KOTBAH MINGGU X STLH TRINITATIS
Minggu, 24 Agustus 2025
Ev. Mazmur 103:15-18
KASIH SETIA TUHAN TETAP SELAMA-LAMANYA
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Kotbah Minggu ini mengajak kita merenungkan arti kehidupan. Pemazmur tidak membuat rumusan yang rumit untuk belajar memaknai hidup, tetapi dengan satu contoh yang berada disekeliling kita yaitu rumput dabn bunganta. Dengan contoh ini kita banyak belajar, hidup ini seperti rumput, rumput tidak pernah tumbuh tinggi, selain itu hanya segar di musim penghujan saat kemarau tiba akan kering di tiuup angin. Bahkan lebih pendek dari itu Pemazmur mengingatkan dengan keras bahwa kemuliaan dan kejayaan manusia hanya sesaat, seperti bunga di padang, segar dan mekar dipagi hari, siang menjelas sore sudah layu dan gugur. Demikian kemuliaan dan kejayaan manusia akan berakhir pula. Maka menjalani kehidupan ini harus dengan rendah hati, menyadari kehidupan ini hanya karena kasih setia Tuhan.
Pelajaran berharga dari Mazmur ini dipakai oleh Rasul Petrus mengingatkan jemaat mula-mula, bahwa kita harus sadar sepenuhnya hidup ini singkat dan tidak ada kesempatan untuk memegahkan diri. Segera berlalu dan terbang ditiup angin hanya Firman Tuhan yang kekal selama-lamanya. Rasul Petrus mengingatkan itu pada 1 Petrus 1:24-25
Sahabat yang baik hati, Minggu ini kita diajak untuk memiliki hidup yang rendah hati, jauh dari kesombongan berpegang kepada Firman Tuhan dan hidup di dalam kasih setia Tuhan. Baiklah kita ambil beberapa pelajaran.
1. Semuanya akan berlalu - seperti rumput dan bunga di ladang
Mazmur 103:15-16 (TB) Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;
apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.
Who am I? Siapakah Aku? merupakan tema yang sangat mendasar didiskusikan setiap orang. Dengan pertanyaan itu kita menydari siapakan manusia dihadapan Allah, dihadapan sesama dan terhadap alam. Manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang sempurna, diciptakan segambar dengan rupa Allah dan memiliki amanat untuk memelihara dan melestarikan alam. Manusia diberikan akal dan pikiran membedakan dengan ciptaan lain. Manusia adalah ciptaan Allah. Manusia berasal dari tanah dan Allah sendiri yang menciptakan manusia segambar dengan rupa Allah. Kata Adam berarti tanah atau debu menjelaskan sesungguhnya manusa tidak berarti apa-apa, debu yang sewaktu-waktu dapat tertiup angin dan berlalu. Namun manusia berharga dimata Tuhan, Allah yang menghembuskan nafas kehidupan sehingga kita hidup. Makna pentiptaan ini hendak mengingatkan manusia tidak boleh meinggikan diri, sombong dan songong karena Allah yang membentuk kita sehingg kita berharga.
Alkitab sangat menentang kesombongan manusia: Adam dan Hawa diusir dari Firdaus karena ingin sama seperti Allah. Allah menggagalkan pendirian Menara Babel yang hendak menggapai Allah. Firaun ditunggang balikkan di Laut Merah karena sombong dan menindas umat Allah. Nebukadnezar raja Babel yang meninggikan diri paling berkuasa diatas bumi akhirnya merumput. Kisah-kisah Alkitab yang menentang kesombongan (chauvenism) manusia adalah pelajaran agar kita manusia merendahkan diri dihadapan Tuhan.
Demikianlah Kotbah Minggu ini, Pemazmur mengingatkan Manusia sama seperti rumput, selain pendek masanya juga sangat singkat. Bertumbuh di musim semi dan kering di musim gugut. Kemukiaan manusia, pencapaian dan kejayaannya sama seperti bunga di ladang, mekar wangi dipagi hari namun sesaat kemudian akan layu, terbakar dan tertiup angin. Jadi manusia tidak perlu memegahkan diri, jika ada keahlian, kemampuan dan kelebihan kita dari yang lain itu pun tidak menjadi alasan manusia memegahkan diri, karena kemuliaan manusia lebih pendek lagi sama seperi bunga di ladang, mekar dan semerbak di pagi hari, namun siang akan layu dan gugur.
Pelajaran akan rumput dan bunga di ladang menyapa kita, siapa kita dihadapan Tuhan saat ini menemukan satu makna yang berarti kita adalah tanah liat yang tidak berharga hanya karena Tuhan kita hidup. Tuhan telah menganugerahkan kehidupan kepada kita mari semakin rendah hati. Jadikan hidup berarti karena waktu kita sesaat lamanya, hasilkan buah terbaik dan yang berguna bagi orang lain.
2. Kasih setia Tuhan tetap selama-lamanya
Mazmur 103:17 (TB) Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,
Jika hidup manusia sesaat, cepat berlalu maka apakah pegangan hidup kita? Tuhan Yesus berkata dalam Markus 13:31 "langit dan bumi akan berlalu namun Firmanku tidak akan berlalu. Jadi Firman Tuhan adalah pegangan yang abadi. Hal yang sama ditekankan oleh Rasul Petrus .
1 Petrus 1:25 (TB) tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.
Tuhan memberikan petunjuk hidup bagi ornag-orang yang dikasihinya. Bisa saja dalam hidup ini kita kecewa terhadap janji manusia, orang yang kita percaya hanya pemberi harapan palsu. Tidaklah demikian janji Tuhan. Janjinya tetap, Ia setia memenuhi janjinya. Kasih setianya kekal selama-lamanya. Yeremia menggubah satu syair dalam kitab Ratapan 3:22-23 (TB) Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
Ayat ini disampaikan saat mereka berkabung dalam pembuangan, nabi Yeremia meyakinkan bahwa kasih setia Tuhan tetap dan tidak akan berubah.
Mungkin ada banyak harapan dan impian kita yang belum terwujud, janji Tuhan seolah belum terpenuhi dalam diri kita. Saat ini kita diyakinkan kembali bahwa kasih setia Tuhan tetap. Atau mungmin ada diantara kita yang mengalami kesusahan dan kesulitan seolah Tuhan tidak campur tangan dalam kehidupan kita. Hingga saat ini terus bertanya dimana Tuhan, kenapa belum menjamah hidupku? Saat ini Tuhan menyatakan bahwa kasih setianya tetap memelihara dan menyertai kita.
Jika kesulitan menimpa, atau beban menimpa kita. Dalam.keadaan demikian kita merasa ditinggal dan tak ada pertolongan. Kotbah ini meneguhkan kita kasih setua Tuhan tetap selama-lamanya.
3. Diberkatilahborang yang takut akan Tuhan dan berpegang pada perintahNya
Bagian terakhir dari kotbah ini, bahwa kita harus takut akan Tuhan dan berpegang pada janjiNya.
Disini Pemazmur mengingatkan janji Tuhqn terhadap Musa. Setelah Musa memberikan dekalog ada hukuman dan janji. Tuhan akan menghukum orang yang tidak setia melakukan perintahNya namun Tuhan akan memberkati orang yang setia memelihara perintahNya.
Keluaran 20:5-6 (TB) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
Takut akan atuhan dan berpegang kepada perintaaanya menuntut kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Kesetiaan dan ketaatan itu hanya bisa terjadi karena takut akan Tuhan.
Jika kita boleh buat oerbandingan, jika ada orang yang kita hormati dan kita sayangi, rasa hormay dan sayang kita dibuktikan dengan tidak berani ingkar janji kepqdanya. Lebih dari itulah kitq mengadihi dan mengaati Tuhan dengan takut akan Dia.
Sejalan dengan itu, Marthin Luther memberikan penjelasan akan makna dari ke sepuluh Perintah atuhan dengan kalimat. Bahasa Batak: Ingkon haholonganta do Debata, jala umbiar jala umpos mida Debata sa mida nasa na adong. Ketaatan lepada Tuhan adalah bukti takut akan Tuhan.
Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini memgingatkan kita agar selalu menyadari siapa kita. Jika ada sesuatu yang kita miliki syukurilah karena itu oemberiannya, jika ada sesuatu yangnkita banggakan dalam hidup ini persembahkanlah untuk kemuliaan Tuhan. Jika diberi kesempatan berjabatan atau memiliki posisi ingatlah itu adalah amanah dan waktunya akan berlalu. Amin
Salam:
Pdt Nekson M Simanjuntak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar