Kotbah Minggu VII Stlh Trinitatis
Minggu, 3 Agustus 2025
Ev. Kolose 3:5-11
KENAKANLAH MANUSIA BARU
Selamat Hari minggu, sahabat yang baik hati tema menjadi manusia baru salah satu topik yang sangat menarik untuk didiskusikan. Baik dari dasar teologinya maupun implikasi praksis hidup orang yang telah diperbaharui Kristus. Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita dan selanjutnya bagaimana kita meresponse keselamatan di dalam Kristus? Salah satu yang digunakan oleh rasul Paulus di dalam surat Kolose adalah mengunakan istilah "manusia baru". Dengan istilah ini Paulus hendak membedakan hidup sebelum menerima Kristus dan hidup sedudah menerima Kristus. Dahulu sebelum mengenal Kristus kita menghidupi manusia lama, hidup di dalam dosa dan berbagai sifat dan perilaku buruk, namun sekarang setelah menerima Yesus Kristus kita meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru.
Jika kita baca keseluruhan Pasal 3, sebenarnya perikop kotbah minggu ini tidak bisa dipisahkan sampai dengan ayat 17. Karena disitu kita menemukan secara kongkrit apa yang ditanggalkan, apa yang harus dibuang dan apa yang harus dilakukan dan digunakan. Setelelah menanggalkan manusia lama kita memasuki era baru di dalam Kristus. Kita menjadi manusia baru siap untuk memiliki karakter yang dipenuhi belas kasihan (ayat 12), hati yang penuh pengampunan (ayat 13), memiliki kasih (ayat 14), damai sejahtera (ayat 15), menjadikan firman Tuhan sebagai pelita kehidupan sehingga pujian dan syukur senantiasa melimpah dalam hidup (ayat 16), dan memusatkan seluruh aktivitas hidup hanya terarah kepada Kristus saja (ayat 17).
Menjadi manusia baru juga berarti hidup bersama dengan anak-anak Allah lainnya di dalam sebuah persekutuan. Persekutuan yang dimaksud adalah pertama-tama memiliki hubungan yang dekat/intim dengan Allah dan juga dengan sesama. Hubungan ini perlu dibangun secara terus-menerus dan diusahakan setiap saat. Karena Allah menuntut perubahan untuk selamanya, bukan perubahan yang sebentar saja lalu ia kembali lagi ke
kehidupan lamanya. Paulus dalam suratnya juga membahas persekutuan dengan sesama orang percaya. Ia menggambarkan bahwa gereja bukanlah sekumpulan individu melainkan sebuah kumpulan sejarah mengenai Kristus di dunia melalui hidup orang percaya.
Sahabat yang baik hati. Dalam nats kotbah ini Paulus menjelaskan tiga hal yang harus dilakukan oleh manusia baru. Pertama matikahlah, ada sesuatu yang harus diatikan agar tidak tumbuh lagi. Kedua, buanglah sesuatu yang tidak berguna harus kita buang, sifat itu harus dibuah karena jika fibiarkan maka lama kelamaan akan membusuk dan ketiga perintah kenakanlah, ada sesuatu yang harus kita kenakan yaitu menghidupi kehidupan baru di dalam Kristus
Berikut ini baiklah kita dalami satu persatu.
1. Matikanlah,
Kolose 3:5-6 (TB) Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].
Hal pertama diperintahklan oleh Paulus adalah, "matikanlah" Kenapa harus dimatikan karena berbahaya. Kalau ibarat dalam tubuh, ibarat virus yang mematikan, atau jika didalam tanaman ini seperti hama yang jika dibiarkan hidup pada akhirnya akan membunuh induknya. Maka harus dimatikan.
Jika kita ceck dalam bahasa Yunani Paulus menggunakan: nekrotete, νεκρωσατε artinya: matikanlah, atau bunuhlah sama seperti orang berhadapan dengan musuh harus dimatikan kalau tidak musuh akan mematikan kita. Jadi Disini ada imperatip untuk mematikannya. Memang di dalam ayat sebelumnya Kristus telah mebebus kita dari kuasa dosa, maka orang yang hidup di dalam Kristus memiliki kekuatan (dynamic) untuk mematikan perbuatan dosa di dalam dirinya. Mematikan disini bukan mematikan fisik, tetapi perbuatan yang telah diuraikan oleh Paulus.
Demikianlah Paulus menjelaskan bahwa manusia harus mematikan beberpa virus yang akan mematikan manusia itu, yakni:
1. Percabulan dosa seksual - Porneian (πορνείαν)
2. Kenajisan: perbuatan yang diharamkan - Akatharsian (ἀκαθαρσίαν)
3. Hawa nafsu: sifat keinginan atau kepuasan diri sendiri - Pathos (πάθος)
4. Nafsu jahat: keinginan untuk meyakiti dan menyusahkan orang lain - Epithymian kakēn (ἐπιθυμίαν κακήν)
5. Keserakahan: sikap yang tidak pernah puas dan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan - Pleonexian (πλεονεξίαν)
6. Penyembahan berhala: yakin dan mengikuti berhala demi kesusksesan dan kekayaan dan kemakmuran - Eidololatria (εἰδωλολατρία)
Apa yang disampaikan oleh Paulus ini adalah Paulus menghendaki kita mengakhiri dosa. Kita harus mematikan sifat dan perbuatan yang pada akhirnya disadari atau tidak di sadari hanya akan mendatangkan kebinasaan pada manusia itu sendiri. Paulus membandingkan kehidupan yang lama (sebelum mengenal Kristus) dengan kehidupan yang baru. Dalam kehidupan yang lama, manusia hidup menurut "anggota-anggota tubuh" yang memuaskan nafsu dosa. Dalam kehidupan yang baru, orang percaya dipanggil untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging.
Jadi, ketika Paulus berkata "matikanlah," ia tidak sedang menyuruh kita melakukan tindakan fisik yang merugikan diri sendiri. Sebaliknya, ia sedang mengajak kita untuk melakukan tindakan rohani yang radikal: menolak dan mengakhiri kekuasaan dosa dalam hidup kita, karena kita sudah mati bersama Kristus dan dibangkitkan bersama-Nya dalam hidup yang baru.
2. Buanglah,
Kolose 3:9 (TB) Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
Kata kedua yang dipakai Paulus dalam kotbah ini dalam ayat 8 adalah: "buanglah. Kata Yunani yang dipakai untuk "Buanglah" adalah ἀποθέμενοι (apothemenoi). Seperti yang disebutkan sebelumnya, kata yang digunakan adalah apothemenoi (ἀποθέμενοι). Ini adalah bentuk participle aorist tengah dari kata kerja apotithemi (ἀποτίθημι). Secara harfiah, apotithemi berarti "meletakkan sesuatu," "menanggalkan," atau "membuang." Konteks yang paling umum adalah menanggalkan pakaian.
Dalam hal ini dalam Alkitab, kata ini sering digunakan dalam metafora yang kuat. Menanggalkan pakaian lama: Paulus menggunakan gambaran ini untuk membandingkan kehidupan lama sebelum mengenal Kristus dengan pakaian yang harus dilepaskan. Konsekuensi dari keselamatan: Ini bukan sekadar saran, tetapi perintah yang mendesak. Setelah seseorang menerima Kristus, ia harus secara aktif melepaskan atau "membuang" segala sesuatu yang termasuk dalam kehidupan lamanya.
Apa yang Harus Dibuang? Paulus merinci lima hal yang harus "dibuang" di ayat 8:
1. Kemarahan (orgēn - ὀργὴν): Ini merujuk pada kemarahan yang mendalam dan berjangka panjang, seperti dendam atau kebencian yang disimpan dalam hati.
2, Kegeraman (thymon - θυμὸν): Ini adalah kemarahan yang meledak-ledak dan tiba-tiba. Paulus membedakan antara kemarahan yang terpendam (orgēn) dan kemarahan yang eksplosif (thymon).
3. Kejahatan (kakian - κακίαν): Kata ini merujuk pada niat jahat atau keinginan untuk merugikan orang lain. Ini adalah karakter dasar yang tidak baik.
4. Fitnah (blasphemian - βλασφημίαν): Secara umum, ini berarti ucapan yang merendahkan, menghina, atau merusak reputasi, baik terhadap manusia maupun terhadap Allah.
5. Kata-kata kotor (aiskhrologian - αἰσχρολογίαν) dari mulutmu: Ini adalah kata-kata yang tidak pantas, cabul, atau vulgar yang keluar dari mulut. Paulus secara spesifik menyebutkan "dari mulutmu" untuk menekankan bahwa dosa ini berkaitan dengan perkataan.
Mengapa Harus Dibuang?
Ada beberapa alasan mendalam mengapa Paulus memerintahkan hal-hal ini untuk dibuang.
Berhubungan dengan diri yang lama: Semua perilaku ini adalah bagian dari "manusia lama" yang sudah mati bersama Kristus. Jika seseorang telah dibangkitkan dalam Kristus, maka tidak masuk akal jika ia masih "mengenakan" atau mempraktikkan hal-hal dari kehidupan lamanya. Ini adalah inkonsistensi yang fatal dalam iman.
Menghalangi pertumbuhan spiritual: Dosa-dosa ini, terutama yang berkaitan dengan relasi sosial (kemarahan, fitnah), menghalangi kesaksian yang baik dan merusak persekutuan dengan sesama orang percaya.
Agar bisa mengenakan manusia baru: seperti halnya kita membuang pakaian kotor sebelum mengenakan pakaian bersih, anda harus membuang perbuatan-perbuatan lama agar bisa "mengenakan" manusia baru (ayat 10) yang mencerminkan karakter Kristus.
Apa yang disampaikan Paulus disini berkaitan dengan makna Baptisan. dalam Roma 6, Paulus menjelaskan bahwa baptisan adalah simbol kematian terhadap dosa dan kebangkitan dalam kehidupan baru. Perintah "membuang" ini adalah aplikasi praktis dari kebenaran teologis tersebut.
Jadi, perintah "buanglah" di ayat 8 adalah panggilan Paulus agar orang percaya secara sadar dan aktif menanggalkan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan identitas baru mereka di dalam Kristus, sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan panggilan mereka yang suci.
Dengan menggunakan matikanlah dan buanglah akan melengkapi kondinsi manusia baru, hidup di dalam Kristus dan jauh dari pengaruh dosa dan segala perbuatan dosa.
3. Kenakanlah Manusia Baru.
Pada bagian ketiga ini Paulus menganjurkan etika hidup orang percaya, Paulus menganjurkan agar kita "mengenakan", dari ayat 10-17 Paulus memberikan karakter hidup orang percaya. seseorang yang benar-benar menghidupi kehidupan baru di dalam Kristus mencerminkan karakter hidup orang percaya. Nasihat ini sama dengan beberapa nasihat Paulus di beberapa suratNya. Salah satu yang menarik adalah di dalam
Galatia 2:20 (TB) namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
atau selanjutnya kita baca dalam Roma 8:10-11 (TB) Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.
Jika manusia lama telah mati, dan segala perbuatan dosanya telah kita buah, maka yang tercermin dalam hidup kita adalah Karakter Kristus. Paulus menyerbut dalam ayat selanjtnya disebut: Umat Pilihan.
Selain umat pilihan kita juga ditetapkan menjadi umatNya yang kudus milik kepunyaan Allah. Kristus telah menguduskan kita melalui darahNya yang tercurah di kayu salib. 1 Petrus 1:15 (TB) tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,
Mengapa Allah menetapkan kita menjadi orang pilihannya karena Allah hendak memakai orang pilihanNya mewujudkan rencana Allah di dunia ini. Seturut dengan itu kita harus mau dibentuk agar memiliki pribadi yang seturut kehendakNya.
Dalam kotbah ini ada 6 cerminan hidup yang dimiliki oleh orang pilihan Allah, yaitu: Kolose 3:12-14 (TB) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
1. Belas Kasihan
Kata yang sering digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan pekerjaan Yesus. Dalam pelayanannya melihat berbagai persoalan hidup orang banyak: sakit, pergumulan dan harapan maka Yesus tergerak hatiNya oleh belas kasihan. Kata belas kasihan ini menunjukkan sikap peduli dan mau melakukan sesuatu dari suatu kerpihatinan kepada suatu keadaan yang lebih baik. (Band Mat 9:13, 36; Mat 12:7 dll)
2. Kemurahan
Kemurahan adalah sifat Allah yang murah hati. Dermawan dan ada hati yang mau berbagi bagi orang lain. Tidak pelit dan kikir namun dengan kesadaran bahwa dirinya dipakai Tuhan menjadi saluran berkat bagi orang lain. Murah hati berarti sedia kala mempersembahkan apa yang ada padanya untuk kebaikan orang lain. Lukas 6:36 (TB) Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Band Mat 5:7)
3. Kerendahan Hati
Pribadi mulia dalam diri seseorang, sekalipun telah melakukan banyak hal namun tetap menganggap bahwa apa yang dilakukannya belum bersrti apa-apa. Niat yang tulus melayani tanpa ada keinginan untuk dihargai. Sifat rendah hati adalah kesediaan melayani, merendahkan diri dan melakukan orang lainnlebih utama dari diri sendiri. (Band Fil 2:5-8)
4. Kelemah Lembutan
Satu nats emas dari kotbah Tuhan Yesus: berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi (Mat 5:7). Kelemah lembutan ini adalah cerminan pribadi yang tetap membuka hati akan setiap permasalahan: tenang dan penuh damai dalam mengatasi dan menyelesaikan segala permasalahan.
5. Kesabaran.
Sabar adalah pribadi yang bertekun menanti keputusan Tuhan yang terbaik dalam hidup. Kata ini menunjukkan kesediaan menunggu dan menantikan keputusan Allah. Tidak semua apa gang kita harapkan terjadi seturut dengan kehendak kita. Selain itu kata sabar juga memiliki arti pengampunan, tidak mendendam atas perbuatan orang lain pada kita, tetapi berdoa dan mau mengampuni orang lain.(Kol 3:13; Rom 12:12 dll)
6. Kasih
Kasih adalah landasan hidup orang Percaya, kita mengasihi karena Kristus telah lebih dahulu mengasihi kita. Ajaran Yesus adalah kasih dan totalitas hisup pengikutnya hidup di dalam kasih. Ikatan sosial, ikatan keekluargaan dan hidup dalam relasi dengan orang lain berlan daskan kasih.
Keenam karakter diatas menjadi kualitas pribadi yang kita harus miliki, hidup di dalam kasih dan memelihara kekudusan.
Sahabat yang baik hati!
Kotbah Minggu ini sebagaimana tmea miggu mengenakan manusia baru: kita melakukannya dengan mematikan dosa, dan membuat sifat dan perilaku dosa serta mencerminkan hidup umat pilihan Allah. Kita tentu bangga menjadi umat pilihan namun harus mengenakan manusia baru. Setiap orang akan bangga jika disebut sebagai orang pilihan namun menjadi orang pilihan diikuti dengan tanggungjawab. Amin.
Salam;
Pdt Nekson M Simanjuntak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar