Sabtu, 25 Juli 2026

HARI SUKACITA BAGI UNAT ALLAH

 Catatan Kotbah Minggu VII S.Trinitatis

Minggu, 19 Juli 2026

Ev. Ester 9: 11-19




HARI SUKACITA BAGI UMAT ALLAH: Dari Air Mata Menjadi Sukacita


Selamat Hari Minggu, sahabat yang baik hati dalam hidup ini selalu ada tantantangan dan resiko. Ada dua hal yang bisa terjadi dari risiko kesialan atau keberunguhan kesialan adalah resiko menkmpa diri kita sehingga menanggung dari dampak negatif sesangkan sisi lain risiko yang dilampah akan menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Mungkin anda pernah mengalaminya saat tidak mau menghadapi risiko kita hanya ikut arus yang pada akhirnya arus itu akan menentukan hidup kita. Nasib ditentukan oleh arus. Berbeda dengan konteks kotbah ini, menghadapi resiko adalah cara untuk pembebasan. 


Ester dan kaum Yahudi di kerajaan Persia diperhadapkan kepada resiko yang luar biasa yaitu hukum mati. Siasat Haman telah berhasil meyakinkan raja Ahazyweros untuk menghukum gantung Mordekhai termasuk seluruh kaum Yahudi, karena Mordekhai dan kaum Yahudi tidak menyembah raja. Mereka setia kepada agama Yahudi. Sebelumnya Haman telah meyakinkan raja agar semua penduduk negeri taat pada raja maka ditetapkan undang-undang untuk taat menyembah raja. Haman tahu sikap Mordekhai karena ketaatannya kepada agama Yahudi. Disinilah kelicikan Haman hendak meleyapkan Mordekhai yang dikagumi diistana. Haman telah mempersiapkan sula atau tiang gantung sudah dipersiapkan dan umat itu akan dibantai massal.


Ester berani melangkah, dengan melakukan cara yang luar biasa. Sebagai permaisuri, dia sadar betul dihadapan raja Ahazyweros bahwa dia adalah keturunan Yahudi. Dengan ala bangsawan Ester mempersiapkan jamuan besar di Istana dan usai jamuan raja tentu menanyakan apa permintaan Ester. Ester pun mengutarakan isi hatinya dan memohon pembebasan bagi orang Israel. Ester menyampaikan ada siasat buruk Haman atas pamannya Mordekhai maka raja pun mengabulkan permintaan Ester, membalikkan keadaan membebaskan kaum Yahudi dari hukum mati dan sula yang dipersiapkan tiang gantung bagi Mordekhai menjadi tiang gantjng untuk Haman dan kesepuluh anak-anaknya


Hari kematian bagi bangsa Israel berubah menjadi hari sukacita dan kemenangan berkat keberanian mengambil resiko dari seorang bernama Ester. Permaisuri raja yang terkenal dengan kecantikannya. 


Jika kita membaca latar belakang kitab Ester, itulah yang dialami oleh bangsa Yahudi di pembuangan Persia. Melalui muslihat jahat Haman, sebuah undang-undang kerajaan telah dikeluarkan: pada tanggal 13 bulan Adar, seluruh bangsa Yahudi—tua, muda, wanita, dan anak-anak—boleh dibunuh dan dijarah harta bendanya. Bangsa Yahudi berada di ambang kemusnahan. Mereka menangis, berpuasa, dan meratap. Namun, hari ini di Ester 9:11-19, kita melihat sebuah pembalikan keadaan yang luar biasa (the great reversal). Hari yang seharusnya menjadi hari pembantaian bagi orang Yahudi, justru berbalik menjadi hari di mana mereka memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka.


Ester 9:19 (TB) Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan, yakni yang diam di perkampungan merayakan hari yang keempat belas bulan Adar itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar makanan. 


1: Kemenangan yang Tuntas (Ayat 11-15)


Ester 9:14-15 (TB) Raja pun menitahkan berbuat demikian; maka undang-undang itu dikeluarkan di Susan dan kesepuluh anak Haman disulakan orang.

Jadi berkumpullah orang Yahudi yang di Susan pada hari yang keempat belas bulan Adar juga dan dibunuhnyalah di Susan tiga ratus orang, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan.


Keberanian Ester memperjuangkan hak hidup Mordekhai dan kaum Yahudi merupakan teladan hang sangag baik. Bukan hanya pembebasan yang dinikmati oleh kaum Yahudi tetapi Raja menerbitkan undang-undang baru hang memberikan pembebasan dan jaminan kelsngsungan hidup kaun Yahudi di kerajaan Persia. 


Ketika Raja Ahasyweros memberikan izin kepada Ester dan Mordekhai untuk menulis undang-undang baru yang membolehkan orang Yahudi membela diri, mereka tidak melakukannya dengan setengah-setengah. Di benteng Susan, musuh-musuh yang selama ini membenci dan mengancam mereka berhasil dikalahkan, termasuk sepuluh anak laki-laki Haman (akar dari kejahatan tersebut).

Ada satu frasa menarik yang diulang-ulang di ayat 10, 15, dan 16: “...tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan.”


Hari kemenanagan bagi Yahudi bukanlah dipergunakan untuk pelampiasan dendam pada Haman dan kaumnya, tetapi dalam rangka bersyukur dan tetap menjaga kemurnian hati mereka. Sekalipun undang-undang baru memperbolehkan mereka mengambil rampasan harta Haman di Susan namun mereka tidak melakukan itu. Tidak satupun harta rampasan mereka sentuh. Padahal, undang-undang raja membolehkan mereka mengambil jarahan. Perjuangan ini bukan tentang memperkaya diri atau keserakahan materi. Ini adalah tentang kelangsungan hidup dan penegakan keadilan Tuhan.



2: Ketenteraman Setelah Perjuangan (Ayat 16)


Ester 9:16 (TB) Orang Yahudi yang lain, yang ada di dalam daerah kerajaan, berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta mendapat keamanan terhadap musuhnya; mereka membunuh tujuh puluh lima ribu orang di antara pembenci-pembenci mereka, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan. 



Setelah melalui ketegangan yang luar biasa, berpuasa berhari-hari, dan menghadapi peperangan, firman Tuhan mencatat bahwa umat Tuhan akhirnya “mendapat ketenteraman.” Mereka bisa beristirahat.

Tuhan kita bukanlah Allah yang membiarkan umat-Nya terus-menerus berada dalam medan pertempuran yang melelahkan.


Segala sesuatu ada waktunya: Ada waktu untuk menabur air mata, tetapi ada waktu untuk menuai sorak-sorai. Badai tidak pernah berjalan selamanya. Setelah angin ribut yang hebat, Tuhan Yesus sanggup berkata, "Diam, tenanglah!" dan ketenteraman pun terjadi.

Demikianlah kaum Yahudi di Persia. Mereka lelah berjuang mereka kompak berkabung sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Ester dan doa mereka teekabul karena negosiasi Ester di jamuan makan istana berhasil. 


Ada orang saat mengahadaoi kesulitan hanya berurai air mata, terbawa perasaan dan tidak ada uoaya-upaya kongkrit yang dilakukan. Pengalaman peejuangan kaum Yahudi bebas dsri genosida adalah jawaban atas doa bersama kerjasama dan sikap.kooperstif dari seluruh elemen masyarakat. Buahnya adalah ketentraman mereka. 


Buah perjuangan mereka adalah mereka tenteram hidup di negeri Persia dan jaminan atas kelangsungan hidup. Raja Persia akhirnya menjamin ketenttaman mereka tinggal dan hidup di negeri itu. 


Arrtnya apa: ketentraman tidak datang dengan sendirinya, kesejahteraan tidak turun dsri langit tetapi hadir dan dinikmati karena jerih payah, doa, mau dioimpin dan kerjasama dengan banyak orang. 


3: Merayakan Kebaikan Tuhan Bersama Sesama (Ayat 18-19)


Ester 9:18-19 (TB) Akan tetapi orang Yahudi yang di Susan berkumpul, baik pada hari yang ketiga belas, baik pada hari yang keempat belas dalam bulan itu. Lalu berhentilah mereka pada hari yang kelima belas dan hari itu dijadikan mereka hari perjamuan dan sukacita. 

Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan, yakni yang diam di perkampungan merayakan hari yang keempat belas bulan Adar itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar makanan. 


Bagaimana orang Yahudi merespon kebaikan Tuhan yang luar biasa ini? Mereka menjadikannya hari gembira, perjamuan, dan saling mengirim bingkisan (makanan). Momen inilah yang kelak menjadi Hari Raya Purim.

Perhatikan bahwa sukacita mereka tidak dinikmati sendirian. Mereka saling berbagi bingkisan.


Merayakan kebaikan Tuhan bukan hanya pada saat mereka mengalaminya, tetali membuat peristiwa itu menjafi kenangan sepanjang masa dengan menetapkan hari raya Purim. Pelajaran ini pentkng, ada banyak orang bersyukur hanya saat menerima yang baik, saat hari berlalu semua kenangan indah terlupakan. Peristiwa pembebasan dan penetapan jaminan hidup kajm Yahudi di Persia dijadikan sebagai agenda tahunan dengan menetapkan hari raya Purim. Cara kaum Yahudi memlngingat kebaikan Tuhan sepanjang masa..


Tentu demikianlah kotbah ini.mrngajak kita. Kebaikan Tuhan yang kita terima harus dialirkan kepada orang lain. Sukacita iman Kristen adalah sukacita yang komunal (bersama), bukan individualis. Ketika kita diberkati, tujuannya adalah agar kita menjadi berkat. Ketika kita ditolong keluar dari masalah, tujuannya adalah agar kita bisa menghibur orang lain yang sedang mengalami masalah yang sama.


Penutup: Aplikasi Praktis 


1. Percayalah pada Skenario Tuhan (Providenisa Allah): Walau kadang Tuhan seolah "diam" dan tidak terlihat, Dia sedang merajut jalan keselamatan bagi kita di balik layar, sama seperti yang Dia lakukan bagi Ester dan Mordekhai.

 2. Rayakan Setiap Kebaikan Kecil: Jangan hanya fokus pada masalah yang belum selesai. Ingat dan hitunglah berkat Tuhan satu per satu. Jadikan hidup kita penuh ucapan syukur.

 3. Berbagilah di Masa Sukacita: Sama seperti orang Yahudi yang saling mengirim bingkisan, mari kita miliki hati yang murah hati untuk berbagi kebahagiaan dan berkat kepada sesama yang membutuhkan di sekitar kita.


Sahabatku, ingatlah nusuh boleh merancangkan yang jahat, dunia boleh menekan kita, tetapi jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita? Mari jalani minggu yang baru ini dengan iman yang teguh, karena Allah yang menyelamatkan bangsa Yahudi di zaman Ester adalah Allah yang sama yang menyertai dan membela hidup kita di dalam Yesus Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.


Salam dari kami:

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


BERTINDAK DENGAN CARAORANG PERCAYA

 Catatan Minggu VI S.Trinitatis

Minggu, 12 Juli 2026

Ev. 3 Yohanes 3;5-8




BERTINDAK DENGAN CARA ORANG PERCAYA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini mengajak kita untuk menghidupi iman percaya. Orang yang menghidupi iman percayanya ditunjukkan dengan cara bertindaknya. 


Khusus di surat Yohanes yabg ketiga ini rasul menasihatkan bagaimana cara bertindak orang beriman terhadap orang asing. Rasul Yohanes menasihatkan cara bertindak orang percaya terhadap orang asing adalah kasih. Kita mengasihi saudara-saudara kita dan kita mengasihi musuh-musuh dan orang yang membenci kita. Jangan bertindak seperti orang jahat membalaskan kejahatan dengan jahat kebencian dengan kebencian permusuhan dengan permusuhan. Tetapi terimalah mereka sebagai saudara, tuntun dalam kebenaran dan jangan membalaskan perlakuan buruk dari mereka yang berlaku buruk.


Dalam sosiologi dijelaskan ada suatu sikap komunitas terfent terhadap.orang asing, ada yang menggangap orsng asing lebih unggulnsehongva membuka diri agar keunggulan orsng lain dapat meresap ke komjnitasnya. Sebaliknya.ada yang merasa taku atau menganggap orang asing menjadi ancaman pada komunitasnya inilah yang disebut dengan "xenophobia". Artinya takut terhadap orang asing, karena dengan kehadiran orang asing komunitasnya terancam. 


Sekarang dalam kotbah ini rasul Yohanes memberikan nasihat kepada kita, meneladani cara bertindak orang percaya yang nyata di dalam 3 Yohanes ini yaitu bernama Gayus. Dia orang yang saleh dan setia kepada Tuhan sikapnya terhadap ornag asing benar-benar cara orang percaya, 


Setidaknya ada tiga cara dan sikap orang percata terhadap orang asing.



1. Menerima dengan Ketulusan Hati (Ayat 5)


Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang setia, dalam segala sesuatu yang engkau lakukan untuk saudara-saudara, walaupun mereka adalah orang-orang asing. (3 Yohanes 1:5)


Amsal orang bijak mengatakan: "Sangat mudah untuk mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi sebuah kekristenan yang sejati diuji saat kita harus mengasihi orang yang belum kita kenal." Pada ayat yang kelima ini, Rasul Yohanes memberikan sebuah pujian yang luar biasa kepada seorang jemaat bernama Gayus. Yohanes menyebut Gayus sebagai "orang yang setia." Mengapa dia disebut setia? Apakah karena dia rajin beribadah di bait Allah saja? Tidak. Gayus disebut setia karena dia membuka pintu rumahnya dan memberikan tumpangan kepada saudara-saudara seiman yang belum pernah dia kenal sebelumnya—yaitu para misionaris keliling, orang-orang asing yang sedang berjalan memberitakan Injil.


Daoat kita bayangkan situasi pada zaman itu. Zaman dulu belum ada hotel yang aman, belum ada aplikasi penginapan seperti sekarang. Mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumah adalah sebuah risiko yang besar. Bisa saja mereka orang jahat, bisa saja mereka membawa penyakit, atau bisa saja mereka justru merepotkan keluarga kita.

Tetapi lihat bagaimana cara bertindak Gayus. Dia tidak melihat orang asing dengan mata kecurigaan. Dia melihat mereka dengan mata iman. Dia menerima mereka dengan ketulusan hati yang penuh. Mengapa? Karena dia tahu, di dalam Kristus, orang asing yang melayani Tuhan itu bukan lagi orang luar, melainkan saudara seiman.


Dunia hari ini mengajarkan kita untuk menjadi orang yang individualis dan penuh kecurigaan. Seringkali, ketika ada orang baru atau orang asing datang ke lingkaran kehidupan kita—baik itu di lingkungan rumah, di tempat kerja, atau bahkan di bangku gereja ini—sikap pertama kita adalah memasang dinding pembatas. Kita cenderung menutup diri karena takut kenyamanan kita terganggu.

Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: Tindakan iman orang percaya dimulai dari ketulusan hati untuk menerima sesama.

Menerima dengan ketulusan hati berarti kita menghargai setiap orang yang Tuhan izinkan berpapasan dalam hidup kita. Ketika kita menyambut orang lain tanpa pamrih, tanpa membeda-bedakan suku, latar belakang, atau status sosialnya, di situlah kita sedang memancarkan kasih Kristus yang nyata.



2. Menolong dengan Standar Yang Tinggi (Ayat 6-7)



“...Engkau akan bertindak baik, jika engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah. Sebab oleh karena nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.” (3 Yohanes 1:6-7)


Setelah kita memiliki ketulusan hati untuk menerima orang lain, tindakan selanjutnya tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Rasul Yohanes melanjutkan nasehatnya di ayat ke-6 dengan kalimat yang sangat mendalam: “Engkau akan bertindak baik, jika engkau menolong mereka... dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.”


Perhatikan ayat ini: “dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.” Dalam teks aslinya, kalimat ini memiliki arti: menolong dengan cara yang layak dan hormat, seolah-olah kita sedang melakukannya untuk Allah sendiri.

Artinya apa bagi kita? Ketika kita menolong sesama, ketika kita menolong pekerjaan Tuhan, atau ketika kita memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita berikan, tetapi Tuhan melihat bagaimana cara kita memberikannya. Tuhan menginginkan standar terbaik.

Banyak orang di dunia ini menolong dengan prinsip "sekadar". Sekadar gugur kewajiban, sekadar memberikan sisa-sisa yang kita miliki, atau sekadar memberi supaya tidak merasa bersalah. Kalau ada baju bekas yang sudah robek dan tidak layak pakai, baru disumbangkan. Memberi dan menolong dengan standar yang tinggi, artinya orang lain senang menerima bantuan bukan hang tidak berguna bagi kita tetapi yang baik dari kita kita bagi dengan orang lain jadi bukan dengan sekedar saja. 


Firman Tuhan hari ini menantang kita untuk mendobrak mentalitas "sekadar" itu. Gayus dipuji karena ketika dia menolong para hamba Tuhan yang asing itu, dia memberikan tumpangan terbaik, makanan terbaik, dan bekal perjalanan yang terbaik. Mengapa? Karena di ayat 7 dikatakan, orang-orang asing ini pergi berjalan demi nama Kristus. Mereka tidak meminta-minta kepada orang yang tidak mengenal Allah. Mereka berjalan dengan iman.

Saudara-saudari, setiap kali kita mengulurkan tangan untuk menolong sesama, khususnya mereka yang bergerak demi kebenaran dan kasih, ingatlah bahwa kita sedang melakukannya untuk Tuhan.


Demikian kita di tempat kerja kita, di dalam pelayanan gereja, atau di tengah keluarga, mari kita bawa prinsip ini: Berikan standar yang terbaik.

 * Jika kita menolong orang dengan tenaga kita, berikan tenaga yang tulus, bukan dengan bersungut-sungut.

 * Jika kita menolong dengan materi kita, berikan dengan sukacita dan hormat, bukan dengan sikap merendahkan orang yang ditolong.

Sebab ketika kita memberikan yang terbaik bagi sesama, kita sedang memuliakan Allah yang sudah terlebih dahulu memberikan yang terbaik bagi hidup kita—yaitu Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Jangan pernah memberikan yang "sisa" kepada Tuhan yang telah memberikan "segala-galanya" bagi kita.


3. Mengambil Bagian dalam Pelayanan Bersama (Ayat 8)


“Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh menjadi rekan-rekan kerja untuk kebenaran.” (3 Yohanes 1:8)


Kita telah melihat bagaimana kita musti menerima dengan ketulusan, dan bagaimana kita musti menolong dengan standar terbaik. Sekarang, sampai kita pada puncaknya di ayat ke-8. Rasul Yohanes menuliskan sebuah kalimat yang menjadi payung besar dari seluruh khotbah kita hari ini: “...supaya kita boleh menjadi rekan-rekan kerja untuk kebenaran.”


Perhatikan kata "rekan kerja". Di dalam bahasa aslinya, kata yang digunakan adalah sunergos—yang menjadi akar kata "sinergi" dalam bahasa kita hari ini. Artinya, bekerja bersama-sama, saling menopang, dan bergerak dalam satu tim.

Mari kita merenungkan hal ini secara mendalam: Tidak semua orang di antara kita dipanggil untuk berdiri di depan mimbar dan berkhotbah. Tidak semua orang dipanggil untuk pergi ke pedalaman menjadi misionaris, atau meninggalkan pekerjaannya demi menjadi pendeta. Tuhan menempatkan kita di ladang yang berbeda-beda. Ada yang menjadi pengusaha, karyawan, guru, ibu rumah tangga, dokter, atau petani. Tetapi dengarkan kebenaran ini: Setiap kita memiliki panggilan yang sama untuk menjadi rekan kerja Allah dalam menyatakan kebenaran.


Ketika Gayus membuka pintu rumahnya, memberikan makan, dan menyediakan bekal bagi para hamba Tuhan yang asing itu, Gayus mungkin tidak ikut berjalan kaki keliling kota untuk mengajar. Gayus tetap tinggal di rumahnya. Tetapi di mata Tuhan, melalui kebaikan dan topangan fasilitas yang Gayus berikan, Gayus telah otomatis mengambil bagian dan ikut serta dalam setiap jiwa yang diselamatkan oleh penginjil tersebut! Gayus adalah seorang partner—seorang rekan kerja dalam kebenaran.


Ini adalah sebuah penghiburan sekaligus tantangan yang luar biasa bagi kita hari ini.

Ketika Anda mendukung pelayanan gereja dengan talenta Anda (mungkin sebagai pemusik, penerima tamu, atau pendoa syafaat)... Ketika daoat berpartisipasi untuk mendukung pos-pos pekabaran Injil atau pendidikan anak-anak yang kurang mampu...

Bahkan ketika Anda menolong orang asing di luar sana yang sedang berjuang menyatakan kebaikan demi nama Tuhan.


Di situlah Anda sedang berpartner dengan Allah. Anda sedang ber-sinergi dengan kerajaan surga! Pelayanan kebenaran ini tidak pernah bisa dikerjakan oleh satu orang pendeta atau satu orang majelis saja. Ini adalah pelayanan bersama.


Penutup 


Cara kita bertindak terhadap orang asing atau sesama di sekitar kita adalah cerminan langsung dari iman kita kepada Kristus. Ketika kita menerima mereka dengan ketulusan hati, menolong mereka dengan standar terbaik, dan mengambil bagian dalam pelayanan bersama, kita sedang mengubah dunia yang dingin dan penuh kecurigaan ini menjadi dunia yang hangat oleh kasih Allah.


Jangan pernah berpikir, "Ah, saya hanyalah jemaat biasa, apa yang bisa saya lakukan?" Ingatlah Gayus. Dia bukan rasul, dia bukan pengkhotbah besar, namanya hanya dicatat sekilas di dalam surat yang pendek ini. Namun, ketulusan dan kerelaannya menjadi rekan kerja bagi kebenaran dicatat abadi di dalam Alkitab untuk menjadi teladan bagi kita semua hari ini.

Mari kita pergi dari tempat ini dengan komitmen baru: menjadi rekan kerja Allah yang setia, di mana pun Tuhan menempatkan kita minggu ini.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin! Tuhan memberkati


Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy



Jumat, 24 Juli 2026

KESELAMATAN BAHI SEMUA ORANG

 Catatan Kotbah Minggu V S.Trinitatis

Minggu, 5 Juli 2026

Ev. Zakaria 8:20-23




KESELAMATAN BAGI SEMUA ORANG


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati keselamatan dan perlindungan merupakan lebutuhan utama manusia. Zaman dahulu orang membangun kota disertai dengan pembangunan tembok keliling yang tinggi dengan tujuan perlindungan. Semua penduduk kota amang dsri sersngan musuh. Dalam konteks yang berbeda demikian kita di zaman ini kata "safety" (kedelamatan) merupakan sesuatu yang sangat penting. Contohnya jika anda naik mobil atau pesawat selalu diingatkan untuk menggunakan safety belt (belt keselamatan). Bagi yang kerja di pabrik dan di lapangan akan selalu diwajibkan memakai pakaian pelindung kecelakaan kerja. Bahkan tidak sedikit orang mengasuransikan dirinya, usahanya dalam asuransi dengan tujuan safety dan perlindungan.


Bangsa Israel kembali ke Yerusalem, Allah memerintahkan mereka kembali membangun tembok Yerusalem dan membangun Bait Allah kembali. Allah akan hadir dan berdiam di Sion, Allah sendiri akan menjaga dan melindungi umatNya. Dari Sion datang keselamatan dan perlindungan umatNya. Allah memerintah dari Sion melindungi dan menyelamatkan umatnya dari ancaman bangsa-bangsa sekitar. Bahkan dalam penglihatan Zakaria, Allah bukan hanya melindunhi dan menyelamatkan umatNya, tetapi akan datang banyak bangsa-bangsa yang mencari keselamatan kepada Tuhan. 


Itulah sebebnya penting pembangunan tembok Yerusalem dan Bait Allah. Masalahnya adalah pembangunan itu tertunda, ada banyak orang-orang yang telah kembali dari pembuangan Babel tidak peduli terhadap pembangunan tembok Yerusalem dan Bait Allah. Demikian Nabi Zakaria hadir untuk memotivasi umat Allah membangun kembali Bait Allah yang terbengkalai. Bagaimana mungkin Allah hadir di Sion, sementara mereka tidak mau merampungkan pembangunan Bait Allah. 


Inti kitab Zakharia adalah pesan pengharapan dan dorongan bagi bangsa Israel untuk membangun kembali Bait Allah setelah kembali dari pembuangan di Babel. Kitab ini menegaskan bahwa rencana Allah pasti digenapi dan menubuatkan secara detail tentang kedatangan Mesias (Yesus Kristus) di masa depan.


Konteks Kitab Zakharia berada pada masa pasca-pembuangan, tepatnya ketika bangsa Yahudi kembali dari pembuangan di Babel ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Allah. Nabi Zakharia melayani sekitar tahun 520–518 SM, di bawah pemerintahan Raja Darius I dari Persia. Raja Koresh yang Agung sebelumnya telah mengizinkan orang Yahudi pulang pada tahun 538 SM.


Zakharia (bersama rekannya, Nabi Hagai) bertugas memotivasi umat Israel untuk melanjutkan pembangunan Bait Allah Kedua yang sempat terbengkalai. Karena Zion adalah kota Allah, Allah hadir dan memerintah dari Sion


1. Keselamatan Bagi bangsa-bangsa


Zakharia 8:20 (TB) Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. 


Keselamatan akan datang dari Sion, bukan hanya untuk umat Allah, tetapi dalam penglihatan nabi Zakaria masih akan datang banyak bangsa-bangsa yang akan datang menerima keselamatan dari Sion. Keselamatan bukan hanya untuk Yehuda semata tetapi kepada seluruh bangsa - bangsa. 


Apa yang disampaikan oleh Nabi Zakaria ini terus digenapi di dalam perjalanan gereja. Yesus mengutus murid-muridnya memberitakan Injil dan mengajar serta membaptis mereka di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus, Segala bangsa ikut menerima keselamatan. Jumlah umat Kristen di seluruh dunia diperkirakan mencapai 2,3 hingga 2,5 miliar jiwa, yang menjadikannya agama terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Joshua Project, umat Kristen ini tersebar di lebih dari 6.400 suku bangsa (people groups) yang berbeda di seluruh dunia.


Ada kesan bagi sebahagian orang yang telah kembali ke Yerusalem, tidak peduli lagi pada pembangunan Bait Allah, mereka membangun rumah, kebun dan ladang serta berbagai upaya lainnya namun mengabaikan pembangunan Bait Allah. Itu suatu bukti bahwa umat yang kembali da pembuangan 


2. Mari melunakkan hati Tuhan


Zakharia 8:21 (TB) Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami pun akan pergi! 


Ada istilah yang menarik dipakai oleh nabi Zakaria dalam kotbah ini "melunakkan hati Tuhan". Melunakkan hati Tuhan" adalah tindakan atau sikap seseorang yang dengan sungguh-sungguh berdoa, merendahkan diri, dan bertobat di hadapan Tuhan. Ini adalah pengakuan akan kedaulatan Tuhan, di mana manusia berupaya memohon belas kasih, pengampunan, atau anugerah dari-Nya saat menghadapi kesulitan atau akibat dari kesalahan. 


Dalam PL setidaknya kita temukan 6 kali muncul istula ini "melunakkan hati Tuhan" dan 3 kali itu di dalam kitab Zakaria (7:22; 8:21, 8:22:) selebihnya pada Kejadian 32:11 2 Tawarokh 33:12 Mikha 1:9. Jika kita perhatikan konteksnya permohon dengan sikap rendah hati dihadapan Tuhan. Allah mutka dan kalau murkanya tiba semua akan binasa. Disinilah istilah melunakkan hati Tuhan yakni dengan memohon dan mengasihani.


Mengapa Zakaria sampai tiga kali memakai istilah ini suatu pertanyaan penting. Bagi Zakaria Allah telah mengasihani umatNya, sedungguhnya wajar kakau Tuhan murkah dan marah. Allah telah memulangkan mereka dari pembuangan Babel ke Yerusalem, mereka telah banyak memulai aktifitas dan sudah ada yang mapan dengan rumah-rumah, ladang dan ternak tetapi mereka mengabaikan partisipasi membangun Bait Allah. Mereka diperintahkan membangun Bait Allah bertujuan untuk kesejahteraan mereka, namun banyak yang mengabaikannya. Sikap seperti ini akan mendatangkan murka Allah. 


Disinilah Zakaria memotivasi umat Allah untuk menaati perintah Allah menuntaskan pembangunan Bait Allah. Cara itulah itulah yang terbaik untjk melunakkan hati Tuhan. Beribadah dan menaati perintahNya serta menjntaskan pembangunan Bait Allah di Yerusalem. Allah hadir dan menyertai umatNya. Bukan hanya itu, bangsa-bangsa akan datang mencari Tuhan di Sion. 


3. Tuhan menyertai kamu


Zakharia 8:23 (TB) Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai-bagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Allah menyertai kamu!" 


Nabi Zakaria mentampaikan akan ada pertambahan orang-orang yang datang beribadah ke Sion. Mereka adalah orang-orang yang telah mengetahui orang yang di Urapi dari Yahudi. Bangsa-bangsa akan datang menyembah Allah di Sion karena mereka mengetahui umat Allah diberkati oleh Tuhan.


Apa yang disampaikan oleh Zakaria ini sama seperti seorang perempuan hang sudah lama sakit pe darahaan, saat Yesus lewat di kotanya, dia tidak bekesempatan mendapat penumpangan tangan Yesus, tetapi dia berperinsip hanya dengan menjamah jubahNya saja aku sudah sembuh. Matius 9:20-21 (TB) Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.

Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." 


Demikianlah Zakaria melihat "kecemburuan" aatau kerinduab bangsa-bangsa kepada umat Allah yang telah diberkati oleh Tuhan. Setelah bangsa-bangsa melihat dan mengetahuinya Allah telah memberkati Israel pada akhirnya mereka datang dan mengajak orang banyak orang datang menyembah Allah di Sion. 


Sahabat yang baik hati, kasih Allah universal. Dia bukan hanya memberkati Israel, tetapi memberkati semua orang, segala bangsa. Keselamatan datang dari orang yang diurapi dari Yahudi tetapi keselamatan bukan hanya untuk Israel tetapi kepada semua orang. 


Apa yang dinubuatkan Zakaria telah digenapi. Allah telah menggenapi janji keselamatan di dalam Yesus Kristus, barang siapa yang percaya kepadanya tidak akan binasa. Yesus mengutis murid-muridNya menjadikan segala bangsa menjadi murid dan membaptis mereka serta mengajar mereka melakukan kehendak Allah. Kotbah minggu ink mengingatkan kita juga tanggungjawab orang percaya mengabarkan keselamatan ke segala bangsa sebagaimana diamanatkan oleh Tuhan Yesus. (Baca Mati 28:19-20). Marilah kita menunaikannya agar semua orang beroleh keselamatan. Amin. Tuhan memberkati!


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


JANJI TUHAN SEMUANYA DIPENUHI

 Catatan Kotbah Minggu IX S.Trinitatis Minggu 2 Agustus 2026 Ev. Yosua 21:43-45 SEMUA JANJI TUHAN DIPENUHI Selamat Hari Minggu! Sahabat yan...