Sabtu, 19 September 2026

SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN

 Catatan Kotbah Minggu XVI S. TRINITATIS



Minggu, 20 September 2026

Ev. Filipi 4:10-19


SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN


Selamat hari Minggu! Sahabat yang baik hati  kita percaya Allah memelihara hidup pelayan dan gereja yang dilayani. Namjn bagaimana kita mengelola kehidupan yang dipelihara Tuhan. Dalam hidup ini bisa saja terjadi masalah, kekuarangan dan sesaknya mkehiduoan karena kekurangan dan keterbatasan. Mau mengembangkan pelayanan  mau berlari kesana dan kemari namun hidup di dalam keterbatasan. 


Paulus menjadi contoh, dia mengerjakan pelayanan dengan mengelola apa yang ada  tidak mengeluh saat kekurangan dan tidak sombong dan menghambur-hamburkan uang saat berkelimpahan. Paukus mengelolanya dengan baik. 


Dalam kotbah Minggu ini juga kiga menemukan contoh kedewasaan kman jemaat Fipili, peduli tanpa diminta  memperhatikan dan rela memberi tanpa harus mengajukan permohonan dalam kesesakan. Mereka tidak hanya ingin dilayani  tetapi mereka ikut menopang pekayanan hambaNya Paulus dalam melaksanakan missi. 



1. Paulus: Bersyukur, Resilien, dan Mencukupkan Diri dalam Segala Keadaan


“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada rahasia bagiku; kenyang maupun lapar, baik dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:12-13)


Paulus menunjukkan sebuah potret kedewasaan rohani dan resiliensi iman yang amat memukau di tengah jeruji penjara. Meskipun ruang geraknya dibatasi dan hidupnya penuh dengan ketidakpastian, surat yang ditulisnya tidak memancarkan kepahitan, kejenuhan, atau keluhan. Sebaliknya, Paulus mengawalinya dengan ungkapan sukacita dan syukur yang mendalam atas perhatian yang kembali ditunjukkan oleh jemaat di Filipi.


Namun, Paulus berhati-hati agar rasa syukurnya tidak disalahartikan sebagai ketergantungan pada materi. Ia menegaskan bahwa ia telah mempelajari sebuah "rahasia" kehidupan, yaitu ketangguhan batin untuk mencukupkan diri (bahasa Yunani: autarkes). Kata ini menggambarkan kondisi jiwa yang tenang, stabil, dan tidak mudah digoyahkan oleh pasang surutnya keadaan luar. Paulus mampu tetap tenang saat menghadapi perut lapar maupun kenyang, saat mengalami kesusahan maupun kelimpahan. Kepuasannya tidak ditentukan oleh fasilitas hidup, melainkan oleh kehadiran Kristus yang konstan.


Resiliensi Paulus bukanlah bentuk kesombongan stoik atau ketahanan mental pribadi yang kosong. Kunci utama dari kekuatannya dirangkum dalam deklarasi imannya yang monumental: "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Sumber resiliensi dan rasa cukup yang dihidupi Paulus berakar penuh pada persekutuan yang intim dengan Kristus. Dialah yang mengalirkan daya tahan ekstra di saat krisis dan menjaga kerendahan hati di saat kelimpahan.


Disinilah Paulus memberi pelajaran berharga bagi kehidupan orang percaya dan para pelayan Tuhan masa kini: bahwa kebahagiaan dan kedamaian sejati tidak terletak pada terpenuhinya seluruh keinginan kita, melainkan pada kemampuan jiwa yang telah dipuaskan oleh Kristus, sehingga kita sanggup bersyukur dan bertahan teguh dalam situasi apa pun.



2. Karakter Jemaat Filipi: Kepedulian Konkret, tukus dan oersekutuan yang mau berbagi


“Namun demikian baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku... karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.” (Filipi 4:14, 16)


Setelah membagikan rahasia kemandirian dan kepercayaannya kepada Kristus, Paulus memberikan apresiasi yang sangat hangat kepada jemaat Filipi. Ia tidak mengesampingkan kebaikan mereka, melainkan menyoroti karakter kepedulian yang luar biasa dari jemaat ini. Di saat jemaat-jemaat lain mungkin pasif atau ragu-ragu, jemaat Filipi mengambil inisiatif untuk terlibat secara nyata dalam penderitaan dan beban pelayanan Paulus.


Kata yang digunakan Paulus untuk "mengambil bagian" berakar dari kata συγκοινωνέω (Sungkoinoneo), yang berarti bersekutu, menanggung beban bersama, dan mengambil bagian dalam penderitaan sesama. Kepedulian jemaat Filipi bukanlah sekadar empati jarak jauh, ucapan simpati di bibir, atau doa tanpa tindakan. Kepedulian mereka mewujud dalam komitmen yang konsisten. Sejak awal Paulus memberitakan Injil di Makedonia hingga ia dipenjara, jemaat Filipi adalah mitra yang setia mengirimkan bantuan finansial dan logistik—bahkan melakukannya berkali-kali, seperti ketika Paulus berada di Tesalonika.


Keindahan dari karakter jemaat Filipi terletak pada kesediaan mereka untuk melintasi batas kenyamanan diri demi menyokong pelayanan Injil. Mereka memandang penderitaan yang dialami Paulus sebagai penderitaan bersama, dan kebutuhan pemberitaan Injil sebagai tanggung jawab bersama. Bagi Paulus, pemberian mereka bukan sekadar urusan transaksi uang atau penyelesaian masalah materi, melainkan cerminan dari hati yang telah diubahkan oleh kasih Kristus—hati yang peka, dermawan, dan siap berbagi.


Apa yang dilakukan oleh jemaat Filipi menopang pelayanan Paulus bagi kita saat ini adalah menyuarakan panggilan penting bagi jemaat masa kini: iman yang sejati selalu melahirkan kepedulian yang nyata. Gereja dan setiap anggota tubuh Kristus dipanggil untuk tidak bersikap apatis terhadap pergumulan sesama maupun kebutuhan pekerjaan Tuhan, melainkan menjadi mitra pelayanan yang aktif, saling menopang, dan rela berbagi dalam situasi apa pun.


3. Allah Sumber Segala Berkat: Persembahan yang Berkenan dan Janji Kecukupan Ilahi


“Tetapi sekarang aku telah menerima semuanya dari padamu, bahkan berkelimpahan... suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:18-19)


Pada bagian penutup ini, Paulus membawa seluruh percakapan tentang memberi dan menerima ke tingkat teologis yang paling tinggi. Ia menegaskan bahwa bantuan yang dikirimkan oleh jemaat Filipi melalui Epafroditus bukan sekadar bantuan kemanusiaan biasa atau pemenuhan kebutuhan seorang rasul. Di mata Allah, kepedulian dan kedermawanan jemaat itu naik sebagai "persembahan yang harum" (osmen euodias)—sebuah istilah persembahan kurban dalam Perjanjian Lama yang sangat disukai dan berkenan di hadapan Allah. Ketika jemaat memberi untuk menopang pelayanan Injil dan memperhatikan sesama, tindakan itu pada hakikatnya adalah ibadah yang nyata kepada Tuhan.


Dari realitas inilah Paulus memancarkan salah satu janji iman yang paling menguatkan di seluruh Kitab Suci: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" (Ayat 19). Paulus tidak berjanji bahwa ia sendiri yang akan membalas kebaikan jemaat Filipi, sebab ia hanyalah seorang hamba. Namun, ia menunjuk kepada Allah sebagai Sumber dari segala berkat. Allah yang diyakini Paulus bukanlah Allah yang berkekurangan, melainkan Allah yang memiliki kelimpahan tak terbatas di dalam kemuliaan Kristus.


Janji ini jaminan yang pasti bagi setiap orang percaya dan gereja yang mau memberi dengan tulus: kita tidak akan pernah menjadi miskin atau merugi karena memberi bagi pekerjaan Tuhan dan menolong sesama. Allah yang memanggil kita adalah Penjamin yang setia. Ia tidak hanya memperhatikan kebutuhan spiritual kita, tetapi juga memelihara dan memenuhi setiap keperluan hidup kita sehari-hari tepat pada waktunya dan sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna.


Apa yang dilakukan oleh Jemaat Filipi ini memanggil kita untuk mengalihkan pandangan dari keterbatasan sumber daya duniawi kepada kelimpahan Allah yang tak terbatas. Ketika pelayan Tuhan dan jemaat saling menopang di dalam kasih, Allah sendiri yang hadir sebagai Sumber pemeliharaan yang mencukupkan, melipatgandakan berkat, dan dimuliakan melalui seluruh kehidupan kita.


Penutup: 

Dari ketiga Poin Naratif (Filipi 4:10-19):


Kita hendak meneladani Paulus dalam.pelayanan  pribadi yang tabgguh dsn tidak mengenal keluh dalam kejuarangan tetap berkobar mengabarkan Injil.  Teladan ketangguhan rohani (autarkes)—bersyukur, resilien, dan menemukan rasa cukup yang sejati di dalam Kristus di tengah kelimpahan maupun kekurangan.


Kedewasaan Jemaat Filipi, mereka bukan untjk dilayani tetapi melayani dan menopang missi. Mereka bukan diperhatikan tegapi memperhstikan: Karakter jemaat yang peduli (sungkoinoneo)—persekutuan yang hidup, peka, dan aktif berbagi serta menopang pelayanan secara nyata.


Dalam segala dinamika kehidupan pelayan dan jemaat kita percaya kepada kelimpahan di dalam Tuhan. Allah sumber segala berkat akan memberikan krkuatan kepada hambaNya menghadapi segala kesulitan dan memberikan orang-orsng yang peduli. Allah sendirilah hang mencukupkan pelayanan dalam menjalankan missi karena itu tidak perlu takut  tetapi percaya kepada kuasa Tuhan yang memberikan kelkmimpahan. Dalam bergereja ada kepastian janji pemeliharaan ilahi yang mencukupkan segala kebutuhan pelayan dan warga jemaatnya. Amin 


Salam dsri Bandung

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy 



TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMATNYA

 Catatan Kotbah Minggu XV S.Trinitatis



Minggu, 13 September 2026

Ev. Keluaran 14: 19-31


TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMATNYA


Salamat Hari Minggu! Pertolongan Tuhan selalu datang untuk melindungi dan menyelamatkan umatNya. TUHAN akan melakukan perbuatan besar kepada umatNya. Seperti pengalaman bangsa Israel yang tersesak dan terhImpit. Mereka berada didalam situasi sulit dan genting. Di depan laut yang siap menenggelamkan mereka dan di belakang Firaun mengejar dengan keganasan dan kemarahan yang amat sangat. Apalagi setelah mengalami tulah demi tulah yang memba. Saat Firaun mengejar, Tuhan menerjang mereka. 


Demikianlah cara Tuhan menyelamatkan bangsa Israel. Tuhan melakukan perbuatan besar kepada umatNya. Perbuatan ini membuka mata iman mereka akan kuasa Allah. 


Baiklah kita kembangkan tiga point berikut ini yang dapat kita petik dan kembangkan dsri kotbah ini. 



1. Penyertaan dan Perlindungan Ilahi di Saat Genting


“Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka... sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.” (Keluaran 14:19-20)


Pemandangan di tepi Laut Tebrau menampilkan situasi yang secara manusiawi sama sekali tanpa harapan. Bangsa Israel terjepit di titik paling kritis dalam sejarah perjalanan mereka: di hadapan mereka terbentang lautan yang dalam, sementara dari belakang terdengar gemuruh derap langkah ribuan pasukan dan kereta perang Firaun yang siap membantai atau membawa mereka kembali ke dalam perbudakan. Dalam kepungan rasa takut dan teriakan panik, Allah tidak tinggal diam. Ia hadir membalikkan keadaan melalui sebuah aksi perlindungan yang luar biasa dramatis.

Malaikat Allah (Mal'akh Elohim) dan tiang awan—yang sepanjang perjalanan selalu setia menuntun di depan—tiba-tiba berpindah posisi. Allah mengambil inisiatif untuk bergerak ke belakang, menempatkan Diri-Nya persis di tengah-tengah antara ancaman musuh dan posisi umat-Nya. Tiang awan itu berdiri menjadi benteng pertahanan yang tak tertembus, menciptakan pemisah yang sempurna.


Yang sangat mengagumkan, tiang yang sama menghadirkan dua realitas yang bertolak belakang pada malam yang mencekam itu: bagi pasukan Mesir, tiang itu menjadi kegelapan yang membingungkan dan menghalangi pandangan, namun bagi bangsa Israel, tiang itu memancarkan cahaya yang menerangi kegelapan malam. Sepanjang malam itu, musuh tidak diizinkan menyentuh atau mendekati umat Allah sedikit pun.


Poin ini menegaskan sebuah kebenaran kekal bagi setiap orang percaya: ketika kehidupan terasa terhimpit dan tidak ada jalan untuk lari, Allah tidak pernah terlambat atau menjadi penonton yang pasif. Ia adalah Bapa yang rela berdiri di garda belakang untuk pasang badan, menjadi perisai di tengah kegelapan, dan memastikan bahwa tidak ada kuasa musuh mana pun yang sanggup menghancurkan mereka yang berada di dalam perlindungan-Nya.



2. Kuasa Membelah Laut Merah: Allah Membuka Jalan di Tengah Jalan Buntu


“Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, mengeringkan laut itu, maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan di tengah-tengah laut di tanah kering...” (Keluaran 14:21-22)


Setiba di hadapan jalan buntu yang tak mungkin diterobos secara manusiawi, Allah memerintahkan Musa untuk mengulurkan tangannya ke atas laut. Di momen inilah keagungan kuasa penciptaan Allah dinyatakan secara dahsyat. TUHAN menghembuskan angin timur yang keras (Ruach) semalam-malaman. Hembusan nafas kekuasaan Allah ini membelah samudera yang dalam dan mengubah dasar laut yang berlumpur menjadi tanah yang betul-betul kering (charabah).


Dinding-dinding air berdiri tegak bagaikan tembok kokoh di sebelah kanan dan kiri mereka. Ini bukan sekadar jalan setapak yang sempit, melainkan sebuah koridor pembebasan yang aman bagi jutaan umat Israel untuk melangkah keluar dari bayang-bayang perbudakan Mesir. Melintasi dasar laut yang kering menuntut langkah iman yang nyata—mereka harus memilih untuk mempercayai firman Allah ketimbang rasa takut akan tembok-tembok air yang mengepung mereka.


Melalui mukjizat ini, Allah menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa atas seluruh alam semesta. Sebagaimana Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air pada awal penciptaan, di tepi Laut Tebrau ini Allah sedang melakukan "penciptaan baru" bagi bangsa Israel—melahirkan mereka dari bangsa budak menjadi bangsa yang merdeka di dalam Dia.


Poin ini memberikan pengharapan yang teguh bagi perjalanan iman kita: ketika situasi hidup membawa kita pada ujung jalan yang tampaknya tanpa harapan, kuasa Tuhan sanggup membelah lautan pergumulan dan menyediakan jalan keluar yang melampaui akal pikiran manusia. Bagi Allah, tidak pernah ada kata "jalan buntu".


3. Kuasa yang Menyatukan Kembali Laut: Kemenangan Mutlak atas Perbudakan Masa Lalu


“Maka Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, lalu menjelang pagi kembalilah air laut ke tempatnya seperti sedalam-sedalamnya... Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir.” (Keluaran 14:27, 30)


Puncak dari peristiwa pembebasan di Laut Tebrau ditandai dengan intervensi Allah yang menuntaskan seluruh ancaman musuh. Ketika pasukan Mesir dengan penuh kesombongan nekat mengejar Israel hingga ke tengah-tengah laut, Allah memandang mereka dari dalam tiang api dan awan. Pada waktu jaga pagi, Tuhan mengacaukan barisan tentara Mesir, mengunci dan mencopot roda-roda kereta perang mereka sehingga mereka bergerak dengan sangat berat. Di saat itulah orang Mesir sadar bahwa mereka bukan sedang bertarung melawan bangsa budak, melainkan menghadapi TUHAN sendiri yang turun tangan berperang membela umat-Nya.


Atas perintah Tuhan, Musa kembali mengulurkan tangannya ke atas laut. Gemuruh air yang tadinya terbelah dan berdiri kokoh tiba-tiba runtuh kembali menyatu seperti sedalam-sedalamnya, menghempas dan menenggelamkan seluruh kekuatan militer Firaun—kereta, penunggang kuda, dan seluruh pasukannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang tersisa. Hari itu, perbudakan ratusan tahun dan teror masa lalu mati tenggelam di dasar laut.


Melalui peristiwa yang dahsyat ini, bangsa Israel melihat karya keselamatan Allah yang sempurna. Teks Alkitab mencatat bahwa ketika melihat perbuatan besar yang dilakukan TUHAN, bangsa itu menjadi takut akan TUHAN dan percaya kepada TUHAN serta kepada Musa, hamba-Nya.


Poin ini memberi kepastian iman bagi kita: kemenangan yang diberikan Allah tidak pernah setengah-setengah. "Firaun" kehidupan, dosa, ketakutan, dan belenggu masa lalu tidak lagi memiliki kuasa atas orang percaya. Ketika Allah bertindak menyelamatkan, Ia menghancurkan kekuatan musuh secara mutlak, sehingga fokus hidup kita bergeser dari ketakutan kepada rasa kagum, hormat, dan percaya penuh kepada kekuasaan-Nya.


Penutup

Dengan ketiga poin ini kita semakin percaya akan Perbuatan Tuhan yang ajaib melindungi dan menyelamatkan umatNya. 


Dalam hidup ini kita percaya pada penyertaan dan perlindungan ilahi di saat genting—Allah pasang badan menjadi perisai dan memberi terang di tengah kegelapan.


Kita percaya akan Kuasa Tuhan sanghup membelah Laut Merah—Allah menciptakan jalan keluar di tengah situasi yang tampaknya jalan buntu.

 

Kita percaya kuasa Tuhan ada kemenangan mutlak atas Firaun—Allah mematahkan kuasa perbudakan masa lalu secara tuntas dan membangkitkan rasa percaya yang penuh kepada-Nya. Sekalipun kita tidak berdaya menghadapi afa Tuhan yang maha kuasa untuk menyelamatkan kita. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy





Sabtu, 05 September 2026

Mengasihi Allah dan Mengasihi Sesama

 Catatan Kotbah Minggu XIV S.Trinitatis



Minggu, 6 September 2026

Ev. Lukas 10:27-35


MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA

Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah tentang Orang Samaria yang baik hati merupakan salah satu pengajaran Yesus yang membuka mata setiap tokoh agama dan rohaniawan tentang essensi ajaean agama itu sendiri. Ajaran agama bukanlah sesesuatu tataran teoritis idealis, dogmatis dan bukan pada rumusan kalimat yang bagus tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah namanya iman yang praxis. 


Ada orang yang menilai keagamaan dari tataran teoritis, bergulat dalam doktrin-doktrin tentang ajaran kebenaran, dampak dari perbededaan doktrin kemudian menghantarkan perpecahan dan klaim kebenaran dan menganggap lain sesat (mebidaatkan atau mengharamkan) ajaran lain. Pandangan seperti itu lama juga terjadi di dalam ajaran agama-agama hingga masa kini termasuk di dalam kekristenan. Apa yang diajarkan oleh Yesus menyadarkan kita bahwa inti pokok dari ajaran keagamaan adalah praksis hidup orang benar, yang mengasihi Allah tampak pada praktek hidup yang mengasihi sesama. Benar apa yang disampaikan oleh rasul Yohanes.

 1 Yohanes 4:20-21 (TB) Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. 

Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. 


Baiklah kita dalami kotbah Minggu ini, setidaknya ada 3 hal yang dapat kita perdalam sebagai pelajaran penting dalam praksis hidup orang percaya yang mengasihi Allah dkbuktikan lewat tindakan kemanusiaan. 


1. Tahu Perintah, Tapi Tidak Melakukan: Menguji Yesus di Balik Kesucian Formalis


Pertama Yesus mengkritik agama Yahudi yang formalis dan legalistik, agama yang menuruti persturan keagamaan sebagai landasan iman.


“Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ’Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’” (Lukas 10:25)


Perikop ini dibuka dengan pemandangan yang sangat khas dalam masyarakat Yahudi abad pertama. Seorang ahli Taurat (Nomikos)—seorang sarjana hukum agama yang dihormati dan menghabiskan seumur hidupnya untuk mempelajari, menyalin, serta menafsirkan Hukum Musa—datang mendekati Yesus. Namun, pendekatannya tidak lahir dari kerendahan hati atau kerinduan akan kebenaran, melainkan untuk mencobai (ekpeirazon). Ia ingin menguji apakah Guru dari Nazaret ini memiliki teologi yang lurus sesuai standar ketat keagamaan Yahudi.


Ketika Yesus bertanya balik tentang apa yang tertulis dalam hukum Taurat, sang ahli Taurat dengan sangat lancar dan tanpa ragu mengutip pengakuan iman utama Yahudi, yaitu Shema (Ulangan 6:5) dan aturan kasih (Imamat 19:18): mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Secara intelektual dan doktrin, jawabannya sempurna, nilai sepuluh. Bangsa Yahudi pada masa itu sangat bangga akan kepemilikan Hukum Taurat; mereka merasa sebagai bangsa pilihan yang dijamin selamat hanya karena memegang teologi yang benar dan menjalankan ritus keagamaan secara formal.


Namun, di sinilah Yesus menyingkapkan kerapuhan sikap keagamaan tersebut. Yesus menjawab: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup" (Ayat 28). Kata "perbuatlah" (poiei) menggarisbawahi jarak yang lebar antara pengetahuan di kepala dan praktik dalam kehidupan. Sikap formalisme Yahudi saat itu sering kali terjebak pada kesucian lahiriah, wacana teologis, dan hafalan ayat, tetapi kering dari ketaatan yang nyata.

Melalui teguran halus ini, Yesus membongkar ilusi sang ahli Taurat: hidup kekal dan hubungan yang sejati dengan Allah tidak pernah dijamin oleh seberapa banyak doktrin yang kita kuasai atau seberapa sering kita membicarakan Firman, melainkan apakah Firman itu dihidupi dan dinyatakan dalam tindakan mengasihi setiap hari. 


Dalam ayat berikutnya dia menerima pesan Yesus tetapi hendak.membela diri dengan bertanya siapa sesamaku manusia? Agama bukanlah hanya nalar dan isi ayat hapalan tegapi tinggal bersama dengan sesamanya. 



2. Mengasihi Sesama Tanpa Mengenal Batas: Membongkar Tembok Prasangka


“Tetapi orang itu ingin membenarkan dirinya, lalu berkata kepada Yesus: ’Dan siapakah sesamaku manusia?’” (Lukas 10:29)


Menyadari bahwa ketaatannya sedang diuji, sang ahli Taurat berusaha "membenarkan dirinya" dengan mengajukan pertanyaan teologis yang sangat populer di kalangan rabi Yahudi saat itu: "Siapakah sesamaku manusia?" Dalam tradisi dan pandangan keagamaan Yahudi abad pertama, kata "sesama" (rea') memiliki batasan yang sangat sempit dan eksklusif. Bagi mereka, sesama hanyalah sesama anggota bangsa Yahudi, penganut agama yang sama, atau rekan satu kelompok. Orang di luar Yahudi, terlebih bangsa Samaria, dianggap najis, kafir, bahkan musuh yang layak dibenci.


Guna menjawab batasan sempit tersebut, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang korban perampokan yang terkapar setengah mati di jalan berbahaya antara Yerusalem dan Yerikho. Dua tokoh agama Yahudi yang sangat dihormati lewat di sana: seorang Imam dan seorang Lewi. Keduanya melihat korban tersebut, namun memilih untuk melintas dari samping dan menjauh. Mengapa? Bagi mereka, menyentuh orang yang tampak hampir mati berisiko melanggar hukum kesucian ritual (Imamat 21:1). Jika orang itu ternyata sudah mati, mereka akan menjadi najis dan kehilangan hak menjalankan tugas keagamaan di Bait Allah. Mereka lebih memilih menjaga tembok kesucian formalis dan kenyamanan diri daripada menyelamatkan nyawa manusia.


Lalu Yesus menghadirkan figur yang amat mengejutkan: seorang Samaria. Secara sejarah, bangsa Yahudi dan Samaria terlibat permusuhan turun-temurun yang sangat tajam—keduanya saling menghina dan tidak saling menyapa. Namun, orang Samaria yang "dianggap musuh" inilah yang justru berhenti, mengobati luka korban, membawanya ke penginapan, dan membiayai seluruh perawatannya.


Melalui perumpamaan ini, Yesus merubuhkan seluruh tembok pembatas yang dibangun oleh tradisi manusia. Kasih Kristiani tidak boleh dikotakkan oleh garis suku, ras, status sosial, agama, atau prasangka pribadi. Yesus memutarbalikkan pertanyaan sang ahli Taurat: bukan lagi sibuk mencari siapa yang layak menjadi sesama kita, melainkan bagaimana kita sendiri hadir menjadi sesama bagi siapa saja yang sedang membutuhkan pertolongan di hadapan kita.


Tokoh yang dianggap paling agamawan, dekat dengan Tuhan dan yang dipuji da dihormstinkarena ketaatannya kepada agam justru tidak menunjukkan belaskasihan yang seharusnya dilakukan. Tetapi dengan Tokoh orang Samaria, yang dinilai hina, dan tak layak berjumpa dengan Yahudi menunjukkan nilai kemanusiaan.


3. Menunjukkan Belas Kasihan yang Nyata: 


Kasih yang Berkorban dan Berdampak

“Lalu datanglah seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” (Lukas 10:33)


Puncak dari perumpamaan ini terletak pada respons batin dan tindakan nyata orang Samaria tersebut. Ketika melihat korban perampokan yang tergeletak tak berdaya, Alkitab mencatat bahwa “tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah σπλαγχνίζομαι (Splagchnizomai). Ini adalah istilah yang sangat kuat, menggambarkan belas kasihan yang begitu mendalam hingga meremas bagian dalam perut (bowels of compassion). Ini bukan sekadar rasa iba yang pasif, sentimentalitas di bibir, atau simpati dari kejauhan, melainkan dorongan batin yang mewajibkan lahirnya tindakan konkret.


Orang Samaria ini melangkah jauh melampaui rasa kasihan biasa. Belas kasihan yang sejati selalu menuntut harga dan pengorbanan:


a. Pengorbanan Sumber Daya: Ia menyiramkan minyak dan anggur—pertolongan medis yang mahal pada zaman itu—untuk membersihkan dan membalut luka-luka korban.


 b. Pengorbanan Kenyamanan & Waktu: Ia menaikkan orang terluka itu ke atas keledai tunggangannya sendiri, sementara ia sendiri berjalan kaki menempuh sisa perjalanan yang berbahaya, lalu merawatnya sepanjang malam di penginapan.


c. Pengorbanan Finansial: Ia mengeluarkan dua dinar (setara dengan upah kerja dua hari) dan memberikan jaminan terbuka kepada pemilik penginapan untuk menanggung seluruh biaya perawatan tambahan sampai orang itu sembuh.


Di akhir cerita, Yesus bertanya kepada ahli Taurat tentang siapa di antara ketiga orang itu yang telah menjadi "sesama" bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun. Dengan enggan, ahli Taurat itu menjawab: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Yesus lalu memberikan perintah yang memungkas seluruh diskusi: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Poreuou kai sy poiei homoios).

Iman yang sejati tidak diukur dari seberapa suci ritus yang kita jalani atau seberapa tinggi wacana kasih yang kita gaungkan, melainkan dari keberanian kita untuk melangkah turun, terlibat dalam rasa sakit sesama, dan mempraktikkan belas kasihan Kristus yang nyata di tengah dunia yang terluka.


Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini meminta kesungguhan hati kita sebagai ornag yang menerima keselamatan. klKita telah dibenarkan dan telah diselamatkan pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita menghiduo kasih Allah itu dalam praktek kehiduoan sehari-hari.  


Dari perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati:


1: Melepaskan formalisme agama—iman bukan sekadar hafalan Taurat di kepala, melainkan ketaatan yang dihidupi.


2: Merubuhkan tembok prasangka—kasih tidak dibatasi oleh suku, ras, atau status, melainkan hadir bagi siapa saja yang membutuhkan.


3: Menghidupi belas kasihan yang nyata (Splagchnizomai)—kasih yang mau berkorban waktu, tenaga, dan harta demi memulihkan sesama. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy


SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN

  Catatan Kotbah Minggu XVI S. TRINITATIS Minggu, 20 September 2026 Ev. Filipi 4:10-19 SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN Selama...