Catatan Kotbah Minggu Misericordias Domini
Minggu, 19 April 2026
Ev. Habakuk 3:10-19
DALAM KESUSAHAN BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, tentu ada banyak alasan seseorang bergembira: misalnya jumpa idola, jumpa sahabat lama yang memorable, mendapatkan apa yang diimpikan atau keberhasilan dll. Kegembiraan itu ada suatu yang membuat kita bahagia dan bersuka cita. Bagaimana dengan sebaliknya, jika seseorang tidak mendapagkan apa yang diimpikannya? Tentulah ada rasa kecewa atau setidaknya elus dada menenangkan hati karena yang diharapkan belum terwujud.
Topik minggu, minggu ini mengajak kita untuk bergembira di dalam Tuhan yang tertulis dalam Habakuk 3:10-16. Alkitab sering mengajak umatNya untuk bergembira dan bersukacita karena keselamatan ada di dalam Tuhan (Band Zakaria 9:9, Kitab Mazmur). Alktab mengajarkan Tuhanlah sumber kegembiraan dan sukacita orang percaya.
Namun ada hal menarik dalam konteks Habakuk, situasi tidak menentu dan mereka dibawa ancaman dan yekanan.
Nabi Habakuk tampil pada masa yang sangat sulit, kelam, dan penuh gejolak di kerajaan Yehuda (kerajaan selatan), sekitar tahun 600-an SM. Ia melayani di tengah situasi ketidakadilan sosial, krisis moral, dan ancaman militer dari bangsa asing. Nabi Habakuk tampil:
Kerusakan Moral dan Spiritual di Yehuda: Habakuk menyaksikan kekerasan, kelaliman, dan ketidakadilan merajalela di antara umatnya sendiri, namun hukum Taurat diabaikan dan pemimpin bertindak jahat.
Ancaman Bangsa Babel (Kasdim): Kekaisaran Babel bangkit menjadi kekuatan militer yang kejam dan adidaya. Allah menyatakan akan memakai Babel sebagai alat untuk menghukum Yehuda atas dosa-dosa mereka.
Krisis Iman dan Pertanyaan tentang Allah: Habakuk bingung dan bergumul dengan Allah mengapa kejahatan dibiarkan, dan mengapa Allah yang kudus memakai bangsa yang lebih jahat (Babel) untuk menghĺpukum umat-Nya.
Masa Pemerintahan Raja Yoyakim: Situasi politik rumit dengan banyak terjadi korupsi dan penindasan.
Bagaimana orang percaya bergembira dalam kondisi sulit seperri diatas? Bagaimana bersukacita sementara suasana mereka tidak baik-baik saja. Dalam bahasa Ibrani Habakuk berarti "Allah merangkul", dialam Tuhan kesusahan apapun tidak dapat menyentuh orang yang dikasihi Tuhan. Perang, ancaman dan badai bisa saja datang namun Tuhan merangkul umatNya. Kesesakan bisa saja menimpa namun akhir segala sesuatu ada pada Tuhan. Sekalipun kita kecewa terhadap segala sesuatu yang diharapkan menolong dan membantu kita. Pertolongan Tuhan tidak akan pernah terlambat.
1. Allah sendiri maju mentelamatkan umatNya dan melindungi yang diurapinya
Habakuk 3:13 (TB) Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela
Bagaimana kiya bergembira dalam: gunung gemetar, air bah bergelora dan matahari berhenti? (Ayat 10-11). Suatu keadaan yang menjelaskan situasi yang sangat mencekam dan menegangkan. Habakuk menjelaskan imannya secara jujur dalam keadaan tidak baik itu ada iman.
Hal pertama kita temukan dalam kotbah ini adalah Allah adalah penyelamat umatNya. Sebelum kotbah ini Habakuk telah menjelaskan dahsyatnya musuh yang telah menghancurkan Isrsel Utara dan Yehuda sedang dalam ancaman Babel yang menakutkan. Habakuk tidak gentar menghadapi dahsyatnya musuh ini karena Allah sendiri yang menyelamatkan umatNya.
Bukan hanya menyelamatkan, namun Allah sendirilah yang menumpas dan membongkarnya sampai tuntas hingga akar-akarnya. "Kau buka dasarnya sampai batu yang penghabisan". Allah bertindak menyelamatkan umatNya dari musuh-musuhnya dan menumpas mereka samoai habis.
2. Gemetar melihat pembalasan Tuhan
Jika kota baca ayat 14-15 Habakuk menjelaskan dengan baik bagaimana dia takjub akan perbuatan Allah melawan musih-musuh umatNya.
2.1. Musuh menjadi korban strateginya sendiri
Habakuk 3:14 (TB) Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala laskarnya,
Diaini Habakuk menjelaskan bahwa musuh yang hendak menindas umat Allah pada akhirnya menjadi korban dari strayeginya sendiri. Busur panah yang disiapkan untuk melenyapkan lihatlah akirnya menusuk kepala laskarnya.
Senjata yang dipersiapkan untuk menghancurkan musuh pada akhirnya senjata makan tuan. Pasukan bersenjata yang dipersiapkan menindas dan meleyapkan justru dipakai Tuhan melenyapkan mereka sendiri. Ini cara Allah yang diperlihatkan oleh Habakuk memyelamatkan umatNya
Apa yang disampaikan Habakuk ini suatu kotbah yang harus benar-benar dihayati dalam kehidupan ini. Hati-hati melawan orang benar, setiap usaha jahat untuk menjatuhkannya akan dijadikan Tuhan untuk menjatuhkan diri sendiri.
Ini terjadi pada Kitab Hakim-hakim 7 (kisah Gideon): musuh saling membunuh karena panik
Kitab 2 Tawarikh 20: musuh Yehuda saling menyerang sendiri. Kitab Ester: rencana Haman berbalik menghancurkan dirinya
Allah adalah pelindung dan penyemamat orang-orang yang diurapinya.
2.2. Pengalaman menyeberang Laut Merah
Habakuk 3:15 (TB) Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih.
Disini kemungkinan besar Habakuk menggunakan ungkapan yang umum bagi umat Allah, bahaimana mereka menyeberang dari laut Merah hingga menunggangbalikkan pasukan Firaun di Laut Merah. Suatu peristiwa sejarah yang tiaak akan dilipakan dalam sejarah Israel.
Pesan ini sangat penting. Dalam keadaan terdesak sekalipun, Allah berdaulat atas alam ini dan dipakai untuk menenggelamkan musuh-musuh umatNya.
3. Di Dalam Tuhan tidak akan kecewa
Pada bagian ketiga ini, kita dihantarkan kepada pengalaman real.. bahwa dalam.keadaan yang sangat kecewa sekalipun orang percaya daoat bersukacita karena Tuhan
Habakuk 3:17 (TB) Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang.
Dalam budaya Israel kuno, ketiga pohon ini bukan sekadar tanaman biasa. Mereka sering disebut sebagai "Tiga Pilar Kemakmuran" tanah Kanaan. Jika ketiganya gagal panen (seperti yang digambarkan dalam Habakuk 3:17), itu bukan sekadar kerugian finansial, melainkan kehancuran peradaban dan spiritual.
Berikut adalah alasan mengapa ketiganya sangat krusial:
3.1. Pohon Ara:
Pohon ara adalah simbol keamanan dan kenyamanan domestik.
Fungsi Praktis: Buah ara adalah sumber gula alami utama. Karena bisa dikeringkan dan dipadatkan menjadi "kue ara," buah ini menjadi cadangan pangan penting saat musim paceklik atau perjalanan jauh.
Makna Krusial: Ungkapan "duduk di bawah pohon ara sendiri" adalah idiom Alkitab untuk menggambarkan masa damai dan bebas dari ketakutan akan musuh. Jika pohon ara tidak berbunga, artinya ketenangan hidup telah dirampas oleh kecemasan atau peperangan.
3.2. Pohon Anggur:
Anggur mewakili aspek sosial dan perayaan dalam kehidupan Israel.
Fungsi Praktis: Di wilayah yang air bersihnya sulit didapat atau mudah terkontaminasi, anggur yang difermentasi menjadi minuman yang lebih aman dikonsumsi. Anggur juga merupakan komoditas ekspor utama yang menggerakkan ekonomi.
Makna Krusial: Anggur melambangkan sukacita. Dalam mazmur dikatakan bahwa anggur menyukakan hati manusia. Tanpa hasil anggur, kehidupan menjadi hambar, kering, dan kehilangan perayaan syukur. Habakuk menggambarkan hilangnya kegembiraan hidup yang paling mendasar.
3.3. Pohon Zaitun
Zaitun mungkin adalah yang paling vital secara teknis karena fungsinya yang sangat beragam.
Fungsi Praktis:
Pangan: Minyak zaitun adalah lemak utama dalam diet mereka.
Energi: Digunakan sebagai bahan bakar lampu minyak untuk penerangan rumah dan Bait Suci.
Kesehatan/Kosmetik: Digunakan sebagai obat luka dan minyak urapan untuk kulit di bawah terik matahari.
Makna Krusial: Zaitun melambangkan kehadiran dan berkat Tuhan. Tanpa zaitun, tidak ada cahaya di malam hari, tidak ada obat untuk yang terluka, dan tidak ada minyak untuk pengurapan.
3.4. Tidak ada ternak: kambing, domba, sapi dan lembu
Ternak diatas sumber kemakmuran dan kekayaan
Bagi orang Israel, kambing domba, lembu sapi adalah "tabungan berjalan".
Ternak tentu bahagian dari kebutuhan pokok dan, gizi dan protein selain itu menyediakan wol untuk pakaian, sementara kambing, sapi dan lembu menyediakan susu dan daging. Kulitnya digunakan sebagai bahan tenda dan wadah air.
Kehancuran Ekonomi: Kalimat "kambing domba terhalau dari kurungan" berarti hilangnya modal utama. Tanpa domba, mereka tidak punya bahan untuk membuat pakaian hangat menghadapi musim dingin. Ini adalah kemiskinan yang sangat ekstrem.
Aspek Spiritual dari Domba adalah hewan utama untuk kurban penghapusan dosa. Demikian denga. Kehilangan domba secara simbolis berarti terputusnya saluran perdamaian antara manusia dan Tuhan melalui ritual kurban di Bait Suci.
Sahabat yang baik hati!
Ketika Habakuk mengatakan ketiganya gagal, ia sedang melukiskan kekecewaan dan tidak adanya tanda hang menopang kehidupan:
- Tidak ada makanan (Ara).
- Tidak ada kebahagiaan (Anggur).
- Tidak ada cahaya atau kesembuhan (Zaitun).
- Ditambah lagi dengan gernak simbol.
- kemakmuran kejayaaan.
Bagi orang Israel, kehilangan diatas berarti kehilangan identitas mereka sebagai bangsa yang diberkati di "Tanah yang Berlimpah Susu dan Madunya." Itulah mengapa iman Habakuk di ayat 18 menjadi sangat radikal—karena ia tetap percaya saat semua sistem pendukung hidupnya hilang total.
Tetapi Habakuk dalam Kotbah ini menyampaikan bergembiralah di dalam Tuhan. Tuhan menyelamatkan dan melindungi umatNya. Dalam kekecewaan terhadap sahabat, lingkungan sekitar dan kondisi alam sekitar yang tidak menopang kita tetaplah bergembira karena Kasih karunia Tuhan melingkupi seisi dunia ini. Amin.
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak,
Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar