


Selasa, 23 Desember 2025

ALLAH HADIR MENYELAMATKAN KELUARGA

 Khotbah Malam Natal , 24 Desember 2025

Nas: Matius 1:18-25



ALLAH HADIR MENYELAMATKAN KELUARGA - 

Immanuel: Tuhan Menyertai Kita


Selamat Natal bagi semua! Malam Natal ini tenth hari yang kita tunggu-tunggu di tahun ini. Sepanjang tahun kita bmelakukan berbagai aktifitas dan semua aktofotas yang kita lakikan itu semata-mata anugwrah Tuhan di dalam Yesus Kristus. Dia lahir untuk kita, Dia datang dalam kesederhanaan hendak memberi contoh bagi kita meneladani kesederhanan. Dia hadir di tengah-tengah keheningan, teduh dan penjh damai sebagai bahahian rencana Allah bahwa Ysses hadir tengah-tengah kita untuk menyelamatkan kita dan memberi kedamaian dan ketenteraman. 


Malam Natal ini, tentulah banyak kesusahan yang kita alami, apalagi.melihat begitu banyak korban bencana alam yang melanda Sumatera, Tapanuli, Sumut, Sumbar dan Aceh. Seolah amarah alam memakan korbah rakyat kecil. Seribuh lebih meninghal, ratusan orang hilang dan ribuan rumah hilang dibawa banjir, diterjang longsor, tertimbun dan kerusakan lainnya yang tidak terhidung. Ladang dan swah sebagai sumber kehidupan warga lilenyap ditimbun lomour, pasir dan batu. Sungguh pwnderiaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kiranya Malam Natal jni juga menyentuh semua korban dan keluarga. Yesus hadir menyelamatkan keluarga mereka. Yesus hafir menghibur dan menguatkan mereka. Yesus hadir mengingatkan dan mengetuk hati setiap orang untuk berubah dan memperbaiki sikap dan kebinakan terhadap alam. 


Di era media sosial.sekarang sangat mudah orang merkeam dan menyebarkan peristiwa, tidak sedikit vidio yang memilukan hati bagaimana pedihnya hati orang-orsng yang mengalami korban, begitubgigihnya oara relawan mencari korban yang meninggal bahkan sampai sekarsng uoaya itu masih terus dilakukan. Tak tahan rasanya saat relawan mengangkat mayat dari timpaan lumpur dan kayu. Ratusan lagi yang tidak ditemukan, kita percaya bahwa mereka juga di dalam perlindungan Tuhan. Karena baik hidup dan maupun mati kita adalah milik Tuhan. Kehidupan ini adalah milik Tuhan.


Apapun keadaan yang kita alami hari ini, kita percaya semua itu atas pengetahuan Tuhan. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa diketahuinya. Tuhan adalah penciota, pemelihara dan penyelamat kita. Dia datang melawat manusia dalam semua, Dia hadir bersama-sama umat yang mengalami penderitaan. Dia hadir hendak menyertai kita dalam apa yang akan terjadi esok. Tuhan datang, menjadi manusia menyertai perjalanan ini daei peralihan hidup di dunia i isampai memasuki kehidupan yang kekal. Itulah yang kita rayakan di hari Natal. Allah itu Immanuel, Dia tidak jauh, tetapi ada bersama-sama dengan kita.


Berita kelahiran Yesus menurut versi Matius ini diuraikan cerita yang sangat menarik. Allah hadir dalam hidup Yusuf dan Maria, dan kedua hamba Tuhan ini mau mengabdi untuk maksud Allah. Injil Matius tidak meniadakan kekuatiran Maria dan Yusuf, namun dalam sisi kemanusiaan mereka Firman Tuhan bekerja meneguhkan merekan dan oleh kuasa Firman Tuhan mereka mau melalukan firman Tuhan dalam hidupnya. Jadilah kehendak Allah lewat peristiwa natal. Maria dan Yusuf menjadi abdi Allah yang mulia, hidup mereka telah menjadi saluran kasih karunia bagi seluruh bangsa di bumi.


*1. Kelahiran Yesus adalah Peristiwa Ilahi*

Pengakuan Iman rasul mengutip Matius 1:18 ini menjadi peristiwa penting. Lahirnya Yesus Kristus bukanlah peristiwa biologis tetapi peristiwa ilahi. Bukan peristiwa kodrati, tetapi peristiwa adikodrati. Kata dikandung Roh Kudus menegaskan bahwa bayi Yesus ada bukanlah buah genetik Maria dan Yusuf, tetapi peristiwa ada dari ciptaan Ilahi. Allah mencipta ada dari yang tidak ada. Demikianlah kelahiran Yesus bukanlah peristiwa kelahiran yang harus ditangani oleh bidan tetapi karya Allah melalui Roh Kudus. Allah menciptakan keselamatan manusia dari dunia yang jatuh ke dalam dosa kepada kehidupan yang penuh kasih karunia.


Matius memakai kata perawan Maria dalam bahasa Yunani disebut "parthenos" berarti perawan secara manusia belum bersetubuh. Kata parthenos dalam PB ini sepadan dengan kata "almah " dan bahasa Ibrani sebagaimana dinyatakan dalam Yesaya 7:14 (TB) Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel. 


Kelahiran Yesus bukanlah semata-mata merayakan peristiwa lahirnya bayi Yesus, tetapi merayakan perbuatan Allah memenuhi janjiNya membebaskan umatNya dari segala penindasan, dosa dan maut. Nubuatan 700 tahun masa Proto-Yesaya dipenuhi Allah di peristiwa Natal.


Jadi Injil Matius menegaskan, ada tiga kata yang dipakai menunjukkan kelahiran Yesus bukan peristiwa biologis dengan:

- dikandung oleh Roh Kudus (ay 18,20)

- lahir dari anak dara Maria (ayat 23)

- tidak bersetubuh (ay 25)

Peristiwa Natal adalah Peristiwa Ilahi. Kelahiran Yesus hendak menciptakan manusia hidup dalam kasih karunia Allah.


*2. Kesalehan dan ketulusan Yusuf*

Penulis Injil Matius sangat realistis atas apa yang dialami oleh Yusuf. Wajar saja dia tak menerima ada perubahan pada diri Maria. Dia akan mengandung dan melahirkan satu anak yang akan diberi nama Yesus sesuai dengan pesan malaikat (baca Lukas 1:26-38). 


Jika pada malam Natal kita diperkenalkan pribadi seorangbperempuan berhati mulia, maka kotbah di Natal I ini kita diperkenalkan tokoh pria yang baiknhati. Yusuf adalah pribadi yang saleh, taat beragama dan juga tidak mau mempermalukan Maria. Dia berencana dengan diam-diam akan memutuskan hubungan dengan Maria. Tampak kematangan pribadi Yusuf, dia tidak temperamen dan dengan emosi yang meledak-ledak merespon perubahan pada diri Maria. Tapi dengan sikap dewasa secara perlahan akan undur dari Maria.


Tuhan campur tangan. Tuhan mengerti apa perasaan laki-laki seperti Yusuf. Tuhan meyakinkan Yusuf bahwa apa yang terjadi pada Maria adalah kehendak Allah. Matius 1:20 (TB) Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 


Natal merubah suatu peristiwa yang sulit diterima oleh akan namun dimainkan oleh orang yang memahami dan mengerti maksud Allah.


*3. IMMANUEL: Tuhan menyertai kita*

Bangsa Israel adalah umat yang merasa terasing dan terbuang, mereka menantikan kejayaan Israel, namun bangsa-bangsa asing silih berganti menjajah mereka. Mereka hanya negara boneka dan jajahan negara asing sejak kembali dari pembuangan Babelonia. Pada jaman Perjanjian Baru, Yahuda berada dibawah jajahan Romawi. Mereka menderita dan memimpikan orang yang menyertai mereka merasakan pahitnya dibawah jajahan bangsa asing.


Tentu kebutuhan orang yang terasing adalah pendamping yang menyertai mereka dalam keadaannya yang merasa terasing. 


Yesus adalah Immanuel, Allah menyertai kita menjadi sejarah baru. Tuhan tidak membiarkan mereka terasing, terbuang dan terjajah, tetapi Tuhan mendampingi, menyertai dan bersama-sama umatNya. Dengan kata Immanuel Tuhan tidak pernah meninggalkan dan membiarkan orang-orang yang dikasihiNya. 


Orang Batak mengenal ungkapan sakitnya orang yang terasing sendirian dengan "songon tandiang na hapuloan", artinya terdampar sendirian di pulau terasing. Keadaan demikian pasti hampa dan kosong, tiada sahabat, tiada teman yang mengerti, memahami dan merasakan kesedihan. Semuanya dialami sendirian. Dosa telah membuat kita terasing dari Tuhan, dari sesama. 


Tema Natal 2025 ini ditetapkan: Allah hadir menyelamatkan keluarga. Spontan kita bertanya apa ancaman yang terjadi di tengah-tengah keluarga kita saat ini?

Setidaknya ada tiga:


a. Gadget telah merampas kebahagiaan, waktu dan relasi kita di dalam keluarga. Kita sudah jarang memiliki sentuhan komunikasi langsung secara verbal mengucapkan pujian, harapan, dan kata-kaylta yang menyentuh hati dan perasaan seseorang. Duduk bersama saja pesan kita sampaikan lewat WA atau messenger. Waktu anak-anak dihabiskan dengan gadget bahkan mempengaruhi orestasi sekolah karena game dan flatform media sosial yang memihat hati dan waktu. Kurangnya kemesraan antara suami isteri karena HP menempel terus di tangannya sehinnga tak ada waktu membelai rambut pasangan. 

Tema natal ini mengingatkan kita Krostus telah hafir menyelamatkan keluarga, jangan sampai HP ini merebut kebahagiaan dan keselamatan keluarga.


b. Ancaman perceraian: Data Statistisk BPS angka perceraian di Indonesia 2024 mencapai 399.921 kasus. 82 persen itu perceraian dituntunt oleh isteri dan tiga faktor utama adala: 1) pertengkaran terus menerus, 2) masalah ekonomi 3) mabuk-mabukan dan KDRT.

Ti gkat perceraian tertinggi ada di Jawa Barat, Menyus Jawa Timur dan Jawa Tengah dan keempat Sumatera Utara. Sekalioun tidak eksplisit menyebutkan data perceraian di kalangan Kristen namun tingginya angka perceraian ini menggugah gereja sebagai.lembaga yang terlibat mempersatukan dan memberkati keluarga. Gereja harus berperan dan melakukan langkah-langkah kongkrit agar jangan sampai perceraian ini melanda keluarga Kristen. 


c. Menunda pernikahan - ancaman bagi pemuda dan pemudi. Sudah menjadi faktual ada banyak kawula muda menunda pernikahan dengan berbagai alasan, mapan dulu baru menikah. Rupanya kemapanan tidak kunjung tiba dan akhirnya waktu terus berjalan sehingga usia subur dan produktif berlalu. Ini adalah ancaman serius, kemapanan dan berbagai alasan menunda pernikahan adalah ancaman bagi regenerasi umat manusia.

Keluarga harus mendiskusikannya secara serius agar anak-anak muda dapat secara serius mendiskusikan ini. 


Teologi Alkitab tidaklah demikian, setekah Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Allah mempersatikan dan memberkati mereka kemudian Tuhan membawa mereka kr Taman Edrn. Disana Tuhan mempersiapkan yang mereka butuhkan dalam keluarga: pangan, sungai penuh emas dan segala kebutihan manusia. Jadi Allah sendirilah yang memverikan berkag dalam keluarga. Teologi penciptaan tidak pernah merekomendasikan mapan duku baru menikah. Tetapi setelah Allah menciotakan pendamping bagi Adam, Guhan me.persatukannya dan memberkatinya.


Kiranya tema Natal 2025 mengembalikan essensi keluarga yaitu cinta kasih. Kemapanan tidak serta merta mendatangkan kasih, namun perrcayalah bahwa keluarga yang didasari oleh Kasih Allah akan menikmati kebahagiaan dari Tuhan. 


Selamat Malam Natal, 24 Desember 2025

Tuhan menyertai kita semua


Dari kami

Pdt Nekson M Simanjuntak dan Family

TUHAN SEMESTA ALAM MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA

  Kotbah Minggu III Stlh Ephipanias Minggu, 25 Januari 2026 Ev. Haggai 2:1-9 TUHAN SEMESTA ALAM MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA Selamat Hari Ming...