Catatan Kotbah Minggu XIV S.Trinitatis
Minggu, 6 September 2026
Ev. Lukas 10:27-35
MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah tentang Orang Samaria yang baik hati merupakan salah satu pengajaran Yesus yang membuka mata setiap tokoh agama dan rohaniawan tentang essensi ajaean agama itu sendiri. Ajaran agama bukanlah sesesuatu tataran teoritis idealis, dogmatis dan bukan pada rumusan kalimat yang bagus tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah namanya iman yang praxis.
Ada orang yang menilai keagamaan dari tataran teoritis, bergulat dalam doktrin-doktrin tentang ajaran kebenaran, dampak dari perbededaan doktrin kemudian menghantarkan perpecahan dan klaim kebenaran dan menganggap lain sesat (mebidaatkan atau mengharamkan) ajaran lain. Pandangan seperti itu lama juga terjadi di dalam ajaran agama-agama hingga masa kini termasuk di dalam kekristenan. Apa yang diajarkan oleh Yesus menyadarkan kita bahwa inti pokok dari ajaran keagamaan adalah praksis hidup orang benar, yang mengasihi Allah tampak pada praktek hidup yang mengasihi sesama. Benar apa yang disampaikan oleh rasul Yohanes.
1 Yohanes 4:20-21 (TB) Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
Baiklah kita dalami kotbah Minggu ini, setidaknya ada 3 hal yang dapat kita perdalam sebagai pelajaran penting dalam praksis hidup orang percaya yang mengasihi Allah dkbuktikan lewat tindakan kemanusiaan.
1. Tahu Perintah, Tapi Tidak Melakukan: Menguji Yesus di Balik Kesucian Formalis
Pertama Yesus mengkritik agama Yahudi yang formalis dan legalistik, agama yang menuruti persturan keagamaan sebagai landasan iman.
“Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ’Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’” (Lukas 10:25)
Perikop ini dibuka dengan pemandangan yang sangat khas dalam masyarakat Yahudi abad pertama. Seorang ahli Taurat (Nomikos)—seorang sarjana hukum agama yang dihormati dan menghabiskan seumur hidupnya untuk mempelajari, menyalin, serta menafsirkan Hukum Musa—datang mendekati Yesus. Namun, pendekatannya tidak lahir dari kerendahan hati atau kerinduan akan kebenaran, melainkan untuk mencobai (ekpeirazon). Ia ingin menguji apakah Guru dari Nazaret ini memiliki teologi yang lurus sesuai standar ketat keagamaan Yahudi.
Ketika Yesus bertanya balik tentang apa yang tertulis dalam hukum Taurat, sang ahli Taurat dengan sangat lancar dan tanpa ragu mengutip pengakuan iman utama Yahudi, yaitu Shema (Ulangan 6:5) dan aturan kasih (Imamat 19:18): mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Secara intelektual dan doktrin, jawabannya sempurna, nilai sepuluh. Bangsa Yahudi pada masa itu sangat bangga akan kepemilikan Hukum Taurat; mereka merasa sebagai bangsa pilihan yang dijamin selamat hanya karena memegang teologi yang benar dan menjalankan ritus keagamaan secara formal.
Namun, di sinilah Yesus menyingkapkan kerapuhan sikap keagamaan tersebut. Yesus menjawab: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup" (Ayat 28). Kata "perbuatlah" (poiei) menggarisbawahi jarak yang lebar antara pengetahuan di kepala dan praktik dalam kehidupan. Sikap formalisme Yahudi saat itu sering kali terjebak pada kesucian lahiriah, wacana teologis, dan hafalan ayat, tetapi kering dari ketaatan yang nyata.
Melalui teguran halus ini, Yesus membongkar ilusi sang ahli Taurat: hidup kekal dan hubungan yang sejati dengan Allah tidak pernah dijamin oleh seberapa banyak doktrin yang kita kuasai atau seberapa sering kita membicarakan Firman, melainkan apakah Firman itu dihidupi dan dinyatakan dalam tindakan mengasihi setiap hari.
Dalam ayat berikutnya dia menerima pesan Yesus tetapi hendak.membela diri dengan bertanya siapa sesamaku manusia? Agama bukanlah hanya nalar dan isi ayat hapalan tegapi tinggal bersama dengan sesamanya.
2. Mengasihi Sesama Tanpa Mengenal Batas: Membongkar Tembok Prasangka
“Tetapi orang itu ingin membenarkan dirinya, lalu berkata kepada Yesus: ’Dan siapakah sesamaku manusia?’” (Lukas 10:29)
Menyadari bahwa ketaatannya sedang diuji, sang ahli Taurat berusaha "membenarkan dirinya" dengan mengajukan pertanyaan teologis yang sangat populer di kalangan rabi Yahudi saat itu: "Siapakah sesamaku manusia?" Dalam tradisi dan pandangan keagamaan Yahudi abad pertama, kata "sesama" (rea') memiliki batasan yang sangat sempit dan eksklusif. Bagi mereka, sesama hanyalah sesama anggota bangsa Yahudi, penganut agama yang sama, atau rekan satu kelompok. Orang di luar Yahudi, terlebih bangsa Samaria, dianggap najis, kafir, bahkan musuh yang layak dibenci.
Guna menjawab batasan sempit tersebut, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang korban perampokan yang terkapar setengah mati di jalan berbahaya antara Yerusalem dan Yerikho. Dua tokoh agama Yahudi yang sangat dihormati lewat di sana: seorang Imam dan seorang Lewi. Keduanya melihat korban tersebut, namun memilih untuk melintas dari samping dan menjauh. Mengapa? Bagi mereka, menyentuh orang yang tampak hampir mati berisiko melanggar hukum kesucian ritual (Imamat 21:1). Jika orang itu ternyata sudah mati, mereka akan menjadi najis dan kehilangan hak menjalankan tugas keagamaan di Bait Allah. Mereka lebih memilih menjaga tembok kesucian formalis dan kenyamanan diri daripada menyelamatkan nyawa manusia.
Lalu Yesus menghadirkan figur yang amat mengejutkan: seorang Samaria. Secara sejarah, bangsa Yahudi dan Samaria terlibat permusuhan turun-temurun yang sangat tajam—keduanya saling menghina dan tidak saling menyapa. Namun, orang Samaria yang "dianggap musuh" inilah yang justru berhenti, mengobati luka korban, membawanya ke penginapan, dan membiayai seluruh perawatannya.
Melalui perumpamaan ini, Yesus merubuhkan seluruh tembok pembatas yang dibangun oleh tradisi manusia. Kasih Kristiani tidak boleh dikotakkan oleh garis suku, ras, status sosial, agama, atau prasangka pribadi. Yesus memutarbalikkan pertanyaan sang ahli Taurat: bukan lagi sibuk mencari siapa yang layak menjadi sesama kita, melainkan bagaimana kita sendiri hadir menjadi sesama bagi siapa saja yang sedang membutuhkan pertolongan di hadapan kita.
Tokoh yang dianggap paling agamawan, dekat dengan Tuhan dan yang dipuji da dihormstinkarena ketaatannya kepada agam justru tidak menunjukkan belaskasihan yang seharusnya dilakukan. Tetapi dengan Tokoh orang Samaria, yang dinilai hina, dan tak layak berjumpa dengan Yahudi menunjukkan nilai kemanusiaan.
3. Menunjukkan Belas Kasihan yang Nyata:
Kasih yang Berkorban dan Berdampak
“Lalu datanglah seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” (Lukas 10:33)
Puncak dari perumpamaan ini terletak pada respons batin dan tindakan nyata orang Samaria tersebut. Ketika melihat korban perampokan yang tergeletak tak berdaya, Alkitab mencatat bahwa “tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah σπλαγχνίζομαι (Splagchnizomai). Ini adalah istilah yang sangat kuat, menggambarkan belas kasihan yang begitu mendalam hingga meremas bagian dalam perut (bowels of compassion). Ini bukan sekadar rasa iba yang pasif, sentimentalitas di bibir, atau simpati dari kejauhan, melainkan dorongan batin yang mewajibkan lahirnya tindakan konkret.
Orang Samaria ini melangkah jauh melampaui rasa kasihan biasa. Belas kasihan yang sejati selalu menuntut harga dan pengorbanan:
a. Pengorbanan Sumber Daya: Ia menyiramkan minyak dan anggur—pertolongan medis yang mahal pada zaman itu—untuk membersihkan dan membalut luka-luka korban.
b. Pengorbanan Kenyamanan & Waktu: Ia menaikkan orang terluka itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, sementara ia sendiri berjalan kaki menempuh sisa perjalanan yang berbahaya, lalu merawatnya sepanjang malam di penginapan.
c. Pengorbanan Finansial: Ia mengeluarkan dua dinar (setara dengan upah kerja dua hari) dan memberikan jaminan terbuka kepada pemilik penginapan untuk menanggung seluruh biaya perawatan tambahan sampai orang itu sembuh.
Di akhir cerita, Yesus bertanya kepada ahli Taurat tentang siapa di antara ketiga orang itu yang telah menjadi "sesama" bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun. Dengan enggan, ahli Taurat itu menjawab: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Yesus lalu memberikan perintah yang memungkas seluruh diskusi: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Poreuou kai sy poiei homoios).
Iman yang sejati tidak diukur dari seberapa suci ritus yang kita jalani atau seberapa tinggi wacana kasih yang kita gaungkan, melainkan dari keberanian kita untuk melangkah turun, terlibat dalam rasa sakit sesama, dan mempraktikkan belas kasihan Kristus yang nyata di tengah dunia yang terluka.
Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini meminta kesungguhan hati kita sebagai ornag yang menerima keselamatan. klKita telah dibenarkan dan telah diselamatkan pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita menghiduo kasih Allah itu dalam praktek kehiduoan sehari-hari.
Dari perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati:
1: Melepaskan formalisme agama—iman bukan sekadar hafalan Taurat di kepala, melainkan ketaatan yang dihidupi.
2: Merubuhkan tembok prasangka—kasih tidak dibatasi oleh suku, ras, atau status, melainkan hadir bagi siapa saja yang membutuhkan.
3: Menghidupi belas kasihan yang nyata (Splagchnizomai)—kasih yang mau berkorban waktu, tenaga, dan harta demi memulihkan sesama. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy








