Sabtu, 15 Januari 2022

KASIH SETGIA TUHAN TETAP

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6876087379129936/?sfnsn=wiwspmo


KOTBAH MINGGU II SETELAH EPHIPANIAS

MINGGU, 16 JANUARI 2022

NAS: MAZMUR 36:6-11


*KASIH SETIA TUHAN TETAP BAGI UMATNYA*


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah Minggu ini benar-benar merupakan berita sukacita bagi kita, dimana  kita memperoleh suatu kepastian bahwa kasih setia Tuhan tetap atas umatNya. Tidak ada yang membatasi atau yang dapat menghalangi kasih setia Tuhan terhadap umatNya. 


Orang percaya dalam menjalani kehidupan ini terkadang tak berdaya menghadapi orang fasik. Orang fasik dengàn gagah dan sombong seolah pemilik segalanya, sesukanya dan lebih kuat dari apapun, menindas dan memperlakukan orang lain dengan tidak adil. Mengahadapi keadaan sulit seperti inilah Mazmur 36 ini hadir. Pemazmur percaya Tuhan akan bertindak bahwasanya kasih setia Tuhan tetap atas orang yang dikasihiNya. Keadilan, hukum dan keselamatannya akan menyertai orang percaya. *Sekalipun orang fasik dapat merancang kejahatan terhadap orang baik namun kita percaya tidak ada yang dapat membatasi kasih setia, keadilan dan keselamatan dari Tuhan.*


Jika kita baca keseluruhan Mazmur 36 ini pemazmur menceritakan bahwa sesunggunya kasih-Nya, Setia-Nya dan Keadilan-Nya sungguh luar biasa, tiada yang bisa mengimbanginya tentang apapun dalam ukuran pikiran manusia. Ukuran tertinggi dalam ukuran manusia dilebihinya, ukuran terdalam dalam jangkauan manusia dilampauhinya dan melebihi apa yang paling hebat dalam alam pikiran manusia serta apa lebih berharga dari apa yang paling berharga pada manusia.


Mazmur ini digubah dengan baik, lihatlah dikatakan:

- kasih-Mu sampai ke langit

- setia-Mu sampai ke awan

- keadilan-Mu seperti gunung-gunung

- hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat


Istilah-istilah diatas menunjukkan supervisi atau melebihi dari apa yang ada dalam jangkauan ratio manusia. Itulah kasih setia Allah. Barang siapa yang mengenal kasih setia Allah akan semakin hormat dan memuliakan Allah dan menjauhi kejahatan. Orang yang mengenal kasih setia Tuhan dan segala kebaikannya akan semakin mendorongnya takut akan Tuhan dan melakukan kehendakNya. Hanya orang jahat yang tidak mengakui segala kebaikan dan kasih sayang Tuhan.


Pengakuan pemazmur akan kasih, kebaikan dan setia Tuhan menjadi kekaguman baginya. Kasih dan setia Tuhan baginya bukan hanya sekarang dan hari ini, tetapi bermohon untuk ke depan. Makanya dia berdoa memohon: 

36:11 Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati!

Orang yang telah mengenal dan mengecap kasih setiah Tuhan tidak akan menyia-nyiakannya, namun akan hidup di dalam kasihNya. Orang yang hidup di dalam kasihNya akan dilindungi dan diselamatkan.


*Orang yang mengenal kasih setia Tuhan akan hidup dalam terang.*

Mazmur 36:9 (TB)  (36-10) Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang. 

Dengan terang Tuhan orang pecaya melihat dengan jelas kehendak Allah. Mengetahui dengan jelas mana kehendak Allah, karena terang adalah pelita yang menunjukkan mana jalan yang hendak ditempuh.


Kasih setia Tuhan amat berharga dan telah terbukti dalam pengalaman sejarah manusia. Dari sejarah penciptaan semesta alam, sejarah leluhur, keselamatan di dalam diri Yesus Kristus dan dalam pengalaman pribadi kita masing-masing. Kasih setia Tuhan adalah nyata dalam hidup kita.


Hal inilah yang harus kita yakini saat ini, bahwa kasih setia, keadilan, hukum dan keselamatan dari Tuhan tetap nyata dalam kehidupan orang beriman. Jika beban hidup menekan dan apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yangbdiharap bukan berarti anugerahnya telah jauh dari kita. Sama sekali tidak, kita percaya bahwa kasih setia, hukum, keadilan dan keselamatan dari Tuhan tidak pernah terpisahkan dari hidup orang percaya. Benar seperti apa yang disampaikan oleh Paulus dalam 

Roma 8:38-39 (TB)  Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,

atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.


*Jadi tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih karunia Tuhan,* masalahnya kita sering tidak memahami dan mengenal kasih setiaNya dalam hidup kita. Apa yang terjadi tidak kita syukuri. 


Sahabat yang baik hati! Marilah semakin mengenal kasihNya dan semakin takut akan Tuhan dan menjauhkan diri dari segala kejahatan. Orang yang mengenal kebaikan dan segala kebaikanNya akan semakain takut akan Tuhan.


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Jumat, 14 Januari 2022

HAMBA TUHAN YANG DIPERCAYA

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6867791333292874/?sfnsn=wiwspmo

FIRMAN TUHAN SUMBER KEHIDUPAN

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Sabtu, 15 Januari 2022


*HAMBA KRISTUS YANG DIPERCAYA*


Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman dan


1 Korintus 4:1 (TB)  Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.


1 Corinthians 4:1 (RWV)  Let a man so account of us, as of the ministers of Christ, and stewards of the mysteries of God.


Salah satu pekerjaan yang paling sulit saat ini adalah mencari orang yang dapat dipercaya. Apalagi tugas yang diemban itu dalah tugas yang strategis dan menentukan.  Pernyataan ini sangat diterima karena tidak mudah memberikan kepercayaan pada seseorang. Jika kita urai tentu banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memberikan kepercayaan pada seseorang; dikenal baik, jujur, setia, bertanggung jawab dan dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Jika kita sudah menemukan orang yang anggap tepat untuk dipercaya, maka persoalan belum selesai. 


Penghambat utama memberikan kepercayaan kepada seseorang adalah curiga. Mula-mula ragu, kemudian curiga dan kecurigaan menghasilkan penilaian. Curiga ini adalah asumsi negatif dalam diri seseorang. Jika curiga dalam bentuk praduga masih mudah diobati, namun curiga yang cepat menghakimi merupakan  kesalahan yang sungguh fatal. Ada orang yang sulit menerima kenyataan sekali dihianayi seukur-umur tak akan beri kepercayaan. Sekalipun ada pertobatan namun jika kepercayaan sudah dihianayi maka akan sulit kepercayaan yang sama akan diberikan. 

Orang yang bekerja dengan penuh curiga akan membuat pekerjaan amburadul, tidak seperti yang harapkan bahkan mendatangkan berbagai kesusahan yang merugikan. 


*Cerita Kura-kura*

Saya jadi ingat cerita kura-kura yang hendak pergi jalan menikmati liburan mereka: kura-kura pertama membawa makanan yang enak dan lezat untuk dinikmati bersama. Kura-kura kedua membawa tikar dan tenda yang hendak digunakan. Kura-kura ketiga tidak membawa apa-apa, walau pun demikian mereka sepakat dan berjalan. Belum lama mereka jalan mendung pun tiba, mumpung masih belum jauh mereka sepakat agar ada yang membawa payung. Maka tugas mengambil payung diberikan kepada kura-kura ketiga. Dia pun meyanggupinya dan pergi. Jam pun berlalu kura-kura ketiga belum datang, tunggu demi tunggu sampai sore dan hari hampir malam kura-kura ketiga tak kunjung bawa payung. Tahu kah anda yang dikerjakan kura-kura ketiga: bukan pergi mengambil payung, namun bersembunyi di balik semak mengamati apakah kura-kura menikmati makanan yang dibawa dan tak menyisakan buatnya? Curiga membuat mereka sengsara dan tak jadi menikmati liburan.


*Pelayanan adalah kepercayaan*

Tuhan telah mempercayakan tugas pelayanan kepada rasul untuk memberitakan rahasia Allah. Mereka melakukan tugas tersebut dengan penuh tanggungjawab. Namun dalam pelayanan yang mereka lakukan selalu ada hambatan: kucurigaan bahkan dihakimi dengan pikiran yang macam-macam. Hal ini dialami oleh Paulus di Korint, jemaat Korint yang dirundung masalah perpecahan sangat dekat dengan menghakimi sesama. Memggap diri benar yangnlain salah, mengganggap diri pintar dan berhikmat yang lain bodoh dan berbagai penilaian yang menyeaatkan sesama. Termasuk kepada Paulus. Paulus dinilai bukan rasul, karena bukan salahbsatu dari kedua belas murid. Paulus dalam renungan harian ini menegaskan bahwa tugas-tugas yang diterimanya adalah langsung dari Yesus Kristus. Ini sebagai bukti bahwa Allah mempercayakan tugas pelayanan itu dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab sebagai hamba Tuhan yang dipercaya.


Bagi Paulus dari semua tugas-tugas pelayanan yang diemban ini merupakan kepercayaan. Dia juga menyebut sebagai Hamba Tuhan yang dipercaya. Sebagai hamba Tuhan, Paulus menyadari menerima tugas pelayanan ini bukanlah kemamouan, bukan professi namun sebagai amanah dan kepercayaan dari Tuhan Yesus Kristus. 


Sahabat yang baik hati, renungan di pagi ini menyemangati kita melakukan tugas-tugas dengan penuh tanggung jawab. Seperti Hamba Tuhan yang dipercaya dalam pelayanannya yang sungguh-sunguh demikianlah kita semua harus memahami pekerjaan, tugas dan tanggung jawab yang diberi adalah amanah yang dipercayakan pada kita. Ingatlah selalu bahwa menerima kepercayaan adalah tugas mulia, lakukanlah dengan penuh tanggung jawab dan berusaha memberikan buah pekerjaan yang terbaik. Komentar dan penilaian tak akan bisa dihentikan dari semua orang, namun fokuslah pada tugas yang diemban dan lakukan dengan penuh semangat sebagai hamba yang dapat dipercaya.


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Rabu, 12 Januari 2022

JANGAN TAKUT, TUHAN PENOLONG KITA

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6851868758218465/?sfnsn=wiwspmo

FIRMAN TUHAN SUMBER HIDUP

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Kamis, 13 Januari 2022


*“JANGAN TAKUT! TUHAN ADALAH PENOLONG KITA”*


Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan:


Ibrani 13:6 (TB)  Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" 

Hebrews 13:6 (UKJV)  So that we may boldly say, The Lord is my helper, and I will not fear what man shall do unto me.


Setiap orang tentu pernah merasa takut dalam hidupnya. Banyak hal yang dapat membuat kita merasa takut dalam hidup ini. Rasa takut merupakan hal yang wajar dialami oleh setiap orang, terutama ketika nyawanya terancam bahkan ketika kematian telah di depan mata. Kematian adalah sesuatu yang sangat dekat dengan manusia dan setiap saat manusia itu dapat kehilangan nyawanya. Sebagian besar manusia sangat takut jika diperhadapkan dengan kematian. Rasa takut seperti itu juga dapat menghampiri kehidupan orang beriman. Salah satu nasihat penting melalui surat Ibrani ini adalah supaya para pembaca kitab ini, terutama orang Kristen tetap konsisten dalam imannya kepada Yesus Kristus meskipun banyak tantangan kehidupan yang harus dihadapi oleh orang Kristen dalam hidupnya. Para pengikut Kristus diharapkan agar senantiasa saling menguatkan dengan hidup dalam persekutuan orang percaya dan terus bertekun berdoa. 


Daud pernah berdoa: “Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 56:12). Nas Ibrani 13:6 ini merupakan kutipan dari Mazmur 118:6 “Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Dalam Mazmur 56 dan Mazmur 118 ini, kita dapat menyaksikan doa kepercayaan Daud ketika ia menghadapi musuh yaitu orang Filistin yang hendak menangkapnya dalam pelariannya ke Gat (1 Sam 21:10-15). Keselamatan hidup Daud saat itu terancam. Ia tertekan dan ketakutan. Bagaimana tidak? Setelah Daud terlepas dari kejaran raja Saul, ia ditangkap oleh pegawai-pegawai Akhis, raja kota Gat yang merupakan musuh orang Israel. Ancaman demi ancaman terhadap Daud pun datang silih berganti.  Tuhan memberikan hikmat kepada Daud untuk melepaskan dirinya dari tangan raja Akhis saat itu dengan berpura-pura gila di hadapan raja, ia menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya. Akhirnya raja marah terhadap pegawai-pegawainya yang telah membawa Daud ke hadapannya dan membiarkan Daud pergi dan nyawanya selamat. 


Pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan setiap orang. Demikian pula dari pengalaman yang dialami oleh Daud, dia dapat belajar banyak hal dan dapat menyaksikan kasih karunia Allah yang senantiasa menyelamatkan hidupnya. Mari kita mengingat sejenak bagaimana pengalaman Daud sejak ia terpilih dan diurapi menjadi raja atas Israel untuk menggantikan Saul. Saul sangat marah dan membenci Daud, bahkan ingin membunuhnya. Saul selalu mengejar Daud kemanapun Daud pergi karena ingin membunuhnya. Berulang kali Saul mengejar Daud, berulang kali pula Daud pergi melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya. Ada beberapa tempat pelarian Daud saat itu, yaitu Nob, Gat, gua Adulam, Kehila dan gurun Zif (1 Sam.21-24). Sesungguhnya, Daud memiliki kesempatan yang baik untuk membunuh Saul, namun ia tidak melakukannya. Ia tidak mau membunuh Saul, karena ia sangat menghormati Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan (1 Sam.24:7; 11). Berulang kali Saul berusaha membunuh Daud, berulang kali pula Allah menyelamatkankan nyawa Daud. Demikian juga dengan pengalaman Daud ketika di Gat. Ia menyaksikan melalui hikmat yang diberikan oleh Allah kepadaNya, sesungguhnya Allah telah menyelamatkannya. Dengan berpura-pura gila, nyawa Daud diselamatkan oleh Allah. Nas hari ini, Mazmur 56:12 merupakan penggalan dari doa kepercayaan Daud kepada Allah ketika ia dalam kesusahan. Daud berdoa kepada Allah dan memohon keselamatan dariNya. Ia percaya bahwa Allah adalah Penolong yang sejati. Dalam Mazmur 56, Daud beberapa kali mengatakan: aku ini percaya kepadaMu…, kepada Allah aku percaya…. Dua kali Daud menyaksikan hal yang sama dalam perikop ini: Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (ay.5b; 12). Pernyataan ini timbul dari imannya terhadap Allah Sang Penolong sejati. Ini merupakan kesaksian Daud bahwa hanya kepada Allah saja ia percaya dan ketika ia percaya kepada Allah, ia tidak akan takut lagi. Melalui pengalaman Daud ini, kita diarahkan untuk:


a. Percaya Allah

Raja Salomo dalam Amsal 3:5 berkata: “Percayalah kepada Allah dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri”. Percaya Allah tidak boleh setengah hati, tetapi harus dengan segenap hati. Hal ini berarti dengan mempercayai Allah, setiap orang percaya tidak akan bimbang, takut dan khawatir lagi tentang apapun juga karena Allah sumber pertolongan dan kekuatan kita.


b. Jangan takut!

Meskipun takut adalah hal yang wajar dan biasa dialami oleh manusia, tetapi Yesus sering berkata kepada murid-muridNya dan orang banyak: “Jangan takut”!. Ungkapan tersebut merupakan ajakan untuk berani dan percaya kepada pertolongan Allah saja. Ketakutan hanya akan membuat kita pesimis, mudah menyerah dan khawatir dalam menanggapi sesuatu yang terjadi. Daud menyaksikan jika kita percaya kepada Allah, maka kita tidak akan takut lagi, karena Allah adalah perlindungan kita. Ia akan menyelamatkan kita dari serangan musuh, ia akan mengalahkan kekhawatiran kita dan ia akan menyertai kita. Kita terpanggil untuk senantiasa percaya kepadaNya, karena ia akan meluputkan kita dari ancaman. Berserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku (Mazmur 50:15).


Setelah Daud menyatakan iman kepercayaannya terhadap Allah, ia menyaksikan bahwa ia tidak akan takut. Ketika dia percaya kepada Allah, lalu dia mempertanyakan: apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Jawabannya ialah: banyak yang dapat dilakukan oleh sesama kita manusia terhadap diri kita diantaranya: menekan, mengancam, menyakiti, membunuh dan masih banyak hal buruk yang dapat terjadi atas diri kita akibat keinginan orang lain. Namun, ketika kita mempercayakan hidup kita hanya kepada Tuhan, maka kita meyakini tidak seorangpun dapat menyakiti dan mengancam kita karena bersama Tuhan Allah kita dapat melakukan perkara besar. Bersama Tuhan, kita tidak akan takut. Bersama Tuhan, kita akan memperoleh keselamatan. Rasul Paulus berkata: Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31). Allah akan menjadi Pembela dan Penyelamat kita. Jika kita percaya kepada pertolonganNya, kita tidak akan gentar dan tidak akan takut. Tidak seorangpun dapat memusnahkan kita. Marilah kita menyaksikan bahwa Allah saja yang menjadi Penolong bagi kita. Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut… (Mazmur 46:2-4). Percayalah dan jangan takut! Amin.


Salam dari tim penulis: RN

Selasa, 11 Januari 2022

PENDERITAAN PAHIT MENJADI KESELAMATAN

 FIRMAN TUHAN SUMBER HIDUP

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Rabu, 12 Januari 2022


PENDERITAAN YANG PAHIT MENJADI KESELAMATAN


Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan.


Yesaya 38:17 (TB) Sesungguhnya, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku; Engkaulah yang mencegah jiwaku dari lobang kebinasaan. Sebab Engkau telah melemparkan segala dosaku jauh dari hadapan-Mu.


Isaiah 38:17 (KJV) Behold, for peace I had great bitterness: but thou hast in love to my soul delivered it from the pit of corruption: for thou hast cast all my sins behind thy back. 


Sahabat yang baik hati.

Selama kita masih berada di dunia yang fana ini, kita akan mengalami banyak kesusahan dan penderitaan serta sakit penyakit. Berbagai macam perasaan dan respon manusia pada saat mengalami hal tersebut di atas; diantaranya ada yang menuduh Tuhan Allah berbuat tidak adil karena merasa kalau dia sudah melakukan yang baik dan benar serta rajin beribadah, tetapi mengapa masih mengalami penderitaan dan kesusahan yang berat seperti ini?


Hal ini juga yang dialami Hizkia, raja Israel. Hizkia adalah raja yang melakukan apa yang benar di mata TUHAN, seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. Kalau kita membaca dalam 2 Raja-raja 18: 1-8 menjelaskan bahwa Hizkia adalah raja yang taat kepada Tuhan dan melakukan reformasi peribadahan bagi bangsa Israel dengan menjauhkan bukit-bukit pengorbanan, meremukkan tugu-tugu berhala, menebang tiang-tiang berhala dan menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa. Oleh karena ketaatannya maka Hizkia senantiasa disertai Tuhan ke mana pun ia pergi. 


Meskipun Hizkia orang yang taat kepada Tuhan, bukan berarti perjalanan hidup bebas dari masalah atau pencobaan. Dalam masa pemerintahannya Hizkia harus menghadapi ujian berat. Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Dalam 2 Raja-raja 20: 1-7 menyebutkan bahwa Hizkia jatuh sakit dan Tuhan Allah mengutus Yesaya untuk memberitahukan kepada Hizkia agar dia menyampaikan pesan-pesan terakhirnya kepada keluarganya sebab ia akan mati dan tidak akan sembuh lagi. Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. (2 Raja-raja 20: 2-3). Tuhan Allah yang penuh kasih itu mendengar dan menjawab doa Hizkia. Hizkia disembuhkan dari sakitnya bahkan Tuhan Allah memperpanjang usianya lima belas (15) tahun lagi dan Tuhan akan melepaskan dia dan kotanya dari tangan raja Asyur, Tuhan akan memagari kota itu.


Sahabat yang baik hati.

Setelah Hizkia sembuh dari sakitnya, maka dia menuliskan kesaksiannya selama dia mengalami sakit itu hingga Tuhan menyelamatkannya dari deritanya. Kalau kita baca ayat renungan ini dari mulai Yesaya 38: 9-22, ini adalah karangan sebagai kesaksian Hizkia sesudah ia sakit dan sembuh dari penyakitnya. Khususnya dalam renungan hari ini mengatakan bahwa penderitaan yang pahit menjadi keselamatan. Hizkia mengatakan dalam ayat 17: “Sesungguhnya, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku; Engkaulah yang mencegah jiwaku dari lobang kebinasaan. Sebab Engkau telah melemparkan segala dosaku jauh dari hadapan-Mu.”


Sahabat yang baik hati. 

Meskipun Hizkia adalah raja yang taat dan setia kepada Tuhan, namun dia tetap mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang berdosa dan Tuhan telah melemparkan segala dosanya. Dan Hizkia mengatakan bahwa Tuhan telah mengubah penderitaannya menjadi keselamatan baginya. Hal ini jugalah kiranya yang menguatkan dan meneguhkan iman kita kepada Tuhan bahwa Tuhan telah melemparkan segala dosa kita dan memberikan keselamatan kepada kita dengan mengubah penderitaan, baik karena sakit maupun pergumulan lainnya, Tuhan mengubah hal itu menjadi keselamatan bagi kita.  


Sahabatku, selama kita berada di dunia ini, kita akan mengalami kesusahan, penderitaan, pergumulan dan sakit penyakit. Kita bahkan merasa bahwa kita sudah dekat diambang kematian. Namun dalam hal ini kita belajar dari Hizkia, bahwa dengan pergumulan yang berat dan sakit yang di deritanya, dia mengambil sikap untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya. Hizkia menyadari bahwa dia adalah manusia yang berdosa dan dia memohon pengampunan atas dosa-dosanya kepada Tuhan. Dengan demikian, penderitaannya menjadi keselamatannya. 


Oleh karena itu sahabatku, hendaklah kita meneladani iman dan ketaatan Hizkia. Dalam penderitaan kita, dalam sakit kita, dalam pergumulan kita, dan dalam setiap hal yang kita alami, hendaklah kita tetap mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya. Yakinkan hati, pikiran dan iman kita bahwa Tuhan dapat mengubah penderitaan kita menjadi keselamatan bagi kita. Doa dan Keyakinan Hizkia kepada Tuhan telah menyembuhkannya.  


Selama kita mau bertobat dan memohon pengampunan atas dosa-dosa kita maka Tuhan melemparkan segala dosa kita. Penderitaan yang pahit yang kita alami telah mengajari kita bahwa kita adalah manusia yang lemah dan Tuhanlah yang berkuasa atas hidup dan mati kita. Dengan penderitaan itu menumbuhkan iman kita kepada-Nya sehingga kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan hal itulah yang membawa kesembuhan dan keselamatan bagi kita. Maka melalui Firman ini, kita diajak untuk memiliki iman yang teguh, setia dan taat kepada Tuhan, berdoa  dan yakin bahwa kita akan sembuh, dan Tuhan menyelamatkan kita. Amin. 


Sahabatku, Tuhan memberkati Saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup saudara. Amin.


Salam  dari Tim Renungan (JZ)

Senin, 10 Januari 2022

GIAT DALAM PELAYANAN TUHAN

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6841792342559440/?sfnsn=wiwspmo

FIRMAN TUHAN SUMBER KEHIDUPAN

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Selasa, 11 Januari 2022


*GIAT DALAM PEKERJAAN TUHAN*


Sahabat yang baik hati, Marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan


1 Korintus 15:58 (TB)  Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.


1 Corinthians 15:58 (RWV)  Therefore, my beloved brethren, be ye steadfast, unmoveable, always abounding in the work of the Lord, forasmuch as ye know that your labour is not in vain in the Lord.


1 Korintus Pasal 15 merupakan penjelasan Paulus akan arti kematian Yesus Kristus dalam iman kekristenan. Yesus Kristus telah mati dan bangkit membuktikan bahwa Yesus Kristus telah mengalahkan maut. Kebangkitan Kristus merupakan kemenangan atas kematian maut telah dikalahkan dan kuasa maut telah bertekuk di dalam Yesus Kiratus. Maut tidak berkuasa lagi atas hidup manusia. Kristus telah mengalahkan yang dapat binasa agar orang yang mati di dalam Tuhan beroleh hidup yang tidak dapat binasa.  1 Korintus 15:54-55 (TB)  Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.  

Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" 


Jika oleh kejatuhan Adam dalam dosa, kematian telah memasuki manusia, maka oleh Kristus kita beroleh kehidupan yang kekal.


Apa yang membuat Paulus begitu panjang lebar menjelaskan arti kematian dan kebangkitan Kristus? Bagi Paulus ada tugas dan tanggung jawab orang yang telah memahami dan mengerti arti kematian Kristus di dalam hidupnya? Dalam akhir pasal 15 ini disebutkan ada tiga hal, tugas orang percaya yang menerima kematian Kristus:


1. Berdiri Teguh

Beridiri teguh suatu sikap yang kuat dia atas suatu keyakinan yang tidak dapat dirobah. Suatu sikap yang teguh dan tidak dapat digeser oleh apapun sekalipun diancam oleh nyawa sekalipun. Seperti contoh, pengalaman gereja mula-mula, sekalipun diancam untuk dibunuh, dibakar hidup-hidup dan dimasukkan ke penjara mereka tidak pernah berubah. Mereka lebih baik mati martyr demi mempertahankan iman mereka. Ada ungkapan yang pernah disampaikan oleh Marthin Luther saat menghadiri sidang akuisisi: "Here I Stand, I cannot do other". Disini saya berdiri, saya tidak dapat melakukan yang lain. Saat itu Marthin Luther dipaksa untuk menarik seluruh dalil-dalilnya jika tidak dia akan dihukum mati. Marthin Luther berdiri teguh diatas keyakinannya dan tidak mundur sedikit pun. 


Demikianlah pendirian iman orang percaya, tlberdiri diatas suatu keyakinan yang tidak dapat digeser atau digoncang oleh apapun. Ibarat suatu fondasi bangunan yang diletakkan diatas batu alas, berdiri kokoh tak tergoyahkan. 


2. Tidak goyah

Jika berdiri teguh didasarkan pada prinsip (internal), maka tidak goyah berarti tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Sedikit pun tidak goyah oleh goncangan-goncangan atau pengaruh dari luar. Seorang yang  berdiri kokoh tidak dapat berubah pendirian sekalipun ada rayuan, iming-iming, janji-janji, tekanan, intimidasi dan ancaman namun tetap tidak goyah.


Demikianlah setiap orang percaya akan kematian dan kebangkitan Kristus yang telah menyeberangkan manusia dari maut kepada kehidupan yang kekal. Apapun yang mempengaruhi keyakinannya maka tidak bisa dirubah dan digoyahkan apapun. Suatu prinsip yang kuat dari dalam diri sendiri dan tidak dapat digoyahkan oleh faktor-faktor eksternal.


3. Giat dalam pekerjaan Tuhan

Memiliki prinsip kuat tidak cukup, namun Paulus menambahkan bahwa seorang yang percaya itu memiliki Missi dalam hidupnya, yaitu: giat dalam pekerjaan Tuhan.


Setiap orang percaya memiliki tugas panggilan, panggilan umum dan panggilan khusus panggilan umum setiap orang percaya bertugas dan berkeaajiban menjadi garam dan terang dunia, memukiakan Allah dalam hidupnya serta mempersembahkan apa yang ada pada kita demi kemuliaan Allah.


Panggilan khusus yakni panggilan melalui pekerjaan dan pelayanan yang diberikan pada setiap orang. Kita percaya ada tugas dan tanggung jawab khusus yang di erikan Tuhan kepada masing-masing pribadi di dalam hidupnya. Misalnya, jika seorang pelayanan menerima tahbisan pelayanan maka jabatan pelayanannya harus diabdikan dengan sungguh-sungguh. Jika seorang memiliki talent khusus dan profesional dalam pekerjaan tertentu mari diabdikan untuk kemuliaan nama Tuhan. Sehingga semua orang melalui pemberian yang unik dan khusus pada diri masing-masing dapat diabdikan untu pekerjaan Tuhan. 


Sahabat yang baik hati! Dalam renungan hari ini, Paulus mengajak bahwa setiap orang Kristen yang memahami arti dan makna kematian dan kebangkitan Kristus akan memiliki keyakinan yang kuat dengan berdiri teguh, tidak goyah dan semakin giat di dalam pekerjaan Tuhan. 

Selamat bertugas dan mengambil bagian dalam missio demi demi kemuliaan bagi nama Tuhan. 


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Minggu, 09 Januari 2022

BIBIR YANG BERSIH UNTUK MENYEMBAH ALLAH

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6836951649710176/?sfnsn=wiwspmo

FIRMAN TUHAN SUMBER HIDUP

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Senin, 10 Januari  2022


*ALLAH MENYUCIKAN PERKATAAN UNTUK MENYEMBAH DIA*


Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan.


 Zefanya 3:9 (TB)  “Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu 

Zephaniah 3:9 (NKJV) “For then I will restore to the peoples a pure language, That they all may call on the name of the Lord,

To serve Him with one accord.


Membiasakan sesuatu yang salah memungkinkan orang menganggapnya menjadi sesuatu yang benar. Sehingga sering terdengar ungkapan “sudah biasa atau songon na somal i ma” sementara kita mengetahui bahwa pada dasarnya kebiasaan itu adalah sesuatu yang salah. Hal ini juga sering terjadi dalam kehidupan beragama atau bergereja, karena sesuatu hal sudah biasa dilakukan atau sudah menjadi tradisi sehingga dianggap menjadi sesuatu yang benar dan menjadi dilestarikan dan dianggap menjadi suatu kebenaran. 


Sahabat yang baik hati, demikianlah yang terjadi saat itu di Yerusalem. Kota Allah itu, dan umat Allah sendiri, sudah menjadi “tercemar” – sama jahatnya dengan tetangga-tetangga mereka yang tidak mengenal Allah. Seolah-olah tidak apa-apa melakukan penyembahan kepada berhala yang disembah oleh bangsa tetangga mereka sekaligus melakukan penyembahan atau beribadah kepada Allah Israel. Bangsa itu pura-pura menyembah dan melayani Allah, tetapi di dalam hati mereka menolak Allah dan terus merasa puas dengan dosa-dosa mereka. 


Ketika mereka diingatkan akan hukuman akibat dosa-dosa mereka, dimana sebelumnya kepada mereka diserukan tentang pertobatan, mereka sulit untuk menerimanya dan tetap melakukan hal yang sudah lebih banyak mencemari mereka yaitu pengaruh dari bangsa di sekitar mereka. Menjadi sulit mendengarkan suara kebenaran ketika kita sudah tidak memiliki kepedulian terhadap kebenaran dan menganggap apa yang biasa dilakukan adalah suatu kebenaran. 


Di tengah keadaan yang demikian, Allah juga menyuarakan kepada umatNya bahwa saatnya akan tiba penghakiman. Allah akan menghakimi semua orang sesuai dengan perbuatan mereka. keadilan akan menang; para pelaku kejahatan akan dihukum; dan orang-orang yang taat akan diberkati. Bukan hanya sekedar penghakiman dan penghukuman yang sedang disuarakan oleh Allah melalui nabiNya, tetapi juga menyuarakan keselamatan dan tindakanNya adalah karena kasihNya terhadap umatNya. Allah akan bertindak yaitu dengan menyucikan perkataan, dengan istilah “Allah akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa yakni bibir yang bersih” artinya Allah yang akan menyucikan setiap perkataan-perkataan dari umatNya yang berasal dari hati yang disucikan oleh Allah sendiri. Dan tujuan dari bibir yang bersih ini adalah untuk sekalian umat Allah memanggil nama Tuhan dan beribadah kepada Allah dengan bahu-membahu. 

Perkataan yang disucikan oleh Allah dan yang berasal dari hati yang disucikan oleh Allah juga tentunya akan menuntun kita kepada penyembahan kepada Allah dengan hati dan perkataan yang bersih. Jauh dari segala kemunafikan sebagaimana yang ditunjukkan oleh mereka yang kelihatannya begitu saleh beribadah dan melayani Allah tetapi pergi juga menyembah dan melayani allah lain seolah-olah hal tersebut adalah sesuatu yang benar menurut mereka, sementara bagi Allah hal demikian adalah merupakan hal yang sangat dibenci oleh Allah. Sebab Allah tidak menginginkan adanya ilah lain. Allah menginginkan umatNya hanya beribadah dan melayani Dia saja. 


Sahabat yang baik hati, jika Allah menegur kita karena dosa dan kesalahan yang kita lakukan hendaknya kita mau dituntun oleh Allah dan bertobat kembali ke jalan yang benar sesuai dengan kehendak Allah. Hendaknya hati kita terbuka untuk disucikan oleh Allah yang berdampak kepada perkataan yang kita ucapkan adalah perkataan yang disucikan oleh Allah. Ketika saatnya akan tiba, ketika masa penghakiman kelak kita didapati sebagai orang yang perkataannya telah disucikan dan nyata melalui kehidupan beribadah kita kepada Allah dan juga kehidupan kita yang saling bahu-membahu dalam peribadahan dan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kehidupan beribadah kita tidak lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Bibir yang bersih atau perkataan yang disucikan oleh Allah serta kehidupan yang bahu-membahu dalam penyembahan kepada Allah juga terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Sahabat yang baik hati, walau keadaan disekitar kita mungkin dicemari oleh kemunafikan tetapi kita percaya Tuhan Allah yang Mahabaik tetap menolong kita untuk setia memperkatakan hal yang benar dan hidup bahu-membahu sebagai wujud hidup peribadahan kita kepada Allah. 

Amin


Salam dari tim penulis: MP

Sabtu, 08 Januari 2022

YESUS ADALAH ANAK ALLAH

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6832415156830492/?sfnsn=wiwspmo

Kotbah Minggu I Stlh Ephiphanias 9 Januari 2022

Nas: Lukas 3:15-17; 21-22


YESUS ADALAH ANAK ALLAH


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, setiap pribadi memiliki ego. Ego itu dalam batasan tertentu bisa positip, ego sejauh mana seseorang memelihara kesadaran diri siapa dia sesungguhnya, dihadapan Allah dan dihadapan sesama. Namun ego itu bisa negatip saat ingin menonjolkan diri dan menganggap diri lebih dari orang lain. Ego yang berlebihan akan mengangkat dirinya lebih tinggi, lebih utama dan lebih penting dari orang lain dan cenderung merendahkan orang lain. Itulah yang disebut dengan egoisme.  Ego yang tidak terkontrol akan menabrak etika, norma dan sopan santun demi pencapaian ego manusia.


*Ego, egoisme dan penguasaan diri*

Alkitab adalah satu dari buku petunjuk bagi manusia agar dapat mengontrol ego manusia. Manusia diberi kuasa agar dapat menguasai diri, diberi nurani agar sadar bahwa orang lain memiliki harkat dan martabat yang sama. Apa yang kita perbuat pada orang lain hal yang sama bisa terjadi pada kita. Semakin tinggi penguasaan diri sesesorang tentu semakin dapat membenamkan ego dan mengutamakan orang lain. Orang pada tahapan ini akan semakin giat menaburkan nilai-nilai universal (universal value), kebaikan universal yang harus dirasakan oleh setiap orang. 


Demikian kotbah Minggu ini, ada satu pelajaran menarik dari tokoh Yohanes Pembaptis. Sekalipun semakin banyak orang yang menyanjung Yohanes Pembaptis, namun Yohanes memiliki sikap yang rendah hati dan menjelaskan siapa dirinya. Dia hanyalah pendahulu Mesias. Dia mengajar dan mempersiapkan para pengikutnya untuk menyambut yang dibelakangnya, yaitu Yesus yang segera hadir dibelakangnya. Yohanes pembaptis tidak sedikit pun mencuri kemuliaan Allah atas apa yang dikerjakannya. 


Yohanes pembaptis membenamkan egonya di dalam Missi Allah. Yohanes Pembaptis mengenal dan menyadari siapa dirinya dan untuk apa dia dipakai oleh Tuhan. Dia adalah pendahulu, yang memberitakan pertobatan agar setiap orang bersiap sedia menerima Yesus Anak Allah, yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan dunia. D


Yohanes pembaptis dalam pelayanannya semula hanya suara sepi di Padang gurun, suara yang berseru-seru untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Seruan pertobatan, sebagai bukti telah menerima pembaharuan budi. Serua Yohanes ini perlahan dan pasti ajaran Yohanes semakin diterima oleh orang banyak, ada banyak orang-orang yang mengikuti ajaran Yohanes pembaptis dan bersedia dibaptis sebagai bukti pertobatan. Ada dari kalangan umum, kalangan Lewi, tentara, dan pemungut cukai. Ajaran Yohanes pembaptis sangat berkesan bagi mereka. Yoahnes Pembaptis bagi mereka guru dan nabi yang berbeda dengan rabbi-rabbi Yahudi bahkan dalam kotbah ini, tidak sedikit dari kalangan pengikutnya menganggap jangan-jangan dia adalah Mesias yang dibuatkan dalam PL.


Sekalipun banyak orang yang telah memuji pekerjaan Yohanes Pembaptis dan tidak sedikit diantara mereka menganggap Yohanes Pembaptis sebagai Mesias yang dijanjikan, Yohanes tidak mencuri kemuliaan Allah, malah dia merendahkan diri dihadapan Allah. Yohanes Pembaptis berkata: membuka tali kasutNya pun aku tak layak. 


*Yohanes pembaptis: fokus pada missi utama*

Pelayanan Yohanes Pembaptis

Untuk memastikan itulah, orang banyak datang bertanya kepada Yohanes Pembaptis, apakah dia Mesias atau akan ada yang akan mereka tunggu. Yohanes menjelaskan tiga hal yang membedakan dirinya dengan Yesus sebagai Mesias.


Yohanes menegaskan tiga perbedaan mendasar antara dirinya dengan Mesias. Pertama, Mesias lebih berkuasa daripadanya (16). Ini menunjukkan perbedaan status. Yohanes hanyalah nabi, ini ditegaskan oleh Yesus sendiri kelak dalam Lukas 7:26. Mesias ialah Allah yang berinkarnasi. Maka, meski hanya melepas tali kasut Mesias pun Yohanes merasa tidak layak!


Kedua, Mesias membaptis dengan Roh Kudus dan api (16), sementara Yohanes hanya mempraktikkan ritual baptisan sebagai lambang pertobatan. Kristuslah yang sungguh-sungguh membawa pertobatan, kelahiran baru, dan pemurnian di dalam hati orang yang percaya. Api dalam konteks PL menunjuk pada pemurnian.


Ketiga, Yohanes datang untuk menegur dosa agar orang bertobat dan menerima Kristus. Namun Kristuslah yang kemudian akan menghakimi mereka yang menolak untuk bertobat (17). Salah satu kasus penolakan itu ialah Herodes. Berbeda dengan orang-orang yang datang kepada Yohanes untuk meminta petunjuk bagaimana menghasilkan buah pertobatan, Herodes justru memenjarakan Yohanes sebagai wujud penolakannya untuk bertobat (19-20).


Jika Yohanes Pembaptis membaptis dengan air maka Yesus akan membaptis dengan roh dan api. Apa artinya ini, baptisan Yohanes merupakan persiapan diri setiap orang, baptisannya hanya dapat membasuh tubuh yang kotor dari debu dan kotoran yang melekat pada tubuh. Tetapi Yesus Anak Allah akan memperbaharui bathin manusia, dari dalam hati roh dan jiwanya. Yesus membaptis dengan api memberikan jawaban bahwa Kristus adalah hakim yang mengadili perbuatan setiap orang dan menentukan dalam kerajaan Sorga. Padanya diberi kunci kehidupan yang kekal dan kematian yang kekal. 


*Kepada-Mulah Aku berkenan: pelantikan Yesus sebagai Mesias - Hamba*

Lukas 3:21-22 (TB)  Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit

dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." 


Ada satu peristiwa yang dicatat saat Yesus dibaptis. Yohanes Pembaptis menyaksikan sendiri bahwa saat Yesus dibaptis ada suatu kesaksian yang luar biasa. Dari sekian banyak orang yang dibaptisnya, Yohanes Pembaptis menemukan sesuatu yang berbeda. Jika orang yang dibaptis Yohanes datang sebagai kesungguhan hati untuk bertobat dan memperbaharui diri, maka berbeda dengan Yesus. saat Yesus dibaptis, langit terbuka dan  Ro Kudis turun dalam rupa burung merpati diatasNya Yesus dan terdengar suara: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan." 


Ats peristiwa ini baptisan Tuhan Yesus bukanlah suatu peristiwa biasa, tetapi suatu perbuatan Allah untuk mendeklarasi atau memproklamirkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan kepadaNyalah Allah berkenan. Yesus akan segera memulai pekerjaan dan pelayananNya di tengah-tengah umatNya. 


Apa yang disamsikan oleh Yohanes Pembaptis saat membaptis Yesus sungguh-sungguh perbuatan Allah. Apa yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis tentang Dia yang dibelakangNya telah digenapi dan Yesus akan memulai pelayananNya untuk memenuhi kehendak Allah di dunia ini. 


Sahabat yang baik hati! Dari kotbah Minggu ini baiklah kita kembali belajar dari Yohanes Pembaptis:

1. Tetaplah tulus dan rendah hati, jangan pernah mencuri kemuliaan Allah atas segala karya dan pekerjaan kita. Jika ada sesuatu yang kita kerjakan dalam pelayanan kita, baiklah semua itu untuk kemuliaan Allah.

2. Ulet dan sabar menjalani tugas dan pekerjaan.  Yohanes Pembaptis awalnya dianggap sepele, dia ibarat suara yang berseru-seru dipasang gurun, tiada orang yang merespon pekerjaannya. Namun tetap ulet dan melaksanakan tugasnya perlahan semakin banyak orang yang datang mendengar dan melaksanakan apa yang disampaikan Yohanes Pembaptis. Dari sini ada suatu pelajaran bahwa pekerjaan yang ulet dan dilakukan dengan konsisten akan berdampak banyak. 

3. Jauhkanlah diri dari pekerjaan yang mendatangkan popularitas dalam pelayanan tetapi berusahalah agar setiap orang menyadari siapa dirinya dan mampu melakukan kehendak Allah

4. Yesus adalah Anak Allah dan kepadaNyalah, Allah berkenan. Pernyataan ini mengajak kita semua, mari mengikut Yesus sang guru dan Yuruselamat kita dengan setia. Di dalam Yesuslah segala kehendak Allah dinyatakan. 


Syalom, Tuhan memberkati kita semua!


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Jumat, 07 Januari 2022

PADA TUHAN ADA PENGAMPUNAN

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6827617280643613/?sfnsn=wiwspmo

FIRMAN TUHAN SUMBER KEHIDUPAN

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Sabtu, 08 Januari 2022


*PADA TUHAN ADA PENGAMPUNAN*


Selamat pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan.


Mazmur 130:4 (TB) :"Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang."


Psalm 130:4 (KJV) :"But there is forgiveness with thee, that thou mayest be feared ." 


Dalam nas hari ini Daud sang pemazmur yang tengah berada dalam jurang penderitaan dan keputusasaan berseru-seru ke hadirat Tuhan untuk mengakui dosa kesalahannya sekaligus memohon kemurahan pengampunan-Nya. Dia yakin bahwa Tuhan panjang sabar serta tidak pernah langsung membuang umat-Nya sekalipun terjatuh ke dalam dosa. Sebaliknya, Tuhan menghendaki orang berdosa bertobat dan berbalik kembali kepada-Nya! Dalam kondisi itu Daud sadar bahwa mungkin saja penderitaan yang dialaminya sebagai akibat dosa pelanggarannya.  Itulah sebabnya ia memohon ampun kepada Tuhan, dan ia berkata, "...pada-Mu ada pengampunan. Lalu, bagaimana dengan kita umat pilihan-Nya saat ini, ketika kita diperhadapkan dalam situasi seperti yang dialami pemazmur, seberapa tulus kita menghampiri Tuhan di dalam kerendahan hati? Apakah kita berdoa dengan kegentaran dan rasa hormat untuk memohon belas kasihan akan pertolongan dan pengampunan yang Ia sediakan bagi umat-Nya? 


Tak bisa dipungkiri bahwa ketika kita jatuh terperosok ke jurang kesusahan dan penderitaan akibat kesalahan atau dosa kita yang kerap membawa kita kepada kekecewaan, kehilangan harapan bahkan putus asa sehingga tidak mampu  keluar dengan  kekuatan sendiri. Dalam keadaan seperti  itu, kita harus segera datang kepada Tuhan memohon pengampunan serta belas kasih pertolongan-Nya guna pemulihan diri kita. Karena Tuhan adalah Maha Pengampun yang tidak pernah menolak orang yang menghampiri-Nya. Hendaklah kita berdoa dengan iman dalam pengharapan. Doa merupakan sarana komunikasi yang terus terbuka bagi umat-Nya di dalam Kristus Yesus. Firman-Nya berkata bahwa jika kita mengaku dosa kita, Ia setia dan adil, Ia akan mengampuni serta membebaskan kita dari segala dosa kita. Kesabaran dan ketekunan dalam menanti-nantikan jawaban Tuhan dalam iman yang teguh merupahan rahasia membuahkan hasil yang mendatangkan berkat. 


Pengampunan bisa menyambung kembali tali kasih yang putus antara kita dengan Allah, atau antar sesama kita, memperbaiki hubungan yang rusak, bahkan sanggup membebaskan seseorang dari sesuatu hukuman. Secara medis pun untuk mendapat pemulihan batin yang dipenuhi rasa amarah, kebencian, dendam, kepahitan, dan semua perasaan negatif yang kita simpan terhadap sesama hanyalah melalui pintu pengampunan. Dan kita sendiripun sudah memperoleh kasih pengampunan Allah demi keselamatan kita dengan harga tak ternilai yang telah dikorbankan Yesus Kristus di Kalvari. Sejalan dengan itulah, kita juga dituntut untuk memberi pengampunan terhadap sesama yang bersalah kepada kita. Seperti kita ikrarkan di setiap menaikkan "Doa Bapa Kami": "….Ampunilah kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami…." Artinya, memberi pengampunan kepada sesama merupakan janji dan keharusan bagi kristiani sejati. Itupun belumlah cukup. Harus pula membalas kejahatannya dengan kebaikan, serta mengasihi bahkan berdoa untuk mereka sekaligus memberkati orang yang menganiaya dan menyakiti kita. Namun dalam kenyataannya memang tidak gampang memaafkan dan mengampuni dengan tulus seseorang yang telah menyakiti hati apalagi menyengsarakan hidup kita. Sekalipun itu sahabat kita, famili kita, rekan kerja kita, atau lainnya. Namun landasan pegangan kita berkenaan dengan pengampunan, Matius 18:21-22 mengatakan: "Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?  Sampai tujuh kali? "  Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Artinya, itu berarti tanpa batas! Bahkan Alkitab dengan tegas mengatakan konsekuensi jika tak menjalankannya: "Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Mark.11:26). 


Sahabat yang baik! mari belajar dari apa yang telah Pemazmur lakukan ketika ia berada dalam jurang masalah, tidak larut tenggelam dalam ratapan kesia-siaan dan keputusasaan. Dia bangkit berseru kepada Tuhan dalam doa serta bertobat mengakui kesalahan dengan kerendahan hati dalam harap. Ia sabar menantikan datangnya belas kasihan akan pertolongan Tuhan yang berkuasa memulihkan keadaan dari ragam persoalan yang melanda kehidupan umat-Nya. Kasih karunia pengampunan yang kita terima dari Allah sangat mahal harganya yang harus kita syukuri! Kita juga harus rela dengan tulus memaafkan dan memberi belas kasih serta kemurahan kepada sesama yang bersalah kepada kita sebagai cerminan kerendahan hati kita. Itu hanya bisa kita lakukan dengan digerakkan oleh kekuatan kasih yang bersumber dari Allah semata.  Oleh karena itu mintalah pengampunan dari Allah seraya lepaskanlah pengampunan kepada sesama seperti yang Tuhan perintahkan, maka mata rohani kita akan terbuka kembali karena firman Tuhan adalah pelita yang menerangi jalan kita. Janganlah bermimpi untuk membalaskan kesalahan sesama, karena pembalasan itu adalah hak Tuhan semata (Rom 12:19 b).


Sahabatku, Tuhan memberkati Saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup Saudara. Amin.


Salam dari tim penulis: TEN

Kamis, 06 Januari 2022

HANYA OLEH KASIH KARUNIA

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6822607071144634/?sfnsn=wiwspmo

FIRMAN TUHAN SUMBER HIDUP

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Jumat, 07 Januari 2022


*HANYA OLEH KASIH KARUNIA*


Selamat Pagi; Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan.


1 Korintus 15:10 (TB) Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. 


1 Corinthians 15:10 (KJV) But by the grace of God I am what I am: and his grace which was bestowed upon me was not in vain; but I laboured more abundantly than they all: yet not I, but the grace of God which was with me.


Sahabat yang baik hati! Ada kalimat dalam bahasa Inggris yang berkata "without God, we're nothing" - tanpa Tuhan kita kita tidak ada. Maka sangatlah penting bagi kita untuk menyadari betul siapa dan dimana posisi kita sebenarnya. Kita memang harus bekerja dan berusaha keras dalam hidup, tetapi tanpa kasih karuniaNya tidak akan ada satupun yang bisa kita capai. Tanpa kasih karuniaNya tidak akan ada pencapaian-pencapaian luar biasa yang bisa kita peroleh. Tanpa Tuhan, kita bukanlah apa-apa. Kita ada sebagaimana diri kita sekarang, itu adalah atas penyertaanNya, atas kasih karuniaNya.


Inilah inti renungan kita pada hari ini, Paulus menyadari betul hal ini dan dia pun menyampaikan "Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku." (1 Korintus 15:10). Aku ada sebagaimana aku ada sekarang, itu adalah hasil kasih karunia Allah, dan semua itu tidak ada yang sia-sia. Kita pun demikian. Kita ada sebagaimana kita sekarang, itu adalah hasil kasih karunia Allah. 


Pada kesempatan lain ia kembali mengingatkan hal yang mirip: "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7). Bukankah berkat, kekuatan atau talenta itu semuanya berasal dari Tuhan? Paulus merupakan hamba Tuhan yang begitu luar biasa dalam mewartakan kabar keselamatan. Tetapi dengan tulus ia mengakui bahwa keberhasilan pelayanannya bukanlah atas hasil keberanian dan kehebatannya. Bukan karena kepintaran, kekuatan dan kesanggupannya saja, melainkan berasal dari karunia Allah yang menyertainya. Maka sudah sepantasnya pula kemuliaan menjadi milik Tuhan dan bukan untuk kita pakai menyombongkan diri di hadapan orang lain.


Yesus berkata: "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). Kita akan berbuah banyak jika kita berada didalam Dia dan Dia berada di dalam kita. Tanpa itu kita bukanlah apa-apa. Ayub mengatakan bahwa manusia itu singkat umurnya. "Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan." (Ayub 14:2). Apalah artinya kita tanpa kasih karunia Tuhan? Maka dari itu kita harus ingat bahwa tidak ada satupun alasan yang bisa kita pakai untuk memegahkan atau menyombongkan diri, merasa hebat ketika kita mengalami keberhasilan dalam berbagai hal. Without God we're nothing.


Sahabat yang baik hati! Ada banyak orang yang jatuh justru disaat mereka mulai merasakan kesuksesan atau keberhasilan. Bahkan di antara orang percaya sekalipun termasuk hamba-hamba Tuhan bisa terjatuh karena kesombongan. Kemuliaan seharusnya menjadi hak Tuhan dan bukan hak kita. Dan lihat Firman Tuhan pun berkata: "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:30). Janganlah kita sampai berani mencuri apa yang menjadi hak Tuhan. Ingatlah bahwa kita ada sebagaimana kita ada sekarang adalah hasil dari kasih karunia Tuhan. Semakin tinggi kita naik, semakin rendah hati pula kita seharusnya. Ingatlah bahwa Roh Kudus hanya bisa bekerja bagi orang yang hatinya dipenuhi kerendahan dan mau dibentuk. Jika kesuksesan hadir hari ini, bersyukurlah dan jangan jadikan itu untuk bersikap angkuh dan lupa diri. Sebaliknya pakailah itu untuk memberkati sesama dan memuliakan Tuhan atas segala kasih karuniaNya yang luar biasa yang telah Dia curahkan atas kita. *Bukan kuat dan hebat kita, tetapihanya oleh kasih karunia Allah yang menjadikan kita sebagaimana kita hari ini*. Amin


Salam Penulis : PS

Rabu, 05 Januari 2022

TUHAN PEMILIK SEGALA SESUATU

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6817003855038289/?sfnsn=wiwspmo

FIRMAN TUHAN SUMBER KEHIDUPAN

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Kamis, 6 Januari 2022


*TUHAN PEMILIK SEGALA SESUATU*


Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan.


1 Tawarikh 29 : 11

Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala.


1 Chronicles 29:11

King James Version

11 Thine, O Lord is the greatness, and the power, and the glory, and the victory, and the majesty: for all that is in the heaven and in the earth is thine; thine is the kingdom, O Lord, and thou art exalted as head above all.


Sahabat yang baik hati, latar belakang nas kita hari ini yaitu perencanaan Daud raja Israel yang besar itu untuk membangun bait suci di Yerusalem. Daud sebetulnya punya keinginan yang kuat agar di jamannya dia hidup realisasi pembangunan bait suci segera terwujud. Namun, rencana atau keinginan raja Daud harus tunduk pada rencana Tuhan yang jauh lebih indah. Tuhan Allah kemudian menetapkan pilihannya kepada anak Daud dari Betseba yaitu raja Salomo (...Itu karena Allah telah berkata, “Bukanlah engkau” (1 Taw. 17:4). Pada akhirnya kita melihat hasil yang sangat memuaskan hasil dari kerjasama Ayah dan Anak.


Daud tidak gagal membangun bait suci, dia telah menyusun semua rencana sebaik mungkin, dia telah menyelesaikan bagiannya. Ia merancang perkakasnya. Ia mengumpulkan bahan-bahannya. Ia mengatur segala sesuatu dan dia didukung oleh rakyatnya dengan penuh sukacita (1Taw. 28:11-19). Sahabat yang baik hati, Tanggapan Daud terhadap penolakan Allah patut dipuji. Daud berfokus pada apa yang akan dilakukan Allah dan bukan pada apa yang tidak dapat dilakukannya (ay.16-25). Ia tetap mengucap syukur dan yakin pada Allah yang empunya segalanya. Oleh karena itu Daud tetap melakukan semua yang dapat dilakukannya dan mengerahkan orang-orang yang cakap untuk mendukung Salomo dalam pembangunan Bait Suci (1Taw. 22).


Sahabat yang baik hati, belajar dari Daud, pernahkah kita merasa bahwa Tuhan kurang mampu/sanggup lagi memenuhi keinginan atau rencana-rencana kita yang besar? Hal ini bisa saja terjadi apabila banyak dari rencana kita di tahun 2021 yang lalu tidak terwujud. Mungkin saja banyak pergumulan yang kita rasakan di mana seolah Tuhan yang "maha" itu terlambat memberikan pertolongan. Nah, sahabat yang baik hati, kita mau disegarkan oleh pengakuan pujian iman raja daud, raja yang besar dan masyur itu. Dalam nas kita ini, Daud memujimuji kebesaran Tuhan walaupun sebetulnya banyak dari rencana dia yang tidak terwujud, banyak kepahitan hidup yang dia alami, ancaman pembunuhan dari musuh-musuh, termasuk dari anaknya Absalon. 


Daud adalah raja yg banyak pergumulan sebelum namanya kemudian diberitakan sebagai raja yang besar, namun kita lihat, pujian atas kebaikan dan kebesaran Tuhan tidak pernah surut dari mulut Daud. Sukacita pujian Daud tetap menggema dalam setiap tindakan, karena itulah dia berhasil membangun kekuatan sebagai pondasi yaitu "KESEHATIAN" umat Tuhan untuk membangun bait suciNya. Dia berhasil membuka pola pikir umat Tuhan bahwa apa yang kita miliki tidak patut kita sombongkan, semua itu kepunyaan Tuhan (1 Taw 29 : 5b Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN?"). Daud yang besar dan jaya, daud yang punya nama masyur dan agung, akhirnya mengaku bahwa semua yang dia capai adalah milik Tuhan. Sahabat yang baik hati, betapa sering manusia lupa diri atas apa yang dia capai. Manusia kemudian bisa menjadi sombong dan melupakan Tuhan. Sebaliknya juga, banyak orang menggadai iman dan harga diri demi kejayaan atau kekayaan, jabatan atau popularitas (namanya masyur diangungkan). 


Mari belajar dari sikap Daud yang terus memuji kebesaran Tuhan dalam setiap rencana hidupnya, dan mengakui bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan Tuhan sehingga kita mampu semakin bersyukur. Dalam kenyataannya, orang- orang yang mampu bersyukur atas kebaikan Tuhanlah yang mampu berbagi dan mau membantu termasuk dalam kemajuan pelayanan kerajaan Tuhan (Gereja).


Sahabat yang baik hati, Sering juga kita harus dapat menerima bahwa pekerjaan yang sangat ingin kita lakukan dalam pelayanan Kristen ternyata bukan yang paling bisa kita kerjakan, dan bukan juga yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan. Mungkin seperti Daud, kita hanya dipanggil untuk melakukan persiapan untuk sesuatu yang jelas jauh lebih agung.” Marilah setia melakukan apa saja yang dapat kita lakukannya bagi pelayanan Tuhan, Ya bisa  saja hanya sebatas fondasi yang kuat bagi orang lain sebagai penerusnya pekerjaan kita. Tetaplah bersyukur. Kiranya kita juga menerima tugas-tugas yang telah ditetapkan Allah untuk kita lakukan dan melayani-Nya dengan hati yang penuh sukacita. Amin.


Salam dari tim penulis: FS

Selasa, 04 Januari 2022

TUHAN PENCIPTA DAN PEMELIHARA

 https://www.facebook.com/216559085082832/posts/6812275245511150/?sfnsn=wiwspmo

FIRMAN TUHAN SUMBER KEHIDUPAN

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Rabu, 5 Jan 2022


TUHAN PENCIPTA DAN PEMELIHARA


Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan.


Yeremia 27:5 (TB)  Akulah yang menjadikan bumi, manusia dan hewan yang ada di atas muka bumi dengan kekuatan-Ku yang besar dan dengan lengan-Ku yang terentang, dan Aku memberikannya kepada orang yang benar di mata-Ku.


Jeremiah 27:5 (RWV)  I have made the earth, the man and the beast that are upon the ground, by my great power and by my outstretched arm, and have given it to whom it seemed right to me.


Meyakinkan orang dalam kebenaran merupakan pekerjaan sulit. Kadang orang lebih yakin pada kabar burung, gosip dan hoax dari pada berita yang sebenarnya. Apalagi di jaman era informasi yang kita kenal di era digital ini. Pemberitaan berita bohong kadang lebih meyakinkan dari berita yang sesungguhnya.


Bagaimana meyakinkan umat Allah atas kebenaran Firman Tuhan? Itulah salah satu tantangan yang dihadapi oleh Yeremia sebagai hamba Tuhan di jaman itu.  Dia menyampaikan kebenaran Firman Tuhan, namun pada saat yang berbeda para nabi palsu memberitakan berita palsu dengan cara yang meyakinkan. Yeremia memberitakan hukuman Tuhan yang segera tiba karena pelanggaran pemimpin, imam dan rakyat.  Mereka akan dibuang ke Babilonia, Allah memakai Nabukadnezar untuk menghukum pelanggaran mereka terhadap perintah Tuhan. Namun pada saat yang sama nabi palsu Hananya dan Pashur memberitakan tidak kan ada hukuman dan umat Allah akan hidup tenang dan tenteram. Mereka tidak percaya dan menutup telinga kepada pemberitaan Yeremia. Nabi palsu ini mendekati istana dan pengaruhi raja agar tidak mendengar nubuatan nabi Yeremia.  Bukan hanya itu, nabi ditangkap, dipukuli dan dimasukkan ke sumur kosong. Semua itu dilakukan agar nabi Yesaya jangan bernubuat lagi di tengah-tengah umat Allah. 


Yeremia adalah hamba Tuhan. Dia tidak menyerah dengan keadaan buruk, dia memotivasi orang banyak agar mendengar kebenaran perintah Tuhan. Yeremia tetap berkotbah memberitakan Kebenaran Allah. Umat Allah akan dihukum dan dibuang ke pembuangan Babel. Pesan ini bukanlah pikiran manusia, tetapi Firman Tuhan. Dialah  Allah Pencipta dan pemelihara kehidupan. Allah penuh kuasa, olehnya segala sesuatu ada; manusia, hewan dan binatang yang ada disekitar kita. Allah penuh dengan kuasa, Allah berdaulat atas segala ciptaanNya. 


Sahabat yang baik hati, Tuhan memberkati saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup ini.


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

DALAM KESUSAHAN TETAP BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN

  Catatan Kotbah Minggu Misericordias Domini Minggu, 19 April 2026 Ev. Habakuk 3:10-19 DALAM KESUSAHAN BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN Selamat Har...