Sabtu, 19 September 2026

TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMATNYA

 Catatan Kotbah Minggu XV S.Trinitatis



Minggu, 13 September 2026

Ev. Keluaran 14: 19-31


TUHAN MELAKUKAN PERBUATAN BESAR BAGI UMATNYA


Salamat Hari Minggu! Pertolongan Tuhan selalu datang untuk melindungi dan menyelamatkan umatNya. TUHAN akan melakukan perbuatan besar kepada umatNya. Seperti pengalaman bangsa Israel yang tersesak dan terhImpit. Mereka berada didalam situasi sulit dan genting. Di depan laut yang siap menenggelamkan mereka dan di belakang Firaun mengejar dengan keganasan dan kemarahan yang amat sangat. Apalagi setelah mengalami tulah demi tulah yang memba. Saat Firaun mengejar, Tuhan menerjang mereka. 


Demikianlah cara Tuhan menyelamatkan bangsa Israel. Tuhan melakukan perbuatan besar kepada umatNya. Perbuatan ini membuka mata iman mereka akan kuasa Allah. 


Baiklah kita kembangkan tiga point berikut ini yang dapat kita petik dan kembangkan dsri kotbah ini. 



1. Penyertaan dan Perlindungan Ilahi di Saat Genting


“Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka... sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.” (Keluaran 14:19-20)


Pemandangan di tepi Laut Tebrau menampilkan situasi yang secara manusiawi sama sekali tanpa harapan. Bangsa Israel terjepit di titik paling kritis dalam sejarah perjalanan mereka: di hadapan mereka terbentang lautan yang dalam, sementara dari belakang terdengar gemuruh derap langkah ribuan pasukan dan kereta perang Firaun yang siap membantai atau membawa mereka kembali ke dalam perbudakan. Dalam kepungan rasa takut dan teriakan panik, Allah tidak tinggal diam. Ia hadir membalikkan keadaan melalui sebuah aksi perlindungan yang luar biasa dramatis.

Malaikat Allah (Mal'akh Elohim) dan tiang awan—yang sepanjang perjalanan selalu setia menuntun di depan—tiba-tiba berpindah posisi. Allah mengambil inisiatif untuk bergerak ke belakang, menempatkan Diri-Nya persis di tengah-tengah antara ancaman musuh dan posisi umat-Nya. Tiang awan itu berdiri menjadi benteng pertahanan yang tak tertembus, menciptakan pemisah yang sempurna.


Yang sangat mengagumkan, tiang yang sama menghadirkan dua realitas yang bertolak belakang pada malam yang mencekam itu: bagi pasukan Mesir, tiang itu menjadi kegelapan yang membingungkan dan menghalangi pandangan, namun bagi bangsa Israel, tiang itu memancarkan cahaya yang menerangi kegelapan malam. Sepanjang malam itu, musuh tidak diizinkan menyentuh atau mendekati umat Allah sedikit pun.


Poin ini menegaskan sebuah kebenaran kekal bagi setiap orang percaya: ketika kehidupan terasa terhimpit dan tidak ada jalan untuk lari, Allah tidak pernah terlambat atau menjadi penonton yang pasif. Ia adalah Bapa yang rela berdiri di garda belakang untuk pasang badan, menjadi perisai di tengah kegelapan, dan memastikan bahwa tidak ada kuasa musuh mana pun yang sanggup menghancurkan mereka yang berada di dalam perlindungan-Nya.



2. Kuasa Membelah Laut Merah: Allah Membuka Jalan di Tengah Jalan Buntu


“Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, mengeringkan laut itu, maka terbelahlah air itu. Demikianlah orang Israel berjalan di tengah-tengah laut di tanah kering...” (Keluaran 14:21-22)


Setiba di hadapan jalan buntu yang tak mungkin diterobos secara manusiawi, Allah memerintahkan Musa untuk mengulurkan tangannya ke atas laut. Di momen inilah keagungan kuasa penciptaan Allah dinyatakan secara dahsyat. TUHAN menghembuskan angin timur yang keras (Ruach) semalam-malaman. Hembusan nafas kekuasaan Allah ini membelah samudera yang dalam dan mengubah dasar laut yang berlumpur menjadi tanah yang betul-betul kering (charabah).


Dinding-dinding air berdiri tegak bagaikan tembok kokoh di sebelah kanan dan kiri mereka. Ini bukan sekadar jalan setapak yang sempit, melainkan sebuah koridor pembebasan yang aman bagi jutaan umat Israel untuk melangkah keluar dari bayang-bayang perbudakan Mesir. Melintasi dasar laut yang kering menuntut langkah iman yang nyata—mereka harus memilih untuk mempercayai firman Allah ketimbang rasa takut akan tembok-tembok air yang mengepung mereka.


Melalui mukjizat ini, Allah menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa atas seluruh alam semesta. Sebagaimana Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air pada awal penciptaan, di tepi Laut Tebrau ini Allah sedang melakukan "penciptaan baru" bagi bangsa Israel—melahirkan mereka dari bangsa budak menjadi bangsa yang merdeka di dalam Dia.


Poin ini memberikan pengharapan yang teguh bagi perjalanan iman kita: ketika situasi hidup membawa kita pada ujung jalan yang tampaknya tanpa harapan, kuasa Tuhan sanggup membelah lautan pergumulan dan menyediakan jalan keluar yang melampaui akal pikiran manusia. Bagi Allah, tidak pernah ada kata "jalan buntu".


3. Kuasa yang Menyatukan Kembali Laut: Kemenangan Mutlak atas Perbudakan Masa Lalu


“Maka Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, lalu menjelang pagi kembalilah air laut ke tempatnya seperti sedalam-sedalamnya... Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir.” (Keluaran 14:27, 30)


Puncak dari peristiwa pembebasan di Laut Tebrau ditandai dengan intervensi Allah yang menuntaskan seluruh ancaman musuh. Ketika pasukan Mesir dengan penuh kesombongan nekat mengejar Israel hingga ke tengah-tengah laut, Allah memandang mereka dari dalam tiang api dan awan. Pada waktu jaga pagi, Tuhan mengacaukan barisan tentara Mesir, mengunci dan mencopot roda-roda kereta perang mereka sehingga mereka bergerak dengan sangat berat. Di saat itulah orang Mesir sadar bahwa mereka bukan sedang bertarung melawan bangsa budak, melainkan menghadapi TUHAN sendiri yang turun tangan berperang membela umat-Nya.


Atas perintah Tuhan, Musa kembali mengulurkan tangannya ke atas laut. Gemuruh air yang tadinya terbelah dan berdiri kokoh tiba-tiba runtuh kembali menyatu seperti sedalam-sedalamnya, menghempas dan menenggelamkan seluruh kekuatan militer Firaun—kereta, penunggang kuda, dan seluruh pasukannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang tersisa. Hari itu, perbudakan ratusan tahun dan teror masa lalu mati tenggelam di dasar laut.


Melalui peristiwa yang dahsyat ini, bangsa Israel melihat karya keselamatan Allah yang sempurna. Teks Alkitab mencatat bahwa ketika melihat perbuatan besar yang dilakukan TUHAN, bangsa itu menjadi takut akan TUHAN dan percaya kepada TUHAN serta kepada Musa, hamba-Nya.


Poin ini memberi kepastian iman bagi kita: kemenangan yang diberikan Allah tidak pernah setengah-setengah. "Firaun" kehidupan, dosa, ketakutan, dan belenggu masa lalu tidak lagi memiliki kuasa atas orang percaya. Ketika Allah bertindak menyelamatkan, Ia menghancurkan kekuatan musuh secara mutlak, sehingga fokus hidup kita bergeser dari ketakutan kepada rasa kagum, hormat, dan percaya penuh kepada kekuasaan-Nya.


Penutup

Dengan ketiga poin ini kita semakin percaya akan Perbuatan Tuhan yang ajaib melindungi dan menyelamatkan umatNya. 


Dalam hidup ini kita percaya pada penyertaan dan perlindungan ilahi di saat genting—Allah pasang badan menjadi perisai dan memberi terang di tengah kegelapan.


Kita percaya akan Kuasa Tuhan sanghup membelah Laut Merah—Allah menciptakan jalan keluar di tengah situasi yang tampaknya jalan buntu.

 

Kita percaya kuasa Tuhan ada kemenangan mutlak atas Firaun—Allah mematahkan kuasa perbudakan masa lalu secara tuntas dan membangkitkan rasa percaya yang penuh kepada-Nya. Sekalipun kita tidak berdaya menghadapi afa Tuhan yang maha kuasa untuk menyelamatkan kita. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN

  Catatan Kotbah Minggu XVI S. TRINITATIS Minggu, 20 September 2026 Ev. Filipi 4:10-19 SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM TUHAN Selama...