Sabtu, 31 Mei 2025

ITU RAJA

 Kotbah Minggu EXAUDI

Minggu 1 Juni 2025

Ev. Mazmur 97: 1-12



TUHAN ITU RAJA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kita telah memasuki Minggu Exaudi. Exaudi artinya Allah dimuliakan, umat Allah memuji-muji dan memuliakan Allah. Minggu Exaudi ini ditempatkan setelah hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Hari Kenaikan menjadi penting, Yesus kembali ke Sorga di dalam.kemuliaan duduk di sebelah Kanaan Allah. Peristiwa ini menjadi sukacita bagi orang percaya karena telah memastikan tempat bagi orang percaya di dalam Kerajaan Sorga. Maka sambutan kita di Minggu exaudi ini adalah menaikkan pujian kepada Tuhan. Segenap umat manusia dan seluruh ciptaan bersukacita dan beriang-riang memuji dan memuliakan Allah.


Kotbah Minggu ini, tertulis di dalam Mazmur 97:1-12, mazmur ini merupakan mazmur raja, Tuhan itu raja yang berdaulat atas segala alam. Allah itu raja yang memerintah dan menghakimi secara adil. Dia mengangkat martabat manusia dan menjadikannya menjadi anak-anak raja. Anak-anak Tuhan hidup dalam kebenaran dan benci kejahatan. Dengan mazmur 97 ini kita diajak untuk memuliakan Tuhan sebagai raja dan kita anak-anaknya hidup di dalam kebenaran. 


Sekarang marilah kita ambil beberapa pelajaran penting di dalam kotbah minggu ini yang dapat kita twrapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. 


1. Allah itu Raja: berdaulat atas seluruh alam ciptaan


Mazmur 97:1 (TB) TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! 


Akhir-akhir ini seruan mengenai lingkungan hidup terus disuarakan oleh gereja di sumatera utara, khususnya Ephorus HKBP secara terbuka menyuarakan tutup TPL sebagai seruan kepedulian lingkungan. Seruan ini terus bergulir hingga kini oleh masyarakat di Tapanuli agar masayarakat, pemerintah pusat dan daerah agar mendesak kebijakan yang pro lingkungan hidup. Ada pula Doa peduli Tanah Batak di Samosir dan di Tatutung debagai bentuk kepedulian akan alam yang telah rusak. Dengan doa-doa ino diharapkan ada kepedulian dari semua elemen masyarakat dan pemerintah serta pihak terkait untuk memelihara alam ciptaan Tuhan ini. 


Sebelumnya telah terjadi berturut-turut bencana alam, banjir di Bekasi, banjir di Pelabuhan ratu, beberapa titik di Jawa Tengah (Kaliwungu, Grobogan dll), di Parapat dan tempat lainnya yang membuat kita sangat prihatin atas kerusakan lingkungan ini. Bencana alam yang kita sebutkan diatas tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan akibat ulah manusia. Ulah manusia yang merusak alam untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi mengorbankan alam dan banyak pihak. Hewan dan mahkluk hidup lainnya terusir dari habitatnya. 


Tuhan memberikan mandat bagi manusia untuk mengelola alam, berusaha untuk memenuhi kebutuhannya namun sekaligus diberikan tanggungjawab untuk memelihara alam. Disinilah kita diingatkan dalam kotbah Minggu ini, kita diingatkan akan Tuhan sebagai Raja, yang memerintah dan berdaulat atas segala alam ciptaan. Alam ini merupakan rumah segala makhluk ciptaan. Allah raja atas segala alam mengingatkan kita akan mandat dan tanggung jawab manusia terhadap alam.


Dalam kotbah ini beberapa element alam disebutkan: bumi, pulau, angin gunung dan lainnya merukan unsur yang harus dirawat dimana semua mahklik dapat bersukacita dan beriaria memuji Tuhan sang raja. Kalaj bumi makin panas, pulau-pulau tercemar oleh limbah, udara tidak bersih bagaimana kita bersukacita? 


Sebagai contoh selamat pandemi, kita diwajibkan menggunakan masker. Saat beribadah juga kita menghunakan masker. Bagaimana seseorang menyanyi bagi Tuhan namun mulut kita harus ditutup dengan masker? Mungkin bisa tetapi sudah ada yang membatasi dan mengahalanhinya. Demikian dengan alam yang rusak akan menjadi hambatan bagi kita saat memiluliakan Tuhan karwna kita gagal melakukan amanat dan tanggung jawab memelihara alam. Bumi, pulau dan gunung-gunung akan bersukacita jika alam ini terawat dengan baik dan rumah bagi semua. 


Tuhan raja dan berdaulat atas segala alam, bumi, pulau, gunung-gunung akan bersukacita jika diikuti dengan gaya hidup kita yang ramah lingkungan. Krisis ekologi mengundang kita bersama baik skala global maupun secara lokal terkhusus gaya hidup pribadi kita yang semakin ramah lingkungan. Apalah artinya kita menyuarakan kirisi ekologi, namun gaya hidup kita tidak semakin ramah lingkungan.


2. Tuhan Raja sukacita bagi umat manusia


Tuhan raja sukacita bagi jemaat, karena kita telah diangkatnya menjadi anak-anakNya. Anak-anak Tuhan adalah anak-anak raja yang menyembah dan mempercayai Tuhan. Tidak ada ilah lain dan Tuhan adalah satu-satunya Allah yang disembah dan di puji.


Mazmur 22:28 (TB) (22-29) Sebab TUHANlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa. 


Pengakuan Tuhan adalah raja, mengingatjan kita tentang komitment bagi orang percaya untuk percaya dan setia kepada Tuhan. Dialah satu-satunya Allah yang disembah dan dipuja; pencipta, pemelihara dan pemberi kehidupan kita. Tidak ada ilah lain hang dipercayai memberikan kehidupan. Hanya Tuhan sajalah yang kita puji dan sembah. Dialah raja yang memerintah atas segala alam. Dialah Tuhan dan raja diatas segala raja. 

Pengakuan ini mengingatkan kita akan perintah Tuhan yang setia dan akan menjauhkan segala berhala dalam hidup ini. 


Tuhan itu raja sukacita bagi umat, mengingatkan kita kemahakuasaan Tuhan atas segala sesuatu. Pengalaman Israel berhadapan dengan raja-raja sekitar menjadi pelajaran berharha. Mereka pernah hidup di dalam penindasan raja asing seperti di Mesir, ti ggal di Kanaan dan berhadapan dengan raja-raja sekitar Flistin, Kanani, Amori dll. Saat mereka terhimpit mereka berseru-seru kepada Allah dan Allah menolong mereka dan membebaskan mereka dari penindasan asing. Termasuk pembuangan Babel, umat Allah tidak akan mungkin bebas karena kekuasaan dan kekuatan Babelonia, namun Tuhan bertindak memakai Raja Koresh membebaskan umat Allah dan mengembalikan umat Allah ke Yerusalem. Tuhan memerintah atas umatNya dan dapat memakai siapa saja untuk memelihara umatNya


Tuhan itu raja mendatangkan sukacita bagi umat Allah. Allah memelihara umutNya dan membebaskan mereka dari berbagai tekanan bangsa asing. Hal inilah yang harus kita syukuri dan percayai bahwa Tuhan itu raja, yang memelihara dan menyertai umatNya. Tuhan tidak membiarkan kita hidup di dalam penindasan dan penguasaan asing. Tuhan itu raja yang memerintah dan mengadili bahsa-bangsa. Tuhan sendirilah yang menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Segala bangsa dan segala raja akan bertekuk lutut di hadapan Tuhan.


Tuhan itu raja sukacita bagi umat Allah. Kita ditetapkan menjadi anak-anak Allah, status ini menjadikan kita anak Raja tetapkan menjadi ahli waris di dalam kerajaan Allah. Orang percaya ditetapkan menjadi ahli waris dalam Kerajaan Allah bukan karena kita keturunan Abraham, tetapi karena kita percaya kepada Yesus Kristus. 


3. Anak-anak raja hidup benar dan membenci kejahatan


Pada bagian ketiga ini kita diingatkan akan etika hidup anak-anak Tuhan. Sebagai "anak-anak raja" kita diingatkan untuk hidup saleh, hidup di dalam kebenaran dan benci kejahatan. Mazmur 97:12 (TB) Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus. 


Jika kita memperhatikan pemberian Perintah Tuhan kepada Musa di Sinai, tujuannya adalah Allah memberikan perintah kepada umatNya agar mereka berbeda dengan bangsa lain. Allah membentuk mereka menjadi umat yang kudus, umat yang memelihara perintah Tuhan dan jauh dari segala perbuatan fasik. Hal inilah yang diingatkan oelh Kotbah Minggu ini, Kita meninggikan Tuhan sebagai raja, maka sekaligus menjadi komitmen untuk memelihara dan menjaga diri sebagai anak-anak Allah, hidup di dalam kebenaran dan setia memelihara perintah Tuhan. 


Pada ayat 10 Pemazmur menyebutkan dengan istilah "orang-orang yang mengasihi Tuhan". Mazmur 97:10 (TB) Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik. 


Orang-orang yang mengasihi Tuhan harus berbeda dengan anak-anak kegelapan. Anak-anak Tuhan hidup seturut dengan kehendak Allah, taat dan setiap di dalam perintah Tuhan. 


Bagaimana kita menyandang status anak-anak Tuhan, anak Raja alam semesta namun kita tidak hidup menurut kehendakNya. Jika penguasa dunia dituntut ferlebih dahulu melakukan apa yang dokehendakinya, demikianlah Tuhan menghendaki kita anak-anakNya hidup menurut kehendak Allah.


Sahabatku, Tuhan memberkati kita semua dan diberi kekuatan untukmelakukan FirmanNya seturut dengan kehendakNya. Amen.


Salam

Pdt Nekson M Simanjuntak

Rabu, 28 Mei 2025

YESUS NAIK KE SORGA DUDUK DI SEBELAH KANAN ALLAH

 Kotbah Ibada Memperingati

HARI KENAIKAN TUHAN YESUS

Kamis, 29 Mei 2025

Ev. Efesus 1:15-23



YESUS NAIK KE SORGA DUDUK DI SEBELAH KANAN ALLAH


Selamat Hari Kenaikan bagi kita semua! Sahabat yang baik hati, hari ini seluruh umat Kristen bersukacita karena memperingati hari Kenaikan Tuhan Yesus. Peristiwa kenaikan ini memiliki makna yang sangat penting dalam iman kekristenan. Yesus naik ke sorga duduk di sebelah Kanan Allah. Kenaikan ini penting menjelaskan hakekat Ilahi Yesus, Dia kembali ke Sorga setelah melakukan missiNya di dunia ini. Yesus naik ke sorga bukan suatu kesedihan bagi murid karena meninggalkan meninggalkan mereka namun suatu sukacita karena Yesus naik ke sorga menyediakan tempat bagi orsng percaya. Yesus tidak meninggalkan pengikutnya tetapi menyertai orang percaya di dunia ini dengan kehadiran Roh Kudus. Yesus naik ke sorga bukan perpisahan melainkan mempersiapkan pertemuan dalam jamuan besar di rumah Bapa di Sorga. Dengan demikian kenaikan Tuhan Yesus mengangkat dan menaikkan harkat dan martabat manusia. Manusia tidak hanya berharap di dunia ini, tetapi berharap kepada kehidupan yang kekal bersama Yesus yang telah naik ke Sorga. 


Kotbah pada Ibadah Hari Peringatan Kenaikan ini dari Efesus 1:15-23 berisi tentang sukacita dan doa Paulus kepada Jemaat Efesus, karena pertumbuhan iman dan pertumbuhan kasih yang ada di tengah-tegah jemaat Efesus. Pada kesempatan inilah juga Paulus menjelaskan makna missi Yesus yang sempurna bagi orang percaya. Melalui pelayanan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus telah memenuhi segalanya bagi kita. Hal inilah yang harus dipelihara dalam iman, kasih dan pengahrapan Kristus telah memenuhi segalanya di dalam hidup kita. 


Baiklah kita ambil pelajaran berharga dari kotbah ini:


1. Doa dan syukur karena pertumbuhan iman Jemaat.


Efesus 1:16 (TB) aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, 


Perjumpaan Paulus dengan Jemaat Efesus merupakan pengalaman yang sulit dilupakan oleh Paulus. Bahkan setiap mengingat jemaat Efesus, Paulus menyampaikan syukur dan terus berdoa kepada jemaat Efesus. Selengkapnya dikatakan Efesus 1:15-16 (TB) Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,

aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku, 


Sepertinya ada perubahan yang sangat besar dalam jemaat Efesus setelah Paulus meninggalkan kota ini. Hal ini mengingatkan Paulus ketika berada di kota Efesus, seorang bernama Dimetrius membuat kerusuhan dan huru-hara karena protes terhadap pengajaran Paulus. Bacalah kisahnya dalam Kisah Para Rasul 19:21-42. Dimetrius adalah tukang pembuat patung yang sangat diminati orang Efesus dan rajin menyembah patung-patung tetapi Paulus menjelaskan bahwa Tuhan yang kita kenal di dalam diri Yesus Kristus bukanlah patung buatan manusia. Tetapi Allah di dalam diri Yesus Kristus, yang mati dan dibangkitkan untuk menyematkan manusia. Pengajaran Paulus ini diminati sebahagian dari penduduk Efesus dan menjadi cikal bakal jemaat. Namun Dimetrius dkk membuat kerusuhan dan membuat Paulus harus meninggalkan kota Efesus.


Setelah Paulus meninggalkan kota Efesus, Paulus sangat senang mengingat iman dan kasih jemaat Efesus. Mereka bertumbuh dan menjadi penopang bagi orang-orang Kudus. Mereka menjadi pendukung bagi jemaat mula-mula yang menderita yang dikejar dan dia dianiaya. Apalagi ada Akwila dan Priskila yang baik hati, keluarga Yahudi yang baru pindah dan membuka usaha di Efesus (Kis 18:19), mereka sangat rajin ke rumah ibadat dan membantu pekerjaan dan pelayanan Paulus. 


Mengingat kamu aku bersyukur dan setiap berdoa aku mengingat kamu. Itulah kesan Paulus terhadap jemaat Efesus. Kisah sedih ada di Efesus namun mengingat pertumbuhan iman dan kasih Efesus, Paulus bersyukur dan membawakannya dalam doa syafaat setiap hari. 


Pertumbuhan iman ini disebut Paulus dengan "berhikmat" dan "mata hati terang". Kedua istilah ini hendak menjelaskan keadaan jemaat Efesus dimana mereka bertumbuh semakin dewasa, semakin tahu mana ajaran yang murni dan memisahkan diri ahli-ahli tenung dan gurur-guru palsu di kota itu dan memilih hidup dalam ajaran rasul. Mereka memiliki iman yang tangguh, iman yang dapat dengan jernih membedakan mana ajaran yang benar dan murni. Sehingga mereka bertumbuh dalam pengajaran para rasul, menerima dan memaknai makna pelayanan dan pengorbanan Tuhan Yesus. 


Paulus juga semakin bangga karena pengabdian jemaat Efesus karena mereka terlibat dalam pelayanan membantu orang percaya, berdiakonia dan membantu para rasul dalam memberitakan Injil. Mereka menjadi jemaat penopang bagi pemberitaan Injil, persekutuan yang kuat dan saling menopang. Issu perbedaan tidak menjadi issu di dalam Efesus tetapi lebih kepada transformasi, perubahan hidup dan perilaku orang percaya yang telah hidup di dalam Kristus. Kesatuan jemaat Efesus juga mengingatkan Paulus akan makna kesatuan dan keutuhan gereja sebagai tubuh Kristus. 


Apa yang kita kenang ketika mengingat sahabat lama, tempat pekerjaan yang sudah ditinggalkan? Jika ada pengalaman buruk jangan kutuki pekerjaan yang anda tinggalkan, tapi berdoalah setiap kali mengingat mereka. Siapa tahu seturut dengan perjalanan waktu akan lahir kebaikan-kebaikan sebagaimana anda pikirkan sebelumnya. Ingatkah hal-hal baik, yang positip dan orang-orang yang pernah berbuat baik pada anda. Pasti anda akan bersyukur atas kebaikan hati mereka. Paulus menjadi contoh dalam renungan ini. Sekalipun ada pengalaman buruk di Efesus, namun dia lebih memilih mengingat segala kebaikan yang telah dialaminya di Efesus, dia juga berdoa kepada jemaat Efesus sekalipun kota itu telah dia tinggalkan. Sikap seperti ini akan menjadi berkat bagi orang lain. 


2. Kenaikan Kristus untuk menganugerahkan kemuliaan bagi orang percaya:


Efesus 1:18 (TB) Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,


Kristus Naik ke sorga untuk menyediakan tempat bagi orang percaya. Tempat yang dimaksudkan adalah bersama Bapa di Sorga dalam Kemuliaan. Inilah bagian yang ditentukan Allah bagi orang Percaya, hidup kekal di Sorga, merayakan kemuliaan yang dirayakan bersama-sama orang percaya. 


Jika manusia di dunia ini bergumul: berhadapan dengan penguasa-penguasa atau pemerintah-pemerintah yang menindas orang percaya. Orang percaya tidak berakhir di dunia dalam kesengsaraan dan penderitaan tetapi telah tersedia kehidupan kekal. Orang percaya di dunia ini bisa mendapat hinaan, direndahkan dan berbagai perlakuan yang tidak manusia tetapi di rumah bapa di Sorga manusia akan dianugerahkan kemuliaan dan perlakukan yang penuh hormat dan kasih sayang.  


Disinilah kenaikan Kristus menjadi bahagian yang sangat penting, membuka harapan bagi orang percaya akan masa depan. Kenaikan Kristus pula meneguhkan pengharapan akan masa depan umat Allah. Kristus telah naik ke sorga, masa depan orang percaya tersedia. Karena itu, sekalipun penderitaan, penindasan dan kesengsaraan menimpa hidup orang percaya, setialah di dalam iman. Roh Kudus menyertai dan hidup yang kekal telah disediakan Tuhan.


Efesus telah menjadi contoh dalam pengharapan, iman mereka bertumbuh dan penopang kepada pertumbuhan dan perkembangan Injil. Jemaat Efesus menunjukkan imannya dengan tekun memelihara kehidupan kudus sampai Paulus menyebutkan mereka dengan sebutan "orang-orang kudus di Efesus". Mereka berbuat dan berbuah dengan tindakan kasih bukan hanya di linkungan Efesus tetapi kepada jemaat-jemaat lain.    


3. Kenaikan Kristus memerintah semuanya dan segala sesuatu 


Efesus 1:22-23 (TB) Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. 


Kematian dan kebangkitan Yesus merupakan puncak dari Missi Yesus menyelamatkan dunia dari cengkeraman maut. Maut telah dikalahkan dan orang percaya dimenangkan dengan kuasa kebangkitan Yesus Kristus.

Kebangkitan Kristus puncak kuasa Kristus menahklukkan segala kuasa yang ada. Ini dijelaskan oleh Paulus dalam ayat 22. Di bawah kaki Kristus bertekuk lutut, dan Kristus menjadi kepala dari segala yang ada. Bukan hanya itu Paulus menjelaskan Kenaikan Kristus menjadi kepenuhan sehalanya. Kristus memenuhi semua dan segala sesuatu. 


Saya kutip dari Henry Mattew menjelaskan ayat 22 ini: Dikatakan bahwa Ia didudukkan di sebelah kanan Bapa di sorga, dan seterusnya (ay. Efesus 1:20-21). Yesus Kristus ditinggikan jauh lebih tinggi di atas segalanya, dan diberikan kuasa atas segala sesuatu, yang dibuat tunduk kepada-Nya. Segala kemuliaan dunia yang di atas, serta segala kekuasaan, baik di bumi maupun di sorga, seluruhnya diserahkan kepada Dia. Bapa meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus (ay. Efesus 1:22), sesuai dengan janji itu (Mzm. 110:1). Segala makhluk apa pun tunduk kepada-Nya. Mereka harus sungguh-sungguh taat kepada-Nya atau jatuh di bawah tongkat kerajaan-Nya dan menerima hukuman dari-Nya. Allah mengaruniakan kepada-Nya menjadi Kepala dari segala yang ada. 


Artinya dengan kenaikan Yesus ke Sorga, kita merayakan pemerintahan Kristus atas semua dan segala sesuatu. Kristus akan memerintah dan menghakimi orang yang hidup dan mati. 


Sahabat yang baik hati, tentu banyak makna atau pesan yang dapat kita tangkap dan kita refleksikan dari peristiwa Hari kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Semuanya itu bermuara pada satu hal yaitu jaminan kepada orang percaya dalam menerima anugerah kehidupan yang kekal. Kristus naik ke sorga dan duduk di sebelah Kanan Allah Bapa menjadi jaminan bagi kita akan kepastian memperoleh kehidupan yang kekal. 


Maka dari kotbah ini kita memetik pelajaran :

- Seperti Paulus jandilah pendoa dan orang-orang yang mengucap syukur atas pertumbuhan iman persekutuan orang percaya.

- Mari terus bertumbuh di dalam iman

- Memelihara kehidupan yang kudus sebagai pengikut Yesus

- Ikut mengabdi dalam menopang pelayanan dan penyokong pemberitaan Injil

- Setia hingga menerima anugerah kemuliaan di dalam rumah Bapa di Sorga. 


Tuhan memberkati

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 24 Mei 2025

BERDOA UNTUK KESEJAHTERAAN BERSAMA

KOTBAH MINGGU ROGATE

Minggu, 25 Mei 2025

Ev. Yeremia 29:7-14




BERDOA UNTUK KESEJAHTERAAN BERSAMA


Selamat Hari Minggu ! Sahabat yang baik hati! Minggu ini dinamai dengan Minggu Rogate, artinya: berdoa. Kotbah Minggu ini mengajak kita berdoa, berdoa untuk kesejahteraan kota dimana kita tinggal sebagaimana pesan dari nabi Yeremia. Allah menghendaki umatnya berdoa dan berusaha untuk kesejahteraan, ketentraman dan kenyamanan kota dimana mereka berada.


Teks kotbah Minggu ini tertulis dalam Yeremia 29:1-14 menekankan dimanapun orang percaya berada selalu berusaha untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Pasal 29 ini merupakan surat kiriman dari Yeremia yang dibacakan bagi umat di Pembuangan Babel. Yeremia memberikan peneguhan umat Allah di pembuangan. Yeremia meyakinkan bahwa rencana Tuhan bukan untuk membinasakan umat Allah di pembuangan Babel, namun dibalik itu Tuhan telah membuat rancangan besar. Rancangan Tuhan melebihi apa yang mereka pikirkan. RancanganNya adalah rancangan damai sejahtera, rancangan kehidupan dan rancangan masa depan yang cemerlang. Ibarat pemurnian perak, harus dilebur agar kerak besi terlepas dari perak murni dannjadilah emas murni yang siap dibentuk menjadi perhiasan mahal. Demikian Tuhan akan memurnikan umatNya di pembuangan. Akan ada sisa-sisa umat Allah yang memiliki karakter umat pilihan, umat yang berpegang teguh kepada perintah Allah dan mencintai Taurat Tuhan. 


Sebelum pembuangan terjadi Yeremia sendiri telah menubuatkan bahwa mereka harus menjalani 70 tahun masa pembuangan Babel. Nubuatan ini sangat berbeda dengan nubuatan nabi palsu Hanaya dan Pasyur serta Senaya yang menubuatkan damai, damai dan tak akan ada pembuangan karena Tuhan telah mematahkan Babel. Apa yang terjadi? Hanaya dan Pasyur hanyalah nabi palsu yang hanya meninabobokan raja dan umat itu membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Yeremia benar, Babel bangkit dan menghancurkan Yerusalem dan mengangkut mereka ke pembuangan. Umat Allah berada pada masa sulit dan pahit. 


Apa yang harus dilakukan pada masa pembuangan ini? Yeremia mengirimkan pesan yang sangat berharga. Jika kita baca keseluruhan pasal 29 ini kita menemukan pesan berharga bagaimana menjalani masa pahit di pembuangan, yakni: berdamai dengan situasi, setia dan berdoa serta tetap berpengharapan kepada Tuhan yang akan mengubah keadaan. Rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera dan pemulihan umatNya. 


Berikut ini baiklah kita ambil pelajaran berharga dari kotbah ini: 


1. Berdamai dengan masa pahit


"Dari pada mengutuki kegelapan lebih baik menyalakan lilin". Ungkapan ini sangat tepat menjelaskan surat Yeremia kepada umat Allah di Pembuangan. 


Pembuangan memang pahit dan itu membuat umat Allah sangat terpukul karena mereka bangga sebagai umat pilihan dan umat yang diberkati. Mereka bangga dengan kerajaan Daud yang dianggap akan kekal dan bangga akan Bait suci. Degala kebanggaan mereka baik secara bangsa, keagamaan dan segala kelebihannyang selama ini diandalkan justru hancur semuanya terpuruk dan terperosok dalam pembuangan Babel.


Orang Israel ketika mereka harus menerima kenyataan pahit terbuang di Babel. Umat Israel yang dahulu hidup sejahtera dan bahagia di negerinya sendiri, sekarang harus mengalami kesusahan hidup di pembuangan, menderita dan kehilangan kesejahteraan mereka. Tentu, secara psikologis umat Israel pasti terpukul, 'down' bahkan kehilangan harapan akan masa depan yang cerah. Hal inipun sangat mempengaruhi semangat mereka untuk melanjutkan hidup di pembuangan Babel. 


Bagaimana menjalani kepahitan di pembungan ini? Menyesal terus menerus akan menambah kepahitan, sementara kehidupan ini terus berjalan. Selama nafas masih ada selalu ada pengharapan di dalam Tuhan. Oleh karena itu, melalui hambaNya Nabi Yeremia, Allah memberikan semangat hidup bagi umat Israel yang saat itu sedang kehilangan harapan. Allah memerintahkan umatNya untuk tetap melanjutkan hidup dengan berdamai dengan situasi, beradaptasi dan melakukan apa yang bisa dilakukan di pembuangan.


Dalam ayat 5-7 ada bebrapa hal yang harus dilakukan oleh umat Allah dalam melanjutkan kehidupan: 


1. 1. Tetap mendirikan rumah, tetap mengolah kebun untuk mereka nikmati hasilnya, dan tetap melanjutkan keturunan dengan menikah dan beranak cucu (ay.5-6). Ini artinya, selama umat Israel masih diberi kehidupan oleh Tuhan, maka mereka harus tetap melakukan aktivitasnya sehari-hari. Hidup harus terus berjalan, walau kesulitan menghadang.

1. 2. Berbuat baik dan mendoakan kesejahteraan kota Babel yang menjadi tempat tinggal mereka saat ini (ay. 7). Dalam hal ini, umat Israel diingatkan untuk selalu beperilaku baik selama di pembuangan dan juga senantiasa mendoakan kesejahteraan kota Babel. 

Hal ini sangat penting untuk keberlangsungan hidup umat Israel, sebab kesejahteraan mereka juga dipengaruhi oleh tempat dimana mereka tinggal. Oleh karena itu, jika umat Israel ingin hidup sejahtera dan bahagia di Babel, maka mereka harus mendoakan kesejahteraan kota itu.


2. Berdoa dan usahakanlah kesejahteraan kotamu


Yeremia 29:7 (TB) Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. 


Panggilan orang percaya menjadi saluran berkat diwarisi sejak perjanjian Allah dengan Abraham, olehnya banyak orang akan di berkati. Tugas ini rasanya tidak begitu sulit jika keadaan aman, makmur dan sejahtera. Setiap orang jika aman dan merdeka dalam suatu kita tentu menjadi berkat bagi kota tidak begitu silit karena dapat memberikan sumbangan pemikiran, tenaga, waktu dan apa yang kita miliki. Namun bagaimana mengusahakan kesejahteraan sementara posisi mereka sulit dan terhimpit? Inilah yang disampaikan oleh Yeremia. Memberikan sumbangsih dalam pembangunan satu bangsa bukan karena kita memiliki keberuntungan namun dalam keadaan tertekan, didiskriminasi dan dipekerjakan sebagai orang buangan harus tetap menjadi berkat.


Yeremia telah memberitahukan sebelumnya bahwa bangsa Israel akan terbuang sesuai dengan nubuatan yang disampaikan kepada bangsa Israel. Nubuatan ini nyata, Babelonia menahlukkan Yehuda dan mengangkut mereka semua ke pembuangan Babel. Yeremia pun menyurati mereka dalam pembuangan. Dalam pembuangan mereka agar berpengharapan, berdoa dan turut berusaha mensejahterakan kota dimana mereka dibuang. 


Usahakanlah kesejahteraan kotamu dimana Aku buang! Umumnya jika orang dibuang sifat negatif akan muncul, mengutuki, mengumpat dan bahkan dalam kemarahan yang membara. Namun Yeremia dalam hal ini menyarankan hal yang membangun. Umat Allah harus mengusahakan kesejahteraan kota sekaligus. Anjuran ini sekaligus peringatan agar jangan mengutuki keadaan atau terlalu terpukul membuat sakit hati dan dendam tetapi lakukan sesuatu untuk mengubah keadaan. Kebahagiaan tidak datang dari luar tetapi terjadi saat ada uoaya yang membebaskan. Sikap seperti itulah yang mau diubah oleh Yeremia, jangan mengutuki atau dengan sikap reaktif yang merusak ketika memasuki pembuangan. Namun sebagai warga dan bahagian dari masyarakat Yeremia menyerukan jalanilah dan ikutlah berperan memberikan sumbangan pemikiran, tenaga dan waktu untuk kemajuan dan kesejahteraan kota ketika mereka memasuki pembuangan Babel.


2. 1. Jangan pernah menyerah-tetaplah berpengharapan.

Apapun yang terjadi dalam hidup, jangan pernah menyerah karena hadirnya kabut gelap yang menutupi masa depanmu. Jangan pernah berhenti berpengharapan walau dunia tidak memberikan harapan bagimu, dan bahkan jangan pernah mau mengakhiri hidupmu walau himpitan persoalan seakan ingin mengakhiri hidupmu. Sebab di dalam Tuhan akan selalu ada masa depan. Jika kita sabar dan setia maka kabut gelap akan berganti menjadi sinar mentari cerah, duka akan berganti dengan sukacita. Hal ini diungkapkan Allah di ayat 11: "sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan".


2. 2. Jangan lupa mendoakan tempat dimana kita tinggal dan hidup.


Selain itu, jangan lupa berdoa bagi para pemimpin kota/bangsa ini. Ingatlah, bahwa kesejahteraan kita juga dipengaruhi dari bagaimana mereka memimpin kota dan bangsa ini. Jangan hanya sibuk mengkritik, mengumpat, bersungut-sungut atas kinerja mereka, tetapi tidak pernah mendoakan agar mereka bekerja dengan iman dan takut akan Tuhan. Karena hanya pemimpin yang takut akan Tuhanlah yang dapat melakukan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik dan benar. Dengan sikap demikian niscaya kota kita akan tertata dan terbangun dengan baik, dan kitapun pasti akan hidup sejahtera dan bahagia di dalamnya. Ingatlah kesejahteraan kotamu adalah kesejahteranmu.



3. Miliki filter dan waspadai "nabi" yang menyesatkan


Yeremia 29:8 (TB) Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan!


Setiap ada kesusahan selalu banyak anjuran. Sebagai contoh saat seseorsng jatuh pingsan orang panik dan semua orang memberikan usul; dati usul asal-asalan sampai usul yang benar-benar usulan. Pernah sata besuk kepada satu keluarga yang sakit struk hingga tidak bisa apa-apa, merasa menyesal karena menerima anjuran sahabatnya ini tidak apa-apa nanti akan baik. Sang pasien pun hanya dirawat di rumah yang demam tinggi yang tidak turun-turun. Besoknya mereka ke rumah sakit dan dianjurkan harus di bawa ke RS khusus yang menangani struk. Diketahui terlambat karena golden time berakhir. Memang ada upaya namun sudah terlambat karena mengikjti anjuran yang tidak tepat.


Yeremia bernubuat berhadapan dengan nabi palsu, saat Yeremia menyatakan kebenaran mereka membuat kebohongan. Yeremia sendiri mengalami penganiayaan dsri nabi-nabi palsu. Peringatan ini disampaikan dengan keras oleh Yeremia agar umat Allah dipembuangan tidak dipesona oleh nabi-nabi palsu. Mereka harus memiliki filter mana yang baik, benar dan seturut dwngan kehendak Allah. Mereka harus punya filter, nubuatan yang bensr bukan hanya enak didengar dan membuat puas hati. Nubuatan yang benar adalah kebenaran Firman Tuhan. Firman Tuhan kadang pahit karena menegor kesalahan, kadang berlawanan di hati karwna Firman Tuhan menghendaki perubahan. 


Melewati masa sulit tidak boleh dilakukan dengan yang bertentangan dengan Firman Tuhan, tawaran nabi palsu, ahli tenung dan dukun akan berdatangan menawarkan obat oenawar yang menyesatkan. Yeremia menegaskan harus tetap setia di dalam Tuhan. Setialah kepada Tuhan dan percaya pada rancanganNya. KuasaNya melebihi dari apa yang dipikirkan. 


Mengenai nabi-nabi palsu Yeremia pada 29:24-32 menentang kebohongan nabi palsu bernama Semaya dan Teremia menubuatkan hukuman yang akan menimpa Semaya. Semaya sengaja membuat surat dan atas namanya sendiri mengangkat dan menetapkan Zefanya menjadi imam menggantikan imam Yoyada di tengah-tengah Israel. Penetapan ini bukanlah suara Tuhan namun adalah inisiatifnya sendiri. Semaya berharap dengan pengangkatan Zefanya akan dapat melawan Yeremia. Selain pengangkatan imam, kesalahan Semaya adalah bernubuat atas nama Tuhan bahwa pembuangan Babel hanya sebentar, tidak lama hanya dua tahun. Nubuatan ini sangat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Yeremia. Namun yang namanya nabi palsu berbicara atas nama Tuhan namun bertujuan untuk mencapai keinginan dirinya sendiri. Nabi palsu bekerja menyusun berbagai kebohongan agar berkenan dihati manusia, bukan kepada Allah. Inilah kejahatan Semaya yang membuat perlawanan terhadap Yeremia dan dengan berbagai cara mencari celah agar berkenan di hati orang banyak. Berbeda dengan Yeremia, mengedepankan kebenaran dan menyampaikan suara Tuhan menyikapi segala segala bentuk kesalahan dan dosa umat Israel. Yeremia 29:32 maka beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku akan menghukum Semaya, orang Nehelam itu, dan keturunannya: tidak ada seorang pun dari keluarganya akan diam di tengah-tengah bangsa ini untuk melihat yang baik yang akan Kulakukan kepada umat-Ku, demikianlah firman TUHAN, sebab ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN."

Hukuman ini sangat berat, bahwa Semaya tidak akan melihat kebaikan dalam hidupnya dan dalam keluarganya. 


Sahabat yang baik hati! Kotbah Minggu ini memberikan kepastian bagi kita bahwa dalam masa sulit Tuhan tetap berdoa dan bekerja mendatangkan kebaikan. Dimana kita berada dan pada situasi bagaimana pun yang kita alami tetaplah berdampak yang positip bangi lingkungan sekitar. Percaya dalam segala keadaan ada rencana Tuhan yang dapat diselami. Rancangan Tuhan pasti yang terbaik, rancangan Tuhan mendatangkan kebaikan bukan hanya pada suasana baik dan bahagia saja, namun Tuhan mencetak kebahagiaan kita dari keadaan pahit dan sulit. Tuhan tidak tinggal diam, Tuhan akan datang dan berbicara menunjukkan kebenaran. Terhadap kejahatan, kebohongan, penindasan dan penganiayaan percaya, Tuhan akan datang menghukum kejahatan dan akan memulihkan orang yang telah teraniaya oleh kebenaran. Semua itu terjadi karena iman dan kekuatan doa. Inilah yang diingatkan oleh Minggu Rogate hari ini. Tuhan memberkati kita semua. Amin


Salam, Minggu Rogate 2025

Pdt Nekson M Simanjuntak



Sabtu, 17 Mei 2025

BERKANTATE KARENA SALING MEMAHAMI DAN MENERIMA

 Kotbah Minggu Kantate,

Minggu, 18 Mei 2025

Ev. Kisah Rasul 11:1-18



BERKANTATE KARENA SALING MEMAHAMI DAN MENERIMA


Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah (Kis 11:18a)


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati nama minggu ini disebut Kantate, artinya menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan. Kantate ini dikutip dari Mazmur 98:1 Ajakan menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan karena setiap hari berkat yang baru kita terima dari Tuhan. 


Apakah nyanyian baru untuk Tuhan pada minggu ini? Dari kotbah Kisah Rasul 11:1-18 ini menyanyikan anugerah Tuhan dalam hidup orang percaya, saling pengertian, salang menerima dan saling mendukung yang satu dengan lainnya karena kita semua sama-sama menerima anugerah dari Tuhan, yaitu keselamatan di dalam Yesus Kristus. Keselamatan bukan hanya ditujukan kepada orang Yahudi tetapi juga kepada segala bangsa. Maka sikap eksclusif dan diskriminatif yang dihidupi oleh Kristen Yahudi bertobat menjadi inklusif dan terbuka menerima saudara-saudaranya non Yahudi menjadi satu persekutuan yang menerima anugerah Allah. Keselamatan adalah anugerah yang diberikan kepada Yahudi dan Non Yahudi. Dalam persekutuan orang percaya tidak ada lagi perbedaan, diskriminasi dan tembok pemisah antara Yahudi dan non Yahudi, namun rasul dan gereja mula-mula saling menerima dan memuji Tuhan. 


1. Dialog jembatan saling menerima


Dalam banyak hal setiap orang bisa berbeda, anak lahir kembar saja bisa berbeda, anak kembar yang sama bisa diidentifikasi berbeda apalagi menyangkat persepsi, sikap dan perilaku. Yahudi adalah kaum yang terbentuk dengan sikap eksklusif. Mereka merasakan berbeda dengan umat lain. Mereka adalah umat pilihan dan Allah menjadikan mereka menjadi umat yang diberkati dan memiliki keistimewaan dibandingkan dengan bangsa asing. Pemahaman seperti ini membuat mereka memiliki pemahaman lebih utama dari yang lain, mereka adalah istimewa dimata Tuhan sedangkan bangsa asing. 


Rasul Petrus sebagai orang Yahudi memahami sikap eksklusif Yahudi, namun dalam perjalanan PI yang dialaminya dia diperhadapakan dengan perjumpaan kreatif dengan Cornelius, seorang perwira Romawi dan dia berlatang belakang bangsa non Yahudi. Kisah Para Rasul 10:2 (TB) Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.

Tidak ada alasan bagi Petrus untuk tidak membaptis Cornelius, maka Petrus menurut petunjukka Allah datang ke rumahnya. Petrus membaptis dia dan seisi rumahnya. Peristiwa itu diketahui oleh saudaranya kaum Yahudi sehingga Petrus dikecam karena telah singgah di rumah non Yahudi dan membaptis mereka. 


Petrus dengan lembut menjelaskan pengalaman rohani yang dia alami sebagaimana diceritakan dalam teks kotbah Minggu ini. Petrus akhirnya mengerti maksud Allah dan itulah yang dikehendaki Allah, menerima saudara non Yahudi. Inilah jembatan dialog, sikap sinis tidak ditutup dengan hanya mengecam dan membully, tetapi bersedia mendengar dan menjelaskan pengalaman dan persepsi masing-masing. Dialogis menghadapi perbedaan

Kerap kali kehendak Tuhan begitu sulit kita terima. Bagaimanapun juga, seharusnya kita merespons kehendak Allah secara positif.


Petrus menyaksikan penglihatan yang ia alami, dan bagaimana Tuhan menuntunnya kepada Kornelius, serta menjelaskan arti penglihatan itu bahwa Tuhan juga mengasihi bangsa-bangsa lain (5-17). Peristiwa itu terjadi sampai tiga kali, bersamaan dengan itu orang yang diperintahkan menjemput Petrus sudah berada di depan pintunya. Ini alasan yang sesungguhnya bahwa Petrus diyakinkan bahwa orang non Yahudi dapat diterima dalam persekutuan orang percaya. Akhirnya Petrus membaptis Cornelius seorang perwira Romawi. Di dalam Yesus Kristus kita semua adalah Anak-anak Allah yang dikuduskan melalui pengorbanan Yesus Kristus. Penebusan Kristus, non Yahudi diterima sebagai anak-anak Abraham karena anak perjanjian. Mewarisi keselamatan di dalam diri Yesus Kristus. 


2. Berkantate karena pertobatan dan saling menerima


Kesabaran ras Petrus menjelaskan pengalaman kepada rasul-rasul lainnya dan kaumnya menghasilkan resolusi yang baik. Dialog Petrus dengan Tuhan dalam hal makanan yang dihidangkan padanya akhirnya mau mengikuti kehendak Allah. Petrus tidak.memperrahankan pendapatnya dan apa yang dianggaonya benar. Petrus berkenan berubah dan mengikuti kehendak Allah.  


Pengalaman itu juga yang dijelaskan Petrus, sekalipun awalnya kaum Yahudi sulit menerima sikap Petrus namun karena setelah mereka mengerri kehendak Allah maka mereka saling menerima san bersama-sama memuliakan Tuhan. Mereka menerima kesaksian Petrus dengan positif. Mereka pun dapat menyimpulkan secara tepat, yaitu Allah juga mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada kehidupan bangsa-bangsa lain (18). 


Dari perikop ini, kita dapat belajar tiga hal penting, yakni:

a. Jika kita di posisi sebagai orang yang menyampaikan kehendak Allah, dan ada pendengar yang meminta tanggung jawab, maka kita harus mau bertanggung jawab secara sabar dan lemah lembut. Sama seperti yang dilakukan oleh Petrus.

b. Jika kita di posisi sebagai penerima pesan perihal kehendak Allah, sekalipun kita tidak suka dengan isi pesan itu, kita harus merespons secara positif, bukan menyalahkan pesan atau orang yang menyampaikan pesan itu.

c. Kehendak Allah sudah pasti yang terbaik. Oleh karena itu, ketika rasul-rasul mengetahui bahwa penginjilan kepada Kornelius adalah kehendak Allah, mereka menjadi begitu tenang dan bersukacita (18). Hal itu mengindikasikan bahwa mereka tidak ingin melakukan sesuatu di luar kehendak Tuhan.


Pengalaman seperti ini sangat penting, kita hidup saling memahami perbedaan, saling menerima dan hidup di dalam satu persekutuan yang saling membangun. Penerimaan terhadap non Yahudi adalah perubahan yang besar bagi Yahudi menerima saudaranya non Yahudi menjadi satu meja makan, satu persekutuan yang memiliki hak yang sama dan setara yang satu dengan lainnya. 


Persekutuan hang indah akan berkantate, memuji dan memuliakan Allah saat berkenan saling memahami, saling menerima dan saling menghormati.


3. Jangan katakan haram yang dinyatakan Allah halal.

Tidak sedikit orang Kristen ikut berpikir legalistik seperti Yahudi dimana segala sesuatu diperhadapkan dengan "benar atau salah", "halal atau haram". Cara berpikir itu sebenarnya didasari dari pemahaman keagamaan yang legalistik. Segala sesuatu telah diaturkan melalui peraturan formal keagamaan. Peraturan keagamaan itu bertujuan untuk memelihara mereka sebagai umat yang kudus. Segala sesuatu boleh atau tidak boleh diperintahkan atau dilarang menurut peraturan keagamaan. Ada yang memantangkan makanan dan kalau dimakan seolah berdoaa dan tidak selamat.


Dalam PB kita memahami bahwa Kristus datang untuk memenuhi hukum Taurat. Taurat tidak menyelamatkan, Kristuslah yang menyelamatkan. Manusia tidak dapat benar dihadapan Allah oleh pekerjaan Taurat tetapi oleh pembenaran Kristus. Manusia tidak dapat hidup kudus oleh karena memenuhi pantangan-pantangan makanan tertentu. Manusia dikuduskan hanya oleh karena penebusan Kristus. 


Tentang hal haram dan halal Yesus mengajarkan bahwa Matius 15:11 (TB) "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. 


Pergumulan Petrus soal haram dan halal dalam renungan ini bukanlah soal makanan. Tetapi boleh atau tidakkah orang non Yahudi menerima baptisan? Atau dengan pertanyaan lain, apakah orang non Yahudi dapat diterima menjadi warga komunitas orang percaya? Di kalangan para rasul masih ada perdebatan sebahagian berpendapat keselamatan adalah hnya kepada Yahudi sedangkan bangsa di luar non Yahudi dianggap nazis? Dalam pandangan Yudaisme hanya Yahudi umat yang diberkati dan layak menerima keselamatan. Sementara Paulus melawan pandangan Yudaisme, keselamatan itu universal. Keselamatan itu menge ukan hanya untuk kaum Yahudi tetapi keada segala bangsa. Paukau dipanggil menjadi rasul justru dia dipanggil Tuhan untuk kabar baik bagi non Yahudi.


Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram! Inilah sikap Kristen yang menekankan harus menghargai orang lain. Segala bangsa berhak menerima keselamatan asal menerima Yesus Kristus sebagai Yuruselamat. Orang Kristen tidak diperkenankan menghakimi sesama dan mengatakan dirinya kudus yang lain haram. Semua adalah umat Allah yang kudus karena telah dikuduskan oleh Kristus.


Demikianlah juga dengan hal makanan atau minuman. Makanan dan minuman tidak membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Sebagai orang Kristen memang harus memiliki etika makan: makan teratur, tidak tamak, mendukung kesehatan dan tidak menjadi sandungan bagi orang lain. Roma 14:20 (TB) Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!


Semua yang diciptakan Allah dapat kita nikmati di dalam syukur. 1 Timotius 4:4 (TB) Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur.


Sahabat yang baik hati! 

Marilah kita berkantate karena Tuhan telah menganurahkan keselamatan kepada kita tanpa syarat. Keselamatan adalah anugrah yang cuma-cuma di dalam Yesus Kristus. Tidak ada syarat lain yang ditambahkan sehingga dengan syarat itu kita selamat. Keselamatan bukan karwna kemamouan manusia memenuhi tuntutan Taurat, bukan oula karena jasa dan kebaikan kita. Anugerah itu pemberian Allah secara gratis yang harus disyukur dan dipertanggungjawabkan.


Marilah kita berkantate dengan hidup yang dipenuhi roh yang memahami, mengerti dan menerima orang lain. Hidup yang saling mengjormati dan membangun orang lain. Hidup yang dipenuhi roh pengertian akan jauh dari ego dan chauvenisme (kesombongan) yang mengganggp diri lebih istimewa dibanding dengan yang lain. Jauhkanlah roh eksklusif dan sikap diskriminatif mari membangun roh kebersamaan.


Marilah kita berkantate dengan pikiran merdeka, jauh dari intimidasi, bully dan kecaman kepada yang lain karena menganggap diri lebih benar, lebih saleh dan lebih berharga dari orang lain. Jika pun ada berkat yang lebih yang dianugerahkan Tuhan, mari kita persembahkan untuk membangun kebersamaan. Tuhan memberkati!


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak



Sabtu, 10 Mei 2025

ALLAH MENGGEMBALAKAN UMATNYA

 KOTBAH MINGGU JUBILATE, 

Minggu, 11 Mei 2025

Ev. Yehezkiel 34:11-36



TUHAN MENGGEMBALAKAN UMATNYA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Kotbah Minggu ini merupakan pernyataan Allah, Allah sendiri menjadi gembala bagi umatNya. Hal ini tentu mengejutkan para gembala di tengah-tengah umat Allah. Allah sendiri telah menetepkan imam, nabi dan raja menjadi gembala bagi umat Allah, namun pada masa pelayanan nabi Yehezkiel para gembala tidak menunaikan tugasnya dengan baik. Maka nabi Yehezkiel mendeklarasikan Tuhan sendiri menjadi gembala bagi umatNya yang memperhatikan dan mencari domba-dombaNya. Jika tidak ada pemimoin yang menjadi gembala, Allah sendiri gembala umat yang memelihara dan menjaga umatNya.


Pertanyaan menarik adalah mengapa Tuhan bertindak dan turun tangan langsung memperhatikan dan mencari domba-dombaNya? Inilah kritik nabi Yehezkiel pada umat Allah. Para gembala, yaitu raja, imam dan nabi tidak menunaikan tugas penggembalaannya dengan baik. Para pemimpin publik tidak menjalankan amanah yang mereka terima. Raja diberi wewenang untuk menjamin kesejahteraan dan melindungi serta memberikan rasa aman dari berbagai ancaman. Namun apa yang terjadi, kebijakan raja pada masa Yehezkiel hanya menambah beban umat Allah. Ancaman negara asing sangat mendesak seolah tak ada pemimpin untuk memberikan kepastian perlindungan bagi umat Allah. Jika kita baca asal 25 Yehezkiel menyerukan nubuatan terhadap bangsa-bangsa. Krisis tak dapat diatasi hingga mereka terbuang ke Babel. Yehezkiel sendiri ikut ke pembuangan Babel.


Demikian halnya para imam, benar mereka menjalankan tugas imam mendoakan kurban bakaran di bait Allah namun tak pernah berpikir bagaimana memotivasi dan menginspirasi agar memiliki spiritualitas mereka bertumbuh. Mereka hanya menanti dia bait suci menunggu kurban persembahan dan membiarkan iman yang kerdil dan gersang. Atas itu Yehezkiel bersuara. Yehezkiel 34:3 (TB) Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan.


Nabi-nabi juga demikian, dibermunculan nabi-nabi palsu yang hanya membeeikan pesan yang enak di telinga raja dan beekata amana-aman, padahal sesungguhnya sudah semraut dan jauh dari kehendak Tuhan. Bahkan pengalaman Yeremia yangbsejajar masa pelayanan dengan Yehezkiel hadir nabi-nabi palsu seperti Hanaya dan Pashur. Mereka dengat dengan raja dan tinggal di istana meyakinkan raja dalam kebijakannya yang menyengsarakan rakyat.


Dalam keadaan demikianlah Yehezkiel hadir menyuarakan bahwa Tuhan sendiri menjadi gembala bagi umatNya. Tuhan akan menuntun mereka ke padang rumput yang hijau, ke air yang tenang, memberikan ketentraman dan kenyamanan. Dipastikan takkan ada serigala yang memangsa kawanan domba. Tepat seperti ungkapan pemazmur jika Tuhan gembala kita, tak kan kekurangan sesuatu apapun. (Maz 23:1). Sebagai gembala Tuhan akan melindungi dan meolong umatNya dari berbagai pergumulan dan beban hidup mereka.


01. Aku sendiri yang memperhatian umatKu. Pernyataan Yehezkiel ini sangat menarik, para pemimoin gelah unlegitimate dalam.menjalankan tugas-tugas penggembalaannya. Mereka tidak mengingjnkan jabatan namun tidak mengemban amanat jabatan. Mereka hanya penikmat dari 


Pemberitahuan Allah sendiri menjadi gembala umatNya merupakan pernyataan penarikan mandat Allah kepada gembala. Yehezkiel ini menarik otoritas orang-orang yang memakai nama Tuhan tapi bukan dengan tujuan dan maksud Tuhan. Mereka hanya gembala-gembala upahan yang menikmati kurban bakaran atas nama Tuhan. Yehezkiel prihatin atas keadaan umat Allah yang telah lama diperdaya para gembala-gembala upahan dan memeras masyarakat. Mereka adalah gembala2 yang hanya menikmati manfaat dari jabatan gembala namun tidak melakukan tugaa dan tanggungjawab sebagai gembala yang baik. 


02. Aku sendiri mencari domba-dombaku. 


Kenapa dicari? Tentu mereka telah hilang atau sudah tidak di tempatnya. Jika kita baca konteks pelayanan Yehezkiel, dia melayani pada masa aeal pembuangan (Yehezkiel 1:1). Seluruh umat Allah diangkut ke pembuangan.

Di Pembuangan mereka umat yang hidup tanpa pemimpin. Hidup terlantar tak ada yang memperhatikan dan mempedulikan mereka. Mereka menjadi umat buangan dan pekerja rodi di negeri asing. 


Disini, Yehezkiel meyakinkan seluruh umat Allah, jangan berputus asa oleh ulah mereka yang seharusnya teladan. Jiak tidak ada pemimpin yang mempeehatikan mereka maka Allah sendiri menjadi menggembalakan umatNya. Tuhan akan mencabut otoritas terhadap mereka yang selama ini memakai nama Allah dengan maksud san tujuan kepentingan diri. Tuhan langsung turun tangan dan menggembalakan langsung umatNya. Allah sendiri akan mencari mereka. Jika ketiga gembala diatas imam, nabi dan raja yang alpa akan tugas penggembalaannnya tak menjadikan umat Allah tercerai berai. Tuhan tidak akan membiarkan tak punya gembala. Sekalipun sudah tercerai berai, Allah sendiri akan mencari dan mengumpulkannya kembali menjadi satu kawanan. 


03. Aku akan membawa mereka keluar. 

Seperti seorang gembala yang menuntun domba-dombanya keluar dari kandang menuju padang rumput hijau. Bukan hanya itu Allah sendiri yang menuntun mereka kepada air yang jernih (band Mazmr 23 dan Yohanes 11). 

Menuntun keluar bukan hanya membebaskan mereka tanpa penjagaan dan pengawasan, seorang gembala yang baik akan memperhatikan dan bertanggung jawab atas seluruh domba-dombanya. Seorang gembala yang baik akan memastikan tak satupun yang tercecer dari kawanan domba gembalaannya. Nyawanya sendiri akan dipertaruhkan untuk menjagai mereka dari serangan binatang buas. Gembala yang baik akan menuntun mereka masuk ke kandangnya. 


Tuga membawa keluar dan masuk ini dijelaskan dalam Mazmur 121:8 (TB) TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya. Nas ininpula yang dipergunakan dalam liturgi penguburan orang meninggal. 


Sahabat yang baik hati! Kotbah minggu ini mengajak kita untuk mwmaknai tugas penggembalaan kita masing-masing. Setiap orang diangkat dan ditetapkan Tuhan dalan ttugas dan tanggung jawab tertentu. Mari lakukan dengan sepenuh hati. Tuhan telah memberikan kita kesempatan untuk menjalani kehidupan ini, beraktifitas, bekreasi dan berbagaipengalaman kehidupan ini. Perjalanan inj akan tiba waktunya Tuhan akan memanggil kita keluar kehidupan kini dan masuk kepada kehidupan yang kekal. 


Kotbah ini merupakan peringatan bagi para hamba Tuhan dan sekaligus jaminan orang percaya. Peringatan bagi hamba Tuhan dan gembala untuk mengoreksi sejauhmana telah melaksanakan tugas dan tanggungjawab merawat, memperhatikan dan mencari domba-domba Allah yang dipercayakan pada gembala. Siapa tahu kealpaan dan kepekaan kita yang membiarkan jemaat terlantar tak memiliki seorang gembal. 


Kotbah ini sekaligus jaminan karena Allah sendiri tidak akan membiarkan umatNya terlantar. Jika orang yang diharapkan tidak dapat melakukan tugas dan tanggungjawabnya, maka Tuhan sendiri bertindak dengan caraNya sendiri. Tuhan tidak akan membiarkan umatNya terlantar dan tak terlayani.


Pdt Nekson M Simanjuntak




Sabtu, 03 Mei 2025

MENGASIHI YESUS DAN MENUNAIKAN TUGAS PENGGEMBALAAN

 KOTBAH MINGGU MISERECORDIAS DOMINI

Minggu, 4 Mei 2025 

Ev. Yohanes 21:15-19




MENGASIHI YESUS DAN MENUNAIKAN TUGAS PENGGEMBALAAN


Selamat Hari minggu! Sahabat yang baik hati. Jika kita membaca bagian akhir keempat Injil maka kita akan menemukan pengutusan Tuhan Yesus kepada murid-murid. Pengutusan ini itulah yang kita sebut amanat Misi Agung Tuhan Yesus. Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk memberitakan Injil. Matius menekankan menjadikan segala bangsa menjadi murid, membaptis dan mengajarkan semua bangsa melakukan kehendak Allah (Mat 28:19), Markus menekankan Injil ke segala mahkluk, semua mahluk hidup ikut dalam cakupan keselamatan Allah (Mark 16:15) dan Lukas menekankan saksi Kristus sampai ke ujung bumi (Kis 1:8 notes, Kisah rasul merupakan lanjutan dari Injil Lukas). Diakhir Kisah para rasul juga disebutan:Kisah Para Rasul 28:28 (TB) Sebab itu kamu harus tahu, bahwa keselamatan yang dari pada Allah ini disampaikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya."

Sedangkan Injil Yohanes melengkapi Missi Agung dengan menekankan tugas penggembalaan. Murid hendak meneladani Yesus Sang Gembala Yang Baik. Tetapi sedikit berbeda dengan Injil Yohanes, yang menekankan menekankan tugas penggembalaan (tugas pastoral) sebagaimana kita baca dalam perikop kotbah minggu ini.


Perbedaan ini sangat penting kita maknsai karena didalamnya ada penekanan khusus. Dalam Kotbah ini kita menemukan dua kata kunci dalam dalam melaksanakan tugas penggembalaan. Pertama missi Agung dilaksanakan oleh orang yang benar-benar sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus. Yesus tidak menyuruh langsung memberitakan Inil atau membaptis sebagaimana dalam Injil Synoptik, tetapi disini Yesus benar-benar menanyakan Simon Petrus, bahkan sampai tiga kali: apakah Simon petrus mengasihi Yesus. Pertanyaan ini tiga kali menunjukkan kesungguhan dari dalam hati yang terdalam dan mengggugah Petrus meninggalkan kelemahannya yang pernah menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok dua kali. 

Kedua, melaksanakan amanat Agung harus benar-benar benar-benar dari dalam hati yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus. Jadi hanya orang yang mengasihi Yesuslah yang sungguh-sungguh melaksanakan tugas pastoral. Mengasihi Yesus didasarkan pada pertobatan, menyadari kesalahan dan kekurangannya sebagaimana kekurangan Petrus dihadapan Yesus. 


Melaksanakan missi agung harus benar-benar dilakukan dengan pembaharuan diri dan dengan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus. 


Sekarang baiklah kita dalami beberapa pelajaran berharga dari kotbah ini dalam kehidupan kita sekarang ini:


1. Melakukan tugas penggelmalaan didasarkan oleh kasih


Yohanes 21:16 (TB) Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."


Di atas sudah disampaikan bahwa sebelum memberikan tugas penggembalaan kepada Petrus, Yesus memanggil Petrus dan menanyakan kesungguhan hatinya apakah benar-benar mengasihi Yesus. Pertanyaan ini bukan hanya ditanyakan satu kali, tetapi pertanyaan yang sama diajukan sebanyak tiga kali. Simon Anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? (Ay 15,16 dan 17). Tiga kali pertanyaan ini benar-benar mau menuntut komitment Petrus yang sesungguhnya. Pertama dan kedua Petrus menjawab dengan lugas, namun ketika menjawab Yesus menanyakan dia ketiga kalinya Petrus menggumulinya lebih dalam dan ada sesuatu dibalik pertanyaan ini. Ini bukan suatu pertanyaan biasa. Ada beberapa penafsir, pertanyaan ini tiga kali untuk memulihkan Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus ketika menghadapi persidangan Pilatus. Yesus menyapa dia itu adalah sikap baik, sekalipun Petrus menyangkalnya namun Yesus menunjukkan kaaih sayangnya. Maka Yesus hendak mengetahui sikap Petrus yang sesungguhnya. Yesus hendak meminta kesungguhan hati dan komitmen Petrus sang Batu Karang. 


Apakah engkau mengasihi aku? Pertanyaan inilah yang harus terus tertadam di dalam setiap pelayan dalam melaksanakan tugasnya. Semua tugas pelayanan ini dilakukan karena kesungguhan mengasihi Tuhan Yesus. Dalam pelayanan ada saja yang sulit, tidak berterima, diabaikan bahkan mendapat tantangan berat hingga martir. Semua konsekwensi dari melaksanakan tugas pelayanan ini dilakukan semata-mata karena telah mengasihi Tuhan Yesus. Pelayanan yang dilakukan bukan berdasarkan kasih kepada Yesus Kristus akan kehilangan makna, melenceng dari tujuan dan tidak menunaikan kehendak Tuhan. 


2. Gembala membutuhkan komitmen!


"Gembalakanlah domba-dombaku!" Kalimat ini tiga kali diulangi (Ay 15,16 dan 17). Mengapa sampai tiga kali ini membutuhkan komitmen dan kesungguhan hati. Sebagaimana kita tahu, Petrus pribadi yang meledak-ledak namun cepat patah arang. Ketika peristiwa Getsemane Petrus berkomitmen tidak akan meninggalkan Yesus dan berjanji mempertaruhkan nyawanya demi Yesus namun lihatlah ketika Yesus diadili Latus Petrus menyangkal 3 kali. Penegasan ini yang diingatkan oleh Injil Yohanes.


Baiklah kita menggali makna tugas penggembalaan. Tugas penggembalaan bukanlah tugas mudah namun tugas berat yang membutuhkan komitmen dan kesungguhan hati. Siapa yang digembalakan ini? Yesus mengatakan: "domba-dombaKu", jadi seorang pelayan menyadari sepenuhnya bahwa yang digembalakan adalah milik Tuhan Yesus. Yesus adalah pemilik dan pertanggung jawaban pelayan disampaikan kepada Tuhan Yesus. Hal ini menyadarkan kita sepenuhnya orang gembala atau hamba Tuhan bukanlah pemiliki tetapi sebagai orang yang dipercayakan, yang ditugaskan dan diberikan wewenang dalam melakukan tugas penggembalaan. Semua yang dilakukan dalam memelihara kawanan doma yang dipercayakan harus dipertanggungjawabkan kepada sang pemilik, yaitu Tuhan Yesus sendiri. 


Siapakah domba-domba yang dimaksudkan? Domba-domba dalam PB diartikan sebagai pengikut Yesus Kristus. Orang-orang yang telah percaya dan mengikut Tuhan Yesus. Jika kita simak Doa Tuhan Yesus di dalam Yohanes 17, kawanan domba milik Kristus adalah komunitas orang percaya. Yesus juga mendoakan domba hasil pemberitaan para Murid. 

Yohanes 17:20-21 (TB) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Jadi bukan hanya kawanan yang ada, tetapi dengan pegutusan hasil dari pemberitaan Injil dari orang percaya akan bertamba-tamba kawanan orang yang percaya kepada Kristus, dan semua itu didoakan agar bersatu di dalam satu persekutuan di dalam Yesus Kristus. 




Gereja mula-mula menghadapi berbagai kesulitan, himpitan dan tekanan. Mereka menghadapi kekerasan dan kekejaman, fitnah, pengejaran dan penganiayaan hingga mati martyr. Maka sangat dibutuhkan gembala yang menuntun jiwa mereka agar tetap bertahan memikul salib. Seorang pelayan yang tidak memiliki komitmen yang tangguh tidak akan bertahan menghadapinya. Dalam hal komitmen seorang pelayan ini, Yesus telah mengajarkan kepada murid-muridNya: barang siapa mengikut Dia akan memikul salib. Baca Matius 10:38 (TB) Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.


Sahabat yang baik hati, bukan hanya Simon Petrus yang berjanji dan berkomitmen. Saat ini pada tahun Transformasi HKBP salah satu menjadi penekanan adalah komitmen dan janji baik pelayan maupun warga jemaat. Dengan kotbah ini kita diingatkan kembali akan komitmen dan janji kita dihadapan Tuhan. Kepada seluruh jemaat kita pernah berjanji di hadapan Tuhan. Janji orang tua terhadap anak saat membawa ananya dibaptis. Janji kita saat mengikuti peneguhan sidi, janji dan komitmen pasangan keluarga yang menerima pemberkatan nikah di gereja, janji dan komitmen jemaat saat meresmikan huria na gok (jemaat penuh) dan Mameakhon Batu Ojahan (MBO). Bagaimana dengan janji dan komitment ini apakah benar-benar dan sungguh-sungguh kita laksanakan? Demikian pula dengan janji dan komitmen para pelayan saat menerima tahbisan. Mari kita ingat janji dan komitmen kita semua. Bagi saya kotbah Minggu ini Yesus menanyakan kita sekarang ini, apakah tugas penggembalaan kita telah kita lakukan dengan cinta kasih? Saat ini kita dimurnikan kembali dimana Yesus saat ini menanyakan janji dan komitmen kita dihadapanNya. Yesus adalah Raja Gereja dan kepadaNya kita semua mempertanggung jawabkan tugas dan pelayanan kita. 


3. Tugas holistik dari penggembalaan. 


Gembalakanlah domba-dombaku! Kata "gembalakanlah" dalam kata Yunani dipakai dua istilah ay 15 dan ay 17 βόσκε (boske) dan pada ayat 16 dipakai ποίμαινε (poimaine). Boske artinya berilah mereka makan. Tugas penggembalaan itu menyangkut hidup yang sejahtera. Berarti kebutuhan fisik mereka harus diperhatikan. Dengan istilah "boske" ini, berarti gereja harus memperhatikan kebutuhan pokok warga jemaatnya. Berkaitan dengan ini saya membaca kembali doa syafaat dalam Agenda HKBP bahwa ada doa khusus yang dibacakan di Gereja saat warga jemaat mengalami gagal panen. Ini berarti sebagai bukti bahwa gereja memperhatikan kebutuhan pokok wargajemaatnya.  


Sedangkan "poimaine" dipakai pada tugas gembala sehari-hari menunjukkan tanggungjawab, pengorbanan dan kemampuan mendatangkan segala kebaikan bagi kawanan gembalaannya. Dengan kedua istilah ini menjelaskan tugas penggembalaan adalah menyeluruh atas kebutuhan jemaat.


Gembalakanlah domba-domba Ku, ini suatu pengutusan bagi seluruh orang percaya dalam tugas dan tanggung jawab masing-masing: baik di rumah, keluarga, pekerjaan dan di sosial masyarakat. Mari lakukan dengan penuh kasih sayang, kesungguhan hati dan pamrih. Tuhan memberkati.


Kotbah minggu ini mengingatkan tugas utama gereja menggembalakan jemaat. Jemaat saat ini menghadapi problematik jaman now yang sangat komplek. Gereja harus hadir pemberi air segar dan penuntun umat manusia kepada jalan kebenaran agar tak sesat ditelan zaman. Tugas yang agung ini, sama seperti kita telah menikmati kasih dan penggembalaan Tuhan dalam hidup kita sebagaimana digambarkan dalam Mazmur 23. Tuhan Gembalaku, takkan kekuerangan aku, Dia menuntun aku ke padang rumut yang hijau, ke air yang tenah bahkan sekalipun kita berjalan dalam lembah kematian kita tidak takut bahaya, karena Tuhan kgembala kita. 


Tugas penggembalaan ini adalah memelihara dan melindungi seluruh warga jemaat dari berbagai arus jaman yang dapat mempengaruhi warga jemaat dari sumber air kehidupan. Penggembalaan harus terus dilaksanakan seperti terang yang menuntun jalan agar jangan sampai ada yang tersesat apalagi dikalangan jemaat rentan, seperti anak-anak, janda, papa dan miskin. Berkaitan dengan ini menarik juga kita perhatikan dalam Bahasa Batak ayat 15 "parmahani ma anak ni birubirungku." dan ayat 16-17 disebut: "parmahani ma angka birubirungku". Disini kita temukan "anak ni birubiru" dan angka birubiru; menjelaskan tugas dan pelayanan terhadap keseluruhan warga jemaat, bahkan mendahulukan anak-anak generasi penerus dari gereja. Penekanan "anak ni buribirungku", mengingatkan kita pelayanan harus antar generasi, mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, kaum bapak, kaum ibu dan lansia. Gereja harus memelihara hidup sampai akhir hidup mereka dan kita hantarkan dalam ibadah kematian. Jadi disini kita menemukan pesan bahwa pelayanan penggembalaan harus kepada seluruh lapisan dan tidak ada yang tertinggal semuanya harus terlayani.  


Sahabat yang baik hati, janganlah mau disesatkan rupa-rupa dunia ini ada tetapi hendaklah hidupmu dituntun dalam kasih dan penyertaan Tuhan Yesus. Yesus adalah Gembala Yang Baik yang menuntun kita ke air yang tenang dan kepadang rumput hijau. Gereja perantara Kristus memberikan petunjuk dalam hidup dan memberitakan firman sebagai suluh. Rawat dan peliharalah pertumbuhan iman kita dengan memelihara hubungan pribadi dengan Tuhan. 


Missi agung ini harus dilakukan agar seluruh bunmi dipenuhi dengan kasih karunia Allah sebagaimana nama minggu ini. Kasih karunia Tuhan tersalurkan kes egala bangsa dan ke seluruh mahkluk melalui pemenuhan janji dan komitmen orang percaya melaksanakan missi agung. Amin


Salam dari kami

Pdt Nekson M Simanjuntak

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...