Sabtu, 06 Juni 2026

MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL

 Catatan Kotbah Minggu Trinitatis

Minggu, 31 Mei 2026

Ev. Matius 28:16-20



MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL

Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati! Kotbah minggu Trinitatis ini memiliki ayat yang istimewa, secara khusus pada ayat 19, Yesus secara eksplisit menyebutkan rumusan baptisan: "...dan baptislah mereka dalam nama "Bapa" dan "Anak" dan "Roh Kudus". Yesus mengamanatkan kepada murid-muridNya agar mereka mangajarkan apa yang telah diajarkan kepada mereka dan membaptis mereka di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Baptisan adalah sakramen, sakramen berarti sakral, pekerjaan Allah yang nyata. Dalam ajaran Kristen Protestan, sakramen dipahami sebagai ritus atau tindakan suci yang ditetapkan oleh Yesus Kristus sendiri. Sakramen berfungsi sebagai tanda lahiriah yang kelihatan dari anugerah Allah yang tidak kelihatan.

Dengan baptisan seseorang dimateraikan.masuk dalam.persekutuan tubuh Kristus dan menjadi ahli waris Kerajaan Allah. 


Inilah yang kita syukuri dan bukti syukur kita adalah menjadi saksi Allah Yang Tritunggal melalui hidup dan keteladanan hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang.


Sahabat yang baik hati 

Hari ini, seluruh gereja di dunia merayakan Hari Minggu Trinitatis atau Minggu Tritunggal. Sebuah momen di mana kita merenungkan salah satu misteri iman Kristen yang paling dalam: bahwa Allah kita adalah Allah Tritunggal, Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, RUMUSAN trinitatis bukan menjelaskan triteis sama sekali bukan. Tritunggal adalah ajaran kekristenan menjelaskan karya Keselamatan Allah menyelamat manusia. Bapa: Allah pencipta dan memelihara hidup manusia dan segala ciotaan: Anak: Allah di dalam Yesus Kristus menyelamatkan dan Roh Kudus: Allah menyertai kita sampai kedatangan Kristus kelak dalam kemuliaan. 


Seringkali, ketika berbicara tentang Tritunggal, otak kita menjadi pusing. Kita terjebak dalam rumus matematika atau logika yang rumit. Tetapi hari ini, melalui Amanat Agung dalam Matius 28, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Tritunggal bukan sekadar teori teologi yang kaku di atas kertas. Tritunggal adalah tentang karya keselamatan Allah, Yesus memberikan amanat mepada murid-muridnya untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid Kristus. Orang percaya dibaptis dan diutus dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.



Mari kita lihat bagaimana peran Allah Tritunggal bekerja nyata dalam Amanat Agung ini melalui tiga poin penting:


1: Otoritas Yesus dari Bapa yang mengubah Keraguan (Ayat 18)

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi."


Dari mana Yesus mendapat "segala kuasa" ini? Tentu saja dari Allah Bapa. Ini memperlihatkan kesatuan kehendak di antara Bapa dan Anak.

Menariknya, di ayat 17 dicatat bahwa ada murid yang menyembah, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Kadang kita merasa ragu, "Apakah Allah Bapa yang menciptakan semesta yang begitu besar itu peduli dengan hidup saya?"

 Melalui ayat ini, Yesus mendekat untuk mengusir keraguan itu. Otoritas Allah Bapa yang memegang kendali atas sejarah dunia, kini didelegasikan kepada Yesus. Artinya, hidup kita berada di dalam tangan pencipta yang berdaulat, yang mengasihi kita seperti seorang Bapa.


Tugas ini menekankan kepada kita saat ini: mengubah yang ragu-ragu menjadi yakin dan percaya sepenuhnya kepaa Allah Tritunggal. 


2: Mandat untuk Menjadikan Murid (Ayat 19)


"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus..."


Di sinilah inti dari Minggu Trinitatis. Mengapa Yesus memerintahkan untuk membaptis dalam nama tiga Pribadi, dan bukan cuma dalam nama-Nya sendiri?


Karena Allah kita adalah Allah yang relasional (suka bersekutu). Bapa, Anak, dan Roh Kudus hidup dalam persekutuan kasih yang sempurna sejak kekekalan. Ketika seseorang dibaptis "dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus", artinya orang tersebut dimasukkan ke dalam persekutuan kasih tersebut.


Menjadi murid Kristus bukan sekadar menjadi anggota agama baru atau menaati aturan moral baru. Menjadi murid berarti kita diadopsi menjadi anak-anak Bapa, ditebus oleh karya Sang Anak (Yesus), dan dituntun oleh Roh Kudus. Tugas kita adalah mengajak orang lain masuk ke dalam lingkaran kasih Tritunggal ini.


Selain menjadikan murid, tugas penting ini didalamnya berisi mengajarkan apa yang telah diperintahkan. Apa perintah Tuhan Yesus disebutkan dalam Yohanes 13:34-35 (TB) Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.

Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."


3: Penyertaan Roh Kudus sampai Akhir Zaman (Ayat 20)


"...dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."


Secara fisik, Yesus setelah momen ini terangkat ke surga. Lalu, bagaimana cara Yesus memenuhi janji-Nya untuk "menyertai kita senantiasa"?


 Dia memenuhinya melalui Pribadi ketiga, yaitu Roh Kudus (Sang Penolong/Parakletos) yang dicurahkan pada hari Pentakosta.


Roh Kudus adalah kehadiran Yesus yang tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Saat Anda lelah dalam pekerjaan, saat Anda takut bersaksi tentang kebenaran, atau saat Anda menghadapi pergumulan pelayanan, Roh Kuduslah yang memberikan kekuatan, keberanian, dan kata-kata untuk diucapkan. Kita tidak pernah berjalan sendirian.


Penutup:

Sebagai gereja dan orang percaya yang hidup dalam iman Trinitatis, apa yang harus kita lakukan?

 

a. Membangun Persekutuan yang Rukun (Cerminan Tritunggal): Allah kita adalah Allah persekutuan. Maka, gereja dan keluarga kita harus mencerminkan hal itu. Jauhkan perpecahan, gosip, atau kesombongan. Mari hidup rukun dan saling menopang, seperti Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang saling mengasihi.


 b. Bergerak Keluar (Pergi): Sifat dasar Allah Tritunggal adalah mengasihi dan bergerak keluar untuk menyelamatkan manusia. Bapa mengutus Anak, Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus, dan sekarang Allah Tritunggal mengutus *kita*. Iman Kristen tidak boleh egois (hanya dinikmati sendiri di dalam gereja), kita harus membagikan kasih itu kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari.


Selamat merayakan Minggu Trinitatis. Mari kita ingat bahwa kita tidak menyembah Allah yang jauh, yang duduk sendirian di takhta-Nya yang sepi. Kita menyembah Allah yang adalah Bapa kita yang memelihara, Anak yang menyelamatkan, dan Roh Kudus yang menyertai setiap langkah hidup kita sampai akhir zaman.

Pergilah dengan berani, karena Allah Tritunggal berjalan bersama saudara. Amin.


Tuhan memberkati

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy

BERAGAM KARUNIA DI DALAM SATU ROH

 Catatan Kotbah Minggu Pentakosta (Turunnya Roh Kudus)

Minggu, 24 Mei 2026

Ev. 1 Korintus 12:3-12



BERAGAM KARUNIA DI DALAM SATU ROH


Selamat Hari Minggu! Minggu Pentakosta adalah minggu yang istimewa di dalam Kalender Gereja HKBP karena pada Minggu ini kita diingatkan suatu peristiwa besar yang penting dalam kekristenan. Roh Kudus turun atas murid-murid sesuai yang dijanjikan oleh Yesus sebelum naik ke Sorga. Roh Kudus akan datang untuk menghibur, menolong dan membela para rasul dalam melaksanakan missi Allah yaitu memberitakan Injil dan menjadi Saksi Kristus dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. 


Setelah pencurahan Roh Kudus dalam Kisah Rasul 2, kisah penginjilan terus bergerak, baik kedua belas murid dan khususnya Paulus yang begitu gigih memberitakan Injil tanpa lelah. Dia terus berlari dari kota ke kota lain dari satu desa ke desa lain dan mendirikan jemaat. Dari semua kisah penginjilan penulis Kisah Para Rasul tidak pernah terlepas dari peranan Roh Kudus. Bahkan kemana mereka pergi dan apa yang harus mereka perbuat tidak terlepas dari peranan dan pekerjaan Roh Kudus. Bahkan tidak sedikit para teolog mengusulkan nama kitab Kisah Para Rasul dengan Kisah Karya pekerjaan Roh Kudus. Para rasul tidak akan mampu memberitakan Injil tanpa pertolongan Roh Kudus. 


1. Konteks Korintus yang terkotak-kotak dan ancaman kesombongan rohani


Selain ancaman perpecahan, persoalan kesombongan rohani terjadi di Jemaat Korintus. Ada satu pemahaman yang keliru yang harus diluruskan oleh Paulus khususnya di dalam Pasal 14. Paulus melihat ada kecenderungan sebahagian memahami bahwa bukti seseorang beriman dengan berbahasa Roh dan menjadi karunia yanv lebih dsrj karunia lainnya sehingga dalam Ibadah orang berbahasa roh yang tidak dimengerti oleh orang lain. 


Keganjilan ini diluruskan oleh Paulus, bahwa setiap.orang diberi berbagai-bagai karunia , ada karunia mengajar, ada bernubuat, ada berbahas aroh dan menafsirkan bahasa roh. 1 Korintus 14:2-3 (TB) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. 


Semua karunia roh dalam persekutuan jemaat sangat berguna dan biarlah karunia-karunia itu dipersembahkan untuk membangun jemaat. Jadi bukan kemampuan berbahasa roh menjadi satu-satunya indikator orang memiliki iman. Yang utama adalah Karunia apapun yang dimiliki mari dipersembahkan untuk pembangunan jemaat.


Paulus sendiri menyarankan bahwa baginya lebih baik di dalam pertemuan jemaat lebih baikmenyampaikan lima kata yang dimengerti untuk membangun jemaat dari beribu bahasa roh namun tidak dimengerti. 

Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 14:19 (TB) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.


Sahabat yang baik hati, marilah kita mendalamimkotbah Minggu ini, beragam karunia dalam satu roh. Banyak orang dengan banyak karunia-karunia di dalam satu sembgat yaitu roh untuk membangun persekutuan jemaat. 


2. Rupa-rupa Karunia Roh


Ada hal menarik penjelasan Paulus dalam kotbah ini, yaitu karunia roh adalah pemberian Roh Kudus. Pemberian karunia roh itu berbeda-beda kepada setiap orang, perbedaan karunia itu adalah kekuataan dan keunikan masing-masing, tetapi dalam persekutuan jemaat itu akan memperkaya dan saling melengkapi. Karunia roh adalah pemberian unik kepada setiap orang.


Karunia-karunia yang berbeda di dalam jemaat adalah kekayaan, sehingga semua orang dapat saling melengkapi dan menyempurnakan. Karunia yang ada pada satu jemaat belum tentu ada dan apa yang ada pada jemaat belum tentu ada pada saya, semua orang harus menyadari hal tersebut. Maka tugas persekutian orang percaya adalam memberdayakan karunia-karunia roh yang beragam itu untuk saling menolong dan melengkapi yang satu dengan yang lain.


Jauhkanlah dari prasangka bahwa karunia yang ada pada seseorang lebih berharga atau lebih mulia dari yang lain. Karunia-karunia roh tidak mengenal hierarkies (yang satu lebih tibggi dsri lainnya), tetapi semuanya sama dengan fungsi yang berbeda menurut pemberian Roh. Pemberian karunia-karunia pada seseorang sekaligus juga menjadi tanggung jawab untuk dipersembahkan untuk membangun tubuh Kristus.  


1 Korintus 12:4-5 (TB) Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. 

Pemberian Roh tidak dapat menjadi kesombongan diri atau pujian diri. Baiklah semua karunia yang diberi adalah demi kemuliaan Tuhan



3. Satu Roh: kepentingan bersama


1 Korintus 12:7 (TB) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. 


Dalam persekutuan jemaat semestinya harua ada "chemistri" atau senyawa. Semakin kita senyawa tentu semakin mudah untuk menggapai sesuatu tujuan. Dalam ungkapan orang Batak "aek godang aek laut, dos ni roha sibahen na saut". Semboyan seperti inilah kita memaknai karunia-karunia yang berbeda. Kita semua telah menerima pemberian dsri Tuhan, tapi pemberian itu untuk apa? Untuk kepentingan bersama.


Gereja mula-mula mencatat bahwa hidup orang percaya adalah "communion": semua orang menjadi satu keluarga besar dan apa yang ada pada masing-masing orang adalah untuk kepentingan bersama. Semua orang bekerja dan untuk menopang kehidupan bersama.

Kisah Para Rasul 4:32 (TB) Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 

Sikap hidup demikian membuat jemaat tidak berkekurangan, tetapi berkecukupan karena demua orang berkontribusi untuk kepentingan bersama.


Kepentingan gereja adalah satu, yaitu: memuliakan Tuhan. Roh Kudus akan menolong, menghibur dan membela orang percaya menjalani kehidupan ini sampai akhir zaman. Sering sekali dalam suatu rencana gereja melahirkan perselisihan hingga perpecahan karena terkooptasi dalam kubu mendukung dan tidak didukung (pengalaman Korintus). Akhirnya kepentingan bersama bukanlah lagi untuk Tuhan tetapi soal mendukung dan tidak didukung. 

Paulus menasihatkan 1 Korintus 12:11 (TB) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.


4. Miliki Solidaritas


1 Korintus 12:12 (TB) Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.


Mengapa hidup kommunion ini tidak bisa bertahan, tentu jika dianalisis ada banyak faktor: salah satunya adalah faktor ego, manusia semakin mementingkan dirinya sendiri serta budaya kita yang semakin individualis. Sebagaimana kasus Ananias dan Safirra miliknya yang dijual tidak sepenuhnya diserahkan kepada kommunion dan akhirnya dihukum Tuhan. Sekalipun sistem kommunion ini tidak dapat diterapkan sebagai sistem sosial atau sisstem ekonomi dalam suatu komunitas masyarakat, namun prinsip atau "roh" kebersamaan itu harus tumbuh di tengah-tengah orang percaya. 


Kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa hidup tanpa orang lain karena kita adalah mahkluk sosial. Demikian dalam kehiduoan bergereja kita semua saling melengkapi yang satu dengan yang lain. Tidak ada gereja yang terlalu kaya sehingga tidak membutuhkan dukungan orang lain, dan tidak ada gereja yang terlalu miskin sehingga tidak bisa memberikan sesuatu yang berguna bagi gereja lain. Disinilah pentingnya orang percaya menggali makna "roh kebersamaan" atau solidaritas di Minggu Pesta Pentakosta. Roh Kudus mempersatukan jemaat, Roh Kudus memberikan pemahaman dan perngertian kepada yang satu dengan yang lain. 


Paulus memberikan contoh kesatuan dan solidaritas gereja sama seperti tubuh: satuntubuh ada banyak anggota, semua anggoga adalah bahagian tidak terpisahkan yang satu dengan lainnga. Semua anggota tubu diberi fungsi yang berbeda dan diantara anggota tidak tidak pernah merasa lebih layak atau lebih mulia dari anggota tubuh lainnya. Dan sebaliknya jika terjadi luka di kaki, bukan hanya kaki yang menjerit sakit tetapi semua anggota tubuh merasakan sakit. Atau tidak mungkin tangan kanan cemburu terhadap tangan kiri karena baik jam tangan atau cincin disematkan ke tangan dan jari manis tangan kiri. Semuanya satu apa yang dialami kaki adalah dialamj semua apa yang diterima satu anggota tubuh merupakan kebanggaan semua. 


Turunnya Roh Kudus ini merupakan moment yang baik untuk untuk menyadarkan kita ada kepentingan bersama di dalam persekutuan Tuhan. Kepentingan kita bersama adalah tinggal di dalam Kristus dan sebagai persekutuan orang Kudus nama Kristus dimuliakan. Yesus mengutus murid-muridNhya untuk menjadu saksi Kristus maka totalitas aktifitas gereja harus menjadi kesaksian bagi orang lain. Ingat, Roh Kudus menolong, menghibur dan membimbing kita. Amen


Tuhan Memberkati Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses D.18 Jabartengdiy


MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL

 Catatan Kotbah Minggu Trinitatis Minggu, 31 Mei 2026 Ev. Matius 28:16-20 MENJADI SAKSI ALLAH TRITUNGGAL Selamat Hari Minggu! Sahabat yang b...