Sabtu, 17 Mei 2025

BERKANTATE KARENA SALING MEMAHAMI DAN MENERIMA

 Kotbah Minggu Kantate,

Minggu, 18 Mei 2025

Ev. Kisah Rasul 11:1-18



BERKANTATE KARENA SALING MEMAHAMI DAN MENERIMA


Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah (Kis 11:18a)


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati nama minggu ini disebut Kantate, artinya menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan. Kantate ini dikutip dari Mazmur 98:1 Ajakan menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan karena setiap hari berkat yang baru kita terima dari Tuhan. 


Apakah nyanyian baru untuk Tuhan pada minggu ini? Dari kotbah Kisah Rasul 11:1-18 ini menyanyikan anugerah Tuhan dalam hidup orang percaya, saling pengertian, salang menerima dan saling mendukung yang satu dengan lainnya karena kita semua sama-sama menerima anugerah dari Tuhan, yaitu keselamatan di dalam Yesus Kristus. Keselamatan bukan hanya ditujukan kepada orang Yahudi tetapi juga kepada segala bangsa. Maka sikap eksclusif dan diskriminatif yang dihidupi oleh Kristen Yahudi bertobat menjadi inklusif dan terbuka menerima saudara-saudaranya non Yahudi menjadi satu persekutuan yang menerima anugerah Allah. Keselamatan adalah anugerah yang diberikan kepada Yahudi dan Non Yahudi. Dalam persekutuan orang percaya tidak ada lagi perbedaan, diskriminasi dan tembok pemisah antara Yahudi dan non Yahudi, namun rasul dan gereja mula-mula saling menerima dan memuji Tuhan. 


1. Dialog jembatan saling menerima


Dalam banyak hal setiap orang bisa berbeda, anak lahir kembar saja bisa berbeda, anak kembar yang sama bisa diidentifikasi berbeda apalagi menyangkat persepsi, sikap dan perilaku. Yahudi adalah kaum yang terbentuk dengan sikap eksklusif. Mereka merasakan berbeda dengan umat lain. Mereka adalah umat pilihan dan Allah menjadikan mereka menjadi umat yang diberkati dan memiliki keistimewaan dibandingkan dengan bangsa asing. Pemahaman seperti ini membuat mereka memiliki pemahaman lebih utama dari yang lain, mereka adalah istimewa dimata Tuhan sedangkan bangsa asing. 


Rasul Petrus sebagai orang Yahudi memahami sikap eksklusif Yahudi, namun dalam perjalanan PI yang dialaminya dia diperhadapakan dengan perjumpaan kreatif dengan Cornelius, seorang perwira Romawi dan dia berlatang belakang bangsa non Yahudi. Kisah Para Rasul 10:2 (TB) Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.

Tidak ada alasan bagi Petrus untuk tidak membaptis Cornelius, maka Petrus menurut petunjukka Allah datang ke rumahnya. Petrus membaptis dia dan seisi rumahnya. Peristiwa itu diketahui oleh saudaranya kaum Yahudi sehingga Petrus dikecam karena telah singgah di rumah non Yahudi dan membaptis mereka. 


Petrus dengan lembut menjelaskan pengalaman rohani yang dia alami sebagaimana diceritakan dalam teks kotbah Minggu ini. Petrus akhirnya mengerti maksud Allah dan itulah yang dikehendaki Allah, menerima saudara non Yahudi. Inilah jembatan dialog, sikap sinis tidak ditutup dengan hanya mengecam dan membully, tetapi bersedia mendengar dan menjelaskan pengalaman dan persepsi masing-masing. Dialogis menghadapi perbedaan

Kerap kali kehendak Tuhan begitu sulit kita terima. Bagaimanapun juga, seharusnya kita merespons kehendak Allah secara positif.


Petrus menyaksikan penglihatan yang ia alami, dan bagaimana Tuhan menuntunnya kepada Kornelius, serta menjelaskan arti penglihatan itu bahwa Tuhan juga mengasihi bangsa-bangsa lain (5-17). Peristiwa itu terjadi sampai tiga kali, bersamaan dengan itu orang yang diperintahkan menjemput Petrus sudah berada di depan pintunya. Ini alasan yang sesungguhnya bahwa Petrus diyakinkan bahwa orang non Yahudi dapat diterima dalam persekutuan orang percaya. Akhirnya Petrus membaptis Cornelius seorang perwira Romawi. Di dalam Yesus Kristus kita semua adalah Anak-anak Allah yang dikuduskan melalui pengorbanan Yesus Kristus. Penebusan Kristus, non Yahudi diterima sebagai anak-anak Abraham karena anak perjanjian. Mewarisi keselamatan di dalam diri Yesus Kristus. 


2. Berkantate karena pertobatan dan saling menerima


Kesabaran ras Petrus menjelaskan pengalaman kepada rasul-rasul lainnya dan kaumnya menghasilkan resolusi yang baik. Dialog Petrus dengan Tuhan dalam hal makanan yang dihidangkan padanya akhirnya mau mengikuti kehendak Allah. Petrus tidak.memperrahankan pendapatnya dan apa yang dianggaonya benar. Petrus berkenan berubah dan mengikuti kehendak Allah.  


Pengalaman itu juga yang dijelaskan Petrus, sekalipun awalnya kaum Yahudi sulit menerima sikap Petrus namun karena setelah mereka mengerri kehendak Allah maka mereka saling menerima san bersama-sama memuliakan Tuhan. Mereka menerima kesaksian Petrus dengan positif. Mereka pun dapat menyimpulkan secara tepat, yaitu Allah juga mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada kehidupan bangsa-bangsa lain (18). 


Dari perikop ini, kita dapat belajar tiga hal penting, yakni:

a. Jika kita di posisi sebagai orang yang menyampaikan kehendak Allah, dan ada pendengar yang meminta tanggung jawab, maka kita harus mau bertanggung jawab secara sabar dan lemah lembut. Sama seperti yang dilakukan oleh Petrus.

b. Jika kita di posisi sebagai penerima pesan perihal kehendak Allah, sekalipun kita tidak suka dengan isi pesan itu, kita harus merespons secara positif, bukan menyalahkan pesan atau orang yang menyampaikan pesan itu.

c. Kehendak Allah sudah pasti yang terbaik. Oleh karena itu, ketika rasul-rasul mengetahui bahwa penginjilan kepada Kornelius adalah kehendak Allah, mereka menjadi begitu tenang dan bersukacita (18). Hal itu mengindikasikan bahwa mereka tidak ingin melakukan sesuatu di luar kehendak Tuhan.


Pengalaman seperti ini sangat penting, kita hidup saling memahami perbedaan, saling menerima dan hidup di dalam satu persekutuan yang saling membangun. Penerimaan terhadap non Yahudi adalah perubahan yang besar bagi Yahudi menerima saudaranya non Yahudi menjadi satu meja makan, satu persekutuan yang memiliki hak yang sama dan setara yang satu dengan lainnya. 


Persekutuan hang indah akan berkantate, memuji dan memuliakan Allah saat berkenan saling memahami, saling menerima dan saling menghormati.


3. Jangan katakan haram yang dinyatakan Allah halal.

Tidak sedikit orang Kristen ikut berpikir legalistik seperti Yahudi dimana segala sesuatu diperhadapkan dengan "benar atau salah", "halal atau haram". Cara berpikir itu sebenarnya didasari dari pemahaman keagamaan yang legalistik. Segala sesuatu telah diaturkan melalui peraturan formal keagamaan. Peraturan keagamaan itu bertujuan untuk memelihara mereka sebagai umat yang kudus. Segala sesuatu boleh atau tidak boleh diperintahkan atau dilarang menurut peraturan keagamaan. Ada yang memantangkan makanan dan kalau dimakan seolah berdoaa dan tidak selamat.


Dalam PB kita memahami bahwa Kristus datang untuk memenuhi hukum Taurat. Taurat tidak menyelamatkan, Kristuslah yang menyelamatkan. Manusia tidak dapat benar dihadapan Allah oleh pekerjaan Taurat tetapi oleh pembenaran Kristus. Manusia tidak dapat hidup kudus oleh karena memenuhi pantangan-pantangan makanan tertentu. Manusia dikuduskan hanya oleh karena penebusan Kristus. 


Tentang hal haram dan halal Yesus mengajarkan bahwa Matius 15:11 (TB) "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. 


Pergumulan Petrus soal haram dan halal dalam renungan ini bukanlah soal makanan. Tetapi boleh atau tidakkah orang non Yahudi menerima baptisan? Atau dengan pertanyaan lain, apakah orang non Yahudi dapat diterima menjadi warga komunitas orang percaya? Di kalangan para rasul masih ada perdebatan sebahagian berpendapat keselamatan adalah hnya kepada Yahudi sedangkan bangsa di luar non Yahudi dianggap nazis? Dalam pandangan Yudaisme hanya Yahudi umat yang diberkati dan layak menerima keselamatan. Sementara Paulus melawan pandangan Yudaisme, keselamatan itu universal. Keselamatan itu menge ukan hanya untuk kaum Yahudi tetapi keada segala bangsa. Paukau dipanggil menjadi rasul justru dia dipanggil Tuhan untuk kabar baik bagi non Yahudi.


Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram! Inilah sikap Kristen yang menekankan harus menghargai orang lain. Segala bangsa berhak menerima keselamatan asal menerima Yesus Kristus sebagai Yuruselamat. Orang Kristen tidak diperkenankan menghakimi sesama dan mengatakan dirinya kudus yang lain haram. Semua adalah umat Allah yang kudus karena telah dikuduskan oleh Kristus.


Demikianlah juga dengan hal makanan atau minuman. Makanan dan minuman tidak membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Sebagai orang Kristen memang harus memiliki etika makan: makan teratur, tidak tamak, mendukung kesehatan dan tidak menjadi sandungan bagi orang lain. Roma 14:20 (TB) Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!


Semua yang diciptakan Allah dapat kita nikmati di dalam syukur. 1 Timotius 4:4 (TB) Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur.


Sahabat yang baik hati! 

Marilah kita berkantate karena Tuhan telah menganurahkan keselamatan kepada kita tanpa syarat. Keselamatan adalah anugrah yang cuma-cuma di dalam Yesus Kristus. Tidak ada syarat lain yang ditambahkan sehingga dengan syarat itu kita selamat. Keselamatan bukan karwna kemamouan manusia memenuhi tuntutan Taurat, bukan oula karena jasa dan kebaikan kita. Anugerah itu pemberian Allah secara gratis yang harus disyukur dan dipertanggungjawabkan.


Marilah kita berkantate dengan hidup yang dipenuhi roh yang memahami, mengerti dan menerima orang lain. Hidup yang saling mengjormati dan membangun orang lain. Hidup yang dipenuhi roh pengertian akan jauh dari ego dan chauvenisme (kesombongan) yang mengganggp diri lebih istimewa dibanding dengan yang lain. Jauhkanlah roh eksklusif dan sikap diskriminatif mari membangun roh kebersamaan.


Marilah kita berkantate dengan pikiran merdeka, jauh dari intimidasi, bully dan kecaman kepada yang lain karena menganggap diri lebih benar, lebih saleh dan lebih berharga dari orang lain. Jika pun ada berkat yang lebih yang dianugerahkan Tuhan, mari kita persembahkan untuk membangun kebersamaan. Tuhan memberkati!


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...