Catatan Kotbah Minggu Invocavit (Dungi JouonNa ma Au)
Minggu, 22 Februari 2026
Ev. Ratapan 3:49-57
TUHAN DEKAT TATKALA AKU MEMANGGILNYA
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, ada satu lagu dalam bahasa Batak: "Joujou Do Au," lagu ini mengisahkan seruan orang yang percaya atas derita yang dialami. Dalam lagu ini kita menemukan suatu sikap realitis, sekalipun kita percaya bahwa Tuhan memberikan apa yang kita minta dan selalu menjawab seruan yang kita minta namun kadang dalam hidup orang percaya harus berjalan dalam kesulitan. Allah hadir bukan saat senang dan tanpa tantangan, tetapi Allah itu ada bersama-sama dengan kita menjalani dan menyelesaikan kesulitan.
Sahabat yang baik hati, demikianlah kita menemukan perasaan pahit yang dalam dari nabi Yeremia dalam ratapan ini. Sebagai umat Allah mereka percaya bahwa Tuhan itu Maha Kuasa yang dapat menyelesaikan semua permasalahan dalam hidup, mereka percaya di dalam Tuhan ada semua jawaban dan mereka percaya Tuhan akan mendengar seruan minta tolong namun orang percaya harus hidup realistis menjalani kesulitan itu sendiri. Percaya pada Tuhan bukan dalam hal senang, tetapi memberikan kekuatan dan jalan keluar di dalam kesulitan yang dihadapi.
Kitab Ratapan adalah isi hati umat Allah yang menangis dan berurai air mata kesedihan. Sebagai umat mereka kehilangan harga diri, kehilangan kejayaan, kehilangan masa depan dan tinggal dinegeri asing menunggu kebinasaan. Apa yang membanggakan bagi mereka semua dilucuti: Bait Allah hancur, kota mereka tinggal puing, Umat Pilihan diangkut dan terbuang di negeri orang asing. Merwka meratap sedih dan hari-hari mereka berlalu dengan kesedihan dan air mata hang bercucuran.
Di dalam kitab Ratapan, nabi Yeremia juga menghantarkan kepada umat Allah mengakui kesalahan dan menyampaikan permohonan tentang pengampunan. Yeremia menyadari bahwa pembuangan ini tidak datang dengan dirinya, retapi ada kesalahan dna pelanggaran akan perintah Allah. Maka di dalam kitab Ratapan inj satu dari hal yang ditekankan adalah pengakuan bersalah dan permohonan akan pengamlunan.
Dalam segala kesedihan yang mendalam masih asa setitik harapan yakni: Ratapan 3:20-23 (TB) Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
1. Ungkapan Kesedihan atas pembuangan
Ratapan 3:20, 48-49 (TB) Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
Air mataku mengalir bagaikan batang air, karena keruntuhan puteri bangsaku.
Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya,
Jika kita membaca keseluruhan pasal 3 ini, kita akan menemukan syair-syair yang berisi dalamnya kesedihan. Bacalah 3:1-19 semuanya kesulitan dan derita yang mendalam
- sakit kena cambuk ayat 1
- dalam kegelapan ayat 2, 6
- daging dan kulit menyusut dan tulang dipatahkan ayat 4
- dikelilingi kesedihan dan kesusahan ayat 5
- Terikat rantai ayat 7
- rintangan jalan yang tisak dapat dilalui ayat 9
- laksana menghadpi beruang dan singa ayat 10
- sasaran anak panah ayat 12
- Ditertawakan dan diejek ayat 14
- Keyang dengan kepahitan ayat 15
- Gigi remuk ayat 16
- lupa akan kebahagiaan ayat 17
Ungkapan-ungkapan kesedihan ini masih banyak lagi disebutkan sepanjang pasal 3. Seluruh waktu yang dilaluinya semuanya kesedihan dan air mata, jiwa yang tertekan hingga tidak ada kata bahagia dan kesejahteraan.
2. Tertindas dan diperlakukan dak adil
Ada dua istilah yang dipergunakan oleh kitab Ratapan tentang yang mereka alamai selama dipembuangan:
2.1. Seperti burung yang diburu
Ratapan 3:52 (TB) Seperti burung aku diburu-buru oleh mereka yang menjadi seteruku tanpa sebab.
Saya masih ingat masa kanak-kanak di kampung kebiasaan membawa ketapel. Ketapel digunakan untuk menyasar burung, padahal burung yang kena belum tentu dibutuhkan hanya membuktikan sasaran kena dan yang diketapel itu kena. Jadi burung yang disasar bukan karena dibutuhkan untuk berburu hanya sasaran saja. Burung yang diburu hanya mainan saja, mereka hanya membuktikan mereka bisa mengenai, kena, terluka atau mati tkdak ada urusan dengan pemburu.
Demikianlah perasaan umat Allah di dalam pembuangan diperlakukan semena, sesuka mereka. Tidak ada kepedulian apakah mereka terluka atau mati.
2.2. Binasa tenggelam banjir
Ratapan 3:54 (TB) Air membanjir di atas kepalaku, kusangka: "Binasa aku!"
Kita baru sedih ada peristiwa Banjir dan Longsor di Simatera Utara, Barat dan Banda Aceh di bilan Nopember 2025 lalu Ribuan orang meminggal dan masih ada yang tidak ditemukan manyatnya. Hal yang sangat menyentuh sekali dari sekian peristiwa tragis itu ada satu vidio yang direkam bagaimana perjuangan keluarga harus naik ke flavon dan membuka paksa atap rumahnya agar mereka bisa kekuar dari luapan air yang menimpa mereka permukaan air terus naik dan hendak menenggelamkan mereka. Satu persatu mereka berusaha keluar dari banjir dan jika mereka tidak keluar maka luapan air yang terus meningkat akan menelan mereka.
Kitab Ratapan menjelaskan seolah hidup di dalam satu ruangan dimana banjir hendak menenggelamkan mereka. Hanya tinggal menunggu waktu dan maut akan menjemput mereka.
Dua contoh diatas dijelaskan bahwa tidak ada harapan untuk melepaskan diri karena ketidak berdayaan. Disinilah letak iman yang kita temukan dalam.kutab ratapan, begitu banyak sengsara dan kepahitan hang dialami, ketidak berdayaan melepaskan diri dari semua penderitaan namun tidak berputus asa. Dalam ayat berikut Yeremia berseru kepada Tuhan dan di dalam iman dia menemukan jawaban: Jangan Takut.
3. Jangan takut: berharap Pada Tuhan.
Ratapan 3:55-56 (TB) "Ya TUHAN, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku!
Kelebihan orang percaya adalah dalam ketidak berdayaan ada keyakinan. Menyerahkan semua beban kepada Tuhan. Selalu ada saluran komunikasi untuk menyampaikan informasi, permohonan dan keadaan kita. Iman dibuktikan dengan kesetiaan menunggu tindakan Tuhan.
Dalam segala ketidak mungkinan untuk meraih masa depan, Yeremia tidak frustasi dan tidak putus asa namun dia berseru kepada Tuhan . Dalam doanya; Ya Tuhan, aku memanggil namaMu dari dasar lobang yang dalam.
Memanggil lobang jarum, menjelaskan jalan yang semput dan sulit untuk dilalui. Umumnya kota di Jaman PL selain gerbang memiliki lobang jarum, hanya badan saja yang bisa melewati. (Band. Perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang kaya susah masuk lobang jarum Lukas 17:25)
Seruan yang disampaikan sesuatu permohonan yang sulit untuk dipenuhi. Karena tidak ada orang yang akan dengar dan mungkin sekuatbapaounkita berseru tidak akan ada yqlang mau mendengar karena berada jauh di dasar lobang. Namun sekalipun sulit bukan berarti tidak mungkin. Bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Intulah iman orang percaya. Invocavit - Allah memanggil nama kita dan menjawab seruan ninta tolong kita.
Dalam situasi terjepit, berserulah kepada Tuha, Dia sanggup membuat kita melejit
Dalam situasi djbabat, Tuhan bekerja membuag kita semakin merambat
Dalam situasi ditekan, Tuhan berkerja mendatangkan ketenangan. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy
_20260221_072849_0000.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar