Sabtu, 01 Agustus 2026

JANJI TUHAN SEMUANYA DIPENUHI

 Catatan Kotbah Minggu IX S.Trinitatis

Minggu 2 Agustus 2026

Ev. Yosua 21:43-45




SEMUA JANJI TUHAN DIPENUHI


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Kanaan adalah negeri yang dijanjikan Tuhan bagi jmat Allah. Janji itu diwarisi sejak pemanggilan Abraham. Ada 4 janji Tuhan kepada Abraham yaitu: kesejahteraan, nama ysng masyur, menjadi bangsa yang besar dan diam di negeri Kanaan yang penuh susu dan madu yaitu Kanaan.


Sejarah leluhur bangsa Israel dipenuhi dengan dinamika kehidupan bapak leluhur Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan selalu campur tangan dan turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi umatNya. Semua itu dituliskan di dalam Alkitab. TUHAN memelihara umatNya hingga terus bertambah banyak, pernah tinggal dan diperbudak di Mesir dan Tuhan membebaskan mereka, menuntun mereka dipadang gurun sampai menduduki tanah Kanaan. Tuhan memakai Musa membebaskan Israel dari perbudakan Mesir dan dengan tangan yang kuat serta mujizat yang luar biasa. Musa adalah pemimpin yang dipakai Tuhan mebebaskan dan menuntut umat Allah selama di padang gurun. Musa berhenti di Nebo. Allah mengangkat Josua menggantikan Musa memimpin bangsa Israel menduduki tanah Kanaan. 


Atas semua perjalanan yang dialami oleh Yosua dan perjalanan umat Allah me duduki tanah Kanaan, dia menyampaikan suatu statement yang berharga, yaitu: semua janji Allah telah dipenuhi. Ini suatu pengakuan Yosua, dimana janji-janji Allah kepada leluhur Israel nyata dan benar digenapi oleh Tuhan. 


Baiklah dalam kotbah Minggu ini, kita gali beberepa pokok penting menolong kita menghidupi Firman ini. 


1. Kanaan – Tanah Perjanjian 


Ayat 43: “Jadi TUHAN memberikan kepada orang Israel seluruh negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk memberikannya kepada nenek moyang mereka. Mereka menduduki negeri itu dan diam di sana.”


Sahabat yang baik hati, Kanaan bukan sekadar tanah biasa. Kanaan adalah bukti ikatan janji Allah yang ditarik jauh ke belakang, sejak zaman Abraham, Ishak, dan Yakub. Ratusan tahun berlalu, generasi berganti, tetapi janji Allah tidak pernah kedaluwarsa! Bangsa Israel bisa menduduki dan diam di Kanaan bukan karena kehebatan taktik perang Yosua, bukan pula karena jumlah tentara mereka yang kuat. Mereka mendapatkan tanah itu semata-mata karena rahmat dan kesetiaan Allah atas janji-Nya.


Kanaan adalah negeri yang dijanjikan Tuhan bagi umatNya. Tanah bukan hanya sebagai tempat berladang dan bertani serta beternak atau dimana mereka tinggal. Tanah perjanjian ini adalah syarat utama juga bagi jmat Allah menjadi suatu bangsa. Syarat suatu bangsa jika ada rakyatnya, ada pemimpinnya dan ada wilayahnya. Jadi pendudukan Kanaan adalah bahahian dari pemenuhan janji Allah menjadikan Israel sebagai bangsa. 


​Kanaan adalah tanah Perjanjian karena Tuhan sendiri membuat kovenan (perjanjian) tanah tersebut yang kita baca pada ​Kejadian 12:7 — Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ”Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Lalu didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. dan ​Kejadian 15:18 — Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: ”Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.”


Sahabat yang baik hati! Benar apa kata Yosua, Allah temah memenjhi janjiNha dan memberikan Kanaan menjadi milik pusaka. Kehidupan iman kita hari ini juga berdiri di atas janji-janji Allah. Sama seperti Israel yang akhirnya melangkah masuk menduduki Kanaan, ingatlah bahwa setiap "tanah perjanjian" dalam hidup Anda—baik itu pemulihan keluarga, masa depan anak-anak, jawaban atas doa-doa Anda, hingga janji keselamatan dalam Kristus—pasti digenapi oleh Tuhan pada waktu-Nya yang sempurna.



2. Allah Memberikan Ketenteraman


Ayat 44: “Dan TUHAN mengaruniakan kepada mereka ketenteraman di segala penjuru... Tidak ada seorang pun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka; TUHAN menyerahkan semua musuh mereka ke dalam tangan mereka.”


Tanah Kanaan bukanlah ganah kosong, retapi telah ada beberapa suku bangsa yang telah berdiam di Kanaan. Tuhan melalui Yosua memimpin pendudukan tanah Kanaan. 

​Sebelum bangsa Israel masuk, tanah Kanaan dihuni oleh suku-suku yang tangguh seperti orang Amori, Het, Feris, Yebus, dan Kanaan (Ulangan 7:1). Dan ​Bangsa Filistin (yang menduduki wilayah pesisir selatan Kanaan) adalah salah satu musuh paling dominan dan berbahaya dalam sejarah Israel.


Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketegangan perang, berpindah-pindah kemah, dan dibayangi ketakutan, firman Tuhan mencatat bahwa Allah mengaruniakan ketenteraman (rest/shalom) di segala penjuru.

Ketenteraman di sini bukan berarti musuh hilang begitu saja dari muka bumi, melainkan jaminan bahwa kuasa Allah membentengi mereka, sehingga tidak ada musuh yang sanggup menjatuhkan mereka lagi. Perhentian ini adalah hadiah dari kemenangan yang dikerjakan oleh tangan Tuhan sendiri.


Yosua 21:44 mencatat bahwa "tidak ada seorang pun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka," ini membuktikan bahwa benteng setinggi apa pun dan musuh sebesar apa pun tidak mampu menahan kuasa Allah. Ketenteraman yang Israel nikmati terjadi karena Tuhan melumpuhkan kekuatan suku-suku Kanaan tersebut di hadapan mereka.


Sahabat yang baik hati! Mungkin hari-hari ini ada di antara saudara yang merasa lelah menghadapi "musuh-musuh" kehidupan: beban ekonomi yang berat, kecemasan akan masa depan, persoalan kesehatan, atau konflik yang tak kunjung usai. Ingatlah, kita tidak berjuang dengan kekuatan sendiri! Ketika kita menyerahkan pertempuran kita kepada Tuhan, Ia sanggup mengaruniakan ketenteraman (shalom) yang melampaui segala akal di hati dan rumah tangga kita.



3: Janji Allah Semuanya Terpenuhi


Ayat 45: “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya dipenuhi.”


Ini adalah kalimat puncak (klimaks) yang sangat menggetarkan hati. Perhatikan penekanan kata di ayat 45: "tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya dipenuhi."

Tidak ada satu pun kata, tidak ada satu pun kalimat dari janji Allah yang gugur di tengah jalan atau terlewatkan. Manusia boleh ingkar janji, dunia boleh mengecewakan, tetapi Allah kita adalah Allah yang konsisten, sempurna, dan Maha Setia. Waktu Tuhan mungkin terasa panjang bagi ukuran kita, tetapi penggenapan-Nya selalu tepat pada waktunya dan tidak pernah terlambat.


Sahabat yang baik hati Inilah keyakinan kita bahwa Allah tetap setia pada janjiNya dan apa yang dijanjikanNya sepenuhnya digenapinya. Mengapa kita bisa sangat yakin akan hal ini? Karena Alkitab kita dari awal sampai akhir menegaskan karakter Allah kita:

​Di Bilangan 23:19, dikatakan bahwa Allah bukanlah manusia yang bisa berdusta atau ingkar janji.

​Di Yesaya 40:8, rumput bisa kering dan bunga bisa layu, tetapi firman serta janji Allah tetap teguh selama-lamanya.

​Dan di 2 Korintus 1:20, Rasul Paulus menegaskan bahwa di dalam Yesus Kristus, seluruh janji Allah adalah Ya dan Amin!


Sama seperti Yosua yakin bahwa semua janji Allah dipenuhi karena:

3.1 . Pengalaman pribadi:  

Yosua telah melihat sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dalam pengalaman hidupnya, seperti ketika Allah memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan memberikan tanah Kanaan kepada mereka.

2. Sejarah umat Israel:  

Yosua juga melihat bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dalam sejarah umat Israel, seperti ketika Allah memilih Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai bapa bangsa Israel.

3. Karakter Allah: 

Yosua tahu bahwa Allah adalah Bapa yang setia dan adil, yang selalu memenuhi janji-Nya. Allah tidak pernah berdusta atau menyangkal janji-Nya.

4. Pengalaman Musa:  

Yosua juga belajar dari pengalaman Musa, yang telah melihat bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dalam hidupnya.


Dengan demikian, Yosua yakin bahwa semua janji Allah dipenuhi karena pengalaman pribadi, sejarah umat Israel, karakter Allah, dan pengalaman Musa. Mari bersyukur atas janji setia Tuhan pada umatNya. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy.



KARYA ALLAH UNTUK ORANG YANG DIKASIHINYA

 Catatan Kotbah Minggu VIII S. Trinitatis



Minggu, 26 Juli 2026

Ev. Roma 8:26-30


KARYA ALLAH BAGI ORANG PILIHANNYA


Selamat Hati Minggu ! Sahabat yang baik hati! 

Kehidupan di dunia sering kali menghadapkan kita pada situasi yang menguras energi, emosi, dan iman. Di tengah tekanan hidup, manusia sering kali merasa sendirian dan kehilangan arah. Syukurlah ada Firman Tuhan menjadi suluh dan penuntun dalam.hidup orang percaya sehingga hidup kita diarahkan kepada pengharapan dimana Allah Tutut bekerja mendatanhkan kebaikan bagi kita.


Dalam kotbah ini melalui suratnya kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menyingkapkan sebuah rahasia ilahi yang menguatkan: bagi orang-orang pilihan-Nya, Allah tidak pernah tinggal diam. Dia secara aktif, intim, dan berdaulat sedang merajut karya agung-Nya di dalam setiap lini kehidupan kita


Melalui teks kotbah Minggu ini Roma 8:26-30, kita dapat melihat dengan jelas tiga cara luar biasa bagaimana Allah bekerja di dalam dan melalui hidup orang-orang yang dikasihi-Nya.


1. Menopang di saat lemah melalui kehadiran Roh Kudus

Satu realitas yang tidak bisa kita pungkiri sebagai manusia adalah keterbatasan. Ada momen-momen kelam di mana beban hidup terasa begitu berat hingga kita mengalami kelelahan rohani (spiritual exhaustion). Di titik tersebut, jangankan untuk bangkit, bahkan untuk merangkai kata-kata dalam doa pun kita sudah tidak mampu lagi. Namun, di tengah ketidakberdayaan itu, Allah memberikan solusi yang intim. Ayat 26-27 menjelaskan bahwa Roh Kudus hadir sebagai Penolong (Parakletos) yang mengambil alih kelemahan kita. Ketika lidah kita kelu dan kata-kata kita habis, Roh Kudus sendiri yang bersyafaat bagi kita kepada Bapa dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dia mengerti kedalaman hati kita dan menyelaraskan setiap pergumulan kita dengan kehendak Allah yang sempurna. Kita tidak pernah berdoa sendirian; Roh Kudus senantiasa menopang dan mengintersepsi kelemahan kita.


Kata "nembantu" / "menolong" dalam Yunani: Sunantilambanetai (συναντιλαμβάνεται). Akar kata: Gabungan dari tiga kata: Sun (bersama-sama), Anti (berhadapan/melawan), dan Lambano (mengambil/memikul). Dari Yunaninya makna teologis: Kata ini menggambarkan seseorang yang melihat sesamanya sedang memikul beban yang sangat berat dan hampir jatuh, lalu ia datang, berdiri di seberangnya (anti), dan ikut mengangkat beban itu bersama-sama (sun). Roh Kudus tidak mengambil alih beban hidup kita secara instan sehingga kita pasif, tetapi Dia masuk ke dalam pergumulan kita dan memikul beban itu bersama-sama dengan kita.


2. Allah Turut bekerja: segala sesuatu untuk kebaikan kita

Salah satu ayat yang paling sering dikutip namun juga sering disalahpahami adalah ayat 28: "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia." Janji ini bukan berarti hidup orang Kristen akan steril dari air mata, kegagalan, atau penderitaan.


Kata kunci dari ayat ini Allah Turit bekerja. Allah tidak tinggal diam, tetapi disadsri atau tidak kita sadsri Allah aktif melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi orang pilihanNya. Kata: "segala sesuatu". Allah menggunakan seluruh fragmen kehidupan kita—baik keberhasilan yang manis maupun kegagalan yang pahit, baik sukacita yang meluap maupun duka yang mendalam—lalu merajutnya menjadi satu kesatuan yang indah. Kebaikan yang dimaksud di sini bukanlah kenyamanan duniawi, melainkan kedewasaan rohani dan pembentukan karakter. Allah memakai setiap musim hidup kita untuk mengikis kedagingan kita, sehingga iman kita keluar sebagai emas yang murni dan tahan uji.


Dalama istilah Yunani kata "turut bekerja" dopakai sunergei (συνεργεῖ) — asal kata dari "Sinergi". Akar Kata: Sun (bersama-sama) dan Ergo (bekerja). Allah beraama kita bersama-sama bekerja.  Apa artinya ini? Allah adalah sang Konduktor Agung. Dia mengorkestrasi, menjahit, dan menyinergikan setiap fragmen kejadian. Secara terpisah, sebuah kejadian mungkin terasa pahit (seperti garam murni yang asin), tetapi ketika Allah menyinergikannya (sunergei) dengan komponen lain, hasil akhirnya adalah "kebaikan" (agathon) bagi pematangan rohani kita.


3. Menjamin kepastian keselamatan yang Sempurna

Karya Allah bagi orang pilihan-Nya bukanlah proyek spekulatif yang bisa gagal di tengah jalan. Pada ayat 29-30, Paulus memaparkan apa yang sering disebut para teolog sebagai lima rangkaian keselamatan (The Golden Chain of Salvation), sebuah uraian yang menjelaskan bagaimana karya keselamatan itu bekerja pada orang yang dipamggil dan dikasihi Allah, yakni:


3.1. Dipilih (Foreknown): Allah telah mengenal dan menetapkan kasih-Nya kepada kita sejak sebelum dunia dijadikan.

3.2. Ditentukan (Predestined): Tujuan hidup kita sudah ditetapkan, yaitu untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, Yesus Kristus.

3.3. Dipanggil (Called): Melalui pemberitaan Injil, Allah mengetuk dan menggerakkan hati kita untuk datang kepada-Nya.

3.4. Dibenarkan (Justified): Status kita diubah dari orang berdosa menjadi orang benar melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.

3.5. Dimuliakan (Glorified): Ini adalah jaminan akhir. Meskipun kita masih hidup di dunia yang fana, di mata Allah yang melintasi waktu, kemenangan akhir kita di surga kelak sudah menjadi sebuah kepastian yang mutlak.


Kelima uraian ini kita memahami bagaimana rencana dan karya keselamatan Allah kepada orang yang dipilihnya. 


Sahabat yang baik hati!

Karya keselamatan dan pemeliharaan Allah bagi kita adalah karya yang tuntas. Dia yang telah memulai pekerjaan baik di dalam kita, Dia pula yang akan setia mengawal dan menyelesaikannya hingga akhir.


Sebagai respons kita, mari kita menanggalkan segala kekhawatiran. Ketika hari ini kita merasa lemah, ingatlah ada Roh Kudus yang sedang berdoa bagi kita. Ketika kita menghadapi penderitaan, percayalah bahwa Allah sedang merajutnya untuk kebaikan karakter kita. Masa depan dan kekekalan kita berada di tangan Allah yang berdaulat, dan tidak ada satu kuasa pun di dunia ini yang dapat menggagalkan rencana-Nya bagi hidup Anda. Amin.


Salam dari

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy,

Sabtu, 25 Juli 2026

HARI SUKACITA BAGI UNAT ALLAH

 Catatan Kotbah Minggu VII S.Trinitatis

Minggu, 19 Juli 2026

Ev. Ester 9: 11-19




HARI SUKACITA BAGI UMAT ALLAH: Dari Air Mata Menjadi Sukacita


Selamat Hari Minggu, sahabat yang baik hati dalam hidup ini selalu ada tantantangan dan resiko. Ada dua hal yang bisa terjadi dari risiko kesialan atau keberunguhan kesialan adalah resiko menkmpa diri kita sehingga menanggung dari dampak negatif sesangkan sisi lain risiko yang dilampah akan menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Mungkin anda pernah mengalaminya saat tidak mau menghadapi risiko kita hanya ikut arus yang pada akhirnya arus itu akan menentukan hidup kita. Nasib ditentukan oleh arus. Berbeda dengan konteks kotbah ini, menghadapi resiko adalah cara untuk pembebasan. 


Ester dan kaum Yahudi di kerajaan Persia diperhadapkan kepada resiko yang luar biasa yaitu hukum mati. Siasat Haman telah berhasil meyakinkan raja Ahazyweros untuk menghukum gantung Mordekhai termasuk seluruh kaum Yahudi, karena Mordekhai dan kaum Yahudi tidak menyembah raja. Mereka setia kepada agama Yahudi. Sebelumnya Haman telah meyakinkan raja agar semua penduduk negeri taat pada raja maka ditetapkan undang-undang untuk taat menyembah raja. Haman tahu sikap Mordekhai karena ketaatannya kepada agama Yahudi. Disinilah kelicikan Haman hendak meleyapkan Mordekhai yang dikagumi diistana. Haman telah mempersiapkan sula atau tiang gantung sudah dipersiapkan dan umat itu akan dibantai massal.


Ester berani melangkah, dengan melakukan cara yang luar biasa. Sebagai permaisuri, dia sadar betul dihadapan raja Ahazyweros bahwa dia adalah keturunan Yahudi. Dengan ala bangsawan Ester mempersiapkan jamuan besar di Istana dan usai jamuan raja tentu menanyakan apa permintaan Ester. Ester pun mengutarakan isi hatinya dan memohon pembebasan bagi orang Israel. Ester menyampaikan ada siasat buruk Haman atas pamannya Mordekhai maka raja pun mengabulkan permintaan Ester, membalikkan keadaan membebaskan kaum Yahudi dari hukum mati dan sula yang dipersiapkan tiang gantung bagi Mordekhai menjadi tiang gantjng untuk Haman dan kesepuluh anak-anaknya


Hari kematian bagi bangsa Israel berubah menjadi hari sukacita dan kemenangan berkat keberanian mengambil resiko dari seorang bernama Ester. Permaisuri raja yang terkenal dengan kecantikannya. 


Jika kita membaca latar belakang kitab Ester, itulah yang dialami oleh bangsa Yahudi di pembuangan Persia. Melalui muslihat jahat Haman, sebuah undang-undang kerajaan telah dikeluarkan: pada tanggal 13 bulan Adar, seluruh bangsa Yahudi—tua, muda, wanita, dan anak-anak—boleh dibunuh dan dijarah harta bendanya. Bangsa Yahudi berada di ambang kemusnahan. Mereka menangis, berpuasa, dan meratap. Namun, hari ini di Ester 9:11-19, kita melihat sebuah pembalikan keadaan yang luar biasa (the great reversal). Hari yang seharusnya menjadi hari pembantaian bagi orang Yahudi, justru berbalik menjadi hari di mana mereka memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka.


Ester 9:19 (TB) Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan, yakni yang diam di perkampungan merayakan hari yang keempat belas bulan Adar itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar makanan. 


1: Kemenangan yang Tuntas (Ayat 11-15)


Ester 9:14-15 (TB) Raja pun menitahkan berbuat demikian; maka undang-undang itu dikeluarkan di Susan dan kesepuluh anak Haman disulakan orang.

Jadi berkumpullah orang Yahudi yang di Susan pada hari yang keempat belas bulan Adar juga dan dibunuhnyalah di Susan tiga ratus orang, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan.


Keberanian Ester memperjuangkan hak hidup Mordekhai dan kaum Yahudi merupakan teladan hang sangag baik. Bukan hanya pembebasan yang dinikmati oleh kaum Yahudi tetapi Raja menerbitkan undang-undang baru hang memberikan pembebasan dan jaminan kelsngsungan hidup kaun Yahudi di kerajaan Persia. 


Ketika Raja Ahasyweros memberikan izin kepada Ester dan Mordekhai untuk menulis undang-undang baru yang membolehkan orang Yahudi membela diri, mereka tidak melakukannya dengan setengah-setengah. Di benteng Susan, musuh-musuh yang selama ini membenci dan mengancam mereka berhasil dikalahkan, termasuk sepuluh anak laki-laki Haman (akar dari kejahatan tersebut).

Ada satu frasa menarik yang diulang-ulang di ayat 10, 15, dan 16: “...tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan.”


Hari kemenanagan bagi Yahudi bukanlah dipergunakan untuk pelampiasan dendam pada Haman dan kaumnya, tetapi dalam rangka bersyukur dan tetap menjaga kemurnian hati mereka. Sekalipun undang-undang baru memperbolehkan mereka mengambil rampasan harta Haman di Susan namun mereka tidak melakukan itu. Tidak satupun harta rampasan mereka sentuh. Padahal, undang-undang raja membolehkan mereka mengambil jarahan. Perjuangan ini bukan tentang memperkaya diri atau keserakahan materi. Ini adalah tentang kelangsungan hidup dan penegakan keadilan Tuhan.



2: Ketenteraman Setelah Perjuangan (Ayat 16)


Ester 9:16 (TB) Orang Yahudi yang lain, yang ada di dalam daerah kerajaan, berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta mendapat keamanan terhadap musuhnya; mereka membunuh tujuh puluh lima ribu orang di antara pembenci-pembenci mereka, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan. 



Setelah melalui ketegangan yang luar biasa, berpuasa berhari-hari, dan menghadapi peperangan, firman Tuhan mencatat bahwa umat Tuhan akhirnya “mendapat ketenteraman.” Mereka bisa beristirahat.

Tuhan kita bukanlah Allah yang membiarkan umat-Nya terus-menerus berada dalam medan pertempuran yang melelahkan.


Segala sesuatu ada waktunya: Ada waktu untuk menabur air mata, tetapi ada waktu untuk menuai sorak-sorai. Badai tidak pernah berjalan selamanya. Setelah angin ribut yang hebat, Tuhan Yesus sanggup berkata, "Diam, tenanglah!" dan ketenteraman pun terjadi.

Demikianlah kaum Yahudi di Persia. Mereka lelah berjuang mereka kompak berkabung sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Ester dan doa mereka teekabul karena negosiasi Ester di jamuan makan istana berhasil. 


Ada orang saat mengahadaoi kesulitan hanya berurai air mata, terbawa perasaan dan tidak ada uoaya-upaya kongkrit yang dilakukan. Pengalaman peejuangan kaum Yahudi bebas dsri genosida adalah jawaban atas doa bersama kerjasama dan sikap.kooperstif dari seluruh elemen masyarakat. Buahnya adalah ketentraman mereka. 


Buah perjuangan mereka adalah mereka tenteram hidup di negeri Persia dan jaminan atas kelangsungan hidup. Raja Persia akhirnya menjamin ketenttaman mereka tinggal dan hidup di negeri itu. 


Arrtnya apa: ketentraman tidak datang dengan sendirinya, kesejahteraan tidak turun dsri langit tetapi hadir dan dinikmati karena jerih payah, doa, mau dioimpin dan kerjasama dengan banyak orang. 


3: Merayakan Kebaikan Tuhan Bersama Sesama (Ayat 18-19)


Ester 9:18-19 (TB) Akan tetapi orang Yahudi yang di Susan berkumpul, baik pada hari yang ketiga belas, baik pada hari yang keempat belas dalam bulan itu. Lalu berhentilah mereka pada hari yang kelima belas dan hari itu dijadikan mereka hari perjamuan dan sukacita. 

Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan, yakni yang diam di perkampungan merayakan hari yang keempat belas bulan Adar itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar makanan. 


Bagaimana orang Yahudi merespon kebaikan Tuhan yang luar biasa ini? Mereka menjadikannya hari gembira, perjamuan, dan saling mengirim bingkisan (makanan). Momen inilah yang kelak menjadi Hari Raya Purim.

Perhatikan bahwa sukacita mereka tidak dinikmati sendirian. Mereka saling berbagi bingkisan.


Merayakan kebaikan Tuhan bukan hanya pada saat mereka mengalaminya, tetali membuat peristiwa itu menjafi kenangan sepanjang masa dengan menetapkan hari raya Purim. Pelajaran ini pentkng, ada banyak orang bersyukur hanya saat menerima yang baik, saat hari berlalu semua kenangan indah terlupakan. Peristiwa pembebasan dan penetapan jaminan hidup kajm Yahudi di Persia dijadikan sebagai agenda tahunan dengan menetapkan hari raya Purim. Cara kaum Yahudi memlngingat kebaikan Tuhan sepanjang masa..


Tentu demikianlah kotbah ini.mrngajak kita. Kebaikan Tuhan yang kita terima harus dialirkan kepada orang lain. Sukacita iman Kristen adalah sukacita yang komunal (bersama), bukan individualis. Ketika kita diberkati, tujuannya adalah agar kita menjadi berkat. Ketika kita ditolong keluar dari masalah, tujuannya adalah agar kita bisa menghibur orang lain yang sedang mengalami masalah yang sama.


Penutup: Aplikasi Praktis 


1. Percayalah pada Skenario Tuhan (Providenisa Allah): Walau kadang Tuhan seolah "diam" dan tidak terlihat, Dia sedang merajut jalan keselamatan bagi kita di balik layar, sama seperti yang Dia lakukan bagi Ester dan Mordekhai.

 2. Rayakan Setiap Kebaikan Kecil: Jangan hanya fokus pada masalah yang belum selesai. Ingat dan hitunglah berkat Tuhan satu per satu. Jadikan hidup kita penuh ucapan syukur.

 3. Berbagilah di Masa Sukacita: Sama seperti orang Yahudi yang saling mengirim bingkisan, mari kita miliki hati yang murah hati untuk berbagi kebahagiaan dan berkat kepada sesama yang membutuhkan di sekitar kita.


Sahabatku, ingatlah nusuh boleh merancangkan yang jahat, dunia boleh menekan kita, tetapi jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita? Mari jalani minggu yang baru ini dengan iman yang teguh, karena Allah yang menyelamatkan bangsa Yahudi di zaman Ester adalah Allah yang sama yang menyertai dan membela hidup kita di dalam Yesus Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.


Salam dari kami:

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


BERTINDAK DENGAN CARAORANG PERCAYA

 Catatan Minggu VI S.Trinitatis

Minggu, 12 Juli 2026

Ev. 3 Yohanes 3;5-8




BERTINDAK DENGAN CARA ORANG PERCAYA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini mengajak kita untuk menghidupi iman percaya. Orang yang menghidupi iman percayanya ditunjukkan dengan cara bertindaknya. 


Khusus di surat Yohanes yabg ketiga ini rasul menasihatkan bagaimana cara bertindak orang beriman terhadap orang asing. Rasul Yohanes menasihatkan cara bertindak orang percaya terhadap orang asing adalah kasih. Kita mengasihi saudara-saudara kita dan kita mengasihi musuh-musuh dan orang yang membenci kita. Jangan bertindak seperti orang jahat membalaskan kejahatan dengan jahat kebencian dengan kebencian permusuhan dengan permusuhan. Tetapi terimalah mereka sebagai saudara, tuntun dalam kebenaran dan jangan membalaskan perlakuan buruk dari mereka yang berlaku buruk.


Dalam sosiologi dijelaskan ada suatu sikap komunitas terfent terhadap.orang asing, ada yang menggangap orsng asing lebih unggulnsehongva membuka diri agar keunggulan orsng lain dapat meresap ke komjnitasnya. Sebaliknya.ada yang merasa taku atau menganggap orang asing menjadi ancaman pada komunitasnya inilah yang disebut dengan "xenophobia". Artinya takut terhadap orang asing, karena dengan kehadiran orang asing komunitasnya terancam. 


Sekarang dalam kotbah ini rasul Yohanes memberikan nasihat kepada kita, meneladani cara bertindak orang percaya yang nyata di dalam 3 Yohanes ini yaitu bernama Gayus. Dia orang yang saleh dan setia kepada Tuhan sikapnya terhadap ornag asing benar-benar cara orang percaya, 


Setidaknya ada tiga cara dan sikap orang percata terhadap orang asing.



1. Menerima dengan Ketulusan Hati (Ayat 5)


Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang setia, dalam segala sesuatu yang engkau lakukan untuk saudara-saudara, walaupun mereka adalah orang-orang asing. (3 Yohanes 1:5)


Amsal orang bijak mengatakan: "Sangat mudah untuk mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi sebuah kekristenan yang sejati diuji saat kita harus mengasihi orang yang belum kita kenal." Pada ayat yang kelima ini, Rasul Yohanes memberikan sebuah pujian yang luar biasa kepada seorang jemaat bernama Gayus. Yohanes menyebut Gayus sebagai "orang yang setia." Mengapa dia disebut setia? Apakah karena dia rajin beribadah di bait Allah saja? Tidak. Gayus disebut setia karena dia membuka pintu rumahnya dan memberikan tumpangan kepada saudara-saudara seiman yang belum pernah dia kenal sebelumnya—yaitu para misionaris keliling, orang-orang asing yang sedang berjalan memberitakan Injil.


Daoat kita bayangkan situasi pada zaman itu. Zaman dulu belum ada hotel yang aman, belum ada aplikasi penginapan seperti sekarang. Mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumah adalah sebuah risiko yang besar. Bisa saja mereka orang jahat, bisa saja mereka membawa penyakit, atau bisa saja mereka justru merepotkan keluarga kita.

Tetapi lihat bagaimana cara bertindak Gayus. Dia tidak melihat orang asing dengan mata kecurigaan. Dia melihat mereka dengan mata iman. Dia menerima mereka dengan ketulusan hati yang penuh. Mengapa? Karena dia tahu, di dalam Kristus, orang asing yang melayani Tuhan itu bukan lagi orang luar, melainkan saudara seiman.


Dunia hari ini mengajarkan kita untuk menjadi orang yang individualis dan penuh kecurigaan. Seringkali, ketika ada orang baru atau orang asing datang ke lingkaran kehidupan kita—baik itu di lingkungan rumah, di tempat kerja, atau bahkan di bangku gereja ini—sikap pertama kita adalah memasang dinding pembatas. Kita cenderung menutup diri karena takut kenyamanan kita terganggu.

Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: Tindakan iman orang percaya dimulai dari ketulusan hati untuk menerima sesama.

Menerima dengan ketulusan hati berarti kita menghargai setiap orang yang Tuhan izinkan berpapasan dalam hidup kita. Ketika kita menyambut orang lain tanpa pamrih, tanpa membeda-bedakan suku, latar belakang, atau status sosialnya, di situlah kita sedang memancarkan kasih Kristus yang nyata.



2. Menolong dengan Standar Yang Tinggi (Ayat 6-7)



“...Engkau akan bertindak baik, jika engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah. Sebab oleh karena nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.” (3 Yohanes 1:6-7)


Setelah kita memiliki ketulusan hati untuk menerima orang lain, tindakan selanjutnya tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Rasul Yohanes melanjutkan nasehatnya di ayat ke-6 dengan kalimat yang sangat mendalam: “Engkau akan bertindak baik, jika engkau menolong mereka... dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.”


Perhatikan ayat ini: “dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.” Dalam teks aslinya, kalimat ini memiliki arti: menolong dengan cara yang layak dan hormat, seolah-olah kita sedang melakukannya untuk Allah sendiri.

Artinya apa bagi kita? Ketika kita menolong sesama, ketika kita menolong pekerjaan Tuhan, atau ketika kita memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita berikan, tetapi Tuhan melihat bagaimana cara kita memberikannya. Tuhan menginginkan standar terbaik.

Banyak orang di dunia ini menolong dengan prinsip "sekadar". Sekadar gugur kewajiban, sekadar memberikan sisa-sisa yang kita miliki, atau sekadar memberi supaya tidak merasa bersalah. Kalau ada baju bekas yang sudah robek dan tidak layak pakai, baru disumbangkan. Memberi dan menolong dengan standar yang tinggi, artinya orang lain senang menerima bantuan bukan hang tidak berguna bagi kita tetapi yang baik dari kita kita bagi dengan orang lain jadi bukan dengan sekedar saja. 


Firman Tuhan hari ini menantang kita untuk mendobrak mentalitas "sekadar" itu. Gayus dipuji karena ketika dia menolong para hamba Tuhan yang asing itu, dia memberikan tumpangan terbaik, makanan terbaik, dan bekal perjalanan yang terbaik. Mengapa? Karena di ayat 7 dikatakan, orang-orang asing ini pergi berjalan demi nama Kristus. Mereka tidak meminta-minta kepada orang yang tidak mengenal Allah. Mereka berjalan dengan iman.

Saudara-saudari, setiap kali kita mengulurkan tangan untuk menolong sesama, khususnya mereka yang bergerak demi kebenaran dan kasih, ingatlah bahwa kita sedang melakukannya untuk Tuhan.


Demikian kita di tempat kerja kita, di dalam pelayanan gereja, atau di tengah keluarga, mari kita bawa prinsip ini: Berikan standar yang terbaik.

 * Jika kita menolong orang dengan tenaga kita, berikan tenaga yang tulus, bukan dengan bersungut-sungut.

 * Jika kita menolong dengan materi kita, berikan dengan sukacita dan hormat, bukan dengan sikap merendahkan orang yang ditolong.

Sebab ketika kita memberikan yang terbaik bagi sesama, kita sedang memuliakan Allah yang sudah terlebih dahulu memberikan yang terbaik bagi hidup kita—yaitu Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Jangan pernah memberikan yang "sisa" kepada Tuhan yang telah memberikan "segala-galanya" bagi kita.


3. Mengambil Bagian dalam Pelayanan Bersama (Ayat 8)


“Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh menjadi rekan-rekan kerja untuk kebenaran.” (3 Yohanes 1:8)


Kita telah melihat bagaimana kita musti menerima dengan ketulusan, dan bagaimana kita musti menolong dengan standar terbaik. Sekarang, sampai kita pada puncaknya di ayat ke-8. Rasul Yohanes menuliskan sebuah kalimat yang menjadi payung besar dari seluruh khotbah kita hari ini: “...supaya kita boleh menjadi rekan-rekan kerja untuk kebenaran.”


Perhatikan kata "rekan kerja". Di dalam bahasa aslinya, kata yang digunakan adalah sunergos—yang menjadi akar kata "sinergi" dalam bahasa kita hari ini. Artinya, bekerja bersama-sama, saling menopang, dan bergerak dalam satu tim.

Mari kita merenungkan hal ini secara mendalam: Tidak semua orang di antara kita dipanggil untuk berdiri di depan mimbar dan berkhotbah. Tidak semua orang dipanggil untuk pergi ke pedalaman menjadi misionaris, atau meninggalkan pekerjaannya demi menjadi pendeta. Tuhan menempatkan kita di ladang yang berbeda-beda. Ada yang menjadi pengusaha, karyawan, guru, ibu rumah tangga, dokter, atau petani. Tetapi dengarkan kebenaran ini: Setiap kita memiliki panggilan yang sama untuk menjadi rekan kerja Allah dalam menyatakan kebenaran.


Ketika Gayus membuka pintu rumahnya, memberikan makan, dan menyediakan bekal bagi para hamba Tuhan yang asing itu, Gayus mungkin tidak ikut berjalan kaki keliling kota untuk mengajar. Gayus tetap tinggal di rumahnya. Tetapi di mata Tuhan, melalui kebaikan dan topangan fasilitas yang Gayus berikan, Gayus telah otomatis mengambil bagian dan ikut serta dalam setiap jiwa yang diselamatkan oleh penginjil tersebut! Gayus adalah seorang partner—seorang rekan kerja dalam kebenaran.


Ini adalah sebuah penghiburan sekaligus tantangan yang luar biasa bagi kita hari ini.

Ketika Anda mendukung pelayanan gereja dengan talenta Anda (mungkin sebagai pemusik, penerima tamu, atau pendoa syafaat)... Ketika daoat berpartisipasi untuk mendukung pos-pos pekabaran Injil atau pendidikan anak-anak yang kurang mampu...

Bahkan ketika Anda menolong orang asing di luar sana yang sedang berjuang menyatakan kebaikan demi nama Tuhan.


Di situlah Anda sedang berpartner dengan Allah. Anda sedang ber-sinergi dengan kerajaan surga! Pelayanan kebenaran ini tidak pernah bisa dikerjakan oleh satu orang pendeta atau satu orang majelis saja. Ini adalah pelayanan bersama.


Penutup 


Cara kita bertindak terhadap orang asing atau sesama di sekitar kita adalah cerminan langsung dari iman kita kepada Kristus. Ketika kita menerima mereka dengan ketulusan hati, menolong mereka dengan standar terbaik, dan mengambil bagian dalam pelayanan bersama, kita sedang mengubah dunia yang dingin dan penuh kecurigaan ini menjadi dunia yang hangat oleh kasih Allah.


Jangan pernah berpikir, "Ah, saya hanyalah jemaat biasa, apa yang bisa saya lakukan?" Ingatlah Gayus. Dia bukan rasul, dia bukan pengkhotbah besar, namanya hanya dicatat sekilas di dalam surat yang pendek ini. Namun, ketulusan dan kerelaannya menjadi rekan kerja bagi kebenaran dicatat abadi di dalam Alkitab untuk menjadi teladan bagi kita semua hari ini.

Mari kita pergi dari tempat ini dengan komitmen baru: menjadi rekan kerja Allah yang setia, di mana pun Tuhan menempatkan kita minggu ini.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin! Tuhan memberkati


Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



Jumat, 24 Juli 2026

KESELAMATAN BAHI SEMUA ORANG

 Catatan Kotbah Minggu V S.Trinitatis

Minggu, 5 Juli 2026

Ev. Zakaria 8:20-23




KESELAMATAN BAGI SEMUA ORANG


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati keselamatan dan perlindungan merupakan lebutuhan utama manusia. Zaman dahulu orang membangun kota disertai dengan pembangunan tembok keliling yang tinggi dengan tujuan perlindungan. Semua penduduk kota amang dsri sersngan musuh. Dalam konteks yang berbeda demikian kita di zaman ini kata "safety" (kedelamatan) merupakan sesuatu yang sangat penting. Contohnya jika anda naik mobil atau pesawat selalu diingatkan untuk menggunakan safety belt (belt keselamatan). Bagi yang kerja di pabrik dan di lapangan akan selalu diwajibkan memakai pakaian pelindung kecelakaan kerja. Bahkan tidak sedikit orang mengasuransikan dirinya, usahanya dalam asuransi dengan tujuan safety dan perlindungan.


Bangsa Israel kembali ke Yerusalem, Allah memerintahkan mereka kembali membangun tembok Yerusalem dan membangun Bait Allah kembali. Allah akan hadir dan berdiam di Sion, Allah sendiri akan menjaga dan melindungi umatNya. Dari Sion datang keselamatan dan perlindungan umatNya. Allah memerintah dari Sion melindungi dan menyelamatkan umatnya dari ancaman bangsa-bangsa sekitar. Bahkan dalam penglihatan Zakaria, Allah bukan hanya melindunhi dan menyelamatkan umatNya, tetapi akan datang banyak bangsa-bangsa yang mencari keselamatan kepada Tuhan. 


Itulah sebebnya penting pembangunan tembok Yerusalem dan Bait Allah. Masalahnya adalah pembangunan itu tertunda, ada banyak orang-orang yang telah kembali dari pembuangan Babel tidak peduli terhadap pembangunan tembok Yerusalem dan Bait Allah. Demikian Nabi Zakaria hadir untuk memotivasi umat Allah membangun kembali Bait Allah yang terbengkalai. Bagaimana mungkin Allah hadir di Sion, sementara mereka tidak mau merampungkan pembangunan Bait Allah. 


Inti kitab Zakharia adalah pesan pengharapan dan dorongan bagi bangsa Israel untuk membangun kembali Bait Allah setelah kembali dari pembuangan di Babel. Kitab ini menegaskan bahwa rencana Allah pasti digenapi dan menubuatkan secara detail tentang kedatangan Mesias (Yesus Kristus) di masa depan.


Konteks Kitab Zakharia berada pada masa pasca-pembuangan, tepatnya ketika bangsa Yahudi kembali dari pembuangan di Babel ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Allah. Nabi Zakharia melayani sekitar tahun 520–518 SM, di bawah pemerintahan Raja Darius I dari Persia. Raja Koresh yang Agung sebelumnya telah mengizinkan orang Yahudi pulang pada tahun 538 SM.


Zakharia (bersama rekannya, Nabi Hagai) bertugas memotivasi umat Israel untuk melanjutkan pembangunan Bait Allah Kedua yang sempat terbengkalai. Karena Zion adalah kota Allah, Allah hadir dan memerintah dari Sion


1. Keselamatan Bagi bangsa-bangsa


Zakharia 8:20 (TB) Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. 


Keselamatan akan datang dari Sion, bukan hanya untuk umat Allah, tetapi dalam penglihatan nabi Zakaria masih akan datang banyak bangsa-bangsa yang akan datang menerima keselamatan dari Sion. Keselamatan bukan hanya untuk Yehuda semata tetapi kepada seluruh bangsa - bangsa. 


Apa yang disampaikan oleh Nabi Zakaria ini terus digenapi di dalam perjalanan gereja. Yesus mengutus murid-muridnya memberitakan Injil dan mengajar serta membaptis mereka di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, Segala bangsa ikut menerima keselamatan. Jumlah umat Kristen di seluruh dunia diperkirakan mencapai 2,3 hingga 2,5 miliar jiwa, yang menjadikannya agama terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Joshua Project, umat Kristen ini tersebar di lebih dari 6.400 suku bangsa (people groups) yang berbeda di seluruh dunia.


Ada kesan bagi sebahagian orang yang telah kembali ke Yerusalem, tidak peduli lagi pada pembangunan Bait Allah, mereka membangun rumah, kebun dan ladang serta berbagai upaya lainnya namun mengabaikan pembangunan Bait Allah. Itu suatu bukti bahwa umat yang kembali da pembuangan 


2. Mari melunakkan hati Tuhan


Zakharia 8:21 (TB) Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami pun akan pergi! 


Ada istilah yang menarik dipakai oleh nabi Zakaria dalam kotbah ini "melunakkan hati Tuhan". Melunakkan hati Tuhan" adalah tindakan atau sikap seseorang yang dengan sungguh-sungguh berdoa, merendahkan diri, dan bertobat di hadapan Tuhan. Ini adalah pengakuan akan kedaulatan Tuhan, di mana manusia berupaya memohon belas kasih, pengampunan, atau anugerah dari-Nya saat menghadapi kesulitan atau akibat dari kesalahan. 


Dalam PL setidaknya kita temukan 6 kali muncul istula ini "melunakkan hati Tuhan" dan 3 kali itu di dalam kitab Zakaria (7:22; 8:21, 8:22:) selebihnya pada Kejadian 32:11 2 Tawarokh 33:12 Mikha 1:9. Jika kita perhatikan konteksnya permohon dengan sikap rendah hati dihadapan Tuhan. Allah mutka dan kalau murkanya tiba semua akan binasa. Disinilah istilah melunakkan hati Tuhan yakni dengan memohon dan mengasihani.


Mengapa Zakaria sampai tiga kali memakai istilah ini suatu pertanyaan penting. Bagi Zakaria Allah telah mengasihani umatNya, sedungguhnya wajar kakau Tuhan murkah dan marah. Allah telah memulangkan mereka dari pembuangan Babel ke Yerusalem, mereka telah banyak memulai aktifitas dan sudah ada yang mapan dengan rumah-rumah, ladang dan ternak tetapi mereka mengabaikan partisipasi membangun Bait Allah. Mereka diperintahkan membangun Bait Allah bertujuan untuk kesejahteraan mereka, namun banyak yang mengabaikannya. Sikap seperti ini akan mendatangkan murka Allah. 


Disinilah Zakaria memotivasi umat Allah untuk menaati perintah Allah menuntaskan pembangunan Bait Allah. Cara itulah itulah yang terbaik untjk melunakkan hati Tuhan. Beribadah dan menaati perintahNya serta menjntaskan pembangunan Bait Allah di Yerusalem. Allah hadir dan menyertai umatNya. Bukan hanya itu, bangsa-bangsa akan datang mencari Tuhan di Sion. 


3. Tuhan menyertai kamu


Zakharia 8:23 (TB) Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Allah menyertai kamu!" 


Nabi Zakaria mentampaikan akan ada pertambahan orang-orang yang datang beribadah ke Sion. Mereka adalah orang-orang yang telah mengetahui orang yang di Urapi dari Yahudi. Bangsa-bangsa akan datang menyembah Allah di Sion karena mereka mengetahui umat Allah diberkati oleh Tuhan.


Apa yang disampaikan oleh Zakaria ini sama seperti seorang perempuan hang sudah lama sakit pe darahaan, saat Yesus lewat di kotanya, dia tidak bekesempatan mendapat penumpangan tangan Yesus, tetapi dia berperinsip hanya dengan menjamah jubahNya saja aku sudah sembuh. Matius 9:20-21 (TB) Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.

Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." 


Demikianlah Zakaria melihat "kecemburuan" aatau kerinduab bangsa-bangsa kepada umat Allah yang telah diberkati oleh Tuhan. Setelah bangsa-bangsa melihat dan mengetahuinya Allah telah memberkati Israel pada akhirnya mereka datang dan mengajak orang banyak orang datang menyembah Allah di Sion. 


Sahabat yang baik hati, kasih Allah universal. Dia bukan hanya memberkati Israel, tetapi memberkati semua orang, segala bangsa. Keselamatan datang dari orang yang diurapi dari Yahudi tetapi keselamatan bukan hanya untuk Israel tetapi kepada semua orang. 


Apa yang dinubuatkan Zakaria telah digenapi. Allah telah menggenapi janji keselamatan di dalam Yesus Kristus, barang siapa yang percaya kepadanya tidak akan binasa. Yesus mengutis murid-muridNya menjadikan segala bangsa menjadi murid dan membaptis mereka serta mengajar mereka melakukan kehendak Allah. Kotbah minggu ink mengingatkan kita juga tanggungjawab orang percaya mengabarkan keselamatan ke segala bangsa sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan Yesus. (Baca Mati 28:19-20). Marilah kita menunaikannya agar semua orang beroleh keselamatan. Amin. Tuhan memberkati!


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


Sabtu, 27 Juni 2026

KASIH YANG MENGGEMBIRAKAN DAN MENGUATKAN

 Catatan Kotbah Minggu IV S.Trinitatis

Minggu, 28 Juni 2026

Ev. Filemon 1:4-7




KASIH YANG MENGGEMBIRAKAN DAN MENGUATKAN


Selamat hari Minggu, sahabat yang baik hati. Kasih bukanlah buta tetapi kasih itu membangun dan menguatkan. Mengasihi tidaklah selalu menggembirakan, kadang harus berjerih, berjuang dan kadang tindakan kasih tidak disambut dengan baik namun tindakan mengasihi pasti memberikan sukacita dan membangun. Kasih kadang tidak nyaman karena akan menegor orang dalam kesalahan, kasih harus lapang dada karena harus menerima orang melukai hati serta memaafkannga. Mengasihi akan menuntun orang untuk memperbaiki kesalahannya.  Kasih tidaklah buta karena kasih yang buta akan membuat seseorang membenarkan segala sesuatu terhadap orang yang dikasihinya bahkan membenarkan kesalahan. Sehingga bisa saja seseorang tidak menyadari kesalahannya. 


Sahabat yang baik hati! Surat Filemon menjadi contoh bahwa kasih itu harus membangun. Paulus memberikan nasihat kepada Filemon agar mengasihi Onesimus dan memberi kesempayan bagi Onesimus untuk kembali ke Filemon. Jika kita baca  keseluruhan surat ini Onesimus pernah melakukan kesalahan terhadap tuannya Fileman. 


Paulus berjumpa dengan Onesimus saat dipenjara. Moment di Penjara membuat Paulus berkesempatan memberikan nasihat kepada Onesimus. Atas perjumpaan yang kreatif inilah, setelah Paulus mendalami kasus Onesimus dan keyakinan Paulus akan ketulusan hati Onesimus untuk berubah, Paulus meyakinkan Filemon agar kembali menerima Onesimus ke rumahnya, bukan sebagai hamba, namun sebagai saudara yang kekasih yang telah beriman kepada Yesus Kristus.


Sahabat yang baik hati sesuai dengan topik Minggu ini, kasih yang menggembirakan dan menguatkan. Karena itu baiklah kita menggali beberapa pesan penting.


1. Jangan menutup diri dalam kesalahan.


Perjumpaan Paulus dengan Onesimus menjadi suatu perjumpaan kreatif, Onesimus pernah melakukan kesalahan terhadap Filemon. Mungkin Filemon merasa sudah sebagai tuan yang baik, namun tak berterima kesalahan yang dilakukan oleh Onesimus. Ada dua kemungkinan kesalahan Onesimus dari catatan surat Filemon.


a. Melarikan diri: Onesimus kabur dari rumah tuannya di Kolose untuk menghindari ikatan perbudakan. Menurut hukum Kekaisaran Romawi saat itu, tindakan ini adalah pelanggaran berat yang bisa dihukum dengan hukuman fisik yang keras atau bahkan kematian.

Seorang budak yang melarikan diri pastilah tidak akan tenang, dia akan dikejar oleh rasa takut, berjumpa dengan orang lain. Pada jaman Romawi budak yang lari akan dihukum mati. Disinilah mungkin kesalahan Onesimus dan dalam pelarian entah kenap dipenjara dan berjumpa dengan Paulus.


b. Tindak Pencurian / Penipuan: Sebelum kabur, Onesimus diduga membawa lari uang atau melakukan penggelapan yang merugikan harta milik Filemon. Hal ini tersirat dalam Surat Filemon 1:18-19 di mana Paulus menawarkan diri untuk mengganti semua kerugian yang diakibatkan oleh Onesimus. Kerugian apa dan berapa besar kerugian yang diakibagkannya tidak disampaikan dengan rinci. Pailus mengetahui semuanya dalam percakapannya. 


Inilah percakapan pastoral yang sesungguhnya, memahami dan mendalami permasalahan yang terjadi.  Setelah melakukan percakapan pastoral, Paulus meyakinkan Filemon tentang kesalahan Onesimus. Paulus menyakinkan bahwa Onesimus telah menyadari kesalahan, dan berkenan memperbaiki kesalahan. Paulus sebagai hamba Tuhan membimbing Onesimus menydari kesalahan dan memberikan peneguhan sehingga dia berkenan kembali ke Filemon untuk memohon maaf dan memperbaiki kesalahanya kepada Filemon


Perjumpaan Paulus dan Onesimus merupakan perjumpaan kreatif, Onesimus tidak menutup diri akan kesalahannya, dia senang ada orangbyang tepat membuka diri atas kesalahan hang dilakukannya. Onesimus dihadapan Paulus mengadai kesalahannya dan mau memperbaiki diri. Ada orang menutup diri dalam kesalahanya, bahkan tetap membela diri dalam kesalahan, akhirnya terbentuk hati yang beku, keras dan sulit diperbaiki. 


2. Kasih itu mengampuni dan memaafkan:


Filemon orang yang tetap mengasihi namun apakah dia masih menutup diri pada kesalahan Onesimus? Kalau kita beriman, meyakinkan Yesus yang penuh kasih dan pengamounan, tetapj mengapa kita tidak mengampuni dan memaafkan? Disinilah kotbah ini bagaimana Paulus meyakinkan Filemon agar kasihnya yang selalu ditunjukkan kepada jemaat dan persekutuan gereja harus bersedia pula memaafkan orangbhang bersalah kepada kita. 


Mungkin Filemon telah melupakan Onesimus dan dia tidak peduli lagi dengan hidupnya karena itu telah dianggap masa lalu. Filemon tidak berhenti mengasihi di persekutuan, tapi hati tidak pernah membuka lembaran baru bagi kesalahan orang lain. Disinilah Paulus menyapanya. Kasih itu terbuka untuk mengampuni.


Mari kita simak pesan Paulus ini: Filemon 1:5 (TB)  karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus. 


Kalau kita mengasihi dan menyatakan beriman kepada Yesus Kristus didalamnya harus mengampuni.  Ada dua hal yang menari disini:


Pertama: Paulus mengasihi Onesimus dan dari percakapan pastoral yang dilakukan oleh Paulus, bahwa Onesimus wajar dan layak mendapatkan kesempatan memperbaiki keselahan.


Kedua, Paulus mengasihi Onesimus agar Filemon tidak memiliki kasih yang palsu, menunjukkan kasih pada orang lain namun menutup diri pada orang yang berslaah kepadanya. Paulus disini menyentuh hati Filemon bahwa kalau kita benar-benar mengasihi dan beriman kepada Tuhan Yesus kita harus mengampuni dan menuntun orang memperbaiki kesalahannya.


Ayo kita tes: coba ingat musuhmu atau orang yang melukai hatimu, jika dia sekarang berada di depanmu bagaimanakah sikapmu? Sikap dan ekspressi wajah kita akan menentukan apakah kita seperti Filemon.


3. Kasih menggembirakan dan merestorasi hubungan.


Kesalahan membuat Onesimus lari dari tuannya, seorang budak yang lari pada masa itu sangat terancam, ketakutan bahkan jika ketahuan akan dihukum mati. Jadi sekalipun dia berhasil lari dari Filemon, sesunggunya dia mengalami ketakutan dan kecemasan.

Disisi lain juga Filemon demikian, sekslipun dia menunjukkan kasih di dalam persekutuan dan banyak pelayanan yang dilakjkan, namun luka dihatinya oleh Onesimus disembuhkan. 


Disinilah kehadiran Paulus, menyapa Filemon agar membuka hati memaafkan Onesimus, merestorasi hubungan Filemon dan Onesimus. Mereka harus dipulihkan Filemon memaafkan sehingga luka oleh Onesimus disembuhman. Oleh kasih dan pengampunan Onesimus bebas dari kesalahan dan rasa takut. 


Kebwrhasilan Paulus adalah keduanya diisi oleh Kasih. Osenimus oleh kasih diberi ruang menyadari kesalahan dan memperbaiki keaalahan. Pada pihak Filemon, memberi hati untuk mengampuni dan memaafkan sehingga hubungannya dengan Osenimus pulis tidada luka. Inilab yang menggembirakan saat luka di hagi sembuh, ada kegembiraan karwna rasa taku san rasa benci oleh karena kesalahan telah disembuhkan.


Kasih menggembirakan dan menguatkan:  Jika kita mengasihi maka lakukanlah yang menggembirakan dan mendatangkan sukacita dan buah yang baik bagi orang lain.  Kehadiran kita yang hidup di dalam kasih harus menjadi sukacita bagi orang lain. 


Kasih menggembirakan dan menguatkan  di dalam hidup ini pasti ada kesalahan, dalam hidup ini tidak ada yang sempurna. Ada kalanya kesalahan terjadi baik sengaja maupun tidak sengaja. Mari jaga sikap jangan menjadi hakim yang memvonis orang lain dalam ketakutan atau mengancam, tetapi hadirlah sebagai sahabat yang menegor, menasihati san sahabat yang menolongnya memperbaiki kesalahan. 


Sahabatku, selamat hari minggu! Kita hidup karena kasih, karena itu tinggallah di dalam kasih itu. Kasih yang ada pada kita akqn menggembirakan orang lain. Kasih yang ada pada kita akan menguatkan orang lain memperbaiki kesalahannya. Amin! Tuhan memberkati! 


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


Kamis, 25 Juni 2026

PEMELIHARAAN TUHAN YANG UNIVERSAL

Catatan Kotbah Minggu III S. Trinitatis

Minggu, 21 Juni 2026

Ev. Kejadian 21:8-21




PEMELIHARAAN TUHAN YANG UNIVERSAL


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, hati-hati dengan konflik keluarga, jika tidak ditangani dengan baik akan melahirkan warisan sejarah yang sulit diselesaikan di kemudian hari. Itulah salah satu pesan kotbah Minggu III setelah Trinitatis ini dengan belajar dari Kisah Sarai mengusir Hagar dengan anaknya Ismael. Padahal Sarai sendiri yang meminta Abraham untuk mendapat anak dari Hagar. Hagar adalah hambanya Sarai, hamba pada masa itu adalah milik tuannya. Ismail pun lahir dan Abraham memounyai keturunan. Cerita pun akhirnya berbeda saat janji dipenuhi atas Sarai yang melahirkan Ishak. Bagi Abraham dan Sarai Ishak adalah anak perjanjian. Akhirnya Sarai menyuruh Abraham menyingkirkan Ismail dan Hagar. Konflik Ishak dan Ismail menjadi salah satu warisan konflik dalam sejarah peradaban, sensitif dan sukit dipecahkan karena bukan hanya maslaah historis tetapi soal doktrin dan keyakinan. 


Alkitab adalah sumber kebenaran, pemberitaan yang terbuka menyampaikan sifat kemanusiaan dan sikap Allah yang melampauhi sifat kemanusiaan. Belajar dari kotbah ini kita menemukan Allah telah mengikat perjanjian dengan Abraham (pasal 12), dan telah menjanjikan keturunan kepada Abraham (pasal 17), namun sebeljm janji dipenuhi sifat manusiaei itu muncul . Maka untuk memperoleh keturunan Sarai membujuk Abraham agar mengambil Hagar dan memberikan anak baginya. Pada konteks ini, anak Hagar adalah milik Sarai karena Hagar adalah hamba Sarai. Menurut tradisi Alkitab bahwa mehadiran Ismail nampaknya hanya skenario cadangan dibalik cerita utama kisah Perjanjian Allah Abraham. Kemudian, Tuhan pun memberkati Sarai dan melahirkan Ishak bagi Abraham. Kelahiran Ishak menjadi penting karena dialah perlwlsris Janji atau anak perjanjian, maka pertanyaan bagaimana dengan Ismail? Narasi kotbah hari ini Sarai tidak senang melihat Ishak dan Ismail bermain bersama. Disinilah muncul konflik dalam keluarga Abraham. Sarai akhirnya mendeaak Abraham mengusir Hagar dan anaknya Ismael. 


Allah hadir dalam konflik terjadi: Tuhan hadir sebagai pemberi jalan keluar dari rasa frustrasi.dan kesulitan hidup yang dihadapi. Allah memelihara hidup Hagar dan memberkati keturanan Abraham dari Ismael jadi 12 kerajaan besar (baca Kej 17). Ishak adalah anak perjanjian, keturunannya adalah pewaria janji Allah. Dari kotbah ini kita diarahkan kepada Allah setia.pada janjo, pemelihara dan pemberi kehiduoan kepada umatNya.


Baiklah kita perdalam kotbah ini;


1. Konflik keluarga: warisan konflik dalam sejarah peradaban.


Kita bersyukur memiliki cerita Alkitab yang daoat dijadikan sebagai bahan pelajaran dan refleksi. Alkitab menceritakan sifat manusia, masalah dan konflik bathin yang dihadapi. Setiap konflik di dalam keluarga memiliki persoalan tersendiri dan kadang sulit dipecahkan. Satau dari narasi Alkitab adalah Allah hadir memberikan jalan keluar atas masalah yang dihadapi. Makna da pesan cerita Alkitab inilah hang terus digali secara tajam agar dalam merelevansikan cerita Alkitab di jaman kini.


Salah satu yang perlu disapa oleh kotbah ini adalah konflik dalam.kelyarga, agar jangan larut mempersoalkan yang sulit dipecahkan tetapi bersyukurlah kepada pemeliharaan Allah. Jika fokus pada konflik maka sulit untuk mencari titim temu, tetapi saat kita memaknai cerita pemeliharaan Tuhan semuanya bisa menerimanya. 


Ada banyak marga-marga Batak yang bersoal tentang tarombo soal panggilan dan status. Tidak sedikit diantaranya yang berpengadilan hingga sulit di damaikan. Kisah Hagar ini patut menjadi pelajaran. Ada kalanya secara historis tidak ada titik temu dan sulit untuk diterima, tegapi terjadi dalam sejarah dan realitas yang mau tidak mau harus diterima.  


Sebagai contoh, pernah menghadapi dalam pelayanan, dimana qda keluarga yang "diband" dari gereja karena pagodanghon parumaennya dari anak keduanya. Ada anaknya dua laki-laki, namun anaknya meninggal akhirnya bapaknga pagodangjon parjmaennya. Setelah di pagodang ada pula anak dari pernikahan mereka satu laki-laki. Di usia 90 tahun bapak itu meninggal dan menyisakan warisan sejarah yang sulit dalam keluarga. Masalahnya bukan hanya soal apakah gereja melayaninya atau tidak, gereja selalu ada pengampunan tetapi ada suatu masalah yang sulit diselesaikan di dalam kekuarga. Memanggil apakah kedua anak pertama cucu bapak yang meninggal kepada anaknya lahir dari parumaen yang diperisterinya (dipagodang). Apakah anggia atau uda? Dsri sudut anak yang lahir hasil dipagodang apakah memanghik anak atau memanggil abang? Sulit untuk dipertemukan dari historis tetap konflik, dipanggil uda ya karena itu anak dari ompungnya. Namun tidak akan brrterima juga karena dia adeknya dari rahim ibunya. Inilah contoh konflik keluarga yang akhirnya mewariskan sejarah yang sulit direkonsiliasikan. 


Tentu masih banyal contoh konflik keluarga yang menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Kotbah ini mengingatkan jangan lohat perbuatan manudia yang menyakiti dan melukai tetapi bersyukurlah atas pemeliharaan Tuhan yang universal. Itulah teologi yang dikembangkan, karena saat Abraham meninggal seluruh anak-anak Abraham baik dari Ishak mauoun dsri Ismael memberangkat Abraham ke leluhurnya. Baca Kejadian 25:7-9 (TB) Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre,


Ini moment penting: dalam dialog teologi anak-anak Abraham, dari historis keturunan Ismael akan sulit menerima kenyataan seperti ini. Jika akar historis yang pahit ini terus diingat maka dendam dan pembalasan akan selalu muncul dalam alam bawah sadar manusia. Tetapi dalam kotbah ini Kisah pahit Hagar dan Ismael terobati dengan pemeliharaan Tuhan. Tuhan mememlihara dan memberikan jaminan kepafa Hagar dan Ismael. Tuhan menolong dan memberikan mata air bagi Hagar sebagai sumber kehidupan mereka dan keturunannya.


Dalam Kotbah ini kita perlu memaknai l: Allah hadir menyelesaikan konflik historis dengan memberikan jaminan kehidupan kepada Hagar dan menjadi sumber kehidupan kepada anak-anak Ismael. Allah memberkati Hagar dan Ismael dan memberikan sumber kehidupan kepada Ismael dan keturunanNya tanpa mengabaikan janjiNya kepada Abraham dengan melahirkan Ishak dari rahim Sara. Sebagaiman disebutkan pada Kejadian 21:12 (TB) Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.  


2. Pemeliharaan Tuhan yang universal 


Melihat manusia kita akan mengingat dua hal ini, yaitu sifat baik dan buruknya. Sifat baik seseorang akan mensyukuri bahwa seseorang dipakai Tuhan menjadi saluran berkat dan sumber air kehidupan bagi kita. Sebaliknya pengalaman buruk dan pahit dari seseorang akan melahirkan luka dan sakit hati. Orang yang tidak mengampuni akan menyimpan sakit hati dan dendam. Niat untuk membalaskan dendam dan sakit hati akan melukai orang lain, sehingga terjadi pertentangan yang saling melukai. 


Intervensi Allah dalam kehidupan Abraham memberikan ruang pelajaran, Allah pemelihara hidup ini. Jika anda senang pada seseorang bersyukurlah kepada Tuhan. Saat terluka dan sakit hati oada seseorang mohonlah petunjuk untuk menyembuhkan luka dan jalan hidup yang lebih damai. 


Demikian Allah memelihara Hagar dan Ismael

Kejadian 21:17-18 (TB) Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 

Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." 


Pemeliharaan Tuhan selalu tersedia bagi orang baik dan orang buruk karena Tuhan menerbitkan matahari bagi semua orang. Pemeliharaan Tuhan nyata pada orsng yang dibuang dan terbuang. Tegapi jangan paksa Tuhan membalaskan luka kepada orang yang melukaimu. Tuhan itu adil dan bersyukurlah kalau sudah disembuhkan. 


3. Pesan bagi kita saat ini


Ada banyak hal makna pesan cerita pemeliharaan Tuhan dsri kotbah minggu ini: 


3.1. Allah yang Maha Melihat (El Roi): Saat berada di dekat mata air dalam pelariannya yang pertama, Hagar menyebut Tuhan sebagai El-Roi, yang berarti "Allah yang melihat". Ini mengajarkan bahwa Allah tidak pernah membiarkan orang yang terpinggirkan atau tertindas. Hagar, seorang budak perempuan asal Mesir, dilihat dan diperhatikan secara pribadi oleh Allah. 


3.2. Penyediaan Tuhan yang selalu ada: Dalam peristiwa di Kejadian 21, ketika Hagar menangis karena kehabisan air dan putus asa, Allah membukakan matanya untuk melihat sebuah sumur. Para penafsir menekankan bahwa air tersebut sebenarnya sudah ada di sana. Mata air itu melambangkan bahwa Tuhan sering kali menyediakan pertolongan dan jalan keluar yang tidak disadari oleh manusia karena kebutaan rohani akibat keputusasaan.


3.2. Simbol perkenanan dan janji Allah: Di dekat mata air (Sumur Lahai-Roi), Allah memperbarui janji-Nya kepada Hagar bahwa keturunan Ismael akan menjadi bangsa yang besar. Bagi orang Kristen, ini menunjukkan bahwa kasih karunia Allah berlaku bagi semua orang, termasuk mereka yang berada di luar garis keturunan perjanjian utama (Ishak). 


3.4. Keteguhan iman dalam kesulitan: Saat bertemu dengan Malaikat Tuhan di mata air yang pertama, Hagar diperintahkan untuk kembali tunduk kepada Sarai meskipun situasinya sulit. Ini ditafsirkan sebagai bentuk didikan Allah agar Hagar belajar taat dan berserah penuh kepada kedaulatan-Nya. (Baca Kejadian 16:1-15)


Sahabat yang baik hati, apapun masalah yang dihadapi dan sebesar apapun konflik yang terjadi di dalam keluarga dalam kehidupan segari-hari, percayalah: Tuhan memelihara hidup kita. Amin! Tuhan memberkati.🙏🙏


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy

Sabtu, 13 Juni 2026

DIBENARKAN OLEH KARENA IMAN

 Catatan Kotbah Minggu II Stlh Trinitatis



Mingggu, 14 Juni 2026

Ev. Galatia 2:15-21


DIBENARKAN OLEH KARENA IMAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, ajaran keselamatan hanya oleh iman merupakan inti dari ajaran kekeristenan. Khususnyabgeologi reformasi yang didasai dsri pandangan Marthin Luther.  Ada pertanyaan M.Luther yang membuat dia melakukan reformasi  dengan apakah aku selamat? Dia merenungkan praktek gereja, pemahaman tentang keselamatannseolah daoat dapat dibeli apalagi memperdagangkan surat penghapusan dosa. Atas pendalaman terhadap surat Galatia, Roma dan Mazmur Marthin Luter menemukan jawaban: Manusia diselamatkan oleh karena iman. Keselamatan adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus yang diterima di dalam iman. Marthin Luther dalam gerakan reformasi didasarkan pada tiga hal ina: sola gratia: hanya oleh karena anugerah, sola fide: hanya oleh karena iman dan sola scriptura: hanya oleh kitab suci. 


Hanya oleh karwna iman, demikian juga kotbah minggu ini diperdengarkan kepada kita saat ini sebagai pengajaran mendasar dalam kman Kristen.  Di dalam kotbah ini ditekankan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus secara gratis. Yesus Kristus adalah jalan keselamatan tidak ada syarat lain yang perlu ditambahkan di dalam keselamatan Pengorbanan Yesus di kayu salib adalah penebusan dan pembenaran manusia dari dosa dan maut. 


Gereja mula-mula menghadapi pergumulan karena ada saja kalangan tertentu dengan menambahkan syarat keselamatan dalam ajaran Kekristenan seperti yang dialami Paulus di jenaat Galatia. Ada tekanan-tekanan dari Kristen Yahudi menambahkan syarat Taurat kepada non Yahudi. Disinilah Paulus menjelaskannya keselamatan hanya oleh iman dan hal itu telah ditetapkan juga keputusan para rasul di Konsili Yerusalem.


1. Perdebatan di Galatia


Paulus menjelaskan ini dalam surat Galatia sangat tegas karena masih ada kelompok tertentu yang menambahkan syarat keselamatan berupa Taurat dan Sunat. Bagi Paulus tidak ada syarat lain dalam keselamatan, keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus telah melaksanakannya sempurna di dalam pengorbananNya di kayu salib.  Keselamatan bukanlah upaya manusia melakukan hukum Taurat, keselamatan itu adalah anugerah Allah yang kita terima di dalam Yesus Kristus. 


Paulus menyadari bahwa kaum Yahudi tidak terpisahkan dari pekerjaan Taurat dan Sunat. Taurat telah menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan mereka. Demikian dengan sunat, bahwa mereka harus disunat sebagai bukti anak-anak Abraham. Paulus menyadari hal utu namun harus dipahami bukan sebagai syarat dalam keselamatan. Itulah sebabnya dalam memberitakan Injil ke non Yahudi tidak menyertai Taurat dan Sunat, bagi Paulus menerima Yesus sebagai Yuruselamat adalah dasar iman. Manusia tidak beroleh keselamatan karena melakukan H.Taurat tetapi kita peroleh secara cuma-cuma dari Allah di dalam Yesua Kristus. 


Perdebatan diantara rasul memgenai hukum Yaurat kepada non Yahudi telah selesai dan ditetapkan di dalam Konisili Yerusalem Pertamayakni sidang para rasul yang tertulis pada Kisah Rasul 15:1-21. Semua telah sepakat dan setuju dengan kesaksian Petrus: tidak membebankan Hukum Taurat dan sunat bagi non Yahudi. Selengkapnya dalam Kisah Para Rasul 15:10-11 (TB)   disebutkan: "Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?

Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."


Konslli Yerusalem ini juga menetapkan dan penerimaan Kristen non Yahudi hasil pemberitaan Paulus dan Barnabas tanpa menyertakan H. Taurat dan sunat. Semua bersukacita karena saling menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus. Di dalam Kristus semua sama baik Yahudi maupun non Yahudi, laki-laki maupun perempuan, tidak ada hamba atau tuan semua sama di dalam Yesus Kristus (Baca Gal 3:28).


Jika keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, terus apa manfaat hukum Taurat bagi manusia? Disinilah Paulus menjelaskan tengang arti pentingnya hukum Taurat bagi orang yang menerima Yesus sebagai Yuruselamat. 


2. Hukum Taurat dan Injil


Bagi Yahudi Hukum Taurat adalah perintah Allah yang wajib dipatuhi dan diikat dengan perjanjian. Sebagai umat Allah mereka dituntut untuk setia melakukan hukum Taurat. Latar belakang pemberian  hukum Taurat adalah Tuhan hendak membentuk umat Allah yang kudus, mereka tidak sama seperti bangsa asing. Israel adalah umat pilihan Allah yang diikat dengan perjanjian: Allah adalah Allah mereka dan Israel adlaah umat Allah. Saat mereka menerima hukum Taurat ada dua konsekwensi yaitu berkat dan kutuk. Bangsa Israel akan diberkati oleh Tuhan saat mereka setia memelihara hukum Taurat (Ulangan 28:1-14) namun mereka akan terkena kutuk atau hukum Allah saat mereka melanggar Hukum Taurat (Ulangan 28:15-47)


Dalam perjalanannya adalah Yahudi sering melanggar dan tidak setia melakukan perintah Allah. Bahkan tak seorang pun yang benar dihadapan Allah karena melakukan hukum Taurat.Roma 3:9-10, 20 (TB)  Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.  Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.


Konsekwensi pelanggaran atas hukum Taurat adalah manusia berdosa dan kena berada dibawah kuk hukum Taurut.  Barang siapa yang tidak setia melakukan hukum Taurat dia akan kena kutuk. Galatia 3:10 (TB)  Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." (Baca Ulangan 27:26).


Dengan apakah manusia dapat bebas dari hukuman Allah atas pelanggaran hukum Taurat? Manusia tidak dapat bebas karena perbuatan baik. Keselamatan itu adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Kristus telah membebaskan manusia dari kutuk hukum Turat dengan menjalani kematian di kayu salib. Itulah peristiwa di salib. Galatia 3:13-14 (TB)  "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"  Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu."


Jadi dengan peristiwa salib, Kristus telah membebaskan manusia dari hukum Taurat. Sekarang pertanyaannya apa fungsi Hukum Taurat bagi orang percaya;


a. Dengan hukum Taurat, manusia mengenal kehendak Tuhan. Tuhan mengehendaki umatNya kudus dan Tuhan menghendaki umatnya menjauhkan diri dari segala segala dosa dan pelanggaran. Dengan hukum Taurat mendidik setiap orang mengenal kehendak Tuhan


b. Hukum Taurat sebagai cermin, karena di dalam hukum Taurat ada kehendak Allah, manusia menyadari dirinya tidak sanggup melakukan kehendak Allah. Jadi hukum Taurat mengenalkan kita pada doaa dan pelanggaran.  Maka setiap mendengarkan hukum Taurat manusia menyadari begitu banyak dosa dan pelanggaran yang dilakukan dihadapan Allah.


c. Hukum Taurat menuntun manusia kepada anugerah. Allah itu baik, bwrkenan memaafkan dan mengampuni doaa dan pelanggaran, hal itu dilakukan sekali untuk selamanya. Disini hukum Taurat menuntun kita kepada anugerah.


Dengan pemahaman demikian hukum Taurat sangat penting dalam hidup orang percaya karena 


3. Hidup di Dalam Kristus


Menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus konsekwensinya adalah hidup di dalam Kristus. Galatia 2: 20

Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.


Ayat 20 ini sesungguhnya menjadi refleksi pribadi yang harus dihidup. Jika ditanya, sebagai orang yang hidup di dalam Kristus sudahkan saudara mempersembahkan hidupmu untuk kemuliaan nama Tuhan, atau jangan-jangan kita masih hidup untuk menyenangkan  diri sendiri semata.


Sahabat yang baik, perubahan besar terjadi dalam hidup seorang Paulus sejak ia berjumpa, percaya dan dipilih Tuhan menjadi rasulNya. Paulus menyadari hidupnya yang dulu tidak sama lagi dengan yang sekarang. Baginya, Yesus Kristus yang rela mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia itu sesungguhnya juga telah mati untuk dia dan untuk dosa-dosanya. 


Hidup di dalam Kristus memberikan hidup ini sepenuhnya dalam kuasa dan otoritas biarkanlah Kristus.  Maka biarkanlah Kristus yang menguasai hati dan pikiranmu agar engkau dimampukan untuk melakukan yang sesuai dengan kehendak Bapa di sorga. 


Jika Kristus hidup di dalam kita maka orientasi hidup kita pun adalah Kristus. Artinya, di sepanjang hidup, kita harus senantiasa meneladani Kristus baik dalam perkataan dan perbuatan. Hidup bukan lagi untuk menyenangkan diri sendiri tetapi untuk menyenangkan Tuhan. Hidup bukan lagi untuk memuliakan diri sendiri tetapi untuk memuliakan Tuhan.


Penting untuk kita simak: "hidupku yang kuhidupi di dalam daging", artinya dalam kehidupan yang seksrarang ini dimana ada.pergumulan, ada keonhinan daging ada kebutuhan kemanusiaan kita, di dalam Kristus kita.memiliki kehiduoan baru.  Jadi hidup di dalam Kristus dapat mempimpin dan menuntun manusia memiliki hidup rohani yang berkenan kepada Tuhan. 


Bagaimana implementasi hidup di dalam Kristus ini dalam kehidupan sehari hari?  Dalam kotbah ini sata menawarkan tiga hal:


a. Hidup dalam Kristus berperan persekutuan tubuh Kristus: 

En Kristw, di dalam Kristus, kita hidup di dalam.persekutuan orang kudus yang percaya kepada Yesus Kristus. Di dalam persekutuan orang percaya kita semua anggota dan Kristuslah kepala. Jadi sebagai anghota tubuh Kristus harus ada kepatuhan dan ketaatan kepada Kristus. Hidup di dalam persekutuan Kristus mengingatkan kita akan pentingnya memelihara persekutuan di dalam jemaat; saling memperhatikan, emphati dan solider karwna kita semua adalah anggota tubuh Kristus.

1 Korintus 12:13, 27 (TB)  Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.

Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. 


b. Hidup di dalam Kristus - melakukan perintah baru

Yesus menyampaikan perintah kepada murid-muridNya. Jika.mereka benar-benar mengasihi Yesus maka mereka akan melakukan perintah baru. Apa perintah baru Yesus Kristus

Yohanes 13:34 (TB)  Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.


c. Hidup di dalam Kristus - dipimpin oleh Roh

Roma 8:14 (TB)  Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. 

Hidup di dalam Kristus menyerahkan hidup kita dipimpin oleh Roh Allah. Allah telah menertapkan kita menjadi anakNya dan kita telah menjadi ahli waris dalam kerajaanNya. Status anak Allah harus direnungkan dan status ini sangat beeharga, Anak Allah yang ditetapkan menjadi ahli waris kerajaan Allah harus dipelihara dan dijaga.

Roma 8:2, 4 (TB)  Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.  supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.


Tuhan memberkati kita semua kiranya diberi kekuatan dalam melakukan FirmanNya. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy

JANJI TUHAN SEMUANYA DIPENUHI

 Catatan Kotbah Minggu IX S.Trinitatis Minggu 2 Agustus 2026 Ev. Yosua 21:43-45 SEMUA JANJI TUHAN DIPENUHI Selamat Hari Minggu! Sahabat yan...