Sabtu, 24 Februari 2024

ALLAH MEMPERHITUNGKAN IMAN SEBAGAI KEBENARAN

 Kotbah Minggu Reminisce (Ingatlah RahmatMu dan Kasih SetiaMu, Ya Tuhan!)

Minggu, 25 Februari 2024

Ev. Roma 4:1-5;13-17




ALLAH MEMPERHITUNGKAN IMAN SEBAGAI KEBENARAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, beriman adalah suatu kepastian dan bukti yang tidak kita lihat. Hal ini sangat jelas di Ibrani 11:1 (TB)  "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." 

Allah telah menyelamatkan kita melalui  pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Keselamatan adalah anugerah Allah, bukan karena perbuatan atau kemampuan manusia melakukan Taurat. Kita diselamatkan bukan karena kita anak-anak Abraham secara garis keturunan, tetapi karena iman percaya.  Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma bukan karena usaha. Keselamatan bukanlah upa budi baik kita dari Allah. Setiap orang percaya akan menjadi pewaris kehidupan yang kekal. 


Ajaran tentang iman ini diijelaskan oleh Paulus berdasarkan pengalaman hidup Abraham. Abraham dipanggil oleh Allah dan dan ditetapkan menjadi Bapak orang percaya. Penetapan itu bukan karena perbuatannya tetapi imannya yang percaya pada janji Allah. Dpercaya pada Allah, saat Abraham diperintahan pergi, Abraham pergi. Abraham taat kepada Tuhan dan satu persatu janji Tuhan diterimaNya.  Abraham mendapatkan janji dari Tuhan bukan dalam usia muda, isterinya Sarai juga sudah tua. Dari segi pikiran logis rahim Sarai telah tertutup untuk melahirkan. Makanya Sarai tertawa akan janji itu. Namun lihatlah Abraham memperoleh anak perjanjian yakni Ishak. Iman Abraham diuji, Allah meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak dan Abraham pun melakukannya dengan tulus. Abraham lulus ujian, Allah mempersiapkan apa yang dikurbankan Abraham bagi Tuhan. Iman Abraham diperhitungkan Allah.  


Mengapa Rasul Paulus menjelaskan ajaran mengenai iman Abraham ini sebagai dasar keselamatan? Rupanya ada sekelompok orang Kristen Yahudi memahami bahwa keselamatan dengan syarat  melakukan hukum Taurat. Dengan syarat hukum Tauratlah seseorsng dibenarkan. Tidak heran mereka selalu menekankan bahwa orang-orang non Yahudi yang masuk menjadi Kristen harus disunat dan wajib melakukan hukum Taurat. 


Perdebatan persyaratan hukum Taurat ini dalam keselamatan telah menjadi permasalahan di kalangan jemaat. Maka untuk mengatasinya Paulus menjelaskan pengajaran tentang keselamatan hanya oleh iman. Iman dioerhitungkan Allah sebagai kebenaran, bukan karena perbuatan. Hukum Taurat tidak menyelamatkan malah menuntut kita dan pelanggaran atas hukum Taurat mendapat kutuk hukum Taurat. Tak seorang pun dapat melakukan hukum Taurat, karena itj hukum Taurat mwmperkenalkan dosa dan menuntun kita kepada anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Melalui hukum Taurat kita menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa. Allah didalam Yesus Kristus telah menyelamatkan kita dari dosa. Jadi kita selamat bukan karena pekerjaan Hukum Taurat tetapi karena anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Efesus 2:8 (TB)  Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 


1. Iman dasar berpengharapan.


Roma 4:18 (TB)  Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." 


Pertama Paulus mencontohkan Abraham, dia memiliki iman dan iman itulah yang memampukan Abraham berpengharapan. Sekalipun secara akal dan rasio Abraham tidak mungkin mendapat keturunan karena Rahel isterinya itu sudah mandul. Bagaimana rahim seorang mandul akan melahirkan?  Dari segi ini tidak ada dasar lagi untuk berharap, tetapi Abraham percaya kepada Janji Allah dan percaya Allah memenuhi janjiNya. Iman Abraham Itulah yang diperhitungkan Allah sebagai kebenaran. Dengan fakta ini Paulus menjelaskan Abraham beroleh janji karena iman bukan karena perbuatan pada hukum Taurat. 


Selanjutnya Paulus mengaskan keselamatan adalah anugerah Allah yang kita terima dengan iman. Maka iman adalah dasar dalam keselamatan. Iman adalah dasar kita mempercayai janji. Pengajaran tentang dasar iman ini didasarkan pada Abraham. Abraham hidup 430 tahun sebelum adanya hukum Taurat. Abraham menerima dan mewarisi janji karena ia percaya kepada Allah.


Abraham percaya kepada Janji Allah, pada pihak Allah, Allah berkuasa melaksanakan apa yang dijanjikanNya. Allah itu setia dan memenuhi janjiNya sehingga Abraham menjadi Bapa orang percaya. 

Demikianlah dengan ajaran keselamatan. Keselamatan adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus, pemenuhan janji keselamatan itu akan ada.   Adalah suatu kekeliruan jika ada menambahkan hukum Taurat sebagai syarat keselamatan. Roma 4:13 (TB)  Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.


Iman yang kokoh dasar Abraham dibensrkan oleh Allah. Sekalipun tidak ada dasar untjk berharap lagi, namun tetap berharap memelihara janjI. Biarpun fisik lemah namun iman tetap teguh. Kalaupun lutut goyang, namun iman tak pernanh goyah. Biar pun usia lanjut, namun iman semangat terus berlanjut. Biar pun senja menyapa, namun semangat tetap membarA.  Biar pun rahim Sarah tertutup, namun tetap percaya pada rahmat Tuhan mem erikan keturunan dan anak cucu seperti bintang di langit dan pasir di pantai. 


2. Mewarisi iman percaya Abraham: percaya kepada kuasa Allah memenuji hanji Keselamatan. 


Pada bagian kedua ini bahwa orang.percaya mewarisi iman percaya Abraham.  Paulus menegaskan kepada mereka yang membanggakan dirinta keturunan Abraham. Karena keturunan Abraham secara genetik, mereka seolah secara otomatis menjadi pewaris janji Allah. Paulus mengaskan bukan kita menerima anugerah Allah bukan karena kita keturunan Abraham secara genetik tetapi oleh karena warisan iman percaya. Kita adalah anak-anak Allah yang percaya kepada kuasa Allah yang memenuhi Janji keselamatan di dalam Yesus Kristus. 


Janji Allah bukan hanya kepada Abraham tetapi berlaku juga kepada keturunannya. Sekalipun yang mengadakan perjanjian adalah Allah dan Abraham namun janji itu berlaku kepada keturunan Abraham.

Anak-anak Abraham adalah pewaris janji. Hal itu berlaku bagi kita orang percaya.

Roma 4:17 (TB)  seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" — di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.  


Mungkin orang Yahudi mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak Abraham. Secara genetis itu benar dan tidak sangkal. Merekalah anak-anak Abraham secara genetis. Namun anak-anak Abraham bukan hanya orang Yahudi saja, tetapi juga non Yahudi. Anak-anak dari segala bangsa yang percaya kepada janji Allah yang dipenuhi di dalam diri Yesus Kristus. 

Dengan iman kepada Yesus Kristus kita ditetapkan menjadi anak-anak Allah. Sehingga kita dapat menyampaikan, ya Abba, Ya Bapa. 

Galatia 4:6-7 (TB)  Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 

Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Selanjutnya Efesus 2:19 (TB)  Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,

Penetapan Abraham dan keturunannya menjadi anggota-anggota keluarga Allah merupakan anugerah yang berharga. Kita dijadikan menjadi pewaris kerajaan Allah.


Roma 4:21-22 (TB)  dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. 

Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Ayat diatas menjadi andalan orang percaya. Kita berkerja dan menggapai sesuatu dalam hidup ini bukan karena kemampuan diri, tetapi karena keyakinan bahwa Tuhan akan memenuhinya.


Sebagai Anak-anak Allah kita harus tetap memelihara iman percaya. Percaya kepada kuasa Allah yang memenuhi janjiNya di dalam Yesus Kristus. 


3. Beriman: mensyukuri pembenaran Allah melalui kematian dan kebangkitan Kristus. 


Tokoh Abraham menjadi dasar bagi kita yakin dalam hidup ini. Menjalani hidup bukan dengan kemampuan diri tetapi keyakinan diri kepada kekuatan Allah memenuhi segala janji-janjiNya. Allah tidak pernah lupa, terlambat apalagi mengabaikan janjiNya. Allah penuh kuasa akan mampu melakukan apa yang dijanjikanNya.


Sahabat yang baik hati! Dasar hidup orang percaya adalah beriman. Pertanyaannya kini adalag iman seperti apakah yang kita miliki saat ini? Kita harus mensyukuri pembenaran Allah di dalm Yesus Kristus. 

- bisa saja orang mengaku beriman, tapi sedikit tantangan langsung berubah dan patah arang. Lihatlah contoh-contoh dalam Alkitab: Petrus, Yudas Iskariot dll. Iman rapuh dan tidak kokoh. Syukurlah Petrus berubah setelah kebangkitan Yesus Kristus. Dia penuh keyakinan memberitakan Yesus yang dibangkitkan. 

- ada juga orang beriman namun didalam pikirannya adalah rasionalitas atau akalnya. Contoh beriman seperti ini adalah Yakub. Yakub bekerja keras menggapai yang diharapkannya dari mertuanya Laban. Namun dalam mencapai itu semua Yakub memakai akal termasuk sampai kembali ke Kanaan menjumpai Esau. Bisa saja orang percaya demikian namun Tuhan juga mengajar Yakub. Saat mau kembali ke Kanaan, dia harus bergulat dengan malaikat Tuhan di sungai Yabok.

- Beriman meneladani hidup Abraham, tulus dan melakukan perintah Allah dalam hidupnya. Dia percaya akan apa yang dijanjikan Allah. Amin


Tuhan memberkati


Pdt Nekson M Simanjuntak


Sabtu, 17 Februari 2024

HIDUP DI DALAM KASIH SETIA TUHAN

 https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0KK3m2GBafssbdEaTin2zz9kmBQ6sKeQkFe5m5UzfWuHvkbh1tMgecD8jAbHWvHWyl&id=100063523332048&sfnsn=wiwspmo&mibextid=RUbZ1f

Kotbah Minggu INVOCAVIT, 18 Februari 2024

Ev. Mazmur 25:1-10



*HIDUP DI DALAM KASIH SETIA TUHAN*


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, pasti suasana Pemilu masih mewarnai percakapan kita minggu ini. Teruslah bawa dalam doa agar Tuhan memelihara bangsa Indonesia dan pemimpin yang telah kita pilih di pemilu kemarin benar-benar berhati hamba untuk melayani rakyat.


Saya memperhatikan catatan kotbah saya, rupanya kotbah ini minggu ini merupakan Evangelium pada Minggu Judika tahun 2019 pada masa itu persiapan-persiapan Pemilu. Pemilu yang sangat memakan perhatian, mendebarkan dan akhirnya bisa berjalan dengan baik.  Itu suatu bukti bahwa Tuhan memelihara dan melindungi bangsa Indonesia.


Sekarang marilah kita fokus pada kotbah Minggu ini dsri Mazmur 25:1-10. 

Mazmur 25 ini adalah doa permohonan Daud meminta perlindungan Tuhan. Bagaima dia keluar dari situasi sulit, dimana sekelilingnya sudah menunggu kejatuhannya. Hanya kepada Tuhan Dua Namun Daud bangkit memohon perlindungan dari Tuhan. Tuhan itu baik dan mengangkat kita lebih dari yang kita mampu seperti penggalan lagu: "you raise me up more than I can be." Terpuruk dan bangkit merupakan ciri orang yang berpengharapan. Itulah indahnya hidup di dalam kasih setia Tuhan.


Salah satu dari kisah  Hero to Zero pernah saya baca dan menurut saya bisa menjadi inspirasi bagi kita. Seseorang yang telah bekerja di suatu perusahaan, dia dikenal ramah, kreatif, inovatif dan rendah hati. Dua kali pergantian direktur utama perusahaan itu dia mendapat penghargaan sebagai staf perusahaan terkreatif dan telah melakukan inovasi-inovasi di perusahaan tersebut. Namun entah angin apa menimpanya tiba-tiba menerima surat pemecatan dan diinstruksikan untuk mengambil hak-haknya dan segera meninggalkan perusahaan. Dia tidak habis pikir ada apa yang terjadi, dia berupaya meminta penjelasan dari atasannya namun tidak ada kesempatan untuk melakukan peninjauan kembali. Mau tidak mau dia harus menerima bahwa dia sudah tidak dibutuhkan perusahaan. Dalam keadaan demikian dia berdoa kepada katanya: “Tuhan aku tidak meminta penjelasan dari Engkau mengapa aku dipecat, namun tunjukkanlah kebenaranMu dan ajarilah aku tentang apa yang hendak kulakukan.” Doa itu menyemangati hidupnya.  Dia mulai merintis dan membuka usaha jasa yang sama dengan perusahaan sebelumnya dia bekerja. Atas kerja keras perusahaan yang dirintisnya melejit bahkan lebih besar dari perusahaan sebelumnya dimana ia bekerja sebelumnya. Diberhentikan dari pekerjaan tak membuat dia terpuruk namun bangkit dan telah menjadi masuk daftar 14 orang terkaya di Indonesia.


Cerita di atas merupakan salah satu pengalaman dari sekian banyak pengalaman pahit yang dialami seseorang dalam hidupnya yang pada akhirnya membuahkan keberhasilan. Pertanyaan adalah bagaimana kita menghadapi tantangan hidup itu hingga membuahkan pencerahan dan kemajuan dalam diri kita masing-masing. Hal inilah setidaknya yang kita temukan di dalam pengalaman Pemazmur sebagaimana dalam Mazmur 25 ini. Pemazmur mengalami pergumulan yang berat menghadapi musuh. Ada pihak-pihak tertentu yang berupaya menggerogoti, menekan bahkan hendak menghilangkan nyawanya. Mungkin saja musuh-musuhnya telah beria-ria melihat kejatuhan dan keterpurukan dirinya.


Mazmur 25 merupakan ungkapan pengalaman Daud sendiri, dalam teks Ibrani mazmur ini disusun secara rapi sesuai dengan susunan alphabetis (artinya aya 1 dimulai huruf a, ayat 2 dimulai huruf b dan seterusnya hingga z dalam susunan abjad Ibrani a (alef)hingga p (thaw)). Isi merupakan buah pergumulan iman Pemazmur yang mengalami berbagai kesusahan. Digambarkan bahwa dia berada dalam serangan musuh (ay 2), dijerat oleh jaring musuh (ay 15), sebatang kara dan tertindas (ay 16), sengsara dan mendapat kesukaran (ay 18). Dari semua itu dapat kita bayangkan bahwa dia berada dalam masalah yang besar yang bahkan mengancam nyawanya sendiri. Dalam keadaan demikian perikop ini memberikan tiga pelajaran yang cukup berharga tentang bagaimana kita menghadapi  masalah yang besar, yakni:


*1. Lindungilah aku atas kebencian musuh-musuhku*

Pada era kompetisi saat ini secara sadar atau tidak kita telah menjadi kompetitor bagi orang lain dan sebaliknya. Jika kompetisi dilakukan secara sehat dan fair mungkin masih bisa kita terima, namun bagaimanakah jika kompetisi dilakukan secara curang dan tidak sehat apa yang hendak kita lakukan? Mungkin ada yang berontak, panas hati dan dendam membara atau sikap bermusuhan atau rekasioner yang pada akhirnya mendatangkan konflik. Dalam konflik biasanya seseorang membela diri dan menyerang pihak lawan dengan segala cara dan kemampuannya. Itulah yang umumnya dilakukan oleh banyak dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang berbeda dari diri Pemazmur, yakni Daud (25:1); dia dibenci dan dimusuhi orang, mungkin berbagai upaya berupa jerat dan jebakan telah dilakukan untuk menjatuhkan dan menghilangkan nyawa Daud. Namun dia mengatakan: kepadaMu ya, Tuhan kuangkat jiwaku (ay.2) dia berpendirian kokoh bahwa Tuhan akan menolongnya: “mataku tetap tertuju kepada Tuhan” (ay 15). Dia menyerahkan hidupnya dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Daud percaya Tuhan akan menolong dan melindungi dia atas musuh-musuhnya. Daud tidak menginginkan Tuhan membalaskan dan memusnahkan musuh-musuhnya. Daud hanya memohon agar dia dilindungi atas semua serangan musuh, dia memohon jangan dipermalukan dihadapan musuhnya, serta jangan samapai musuh-musuhnya bersorak-sorai atas segala rencana kejahatan mereka.


Keyakinan Daud adalah yang benar tidak akan mendapat malu dan tidak akan dipermalukan. Orang yang benar justru akan mendapat pertolongan dan perlindungan dari semua serangan dan strategy orang jahat.


*2. Berikanlah petunjukMu*

Pelajaran kedua dari Daud dalam perikop minggu ini adalah, dia memohon petunjuk tentang apa yang hendak dilakukan dalam menjalani hidupnya. Dapat kita banyangkan dalam keadaan tertekan, dikelilingi musuh dan mungkin dalam pengintaian lawan secara intensif bagaimana Daud bisa bergerak. Mungkin saja kalau dia bertindak justru menjadi boomerang baginya, kalau dia diam sama saja dengan menggali kuburannya sendiri. Disinilah iman dan pengharapan yang luar biasa dari Daud; memohon petunjuk dan jalan keluar dari Allah. “berikanlah jalan-jalanMu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah itu kepadaku” (ay 4). Daud memohon petunjuk dan jalan untuk dia lalui. Ini artinya bahwa Daud sendiri yang menjalaninya namun atas petunjuk dari Tuhan.


Hal ini memberikan suatu hal yang sangat penting dalam kehidpan kita sehari-hari, ketika kita menghadapi masalah yang besar hendaklah memohon petunjuk kepada Tuhan, bukan kepada tawaran-tawaran yang banyak dilakukan oleh orang saat ini.


Salah satu ciri masyarakat Indonesia menurut pakar sosiolog adalah "gemar tahyul". Mencari jalan keluar dari masalah, nasib, jodoh, pekerjaan dll. Ini menyuburkan perdukunan.  Seolah-olah orang pintar bisa menjawab segala persoalan sekalipun sudah banyak korban penipuan atas praktek seperti ini.


Perikop ini mengajak dan menegaskan kepada kita hanya kepada Tuhan sajalah kita memohon petunjuk dan jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. “Tuhan itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.” (ay.8).


*3. Ingatlah rahmat dan kasih setia-Mu kepadaku*

Daud menyadari kesusahan yang dia alami dari musuh-musuh mungkin saja akibat dari kesalahan dan dosa-dosa yang dia perbuat. Ada semacam sikap yang reflektif dan koreksi diri. “Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggar-pelanggaranku janganlah Kauingat.” (ay 7). Dia tidak membela diri habis-habisan serta membuktikannya bahwa dia benar dihadapan Allah. Mungkin dalam perkara ini dia benar, namun dia menyadari bahwa ada kesalahan dan pelanggarannya di masa lalu. Itulah sebabnya, Daud dengan kerendahan hati memohon kepada Tuhan: ingatlah rahmatMu dan kasih setiaMu, ya Tuhan ( ay 6).


Apa artinya ini; adanya pengakuan bahwa dirinya pernah melakukan kesalahan, dosa dan pelanggaran namun dalam perkara yang sedang dia hadapi memohon pengampunan dan rahmat Tuhan. Janganlah pelanggaran masa lalu ditimpakan kepadanya dalam menghadapi masalah yang di depan mata. Itulah permohonan dari Daud yang sungguh-sungguh karena dia yakin bahwa Tuhan itu rahmani, maha baik dan penuh kasih setia.


Kebenaran manusia tidaklah menjadi alasan atau syarat untuk menerima rahmat dan kasih setia Tuhan. Rahmat dan kasih setia Tuhan kita peroleh karena Tuhan itu baik, rahmani dan setia. Tidak ada alasan baik kita untuk bermegah terhadap sesama terlebih di hadapan Allah. Apapun adanya kita sekarang; pejabat, pedagang, pengusaha, petani, tukang becak dll atau dalam keadaan susah, senang, bahagia, setengah hati, tawar hati dll ingatlah bahwa Tuhan itu rahmani dan penuh kasih setia. Dia akan selalu memberi rahmat dan kasih setiaNya dalam memelihara hidup kita.


Sahabat yang baik hati!

Mazmur 25 ini merupakan Mazmur Daud yang memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan. Atas pergumulan yang dia hadapi kita memperoleh pelajaran yang cukup berharga terlebih menghadapai masalah dan pergumulan atau ketika berhadapan dengan lawan (pesaing) atau competitor dalam berbagai kehidupan yang kita jalani. Dari Mazmur 25 ini kita memperoleh jaminan yang cukup berharga yakni:

- Tuhan melindungi orang percaya dari luapan kebencian musuh. Tuhan akan melepaskan dan menyelamatkan hambaNya dari setiap rencana jahat orang lain

- Tuhan selalu berkenan memberikan petunjuk dan jalan dalam setiap masalah yang kita hadapi.

- Tuhan rahmani dan penuh kasih setia, Dia mengampuni pelanggaran dan dosa-dosa yang kita perbuat asalhkan kita menyesal dan memohon pengampunan daripadaNya.

Kisah cerita seorang manager muda diawal kotbah ini menjadi inspirasi bagi kita untuk berdoa dalam menghadapi masalah dia mengatakan: “Tuhan aku tidak meminta penjelasan dari Engkau mengapa aku mendapat pergumulan, namun tunjukkanlah kebenaranMu dan ajarilah aku tentang apa yang hendak kulakukan.”  Selamat dalam menghadapi pergumulan, dan rasakanlah penyertaan dan perlindungan Tuhan dalam hidupmu. Amin!


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 03 Februari 2024

TUHAN KEKUATAN KITA

 Kotbah Minggu Sexagesima (60 Hari Sebelum Paskah)

Minggu, 4 Februari 2024

Ev: Yesaya 40:21-31




TUHAN KEKUATAN KITA 


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini meneguhkan kita agar kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Tuhanlah menjadi kekuatan bagi kita dalam menghadapi tantangan hidup. 


Salah satu hal yang melumpuhkan semangat seseorang sikap mental. Jika mental seseorang kuat tentu menjadi energi yang positip memenangkan pergumulan. Sebaliknya jika mentalnya lemah dan pesimis akan melemahkan diri sendiri. Salah satu sikap yang harus dilawan dalam diri adalah inferior. Sikap Inferior adalah salah satu bentuk perasaan kurang percaya diri pada diri seseorang. Inferior ini muncul dalam bentuk perasaan tidak berarti,  tidak berharga dan tidak punya kekuatan apapun. Inferior itu bisa juga berupa  minder, pesimis dan selalu dibawah bayang-bayang ketakutan. Sikap demikian akan kehilangan kekuatan diri, frustrasi dan tak mau bangkit. Orang yang yang mengalami inferior butuh terafi dan motivasi agar bisa bangkit mengembalikan percaya diri. Meyakinkan bahwa dia berharga dan memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. 


Keadaan seperti itulah yang dilihat oleh Yesaya kepada umatNya Israel (Yakub) yang terbuang ke Babilonia. Khusus pasal 40 merupakan awal pelayanan Yesaya pada masa pembuangan. Di pembuangan mereka menderita, asa mereka sirna, kebanggaan sebagai umat pilihan Allah redup dan lenyap. Mereka meratapi nasib umat yang terbuang. Ibarat taruna yang lesu dan kalah berperang akhirnya menjadi tawanan. Syukurlah Tuhan mengutus nabi Yesaya agar umat Israel tersadar bahwa dalam menghadapi pembuangan ini, kekuatan mereka bukan hanya pada kemampuan mereka, tetapi ada pada Tuhan. 


1. Percaya kepada Allah: Pencipta dan Maha Kuasa

Yesaya 40:21 (TB)  Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar? Tidakkah diberitahukan kepadamu dari mulanya? Tidakkah kamu mengerti dari sejak dasar bumi diletakkan? 


Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan cara nabi Yesaya untuk mengeksplorasi kembali apa yang mereka ingat dan alami tentang Allah. Ingatan ini akan mengulang kembali kejayaan masa lalu yang mereka alami. Dengan memgingat pengalaman masa lalu dimana Allah telah bertindak dalam sejarah Israel akan membangkitkan harapan bahwa hal hang sama Tuhan menyertai mereka menghadapi pahitnya pembuangan ini.


Alkitab telah mencatat Allah adalah pencipta dan pemelihara ciptaanNya. Tidak ada sesuatu yang ada tanpa sepengetahuan Allah. Dunia ini dan segala isinya ada dalam kuasa Tuhan. Maka pembuangan yang terjadi juga harus diyakini diketahui oleh Allah dan ada rencana Allah dibalik apa yang mereka alami.


 Jika Allah yang berdaulat atas segala ciptaanNya apa perlh lagi ragu atau kemahakuasaanNya? Keyakinan seperti inilah yang kembali digali oleh nabi Yesaya menumbuhkan harapan dan semangat di dalam pembuangan. Tentang peristiwa pembuangan, Allah telah menyampaikan pesan kepada umatNya melalui para nabi-nabi. Pembuangan Babel adalah hukuman Allah atas ketidak setiaan umat Allah. Sama seperti orang tua tidak mungkin membiarkan anaknya melakukan pelanggaran tanpa ada hukuman. Hukumannya untuk mendidik dan mengajar sehingga sadar akan perbuatannya yang tidak benar. 


Selain mengingatkan apa yang Allah pencipta, nabi Yesaya juga mengngatkan Allah tidak dapat disamakan oleh kuasa apapun. Dialah Maha kuasa, dan tidak ada pember-pembesar di dunia hang tidak tahkluk kepadaNya. Allah melebihi Firaun, Allah tidak dapat dibandingkan dengan raja Nebukadnezar atau dewa-dewi yang disembah oleh bangsa-bangsa di dunia. Allah itu adalah Maha Kuasa yang tidak adapat dibandingkan dengan apapun. 

Yesaya 40:25 (TB)  Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. 


2. Allah Itu Peduli

Umat Israel berkeluh dalam pembuangan:  "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" Jika Tuhan memperhatikan jalan mereka tentu tak akan membiarkan semua ini terjadi? Mereka merasa bahwa Tuhan telah menyembunyikan wajahNya. Mereka hanya menuntut dimana Tuhan dalam penderitaan yang mereka alami? Apakah Tuhan tidak melihat derita yang menimpa umatNya? Apakah Tuhan sudah tidak di pihak mereka yang menderita? Keluh ini muncul karena tidak ada lagi kekuatan untuk menjalani semua penderitaan. Pertanyaan ini suatu ungkapan hati yang sudah rapuh, isak tangis atas duka yang mendalam dan pikiran mereka hampa seolah tiada jalan. Ada kalanya demikian, tidak habis pikir dan secara logis hilangnya akal untuk mencari jalan keluar atas masalah yang menghimpit, akhirnya pasrah dan menjalani seadanya tanpa asa. Semakin dipikirkan semakin menderita, semakin berusaha mencari jalan semakin lelah dan berbeban.


Dalam keadaan demikian Yesaya membuat pertanyaan: Yesaya 40:28 (TB)  Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. 


Memang manusia punya keterbatasan, cobalah pandang ke depan berapah jauhkan jangkauan mata kita? Coba pusatkan perhatian untuk mendengar seberapa besarkah daya tangkap telinga kita mendengar suara? Manusia punya keterbatasan, namun harus kita sadari hidup ini bukan ditentukan oleh Tuhan, tetapi oleh Tuhan sang pencipta. Tuhan telah jauh merancang kehidupan ini. Apa yang terjadi dalam hidup semuanya diketahui oleh Tuhan dan Tuhan sendiri punya rencana atas setiap session yang terjadi dalam kehidupan ini.


Inilah yang harus kita ketahui, kita percaya bahwa Allah itu Pencipta dan Mahankuasa. Dia perencana ulung dalam kehidupan ini. Dia peduli, tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Bangkitlah, Tuhan kekuatan kita. 


3. Orang yang menantikan Tuhan bagaikan rajawali

Bagaimana kita bangkit dari hati yang terpuruk? Dalam keadaan demikianlah nabi Yesaya hadir memberikan semangat bagi mereka di pembuangan. Orang percaya tak akan berputus asa, tetapi dia akan bangkit dan memiliki kekuatan yang berlipat ganda. Jangan  minder dan takut, jangan katakan Tuhan sudah membuang kami. Tetapi percayalah, ketika percaya disitu ada kekuatan yang melebihi dari kekuatan rajawali. 


Yesaya melihat kelesuan melanda semua usia, dari muda hingga tua, semua mereka seolah tak berdaya. Padahal mereka adalah umat Allah, umat Pilihan, bangsa yang diberkati dan milik kepunyaan Allah. 


Bangkitlah, Tuhan kekuatan kita. Seperti rajawali bisa terbang tinggi, melawan angin kencang dan matanya tajam melihat dari kejauhan. Yesaya 40:31 (TB)  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. 


Rajawali ini gambaran yang tepat untuk kekuatan. Raja wali perkasa, matanya tajam gambaran visioner.  Cengkeramannya tajam gambaran kekuatan dan sayapnya kuat mampu membawa terbang tinggi. Rajawali adalah burung yang memiliki 'aerodinamika' yang sempurna. Rajawali mampu terbang melayang sepanjang hari, di bantu dengan arus udara. Sayap rajawali juga mampu membaca arus udara yang tidak teratur sehingga rajawali mampu menghindar dari guncangan dan mampu terbang dalam keadaan badai sekalipun.


Selain itu burung raja wali mau berdiam diri untuk memperbaharui diri. Setelah beberapa lama, paruhnya yang baru akan tumbuh lagi, dan denga menggunakan paruh barunya tersebut, ia akan mencabut kuku-kukunya satu-persatu dan menunggu hingga tumbuh kuku baru yang lebih tajam. Dan ketika kuku-kuku itu telah tumbuh ia akan mencabut bulu-bulu sayapnya hingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Ketika semua itu sudah dilewati, rajawali tiu dapat terbang kembali dan menjalani kehidupan normalnya. Begitulah transformasi menyakitkan itu harus dilewati rajawali kurang lebih dalam waktu setengah tahun.


Gambaran Rajawali yang dipakai oleh Yesaya menjadi penting agar bangsa Israel percaya diri dan bangkit kembali. 


Tuhan tidak hanya bekerja ketika hal baik saja, ketika hal buruk pun menimpa orang yang dikasihinya Tuhan mendatangkan kebaikan. Seperti syair lagu KJ:".. dari cadas di depanku keluar air yang sedap.., suka duka dipakainya untuk kebaikan ku.." seperti seorang prajurit yang mengikuti pelatihan, terkadang mereka lelah dan cape dan mungkin harus menjalani ruang yang sangat sulit ditempuh, semua itu latihan agar kuat dan tangguh. Demikian hal-hal buruk, penderitaan dan duka yang menimpa umat yang dikasihi, bisa menjadi pelajaran dan semakin mengasah iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan.


Sahabat yang baik hati! Hal yang paling berharga dalam hidup adalah pengharapan. Keadaan bisa jatuh bangun, keberadaan kita dilecehkan dan dipandang sebelah mata orang lain. Tetapi keadaan terpuruk sekalipun jangan pernah kehilangan harapan.  Milikilah asa dan nantikan Tuhan. Itu adalah kekuatan yang tak terhingga yang dapat memulihkan keadaan. Jangan sampai jatuh pada depressi yang mendalam sehingga memasuki suatu lorong kehidupan yang sulit disembuhkan. Dalam seluruh beban hidup dan pergumukan yang mendalam kita harus percaya Tuhan ada.  Dia ada disamping kita seperti tutor yang membimbing suatu pelatihan. Dia meneguhkan dan menguatkan kita. 


Tuhan adalah kekuatan kita meyakinkan kita semua bahwa Allah yang Maha Kuasa peduli dan akan memberikan kekuatan kepada kita menghadapi pergumulan hidup. 


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak


Sabtu, 27 Januari 2024

JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN

 Kotbah Minggu IV Stlh Ephipanias

Minggu, 28 Januari 2024

Ev. 1 Korintus 8:1-13



JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini mengajak kita agar tidak menjadi bagu sandungan bagi orang lain. Saya coba merenungkan sejanak apa jadinya jika kaki anda tersandung saat berjalan? Anda bisa jatuh, kaki luka dan rasa sakit yang tidak tertahankan. Bagaimana pula kalau tersandung di depan orang banyak, sakitnya tak seberapa namun malunya tak bisa ditahankan. Pokoknya janganlah kita tersandung dalam menjalani kehidupan ini karena itu sangat menyakitkan dan menyedihkan. Apalagi menjadi batu sandungan, sungguh merupakan penyesalan yang tidak bisa disesali jika oleh kita orang lain terjerumus dalam berbagai kesusahan hidup.


Kotbah minggu ini berbivara tentang jangan menjadi batu sandunga. Suatu ajakan bagi orang percaya agar memelihara sikap keagamaannya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Orang percaya dipanggil untuk menjadi berkat bukan kutikan, meratakan jalan bukan memutus jembatan sehingga orang lain bisa merasakan nikmatnya hidup. Kita dipanggil menjadi terang, agar setiap orang yang berjalan dalam kegelapan dapat melihat dengan jelas krikil atau lubang di jalan yang dilalui. 

Orang percaya dipanggil menjadi garam agar orang lain merasakan nikmat anugerah Tuhan dalam kehidupan ini. Itulah panggilan mulia menjadi seorang murid Kristus. Hadirlah untuk memberkati bukan untuk mengutuki, hadirlah untuk memotivasi bukan untuk mematikan harapan, hadirlah untuk menginspirasi bukan mengecam hingga membekukan pikiran orang lain.


Untuk mengembangkan kehidupan menjadi berkat bukan menjadi batu sandungan ini, marilah kita ambil beberapa pelajaran berharga dari kotbah minggu ini.


1. Akar pengetahuan yang benar

"Cogito ergo sum", aku berpikir maka aku ada. Demikian Descartes menjelaskan bahwa manusia itu adalah apa yang dipikirkan. Pandangan ini menekankan pengetahuan seseorang menentukan keberadaannya. Manusia adalah apa yang diketahuinya. Bagi Descartes pengetahuan adalah fakta, kebenaran atau informasi yang diperoleh melalui pengalaman atau pembelajaran disebut posteriori, atau melalui introspeksi disebut priori. Pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh seseorang.


Harus disadari pula pengetahuan akan menentukan sikap seseorang. Dalam dunia pendidikan pengetahuan akan memandu orang dalam kebenaran. Artinya semakin banyak pengetahuan semakin luas pemahamannya akan sesuatu hal, namun sebaliknya apabila pengetahuan seseorang dangkal maka pikirannya sempit memaknai sesuatu. 


Dalam kotbah minggu ini, Paulus memperlihatkan pengetahuan berkaitan dengan sikap seseorang. Ada hubungan pengetahuan seseorang dan sikap keagamaan. Pemahaman keagamaan yang dangkal bisa menjadikan seseorang pemganut agama yang radikal, menganggap pemahamannya yang benar yang lain keliru, dia halal yang lain haram, dia saleh yang lain nazis. Sikap keagamaan yang radikal dipengaruhi oleh pengetahuan yang dangkal?


Peristiwa yang terjadi di jemaat Korintus sangat unik. Jemaat ini terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda, ada Kristen Yahudi, ada Yunani dan adan juga diluar keduanya. Jemaat Korintus hidup dalam masyarakat majemuk, seharusnya mereka kaya akan berbagai pandangan karena bisa berasimilasi dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Namun apa yang terjadi sentimen kelompok sangat tinggi dan lahir sikap radikal yang menafikan kelompok lain.


Di Korintus ada satu agenda tahunan, dimana masyarakat memotong korban yang dipersembahkan di kuil. Pesta semacam itu menjadi hari bahagia bagi setiap orang karena dapat menikmati daging. Namun sukacita mereka berubah karena ada kecaman sebagaian dari kaum fundamentalisme Kristen Yahudi. Mereka melarang dan menganggap memakan daging korban itu adalah haram karena itu sudah bahagian dari berhala. Mereka melarang keras dan mengecam sikap Kristen Non Yahudi. 


Sementara kaum non Yahudi itu tidak mempermasalahkan hal ini. Bagi.mereka tidak ada berhala disitu. Pesta itu adalah agenda tahunan yang mendatangkan sukacita, makan daging korban yang dipersembahkan di kuil tidak ada kaitannya dengan berhala atau haram atau halal namun mereka mengetahui dan memahami ini adalah agenda tahunan dimana masyarakat umum mendapatkan daging yang melimpah. Paulus memahami pikiran kaum non Yahudi bahwa tidak ada hubungan hal makan dengan berhala. Disebutkan 1 Korintus 8:4, 6 (TB) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: "tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa." namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. 


Berbeda dengan sikap kaum Kristen Yahudi, itu adalah sesuatu yang sangat sensitif karena terkait drngan berhala. Pemahaman Kristen non Yahudi yang demikian membuat sikap terhadap daging korban adalah tidak boleh dimakan. Sikap yang menyalahkan ini dari Kristen Yahudi terhadap non Yahudi telah membuat kekeruhan dalam jemaat. Kaum Yahudi mengganggap dirinya kudus sementara non Yahudi dianggap nazis. Kristen Yahudi menganggap diri lebih dekat pada Tuhan dan lebih saleh karena menaati apa yang boleh dan tidak boleh di makan. Akhirnya persekutuanpun tak sedap dan saling menyalahkan dan terpecah belah.  


Paulus hadir memberikan penjelasan pengetahuan yang benar akan hal makan atau tidak boleh dimakan . Paulus menyadari bahwa sikap kaum fundamentalis Kristen Yahudi yang demikian karena pemahaman keagamaan Yahudi yang dianutnya. Pengetahuan seperti itu tidak boleh dipaksakan untuk non Yahudi karena soal makan daging bukanlah soal halal atau soal haram. Kita tidak diselamatkan oleh pantangan makanan ini dan itu. Maka iman mereka tidak terganggungu oleh makan atau tidak karena makanan tidak menyelamatkan, tetapi Kristuslah yang menyelamatkan.1 Korintus 8:8 (TB) "Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan."


Transfer pengetahuan inilah modal besar untuk berdialog melihat dan mendalami sikap orang lain. Pelajaran ini pula yang harus kita kembangkan dalam kehidupan ini jangan paksakan apa yang kau tahu untuk orang lain namun belajarlah dari apa yang diketahui orang lain. Inilah kehidupan yang dialogis, kehidupan demikian membuat kita tidak mudah menghakimi dan mejudge orang lain. 


2. Kebebasan yang dewasa


Tidak menyalahkan kaum non Yahudi yang makan daging bukan berarti menjadi kemenangan kaum non Yahudi. Ada tujuan yang lebih utama dari Rasul Paulus yang sangat berharga yaitu kedewasaan. Setelah Paulus menjelaskan akan pengetahuan yang membebaskan, dia menawarkan agar mereka memiliki sikap kebebasan yang dewasa. Nan Yahudi tidak terganggung imannya, tetapi melihatnya pesta tahunan itu adalah sukacita yang disyukuri. Mereka yang memakan daging yang dipersembahkan kepada berhala tidak mengubah iman mereka dan mereka tidak terlibat dalam ibadah berhala. Pada saat yang sama Paulus menasihati kaum.non Yahudi agar jangan menyalahkan kaum Kristen Yahudi yang tidak makan. Baiklah sikap mereka diterima dan dihormati karena pemahaman yang dimiliki dari agama Yudaisme. Tidak perlu diperdebatkan hal makanan bagi mereka karena itu sensitif. Namun satu oemahaman pemahaman, makanan tidak membuat kita dekat kepada Tuhan. Paulus mengharapkan kaum Yahudi jangan menyalahkan mereka yang non Yahudi karena bagi non Yahudi memakan daging atau tidak itu tidak ada kaitannya dengan berhala. Karena bagi non Yahudi di Korintus 1 Korintus 8:4 (TB) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: "tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa." Mereka percaya sepenuhnya segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah yang harus disyukur. 

Dan selanjutnya disebutkan 1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. 


Disinilah Paulus berperan agar jemaat menyadari perbedaan masing-masing. Perbedaan harus disikapi dengan kedewasaan. Kedewasaan itu lahir dari pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang membuat seseorang semakin terbuka, memahami sikap orang lain dan menghormatinya


Apa yang terjadi di jemaat Korintus adalah cross culture, pertemuan dua pemahaman keagamaan yang berbeda. Perjumpaan dua budaya yang berbeda dan akhirnya saling menerima dan saling menghargai. "Cross culture", menerima dan memahami budaya orang lain menurut pemahamannya. Cross culture tidak boleh menggu akan kaca mata kita menulai praktek kehidupan orang lain dsri sudut pandang kita. Namun praktek budaya orang lain harus dipahami dari dalam budaya mereka; bukan sebagai outsider (orang luar) namun dipahami dari persektip dari dalam (insider). Memang ada kecenderungan setiap budaya menonjolkan mereka yang benar dan orang lain salah. Untuk menghindari sikap yang membenarkan diri dan menyalahkan orang lain maka dibutuhkan bagaimana kita memasuki alam pengetahuan orang lain dan belajar terhadap orang lain. 


Sikap dewasa menghadapi perbedaan sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia. Kita hidup dalam perbedayaan yang tajam dan perbedaan itu bisa sangat sensitip karwna perbedaan budaya, ras, suku, agama dan lokalitas yang berbeda. Puji Tuhan Indonesia memiliki satu perekat yang mempersatukan yaitu prinsip "bhinneka tunggal ika". Bereda-beda tetapi tetap satu merupakan sikap yang dewasa menyatukan bangsa Indonesia menjadi negara yang majemuk. 


Di Korintus ada Yahudi, ada non Yahudi, ada kalangan atas ada kalangan bawah, ada yang kuat dan ada yang lemah. Mereka semua diajak untuk dewasa, perbedaan itu adalah dakta yang harus diterima, namun jangan samoai perbedaan yang ada diantara mereka mengacaubalaukan persekutuan. Kristus adalah perekat yang mempersatuhan, Dia adalah Tuhan yang telah menebus dan menjadikan setiap orang percaya dalam persekutuan orang kudus. Maka baiklah kita semakin dewasa dalam setiap perbedaan. Miliki atmosfer yang luas jangan picik dan sempit, berpikir yang dalam jangan dangkal seperti sumbu pendek. Dengan demikian kita akan memiliki kedewasaan iman dan terbebas dari fundamentalisme yang radikal. 


3. Jangan menjadi batu sandungan:


Kedewasan iman seseorang akan melahirkan sikap hormat pada orang lain, bukan sebaliknya sebagai batu sandungan bagi orang lain. 


Dalam Perjanjian Baru ada dua istilah yang dipergunakan untuk menjelaskan kata "batu sandungan, yaitu: proskomma (tou lithou), artinya 'batu sandungan' (Rom 9:32-33; 1 Kor 8:9; 1 Ptr 2:8) kata ini dipakai mengenai setiap bentuk penghalang. Kedua adalah "skandalon" (Rm 11:9, perangkap; 1 Kor 1:23, 1 akor 8:13 batu sandungan; Why 2:14, untuk menyesatkan). (TBI Rm 9:33 menerjemahkan yg pertama batu sentuhan, dan yg kedua batu sandungan.) Batu sandungan juga bisa diartikan sebagai jerat, perangkap atau 'penyulut maut dalam suatu jerat mara' (bnd Mzm 69:23; 140:5). Bnd juga Mat 16:23, 'engkau suatu batu sandungan (skandalon) bagi-Ku'. 


Hal yang menarik bahwa di dalam 1 Korintus 8 ini Paulus menggunakan kedua kata tersebut: "proskomma" di ayat 9 dan "skandalon" di ayat 13. Hal ini menjelaskan bahwa batu sandungan yang dimaksudkan Paulus adalah bukanlah suatu jerat atau perangkap yang menjatuhkan orang lain, tetapj suatu tindakan 

penyesatan, kejahatan, batu sandungan. Atau hal yang menyebabkan orang lain jatuh dosa atau memberikan kesempatan untuk berdosa;

batu sandungan menyesatkan). 


Saya kurang tahu di jaman sekarang ini. Bagaimana kita menyikapi bagian ketiga ini dalam era digital. Sebagai contoh, jika ada status yang baik-baik saja, hanya sedikit orang yang nimbrung mengapresiasi hal-hal baik. Tetapi sebaliknya jika ada hak buruk terlepas dari benar atau tidaknya suatu berita akan ramai dan menjadi viral.

Mungkin benar idiologi dari era informasi sekarang: the bad news is the good news. Berita buruk adalah berita paling bagus. 

Harus kita sadari bahwa dalam perjuangan iman, the good news is Good News. Berita Baik adalah berita Injil. 


Sahabat yang baik hati! Janganlah menjadi batu sandungan, banyak hal yang harus kita kendalikan dari diri kita:


Pertama, mari periksa diri siapa tahu ada yang merasa diri benar, dan secara terus menerus menyalahkan orang lain? Jika semua salah dan diri kita yang benar jangan-jangan kita sendirilah yang telah salah dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Semua orang pasti memiliki ego, namun jika sudah menjadi egois waspadalah itu menjadi bibit subur menjadi bantu sandungan bagi orang lain. 


Kedua, Jangan menjadi batu sandungan merupakan suatu ajakan dari rasul Pulus untuk berhenti mengecam, menilai dan menghakimi orang lain salah, berdosa dan haram dsri sudut pandang.kebenaran kita sendiri. Mungkin karena kita melihat dan menilai dari luar (out sider). Kotbah minggu ini mari mulai melihat dari pengetahuan yang benar dengan mempelajari dari dalam (insider). Metode baru ini akan melahirkan suatu pengetahuan dan pemahaman baru akan arti sikap orang lain. 


Ketiga, jangan menjadi batu sandungan merupakan peringatan keras bagi orang percaya. Kita dipanggil untuk hadir di tengah-tengah orang lain menjadi berkat. Jangan sampai oleh karena ulah kita sendiri orang lain tersandung. Amin


Tuhan memberkati!


Salam: Pdt. Nekson M Simanjuntak





Sabtu, 20 Januari 2024

ALLAH TEMPAT PERLINDUNGAN KITA

 Kotbah Minggu III Setelah Ephipanias

Minggu , 21 Januari 2024

Ev. Mazmur 62:6-13




ALLAH TEMPAT PERLINDUNGAN KITA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, setiap.orang membutuhkan rasa nyaman, ndaman dalam bepergian, nyaman dalam bekerja, nyaman di rumah dan nyaman dalam pertemanan. Jika rasa nyaman terusik orang pasti menghindar dan mencari tempat yang lebih nyaman. Demikian juga dalam suatu komunitas dan pertemanan: seseorang yang tidak nyaman dalam komunitas waktunya akan mencari komunitas yang lebih nyaman baginya atau memilih untuk silent dan berdiam diri.


Dalam kehidupan kita dijaman ini ada banyak yang dapat kita inventarisir tindakan manusia untuk memperoleh rasa nyaman. Pertama, cobalah anda masuk ke komplek.perumahan anda, pasti di gerbang ada pos penjaga. Bukan saja itu ada rumah yang dijaga oleh satpam. Selain itu dikelilingi oleh cctv. Itulah mahalnya rasa nyaman.  Kedua, demikian dalam pekerjaan dan masa depan anak tidak sedikit orang mengeluarkan biaya untuk asuransi jiwa, asuransi kesehatan dan pendidikan anak. Semua itu dilakukan untuk terli dung dari hal-hal yang tidak terpikirkan dan antisipasi apa yang tidak ketahui di masa mendatang.  Ketiga, Saya kurang tahu bagaimana anda membeli suatu produk, selain harga dan kualitas tentu juga hal yang diperhatikan adalah masa garansi, jika barang rusak maka dia merasa nyaman bisa diganti. 

Rasa nyaman agar manusia terlindungi dari kerugian dan mengantisipasi hal apa ha g akan terjadi esok menjadi bisnis yang sangat penting dan menentukan.


Pertanyaan, apakah semua jaminan peindungan (garansi) yang ditawarkan seperti yang diharapkan? Tidak sedikit orang kecewa, saat minta garansi barang yang rusak misalnya ada banyak persyaratan yang diajukan bahkan tidak semudah janji saat memberikan garansi. Itulah hidup kita banyak yang sangat kecewa  karena yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.


Kotbah Minggu ini memberikan kepada kita suatu kepastian bahwa hanya di dalam Tuhanlah tempat perlindungan yang nyaman dan tidak mengecewakan. Perlindungan Tuhab itu pasti, tidak temporer karena Allah setia melindungi kita sepanjang waktu. Inilah yang dapat kita temukan dalam kotbah Minggu ini. Allah adalah tempat perlindungan kita yang paling nyaman. 


Sekarang baiklah kita ambil beberapa pesan penting dari kotbah Minggu ini. 


1. Hanya Dekat Allah saja aku tenang

Saya masih ingat film tahun 1994, berjudul "The Body Guard From Beijing", film yang dibintangii Jet Li. Film ini menceritakan seorang pengusaha kaya raya Hongkong yang sangat terkenal memiliki kekasih bernama Michele.  Untuk memberikan perlindungan dan rasa aman dari gangguan rupanga polisi di negaranya tak sanggup memberikan perlindungan. Maka dihadirkanlah seorang pasukan khusus dari China menjadi pengawal pribadi Michelle. Setelah tiba di rumah, Jet Li mengubah rumah dengan berbagai peralatan pengamanan sehingga rumah seperti penjara.  Kemanapun dikawal dan akhirnya merasa terpenjara dan terkekang karena pengawalan yang ketat dari sang Body Guard. Memang Jet Li membuktikan bahwa semua tindakannya benar untuk memberikan perlindungan dan keselamatan Michele namun dia merasa tak aman. Di akhir film, Michele menyadari sekalipun dia terkekang, tidak nyaman dan tidak bebas semuanya untuk melindungi dirinya dari seorang bodyguard yang terlatih.


Ini satu contoh tang sering terjdi dalam kehidupan ini, untuk mencari rasa aman pada akhirnya apa yang dirasakan justru ketidak nyamanan. Mengapa bisa seperti itu, tentu karena keterbatasan manusia melindungi dirinya dari segala bahaya dan ancaman. Indra kita terbatas untuk mengetahui dan mengantisipasi apa yang akan terjadi dalam hidup ini. Pemazmur berkesimpulan hanya dekat Tuhan saja dia merasa tenang dan nyaman.


Apa yang disampaikan pemazmur ini menjadi pegangan hidup kita. Dalam kehidupan sehari hari ada baiknya kita menaati peraturan atau standar keselamatan kerja yang ditetapkan. Namun dalam semua kita harus percaya bahwa hanya dekat dengan Tuhan saja kita tenang dan rasa aman. Mazmur 62:5 (TB)  Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. 


2. Allah adalah Gunung Batu dan Tempat 


Mazmur 62:6-7 (TB)  (62-7) Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. 

(62-8) Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. 


ALLAH adalah gunung batu,  benteng pertahanan dan tempat perlindungan. Ketiga istilah sering disebutkan dalam Alkitab yang memiliki makna bahwa Allah adalah benteng pertahanan, tempat perlindungan paling aman dan tempat berdiri kokoh.  Mengapa Allah disebut sebagai gunung batu. Tentu dalam dunia PL gunung batu menjadi tempat perlindungan yang nyaman. Hal itu berkaitan dengan peradaban jaman PL. Dimana Kota-kota dalam Perjanjian Lama biasanya di kelilingi oleh tembok. Bangsa-bangsa berlomba jaya dengan merebut dan menahlukkan kota lainnya, jaman yang penuh peperangan. Maka kota yang dibangun tembok yang disebut juga kubu pertahanan. Kuatnya kota  sering diukur dari bagaimana kekuatan tembok dan benteng pertahanan yang dibangun untuk melindungi kota dari musuh. Gerbang pintu masuk kota dijaga ketat dan tembok yang kokoh yang terbuat dari bahan-bahan batu padas. Dibalik tembok mereka aman berlindung dan posisi aman untuk menyerang musuh yang datang. Dengan gambaran konstruksi kota di jaman itu kita semakin memahami arti makna Allah gunung batu. Selain menggambarkan kekokohan juga sebagai perlindungan paling aman.


Inilah nyanyian pemazmur, baginya tidak ada benteng pertahanan dan tempat perlindungan yang paling aman di dunia ini. Bagi pemazmur hanya Tuhan Allah sebagai gunung batu bagiNya. Pengakuan pemazmur ini menyadarkan kita sehebat apapun tembok kota yang dibangun terbatas  kekuatannya. Sehebat apapun penjaga mengawal kota, mereka memiliki keterbatasan. Bagi pemazmur Tuhan adalah gunung batu paling aman dan Dia pelindung dari segala rencana jahat musuh-musuhnya. 


3. Hidup orang fasik seperti angin

Mazmur 62:10-11 Hanya angin saja orang-orang yang hina, suatu dusta saja orang-orang yang mulia. Pada neraca mereka naik ke atas, mereka sekalian lebih ringan dari pada angin. Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya. 


Pada bagian ketiga Kotbah minggu ini pemazmur mengingatkan mencari kebahagian dan kesenangan diri tidak dapat ditemukan dengan cara orang fasik. Orang fasik mencari kekayaan dengan mengorbankan orang lain, melakukan kejahatan, penindasan dan pemerasan untuk meraih impian. Kotbah ini mengingatkan: swsuatu yang dicapai dengan kejahatan tidak akan mendatangkan kesejahteraan, malah menjerumuskan orang dalam berbagai kesusahan. Mungkin dimata orang bisa saja orang fasik berhasil namun keberhasilan orang fasik seperti angin, hanya sesaat dan waktunya akan tiba diterbangkan seperti debu.


Dengan kotbah ini mengingatkan kita jauhilah jalan fasik, apalagi bendak  menjadi kaya dengan cara memeras. Itu adalah kekejian bagi Tuhan. Alkitab sangat kritis terhadap kekayaan. Bukan berarti Alkitab mengajarkan anti kekayaan sama sekali tidak. Alkitab mengajarkan kekayaan bersumber dari Allah (Amsal 10, 22 dan 1 Taw 29:12). Jika kekayaan bersumber dari Allah mengapa Alkitab kritis terhadap kekayaan? 


Menurut Alkitab ada beberapa alasan; pertama kekayaan bisa berubah menjadi berhala. Kekayaan yang dimiliki berupa uang, harta dan jabatan dapat menjadi berhala dalam diri seseorang.  Kekayaan bisa menjadi mammon yang menyesatkan hidup (Mat 6:24). Kekayaan bersumber dari Allah, namun manusia melupakan pemberiNya. Alasan kedua, uang adalah berkat dan kekayaan adalah pemberian Tuhan, namun karena mencintai uang orang tak akan puas dengan uang, bahkan dasar dari segala kejahatan adalah cinta uang (1 Tim 6:10). Demi menginginkan uang dan kekayaan orang bisa lupa diri dan kehilangan harga diri, menyiksa diri dalam berbagai rupa-rupa kegelisahan. Dengan demikian Alkitab hendak mengajarkan  dalam hal kekayaan harus ada penguasaan diri. 


Menurut Alkitab kebahagiaan bukan diukur dari banyaknya uang yang dimiliki, namun bagaimana seseorang bersyukur atas apa yang Tuhan beri. Itulah sebabnya Alkitab mengajarkan: "Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: 

Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. 

Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku." (Amsal 30:7-9)


Dengan demikian pada bagian ketiga ini, pemazmyt hendak mengingatkan kita akan dua hak ini: 

Pertama: jangan percaya pemerasan dan perampasan dapat menambah kekayaan. Ini jalan pintas yang sangat menyesatkan, dengan menindas dan merampas seolah dapat menjadi kaya. Alkitab mengingatkan hal ini bahwa jalan pintas seperti itu tak diberkati Tuhan bahkan akan mengalami berbagai penderitaan yang tak terperikan.

Kedua, Mazmur ini mengingatkan jika harta semakin bertamba jangan melekat hatimu kepadanya. Ini sejajar dengan apa yang disampaikan oleh Yesus: Matius 6:21 (TB)  Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 


Selamat hari minggu, Tuhan memberkati kita semua. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak


 

Sabtu, 13 Januari 2024

YESUS ANAK ALLAH DAN RAJA

 Kotbah Minggu II Stlh Ephipanias

Minggu, 14 Desember 2024

Ev. Yohanes 1:43-51



YESUS ANAK ALLAH DAN RAJA


Selamat Hari! Sahabat yang baik hati, judul diatas merupakan tema yang ditetapkan Minggu ini, mengajak kita untuk.mengenal lebih dalam mengenai Yesus. Yesus bukanlah hanya guru atau rabbi tetapi Yesus adalah Anak Allah dan Raja sebagaimana dinubuatkan oleh Kitab Musa dan Para Nabi. Hal ini diangkat dari pengakuan Natanael. Yohanes 1:49 (TB) Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" 


Dalam kotbah minggu ini juga menerangkan tentang pemanggilan murid-murid Tuhan Yesus yang pertama, yakni Andreas, Simon Petrus, Filipus dan Natanael menurut Injil Yohanes. Natanael hanya disebutkan di dalam Injil Yohanes, di Injil Matius dia disebut dengan Bartomeleus (Mat 10:3).


Percakapan singkat dan mengejutkan antara Tuhan Yesus dan Natanael membuat Natanael percaya. Natanael orang yang sulit percaya bahkan memelihara prasangka buruk. Saat Filipus menyebut mereka telah melihat Mesias sebagaimana yang disebutkan oleh Musa dan kitab para Nabi yaitu Yesus dari Nazareth. Spontan Natanael berkata: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (1:46). 


Natanael sendiri berarti: "pemberian Allah", dia dipanggil menjadi murid setelah Simon Petrus (Kefas), Andreas dan Filipus. Mereka menceritakan bahwa mereka telah berjumpa dengan Yesus, Dialah orang yang disebutkan oleh Musa dalam Taurat dan para nabi yaitu, Yesus, anak Yusuf dari orang Nazaret. 


Natanael seorang yang tahu akan sejarah Israel, spontan berkata: apakah ada sesuatu yang baik dari Nazareth? Dalam kitab para nabi disebutkan bahwa Mesias datang dari keturunan Yehuda (Kej 49:10), lahir di Bethlehem (Mikha 5:1), tentulah dia protes dari pengetahuannya itu jika ada orang berkata Mesias orang Nazaret. Pastilah dari Yudea dan keturunan Yehuda. Dia tidak.paham bahwa sekalioun Yesus dari Nazaret namun dia lahir di Betlehem dan sari keturunan Yehuda, yakni dari keturunan Daud.


Namun Filipus dan Andreas tidak mau berdebat panjang lebar dengan Natanael, mereka langsung mengajaknya berjumpa langsung dengan Yesus. Natanael pun ikut Filipus dan Andreas berjumpa dengan Yesus. Apa yang terjadi setelah Nathanael berjumpa Yesus langsung menyapa Natanael dengan kalimat ini: Yohanes 1:47 (TB) Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!"


Natanael heran baru berjumpa dengan Yesus namun telah memuji Natanael orang yang tidak ada basa basi, orang jujur dan Israel sejati. Maka Natanael pun sujud dan berkata: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"


Bukankah Natanael baru berkata berkata: adakah sesuatu yang baik dari Nazareth? Namun ketika berjumpa dengan Yesus Natanael berubah 180 derajat bahkan keluar pengakuan yang luar biasa bahwa Yesus adalah Raja orang Israel. Itulah buah perjumpaan dengan Tuhan Yesus. 


Sahabat yang baik hati! Kotbah minggu ini memberikan arti yang sangat dalam bagi kita:


1. Yesus mengenal dan mengetahui siapa kita. 

Yesus itu maha tahu. Itulah yang harus kita sadari, Yesus mengenal pribadi kita; baik dsri luar, tutur kata dan bahkan dari hati terdalam kita. Yesus mengenal bukan hanya pada saat ini, tetapi mengenal siapa kita dulu, kini dan ke depan. Yesus adalah perancang masa depan kita. 


Setelah Simon, Andreas dan Filipus dipanggil menjadi murid Yesus, mereka menjumpai Natanael untuk memperkenalkan Yesus kepada mereka. Natanael sempat sinis setelah mendengar Mwsias sejati yang diberitakan Andreas dan Filipus berasal dari Nazaret. Namun setelah berjumpa, dan Yesus mengetahui apa hang ada di dalam pikiran Natanael serta tahu apa yang dikerjakan Natanael sebelumnya. Natanaelpun sujud tersungkur. 


Yesus adalah Mesias Anak Allah sebagaimana disebutkan Musa dan kitab para nabi. Dialah Yuruselamat yang ditentukan Allah dan kepadaNya Allah berkenan. Berbahagialah orang yang mengikut Yesus.


Yesus Mesias Anak Allah mengetahui siapa kita, apa yang kita kerjakan dan rencana di dalam hati kita. Sehebat apapun manusia dapat menyembunyikan dirinya dari orang.lain, namun dihadapan Mesias Anak Allah tidak ada yang tersembunyi. Yesus mengetahui siapa kita apa adanya. 

Kesadaran demikian perlu kita tingkatkan.


2. Berubalah dari berburuk sangka menjadi berbaik sangka. 

Natanael menjadi contoh hidup kita, mengubah prasangka buruk dengan berbaik sangka. Setelah mengenal Yesus, Natanael berubah pikiran dari berprasangka buruk menjadi murid Yesus. Dia mungkin saja tahu kulit luar tentang sejarah Israel namun tidak memahami rencana Allah dalam sejarah Israel. Sesungguhnya pengetahuan harus membawa kita kepada pemahaman. Pengetahuan harus membawa kita kepada hikmat dan pengenalan terhadap rencana Allah.


Natanael orang yang berprasangka buruk akan orang Nazareth setelah perjumpaannya dengan Yesus menjadikan dia berubah dan menjadi murid sejati. Kiranya kita juga demikian, mengaku menjadi murid Yesus harus merubah prasangka buruk kepada pengenalan yang klar agar kita tidak tersesat di jalan karena prasangka buruk.


Prasangka burik adalah sifat manusiawi kita yang harus dirubah. Mari kita inventarisir apa sifat dan perilaku apa yang harus kita rubah? Yesus maha baik berkenan juga menolong dan membantu kita menanggalkan sikap dan perilaku hang kurang baik itu kepada perilaku dan perbuatan yang seturut dengan murid Kristus. 


3. Bonus menjadi murid Tuhan Yesus

Seorang murid Tuhan Yesus menerima pengajaran dan kotbah Tuhan Yesus yang menakjubkan, etika dan jalan hidup yang penuh kasih dan menjadi teladan dalam berbuat baik. Kemana Yesus pergi disana dia menyembuhkan orang. Itu semua menjadi milik orang percaya. Keteladanan hidup Yesus adalah keunggulan moral menjalani hidup di dunia ini. 


Dalam ayat terakhir ini, diperkenalkan bonus utama bagi orang yang mengikut Yesus disebutkan adalah mengetahui dan melihat jalan menuju sorga. Yohanes 1:51 (TB) Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia." 


Inilah bonus yang dipersiapkan oleh Yesus kepada murid-muridNya. Siapapun kita, Yesus telah memanggil kita menjadi muridnya. Pemamggilan menjadi murid adalah anugerah. Sebagai murid Kristus kita beroleh anugerah untuk melihat dan menikmati Kerajaan Allah. 


Sahabat yang baik hati, saat ini Yesua mengundang kita menjadi murudNya. Jangan sia-siakan, berubahlah dan menjadi muridNya. Tidak usah berdalih dan memberikan berbagai alasan karena Yesus mengetahui semuanya dalam hidup kita baik mas lalu dan kini dan Yesus pula yang merancang kehidupan kita di masa mendatang. Amin

Tuhan memberkati kita semua!


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak



Sabtu, 06 Januari 2024

TUHAN YANG MEMBEBASKAN

 Kotbah Minggu I Setelah Ephipanias

Minggu, 7 Desember 2024

Ev. Keluaran 6:1-8



ALLAH YANG MEMBEBASKAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini adalah kabar sukacita tentang rencana Allah untuk membebaskan bangsa Isrsel dari perbudakan Mesir. Allah sendiri telah mendengar jeritan umatNya dalam perbudakan Mesir, Allah menyatakan diri kepada Musa dan memanggilnya untuk membebaskan Israel dari penindasan Firaun. Allah tidak tinggal diam atas penindasan, tetapi Allah telah mendengar jeritan umatNya.


Pada awalnya bani Israel sangat dihormati di Mesir, itu disebabkan oleh Yusuf yang ditetapkan menjadi Perdana Menteri di Mesir karena dapat menafsirkan mimpi Raja Firaun dan strategi mengelola kemakmuran tujuh tahun dan mengantisipasi kelaparan tujuh tahun yang hendak melanda Mesir (Kej 41) dengan membangun lumbung-lumbung pangan. Mesir menjadi satu-satunya negara yang memiliki stok pangan di seluruh dunia pada saat itu. Masa krisis pangan itu pula yang mempertemukan Yusuf dengan saudara-saudaranya termasuk Ishak ayahnya. Saudara-saudara Yusuf membeli stop makanan ke Mesir dan cerita selanjutnya Yakub dan anak-anaknya menetap di Mesir. Gosyen ditetapkan menjadi kampung untuk bani Israel (Kel 46)


Kemudian, kisah kehebatan Yusuf di Mesir terlupakan seturut perjalanan waktu. Hal ini menjadi peringatan penting, tiada yang abadi semuanya akan berlalu, kuasa, jabatan dan popularitas bisa pudar seturut perjalanan waktu. Raja-raja Firaun berikutnya tidak mengingat jasa Yusuf, bahkan menganggap bani Israel menjadi tantangan di Mesir, populasi mereka semakin banyak dan bisa saja menjadi menguasai Mesir. Ketakutan seperti itu membuat Firaun menekan populasi bani Israel dengan membekali setiap bidan agar membunuh setiap bayi laki-laki dari bani Israel. Bani Israel semakin mendapat tekanan dan tertindas di Mesir. Firaun menindas mereka dengan berat dan berbagai pekerjaan paksa yang harus dijalani Israel (Kel 1:1-15). Mereka bukan lagi menjadi komunitas yang dihormati tetapi mereka dianggap sebagai ancaman dan akhirnya menerima perbudakan yang menyakitkan. Bangsa Israel tinggal selama 430 tahun di Mesir (Kel 12:40). Dalam keadaan tertindas mereka berseru-seru dan Tuhan mendengar mereka yang mengerang kesakitan atas penindasan dan perlakuan Mesir atas bani Israel (Kel 2:23-25). 


Penderitaan bani Israel di Mesir sudah cukup memprihatinkan. Hari-hari mereka diliputi duka dan ketakutan, kesewenangan dan pemaksaan yang menindas. Musa sendiri sebagai orang yang dibesarkan di istana tidak tega melihat semua penderitaan ini hingga satu ketika membela kaumnya. Hal itulah membuat Musa lari dari israna Firaun dan menggembara di padang gurun. Lari dari maslaah di istana bukan berarti bisa melarikan diri dari persoalan ya g dihadapi Musa, justru dalam penggembaraannya Allah memanggil Musa untuk suatu maksud membebaskan bangsa Israel dan menuntun mereka kembali ke tanah Perjanjian.


Inilah kabar baik dalam Kotbah minggu ini: Allah menyatakan diriNya kepada umatNya, Allah yang maha kuasa dan memberitahukan pembebasan bagi bani Israel.


1. Tuhan Yang Maha Kuasa setia dengan janjiNya (Ayat 1-3)


Keluaran 6: 1-2 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. 


Allah yang mendengar dan hendak membebaskan umatNya adalah Allah leluhur mereka yang mengikat perjanjian dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Itulah YHWH, Allah yang maha kuasa. YHWH telah berjanji menjadikan keturunan Abraham menjadi bangsa yang besar. Allah tidak akan membiar mereka ditindas, namun akan menjadi bangsa yang besar, seperti bintang di langit dan pasir di pantai. Mereka akan memiliki wilayah sendiri yaitu tanah perjanjian, Kanaan. Mesir bukanlah tempat yang menetap bagi umatNya. Umat Allah bukanlah sub etnis yang boleh diperlakukan sewenang-wenang oleh bangsa asing. Mereka akan menjadi bangsa yang berdaulat, yang memiliki wilayah sendiri dan pemerinrahan sendiri dimana Allah menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umatNya. 


Untuk mengingat sejarah, Allah sendiri menyatakan kesetiannya dengan menyebut leluhur Israel: Abraham, Ishak dan Yakub. Hal ini mengingatkan bahwa Allah tetap setia Allah setia pada janjiNya. Apa yang dijanjikanNya kepada leluhur Isrsel tetap berlaku pada generasi ke generasi. Inilah perjanjian kekal Tuhan kepada umatNya. Dalam penderitaan yang dialami di Mesir, Allah telah memperhatikan dan akan mengakhiri segaka kesengsaraan ini. Tuhan akan bertindak untuk membebaskan umatNya.


2. Allah mendengar jeritan umatNya (Ayat 5)


Hal kedua yang menarik dari kotbah ini adalah Allah hadir dalam penderitaan yang umatNya. Allah turut menderita. Allah hadir dan menyatakan diri kepada umatNya. Ini penting, Allah tidak membiarkan umatNya tertindas, sengsara dan menderita di negeri asing. Allah tidak meninggalkan mereka. Allah akan bertindak dan tindakannya tidak akan pernah terlambat.


Keluaran 6:5 tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku.


Istilah erang perlu kita dalami untuk menunjukkan begitu sakit apa yang mereka alami. "Erang" artinya sakit luka yang membuat seseorang mengerang kesakitan dengan mengeluarkan suara keras. Erang bisa juga menjelaskan "luka memar" atau "luka hitam" yang sangat menyakitkan. 

Penderitaan semacam inilah yang dialami oleh Israel di Mesir, jeritan merwka karena luka yang dalam relag terdengar kepada Tuhan. Tuhan mendengar dan telah memperhatikan penderitaan mereka, maka Allah akan bertindak. 


Allah memanggil Musa dan menjelaskannya untuk rencana pembebasan umatNya. kebebasan itu bukan hanya melepaskan mereka dari erang yang menyakitkan, namun mempersiapkan mereka menjadi merdeka, bangsa yang berdaulat memiliki tanah dan pemerintahan sendiri.  


Kepeduliaan Allah mendengar jeritan umat Allah menjadi garapan bagi kita. Kita percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan, namun Tuhan hadir, memperhatikan dan menjawab seruan minta tolong kita. Kita harus percaya firman Tuhan dalam Yesaya 49:8 ini: "Beginilah firman TUHAN: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi,"


Sering dalam kehidupan orang percaya, penderitaan menjadi alarm mengingatkan

 orang akan Tuhan. Sejauh kebaikan dan kesuksesan ada, seolah hidup ini adalah otomatis berjalan tanpa campur tangan Tuhan. Baru setelah ada kesulitan ingat akan Tuhan, apa yang kita pikirkan dan rencanakan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kotbah minggu ini mengingatkan bahwa Tuhan selalu ingat umatNya. Tuhan peduli dan terus menjaga hidup kita. Pertolongannya tepat pada waktunya. Hal ni menimbulkan pengharapan bagi kita, jangan berputus asa ketika penderitaan menerpa hidup kita. Namun percayalah pada pertolonganNya. Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita.


3. Tuhan membebaskan umatNya dan membenci penindasan.


Hal ketiga dari kotbah ini adalah Tuhan membebaskan dan membenci penindasan. Manusia memiliki kecenderungan di dalam dirinya "will to power", keinginan untuk berkuasa. Kuasa bisa positip dan bisa juga negatip, kuasa yang melayani akan mendatangkan kesejahteraan. Namun kuasa yang negatip akan disalahgunakan untuk lepentinganndiri. Dengan kekuasaan seseorang dapat bertindak sewenang-wenang atas nama kekuasaan. ltulah sebabnya kekuasaan itu apabila disalahgunakan akan menindas orang lain. 


Firaun adalah contoh kuasa yang menindas. Firaun sudah dianggap sebagai dewa yang menentukan apapun di Mesir. Atas nama kekuasaan Firaun, mereka menindas bani Ibrani, membunuh anak-anak laki-laki kaum Ibrani dan memaksa mereka kerja paksa. Itulah erang yang meyakitkan bagi kaum Israel. Tuhan membenci kuasa yang menindas dan akan bertindak dengan kuasa yang maha besar membebaskan umatNya dari penindasan.


Allah tidak bekerja dengan memakai para hambaNya. Dalam membebaskan bani Israel dari penindasan Mesir, Tuhan memanggil Musa. Siapakah Musa harus berhadapan dengan Firaun, bukankah Firaun itu sudah dianggap dewa di kalangan Mesir, apa yang diperintahkannya semuanya akan jadi di Mesir. Kuasa manusia yang sehebat itulah yang akan ditahlukkan oleh Allah. Allah lebih berkuasa dari apa yang palung berkuasa di dunia ini. Inah kuasa Allah yang akan ditunjukkan Kepada Mesir dan seluruh Umat. 

Musa dipanggil dan dipakai Tuhan untuk membebaskan umat. Allah membekali Musa dengan kekuatan yang luar biasa dan atas petunjuk Tuhan Musa melakukan mujizat-mujizat besar di Mesir. Mulai dari pertarungan keahlian para tabib Mesir, 10 tulah dan berjalan membelah laut Merah. Itu semua kuasa Allah ya g ditunhukkan kepada Mesir dan Israel, sesungguhNya Allah Israel itu Allah yang Maha kuasa. 


Seperti Musa, kita dipakai oleh Tuhan dalam melakukan pekerjaan dan missi kita di dunia ini. Apapun yang kita kerjakan hendaklah seturut dengan perintah Tuhan. Orang percaya menerima kuasa, namun bukan kuasa untuk menindas tetapi kuasa untuk mewartakan Kerajaan Allah, kuasa untuk menyaksikan perbuatan Tuhan yang ajaib dan kuasa untuk melayani Tuhan (Kis 1:8). Tuhan tidak memberikan kepada kita kuasa ketakutan, tetapi kuasa membebaskan kita dari ketakutan. 2 Timotius 1:7 (TB) Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.


Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan 2024 ini. Mungkin ada analisa bahwa jalan kita licin. Berkelok dan sulit percayalah Tuhan akan menyertai kira dalam menjalani tahun ini. Mungkin kita akan berhadapan dengan penguasa, yang seolah berkuasa menentukan hidup kita seperti Firaun di jaman modern. Kotbah minggu ini meyakinkan kita: Jangan takut akan Firaun masa kini, Tuhan yang maha kuasa akan menjadikan mereka hanya sebagai mummi. Mayat yang awet tak punya kuasa apapun.


Tuhan tetap peduli dalam hidup kita. Tuhan tidak membiarkan hidup kita ditimpa beban penderitaan. Tuhan mendengar seruan minta tolong dan datang untuk membebaskan kita. 


Sahabat yang baik hati, dimana pun saudara berada kiranya segala kebaikan dan kasih karunia Kristus menyertai saudara. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

DALAM KESUSAHAN TETAP BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN

  Catatan Kotbah Minggu Misericordias Domini Minggu, 19 April 2026 Ev. Habakuk 3:10-19 DALAM KESUSAHAN BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN Selamat Har...