Catatan Kotbah Minggu XII S. Trinitatis
Minggu, 23 Agustus 2026
Ev. Efesus 4:7-16
BERPEGANG TEGUH KEPADA KEBENARAN
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kita semua mengharapkan kedewasaan iman. Dewasa berarti matang, mandiro dan tangguh menghadapi berbagai persoalan hang datang. Dewasa adalah proses sam seperti seorang anak yang terus bertumbuh hingga dewasa. Dulu diasuh namun setekah dewasa menjadi mengajaid pengasuh. Duku dilayani, setelag dewasa menjadi memiliki tangggung jawab untuk melayani.
Demikianlah nasihat Paukus dalam kotbab Minggu ini agar jemaat Efesus dewasa dan semakin beroleh kebijaksanaan dalam menghadapi gangangan kehidupan. Disini kita temukan ada tiga hal menarik, makna kenaikan Krostus bagi orang percaya, Kristus memperlengkapi orang percaya dengan berbagai karunia dan ketiga menjadi dewasa.
Tiga poin ini memperlihatkan alur yang indah: dimulai dari karya Kristus (fondasi), masuk ke peran/karunia dalam gereja (proses), dan bermuara pada tujuan akhir pertumbuhan jemaat (buah/hasil).
Marilah kita ambil pelajaran dari ketiga poin di bawah ini.
1. Kristus yang Naik ke Sorga Menaikkan Kehidupan Orang Percaya (Ayat 7-10)
“Itulah sebabnya Alkitab berkata: ’Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan hadiah-hadiah kepada manusia.’” (Ayat 8)
Paulus mengutip Mazmur 68:19 yang menggambarkan seorang Raja/Pemenang perang yang naik ke bukit kemenangan dan membagikan jarahan perang kepada rakyatnya. Kristus telah turun ke bagian bumi yang paling bawah (kematian/kubur) dan telah bangkit serta naik ke tempat tinggi di atas segala langit untuk memulihkan seluruh alam semesta.
Kenaikan Kristus bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan proklamasi kemenangan atas dosa, maut, dan kuasa gelap. Karena Kepala (Kristus) telah ditinggikan, maka tubuh-Nya (orang percaya) ikut diangkat dari keterpurukan dosa menuju posisi yang penuh dengan pengharapan dan kemuliaan.
Banyak orang percaya merasa hidupnya "terpuruk" atau terjebak dalam rasa frustrasi. Poin ini mengingatkan jemaat bahwa status rohani kita ikut "dinaikkan" bersama Kristus. Kita tidak lagi hidup dalam kekalahan, melainkan hidup dari posisi kemenangan yang telah Kristus sediakan.
Poin pertama yang perlu kita hayati adalah: Kristus yang Naik ke Sorga dan Menang, Dikelilingi Kemuliaan untuk Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Kita.
Sering kali, kehidupan di dunia ini mencoba merendahkan martabat kita. Kegagalan, kemiskinan, dosa masa lalu, penderitaan, atau kata-kata jahat orang lain sering membuat kita merasa tidak berharga, minder, dan merasa seperti 'terpuruk di tempat paling bawah'.
Namun, mari kita lihat apa yang dilakukan Yesus bagi kita di Efesus pasal 4 ini. Paulus menggambarkan Kristus seperti seorang Raja Pemenang Perang. Dia rela turun ke tempat yang paling bawah—turun ke dalam dunia yang kelam, memikul kayu salib, dan merasakan kehinaan kematian.
Mengapa Dia melakukan itu? Supaya ketika Dia bangkit dan naik ke tempat tinggi di atas segala langit, Dia tidak naik sendirian! Dia membawa kemenangan itu untuk kita. Dia mematahkan belenggu dosa dan maut yang selama ini memperbudak manusia, lalu Dia membagikan 'hadiah kemenangan' itu kepada kita.
Kenaikan Kristus adalah proklamasi pemulihan harga diri dan martabat manusia. Di dalam Kristus, Bapak dan Ibu tidak lagi didefinisikan oleh kegagalan atau status sosial duniawi Anda. Efesus 2:6 bahkan mencatat bahwa di dalam Kristus, kita telah didudukkan bersama-sama dengan Dia di tempat sorga.
Karena Kristus sudah menang dan naik ke tempat tinggi, harkat hidup orang percaya telah dinaikkan! Jangan lagi hidup dengan mentalitas pecundang, jangan mau diperbudak oleh rasa takut dan kecemasan dunia, sebab Kepala kita—yaitu Kristus—adalah Raja atas segala raja yang telah menang!"
2. Kristus memperlengkapi jemaat untuk membangun Tubuh-Nya (Ayat 11-13)
“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus...” (Ayat 11-12)
Kata memperlengkapi dipakai καταρτισμός baca Katartismos.
Dalam Dunia Medis Kuno: Kata katartismos digunakan oleh dokter/ahli bedah Yunani untuk menggambarkan proses menyambung kembali tulang yang patah atau mengembalikan sendi yang terlepas (dislokasi) ke posisi semula agar anggota tubuh itu bisa berfungsi normal kembali.
Dalam Dunia Nelayan: Kata bentukannya (katartizo) digunakan di Injil Matius 4:21 ketika murid-murid sedang "membereskan/memperbaiki jala" (mending the nets) yang robek agar siap dipakai melaut lagi. Seorwng pekerja sebelum berangkat terlebih dahulu memperlengki apa yang dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan.
Di ayat 11-12, Paulus mencatat bahwa Raja yang menang itu memberikan karunia-karunia jabatan: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar. Untuk apa semua jabatan itu diberikan? Ayat 12 memberi tahu kita: 'untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan.'
Kata 'memperlengkapi' di sini dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani, memakai kata 'Katartismos'. Istilah ini unik sekali. Di zaman dulu, kata ini dipakai oleh para dokter untuk menyambung tulang yang patah atau terlepas, dan dipakai para nelayan untuk memperbaiki jala yang robek.
Apa artinya bagi kita hari ini?
Gereja bukanlah tempat pertunjukan di mana Pendeta bertindak sebagai pemain tunggal dan jemaat hanya menjadi penonton yang memberi tepuk tangan. Tidak! Tugas pelayanan adalah tugas seluruh jemaat. Setiap Bapak, Ibu, dan pemuda yang ada di tempat ini telah menerima kasih karunia dan dipanggil untuk melayani.
Tugas gereja dan para pemimpin adalah melakukan Katartismos: merangkul jemaat yang hatinya patah, memulihkan semangat yang robek, dan melatih setiap kita agar bisa berfungsi memakai karunia masing-masing—baik itu karunia mengajar, menyemangati, memberi, melayani, maupun mendoakan.
Ketika setiap anggota tubuh bergerak dan saling menopang, di situlah Tubuh Kristus akan bertumbuh dengan sehat, kuat, dan berdampak bagi kota kita."
3. Jadilah dewasa, jangan seperti anak-anak (Ayat 14-16)
“Sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran... Tetapi dengan teguh memegang kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Ayat 14-15)
Paulus memberi peringatan keras tentang bahaya menjadi "anak-anak secara rohani" (Yunani: νήπιοι - nepioi). Anak-anak itu mudah bingung, gampang ditipu oleh pengajar sesat (diombang-ambingkan gelombang), dan emosional.
Kematangan rohani ditandai dengan dua hal yang seimbang: Kebenaran (Truth) dan Kasih (Love) (ayat 15: “memegang kebenaran di dalam kasih”). Kebenaran tanpa kasih menjadi kaku/menghakimi; kasih tanpa kebenaran menjadi kompromi/lemah. Kedewasaan sejati terjadi ketika setiap anggota gereja terhubung rapat (diberkas dan diikat menjadi satu) dan saling menopang dalam kasih.
Jadilah Dewasa, Jangan Seperti Anak-Anak.
Di ayat 14, Paulus mengingatkan kita agar jangan lagi menjadi 'Nepioi'—anak-anak secara rohani. Bagaimana ciri anak-anak rohani itu? Mereka mudah diombang-ambingkan angin pengajaran, gampang terkecoh oleh berita bohong atau pengajaran sesat di media sosial, dan mudah sekali tersinggung atau patah semangat ketika ada masalah.
Tuhan tidak ingin kita berhenti hanya menjadi bayi-bayi rohani yang terus menuntut untuk disuapi. Tuhan rindu kita semua bertumbuh menjadi dewasa.
Lalu, apa ukuran kedewasaan rohani menurut ayat 15? Paulus menuliskan frasa yang sangat indah: 'Aletheuontes en Agape'— yaiitu menghidupi kebenaran di dalam kasih.
Kedewasaan rohani bukan diukur dari berapa lama kita sudah Kristen, bukan dari seberapa hafal kita isi Alkitab, melainkan dari keseimbangan antara Kebenaran dan Kasih.
Jika kita punya kebenaran tetapi tidak punya kasih, kita akan menjadi orang yang kaku, suka menghakimi, dan melukai sesama.
Jika kita punya kasih tetapi tidak punya kebenaran, kita akan menjadi orang yang kompromi dengan dosa.
Tetapi ketika kita memegang teguh firman Tuhan dan menyampaikannya dengan hati yang penuh kasih, itulah tanda jemaat yang dewasa!
Dan ingatlah, di ayat 16 dikatakan bahwa pertumbuhan itu terjadi saat kita terhubung satu sama lain. Sama seperti anggota tubuh manusia, mata tidak bisa berdiri sendiri tanpa leher dan saraf penunjang.
Mari kita buang sifat egois, mari kita saling menopang dalam kasih, sehingga bertumbuh menjadi tubuh Kristus yang kuat, sehat, dan berdampak bagi banyak orang. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar