Sabtu, 06 September 2025

PERBAIKILAH TINGKAH LANGKAH DAN PERBUATANMU

 Kotbah Minggu XII Stlh Trinitatis

Minggu, 7 September 2025

Ev. Yeremia 18:1-11


MEMPERBAIKI TINGKAH LANGKAH DAN PERBUATANMU


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik kotbah Minggu ini mengajak kita untuk menyadari bahwa segala sesuatu terjadi adalah atas otoritas Allah. Saat susah dan senang, saat disukai atau dibenci, saat berbeban berat dan bersukaria semuanya terjadi atas sekehendak Allah. Tentulah kita semua bahagia saat kita mengalami kegembiraan dan merasakan kehendak Tuhan. Bagaimana dengan sebaliknya? Saat terjadi kesusahan pasti ada perasaan perenungan ada apa yang terjadi, mungkin Tuhan marah atas tingkah dan perbuatan? Refleksi seperti itu sangat dibutuhkan sehingga setiap orang dapat memperbaiki diri.


Demikianlah pengalaman Yeremia saat menjawab pertanyaan umat Allah di dalam pembuangan, dimanakah Allah? Apakah dia tidak bekerja untuk umatNya? Yeremia disuruh pergi ke tukang periuk untuk belajar sesuatu dari sana. 


Yeremia 18:6 (TB) "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!


Inilah ajakan dari kotbah Minggu ini, Yeremia dioanggil Tuhan untuk belajar dari tungka periuk, daei pelajarannitu dia akan diberikan pemahaman yang mendalam otoritas Allah dalam hidup umatNya. 


Berikut ini marilah kita ambil beberapa pokok penting dari perikop kotbah Minggu ini. 


1. Belajar dari tukang periuk

Jika anda pernah berkunjung ke pengerajin tembikar, maka sangat mudah memahami teks renungan di pagi hari ini. Tembikar adalah berbagai karya yang terbuat dari tanah liat seperti: periuk, kendi air, pot bunga atau vas bunga, dan keperluan lainnya. Tulang tembikar memilih tanah liat, mengolahnya dan membentuknya sesuai dengan keinginan tukang tembikar, jika tidak sesuai dia segerah mememecahkannya da mengulang lagi sampai sesuai dengan yang diinginkannya. Tembikar jadi menurut kehendak pembuatnya. Tidak ada tembikar yang menginginkan bentuknya yang begini dan begitu tetapi sepenuhnya tergantung kepada pembuatnya. Kuasa mutlak atau otoritas sepenuhnya tergantung pada tukangnya.


Demikianlah Yeremia dipanggil Tuhan untuk belajar ke tukang periuk dan pelajaran itu dijelaskan kepada Umat Allah di dalam pembuangan. Mungkin ada pertanyaan dari mereka, mengapa.mereka harus terbuang, bukankah mereka umat Allah, umat lilihan dan umat yang diberkati? Firman Tuhan memberi contoh tentang otoritas Tuhan pada umatnya seperti tukang periuk atau tembikar atas tanah liat demikian otoritas Allah membentuk umatNya. 


Jaman Yeremia hal ini sangat mudah dicernah, karena alat alat rumah tangga sepeti periuk, gendi air dll masih banyak terbuat dari tanah liat. Semua peralatan ini dibentuk menurut kehendak tukang periuk: mulai dsri pemilihat jenis tanah, menumbuknya sampai halus, membentuk melalui suatu seni khusus hingga pengeringan sehingga menjadi brntuk jadi. Menurut Yeremia, demikian Umat Allah yang tidak setia terus dalam pembentukan. Dengan contoh ini pembentukan Israel menjadi umat Allah dan Allah menjadi Allah mereka terus menerus terjadi, bukan hanya jaman bapak leluhur Abraham, Ishak dan Yakub, zaman Musa hingga raja-raja sàmpai ke pembuangan masih terus dalam upaya pembentukan umatnya yang sesuai dengan kehendak Allah.


Penjelasan Yeremia hal situasi pembuangan menimbulkan harapan baru, bahwa situasi ini adalah bahagian dari rencana Allah untuk membentuk umatNya seturut dengan kehendakNya. Pembuangan bukanlah penghangusan atas umat Israel. Dengan contoh ini pembuangan bukanlah kisah akhir perjalanan umatNya, tetapi bagian dari tahapan rencana Allah.


Baiklah kita mengambil beberapa catatan pentinf sesuai dengan topok minggu ini: Perbaikilah Tingkah dan lakumu? Bererti ada sesuatu yang dikoreksi dan diperbaiki. 


2. Dosa dan pelanggaran umatNya dalam Pasal 17


Memahami pasal 18 tidak terlepas dari pasal 17. Sehingga menjawab pertanyaan umat Allah mengapa mereka harus terbuang? JIka kita baca pasal 17 ada 3 dosa besar umat Allah.


- ay 1. penyembahan berhala dan mereka telah membangun mezbah-mezbah kepada ailah Lain. Disini Yeremia menyebutkan beberqpa mezbahbyangvtelah dibangun untuk berhala. Yeguda ridak lagi oercaya kepqda aqllah, tetapi mengandalkan kekuatan asing yang berdampak buruk pada kehiduoan spiritualutas mereka harua membangun mezbah kepada ilqh lain..


- ay 9: hati yang licik dab sudah membatu. Apapun cwritanya pwkerjaan licim adalah pekerjqqn iblis yang melqkukan tioudaya, menyebarkan kebohongan sehjbgga korban diperdaya. 


- ay 11: dosa kekayaan, mengejar dan melakukan berbagai tindakan untuk memperkaya diri sehingga dinasihati.

Yeremia 17:11 (TB) Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal. 


3. Teologi Daur ulang.

Satu pertanyaan adalah mengapa Allah membiarkan umat Allahb dalam pembuangan Babel yang menyengsarakan? Bukankah umat Allah adalah umat pilihan? pertanyaanninondijawab dengan pemanggilan nabi Yeremia untuk datang belajar kepada tikang periuk. 


Gambaran Allah sebagai Tukang Periuk memberikan gambaran Allah terus bekerja mendatangkan kebaikan umatNya. Gambaran tukang periuk ini semakin jelas dimana lelah dan jerih untuk menjadikan sesuatu baik dan berguna kadang yang sudah terbentuk dirusak dan dibentuk ulang sesuai dengan kehendak Tukan Periuk. Agar ada hasil yang terbaik.


Teologi daur ulang ini juga bisa kita contohkan seperti tukang emas, emas batangan qkqn dipanaskan pada suhu tertentu hingga meleleh, kemudian sang pengerajin emas akan membentuknya sesuai dengan yang dirancangnya. 


Allah telah mengasihi umatNya, memberikan apa yang terbaik bai mereka namun pelanggaran demi pelanggaran membuat Allah membentuk mereka menyadari akan pelanggarannya. Pembuangan bukanlahbakhir hiduo mereka, namun Allah hendak membentuk ulang mereka, sisa-sisa yang setia akan menjadi dasar untuk.pwmbentukan umat Allah. 


3. Otoritas Allah: Allah yang membangun dan Allah yang meruntuhkan, Allah meninggikan dan merendahkan. 


Kata Yeremia di dalam bahasa Ibrani berarti: Allah meningikan dan Allah merendahkan atau dapat juga diartikan Allah yang membangun dan Allah meruntuhkan. Seperti namanya demikianlah isi kitab Yeremia segala sesuatu yang ada berada pada otoritas Allah sendiri. Apa yang terjadi adalah sepenuhnya dibawah oritas kekuasaan Allah. Alkah yang mengangkat umatnya dari segaka bangsa yang ada setinggi-tingginya mengalahkan segala bangsa namun Allah sendiri yang membuang mereka ke pembuangan Babelonia karena dosa dan pelanggaran.


Kalau mereka mmterpukul dan terpuruk bukan berarti Allah tidak mengaaihi, kasih Allah tetap dan tidak berubah. Allah tetap setia pada janjinya dan tidak akan berubah. Allah tetap membuka jalan bagi umatNya yaitu pertobatan. Allah mengampuni mereka asalkan mereka mau berubah. Sebagaimana diserukan topik minggu ini: perbaikilah tingkah lakumu. 


Jalan maaih terbuka bagi unat Allah meraih kejayaan mereka. Allah sesungguhnya menghendaki mereka menjadi bangsa yang besar dan diberkati Tuhan karwna Tuhan sendiri hendak memakai merwka m3njadi berkat bagi dunia. 


4. Perbaikilah tingkah dan lakumu: apa yang harus kita perbaiki? 


Berangkat dari kritik nabi Yeremia yang manyebutkan perilaku dan perbuatan umat Allah sebagaimana disebutkan dalam pasal 17 maka jika ingin diperbaiki dan dibentuk kembali maka aalah satu syarat adalah berubah atau bersedia dibentuk dan diciptakan ulang oleh Allah menjadi ciptaan baru.  


Kotbah ini mengajak pertobatan, perubahan dan perbaikan tingkah laku. Melanjukan sikap lama akan menuju kebinasaan.

Kotbah ini menuntun ketaatan, taat dan kembali hidup di dalam otorutas kehendak Allah. Memang manusia memiliki kehendak bebas, namun Allah memiliki orotitas jika taat akan diperbaiki jika tetap bertahan dalam tingkah laku lama akan diruntuhkan dan diaur ulang.


Perbaikilah tingkah lakumu:

- jauhi dosa dan pelanggaran

- berubah dsri hati keras menjadi lembut, hati licik kepada hagi yang tulus

- berubah dari tamak, haus dan rakus akan kekayaan dengan sengala cara menjadi hiduo baru, yang hidup dari penghasilan masing-masing.


Tentu selain dari ketiga hal di atas masih banyak perbuatan dan tingkah laku kita yang harus kita perbaiki: egoisme kepada kebersamaan, kesombongan kepada kerendahan hati, tidak peduli kepada solidaritas. 


Kotbah minggu ini adalah cermin untuk menemukan hal-hal mana yang harus kita perbaiki. Jika sudah menemukannya, berubahlah. Percayalah Allah menghendaki.kita lebih baik dari keadaan kita sekarang ini. Amin


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak

Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1NE1NnnmNc/




Sabtu, 23 Agustus 2025

KASIH SETIA TUHAN TETAP SELAMANYA

 KOTBAH MINGGU X STLH TRINITATIS

Minggu, 24 Agustus 2025

Ev. Mazmur 103:15-18



KASIH SETIA TUHAN TETAP SELAMA-LAMANYA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Kotbah Minggu ini mengajak kita merenungkan arti kehidupan. Pemazmur tidak membuat rumusan yang rumit untuk belajar memaknai hidup, tetapi dengan satu contoh yang berada disekeliling kita yaitu rumput dabn bunganta. Dengan contoh ini kita banyak belajar, hidup ini seperti rumput, rumput tidak pernah tumbuh tinggi, selain itu hanya segar di musim penghujan saat kemarau tiba akan kering di tiuup angin. Bahkan lebih pendek dari itu Pemazmur mengingatkan dengan keras bahwa kemuliaan dan kejayaan manusia hanya sesaat, seperti bunga di padang, segar dan mekar dipagi hari, siang menjelas sore sudah layu dan gugur. Demikian kemuliaan dan kejayaan manusia akan berakhir pula. Maka menjalani kehidupan ini harus dengan rendah hati, menyadari kehidupan ini hanya karena kasih setia Tuhan. 


Pelajaran berharga dari Mazmur ini dipakai oleh Rasul Petrus mengingatkan jemaat mula-mula, bahwa kita harus sadar sepenuhnya hidup ini singkat dan tidak ada kesempatan untuk memegahkan diri. Segera berlalu dan terbang ditiup angin hanya Firman Tuhan yang kekal selama-lamanya. Rasul Petrus mengingatkan itu pada 1 Petrus 1:24-25


Sahabat yang baik hati, Minggu ini kita diajak untuk memiliki hidup yang rendah hati, jauh dari kesombongan berpegang kepada Firman Tuhan dan hidup di dalam kasih setia Tuhan. Baiklah kita ambil beberapa pelajaran. 


1. Semuanya akan berlalu - seperti rumput dan bunga di ladang 


Mazmur 103:15-16 (TB) Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; 

apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. 


Who am I? Siapakah Aku? merupakan tema yang sangat mendasar didiskusikan setiap orang. Dengan pertanyaan itu kita menydari siapakan manusia dihadapan Allah, dihadapan sesama dan terhadap alam. Manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang sempurna, diciptakan segambar dengan rupa Allah dan memiliki amanat untuk memelihara dan melestarikan alam. Manusia diberikan akal dan pikiran membedakan dengan ciptaan lain. Manusia adalah ciptaan Allah. Manusia berasal dari tanah dan Allah sendiri yang menciptakan manusia segambar dengan rupa Allah. Kata Adam berarti tanah atau debu menjelaskan sesungguhnya manusa tidak berarti apa-apa, debu yang sewaktu-waktu dapat tertiup angin dan berlalu. Namun manusia berharga dimata Tuhan, Allah yang menghembuskan nafas kehidupan sehingga kita hidup. Makna pentiptaan ini hendak mengingatkan manusia tidak boleh meinggikan diri, sombong dan songong karena Allah yang membentuk kita sehingg kita berharga. 


Alkitab sangat menentang kesombongan manusia: Adam dan Hawa diusir dari Firdaus karena ingin sama seperti Allah. Allah menggagalkan pendirian Menara Babel yang hendak menggapai Allah. Firaun ditunggang balikkan di Laut Merah karena sombong dan menindas umat Allah. Nebukadnezar raja Babel yang meninggikan diri paling berkuasa diatas bumi akhirnya merumput. Kisah-kisah Alkitab yang menentang kesombongan (chauvenism) manusia adalah pelajaran agar kita manusia merendahkan diri dihadapan Tuhan. 


Demikianlah Kotbah Minggu ini, Pemazmur mengingatkan Manusia sama seperti rumput, selain pendek masanya juga sangat singkat. Bertumbuh di musim semi dan kering di musim gugut. Kemukiaan manusia, pencapaian dan kejayaannya sama seperti bunga di ladang, mekar wangi dipagi hari namun sesaat kemudian akan layu, terbakar dan tertiup angin. Jadi manusia tidak perlu memegahkan diri, jika ada keahlian, kemampuan dan kelebihan kita dari yang lain itu pun tidak menjadi alasan manusia memegahkan diri, karena kemuliaan manusia lebih pendek lagi sama seperi bunga di ladang, mekar dan semerbak di pagi hari, namun siang akan layu dan gugur. 


Pelajaran akan rumput dan bunga di ladang menyapa kita, siapa kita dihadapan Tuhan saat ini menemukan satu makna yang berarti kita adalah tanah liat yang tidak berharga hanya karena Tuhan kita hidup. Tuhan telah menganugerahkan kehidupan kepada kita mari semakin rendah hati. Jadikan hidup berarti karena waktu kita sesaat lamanya, hasilkan buah terbaik dan yang berguna bagi orang lain. 


2. Kasih setia Tuhan tetap selama-lamanya


Mazmur 103:17 (TB) Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, 


Jika hidup manusia sesaat, cepat berlalu maka apakah pegangan hidup kita? Tuhan Yesus berkata dalam Markus 13:31 "langit dan bumi akan berlalu namun Firmanku tidak akan berlalu. Jadi Firman Tuhan adalah pegangan yang abadi. Hal yang sama ditekankan oleh Rasul Petrus .

1 Petrus 1:25 (TB) tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu. 


Tuhan memberikan petunjuk hidup bagi ornag-orang yang dikasihinya. Bisa saja dalam hidup ini kita kecewa terhadap janji manusia, orang yang kita percaya hanya pemberi harapan palsu. Tidaklah demikian janji Tuhan. Janjinya tetap, Ia setia memenuhi janjinya. Kasih setianya kekal selama-lamanya. Yeremia menggubah satu syair dalam kitab Ratapan 3:22-23 (TB) Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 

Ayat ini disampaikan saat mereka berkabung dalam pembuangan, nabi Yeremia meyakinkan bahwa kasih setia Tuhan tetap dan tidak akan berubah. 


Mungkin ada banyak harapan dan impian kita yang belum terwujud, janji Tuhan seolah belum terpenuhi dalam diri kita. Saat ini kita diyakinkan kembali bahwa kasih setia Tuhan tetap. Atau mungmin ada diantara kita yang mengalami kesusahan dan kesulitan seolah Tuhan tidak campur tangan dalam kehidupan kita. Hingga saat ini terus bertanya dimana Tuhan, kenapa belum menjamah hidupku? Saat ini Tuhan menyatakan bahwa kasih setianya tetap memelihara dan menyertai kita.  


Jika kesulitan menimpa, atau beban menimpa kita. Dalam.keadaan demikian kita merasa ditinggal dan tak ada pertolongan. Kotbah ini meneguhkan kita kasih setua Tuhan tetap selama-lamanya. 


3. Diberkatilahborang yang takut akan Tuhan dan berpegang pada perintahNya


Bagian terakhir dari kotbah ini, bahwa kita harus takut akan Tuhan dan berpegang pada janjiNya. 

Disini Pemazmur mengingatkan janji Tuhqn terhadap Musa. Setelah Musa memberikan dekalog ada hukuman dan janji. Tuhan akan menghukum orang yang tidak setia melakukan perintahNya namun Tuhan akan memberkati orang yang setia memelihara perintahNya. 

Keluaran 20:5-6 (TB) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, 

tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.


Takut akan atuhan dan berpegang kepada perintaaanya menuntut kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Kesetiaan dan ketaatan itu hanya bisa terjadi karena takut akan Tuhan. 

Jika kita boleh buat oerbandingan, jika ada orang yang kita hormati dan kita sayangi, rasa hormay dan sayang kita dibuktikan dengan tidak berani ingkar janji kepqdanya. Lebih dari itulah kitq mengadihi dan mengaati Tuhan dengan takut akan Dia.


Sejalan dengan itu, Marthin Luther memberikan penjelasan akan makna dari ke sepuluh Perintah atuhan dengan kalimat. Bahasa Batak: Ingkon haholonganta do Debata, jala umbiar jala umpos mida Debata sa mida nasa na adong. Ketaatan lepada Tuhan adalah bukti takut akan Tuhan. 


Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini memgingatkan kita agar selalu menyadari siapa kita. Jika ada sesuatu yang kita miliki syukurilah karena itu oemberiannya, jika ada sesuatu yangnkita banggakan dalam hidup ini persembahkanlah untuk kemuliaan Tuhan. Jika diberi kesempatan berjabatan atau memiliki posisi ingatlah itu adalah amanah dan waktunya akan berlalu. Amin


Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak


Sabtu, 16 Agustus 2025

MILIKILAH CARA HIDUP YANG BAIK DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK

 KOTBAH MINGGU IX STLH TRINITATIS

Minggu, 17 Agustus 2025

Ev. 1 Petrus 2:11-17



MILIKILAH CARA HIDUP YANG BAIK DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK


Selamat hari minggu! Sahabat yang baik hati, bagaimana orang Kristen hidup ditengah-tengah masyarakat majemuk, beda agama, ras, suku dan bangsa? Rasul Petrus dalam kotbah minggu ini memberikan pelajaran penting dimana orang percaya harus memiliki cara hidup yang baik. Cara hidup yang baik dimaksudkan oleg Rasul Petrus adalah cara hidup yang menghayati nilai-nilai kekristenan dan menjadi kesaksian bagi orang lain. Pesan ini sangat penging jangan sampai hidup orang percaya menjadi batu sandungan bagi orang lain.  


1. Cara hidup baik: sadar kita hidup di tengah masyarakat majemuk


1 Petrus 2:12 (TB) Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 


Pelajaran pertama dalam kotbah ini adalah kita harus menyadari bahwa kita hidup di dalam masyarakat majemuk, berbeda budaya, berbeds cara hidup yang baik atau hidup beretiket sadar dalam kemajemukan ganda. Gereja adalah persekutuan masyarakat yang majemuk dan tinggal pula di tengah-tengah masyarakat majemuk. Atas dasar inilah rasul Petrus mengingatkan jemaat mula-mula agar memelihara cara hidup yang baik. Cara hidup yang beretiket ini dituntut dari kenyataan bahwa jemaat mula-mula adalah majemuk, datang dari berbagai suku bangsa dan tradisi yang berbeda, dan mereka hidup di konteks masyarakat yang majemuk pula. Ajaran para rasul menjadi dasar penting yang dapat dikembangkan bagi jemaat agar memiliki cara hidup yang baik, yaitu hidup di dalam kasih. Kasih adalah nilai tertinggi dalam kehidupan umat manusia, yang didalamnya ada pengorbanan, hormat dan peduli terhadap orang lain. Jadi semakin kuatnya jemaat hidup di dalam etiket yang baik, itu merupakan cerminan dari semakin tingginya penghayatan akan nilai-nilai Kristiani yang terdapat dalam Alkitab. Paulus sendiri dalam 1 Kor 12:31 mengatakan bahwa kasih adalah jalan yang paling utama di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Inilah alasan Paulus menjelaskan arti kasih dalam 1 Kor 13:1dyb.


Etiket baik lahir dari kesadaran bahwa gereja mula-mula adalah majemuk. Semula memang jemaat yang percaya kepada Tuhan Yesus berasal dari kalangan Yahudi. Namun dalam Kis 9:15 Pertobatan Paulus ditetapkan menjadi Pemberita Injil kepada Non Yahudi (“kepada bangsa-bangsa lain, raja-raja dan orang-orang Israel”). Gereja mula-mula adalah hasil pemberitaan Petrus dkk dan hasil pemberitaan Paulus dan timnya membentuk jemaat-jemaat yang tersebar mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi. Jemaat Kristen Mula-mula yang terdiri dari Yahudi dan non Yahudi, mereka datang dari berbagai kalangan bawah. Mereka umumnya adalah hamba, pekerja kasar dan pendatang di berbagai kota. Sekalipun demikian tidak sedikit di antara orang Kristen dari kalangan pejabat militer (Kornelius, Kis 10), pedagang Kain bernama Lidya( Kisah 16:40), pejabat pemerintah bernama Theofilus (Luk 1:1) dan orang terpandang di tengah-tengah masyarakat (Orang Tua Timoteus, Filemon, Publius) dll. Tentu latar belakang yang berbeda-beda dari setiap jemaat mewajibkan setiap orang percaya menyadari diri hidup dalam masyarakat majemuk. Kasus-kasus yang timbul di jemaat yang dihadapi Paulus banyak membahas bagaimana bersikap terhadap perbedaan (Korintus, Roma, Filipi, Koloses dll).


Kesadaran kedua adalah jemaat menyadari bahwa mereka hidup dalam masyarakat yang majemuk. Dengan demikian seorang Kristen harus memahami masyarakat setempat, kebiasaaan kaum Yahudi dan Orang Romawi dan kebiasaan mereka yang hidup dari pengaruh budaya Hellenisme. Inilah urgentnya Rasul Petrus memberikan nasihat kepada jemaat mula-mula agar memiliki cara hidup yang baik agar tidak menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Disini jemaat mula-mula dibekali agar memiliki sikap “Cross Culture” yang baik. Faktanya setiap orang pasti menjungjung tinggi budayanya, kebiasaannya namun gereja mula-mula sudah dibekali untuk menghargai orang lain, cara hidup kita jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Clash social (benturan sosial) sering terjadi ketika suatu tradisi dipaksakan bagi orang lain. Pengalaman ini juga terjadi dalam gereja Batak khususnya HKBP dalamnya pemahaman terhadap “sileban”. Di bawah tahun 1970an misalnya tidak sedikit orang Batak yang merantau merasa terasing karena menikah dengan perempuan non Batak yang dicajam itu disebut “halak sileban” (baca orang asing), akhirnya mereka meninggalkan HKBP dan menjadi jemaat teras di gereja-gereja berbasis nasional.


2. Cara hidup Yang Baik: menyadari diri sebagai pendatang dan perantau*


1 Petrus 2:13 (TB) Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,


"Si dapot solu do na ro", satu ungkapan orang Batak yang memiliki sikap adaptasi yang tinggi. Ungkapan ini muncul dari konteks danau Toba dimana kalau bepergian seseorang menggunakan solu. Maka saat bepergian tidak membawa solu dari kampungnya tetapi menggunakan solu yang ada ditempat. Maka sidapot solu berarti, apa yang tersedia di tempat itulah yang digunakan. 


Demikianlah kita harus hidup beradaptasi di mana kita tinggal beradaptasi, menaatati role dan tunduk kepada pemerintah lokal di mana mereka tinggal namun tetap mencerminkan nilai-nilai positip. 

Kontek kedua orang Batak dalam menjual beras harus menggunakan 'solup". Alat ukur beras, satu solup biasanya sekitar 2 liter. Jika ada orang datang mau membeli beras, maka solub yang digunakan adalah solup sang penjual. Ungkapan sidapo solup do naro menjadi falsafah sosial dalam upacara adat. Jika dua keluarga hendak.melaksanakan upacara adat maka pihak yang datang akan berkata: sidapot solup do na ro. Sebagai ungkapan kami bersedia mengikuti apa yang biasa dilaksanakan di kampung setempat.

Hal ini sangat menarik bahwa dalam kontek 1 Petrus ini kekristenan mengalami penindasan dan penderitaan,namun sekalipun mengalami pergumulan tetap dinasihati untuk tunduk kepada pemerintah dan ketentuan-ketentuannya. 

 

Berhubungan dengan itu, kotbah ini mengajak kita untuk mengenal diri dengan menanyakan: siapa aku (who am I), suatu pertanyaan yang harus terus menerus kita pertanyakan di dalam diri. Dengan pertanyaan ini, setiap orang mengenal dan menyadari dirinya siapa di hadapan Tuhan dan siapa terhadap sesama. Pengenalan diri sangat penting dengan mengenal diri kita dapat menempatkan diri terhadap orang lain. Petrus dalam nats ini mengingatkan jemaat mula-mula sebagai pendatang dan perantau. Orang asing dan perantau dalam konteks Perjanjian Baru tidak memiliki hak-hak sipil. Sering dicurgai dan dianggap sebagai orang yang memiliki niat jahat. Pendatang biasanya hanya dipekerjakan sebagai hamba, pekerja kasar dan sangat tergantung kepada tuannya. Namun dengan cara hidup yang baik, akan mengundang simpatik dan mereka akan diterima oleh masyarakat.


Alkitab mengajarkan pendatang harus dilindungi (Band Kel 20:10), orang Israel tidak boleh menindas mereka (Kel 22:21, 23:9; Imamat 19:33-34). Sekalipun demikian orang asing sering dianggap sebagai pembawa berhala (Yes 2:6-8), dilarang menikah dengan orang asing (Neh 13:26-27; Ezra 9-10). Namun di dalam Perjanjian Baru, orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang hidup didalam satu persekutun bahwa setiap orang bukan lagi sebagai pendatang atau orang asing, tetapi sebagai saudara pewaris kerajaan Allah. Hal ini ditegaskan oleh Paulus: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asingdan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” (Efesus 2:19). Konsep Perjanjian Baru dengan keselamatan di dalam Yesus Kristus mengubah cara pandang tentang orang asing. Di dalam Kristus semuanya bersaudara dan menjadi satu keluarga Allah.


Perjanjian Baru juga mengingatkan bahwa kita di dunia ini adalah orang asing dan pendatang, karena kewarga negaraan kita adalah di dalam sorga (Baca Filipi 3:20) Dalam Ibrani 11:9-16 mengingatkan bahwa orang percaya diam di tanah orang asing, dan menantikan kota yang yang direncanakan dan dibangun Allah, yaitu kehidupan kekal. “Karena itu di sini kita mempunyai tempat yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.” (Ibrani 13:14).


Dari apa yang diingatkan oleh Petrus bahwa kita adalah orang pendatang dan perantau, mengingatkan dua hal, relitas sosial kehadiran di tengah-tengah masyarakat dan realitas theologis bahwa kita adalah orang asing di dunia ini. Kita adalah warga kerajaan Allah yang sedang menunggu kedatangan Yesus Kristus membawa orang percaya ke Yerusalem yang Baru. Selama penantian itu orang Kristen harus hidup melawan keinginan daging tetapi harus memenangkan kehidupan rohaninya (Galatia 5:16).

Dengan pesan rasul Petrus ini gereja selama di dunia ini harus hidup dengan cara hidup yang baik, saling menerima sebagai saudara dan pewaris Kerajaan Allah, saling menasihati dan menguatkan agar dapat melakukan cara hidup yang baik di tengah-tengah masyarakat.


3. Cara terbaik melawan fitnah tidak membalaskan kejahatan.


1 Petrus 2:15 (TB) Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.


Jemaat mula-mula banyak memiliki penderitaan, banyak tuduhan dan fitnah terhadap jemaat mula-mula. Ada dua tiga fitnah terburuk yang disampaikan kepada jemaat mula-mula, yaitu; kanibal, amoral dan pemberontak. Tuduhan kanibal karena “meminum darah anak manusia”. Padahal ini adalah Ibadah perjamuan Kudus yang menerima keselamatan dengan memakan roti dan minum anggur untuk mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu Salib, namun sengaja diplintir oleh orang-orang yang tidak menyukai Kekristenan. Selain itu ada fitnah terhadap gereja mula-mula sebagai komunitas “asusila” karena mereka dalam setiap perjumpaan jemaat ada “cium kudus.” Cium kudus ini berulang ulang kita temukan di dalam PB ( Rom 16:16; 1 Korint 16:20; 2 Korint 13:12), 1 Tes 5:26), 1 Petrus 5:14). Padahal ini adalah ungkapan perasaan adanya kedekatan dalam komunitas, salam dan penghormatan. Hal ketiga adalah kaum Romawi (Herodian) terus mensiasati jemaat mula-mula karena dianggap berkomplotan dengan kaum Zelotis yang membuat pergerakan melawan romawi untuk kemerdekaan Yahudi.


Menghadapi semua fitnah ini, tidak sedikit jumlah orang percaya telah menjadi mati martyr, dikejar, dianiaya bahkan dieksekusi mati tanpa pengadilan baik oleh Pengadialan Agama Yahudi dan oleh Penguasa Romawi. Semua itu adalah penderitaan dan konsekwensi mengikut Yesus. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24) Apakah semua kekuatan orang percaya dalam menghadapi tuduhan dan fitnah semacam itu. Rasul Petrus memberikan nasihat yang berharga, yaitu: Cara hidup yang baik. Fitnah bisa saja berkuasa memutar balikkan fakta, dan menghantarkan orang menderita dan memasukkan ke dalam penjara. Namun kebenaran akan menang atas segala akal busuk, propaganda dan fitnah.


Milikilah cara hidup yang baik. Suatu nasihat ysng mengajsk kita saat ini memiliki pengaruh positip bagi orang lain. Di mana kita tinggal aroma positip terpancar dari hidup orang percaya. 


*Penutup*


1. Orang percaya harus menyadari kepelbagaian dan kemajemukan, kita hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk, berbeda bahasa, budaya, agama danerbedaan lainnya. Perbedaan bukanlah suatu hal yang harus diharamkan, namun di dalm perbedaan itu kita diajak untuk saling menghargai orang lain. Dengan pesan ini kita semakin meningkatkan saling menerima, menghargai dan memelihara perdamaian. Hidup demikian akan menjadi terang bagi sekitarnya.

Dalam 1 Petrus 2:17 dikatakan: “Hormatilah semua orang, kasihlah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!


2. Jemaat semakin menyadari bahwa kita orang asing dan pendatang di dunia ini baik dari segi realitas sosial dan juga dari realitas teologis. Dunia ini adalah tempat kita sementara dan di dunia yang sementara ini kita harus memancarkan cara hidup yang baik, penuh damai dan saling menerima sambil menantikan dunia yang baru yang kita nanti-nantikan. Benar apa yang disampaikan oleh Paulus dalam Rom 13:12-13

“Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!

Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.”


3. Kita bergumul dan berhadapan dengan dunia ini yang tidak menghendaki kehendak Allah. Karena itu cara hidup kita harus berbeda dengan dunia ini. Sedangkan sudah berbuat baik masih dimusuhi, dikutuki dan dicaci maki apalagi cara hidup kita yang tidak berpaut dengan Allah. Maka cara hidup kita harus berbeda, bersikap baik, berpikir positip, attitude yang baik serta memiliki karakter baik yang memiliki pengaruh positip bagi orwng lain. Jika dunia ini melakukan kejahatan jangan balaskan cara dunia ini dengan membalaskan kejahatan melawan kejahatan. Tetapi kalahkan kejahatan dengan cara yang hidup yang baik (Band. Rom 12:21). Dengan sikap demikian orang Kristen akan memenangkan segala fitnah dan berbagai ketidak adilan yang dialami oleh orang percaya. Amin


Salam

Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 09 Agustus 2025

MATA TUHAN TERTUJU KEPADA ORANG YSNG TAKUT ALAN DIA

 Kotbah Minggu VIII Stlh Trinitatis

Minggu, 10 Agustus 2025

Ev. Mazmur 33:12-22


MATA TUHAN TERTUJU KEPADA ORANG YANG TAKUT AKAN DIA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini merupakan mazmur pengajaran yang menekankan berbahagia orang yang mempercayai dan memiliki iman kepada Allah Israel. Alasan bahagia itu dijelaskan oleh pemazmur, Dialah Allah yang Maha Kuasa, Pencipta, Pemelihara, Penyelamat dan Pelindung atas seluruh ciptaanNya. Segala sesuatu oleh Dia dan tunduk kepada Dia. 


Mazmur pengajaran ini berisi pujian, menaikkan puji-pujian kepada Allah atas segala kuasanya. Mazmur 33 ini sekaligus juga mengingatkan tentang keberadaan manusia di hadapan Tuhan. Manusia tidak dapat menyelamatkan diri oleh karena kekuatan dan kelebihannya sendiri. Keselamatan hanya dari Tuhan. Harus pula disadari jika manusia bisa menjalani kehidupan ini, bukan karena kuat dan kemampuannya tetapi semuanya karena anugerah. 


Berkaitan dengan topik minggu ini, Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut akan Dia, meyakinkan kita bahwa mempercayai Tuhan yang kita kenal di dalam nama Yesus Kristus akan mendapat pertolongan dan pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak membiarkan kita menghadapi kesulitan sendirian. Memang, akan selalu ada tantangan dan badai, pendritaan bisa saja menimpa orang benar. Masalah yang kita hadapi tidak lebih besar dari kuasa Tuhan yang menyelamatkan atau dengan kata lain, jika anda merasa persoalanmu besar dan tidak berdaya menanggungnya maka percayalah kuasa Tuhan itu jauh lebih besar dari permasalahanmu. Keyakinan seperti itulah yang harus kita pegang teguh, jadi sekalipun kita seolah tidak berdaya menghadapin beban dan pergumulan hidup, tetapi percayalah kuasa Tuhan jauh lebih kuat dan lebih dahsyat dari kempuan kita sendiri. 


Baiklah kita mengambil beberapa pelajaran dari kortbah ini:


1. Tuhan pelindung: sekakipun jauh namun tetap dekat


Mazmur 33:13 (TB) TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; 


Pemazmur memberikan gambaran tentang Allah, Dia berdiam di sorga namun matanya tertuju kepada umat pilihanNya. Dia Jauh diatas sana namun nekat bagi umatNya. Pandangan in memberikan kepastian bagi kita bahwa Allah itu sekalipun trancenden namun juga immanen. 


Sekalipun Tuhan jauh ditemoat yang maha tinghi namun Tuhan melihat semua anak manusia.

Istilah semua anak manusia digunakan oleh pemazmur bahwa Allah adalah Allah yang universal. Keuniversalan Allah disebukan dengan istilan "semua anak manusia" (13), kemudian "penduduk bumi" (ay 14). Kedua istilah ini menggambarkan Tuhan mengasihi manusia tanpa membedakan siapapun.


Pandangan universal ini sering bertentangan dengan pandangan Yudaistik yang eksklusif, seolah Israel umat pilihan yang lain umat yang hatus dihukum, mereka umat diberkati dan bangsa lain umat yag dikutuki. Apa yang ditekankan kotbah ini adalah hidup yang inklusif. Percaya kepada Tuhan Allah Israel mendorong kita hidup saling terbuka dan menerima yang satu dan lain sebagai umat yang dikasihi oleh Allah. 


2. Keselamatan hanya dari Tuhan


Dalam menjalani hidup ini akan selalu ada tantangan, ancaman dan tekanan, darimana kita mendapat pertolongan? Di dunia ini penguasa menjadi sandaran banyak orang berlindung dari tekanan atau mungkin keperkasaan seorang pahlawan. Artinya orang kuat dan berkuasa menjadi sandaran bagi orang mendapat perlindungan.


Mazmur 33:16 (TB) Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa; seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan. 


Dengan kotbah Minggu ini kita beroleh penceraham bahwa baik raja atau pun pahlawan tidak dapat menyelamatlan manusia. Hanya dari Tuhanlah pertolongan dan keselamatan bagi manusia. 


Di dalam kitab Mazmur sangat banyak kita temukan nats yang menjelaskan tentang Tuha lah penolong dalam hidup kita. Kekuatan manusia terbatas maka jangan beraandar kepafa orang hang berkuasa. Raja juga tidak dapat menyelamatkan kita dari segala kekusahan. Berikut ini beberapa ayat yang menjelaskan pertolongan Tuhan. 


- Mazmur 121:1-2 (TB) Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? 

Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 


- Mazmur 121:2 (TB) Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 


- Mazmur 124:8 (TB) Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 


Hal inilah yang harus kita yakini dan percayai, Tuhan penolong bagi kita. Matanya tertuju kepada orang-orang yang dikasihiNya.


3. Jiwaku menanti-nantikan Tuhan


Hal ketiga dari kotbah ini mengajarkan tentang kesabaran. Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan jangan mudah berputus asa, jika jawaban doa kita belum terwujud jangan berputus asa namun sabarlah menantikan Tuhan. 


Mazmur 33:20 (TB) Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! 


Ada dua istilah yang dipakai pemazmur alasan menantikan Tuhan yang pertama Tuhan penolongn, dan pertolongannya sesuai dengan harapan kita. Kedua, Tuhan perisai, perisai digunakan oleh prajurit mengahadapi musuh. Perisai berfungsi membentengi diri seorang prajurit dari berbagai serangan musuh sehingga dia bisa terlindung dari berbagai serangan.


Jiwaku menanti-nantikan Tuhan menekankan tetap percaya bahwa Tuhan akan datang menolong kita. Selain itu, kita bisa bertahan karena Dialah perisai kita.


Kedatangan Tuhan tidak perlu diragukan, karena Tuhan itu setia. Kasih setianya tidak akan berupa baik kemarin, kini dan selama-lamanya.

Mazmur 33:22 (TB) Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu. 


Selamat merayakan kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup ini. Tuhan mem


berkati!


Salam dari: 

Pdt Nekson M Simanjuntak



Sabtu, 02 Agustus 2025

KENAKANLAH MANUSIA BARU!

 Kotbah Minggu VII Stlh Trinitatis

Minggu, 3 Agustus 2025

Ev. Kolose 3:5-11



KENAKANLAH MANUSIA BARU


Selamat Hari minggu, sahabat yang baik hati tema menjadi manusia baru salah satu topik yang sangat menarik untuk didiskusikan. Baik dari dasar teologinya maupun implikasi praksis hidup orang yang telah diperbaharui Kristus. Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita dan selanjutnya bagaimana kita meresponse keselamatan di dalam Kristus? Salah satu yang digunakan oleh rasul Paulus di dalam surat Kolose adalah mengunakan istilah "manusia baru". Dengan istilah ini Paulus hendak membedakan hidup sebelum menerima Kristus dan hidup sedudah menerima Kristus. Dahulu sebelum mengenal Kristus kita menghidupi manusia lama, hidup di dalam dosa dan berbagai sifat dan perilaku buruk, namun sekarang setelah menerima Yesus Kristus kita meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru. 


Jika kita baca keseluruhan Pasal 3, sebenarnya perikop kotbah minggu ini tidak bisa dipisahkan sampai dengan ayat 17. Karena disitu kita menemukan secara kongkrit apa yang ditanggalkan, apa yang harus dibuang dan apa yang harus dilakukan dan digunakan. Setelelah menanggalkan manusia lama kita memasuki era baru di dalam Kristus. Kita menjadi manusia baru siap untuk memiliki karakter yang dipenuhi belas kasihan (ayat 12), hati yang penuh pengampunan (ayat 13), memiliki kasih (ayat 14), damai sejahtera (ayat 15), menjadikan firman Tuhan sebagai pelita kehidupan sehingga pujian dan syukur senantiasa melimpah dalam hidup (ayat 16), dan memusatkan seluruh aktivitas hidup hanya terarah kepada Kristus saja (ayat 17). 


Menjadi manusia baru juga berarti hidup bersama dengan anak-anak Allah lainnya di dalam sebuah persekutuan. Persekutuan yang dimaksud adalah pertama-tama memiliki hubungan yang dekat/intim dengan Allah dan juga dengan sesama. Hubungan ini perlu dibangun secara terus-menerus dan diusahakan setiap saat. Karena Allah menuntut perubahan untuk selamanya, bukan perubahan yang sebentar saja lalu ia kembali lagi ke

kehidupan lamanya. Paulus dalam suratnya juga membahas persekutuan dengan sesama orang percaya. Ia menggambarkan bahwa gereja bukanlah sekumpulan individu melainkan sebuah kumpulan sejarah mengenai Kristus di dunia melalui hidup orang percaya. 


Sahabat yang baik hati. Dalam nats kotbah ini Paulus menjelaskan tiga hal yang harus dilakukan oleh manusia baru. Pertama matikahlah, ada sesuatu yang harus diatikan agar tidak tumbuh lagi. Kedua, buanglah sesuatu yang tidak berguna harus kita buang, sifat itu harus dibuah karena jika fibiarkan maka lama kelamaan akan membusuk dan ketiga perintah kenakanlah, ada sesuatu yang harus kita kenakan yaitu menghidupi kehidupan baru di dalam Kristus


Berikut ini baiklah kita dalami satu persatu.


1. Matikanlah, 


Kolose 3:5-6 (TB) Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].


Hal pertama diperintahklan oleh Paulus adalah, "matikanlah" Kenapa harus dimatikan karena berbahaya. Kalau ibarat dalam tubuh, ibarat virus yang mematikan, atau jika didalam tanaman ini seperti hama yang jika dibiarkan hidup pada akhirnya akan membunuh induknya. Maka harus dimatikan.


Jika kita ceck dalam bahasa Yunani Paulus menggunakan: nekrotete, νεκρωσατε artinya: matikanlah, atau bunuhlah sama seperti orang berhadapan dengan musuh harus dimatikan kalau tidak musuh akan mematikan kita. Jadi Disini ada imperatip untuk mematikannya. Memang di dalam ayat sebelumnya Kristus telah mebebus kita dari kuasa dosa, maka orang yang hidup di dalam Kristus memiliki kekuatan (dynamic) untuk mematikan perbuatan dosa di dalam dirinya. Mematikan disini bukan mematikan fisik, tetapi perbuatan yang telah diuraikan oleh Paulus. 


Demikianlah Paulus menjelaskan bahwa manusia harus mematikan beberpa virus yang akan mematikan manusia itu, yakni: 


1. Percabulan dosa seksual - Porneian (πορνείαν)

2. Kenajisan: perbuatan yang diharamkan - Akatharsian (ἀκαθαρσίαν)

3. Hawa nafsu: sifat keinginan atau kepuasan diri sendiri - Pathos (πάθος)

4. Nafsu jahat: keinginan untuk meyakiti dan menyusahkan orang lain - Epithymian kakēn (ἐπιθυμίαν κακήν)

5. Keserakahan: sikap yang tidak pernah puas dan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan - Pleonexian (πλεονεξίαν)

6. Penyembahan berhala: yakin dan mengikuti berhala demi kesusksesan dan kekayaan dan kemakmuran - Eidololatria (εἰδωλολατρία)


Apa yang disampaikan oleh Paulus ini adalah Paulus menghendaki kita mengakhiri dosa. Kita harus mematikan sifat dan perbuatan yang pada akhirnya disadari atau tidak di sadari hanya akan mendatangkan kebinasaan pada manusia itu sendiri. Paulus membandingkan kehidupan yang lama (sebelum mengenal Kristus) dengan kehidupan yang baru. Dalam kehidupan yang lama, manusia hidup menurut "anggota-anggota tubuh" yang memuaskan nafsu dosa. Dalam kehidupan yang baru, orang percaya dipanggil untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging.

Jadi, ketika Paulus berkata "matikanlah," ia tidak sedang menyuruh kita melakukan tindakan fisik yang merugikan diri sendiri. Sebaliknya, ia sedang mengajak kita untuk melakukan tindakan rohani yang radikal: menolak dan mengakhiri kekuasaan dosa dalam hidup kita, karena kita sudah mati bersama Kristus dan dibangkitkan bersama-Nya dalam hidup yang baru. 



2. Buanglah, 


Kolose 3:9 (TB) Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,  


Kata kedua yang dipakai Paulus dalam kotbah ini dalam ayat 8 adalah: "buanglah. Kata Yunani yang dipakai untuk "Buanglah" adalah ἀποθέμενοι (apothemenoi). Seperti yang disebutkan sebelumnya, kata yang digunakan adalah apothemenoi (ἀποθέμενοι). Ini adalah bentuk participle aorist tengah dari kata kerja apotithemi (ἀποτίθημι). Secara harfiah, apotithemi berarti "meletakkan sesuatu," "menanggalkan," atau "membuang." Konteks yang paling umum adalah menanggalkan pakaian.


Dalam hal ini dalam Alkitab, kata ini sering digunakan dalam metafora yang kuat. Menanggalkan pakaian lama: Paulus menggunakan gambaran ini untuk membandingkan kehidupan lama sebelum mengenal Kristus dengan pakaian yang harus dilepaskan. Konsekuensi dari keselamatan: Ini bukan sekadar saran, tetapi perintah yang mendesak. Setelah seseorang menerima Kristus, ia harus secara aktif melepaskan atau "membuang" segala sesuatu yang termasuk dalam kehidupan lamanya.


Apa yang Harus Dibuang? Paulus merinci lima hal yang harus "dibuang" di ayat 8:

1. Kemarahan (orgēn - ὀργὴν): Ini merujuk pada kemarahan yang mendalam dan berjangka panjang, seperti dendam atau kebencian yang disimpan dalam hati.

2, Kegeraman (thymon - θυμὸν): Ini adalah kemarahan yang meledak-ledak dan tiba-tiba. Paulus membedakan antara kemarahan yang terpendam (orgēn) dan kemarahan yang eksplosif (thymon).

3. Kejahatan (kakian - κακίαν): Kata ini merujuk pada niat jahat atau keinginan untuk merugikan orang lain. Ini adalah karakter dasar yang tidak baik.

4. Fitnah (blasphemian - βλασφημίαν): Secara umum, ini berarti ucapan yang merendahkan, menghina, atau merusak reputasi, baik terhadap manusia maupun terhadap Allah.

5. Kata-kata kotor (aiskhrologian - αἰσχρολογίαν) dari mulutmu: Ini adalah kata-kata yang tidak pantas, cabul, atau vulgar yang keluar dari mulut. Paulus secara spesifik menyebutkan "dari mulutmu" untuk menekankan bahwa dosa ini berkaitan dengan perkataan.


Mengapa Harus Dibuang?

Ada beberapa alasan mendalam mengapa Paulus memerintahkan hal-hal ini untuk dibuang.  


Berhubungan dengan diri yang lama: Semua perilaku ini adalah bagian dari "manusia lama" yang sudah mati bersama Kristus. Jika seseorang telah dibangkitkan dalam Kristus, maka tidak masuk akal jika ia masih "mengenakan" atau mempraktikkan hal-hal dari kehidupan lamanya. Ini adalah inkonsistensi yang fatal dalam iman.


Menghalangi pertumbuhan spiritual: Dosa-dosa ini, terutama yang berkaitan dengan relasi sosial (kemarahan, fitnah), menghalangi kesaksian yang baik dan merusak persekutuan dengan sesama orang percaya.


 Agar bisa mengenakan manusia baru: seperti halnya kita membuang pakaian kotor sebelum mengenakan pakaian bersih, anda harus membuang perbuatan-perbuatan lama agar bisa "mengenakan" manusia baru (ayat 10) yang mencerminkan karakter Kristus.

 

Apa yang disampaikan Paulus disini berkaitan dengan makna Baptisan. dalam Roma 6, Paulus menjelaskan bahwa baptisan adalah simbol kematian terhadap dosa dan kebangkitan dalam kehidupan baru. Perintah "membuang" ini adalah aplikasi praktis dari kebenaran teologis tersebut. 


Jadi, perintah "buanglah" di ayat 8 adalah panggilan Paulus agar orang percaya secara sadar dan aktif menanggalkan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan identitas baru mereka di dalam Kristus, sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan panggilan mereka yang suci.


Dengan menggunakan matikanlah dan buanglah akan melengkapi kondinsi manusia baru, hidup di dalam Kristus dan jauh dari pengaruh dosa dan segala perbuatan dosa. 


3. Kenakanlah Manusia Baru.


Pada bagian ketiga ini Paulus menganjurkan etika hidup orang percaya, Paulus menganjurkan agar kita "mengenakan", dari ayat 10-17 Paulus memberikan karakter hidup orang percaya. seseorang yang benar-benar menghidupi kehidupan baru di dalam Kristus mencerminkan karakter hidup orang percaya. Nasihat ini sama dengan beberapa nasihat Paulus di beberapa suratNya. Salah satu yang menarik adalah di dalam 

Galatia 2:20 (TB) namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. 


atau selanjutnya kita baca dalam Roma 8:10-11 (TB) Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.  


Jika manusia lama telah mati, dan segala perbuatan dosanya telah kita buah, maka yang tercermin dalam hidup kita adalah Karakter Kristus. Paulus menyerbut dalam ayat selanjtnya disebut: Umat Pilihan. 

Selain umat pilihan kita juga ditetapkan menjadi umatNya yang kudus milik kepunyaan Allah. Kristus telah menguduskan kita melalui darahNya yang tercurah di kayu salib. 1 Petrus 1:15 (TB) tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,


Mengapa Allah menetapkan kita menjadi orang pilihannya karena Allah hendak memakai orang pilihanNya mewujudkan rencana Allah di dunia ini. Seturut dengan itu kita harus mau dibentuk agar memiliki pribadi yang seturut kehendakNya. 


Dalam kotbah ini ada 6 cerminan hidup yang dimiliki oleh orang pilihan Allah, yaitu: Kolose 3:12-14 (TB) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 


1. Belas Kasihan

Kata yang sering digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan pekerjaan Yesus. Dalam pelayanannya melihat berbagai persoalan hidup orang banyak: sakit, pergumulan dan harapan maka Yesus tergerak hatiNya oleh belas kasihan. Kata belas kasihan ini menunjukkan sikap peduli dan mau melakukan sesuatu dari suatu kerpihatinan kepada suatu keadaan yang lebih baik. (Band Mat 9:13, 36; Mat 12:7 dll)


2. Kemurahan

Kemurahan adalah sifat Allah yang murah hati. Dermawan dan ada hati yang mau berbagi bagi orang lain. Tidak pelit dan kikir namun dengan kesadaran bahwa dirinya dipakai Tuhan menjadi saluran berkat bagi orang lain. Murah hati berarti sedia kala mempersembahkan apa yang ada padanya untuk kebaikan orang lain. Lukas 6:36 (TB) Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Band Mat 5:7)


3. Kerendahan Hati

Pribadi mulia dalam diri seseorang, sekalipun telah melakukan banyak hal namun tetap menganggap bahwa apa yang dilakukannya belum bersrti apa-apa. Niat yang tulus melayani tanpa ada keinginan untuk dihargai. Sifat rendah hati adalah kesediaan melayani, merendahkan diri dan melakukan orang lainnlebih utama dari diri sendiri. (Band Fil 2:5-8)


4. Kelemah Lembutan

Satu nats emas dari kotbah Tuhan Yesus: berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi (Mat 5:7). Kelemah lembutan ini adalah cerminan pribadi yang tetap membuka hati akan setiap permasalahan: tenang dan penuh damai dalam mengatasi dan menyelesaikan segala permasalahan.


5. Kesabaran.

Sabar adalah pribadi yang bertekun menanti keputusan Tuhan yang terbaik dalam hidup. Kata ini menunjukkan kesediaan menunggu dan menantikan keputusan Allah. Tidak semua apa gang kita harapkan terjadi seturut dengan kehendak kita. Selain itu kata sabar juga memiliki arti pengampunan, tidak mendendam atas perbuatan orang lain pada kita, tetapi berdoa dan mau mengampuni orang lain.(Kol 3:13; Rom 12:12 dll)


6. Kasih

Kasih adalah landasan hidup orang Percaya, kita mengasihi karena Kristus telah lebih dahulu mengasihi kita. Ajaran Yesus adalah kasih dan totalitas hisup pengikutnya hidup di dalam kasih. Ikatan sosial, ikatan keekluargaan dan hidup dalam relasi dengan orang lain berlan daskan kasih. 


Keenam karakter diatas menjadi kualitas pribadi yang kita harus miliki, hidup di dalam kasih dan memelihara kekudusan.


Sahabat yang baik hati! 

Kotbah Minggu ini sebagaimana tmea miggu mengenakan manusia baru: kita melakukannya dengan mematikan dosa, dan membuat sifat dan perilaku dosa serta mencerminkan hidup umat pilihan Allah. Kita tentu bangga menjadi umat pilihan namun harus mengenakan manusia baru. Setiap orang akan bangga jika disebut sebagai orang pilihan namun menjadi orang pilihan diikuti dengan tanggungjawab. Amin. 


Salam;

Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 26 Juli 2025

BERDOA SYAFAAT MEMOHON KESELAMATAN

 Kotbah Minggu VI Stlh TRINITATIS

Minggu, 27 Juli 2025

Ev. Kejadian 18:22-33



DOA SYAFAAT MEMOHON KESELAMATAN!


Selamat Hari Minggu ! Sahabat yang baik hati, sehari-hari kita menerima salam selamat: seperti selamat pagi, selamat siang, selamat malam dan ucapan selamat lainnya dalam berbagai event dan kegiatan. Orang Batak selalu menyapa dengan kata: "Horas", Sahabat kita Muslim menyapa "Assalamualaikum" dan Orang Israel sempaikan Syalom. Jika kita cari dalam berbagai suku bangsa yang ada tentu akan ada sapaan harian mengucapkan selamat. Bagi saya itu suatu tanda bahwa setiap orang membutuhkan keselamatan, selamat dalam menjalani dan melaksanakan kehidupan sehari-hari. 


Dalam Kotbah Minggu ini, kita juga berbicara untuk memohon keselamatan, dan jika kita perhatikan teks kotbah ini, doa permohonan Abraham memohon keselamatan bukan keselamatan dirinya sendiri atau keluarganya, tetapi memohon keselamatan Sodom dan Gomora. Memang ada ikatan keluarga dari Abraham dengan Sodom karena Lot ada disana. Jadi Abraham berdoa syafaat untuk orang lain. Hal ini menjadi pesan penting bagi umat Kristen, yang menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus berdoa syafaat untuk keselamatan orang lain. 


Allah menyampaikan rencanaNya kepada Abraham untuk menghukum Sodom. Alkitab mencatat dosa-dosa Sodom diantaranya: perzinahan, kesombongan dan ketidak percayaan. Mereka sangat kejam terhadap orang asing hingga menginginkan orang lain sebagai mangsa (Kej 18). Nabi Yehezkiel juga menyinggung dosa Sodom dalam Yehezkiel 16:49-50 (TB) "Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan kekejian di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu."

Sodom dan Gomora mrnjsdi prase yang mengingatkan dahsyatnya dosa dan hukuman Allah atas dosa. 


Sodom dan Gomora dimusnahkan Tuhan melalui Api dan Belerang sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 18-19 ini. Dalam studi Archeologi bahwa Sodom dan Gomora yang dihancurkan itu berlokasi di Yordania bernama Tel-El Hamman atau ujung utara Laut Mati. Tel-El Hamman hancur diperkirakan 1.000 kali lipat dari bom atom di Hirosima. Tentu penelitiaan akan kota Sodom penting untuk mengungkapkan kebenaran Alkitab. 


Dalam pemberitahuan hukuman Tuhan adakah keselamatan? Disinilah kotbah Minggu ini yang menarik, yaitu doa syafaat Abraham memohon keselamatan. Baiklah kita ambil beberapa pokok penting yang dapat kita pelajari dari kotbah ini: 


1. Pemberitahuan rencana Allah

Ada satu makna spiritual di dalam nats kotbah ini, yaitu: Abraham memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan. Tuhan mengungkapkan rencananya kepada Abraham untuk menghukum Sodom dan Gomora. Tentu tidak kepada semua orang kita menyampaikan rencana kita, hanya kepada orang yang akrab dan mengerti isi hati kita. Disini Allah sendiri yang memberitahuklan rencanaNya tentang hukuman terhadap Sodom. Abraham pun menyampaikan pendapatnya dan permohonannya kepada Tuhan. 


Rencana Allah telah matang, dosa Sodom dan Gomora tidak terampuni lagu dan harus dihukum. Perilaku bezat dan dosa yang tidak dapat ditolerir harus dihentikan dengan memusnahkan mereka dan tidak seorang pun yang tertinggal. Naluri kemanusiaan Abraham terusik, apakah rencana Allah ini tidak keliru? Apakah Tuhan memusnahkan orang benar bersama orang fasik disana? Apakah Tuhan tidak keliru dengan keputusan itu? Itulah kesan Abraham setelah Allah memberitahukan rencanaNya, maka Abraham pun mulai bernegosiasi menyampaikan permohonan. 


Hal menarik disini adalah selain akrab bergaul dengan Tuhan, kita juga memaknai bahwa rencana Allah selalu disampaikan kepada umatNya. Sekalipun rencana Allah terkadang sulit di mengerti, karena sejauh timur dari Barat demikian rencana manusia dibanding dengan rencana Allah. Tetapi rencana Allah itu diberitahukan melalui para hamba-hambaNya. Allah tidak menghukum tanpa alasan, Allah menyampaikannya melalui peringatan namun sering sekali peringatan itu diabaikan sehingga tiba pada penghukuman. 


Allah memilih Abraham menyampaikan rencananya tentang Sodom, menurut saya perlu kita kembangkan bahwa kita orang percaya adalah juga yang dipercaya Tuhan menyampaikan rencana Allah dalam hidup kita di masa kini. Alkitab telah menyampaikan Firman didalamnya maksud dan rencana Allah, Allah merencanakan keselamatan bagi setiap orang agar tidak binasa, rencana Allah ini harus terus kita sampaikan sampai ke ujung bumi. Kita adalah duta-duta Allah seperti Abraham duta menyampaikan maksud Allah tentang Sodom, maka demikian juga kita di masa kini menerima tugas itu. Di dalam gereja tugas inilah yang disebut dengan tigas pastoral, atau tugas menyampaikan suara nabiah berupa kritik atau peringatan terhadap situasi yang terjadi. Jika peringatan ini diindahkan semuanya akan mendapatkan keselamatan dan jauh dari murka dan hukuman. 


2. Permohonan Abraham: Dari 50, 40, 20 dan 10, "tak seorang pun selamat karena perbuatannya." 


Naluri kemanusiaan Abraham bangkit setelah mengetahui rencana Tuhan menghukum Sodom dan Gomora. Hukuman ini nampaknya telah final dan akan dijatuhkan. Disini ada kepedulian Abraham, dia memohon belas kasihan kepada Tuhan terhadap orang-orang yang didalam pikiran Abraham baik hati. Mungkin saja dalam pandangan Abraham adalah kerabatNya Lot berserta keluarganya. Mereka adalah sama seperti Abraham, mereka berpisah hanya untuk menghindari konflik karena semakin diberikan Tuhan kemakmuran. Itulah sebabnya permohonan Abraham diawali dengan seandainya ada 50 Orang yang benar apakah mereka dimusnahkan juga? 


Abraham tidak terlalu jauh berpikir akan ada banyk orang benar di Sodom, dia hanya menjangkau siapa yang dia anggap baik dan di kenal yaitu Lot beserta keluarganya beserta para hamba-hambanya. Maka, Tuhan pun menjadwab seandainya ada orang benar 50 orang disana Tuhan tidak akan menghukumnya. Maka Spontan Abraham selanjutnya menawar lagi dengan 40 Orang, Jawaban yang sama dari Tuhan. Tuhan tidak akan menghukum Sodom jika ada 40 orang benar disana. Abraham dengan berat hari memohon kepada Tuhan dan memohon dengan penuh belas kasihan, bagaimana dengan 20? Tawaran dua pulu ini memungkinkan Lot Isterinya dan anak-anaknya beserta hamba-hamba terdekat. Tetapi lihatlah jawaban yang sama, Abraham pun memohon sekali lagi apakah Tuhan menjatuhkan hukuman jika ada 10 orang benar disana? Firman Tuhan: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." 


Abraham pun diam dan kembali ke tempat tinggalnya. Mungkin Abraham berpikir positip terhadap penduduk Sodom masih ada yang dapat diharapkan selamat dari sana, namu Abraham tidak melanjutkannya lagi dan kembali ke tempat tinggalnya. 


Selanjutnya dalam pasal 19, Allah sendiri bertindak dan berinisiat menyelamatkan Lot dan isterinya beserta anak perempuannya serta kerabatnya. Malaikat itu menyampaikan pesan agar Lot membangunkan calon menantunya agar ikut diselamatkan namun calon menantun menganggapknya seobagai bahan olokan. Sehinga Hanya empat orang yang mau berangkat meninggalkan kota itu. Isteri Lot gagal karena ia melangar pesan malaikat agar tidak melihat ke belakang sebagaimana diperintahkan. Akhirnya ia menjadi tiang garam Kej 19:26) . Jadi hanya Lot dan dua putrinya yang luput dari hukuman Sodom dan Gomora. 


Drama penyelamatan Lot dan kedua putrinya menjadi menarik, Allah sendirilah yang berinisiatip dan bertindak menyelamatkannya. Ini suatu pelajaran bahwa keselamatan itu adalah inisiatp Allah dan manusia harus menerima rencana Allah di dalam hidupoNya dan mengikuti perintahNya. 


3. Keselamatan adalah Anugerah Tuhan


Berhentinya Abraham menawar jumlah orang yang selamat menurut saya perlu diperdalam dengan pemahaman bahwa tidak seorang pun yang dapat benar dihadapan Tuhan, semuanya telah berdosa dan akan diberikan hukuman. Peristiwa Sodom menjadi contoh bahwa tidak seorang pun yang dapat luput dari hukuman karena semuanya telah berdosa dan tidak seorang pun yang benar. Hanya Allah sendirilah yang dapat menyelamatkan, manusia dari dirinya sendiri tidak dapat diselamatkan. Inilah ajaran keselamatan di dalam pandangan kekristenan, keselamatan itu adalah anugerah yang kita terima di dalam Yesus Kristus.


Dengan demikian ajaran tentang keselamatan harus dipahami bahwa kita selamat bukan karena perbuatan, atau karena kebaikan atau karena budi baik kita, Kita diselamatkan oleh karena Kasih Allah yang begitu besar. Setelah manusia jatuh dalam dosa memang dosa telah berkuasa atas manusia dan manusia tidak dapat melepaskan diri dari kuasa dosas. Itulah sebabnya Allah sendiri berinisiatip dan bertindak menyelamatkan manusai yang jatuh dalam dosa melalui pengorbanan Yesus Kristus. J

Roma 5:17 (TB) Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. 


Kedua, keselamatan disini adapat juga kita pahami sebagai pemeliharan Tuhan dalam hidup orang percaya. Allah memberikan jaminan keselamatan kepada setiap orang yang percaya. Yesus berkata: Lukas 21:18 (TB) Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.


Ketiga. Apa yang dilakukan oleh Abraham berdoa syafaat untuk Sodom memberikan hal yang signifikan tentang tugas orang percaya yaitu berdoa syafaat bagi keselamatan orang lain. Keselamatan bangsa, raja-raja dan alam semesta. Orang percaya bukan berdoa hanya untuk kebutuhannya sendiri, tetapi berdoa syafaat untuk keselamatan.

Paulus juga mengingatkan jemaat mula-mula melalui Timotius untuk berdoa syafaat. 1 Timotius 2:1-2 (TB) Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, 

untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.


Apa yang kita doakan kita percaya Tuhan akan mengabulkannya, disebutkan di dalam Matius 21:22 (TB) Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Band Mat 7:7).


Sahabat yang baik hati, pelajaran dari peristiwa Sodom mengingatkan murka Allah teradap dosa. Takseorang pun luput dari hukuman Allah. Allah sendiri bertindak untuk menyelamatkan dan tsnggung jawab orang yang memperoleh keselamatan adalah wajib berdoa syafaat bagi orang-orang yang mengasihi kita. Amin


Salam dari HKBP Pekalongan

Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 19 Juli 2025

MILIH BAGIAN YANG TERBAIK

 Kotbah Minggu V Stlh TRINITATIS

Minggu, 20 Juli 2025

Ev. Lukas 10:38-42



MEMILIH BAGIAN YANG TERBAIK


Lukas 10:39b Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, sering kali dalam hidup kita sering memikirkan hal-hal tehnis ketimbang dari hal yang substansial. Mungkin anda pernah mendengar ungkapan: Yang pokok disampingkan, yang samping dipokokkan. Suatu pesan yang menggambarkan dalam melakukan sesuatu pekerjaan seseorang mengabaikan hal pokok karena urusan pendukung tehnis, akhirnya berubah demi hal-hal tehnis akhirnya hal yang substansial telah kehilangan makna. 


Dalam kotbah minggu ini mengingatkan kita untuk memilih yang terbaik. Dalam ilmu manajemen ini disebut dengan memprioritaskan yang utama. Dalam bahasa Inggris ini disebut dengan: "first things first" mengutamakan yang paling utama. Itulah yang dilakukan oleh Maria. Kotbah ini bukan mau membandingkan siapa yang lebih baik Maria atau Marta tetapi bagaimana Maria mengambil sikap mementingkan yang utama. Yesus hadir untuk mengajar dan orang banyak datang untuk mwndengarkan pwngajaran dan kitbah-kotbah Yesus. Maria mempersiapkan diri melakukan yang terbaik yakni membuka hati dan duduk dekat kaki Yesus mendengarkan kotbah dan pengajaranNya. 


Baiklah kita mendalami kotbah Minggu ini


1. Yesus berkenan datang bagaimana respon kita? 

Kehadiran Yesus di rumah Marta dan Maria menjadi pelajaran penting untuk kita pelajari. Maria dan Martha adalah dua sahabat Tuhan Yesus yang tergolong sangat dekat. Bagaimana aktifitas kedua perempuan ini menjadi ikon dalam mendalami peran perempuan di dalam pelayanan gereja dan masyarakat. Bagimana mereka menyambut kehadiran Tuhan Yesus di rumahNya menjadi cerita yang hidup dan dapat menggali pelajaran apa yang seharusnya kita lakukan dalam pelayanan.


Sukacita Martha saat mendengar Yesus akan datang ke rumahnya membuat dia sibuk untuk urusan rumah, mungkin mulai dari menata kursi, dimana duduknya bagaimana menata ruangan agar rapi dan berbagai kudapan atau snack yang disediakan untuk tamu kehormatan yakni Tuhan Yesus. Pokoknya sebelum dan sesudah kehadiran Yesus ke rumah mereka Martha repot kesana kemari bagaimana mempersiapkan yang terbaik sebagai tamu istimewa di rumahnya.


Kehadiran Yesus bagi Maria berbeda, Maria memilih duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan terus perkataan-perkataan Tuhan Yesus. Bagi Maria kehadiran Yesus menjadi kesempatan besar untuk mendengarkan cerita, kotbah, pengajaran atau perkataan yang keluar dari Yesus. Bagi Maria, orang banyak pergi kemana-mana untuk mendengarkan kotbah, pengajaran dan perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus. Apalagi pada kesempatan itu Yesus datsng.ke rumahnya. Mari memiliki kerinduan akan Pengajaran dan kotbah Yesus. Saat Yesus tiba di rumahnya dia ingin sekali banyak mendengar perkataan dan cerita dari Tuhan Yesus. Martha mungkin agak kesal dengan sikap Maria, seolah tidak mau membantu kakaknya, sampai Martha ingin agar Yesus menegor Maria dan meminta untuk mengerti dan dapat membantu Martha. Namun jawaban Yesus ini membuat kita semakin mendalami akan arti dekat dengan dengan Tuhan Yesus adalah spiritualitas utama dan kerinduan mendengar FirmanNya.

Yesus berkata dalam Lukas 10:41-42 (TB) Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."


Martha adalah orang yang baik, terampil dan terus bekerja untuk melakukan yang terbaik menjadi teladan juga untuk melayani orang lain. Namun Maria mengambil peran yang terbaik. Maria memilih untuk duduk dekat dan mendengarkan perkataan Yesus. Pilihan Maria duduk di kaki Yesus adalah kerinduan kita juga. Kita ingin dekat dengan Yesus. Duduk dekat di kaki Tesus adalah spiritualitas tertinggi di dalam kekristenan. Firman atau Perkataan Yesus adalah sumber kehidupan bagi kita. Firman yang disampaikan oleh Yesus adalah air kehidupan atau roti kehidupan baginya. Kita hidup oleh karena perkataan Yesus. 


Artinya renungan ini hendak mengajak kita marilah mengambil peran yang terbaik dalam pelayanan kita masing-masing. 


2. Kebaikanmu jangan digunakan menegor atau menyalahkan orang lain.


Martha seorang yang baik hati, dia melakukan persiapan dengan baik mempersiapkan segala sesuatu untuk menjamu Tuhan Yesus di rumahnya. Saya dapat gambarkan bagaimana seorang ibu yang mempersiapkan arisan rumah tangga. Mulai dari kursi, makanan camilan, menu makanan, minumannya, fooding dll. Pokoknya semuanya dipersiapkan. Mempersiapkan apa yang baik bagi tamu qdalah baik, namun dimana letak masalah yang terjadi dengan Martha?


Baiklah kita perhatikan ayat ini Lukas 10:40 (TB) sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."


Sibuk melayani adalah pekerjaan baik, namun kalimat selanjutnya adalah: 


- 'Tuhan, tidakkah Engkau peduli'? Martha yang sibuk sendiri kok jadi Tuhan yang dianggap tidak peduli? Asumsi seperti inilah yang perlu diperhayikan. Yesus tidak meminta dia mempersiapkan ini dan itu, justru Yesus ingin bincang-bincang dengan mereka. Tapi karena Martha ingin persiapkan ini dan itu akhirnya momebt untuk lebih banyak mendengar dan bincang-bincang jadi habis karena persiapan sana-sini.


Perlu diluruskan, Tuhan itu tetap peduli, Tuhan sangat memperhatikan keadaan Martha dan Maria namun sibuknya mempersipakan menjamu Tuhan Yesus, Martha keholangan moment untuk share dan bercerita dengan Tuhan Yesus.


- 'suruhlah dia membantu aku". Yesus tidak meminta Martha melakukan jamuan dengan segala menu ini dan itu. Tapi lihatlah, Martha lelah sendiri dengan segala yang dipersiapkan. Akhirnya Martha pun meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantunya. 


Dua catatan di atas menjadi perhatian kita dalam menangkap makna kotbah ini. Ats keluh Marta ini Yesus menegor Martha.


Lukas 10:38, 41 (TB) Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,


Yesus datang untuk berjumpa dan hendak menyampaikan pesan berharga dalam hidup Maria dan Martha. Namun Martha sibuk dengan segala kekuatiranya akhirnya kehilangan moment mendengarkan pesan dan pengajaran Tuhan Yesus. Selain itu Yesus juga menegor Martha karena kesibukannya dan segala kekuatirannya. Apalagi kesibukannya pada akhirnya menyalahkan orang lain. Inilah yang diingatkan oleh Yesus. Segala kesibukan kita dalam pelayanan jangan sampai kehilangan hal yang paling berharga yang itu berjumpa dengan Yesus. Itukah yang dilakukan oleh Maria dengan duduk dekat Tuhan Yesus dan mendengarkan sabdaNya. 


3. Mengkombinasikan peran Maria (mendengar) dan Martha (melayani)


Perlu diingatkan bahwa dalam kotbah ini bukan mau membandingkan siapa yang lebih baik apakah Maria atau Marta. Tetapi merupakan apa perwn yang dilakukan Maria dan peran yang dilakukan Martha. Dalam konteks kotbah minggu ini Maria mengambil bagian yang utama yaitu mendengar Yesus berbicara dan mengajar. Maria haus akan firman, keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang apa kehendak Tuhan dalam hidup ini. Sementara Martha bersedia dan bergegas melakukan sesuatu yang dibutuhkan, masalahnya jangan berlebihan dan jika sudah berlelah jangan salahkan orang lin dengan segala apa yang kita lakukan.


Bagaimana kita mengkombinasikan kedua tokoh ini. Dalam pelayanan ada baiknya kita melakukan apa yang dilakukan oleh Maria: bersedia mendengar, mau dibekali dengan Firman Tuhan. Setelah mengerti apa kehendak Tuhan maka berlanjut dengan mengimplementasikannya dalam berbagai aktifitas pelayanan. Namun harus dicatat jangan berlebihan, lakukan pelayanan dengan tulus dan jangan salahkan orang lain dengan segala apa yang engkau lakukan.


Pada bahagian penutup kotbah ini, mengambil peran yang utama bukan berarti lainnya tidak penting. Jika kita telah memutuskan yangbutama dalam pelayanan baiklah kita semua ambil.peran sesuai dengan talent dan potensi yang ada. Sehingga pelayanan daoat dilakukan dengan lebih maximal. 


Tuhan memberkati pelayanan kita masing-masing. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak


Sabtu, 12 Juli 2025

MENGASIHI TUHAN DAN HIDUP MENURUT JALANNYA

 Kotbah Minggu IV Setelah Trinitatis

Minggu, 13 Juli 2025

Ev. Ulangan 30:15-20



*MENGASIHI TUHAN DAN HIDUP MENURUT JALANNYA*


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Hidup ini adalah pilihan. Dalam banyak hal kita diperhadapkan pada pilihan, kadang pilihan mudah, kadang pilihan sulit bahkan pilihan dalam buah simalakama: dipilih ini resiko ini, dipilih itu resiko itu. Namun harus kita sadari bahwa manusia memiliki akal dan hikmat untuk menentukan pilihan, manusia diberi kekuatan dalam memperjuangkan pilihannya. Pada akhirnya manusia harus berpaut pada hasil alhir ditentukan oleh Tuhan.


Hidup ini adalah pilihan didasarkan pada pemahaman bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Setiap orang bebas menentukan pilihannya namun setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya dan akan menerima segala konsekwensinya. Memilih sukses maka konsekwensinya berusaha keras untuk menggapai tujuannya. Anda harus relah berlelah dan berikutbya akab menikmati apa yang dicapai. Tidak ada orang ingin meraih sukses namun tidak ada upaya atau effort, itu hanya terjadi dalam mimpi. Orang yang ingin berhasil namun tidak ada upaya ibarat orang terus bermimpi, tidak mau bangun dan bangkin namun terus tidur melanjutkan mimpinya.


Sahabat yang baik hati! Kotbah Minggu ini mengajak kita untuk memilih jalan kehidupan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kanaan, Musa mengumpulkan umat Allah dan memberikan nasihat. Nasihat itu berisi pilihan pilihan kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk dan keberuntungan atau kebinasaan. Musa memperhadapkan pilihan ini sebelum mereka memasuki tanah Kanaan. Jika ingin hidup berpautlah kepada Tuhan, setia mengasihi dan berjalan di jalan yang Tuhan berikan. Namun sebaliknya jika mereka berpaling dari Tuhan maka mereka akan menuju kebinasaan. 


1. Menentukan pilihan: 

Bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir berjalan kepada satu tujuan, yaitu menjadi bangsa yang berdaulat, memiliki tanah yang subur, masyarakat yang makmur berlimpah susu dan madu serta menjadi bangsa yang masyur.  

Itulah janji Allah kepada umat Allah dan memanggil mereka keluar dari perbudakan Mesir. Menerima janji ini tentu mereka akan berjalan ke Kanaan dan menanggung segala konsekwensinya di dalam perjalanan. 


Jika kita baca kitab Keluaran, kisah mengenai keluarnya Israel dari perbudakan merupakan kisah perjuangan yang luar biasa, Allah dengan tangan yang kuat melakukan mujizat membebaskan Israel sampai menunggang balikkan Firaun di laut Merah. Itu semua dilakukan Allah demi pemenuhan janji umat Allah akan tinggal di negeri yang dijanjikan Tuhan Allah kepada mereka. 


Perjalanan ini sudah sedemikian jauh, pengalaman demi pengalaman di dalam perjalanan sudah mereka alami. Selamat perjalanan itu tentu umat Allah memperoleh pendidikan tentang bagaimana Tuhan memelihara hidup mereka. Mereka bisa sejauh ini tentu karena pemeliharaan Tuhan.


Tujuan sudah di depan mata, Kanaan di seberang jika Tuhan berkenan sebentar lagi mereka akan memasuki tanah Kanaan, Musa memanggil dan meneguhkan janji dan komitment mereka setia kepada Allah. Pemanggilan ini sangat penting Musa mengingatkan dan memperhadapkan mereka kehidupan atau kematian, berkat atau kutukan keberuntungan atau kebinasaan. 


Jika kita simak, pilihan ini sebenarnya tidak begitu sulit pasti pilihan semua orang mau hidup, mau beruntung dan dapat berkat. Namun konsekwensi pilihan itu yang harus diingatkan oleh Musa, yaitu kesungguhan hati untuk mencapai goal dengan segala konsekwensinya. Kesungguhan hati untuk setiap kepada Tuhan, tidak terpengaruh oleh godaan asing dan pengaruh lain.


Kitab Ulangan sebagaimana namanya mengulangi, ibarat seorang guru dalam mempersiapkan ujian dia mengulangi kembali pelajaran yang diberikan sehingga apapun pertanyaan saat ujian sudah siap.menghadapinya. 


Sedikit catatan mengenai kitab Ulangan.

Banyak penafsir menghubungkan penemuan kitab Ulangan ini saat transformasi Yosia raja di Yehuda di masa krisis sebelum pembuangan. Kitab suci ini ditemukan dan ditulis kembali dengan tujuan mengembalikan ketaatan total kepada Allah. Bagi Josia transformasi terjadi dengan jalan satu-satunya komitmen dan janji umat Allah setia kepada Allah. Transformasi terjadi dimulai dari kepala. Maka Yosia memimpin perubahan dengan menjadi teladan dalam kesetiaan dan pengabdian kepada Allah. Disebut Ulangan karena ada banyak isi kita temukan sama dengab apa yang telah dituluskan dalam kitab keluaran. 

Hal menarik adalah kesetiaan itu terbentuk melalui diaplin, dengan mengulang-ulangi, sehingga hapal dan paham tidak satuoun yang tertinggal.


2. Konsekwensi pilihan: janji Allah tetap dan hukumannya juga


Hidup di negeri Kanaan adalah impian dari umat Allah, mereka ingin hidup sejahtera, makmur, memiliki rumah dan ladang sendiri serta panjang umur melihata anak dan cucu bertumbuh dan berkembang. Impian menjadi bangsa yang besar, sejajar bahkan dihormati bang asing. Mereka adalah umat pilihan Allah. Allah setia pada janjinya. Artinya konsekwensi kesetiaan kepada Allah mereka akan menerima segala janji Allah.


Musa mengingatkan kembali akan konskwensi pilihan. Srtia mendapat berkat dan ketidak setiaan mereka akan mendapat kebinasaan. 

Ulangan 30:17-18 (TB) Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,

maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.


Artinya jika tidak setia maka murka dan hukuman akan menimpa dan kpnsekwensinya adalah kebinasaan. 

Konsekwensi ini dapat kita pahami dari arti "perjanjian". Dalam Bahasa Ibrani perjanjian disebut "charat berith" artinya memotong perjanjian. Kedua belah pihak sepakat dan berjanji memenuhi kesepakatan. Jika semua memelihara janji dan memenuhinya maka akan memperoleh hasil dsri janji. Sebaliknya jika ada yang melanggarnya maka dia akan mati dan darahnya akan tercurah seperti kurban yang disembelih. Jadi janji berpaut pada konsewensi, jika tidak setia akan menuju kebinasaan.


Musa menegaskan konsekwensi ini karena pengalaman sejak keluar dari Mesir dan tantangan yang dia hadapi memimpin Israel selalu labil dan seringkali bersungut-sungut bahkan sering melanggar perintah dan ketetapan Tuhan akhirnya mereka mendapat murka. Musa mengingatkan umat Allah sebelum memasuki Kanaan harus setia dan taat, jika tidak akan binasa. 


Jika kita coba merefleksikan dalam kehidupan ini sering kali manusia berjanji. Namhn janji tinggal janji, bukankan oara pejabat publik kita ini berjanji? Namun bagaimana komitmennya memelihara janji? Mereka tidak setia dan menaati janjinya akhirnya terjerumus pada baju orange.


3. Setia di jalan Tuhan dengan melakukan 3 hal ini


Bagaimana memelihara komitment? Musa memberikan tiga hal yang selalu dilakukan, yakni:


3.1. Mengasihi Tuhan

Mengasihi Tuhan bukanlah hal baru bagi Israel, sejak mereka menerima Perintah Allah di Sinai, umat Israel sudah berjanji akan mengasihi Tuhan. Inti dari Sepukuh Perintah Tuhan adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, akal dan budi. Mengasihi Allah ini dirumuskan dalam bentuk "Syema" atau "pengakuan iman". Dengarlah Israel, Allah itu Esa kemudian dengan perintah untuk.mengasihi Tuhan Allah dengan senap hayi, kekuatan dan budi. (Ulangan 6:4-11)


Mengasihi Allah ini merupakan kewajiban syukur atas segala karya dan perbuatan Allah yang ajaib. Umat Alllah telah menyaksikan sendiri mujizat yang besar membebaskan Israel dsri perbudakan Mesir dan pemeliharaan sepanjang perjalanan semua itu adalah karya Tuhan yang besar. Dengan pengalaman ini.mereka tanpa diperintahpun seharusnya bersyukur san mengasihi Tuhan.


3.2. Mendengarkan Tuhan

Ada ungkapan dalam orang Batak: "pantun hangoluan tois hamagoan". Nasihat ini bisanya disampaikan saat seseorang pergi merantau, atau mencari mencari ilmu atau pekerjaan. Nasihat itu harus didengar jika ingin hidup, namun sebaliknya akan binasa jika tidak taat pada nasihat.

 

Mendengar adalah kunci keberhasilan. Bangsa Israel dalam menempuh perjalanan harus membuka telinga dan mendengar perintah. Jangan mengandalkan pikiran sendiri, namun berjalan meneurut petunjuk dan perintah Tuhan.


Jika kita baca Perjanjian Lama baik dalam Taurta, Nabi-nabi dan sastera hikmat formula: dengarlah hai Israel. Formula semacam itu terus disampaikan Allah bersabda dan mereka harus menengarkan dan melakukannya. 

Yesus menyampaikan dalam Lukas 11:28 (TB) "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."


3.3. Berpaut kepada Tuhan

Kata berpaut disini menjelaskan kesetiaan mengikuti. Ibarat dalam suatu perjalanan kemana pemimpinnya pergi kesitulah semua anggotanya mengikuti, tidak menyimpang dan atau berbalik arah. Ibarat dalam zaman sekarang ini kita sebut follower. Namun follwer dalam media sosial mudah unfollow. 

Disini berbeda, berpaut kepada Tuhan, mengikuti jejak, jemapa pergi yang harus mengikutinya. Jika tidak akan tertinggal, kehilangan arah dan tersesat. Maka agar sampai ke tujuan mengikut dibelakang. 

Yosua juga mengikuti pola ini, saat memasuki kota Kanaan Yosua berpidato dihadapan umat Allah dan berjanji setia dan berpaut kepada Allah. 

Yosua 22:5 (TB) Hanya, lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum, yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, yakni mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti perintah-Nya, berpaut pada-Nya dan berbakti kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."


Dalam perjanjian baru istilah berpaut ini bisa kita terjemahkan kepada kata "mengikut". Kata ini digunakan oleh Yesus saat memanggil murid-muridNya dan berkata: "Ikutlah Aku!" Mengikut Yesus berarti percaya kepadaNya, mengikuti jalanNya dan bersedia melakukan apa yang siperintahkanNya.


Demikianlah kata berpaut ini: umat Allah harus bersedia mengikuti perintah-perintahNya, mengikuti jalan yang diberikan oleh Tuhan serta setia dalam segala konsekwensinya.


Sahabat yang baik hati! Marilah memilih kehidupan dan setia di dalam pilihan hidup ini. Hasil ditentukan oleh Tuhan dan Tuhan setia pada janjiNya. Amin


Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak




Sabtu, 05 Juli 2025

MENJADI CIPTAAN BARU

 Kotbah Minggu III Stlh TRINITATIS

Minggu, 6 Juli 2025

Ev. Galatia 6:11-18



MENJADI CIPTAAN BARU


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, topik kotbah minggu ini diberi judul dengan menjadi manusia baru. Topik ini merupakan salah satu topik sentral di dalam Kristologi. Salib Kristus telah menciptakan kita menjadi manusia baru, manusia lama diperbaharui menjadi manusia yang benar-benar baru. Kristus telah menebus kita dari manusia lama melalui pengorbanannya di kayu salib. Hal itu dilakukan sekali untuk selamanya karena tisak ada lagi syarat lain dalam keselamatan. Keselamatan adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus tidak ada tanda lahiriah berupa peraturan keagamaan apapun yang ditambahkan menjadi syarat di dalam keselamatan. 


Masalahnya di dalam jemaat Galatia adalah masih ada kaum Yudaistik yang memaksakan tradisi Yahudi menjadi syarat dalam keselamatan. Mereka memaksakan syarat Taurat dan sunat bagi orang-orang Kristen non Yahudi. Selain itu, mereka meragukan keabsahan kerasulan Paulus, dan Injil yang diberitakan Paulus tablnpa hukum Taurat dan sunat keselamatan seolah tidak sempurna. Guru-guru penyesat ini nampaknya berhasil memprovokasi jemaat Galatia akhirnya berbalik dari Injil yang diberitakan oleh Paulus kepada "injil lain yang bukan Injil". Mereka memberitakan keselamatan di dalam Yesus Kristus dengan syarat-syarat tambahan: hukum Taurat, peraturan-peraturan keagamaan dan tanda-tanda lahiriah seperti sunat. Mereka berhasil mengacaukan jemaat dan meragukan kerasulan Paulus sehingga banyak yang berbalik dari pengajaran Paulus kepada ajaran pengajar-pengajar palsu yang mengacaukan jemaat tentang keselamatan. Itulah sebabnya Paulus menyampaikan dalam Galatia 1:6-7 (TB) Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. 


1. Injil Kristus: tidak ada syarat lain di dalam keselamatan 


Bagi Paulus tidak ada syarat lain dalam keselamatan Injil yang diberitakan Paulus murni dan tidak ada Injil lain. Paulus menegaskan Galatia 1:8-9 (TB) Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.


Selain itu, para pengajar palsu ini bermegah atas pekerjaan orang lain. Paulus yang mendirikan jemaat-jemaat di berbagai kota dan desa dari Asia sampai ke Eropa, namun Paukus sedikit tidak pernah memegahkan dirnya atas semua yang kerjakannya. Sebaliknya para pengajar palsu ini memegahkan diri dari apa mereka kerjakan. Mereka mengajar secara meyakinkan dan mempesona sampai-sampai jemaat Galatia terpesona dan meninggalkan ajaran Paulus. Paulus berkata dalam Galatia 3:1 (TB) Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?


Paulus sangat kecewa terhadap jemaat Galatia yang mudah goyah oleh rupa-rupa pengajar baru. Mereka tidak berdiri teguh di dalam Injil yang diberitakan oleh Paulus. Maka untuk memenangkan jemaat Galatia dari pengajr-pengajar palsu ini Paulus menegaskan kembali bahwa Kristus telah disalibkan untuk menebus manusia, Kristus telah mati untuk kita mematikan manusia lama dan di dalam Kristus kita benar-benar menjadi ciptaan baru. 


Tidak ada syarat lain di dalam keselamatan. Keselamatan adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Keselamatan tidak didapatkan lewat usaha manusia atau kemampuan manusia melakukan Taurat. Keselamatan adalah anugerah yang kita terima di dalam iman. 


2. Menjadi manusia ciptaan baru


Di dalam surat-suratnya Paulus menjelaskan salib adalah penebusan dan pendamaian. Namun di dalam dalam Galatia ini Paulus menghubungkan salib Kristus dengan menjadi ciptaan baru. Hal ini memperdalam makna keselamatan. Penebusan menjelaskan manusia yang telah diperhamba dosa maka seorang hamba tidak dapat melepaskan diri menjadi manusia merdeka dari dirinya sendiri. Menjadi manusia merdeka hanya dilakukan melalui tindakan penebusan. Demikianlah manusia berdosa, sejak kejatuhan manusia dalam dosa manusia menjadi hamba dosa. Salib Kristus membebaskan manusia dari hamba dosa menjadi manusia merdeka di dalam Yesus Kristus (Baca Galatia 5:1). Kata kedua yang digunakan Paulus adalah "pendamaian", salib adalah pendamaian Allah menerima manusia yang telag diasingkannya sejak kejatuhan manusia dalam dosa. Salib adalah pendamaian Allah sendiri mendamaikan dirinya dengan manusia. Dengan salib Allah memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah dirusak oleh dosa. 


Hal menarik di dalam Galatia ini Salib Kristus dihubungkan dengan penciptaan manusia baru. Galatia 6:15 (TB) Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Jadi pengorbanan Kristus hendak memperbahatui manusia, jangan kembali lagi kepada peraturan keagamaan, hukum Taurat, Sunat dan peraturan keagamaan seolah sebagai syarat dalam keselamatan. Salib Kristus menjadikan kita benar-benar menjadi ciptaan baru. Jika oleh dosa citra manusia yang segambar dengan rupa Allah rusak maka di dalam Salib kita diciptakan menjadi baru.  


Penjelasan makna salib sebagai penciptaan ini menambah dan memperdalam makna keselamatan. Di dalam peristiwa salib, Kristus melakukan penebusan dan penciptaan. Allah menebus manusia yang diperhamba dosa dan di dalam salib manusia menjadi baru. Kristus memulikan citra manusia yang segambar dengan rupa Allah. Dengan demikian Salib Kristus Yesus memulihkan hubungan manusia, yang dulu terasing kita di dalam anugerah (in xaris). 


3. Menjadi ciptaan baru: hindarilah tiga hal ini


Jika kita baca kembali perikop kotbah ini, kita menemukan nasiha Paulus yang dapat kita jadikan menjadi perintah yang bersifat larangan, yaitu: 


3.1. Jangan memaksakan kehendak

Paulus menjelaskan sumber kekacauan di dalam jemaat Galatia adalah pemaksaan kehendak kam Yudaistik terhadap non Yahudi. Seolah kleselamatan non Yahudi tidak sempurna karena tidak bersunat. Mereka menambahkan syarakat keselamatan dengan memaksa non Yahudi harus bersunat. Bagi Paulus sunat hanyalah tanda lahiriah. Pemaksanaan non Yahudi bersunat tidak memiliki arti apa-apa, itu hanya tanda lahirah. Keselamatan adalah anugerah Allah, suatu kekayaan rohani yang kita miliki yang diberikan oleh Allah secara gratis. 


Pemaksaan kehendak adalah sumber kekacauan, ini suatu peringatan Paulus bagi kita di masa kita. Pemaksaan kehendak bukanlah nilai-nilai Kristiani. Kekayaan rohani kita adalah ketiak setiap orang menyadari dirinya siapa dan dengan sukarela melayani Kristus tanpa paksaan tetapi dengan penuh tanggung jawab. 


3.2. Jangan memegahkan diri

Lawan Paulus di Galatia sangat pintar memegahkan diri, memuji pekerjaannya dan seolah menjadi paling sempurna dalam segala hal. Padahal Pauluslah yang paling berjasa atas berbagai pendirian jemaat di Asia sampai ke Eropa. Paulus berlari-lari dari satu desa ke desa lain dari satu kota ke kota lain. Jika kita membaca seluruh Kitab Para Rasul, ada sebanyak tiga kali Paulus melakukan rute pekabaran Injil dan penyebaran gereja mula-mula di luar Yahudi umumnya dikerjakan oleh Paulus. Tetapi Paulkus tidak pernah memegahkan diri atas semua itu, justru menganggap bahwa tugas pemberitaan itu adalah hutang. 


Berbeda dengan pengajar palsu di Galatia, mereka hanya pintar ngomong, pandai menghasut dan kata-katanya mempesona namun tidak menghasilkan apa-apa, tiada hasil pekerjaannya yang bisa ditunjukkan selain memprovokasi. Di jaman now ini disebut dengan pencitraan, melakukan berbagai hal hanya untuk cover namun kosong isi. 


Paulus di dalam ktobah ini mengajak kita, manusia ciptaan baru tidaklah manusia cover atau pencitraan dengan maksud memegahkan diri. Manusia baru adalah berpedoman pada hati yang melayani dengan tulus dan sungguh-sungguh. Dalam semua pelayanannya biarlah Kristus yang dimuliakan. 


3.3. Jangan menyusahkan orang lain


Mengahdapi lawan-lawannya di Galatia, memang Paulus terganggu bahkan menyusahkan Paulus. Namun gangguan dan kesusahan tidak membuat Paulus surut. Paulus tetap fokus pada tujuan pemanggilannya, yaitu memberitakan Injil Kristus sampai ke ujung bumi. Bisi Paulus adalah Injil sudah harus sampai ke ujung bumi sebelum Kristus datang kembali


Hanya satu permintaan Paulus dalam semua beban dan tanggung jawab pelayananya, janganlah ada lagi yang menyusahkan dirinya yang sudah susah oleh beban dan tanggung jawab sebagai pemberita Injil. Disebutkan dalam Galatia 6:17 (TB) Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. 


Sahabat yang baik hati, apa yang disampaikan dalam kotbah minggu ini mengajak kita untuk menghayati satus baru kita, yaitu manusia ciptaan baru. Salib Kristus telah menciptakan kita menjadi manusia baru, manusia yang diperbaharui dari kejatuhan dosa kepada keselamatan, dari kererasingan menjadi hidup di dalam anugerah, dari hubungan yang rusask oleh dosa ditata ulang kembali. Salib Kristus memulihkan hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Amin


Tuhan memberkati!

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak 



FIRMAN TUHAN MENJAFI KEGIRANGAN BAGIKU

  Catatan Kotbah Minggu XIII S.Trinitatis Minggu, 30 Agustus 2026 Ev. Yeremia 15:15-21 FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU Selamat hari M...