Catatan Minggu VI S.Trinitatis
Minggu, 12 Juli 2026
Ev. 3 Yohanes 3;5-8
BERTINDAK DENGAN CARA ORANG PERCAYA
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini mengajak kita untuk menghidupi iman percaya. Orang yang menghidupi iman percayanya ditunjukkan dengan cara bertindaknya.
Khusus di surat Yohanes yabg ketiga ini rasul menasihatkan bagaimana cara bertindak orang beriman terhadap orang asing. Rasul Yohanes menasihatkan cara bertindak orang percaya terhadap orang asing adalah kasih. Kita mengasihi saudara-saudara kita dan kita mengasihi musuh-musuh dan orang yang membenci kita. Jangan bertindak seperti orang jahat membalaskan kejahatan dengan jahat kebencian dengan kebencian permusuhan dengan permusuhan. Tetapi terimalah mereka sebagai saudara, tuntun dalam kebenaran dan jangan membalaskan perlakuan buruk dari mereka yang berlaku buruk.
Dalam sosiologi dijelaskan ada suatu sikap komunitas terfent terhadap.orang asing, ada yang menggangap orsng asing lebih unggulnsehongva membuka diri agar keunggulan orsng lain dapat meresap ke komjnitasnya. Sebaliknya.ada yang merasa taku atau menganggap orang asing menjadi ancaman pada komunitasnya inilah yang disebut dengan "xenophobia". Artinya takut terhadap orang asing, karena dengan kehadiran orang asing komunitasnya terancam.
Sekarang dalam kotbah ini rasul Yohanes memberikan nasihat kepada kita, meneladani cara bertindak orang percaya yang nyata di dalam 3 Yohanes ini yaitu bernama Gayus. Dia orang yang saleh dan setia kepada Tuhan sikapnya terhadap ornag asing benar-benar cara orang percaya,
Setidaknya ada tiga cara dan sikap orang percata terhadap orang asing.
1. Menerima dengan Ketulusan Hati (Ayat 5)
Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang setia, dalam segala sesuatu yang engkau lakukan untuk saudara-saudara, walaupun mereka adalah orang-orang asing. (3 Yohanes 1:5)
Amsal orang bijak mengatakan: "Sangat mudah untuk mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi sebuah kekristenan yang sejati diuji saat kita harus mengasihi orang yang belum kita kenal." Pada ayat yang kelima ini, Rasul Yohanes memberikan sebuah pujian yang luar biasa kepada seorang jemaat bernama Gayus. Yohanes menyebut Gayus sebagai "orang yang setia." Mengapa dia disebut setia? Apakah karena dia rajin beribadah di bait Allah saja? Tidak. Gayus disebut setia karena dia membuka pintu rumahnya dan memberikan tumpangan kepada saudara-saudara seiman yang belum pernah dia kenal sebelumnya—yaitu para misionaris keliling, orang-orang asing yang sedang berjalan memberitakan Injil.
Daoat kita bayangkan situasi pada zaman itu. Zaman dulu belum ada hotel yang aman, belum ada aplikasi penginapan seperti sekarang. Mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumah adalah sebuah risiko yang besar. Bisa saja mereka orang jahat, bisa saja mereka membawa penyakit, atau bisa saja mereka justru merepotkan keluarga kita.
Tetapi lihat bagaimana cara bertindak Gayus. Dia tidak melihat orang asing dengan mata kecurigaan. Dia melihat mereka dengan mata iman. Dia menerima mereka dengan ketulusan hati yang penuh. Mengapa? Karena dia tahu, di dalam Kristus, orang asing yang melayani Tuhan itu bukan lagi orang luar, melainkan saudara seiman.
Dunia hari ini mengajarkan kita untuk menjadi orang yang individualis dan penuh kecurigaan. Seringkali, ketika ada orang baru atau orang asing datang ke lingkaran kehidupan kita—baik itu di lingkungan rumah, di tempat kerja, atau bahkan di bangku gereja ini—sikap pertama kita adalah memasang dinding pembatas. Kita cenderung menutup diri karena takut kenyamanan kita terganggu.
Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: Tindakan iman orang percaya dimulai dari ketulusan hati untuk menerima sesama.
Menerima dengan ketulusan hati berarti kita menghargai setiap orang yang Tuhan izinkan berpapasan dalam hidup kita. Ketika kita menyambut orang lain tanpa pamrih, tanpa membeda-bedakan suku, latar belakang, atau status sosialnya, di situlah kita sedang memancarkan kasih Kristus yang nyata.
2. Menolong dengan Standar Yang Tinggi (Ayat 6-7)
“...Engkau akan bertindak baik, jika engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah. Sebab oleh karena nama-Nya mereka telah berangkat dengan tidak menerima sesuatupun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah.” (3 Yohanes 1:6-7)
Setelah kita memiliki ketulusan hati untuk menerima orang lain, tindakan selanjutnya tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Rasul Yohanes melanjutkan nasehatnya di ayat ke-6 dengan kalimat yang sangat mendalam: “Engkau akan bertindak baik, jika engkau menolong mereka... dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.”
Perhatikan ayat ini: “dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah.” Dalam teks aslinya, kalimat ini memiliki arti: menolong dengan cara yang layak dan hormat, seolah-olah kita sedang melakukannya untuk Allah sendiri.
Artinya apa bagi kita? Ketika kita menolong sesama, ketika kita menolong pekerjaan Tuhan, atau ketika kita memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita berikan, tetapi Tuhan melihat bagaimana cara kita memberikannya. Tuhan menginginkan standar terbaik.
Banyak orang di dunia ini menolong dengan prinsip "sekadar". Sekadar gugur kewajiban, sekadar memberikan sisa-sisa yang kita miliki, atau sekadar memberi supaya tidak merasa bersalah. Kalau ada baju bekas yang sudah robek dan tidak layak pakai, baru disumbangkan. Memberi dan menolong dengan standar yang tinggi, artinya orang lain senang menerima bantuan bukan hang tidak berguna bagi kita tetapi yang baik dari kita kita bagi dengan orang lain jadi bukan dengan sekedar saja.
Firman Tuhan hari ini menantang kita untuk mendobrak mentalitas "sekadar" itu. Gayus dipuji karena ketika dia menolong para hamba Tuhan yang asing itu, dia memberikan tumpangan terbaik, makanan terbaik, dan bekal perjalanan yang terbaik. Mengapa? Karena di ayat 7 dikatakan, orang-orang asing ini pergi berjalan demi nama Kristus. Mereka tidak meminta-minta kepada orang yang tidak mengenal Allah. Mereka berjalan dengan iman.
Saudara-saudari, setiap kali kita mengulurkan tangan untuk menolong sesama, khususnya mereka yang bergerak demi kebenaran dan kasih, ingatlah bahwa kita sedang melakukannya untuk Tuhan.
Demikian kita di tempat kerja kita, di dalam pelayanan gereja, atau di tengah keluarga, mari kita bawa prinsip ini: Berikan standar yang terbaik.
* Jika kita menolong orang dengan tenaga kita, berikan tenaga yang tulus, bukan dengan bersungut-sungut.
* Jika kita menolong dengan materi kita, berikan dengan sukacita dan hormat, bukan dengan sikap merendahkan orang yang ditolong.
Sebab ketika kita memberikan yang terbaik bagi sesama, kita sedang memuliakan Allah yang sudah terlebih dahulu memberikan yang terbaik bagi hidup kita—yaitu Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Jangan pernah memberikan yang "sisa" kepada Tuhan yang telah memberikan "segala-galanya" bagi kita.
3. Mengambil Bagian dalam Pelayanan Bersama (Ayat 8)
“Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh menjadi rekan-rekan kerja untuk kebenaran.” (3 Yohanes 1:8)
Kita telah melihat bagaimana kita musti menerima dengan ketulusan, dan bagaimana kita musti menolong dengan standar terbaik. Sekarang, sampai kita pada puncaknya di ayat ke-8. Rasul Yohanes menuliskan sebuah kalimat yang menjadi payung besar dari seluruh khotbah kita hari ini: “...supaya kita boleh menjadi rekan-rekan kerja untuk kebenaran.”
Perhatikan kata "rekan kerja". Di dalam bahasa aslinya, kata yang digunakan adalah sunergos—yang menjadi akar kata "sinergi" dalam bahasa kita hari ini. Artinya, bekerja bersama-sama, saling menopang, dan bergerak dalam satu tim.
Mari kita merenungkan hal ini secara mendalam: Tidak semua orang di antara kita dipanggil untuk berdiri di depan mimbar dan berkhotbah. Tidak semua orang dipanggil untuk pergi ke pedalaman menjadi misionaris, atau meninggalkan pekerjaannya demi menjadi pendeta. Tuhan menempatkan kita di ladang yang berbeda-beda. Ada yang menjadi pengusaha, karyawan, guru, ibu rumah tangga, dokter, atau petani. Tetapi dengarkan kebenaran ini: Setiap kita memiliki panggilan yang sama untuk menjadi rekan kerja Allah dalam menyatakan kebenaran.
Ketika Gayus membuka pintu rumahnya, memberikan makan, dan menyediakan bekal bagi para hamba Tuhan yang asing itu, Gayus mungkin tidak ikut berjalan kaki keliling kota untuk mengajar. Gayus tetap tinggal di rumahnya. Tetapi di mata Tuhan, melalui kebaikan dan topangan fasilitas yang Gayus berikan, Gayus telah otomatis mengambil bagian dan ikut serta dalam setiap jiwa yang diselamatkan oleh penginjil tersebut! Gayus adalah seorang partner—seorang rekan kerja dalam kebenaran.
Ini adalah sebuah penghiburan sekaligus tantangan yang luar biasa bagi kita hari ini.
Ketika Anda mendukung pelayanan gereja dengan talenta Anda (mungkin sebagai pemusik, penerima tamu, atau pendoa syafaat)... Ketika daoat berpartisipasi untuk mendukung pos-pos pekabaran Injil atau pendidikan anak-anak yang kurang mampu...
Bahkan ketika Anda menolong orang asing di luar sana yang sedang berjuang menyatakan kebaikan demi nama Tuhan.
Di situlah Anda sedang berpartner dengan Allah. Anda sedang ber-sinergi dengan kerajaan surga! Pelayanan kebenaran ini tidak pernah bisa dikerjakan oleh satu orang pendeta atau satu orang majelis saja. Ini adalah pelayanan bersama.
Penutup
Cara kita bertindak terhadap orang asing atau sesama di sekitar kita adalah cerminan langsung dari iman kita kepada Kristus. Ketika kita menerima mereka dengan ketulusan hati, menolong mereka dengan standar terbaik, dan mengambil bagian dalam pelayanan bersama, kita sedang mengubah dunia yang dingin dan penuh kecurigaan ini menjadi dunia yang hangat oleh kasih Allah.
Jangan pernah berpikir, "Ah, saya hanyalah jemaat biasa, apa yang bisa saya lakukan?" Ingatlah Gayus. Dia bukan rasul, dia bukan pengkhotbah besar, namanya hanya dicatat sekilas di dalam surat yang pendek ini. Namun, ketulusan dan kerelaannya menjadi rekan kerja bagi kebenaran dicatat abadi di dalam Alkitab untuk menjadi teladan bagi kita semua hari ini.
Mari kita pergi dari tempat ini dengan komitmen baru: menjadi rekan kerja Allah yang setia, di mana pun Tuhan menempatkan kita minggu ini.
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin! Tuhan memberkati
Salam:
Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh
Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar