Catatan Kotbah Minggu XIII S.Trinitatis
Minggu, 30 Agustus 2026
Ev. Yeremia 15:15-21
FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU
Selamat hari Minggu! Kotbah Minggu ini memberikan pelajaran berharga agar tetap hidup di dalam kebenaran. Ada kekuatan yang diberikan Tuhan kepada orang yang benar-benar hidup di dalam kebenaran. Tuhan sendiri memberikan energi, memulihkan dan memagari serta membentingi dia dalam melakukan tugas pelayanannya.
Yeremia sendiri adalah contoh hidup orang benar. Konsekwensi orang yang hidup di dalam kebenaran mendapatkan penolakan dari dunia, orang bensr hidup sendirian, dicemooh, bahkan diusir dari istana, dijatuhkan ke sumur tua dan dipenjarakan. Namun Yeremia tidak berputus asa karena ada rahasia yang membuat Yeremia bertahan dan berjuang untuk melayani Tuhan di dalam kebenaran.
Mari kita ambil.pesan berharga dari kotbah Yeremia 15:15-21 untuk kita:
1. Firman Tuhan menjadi kegirangan
Yeremia 15:16 (TB) Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.
Firman Tuhan adalah sumber kehidupan, kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi Yeremia. Setiap mendengar perkataan-perkataan Tuhan menjadi kegirangan baginya.
Firman Tuhan yangdisampaikan tidak menjadj beban baginya. Sekalipun setiap Yeremia menyampaikan Firman Tuhan kepada umat Allah selalu terjadi resistensi, penolakan bahkan cemoohan dia tidak menjadi surut, bahkan dengan penuh kegirangan memberitakannya.
Dalam catatan tafsir Kitab Yeremia, Yeremia menghadapi nabi-nabi palsu, yaitu Pashur dan Hanaya. Nabi Yeremia menderita dan terpukul berat menunaikan tugas penyambung lidah Allah. Yeremia mau dibunuh (Yer 26:1-24).
Dilawan oleh Hananya (dalam Yer 28:1-17). Kemudian dipenjarakan (dalam Yer 37:1-21) dan dibuang ke dalam perigi (dalam Yer 38:1-28).
Pernah diusir dari istana karena istana telah dipengaruhi oleh nabi-nabi palsu yang menyatakan damai padahal sudah akan perang, yang menyatakan aman padahal sudah diambang kehancuran.
Yeremia sendirian terpukul, namun harus tetap melaksanakan tugas penyambung lidah Allah (nabi). Firman yang disampaikan oleh Allah harus diteruskan kepada umatNya. Yeremia dalam semua beban penderitaan itu tak membuat dia surut dan mundur tetapi Firman menjadi kehirangan baginya karena ketaatan dan takut akan Tuhan.
Memang Yeremia berkata Yeremia 15:18 (TB) "Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai."
Ini bukan keluhan atau ungkapan penyesalan atas panggilan menjadi penyambung lidah Allah tetapi doa. Yeremia berdoa terbuka dihadapan Allah atas pengalaman yangvterjadi melakukan tugas penyambung lidah Allah. Yeremia tidak mengeluh kepada manusia, atau orang yang dianggap dpat mempermudah dia dalam beban tanggungjawabnya tetapi mencurahkan apa yang terjadi di dalam pelayannya dihadapan Tuhan.
Di sinilah letak rahasia ketahanan rohani sang nabi: Firman Tuhan tidak pernah dirasakannya sebagai beban keagamaan yang menghimpit atau kewajiban yang menekan. Sebaliknya, Firman itu menjadi “kesukaan dan kegirangan hati”. Ketika dunia di sekitarnya penuh dengan ancaman dan kekecewaan, perkataan Allah menjadi nutrisi yang memberi energi baru, menenangkan kecemasan, dan menyalakan kembali sukacita batiniah yang tidak dapat dirampas oleh situasi sekitarnya.
Kesukaan itu lahir dari kesadaran yang teguh akan identitasnya: “sebab nama-Mu telah menyeru atasku.” Yeremia tahu siapa pemilik hidupnya. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah milik Allah Semesta Alam dan terus "mencerna" Firman-Nya setiap hari, maka pelayanan dan dinamika kehidupan tidak akan lagi terasa sebagai beban berat, melainkan sebagai kebangkitan jiwa dan sumber kekuatan yang tak pernah habis.
2. Tuhan sendiri mengembalikan dan memulihkan keadaan
Yeremia 15:19 (TB) Karena itu beginilah jawab TUHAN: "Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku, dan jika engkau mengucapkan apa yang berharga dan tidak hina, maka engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku. Biarpun mereka akan kembali kepadamu, namun engkau tidak perlu kembali kepada mereka.
Apa jawaban Tuhan terhadap doa Yeremia: Tuhan mengembalikan dan memulihkannya.
Di tengah beratnya tekanan pelayanan, Yeremia sempat mengalihkan pandangannya dari Tuhan kepada rasa sakit hatinya sendiri. Ia menyuarakan kepahitan dan keraguan akan penyertaan Allah. Namun, Tuhan tidak merespons keluh kesah itu dengan penolakan atau pemecatan. Allah hadir sebagai Gembala yang memulihkan, sekaligus Bapa yang mengoreksi dengan penuh kasih.
Tuhan memberikan syarat pemulihan melalui kata “Jika engkau mau kembali” (bahasa Ibrani: ’Im-tashuv). Kata tashuv memanggil Yeremia untuk berbalik—bukan hanya berbalik dari dosa, melainkan berbalik dari rasa putus asa, kepahitan, dan kecenderungan mengesampingkan janji Allah.
Tuhan juga meminta Yeremia untuk memisahkan “apa yang berharga” dari “apa yang rendah” (mizzolel). Pelayanan dan hidup yang memuliakan Tuhan menuntut penyucian niat dan pemikiran. Yeremia diajak untuk berhenti memfokuskan diri pada kata-kata cemoohan manusia yang sia-sia, dan kembali memegang teguh firman Allah yang bernilai kekal.
Ketika Yeremia mau membiarkan hatinya dipulihkan dan disucikan, Tuhan memulihkan posisinya: “engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku” (harfiah: menjadi mulut Allah). Poin ini memberikan pengharapan besar bahwa Tuhan tidak pernah membuang kita saat kita lelah atau patah semangat. Ketika kita datang membawa hati yang mau dipulihkan dan dibersihkan dari kepahitan, Tuhan sanggup memakai kita kembali menjadi saluran keberkatan dan alat kemuliaanNya.
3. Tuhan memagari dan membentengi dia dari setiap upaya jahat yang menjatuhkannya
Yeremia 15:21 (TB) Aku akan melepaskan engkau dari tangan orang-orang jahat dan membebaskan engkau dari genggaman orang-orang lalim."
Puncak dari pertolongan Allah kepada Yeremia diwujudkan dalam sebuah janji perlindungan yang absolut. Tuhan tidak berjanji untuk menghapuskan musuh atau meluputkan Yeremia dari ancaman dan perlawanan. Sebaliknya, Tuhan berkata, “mereka akan berperang melawan engkau.” Namun, fakta bahwa ada serangan tidak pernah berarti bahwa musuh akan menang.
Tuhan berjanji membuat Yeremia menjadi “tembok tembaga yang teguh” . Di zaman kuno, tembaga adalah simbol bahan yang amat kuat, tidak mudah berkarat, dan tahan terhadap denturan senjata berat. Ketika dunia sekitar mencoba merubuhkan imannya, menekan jiwanya, dan merancang hal yang jahat, Yeremia dipagari oleh pertahanan ilahi yang jauh lebih kuat dari benteng mana pun di bumi.
Kekuatan tembok tembaga itu tidak berasal dari ketangguhan pribadi Yeremia, melainkan dari Janji Penyertaan: “sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau.” Allah bertindak sebagai Perisai dan Pembebas. Poin ini menegaskan bahwa ketika kita dipanggil dan berjalan di dalam kehendak Tuhan, perlawanan atau rancangan jahat manusia mungkin ada, tetapi itu tidak akan pernah sanggup menghentikan atau mengalahkan kita. Kehidupan, pelayanan, dan masa depan orang percaya berada di dalam benteng perlindungan Allah yang tidak tergoyahkan.
Sahabat yang baik hati, bagaimana kita menghidupi pesan Yeremia ini? Sekalipun sulit pekerjaan seorang penyambung lidah Allah, mengalami pergumulan, hamvatan dan tantangan tetapi dia berkata: Firman Tuhan menjadi kegirangan. Yeremia percaya dalam memberitakan Firman dia selalu dibentengi oleh Tuhan dan Tuhan sendiri yang memulihkan keadaannya. Amen
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar