Sabtu, 12 Juli 2025

MENGASIHI TUHAN DAN HIDUP MENURUT JALANNYA

 Kotbah Minggu IV Setelah Trinitatis

Minggu, 13 Juli 2025

Ev. Ulangan 30:15-20



*MENGASIHI TUHAN DAN HIDUP MENURUT JALANNYA*


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Hidup ini adalah pilihan. Dalam banyak hal kita diperhadapkan pada pilihan, kadang pilihan mudah, kadang pilihan sulit bahkan pilihan dalam buah simalakama: dipilih ini resiko ini, dipilih itu resiko itu. Namun harus kita sadari bahwa manusia memiliki akal dan hikmat untuk menentukan pilihan, manusia diberi kekuatan dalam memperjuangkan pilihannya. Pada akhirnya manusia harus berpaut pada hasil alhir ditentukan oleh Tuhan.


Hidup ini adalah pilihan didasarkan pada pemahaman bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Setiap orang bebas menentukan pilihannya namun setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya dan akan menerima segala konsekwensinya. Memilih sukses maka konsekwensinya berusaha keras untuk menggapai tujuannya. Anda harus relah berlelah dan berikutbya akab menikmati apa yang dicapai. Tidak ada orang ingin meraih sukses namun tidak ada upaya atau effort, itu hanya terjadi dalam mimpi. Orang yang ingin berhasil namun tidak ada upaya ibarat orang terus bermimpi, tidak mau bangun dan bangkin namun terus tidur melanjutkan mimpinya.


Sahabat yang baik hati! Kotbah Minggu ini mengajak kita untuk memilih jalan kehidupan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kanaan, Musa mengumpulkan umat Allah dan memberikan nasihat. Nasihat itu berisi pilihan pilihan kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk dan keberuntungan atau kebinasaan. Musa memperhadapkan pilihan ini sebelum mereka memasuki tanah Kanaan. Jika ingin hidup berpautlah kepada Tuhan, setia mengasihi dan berjalan di jalan yang Tuhan berikan. Namun sebaliknya jika mereka berpaling dari Tuhan maka mereka akan menuju kebinasaan. 


1. Menentukan pilihan: 

Bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir berjalan kepada satu tujuan, yaitu menjadi bangsa yang berdaulat, memiliki tanah yang subur, masyarakat yang makmur berlimpah susu dan madu serta menjadi bangsa yang masyur.  

Itulah janji Allah kepada umat Allah dan memanggil mereka keluar dari perbudakan Mesir. Menerima janji ini tentu mereka akan berjalan ke Kanaan dan menanggung segala konsekwensinya di dalam perjalanan. 


Jika kita baca kitab Keluaran, kisah mengenai keluarnya Israel dari perbudakan merupakan kisah perjuangan yang luar biasa, Allah dengan tangan yang kuat melakukan mujizat membebaskan Israel sampai menunggang balikkan Firaun di laut Merah. Itu semua dilakukan Allah demi pemenuhan janji umat Allah akan tinggal di negeri yang dijanjikan Tuhan Allah kepada mereka. 


Perjalanan ini sudah sedemikian jauh, pengalaman demi pengalaman di dalam perjalanan sudah mereka alami. Selamat perjalanan itu tentu umat Allah memperoleh pendidikan tentang bagaimana Tuhan memelihara hidup mereka. Mereka bisa sejauh ini tentu karena pemeliharaan Tuhan.


Tujuan sudah di depan mata, Kanaan di seberang jika Tuhan berkenan sebentar lagi mereka akan memasuki tanah Kanaan, Musa memanggil dan meneguhkan janji dan komitment mereka setia kepada Allah. Pemanggilan ini sangat penting Musa mengingatkan dan memperhadapkan mereka kehidupan atau kematian, berkat atau kutukan keberuntungan atau kebinasaan. 


Jika kita simak, pilihan ini sebenarnya tidak begitu sulit pasti pilihan semua orang mau hidup, mau beruntung dan dapat berkat. Namun konsekwensi pilihan itu yang harus diingatkan oleh Musa, yaitu kesungguhan hati untuk mencapai goal dengan segala konsekwensinya. Kesungguhan hati untuk setiap kepada Tuhan, tidak terpengaruh oleh godaan asing dan pengaruh lain.


Kitab Ulangan sebagaimana namanya mengulangi, ibarat seorang guru dalam mempersiapkan ujian dia mengulangi kembali pelajaran yang diberikan sehingga apapun pertanyaan saat ujian sudah siap.menghadapinya. 


Sedikit catatan mengenai kitab Ulangan.

Banyak penafsir menghubungkan penemuan kitab Ulangan ini saat transformasi Yosia raja di Yehuda di masa krisis sebelum pembuangan. Kitab suci ini ditemukan dan ditulis kembali dengan tujuan mengembalikan ketaatan total kepada Allah. Bagi Josia transformasi terjadi dengan jalan satu-satunya komitmen dan janji umat Allah setia kepada Allah. Transformasi terjadi dimulai dari kepala. Maka Yosia memimpin perubahan dengan menjadi teladan dalam kesetiaan dan pengabdian kepada Allah. Disebut Ulangan karena ada banyak isi kita temukan sama dengab apa yang telah dituluskan dalam kitab keluaran. 

Hal menarik adalah kesetiaan itu terbentuk melalui diaplin, dengan mengulang-ulangi, sehingga hapal dan paham tidak satuoun yang tertinggal.


2. Konsekwensi pilihan: janji Allah tetap dan hukumannya juga


Hidup di negeri Kanaan adalah impian dari umat Allah, mereka ingin hidup sejahtera, makmur, memiliki rumah dan ladang sendiri serta panjang umur melihata anak dan cucu bertumbuh dan berkembang. Impian menjadi bangsa yang besar, sejajar bahkan dihormati bang asing. Mereka adalah umat pilihan Allah. Allah setia pada janjinya. Artinya konsekwensi kesetiaan kepada Allah mereka akan menerima segala janji Allah.


Musa mengingatkan kembali akan konskwensi pilihan. Srtia mendapat berkat dan ketidak setiaan mereka akan mendapat kebinasaan. 

Ulangan 30:17-18 (TB) Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,

maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.


Artinya jika tidak setia maka murka dan hukuman akan menimpa dan kpnsekwensinya adalah kebinasaan. 

Konsekwensi ini dapat kita pahami dari arti "perjanjian". Dalam Bahasa Ibrani perjanjian disebut "charat berith" artinya memotong perjanjian. Kedua belah pihak sepakat dan berjanji memenuhi kesepakatan. Jika semua memelihara janji dan memenuhinya maka akan memperoleh hasil dsri janji. Sebaliknya jika ada yang melanggarnya maka dia akan mati dan darahnya akan tercurah seperti kurban yang disembelih. Jadi janji berpaut pada konsewensi, jika tidak setia akan menuju kebinasaan.


Musa menegaskan konsekwensi ini karena pengalaman sejak keluar dari Mesir dan tantangan yang dia hadapi memimpin Israel selalu labil dan seringkali bersungut-sungut bahkan sering melanggar perintah dan ketetapan Tuhan akhirnya mereka mendapat murka. Musa mengingatkan umat Allah sebelum memasuki Kanaan harus setia dan taat, jika tidak akan binasa. 


Jika kita coba merefleksikan dalam kehidupan ini sering kali manusia berjanji. Namhn janji tinggal janji, bukankan oara pejabat publik kita ini berjanji? Namun bagaimana komitmennya memelihara janji? Mereka tidak setia dan menaati janjinya akhirnya terjerumus pada baju orange.


3. Setia di jalan Tuhan dengan melakukan 3 hal ini


Bagaimana memelihara komitment? Musa memberikan tiga hal yang selalu dilakukan, yakni:


3.1. Mengasihi Tuhan

Mengasihi Tuhan bukanlah hal baru bagi Israel, sejak mereka menerima Perintah Allah di Sinai, umat Israel sudah berjanji akan mengasihi Tuhan. Inti dari Sepukuh Perintah Tuhan adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, akal dan budi. Mengasihi Allah ini dirumuskan dalam bentuk "Syema" atau "pengakuan iman". Dengarlah Israel, Allah itu Esa kemudian dengan perintah untuk.mengasihi Tuhan Allah dengan senap hayi, kekuatan dan budi. (Ulangan 6:4-11)


Mengasihi Allah ini merupakan kewajiban syukur atas segala karya dan perbuatan Allah yang ajaib. Umat Alllah telah menyaksikan sendiri mujizat yang besar membebaskan Israel dsri perbudakan Mesir dan pemeliharaan sepanjang perjalanan semua itu adalah karya Tuhan yang besar. Dengan pengalaman ini.mereka tanpa diperintahpun seharusnya bersyukur san mengasihi Tuhan.


3.2. Mendengarkan Tuhan

Ada ungkapan dalam orang Batak: "pantun hangoluan tois hamagoan". Nasihat ini bisanya disampaikan saat seseorang pergi merantau, atau mencari mencari ilmu atau pekerjaan. Nasihat itu harus didengar jika ingin hidup, namun sebaliknya akan binasa jika tidak taat pada nasihat.

 

Mendengar adalah kunci keberhasilan. Bangsa Israel dalam menempuh perjalanan harus membuka telinga dan mendengar perintah. Jangan mengandalkan pikiran sendiri, namun berjalan meneurut petunjuk dan perintah Tuhan.


Jika kita baca Perjanjian Lama baik dalam Taurta, Nabi-nabi dan sastera hikmat formula: dengarlah hai Israel. Formula semacam itu terus disampaikan Allah bersabda dan mereka harus menengarkan dan melakukannya. 

Yesus menyampaikan dalam Lukas 11:28 (TB) "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."


3.3. Berpaut kepada Tuhan

Kata berpaut disini menjelaskan kesetiaan mengikuti. Ibarat dalam suatu perjalanan kemana pemimpinnya pergi kesitulah semua anggotanya mengikuti, tidak menyimpang dan atau berbalik arah. Ibarat dalam zaman sekarang ini kita sebut follower. Namun follwer dalam media sosial mudah unfollow. 

Disini berbeda, berpaut kepada Tuhan, mengikuti jejak, jemapa pergi yang harus mengikutinya. Jika tidak akan tertinggal, kehilangan arah dan tersesat. Maka agar sampai ke tujuan mengikut dibelakang. 

Yosua juga mengikuti pola ini, saat memasuki kota Kanaan Yosua berpidato dihadapan umat Allah dan berjanji setia dan berpaut kepada Allah. 

Yosua 22:5 (TB) Hanya, lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum, yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, yakni mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti perintah-Nya, berpaut pada-Nya dan berbakti kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."


Dalam perjanjian baru istilah berpaut ini bisa kita terjemahkan kepada kata "mengikut". Kata ini digunakan oleh Yesus saat memanggil murid-muridNya dan berkata: "Ikutlah Aku!" Mengikut Yesus berarti percaya kepadaNya, mengikuti jalanNya dan bersedia melakukan apa yang siperintahkanNya.


Demikianlah kata berpaut ini: umat Allah harus bersedia mengikuti perintah-perintahNya, mengikuti jalan yang diberikan oleh Tuhan serta setia dalam segala konsekwensinya.


Sahabat yang baik hati! Marilah memilih kehidupan dan setia di dalam pilihan hidup ini. Hasil ditentukan oleh Tuhan dan Tuhan setia pada janjiNya. Amin


Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...