KEPASTIAN KESELAMATAN
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah kita mengambil waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Rabu 12/07/2017
Efesus 1:13 (TB) Di dalam Dia kamu juga — karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
Ephesians 1:13 (UKJV) In whom all of you also trusted, after that all of you heard the word (o. logos) of truth, the gospel of your salvation: in whom also after that all of you believed, all of you were sealed with that holy Spirit (o. pneuma) of promise,
Pernah pertanyaan ini dilontarkan oleh pengkotbah: jika anda mati sekarang apakah anda pasti masuk sorga? Banyak yang diam dan tak menjawab. Mungkin mereka diam bukan masalah kepastian keselamatan namun soal ketidak siapan hati. Alkitab mengajarkan barang siapa yang percaya dan dibaptis dia telah diselamatkan (Mark 16:16). Demikian juga dalam renungan ini di dalam Yesus Kristus kita telah dimateraikan pewaris keselamatan. Barang siapa yang percaya dia telah diselamatkan merupakan suatu kepastian dan telah dimateraikan di dalam sakramen. Roh kudus menuntun dan membimbing sampai kepenuhan keselamatan.
Dalam zaman sekarang kita sudah sering mendengarkan istilah MoU singkatan dari Memorandum of Understanding. Hal ini biasanya dilakukan dua pihak atau lebih yang bekerja sama dan masing-masing pihak paham akan tugas dan tanggung jawab masing-masing demi mencapai tujuan bersama. Sebagai keabsahan MoU dibubuhkan tanda tangan dan diatas materai. Tanda tangan dan materai sebagai bukti hukum ada jaminan dan kepastian bagi kedua pihak melaksanakannya dan jika tidak dilaksanakan dapat dituntut secara hukum. Artinya materai adalah salah satu contoh bentuk keseriusan dan kepastian dalam kerjasama dan kontrak kerja.
Demikian juga dalam renungan pagi ini Paulus menjelaskan kepada jemaat Efesus bahwa dengan keselamatan yang dimiliki oleh orang percaya adalah suatu kepastian. Kita telah diselamatkaan dan menerima berkat sorgawi melelui pengorbanan dan penebusan Yesus Kristus. Bagi Paulus jaminan kepastian keselamatan itu dimateraikan oleh Roh Kudus dan Roh Kudus memelihara dan menuntun kita di dalam iman hingga kepenuhan keselamatan kelak pada kedatangan Kristus.
Sahabat yang baik hati; kepastian keselamatan mendorong kita hidup lebih bersemangat dibandingkan dengan orang yang masih mencari-cari keselamatan. Sosiolog Max Weber menjelaskan dalam buku yang sangat terkenal, Protestan Ethich and Spirit Kapitalism. Dalam penelitiannya membuktikan kaum protestan yang mengimani keselamatan yang pasti (khususnya ajaran predestinasi) mendorong mereka hidup lebih displin, bekerja keras, hemat dan jujur telah melahirkan modernisasi dan kemajuan besar di Eropa. Modernisasi di Eropa lahir di negara-negara berbasis ajaran Protestan yang mengajarkan kepastian keselamatan.
Sahabatku! Kita telah pasti diselamatkan dan telah dimateraikan di dalam baptisan dan Roh Kudus. Mari tunjukkan kwalitas hidup beriman dalam kehidupan sehari-hari melalui etos kerja yang lebih semangat dan penuh pengharapan.
#pdt nekson m sjuntak
Selasa, 11 Juli 2017
Senin, 10 Juli 2017
ENGKAULAH GUNUNG BATUKU
ENGKAULAH GUNUNG BATU-KU
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak di pagi ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Selasa, 11/07/2017
Mazmur 71:3 (TB) Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.
Psalms 71:3 (UKJV) Be you my strong habitation, unto which I may continually resort: you have given commandment to save me; for you are my rock and my fortress.
ALLAH adalah gunung batu, suatu istilah yang sering disebutkan dalam Alkitab yang memiliki makna bahwa Allah adalah benteng pertahanan, tempat perlindungan paling aman dan tempat berdiri kokoh. Mengapa Allah diswbut sebagai gunung batu. Tentu dalam dunia PL gunung batu menjadi tempat perlindungan yang nyaman. Hal itu berkaitan dengan peradaban jaman PL. Dimana Kota-kota dalam Perjanjian Lama biasanya di kelilingi oleh tembok. Bangsa-bangsa berlomba jaya dengan merebut dan menahlukkan kota lainnya, jaman yang penuh peperangan. Maka kota yang dibangun tembok yang disebut juga kubu pertahanan. Kuatnya kota sering diukur dari bagaimana kekuatan tembok dan benteng pertahanan yang dibangun untuk melindungi kota dari musuh. Gerbang pintu masuk kota dijaga ketat dan tembok yang kokoh yang terbuat dari bahan-bahan batu padas. Dibalik tembok mereka aman berlindung dan posisi aman untuk menyerang musuh yang datang. Dengan gambaran konstruksi kota di jaman itu kita semakin memahami arti makna Allah gunung batu. Selain menggambarkan kekokohan juga sebagai perlindungan paling aman.
Inilah nyanyian pemazmur, baginya tidak ada benteng pertahanan dan tempat perlindungan yang paling aman di dunia ini. Bagi pemazmur hanya Tuhan Allah sebagai gunung batu bagiNya. Pengakuan pemazmur ini menyadarkan kita sehebat apapun tembok kota yang dibangun terbatas kekuatannya. Sehebat apapun penjaga mengawal kota, mereka memiliki keterbatasan. Bagi pemazmur Tuhan adalah gunung batu paling aman dan Dia pelindung dari segala rencana jahat musuh-musuhnya.
Sahabat yang baik hati, jika saat ini ditanyakan dimana kah tempat anda merasa palung nyaman dan tenang? Mungkin sebagian menjawab rumah adalah tempat paling nyaman, ada mungkin tempat kerja, ada mungkin tempat usaha atau ada mungkin tempat wisata yang paling indah yang oernah anda kunjungi. Ketenangan, rasa aman dan perlundungan sejayi tidak ditentukan oleh tempat, namun penyertaan Tuhan di setiap tempat yang kita tempati. Seperti pengakuan pemazmur demikian kita percaya bahwa Tuhan adalah gunung batu, tempat perlindungan dan kubu pertahanan bagi kita. Kita semakin menyadari bahwa tidak bisa melindungi diri kita dengan kekuatan diri sendiri. Security sistem yang dibangun oleh IT harus kita akui sangat terbatas. Namun di dalam Tuhan ada perlindungan dan keamanan yang tanpa batas.
#pdt nekson m simanjuntak
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak di pagi ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Selasa, 11/07/2017
Mazmur 71:3 (TB) Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.
Psalms 71:3 (UKJV) Be you my strong habitation, unto which I may continually resort: you have given commandment to save me; for you are my rock and my fortress.
ALLAH adalah gunung batu, suatu istilah yang sering disebutkan dalam Alkitab yang memiliki makna bahwa Allah adalah benteng pertahanan, tempat perlindungan paling aman dan tempat berdiri kokoh. Mengapa Allah diswbut sebagai gunung batu. Tentu dalam dunia PL gunung batu menjadi tempat perlindungan yang nyaman. Hal itu berkaitan dengan peradaban jaman PL. Dimana Kota-kota dalam Perjanjian Lama biasanya di kelilingi oleh tembok. Bangsa-bangsa berlomba jaya dengan merebut dan menahlukkan kota lainnya, jaman yang penuh peperangan. Maka kota yang dibangun tembok yang disebut juga kubu pertahanan. Kuatnya kota sering diukur dari bagaimana kekuatan tembok dan benteng pertahanan yang dibangun untuk melindungi kota dari musuh. Gerbang pintu masuk kota dijaga ketat dan tembok yang kokoh yang terbuat dari bahan-bahan batu padas. Dibalik tembok mereka aman berlindung dan posisi aman untuk menyerang musuh yang datang. Dengan gambaran konstruksi kota di jaman itu kita semakin memahami arti makna Allah gunung batu. Selain menggambarkan kekokohan juga sebagai perlindungan paling aman.
Inilah nyanyian pemazmur, baginya tidak ada benteng pertahanan dan tempat perlindungan yang paling aman di dunia ini. Bagi pemazmur hanya Tuhan Allah sebagai gunung batu bagiNya. Pengakuan pemazmur ini menyadarkan kita sehebat apapun tembok kota yang dibangun terbatas kekuatannya. Sehebat apapun penjaga mengawal kota, mereka memiliki keterbatasan. Bagi pemazmur Tuhan adalah gunung batu paling aman dan Dia pelindung dari segala rencana jahat musuh-musuhnya.
Sahabat yang baik hati, jika saat ini ditanyakan dimana kah tempat anda merasa palung nyaman dan tenang? Mungkin sebagian menjawab rumah adalah tempat paling nyaman, ada mungkin tempat kerja, ada mungkin tempat usaha atau ada mungkin tempat wisata yang paling indah yang oernah anda kunjungi. Ketenangan, rasa aman dan perlundungan sejayi tidak ditentukan oleh tempat, namun penyertaan Tuhan di setiap tempat yang kita tempati. Seperti pengakuan pemazmur demikian kita percaya bahwa Tuhan adalah gunung batu, tempat perlindungan dan kubu pertahanan bagi kita. Kita semakin menyadari bahwa tidak bisa melindungi diri kita dengan kekuatan diri sendiri. Security sistem yang dibangun oleh IT harus kita akui sangat terbatas. Namun di dalam Tuhan ada perlindungan dan keamanan yang tanpa batas.
#pdt nekson m simanjuntak
Minggu, 09 Juli 2017
OLEH IMAN
OLEH IMAN
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati marilah kita mengambil waktu sejenak di pagi ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Senin 10/07/2017
Ibrani 11:3 (TB) Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
Hebrews 11:3 (ISVN) By faith we understand that the universe was prepared by the word of God, so that what is seen was made from things that are invisible.
Ibrani pasal 11 merupakan uraian akan arti iman dalam hidup orang percaya. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (11:1). Iman adalah kepastian dalam ketidak pastian, kemungkinan di dalam ketidak mungkinan. Oleh iman kita melihat apa yang tidak kelihatan dan menjangkau apa yang tidak dapat kita jangkau. Rumusan-rumusan itu nyata dalam pengalaman bapak-bapak leluhur orang percaya sebagaimana kesaksian Alkitab.
Iman memungkinkan kita memahami apa yang tidak kita pahami. Tanpa mengabaikan teori-teori sains, iman membimbing kita untuk memahami apa yang di luar perkiraan manusia. Memang betul, dalam berbagai misteri dalam kehidupan ini, sains telah membantu kita memahami apa yang terjadi di jagad raya ini namun harus kita akui bahwa tak semuanya misteri di alam semesta ini dapat diungkapkan oleh sains. Sains perlu membangun pikiran logis, menolong kita menemukan rahasia kebenaran cara kerja Allah. Namun iman semakin membawa kita memahami dan mengerti rahasia jagad raya ini dalam terang firman Allah.
Iman mengajar kita bahwa segala sesuatu terjadi karena firman. Allah mencipta dari yang tidak ada menjadi ada. Allah berfirman jadilah, maka jadilah demikian (Baca kisah Penciptaan dalam Kej 1:1-2:4a). Inilah kemahakuasaan Allah yang tak terjangkau oleh akal.
Tahu kah anda apa yang dilakukan Niel Amstrong, astronot USA pertama yang berhasil mendarat di bulan. Dia sujud dan takjub atas kemahakuasaan Tuhan melalui segala ciptaannya. Orang dijamannya mendarat di bulan adalah sesuatu yang imposible. Keberhasilan mendarat di bulan bukan meninggikan diri dan pemuja tehnologi meniadakan iman namun membuatnya semakin sujud dan takjub atas kemahakuasaan Tuhan dan begitu banyak misteri alam yang tersembunyi di balik segala ciptaanNya.
Banyak pandangan yang keliru seolah iman tidak membutuhkan pengetahuan, dan sebaliknya ada banyak ilmuan yang hendak menjauhkan pengatahuan dari iman. Renungan di pagi ini mengajarkan iman justru membuat orang semakin mengerti dan memahami apa yang di firmankan oleh Allah. Pengetahuan membutuhkan iman agar semakin mengetahui rahasia sains yang luar biasa. Seperti astronot Niel Amstrong yang mencapai puncak pengetahuan pada jaman itu dia sujud atas kemahakuasaan dan rahasia Allah lewat ciptaanNya. Maka bagi orangbpercaya: iman dan sains bukanlah duel yang saling meniadakan, namun duet yang saling menguatkan.
Sahabat yang baik hati, banyak hal yang tak terpresiksi oleh akal terjadi dalam hidup kita dan kitablihat sendiri. Analisis logis kita juga terbatas untuk memprediksi akan apa yang terjadi esok. Namun oleh iman kita berani melangkah seperti bapak-bapak orang percaya sebagaimana didaftar oleh penulis Ibrani mulai dari Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Hakim-hakim dll. Mereka menjalani hidupnya dengan iman dan melihat sendiri apa yang tak mungkin nyata di dalam hidup mereka. Rahasianya ada pada iman. Maka jalanilah segala sesuatu di dalam iman.
Doa: Ya Tuhan berikanlah bagi kami iman yang kokoh dan iman yang semakin mengerti akan rahasia firmanMu dalam hidup kami. Amin
#pdt nekson m sjuntak
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati marilah kita mengambil waktu sejenak di pagi ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Senin 10/07/2017
Ibrani 11:3 (TB) Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
Hebrews 11:3 (ISVN) By faith we understand that the universe was prepared by the word of God, so that what is seen was made from things that are invisible.
Ibrani pasal 11 merupakan uraian akan arti iman dalam hidup orang percaya. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (11:1). Iman adalah kepastian dalam ketidak pastian, kemungkinan di dalam ketidak mungkinan. Oleh iman kita melihat apa yang tidak kelihatan dan menjangkau apa yang tidak dapat kita jangkau. Rumusan-rumusan itu nyata dalam pengalaman bapak-bapak leluhur orang percaya sebagaimana kesaksian Alkitab.
Iman memungkinkan kita memahami apa yang tidak kita pahami. Tanpa mengabaikan teori-teori sains, iman membimbing kita untuk memahami apa yang di luar perkiraan manusia. Memang betul, dalam berbagai misteri dalam kehidupan ini, sains telah membantu kita memahami apa yang terjadi di jagad raya ini namun harus kita akui bahwa tak semuanya misteri di alam semesta ini dapat diungkapkan oleh sains. Sains perlu membangun pikiran logis, menolong kita menemukan rahasia kebenaran cara kerja Allah. Namun iman semakin membawa kita memahami dan mengerti rahasia jagad raya ini dalam terang firman Allah.
Iman mengajar kita bahwa segala sesuatu terjadi karena firman. Allah mencipta dari yang tidak ada menjadi ada. Allah berfirman jadilah, maka jadilah demikian (Baca kisah Penciptaan dalam Kej 1:1-2:4a). Inilah kemahakuasaan Allah yang tak terjangkau oleh akal.
Tahu kah anda apa yang dilakukan Niel Amstrong, astronot USA pertama yang berhasil mendarat di bulan. Dia sujud dan takjub atas kemahakuasaan Tuhan melalui segala ciptaannya. Orang dijamannya mendarat di bulan adalah sesuatu yang imposible. Keberhasilan mendarat di bulan bukan meninggikan diri dan pemuja tehnologi meniadakan iman namun membuatnya semakin sujud dan takjub atas kemahakuasaan Tuhan dan begitu banyak misteri alam yang tersembunyi di balik segala ciptaanNya.
Banyak pandangan yang keliru seolah iman tidak membutuhkan pengetahuan, dan sebaliknya ada banyak ilmuan yang hendak menjauhkan pengatahuan dari iman. Renungan di pagi ini mengajarkan iman justru membuat orang semakin mengerti dan memahami apa yang di firmankan oleh Allah. Pengetahuan membutuhkan iman agar semakin mengetahui rahasia sains yang luar biasa. Seperti astronot Niel Amstrong yang mencapai puncak pengetahuan pada jaman itu dia sujud atas kemahakuasaan dan rahasia Allah lewat ciptaanNya. Maka bagi orangbpercaya: iman dan sains bukanlah duel yang saling meniadakan, namun duet yang saling menguatkan.
Sahabat yang baik hati, banyak hal yang tak terpresiksi oleh akal terjadi dalam hidup kita dan kitablihat sendiri. Analisis logis kita juga terbatas untuk memprediksi akan apa yang terjadi esok. Namun oleh iman kita berani melangkah seperti bapak-bapak orang percaya sebagaimana didaftar oleh penulis Ibrani mulai dari Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Hakim-hakim dll. Mereka menjalani hidupnya dengan iman dan melihat sendiri apa yang tak mungkin nyata di dalam hidup mereka. Rahasianya ada pada iman. Maka jalanilah segala sesuatu di dalam iman.
Doa: Ya Tuhan berikanlah bagi kami iman yang kokoh dan iman yang semakin mengerti akan rahasia firmanMu dalam hidup kami. Amin
#pdt nekson m sjuntak
Sabtu, 08 Juli 2017
YESUS MEMBERI KELEGAAN DAN KEBAHAGIAAN
YESUS MEMBERI KELEGAAN
(Matius 11:16-19; 25-30)
Selamat hari minggu!
Matius 11:28 (TB) "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Kutipan ayat di atas adalah satu ayat emas dalam Alkitab yang sangat menyejukkan bagi orang percaya. Dalam dunia yang sarat dengan kesibukan membuat kita lelah, letih, lesu dan berbeban berat. Nats ini melebihi dari air sejuk bagi orang yang haus, atau sebungkus nasi bagi orang yang sedang lapar dan sapaan sahabat yang peduli ketika kita menghadapi pergumulan atau sehelai selimut ketika tubuh merasakan dingin. Inilah seruan manis Yesus yang datang hendak memberikan kelegaan dan kepastian kebahagiaan bagi setiap orang yang mau datang, belajar dan bagi yang bersedia ikut memikul kuk dalam barisan pengikut jejak Yesus Kristus. Kuk yang dibebankan tidaklah berat, namun ringan dan kita mampu memikulNya. Tuhan tidak pernah memberikan beban bagi orang yang dikasihiNya lebih dari kemampuannya. Semua kita jalani demi mencapai kebahagiaan yang hendak dianugerahkan kepada kita.
Jika Yesus datang hendak memberikan kelegaan dan kebahagiaan, mengapa menolakNya? Dalam perikop kotbah minggu ini didahului dengan Mat 11:26-19 Yesus menggambarkan penolakan Yahudi terhadap Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri seperti anak-anak yang ngambek. Mereka tidak mau lagi bermain sekalipun seruling sudah dimainkan namun mereka tak mau menari. Mereka murung sekali diajak tak akan peduli lagi. Bukan hanya tak peduli, mereka sudah sinis tak karuan menuduh Yohanes Pembaptis kerasukan setan (11:28) dan Yesus dituduh yang macam-macam: pelahap, peminum dan bergaul dengan orang pendosa (11:19). Itu semua hanya alasan karena tidak mau menyambut Kabar Baik. Sebenarnya tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk menolak Yesus karena mereka telah menyaksiakan sendiri pengajaran, kotbah dan mujizat yang dilakukanNya: menyembuhkan orang sakit, yang lumpuh berjalan, yang buta melihat bahkan yang mati pun dapat dihidupkan. SemuaNya dilakukan untuk mewujudkan kasih Allah akan dunia ini.
Firman Tuhan minggu ini mengajak kita:
1. Jangan tolak Firman Tuhan yang disampaikan oleh hamba Tuhan namun sambutlah Firman karena firman itu adalah roti kehidupan.
2. Jangan sia-siakan kesempatan ini, Yesus datang berseru dan memanggil sambil menyebut nama kita satu persatu. Dia tahu apa keluh dan beban yang menimpa hidup kita.
3. Ikutlah menikmati kelegaan dan kebahagiaan yang diberikan oleh Yesus kepada kita dengan bersedia:
a. Datang kepada Yesus
b. Memikul kuk yang dibebankan
c. Belajar dari rendah hati dan kelemah-lembutan Yesus:
Yesus mengetahui kesibukan kita masing-masing, Dia tidak membiarkan kita penat, letih dan lesu oleh beban pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran. Jangan cari ketenangan dan kelegaan sesaat di dunia ini karena bisa membuat anda lebih terbeban atau muncul masalah baru. Namun datanglah kepada Yesus, Dia telah menunggu kehadiran kita dan sungguh-sungguh hendak memberikan kelegaan dan kebahagiaan kita.
#pdt nekson m sjuntak
(Matius 11:16-19; 25-30)
Selamat hari minggu!
Matius 11:28 (TB) "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Kutipan ayat di atas adalah satu ayat emas dalam Alkitab yang sangat menyejukkan bagi orang percaya. Dalam dunia yang sarat dengan kesibukan membuat kita lelah, letih, lesu dan berbeban berat. Nats ini melebihi dari air sejuk bagi orang yang haus, atau sebungkus nasi bagi orang yang sedang lapar dan sapaan sahabat yang peduli ketika kita menghadapi pergumulan atau sehelai selimut ketika tubuh merasakan dingin. Inilah seruan manis Yesus yang datang hendak memberikan kelegaan dan kepastian kebahagiaan bagi setiap orang yang mau datang, belajar dan bagi yang bersedia ikut memikul kuk dalam barisan pengikut jejak Yesus Kristus. Kuk yang dibebankan tidaklah berat, namun ringan dan kita mampu memikulNya. Tuhan tidak pernah memberikan beban bagi orang yang dikasihiNya lebih dari kemampuannya. Semua kita jalani demi mencapai kebahagiaan yang hendak dianugerahkan kepada kita.
Jika Yesus datang hendak memberikan kelegaan dan kebahagiaan, mengapa menolakNya? Dalam perikop kotbah minggu ini didahului dengan Mat 11:26-19 Yesus menggambarkan penolakan Yahudi terhadap Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri seperti anak-anak yang ngambek. Mereka tidak mau lagi bermain sekalipun seruling sudah dimainkan namun mereka tak mau menari. Mereka murung sekali diajak tak akan peduli lagi. Bukan hanya tak peduli, mereka sudah sinis tak karuan menuduh Yohanes Pembaptis kerasukan setan (11:28) dan Yesus dituduh yang macam-macam: pelahap, peminum dan bergaul dengan orang pendosa (11:19). Itu semua hanya alasan karena tidak mau menyambut Kabar Baik. Sebenarnya tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk menolak Yesus karena mereka telah menyaksiakan sendiri pengajaran, kotbah dan mujizat yang dilakukanNya: menyembuhkan orang sakit, yang lumpuh berjalan, yang buta melihat bahkan yang mati pun dapat dihidupkan. SemuaNya dilakukan untuk mewujudkan kasih Allah akan dunia ini.
Firman Tuhan minggu ini mengajak kita:
1. Jangan tolak Firman Tuhan yang disampaikan oleh hamba Tuhan namun sambutlah Firman karena firman itu adalah roti kehidupan.
2. Jangan sia-siakan kesempatan ini, Yesus datang berseru dan memanggil sambil menyebut nama kita satu persatu. Dia tahu apa keluh dan beban yang menimpa hidup kita.
3. Ikutlah menikmati kelegaan dan kebahagiaan yang diberikan oleh Yesus kepada kita dengan bersedia:
a. Datang kepada Yesus
b. Memikul kuk yang dibebankan
c. Belajar dari rendah hati dan kelemah-lembutan Yesus:
Yesus mengetahui kesibukan kita masing-masing, Dia tidak membiarkan kita penat, letih dan lesu oleh beban pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran. Jangan cari ketenangan dan kelegaan sesaat di dunia ini karena bisa membuat anda lebih terbeban atau muncul masalah baru. Namun datanglah kepada Yesus, Dia telah menunggu kehadiran kita dan sungguh-sungguh hendak memberikan kelegaan dan kebahagiaan kita.
#pdt nekson m sjuntak
Jumat, 07 Juli 2017
MENJAGA DIRI
MENJAGA DIRI
Selamat pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Sabtu 08/07/2017
Mazmur 18:23 (TB) (18-24) aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan.
Psalms 18:23 (UKJV) I was also upright before him, and I kept myself from mine iniquity.
Kita pasti setuju bahwa manusia tidak ada yang sempurna; semua punya kelemahan masing-masing dan pernah salah. Namun ungkapan ini harus dicermati, sering menjadi dalih untuk memaklumi keadaan dan membenarkan kesalahan. Ungkapan di atas sesungguhnya agar kita membuka ruang memahami orang lain yang jauh dari harapan, bukan untuk membenarkan kesalahan. Setiap orang harus dimotivasi agar memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Jika salah segera perbaiki dan berusaha untuk lebih baik. Demikialah di pagi hari ini, pemazmur memiliki komitment berusaha untuk tidak bercela di hadapan Tuhan dan menjaga diri agar tidak jatuh dalam berbagai kesalahan.
Mrngapa pemazmur berusaha tidak bercela di hadapan Tuhan dan menjaga diri terhadap kesalahan? Jawabannya adalah rasa takjub dan takut akan Tuhan. Jika kita baca Mazmur 18 ini keseluruhan, ada suatu benang merah: pada ayat 1-6 masalah yang dihadapi pemazmur hingga dia hampir mati: tali maut telah melilitnya, terjebak dalam perangkap maut. Ibarat orang yang hamir mati karena tenggelam. Namun ayat 7-13 Tuhan menolong dan melindungi. Tuhan adalah penyelamat, pelindung dan parusainya. Atas pertolongan yang dirasakannya, pemazmur semakin setia dan mengikuti jalan Tuhan. Pemazmur bertekat unruk berlaku tidak bercela dan menjaga diri dari kesalahan bukan karena tekanan, namun karena panggilan hati dan hormat kepada Tuhan.
Untuk mendalami renungan ini dapat kita buat contoh sederhana. Jika seorang pemuda mencintai seorang gadis pujaan hatinya, pasti dia berusaha melakukan apa yang terbaik sesuai dengan yg diharapkan kekasihnya. Dia berusaha agar tidak mengecewakan namun tampil menjadi orang terbaik yang dikenalnya. Demikian juga kita dalam hidup keluarga, berbagai hal kita lakukan yang terbaik untuk keluarga agar istri/suami dan anak-anak. Kita adalah kebanggaan mereka, karena itu tak akan mengecewakan mereka.
Demikianlah pemazmur dalam renungan ini; bertekad dan berkomitmet akan hidup tidak bercela dihadapan Tuhan dan berusaha agar tidak jatuh dalam berbagai kesalahan yang mendukakan hati Tuhan.
Sahabat yang baik hati, marilah ikut seperti komitmen pemazmur ini; berusaha melakukan yang terbaik, jauhkan dari diri kita perbuatan yang bercela dan merendahkan kita sebagai anak-anak terang. Kita mahal dan berharga di mata Tuhan.
#pdt nekson m sjuntak
Selamat pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Sabtu 08/07/2017
Mazmur 18:23 (TB) (18-24) aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan.
Psalms 18:23 (UKJV) I was also upright before him, and I kept myself from mine iniquity.
Kita pasti setuju bahwa manusia tidak ada yang sempurna; semua punya kelemahan masing-masing dan pernah salah. Namun ungkapan ini harus dicermati, sering menjadi dalih untuk memaklumi keadaan dan membenarkan kesalahan. Ungkapan di atas sesungguhnya agar kita membuka ruang memahami orang lain yang jauh dari harapan, bukan untuk membenarkan kesalahan. Setiap orang harus dimotivasi agar memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Jika salah segera perbaiki dan berusaha untuk lebih baik. Demikialah di pagi hari ini, pemazmur memiliki komitment berusaha untuk tidak bercela di hadapan Tuhan dan menjaga diri agar tidak jatuh dalam berbagai kesalahan.
Mrngapa pemazmur berusaha tidak bercela di hadapan Tuhan dan menjaga diri terhadap kesalahan? Jawabannya adalah rasa takjub dan takut akan Tuhan. Jika kita baca Mazmur 18 ini keseluruhan, ada suatu benang merah: pada ayat 1-6 masalah yang dihadapi pemazmur hingga dia hampir mati: tali maut telah melilitnya, terjebak dalam perangkap maut. Ibarat orang yang hamir mati karena tenggelam. Namun ayat 7-13 Tuhan menolong dan melindungi. Tuhan adalah penyelamat, pelindung dan parusainya. Atas pertolongan yang dirasakannya, pemazmur semakin setia dan mengikuti jalan Tuhan. Pemazmur bertekat unruk berlaku tidak bercela dan menjaga diri dari kesalahan bukan karena tekanan, namun karena panggilan hati dan hormat kepada Tuhan.
Untuk mendalami renungan ini dapat kita buat contoh sederhana. Jika seorang pemuda mencintai seorang gadis pujaan hatinya, pasti dia berusaha melakukan apa yang terbaik sesuai dengan yg diharapkan kekasihnya. Dia berusaha agar tidak mengecewakan namun tampil menjadi orang terbaik yang dikenalnya. Demikian juga kita dalam hidup keluarga, berbagai hal kita lakukan yang terbaik untuk keluarga agar istri/suami dan anak-anak. Kita adalah kebanggaan mereka, karena itu tak akan mengecewakan mereka.
Demikianlah pemazmur dalam renungan ini; bertekad dan berkomitmet akan hidup tidak bercela dihadapan Tuhan dan berusaha agar tidak jatuh dalam berbagai kesalahan yang mendukakan hati Tuhan.
Sahabat yang baik hati, marilah ikut seperti komitmen pemazmur ini; berusaha melakukan yang terbaik, jauhkan dari diri kita perbuatan yang bercela dan merendahkan kita sebagai anak-anak terang. Kita mahal dan berharga di mata Tuhan.
#pdt nekson m sjuntak
Kamis, 06 Juli 2017
MENCARI DAN MENYELAMATKAN YANG HILANG
MENCARI DAN MENYELAMATKAN YANG HILANG
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Jumat 08/07/2017
Lukas 19:10 (TB) Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."
Luke 19:10 (UKJV) For the Son of man has come to seek and to save that which was lost.
Ada satu kisah mensrik dari Ajahn Brahm dalnlam buku Su Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Kumpulan cerita motivasi dan inspirasi) yang mungkin sangat menarik dan inspiratif bagi kita:
Seorang ibu muda datang ke tabib untuk meminta saran bagaimana dia bisa cerai dan melepaskan diri dari beban keluarga yang ditanggungnya selama ini. Dia sudah mencoba melayani suaminya dengan baik dan mertuanya karena maklum mereka masih tinggal di rumah mertua. Namun setiap kali apa yang dilakukannya tidak pernah dihargai, bahkan mendapat omelan yang macam-macam. Hari-harinya pun murung, boring dan suasana rumah bagaikan neraka. Itulah alasannya bagaimana memutuskan semua ini dan meminta saran dari tabib. Sang tabib memaklumi perasaan sang ibu muda, begitu dalamnya pergumulan yang dihadapinya. Maka sang tabib pùn akhirnya memberi saran: kalau cerai tidak boleh karena dilarang oleh agama, dibarengi adat juga membuat malu keluarga. Maka lebih baik diberikan racikan yang akan diberi setiap menyajikan masakan bagi suami dan mertuanya agar mereka mati perlahan. Namun agar mereka tak curiga: berusahalah ramah, gembira dan hadapilah semunya dengan senyum tanpa beban, anggap saja tidak ada masalah. Hilangkan wajah murung dan menggerutu. Sang ibu muda pun menyanggupinya dan tepat di hatinya. Dia pun melakukannya dengan gembira, senyum setiap hari dan penuh perhatian terhadap suami dan mertuanya tanpa beban dan tak lupa meneteskan racikan tabib. Demikianlah hari-harinya berlalu dan berharap semuanya akan berakhir. Namun apa yang terjadi keluarga ini penuh bahagia, senyum dan tawa mulai mewarnai mereka sepanjang hari, liburan mereka bersama dan merasakan bahagia. Kebahagiaan itu bukan lah pura-pura namun benar-benar merasakan kehangatan, perhatian dan kasih sayang dalam keluarga.
Hari, minggu dan tiga bulan purnama pun berlalu. Dia pergi ke tabib menyesali keadaan kalau-kalau suami dan mertuanya mati sebagaimana rencana tabib. Dia memohon dan menangis agar ada obat penawar yang dapat diberikan tabib. Tabib pun menjawab tidak ada obatnya semuanya sudah terlanjur. Sang ibu muda pun menangis menyesali keadaan karena dia sudah merasakan kebahagiaan dan tak mau. Namun tabib tersenyum dan berkata: pulanglah engkau telah menemukan kebahagiaanmu. Racikan yang diberikan hanyalah bumbu vitamin. Yang mengubah keadaan adalah sikapnya yang baik pada suami dan mertuanya. Sang ibu muda pun bahagia dan menikmati kebahagiaannya.
Sahabat yang baik hati. Kisah di atas satu dari sekian contoh jangan cepat mengambil keputusan jika ada masalah, berusahalah dulu memperbaikinya dengan mengubah sikap bisa dari diri kita dan juga orang yang kita harapkan berubah.
Yesus dalam renungan pagi ini bersabda : Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita telah diampuni dan dimaafkan oleh kasihNya yang begitu besar. Dia tidak mengingat-ingat kesalahan kita, tidak membalaskan seturut dengan perbuatan kita. Oleh dosa kita telah tersesat dan jauh dari kasih karunia dan kebahagiaan. Namun oleh KasihNya seperti seorang gembala yang mencari domba yang tersesat demikian Tuhan Yesus datang menjemput kita agar dirangkul dalam kasih sayangNya. Dia tidak bahagia, jika ada dari antara dombanya yang tidak berkumpul dalam kawanan domba.
Demikian pula kita dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan. Jika ada yang kurang tepat di hati jangan terlalu cepat mengambil keputusan apalagi dengan angkara murka yang membuat keadaan lebih buruk. Namun mari dengan pikiran yang tenang dan berusaha memperbaikinya agar kebahagiaan tidak direnggut oleh masalah. Jangan biarkan kebahagiaanmu hilang oleh masalah. Cari dan temukan, Tuhan Yesus menolong kita.
#pdt nekson m sjuntak
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Jumat 08/07/2017
Lukas 19:10 (TB) Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."
Luke 19:10 (UKJV) For the Son of man has come to seek and to save that which was lost.
Ada satu kisah mensrik dari Ajahn Brahm dalnlam buku Su Cacing dan Kotoran Kesayangannya (Kumpulan cerita motivasi dan inspirasi) yang mungkin sangat menarik dan inspiratif bagi kita:
Seorang ibu muda datang ke tabib untuk meminta saran bagaimana dia bisa cerai dan melepaskan diri dari beban keluarga yang ditanggungnya selama ini. Dia sudah mencoba melayani suaminya dengan baik dan mertuanya karena maklum mereka masih tinggal di rumah mertua. Namun setiap kali apa yang dilakukannya tidak pernah dihargai, bahkan mendapat omelan yang macam-macam. Hari-harinya pun murung, boring dan suasana rumah bagaikan neraka. Itulah alasannya bagaimana memutuskan semua ini dan meminta saran dari tabib. Sang tabib memaklumi perasaan sang ibu muda, begitu dalamnya pergumulan yang dihadapinya. Maka sang tabib pùn akhirnya memberi saran: kalau cerai tidak boleh karena dilarang oleh agama, dibarengi adat juga membuat malu keluarga. Maka lebih baik diberikan racikan yang akan diberi setiap menyajikan masakan bagi suami dan mertuanya agar mereka mati perlahan. Namun agar mereka tak curiga: berusahalah ramah, gembira dan hadapilah semunya dengan senyum tanpa beban, anggap saja tidak ada masalah. Hilangkan wajah murung dan menggerutu. Sang ibu muda pun menyanggupinya dan tepat di hatinya. Dia pun melakukannya dengan gembira, senyum setiap hari dan penuh perhatian terhadap suami dan mertuanya tanpa beban dan tak lupa meneteskan racikan tabib. Demikianlah hari-harinya berlalu dan berharap semuanya akan berakhir. Namun apa yang terjadi keluarga ini penuh bahagia, senyum dan tawa mulai mewarnai mereka sepanjang hari, liburan mereka bersama dan merasakan bahagia. Kebahagiaan itu bukan lah pura-pura namun benar-benar merasakan kehangatan, perhatian dan kasih sayang dalam keluarga.
Hari, minggu dan tiga bulan purnama pun berlalu. Dia pergi ke tabib menyesali keadaan kalau-kalau suami dan mertuanya mati sebagaimana rencana tabib. Dia memohon dan menangis agar ada obat penawar yang dapat diberikan tabib. Tabib pun menjawab tidak ada obatnya semuanya sudah terlanjur. Sang ibu muda pun menangis menyesali keadaan karena dia sudah merasakan kebahagiaan dan tak mau. Namun tabib tersenyum dan berkata: pulanglah engkau telah menemukan kebahagiaanmu. Racikan yang diberikan hanyalah bumbu vitamin. Yang mengubah keadaan adalah sikapnya yang baik pada suami dan mertuanya. Sang ibu muda pun bahagia dan menikmati kebahagiaannya.
Sahabat yang baik hati. Kisah di atas satu dari sekian contoh jangan cepat mengambil keputusan jika ada masalah, berusahalah dulu memperbaikinya dengan mengubah sikap bisa dari diri kita dan juga orang yang kita harapkan berubah.
Yesus dalam renungan pagi ini bersabda : Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita telah diampuni dan dimaafkan oleh kasihNya yang begitu besar. Dia tidak mengingat-ingat kesalahan kita, tidak membalaskan seturut dengan perbuatan kita. Oleh dosa kita telah tersesat dan jauh dari kasih karunia dan kebahagiaan. Namun oleh KasihNya seperti seorang gembala yang mencari domba yang tersesat demikian Tuhan Yesus datang menjemput kita agar dirangkul dalam kasih sayangNya. Dia tidak bahagia, jika ada dari antara dombanya yang tidak berkumpul dalam kawanan domba.
Demikian pula kita dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan. Jika ada yang kurang tepat di hati jangan terlalu cepat mengambil keputusan apalagi dengan angkara murka yang membuat keadaan lebih buruk. Namun mari dengan pikiran yang tenang dan berusaha memperbaikinya agar kebahagiaan tidak direnggut oleh masalah. Jangan biarkan kebahagiaanmu hilang oleh masalah. Cari dan temukan, Tuhan Yesus menolong kita.
#pdt nekson m sjuntak
Rabu, 05 Juli 2017
JANJINYA TEPAT
JANJINYA TEPAT
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Kamis 06/07/2017
Yesaya 43:13 (TB) Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?"
Isaiah 43:13 (UKJV) Yea, before the day was I am he; and there is none that can deliver out of my hand: I will work, and who shall let it?
Ada dialektika dalam diri bangsa Israel ketika menjalani pembuangan. Di satu sisi mereka percaya kepada kemahakuasaan Tuhan, namun di satu sisi mereka sulit menerima kenyataan dalamnm pembuangan dan ketidak-berdayaan mereka atas kekuasaan Babilonia. Tak banyak yang semakin ragu di manakah kemahakuasaanNya dan di manakah janjiNya? Bukankah mereka adalah umat pilihan dan Tuhan berjanji akan melindungi mereka dari bangsa asing, memberkati mereka panjang umur di tanah yang diberikan Tuhan Allah kepada mereka? Sulit menerima kenyataan hidup dalam pembuangan.
Yesaya nabi yang menyuarakan pengharapan Mesianis bersama nabi-nabi lainnya. Bahwa Allah akan menepati janjinya membebas mereka dari Pembuangan Babel dan memulihkan keadaan Yerusalem. Tidak ada kekuatan lain yang dapat membebaskan mereka. Keselamatan hanya ada si tangan Tuhan. Sekali Tuhan berjanji tidak ada yang dapat melepaskan Israel kecuali tangan Tuhan sendiri.
Yesaya menantang umat dalam pembuangan bahwa mereka akan menjadi saksi bahwa Tuhan akan menepati janjinya dengan membebaskan mereka dari pembuangan Babilonia. Karena itu jangan berpengharapan kepada ilah lain atau kekuatan apapun itu untuk menawarkan pembebasan alternatif atau nubuatan-nubuatan palsu yang memberitakan damai dan pembebasan umatNya atas nama Tuhan. Jangan percaya pada nubuatan yang enak di dengar namun jauh dari kebenaran. Mereka hanya nabi palsu yang menyesatkan. Tuhan sendiri akan membebaskan umatNya, namun mereka harus menjalani pembuangan untuk memurnikan mereka. Seperti pandai besi yang memurnikan besi setelah memasukkannya dalam tuangan peleburan atau seperti tukang perium yang membentuk seturut dengan kehendak tukang periuk.
Tuhan akan menepati janjiNya. Firmannya tidak pernah kembali sia-sia. Sekali Ia berfirman jadilah, maka jadilah demikian.
Yesaya 55:11 (TB) demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
Sahabat yang baik hati! Inilah firman Tuhan yang meneguhkan kita kepada pengharapan. Tuhan itu maha kuasa apa yang difirmankannya akan digenapi seturut dengan kehendakNya. Inilah harapan bagi kita, Tuhan akan mendengar dan menjawab doa kita. Janjinya tepat waktu dan baik bagi kita.
#pdt nekson m sjuntak
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Kamis 06/07/2017
Yesaya 43:13 (TB) Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?"
Isaiah 43:13 (UKJV) Yea, before the day was I am he; and there is none that can deliver out of my hand: I will work, and who shall let it?
Ada dialektika dalam diri bangsa Israel ketika menjalani pembuangan. Di satu sisi mereka percaya kepada kemahakuasaan Tuhan, namun di satu sisi mereka sulit menerima kenyataan dalamnm pembuangan dan ketidak-berdayaan mereka atas kekuasaan Babilonia. Tak banyak yang semakin ragu di manakah kemahakuasaanNya dan di manakah janjiNya? Bukankah mereka adalah umat pilihan dan Tuhan berjanji akan melindungi mereka dari bangsa asing, memberkati mereka panjang umur di tanah yang diberikan Tuhan Allah kepada mereka? Sulit menerima kenyataan hidup dalam pembuangan.
Yesaya nabi yang menyuarakan pengharapan Mesianis bersama nabi-nabi lainnya. Bahwa Allah akan menepati janjinya membebas mereka dari Pembuangan Babel dan memulihkan keadaan Yerusalem. Tidak ada kekuatan lain yang dapat membebaskan mereka. Keselamatan hanya ada si tangan Tuhan. Sekali Tuhan berjanji tidak ada yang dapat melepaskan Israel kecuali tangan Tuhan sendiri.
Yesaya menantang umat dalam pembuangan bahwa mereka akan menjadi saksi bahwa Tuhan akan menepati janjinya dengan membebaskan mereka dari pembuangan Babilonia. Karena itu jangan berpengharapan kepada ilah lain atau kekuatan apapun itu untuk menawarkan pembebasan alternatif atau nubuatan-nubuatan palsu yang memberitakan damai dan pembebasan umatNya atas nama Tuhan. Jangan percaya pada nubuatan yang enak di dengar namun jauh dari kebenaran. Mereka hanya nabi palsu yang menyesatkan. Tuhan sendiri akan membebaskan umatNya, namun mereka harus menjalani pembuangan untuk memurnikan mereka. Seperti pandai besi yang memurnikan besi setelah memasukkannya dalam tuangan peleburan atau seperti tukang perium yang membentuk seturut dengan kehendak tukang periuk.
Tuhan akan menepati janjiNya. Firmannya tidak pernah kembali sia-sia. Sekali Ia berfirman jadilah, maka jadilah demikian.
Yesaya 55:11 (TB) demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.
Sahabat yang baik hati! Inilah firman Tuhan yang meneguhkan kita kepada pengharapan. Tuhan itu maha kuasa apa yang difirmankannya akan digenapi seturut dengan kehendakNya. Inilah harapan bagi kita, Tuhan akan mendengar dan menjawab doa kita. Janjinya tepat waktu dan baik bagi kita.
#pdt nekson m sjuntak
Selasa, 04 Juli 2017
BERTEKUNLAH DALAM DOA
BERTEKUNLAH DALAM DOA
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Rabu 05/07/2017
Kolose 4:2 (TB) Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.
Colossians 4:2 (UKJV) Continue in prayer, and watch in the same with thanksgiving;
Agnes Monica hidup tahun 325-387 M, tinggal di Tagaste Afrika Utara. Dia dan suaminya sangat mengeluh atas sikap anaknya bernama Agustinus. Namun Agnes Monica seorang yang saleh dan tekun dalam doa. Dia terus mendoakan anaknya setiap hari: seolah dia tak membiarkan matahari terbit sebelum mendoakan anaknya, dan tidak membiarkan malam berlalu sebelum mendoakan anaknya. Demikianlah hari-hari yang dijalani penuh dengan doa untuk anaknya. Tuhan pun mendengarkan doanya pada umur 17 tahun Agustinus berubah setelah menemukan secarik kertas bertuliskan Roma 13:13 (TB) berisikan: Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.
Kata-kata ini membuat Agustinus penasaran dan bertanya kepada ibunya apa arti tulisan tersebut. Akhirnya ibunya membawa Agustinus ke Seminare untuk belajar theology. Dia sangat tekun belajar dan menjadi hamba Tuhan dan Uskup yang sangat terkenal bahkan menjadi Bapa Gereja yang sangat dihormati.
Pengalaman Agnes Monica ini adalah salah satu contoh dalam hidup orang percaya bahwa doa itu sangat kuat kuasanya untuk mengubah kehidupann yang mungkin sangat sulit sekalipun diubah. Doa membuka ruang dari ketidak mungkinan menjadi mungkin karena di dalam doa memberikan ruang bagi Tuhan menentukan apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Mungkin masih banyak pengalaman rohani orang percaya atau pengalaman pribadi kita masing-masing yang membuktikan bahwa dia itu sangat besar kuasanya.
Sahabat yang baik hati. Hari ini firman Tuhan menyapa kita untuk bertekun di dalam doa. Doa adalah nafas kehidupan orang beriman (M.Luther). Istilah ini sangat penting agar hidup oramg percaya tidak terlepas dari doa. Berhenti bernafas berarti kita telah mati. Mungkin istilah ini amat keras dari Luther namun sangat tepat karena orang percaya hidup dalam pertumbuhan iman yang baik. Jika berdoa kita banyak manfaat mengapa harus malas berdoa? Bertekun dalam doa melanjutkan hidup dan semakin banyak bermanfaat dalam hidup ini.
Doa mengingatkan kita akan keterbatasan kita dan ke tidak terbatasan Allah, karena itu doa selalu membuka harapan. Di dalam doa kita mengingat Tuhan atas segala kasih dan karunianya. Setiap kita berdoa, kita akan bersyukur karena di dalam doa kita mengingat Tuhan yang selalu mengangkat tanggannya memberkati kita. Inilah kebaikan Tuhan yang selalu kita syukuri.
Sahabat yang baik hati! Marilah bertekun di dalam doa, bersyukur selalu dalam hidup dan penuh ceria mengongsong hidup yang penuh harapan. Di dalam doa ada kepastian sebagaimana Yesus bersabda:
Matius 21:22 (TB) Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."
#pdt nekson m sjuntak
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Rabu 05/07/2017
Kolose 4:2 (TB) Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.
Colossians 4:2 (UKJV) Continue in prayer, and watch in the same with thanksgiving;
Agnes Monica hidup tahun 325-387 M, tinggal di Tagaste Afrika Utara. Dia dan suaminya sangat mengeluh atas sikap anaknya bernama Agustinus. Namun Agnes Monica seorang yang saleh dan tekun dalam doa. Dia terus mendoakan anaknya setiap hari: seolah dia tak membiarkan matahari terbit sebelum mendoakan anaknya, dan tidak membiarkan malam berlalu sebelum mendoakan anaknya. Demikianlah hari-hari yang dijalani penuh dengan doa untuk anaknya. Tuhan pun mendengarkan doanya pada umur 17 tahun Agustinus berubah setelah menemukan secarik kertas bertuliskan Roma 13:13 (TB) berisikan: Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.
Kata-kata ini membuat Agustinus penasaran dan bertanya kepada ibunya apa arti tulisan tersebut. Akhirnya ibunya membawa Agustinus ke Seminare untuk belajar theology. Dia sangat tekun belajar dan menjadi hamba Tuhan dan Uskup yang sangat terkenal bahkan menjadi Bapa Gereja yang sangat dihormati.
Pengalaman Agnes Monica ini adalah salah satu contoh dalam hidup orang percaya bahwa doa itu sangat kuat kuasanya untuk mengubah kehidupann yang mungkin sangat sulit sekalipun diubah. Doa membuka ruang dari ketidak mungkinan menjadi mungkin karena di dalam doa memberikan ruang bagi Tuhan menentukan apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Mungkin masih banyak pengalaman rohani orang percaya atau pengalaman pribadi kita masing-masing yang membuktikan bahwa dia itu sangat besar kuasanya.
Sahabat yang baik hati. Hari ini firman Tuhan menyapa kita untuk bertekun di dalam doa. Doa adalah nafas kehidupan orang beriman (M.Luther). Istilah ini sangat penting agar hidup oramg percaya tidak terlepas dari doa. Berhenti bernafas berarti kita telah mati. Mungkin istilah ini amat keras dari Luther namun sangat tepat karena orang percaya hidup dalam pertumbuhan iman yang baik. Jika berdoa kita banyak manfaat mengapa harus malas berdoa? Bertekun dalam doa melanjutkan hidup dan semakin banyak bermanfaat dalam hidup ini.
Doa mengingatkan kita akan keterbatasan kita dan ke tidak terbatasan Allah, karena itu doa selalu membuka harapan. Di dalam doa kita mengingat Tuhan atas segala kasih dan karunianya. Setiap kita berdoa, kita akan bersyukur karena di dalam doa kita mengingat Tuhan yang selalu mengangkat tanggannya memberkati kita. Inilah kebaikan Tuhan yang selalu kita syukuri.
Sahabat yang baik hati! Marilah bertekun di dalam doa, bersyukur selalu dalam hidup dan penuh ceria mengongsong hidup yang penuh harapan. Di dalam doa ada kepastian sebagaimana Yesus bersabda:
Matius 21:22 (TB) Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."
#pdt nekson m sjuntak
Senin, 03 Juli 2017
JANGAN LUPA SEJARAH
JANGAN LUPA SEJARAH
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Selasa, 04/06/2017
Ulangan 32:7 (TB) Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu.
Deuteronomy 32:7 (UKJV) Remember the days of old, consider the years of many generations: ask your father, and he will show you; your elders, and they will tell you.
Renungan dinpagi ini, merupakan bahagian dari nyanyian Musa sebelum melepaskan bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Pada pasal berikutnya adalah pidato terakhir dan berkat yang disampaikan Musa kepada masing-masing suku Israel (Ul 33) dan pasal 34 tentang berita kematian Musa.
Ketiga bagian penutup dari kitab Ulangan ini sangat penting agar umat Israel dari generasi ke generasi memgingatbperbuatan tangan Tuhan yang besar dan tidak melupakan sejarah. Renungan ini dapat kita bandingkan seperti harapan Sukarno dalam pidato JASMERAH: Jangan Melupakan Sejarah. Bangsa yang besar bangsa yang mengingat sejarahnya.
Musa menasihatkan: Ingatlah pada jaman dahulu kala dan perhatikan tahun-tahun mereka. Suatu ajakan untuk menarik peristiwa yang terjadi bagi leluhur mereka. Hal ini telah dirumuskan dalam bentuk kredo (pengakuan):
Ulangan 6:21-23 (TB) maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat.
TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita;
tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita.
Dengan mengingat ini tentu mereka akan mengingat karya Tuhan yang besar. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena Firaun begitu kuat dan keras kepala hanya karena perbuatan Tuhan mereka bisa keluar Mesir. Bukan hanya itu Tuhan menuntun mereka di Padang gurun dan mengusir musuh-musuh mereka hingga memasuki tanah Kanaan. Padang gurun adalah sangat mematikan, panas sepanas-panasnya tanpa air, ancaman binatang buas dan binatang berbisa mematikan, badai gurun yang mematikan. Semua itu dijalani dengan penyertaan Tuhan yang luar biasa, menyediakan makanan secukupnya bagi mereka. Sungguh hanya karena penyertaan Tuhan mereka dapat menjalaninya. Dengan peristiwa-peristiwa besar ini, mereka akan selalu mengingat Tuhan dan tidak pernah melupakannya.
Tanyakanlah kepada ayahmu! Suatu pernyataan menarik yang disampaikan Musa. Jika ada kesulitan yang mereka hadapi tanyakanlah orangtua; pengalaman mereka sangat penting menghadapi kesulitan. Nasihat mereka juga sangat penting karena berbagai suka dan duka, pahit dan manis dalam menjalani kebidupan ini telah mereka rasakan. Disini juga menjadi catatan penting bahwa orang tua harus menjadi guru yang untuk generasi berikutnya mengingatkan masa lalu dan mengarahkan masa depan.
Sahabat tang baik hati! Apa yang disampaikan dalam renungan di pagi ini mengingatkan kita akan kasih karunia Tuhan dalam perjalanan hidup yang kita lalui masing-masing. Sebagai mana Bangsa Israel hendak memasuki Tanah Kanaan, demikian kita akan memasuki masa depan lewat penyertaan Tuhan.
#pdt nekson m sjuntak
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Selasa, 04/06/2017
Ulangan 32:7 (TB) Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu.
Deuteronomy 32:7 (UKJV) Remember the days of old, consider the years of many generations: ask your father, and he will show you; your elders, and they will tell you.
Renungan dinpagi ini, merupakan bahagian dari nyanyian Musa sebelum melepaskan bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Pada pasal berikutnya adalah pidato terakhir dan berkat yang disampaikan Musa kepada masing-masing suku Israel (Ul 33) dan pasal 34 tentang berita kematian Musa.
Ketiga bagian penutup dari kitab Ulangan ini sangat penting agar umat Israel dari generasi ke generasi memgingatbperbuatan tangan Tuhan yang besar dan tidak melupakan sejarah. Renungan ini dapat kita bandingkan seperti harapan Sukarno dalam pidato JASMERAH: Jangan Melupakan Sejarah. Bangsa yang besar bangsa yang mengingat sejarahnya.
Musa menasihatkan: Ingatlah pada jaman dahulu kala dan perhatikan tahun-tahun mereka. Suatu ajakan untuk menarik peristiwa yang terjadi bagi leluhur mereka. Hal ini telah dirumuskan dalam bentuk kredo (pengakuan):
Ulangan 6:21-23 (TB) maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat.
TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita;
tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita.
Dengan mengingat ini tentu mereka akan mengingat karya Tuhan yang besar. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena Firaun begitu kuat dan keras kepala hanya karena perbuatan Tuhan mereka bisa keluar Mesir. Bukan hanya itu Tuhan menuntun mereka di Padang gurun dan mengusir musuh-musuh mereka hingga memasuki tanah Kanaan. Padang gurun adalah sangat mematikan, panas sepanas-panasnya tanpa air, ancaman binatang buas dan binatang berbisa mematikan, badai gurun yang mematikan. Semua itu dijalani dengan penyertaan Tuhan yang luar biasa, menyediakan makanan secukupnya bagi mereka. Sungguh hanya karena penyertaan Tuhan mereka dapat menjalaninya. Dengan peristiwa-peristiwa besar ini, mereka akan selalu mengingat Tuhan dan tidak pernah melupakannya.
Tanyakanlah kepada ayahmu! Suatu pernyataan menarik yang disampaikan Musa. Jika ada kesulitan yang mereka hadapi tanyakanlah orangtua; pengalaman mereka sangat penting menghadapi kesulitan. Nasihat mereka juga sangat penting karena berbagai suka dan duka, pahit dan manis dalam menjalani kebidupan ini telah mereka rasakan. Disini juga menjadi catatan penting bahwa orang tua harus menjadi guru yang untuk generasi berikutnya mengingatkan masa lalu dan mengarahkan masa depan.
Sahabat tang baik hati! Apa yang disampaikan dalam renungan di pagi ini mengingatkan kita akan kasih karunia Tuhan dalam perjalanan hidup yang kita lalui masing-masing. Sebagai mana Bangsa Israel hendak memasuki Tanah Kanaan, demikian kita akan memasuki masa depan lewat penyertaan Tuhan.
#pdt nekson m sjuntak
Minggu, 02 Juli 2017
TETAP BERSAKSI
TETAP BERSAKSI
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Senin 03/07/2017
Kisah Para Rasul 4:20 (TB) Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar."
Acts 4:20 (UKJV) For we cannot but speak the things which we have seen and heard.
Ira C, PhD menuliskan satu buku berjudul: Semakin Dibabat Semakin Merambat terbutan BPK Gunung Mulia tahun 1989. Buku ini berisi tentang sejarah ringkas tentang keadaan dan realitas gereja mula-mula. Judul tersebut tidak berlebihan justru memberikan gambaran yang jelas akan apa yang dialami oleh jemaat mula-mula. Mereka tidak takut terhadap tekanan dan tindakan repressif yang hendak menghentikan mereka menyaksikan iman mereka. Semakin dibabat semakin merambat, semakin tinggi usaha untuk menghentikan kekristenan dengan mengejar, menganiaya, memenjarakan hingga mati martyr; semakin banyak yang mau menjadi Kristen dan semakin banyak pula yang mengikut Yesus Kristus.
Mengapa demikian? Salah satu dibalik rahasia sejarah ini diungkapkan dalam nats renungan di pagi ini: Gereja mula-mula tidak mungkin tidak memberitakan apa yang mereka lihat dan mereka saksikan sendiri. Mereka lebih takut kepada Allah dari pada manusia. Ketika Petrus menyembuhkan seorang lumpuh sejak lahir di Bait Allah. Para tetua Yahudi menangkap mereka dan diperhadapkan dalam sidang Mahkamah agama.
Sahabat yang baik hati. Renungan di pagi ini merupakan Jawaban ini yang diberikan oleh Yohanes dan Petrus ketika di sidang di dalam Mahkamah Agama. Para tua-tua Yahudi tidak menghendaki Petrus dan rasul lainnya memberitakan Injil dan menyembuhkan dalam nama Yesus. Namun Petrus dan Yohanes berdiri di atas prinsip yang kuat. Silahkan arah tetua Yahudi memutuskan apapun, namun bagi Rasul Petrus dkk tidak mungkin tidak memberitakan apa yang mereka lihat dan saksikan sendiri.
Prinsip inilah yang membuat gereja mula-mula berkembang pesat. Semakin dianiaya dan di penjara, semakin banyak orang yang percaya. Semakin dikejar, kekristenan semakin menyebar. Semakin ditekan dan dihimpit, kekristenan semakin melejit. Mengapa demikian karena semua orang percara berdiri diatas prinsip: tetap menyaksikan imannya tanpa takut pada tantangan, tekanan dan tindakan repessif.
#pdt nekson m sjuntak
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Senin 03/07/2017
Kisah Para Rasul 4:20 (TB) Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar."
Acts 4:20 (UKJV) For we cannot but speak the things which we have seen and heard.
Ira C, PhD menuliskan satu buku berjudul: Semakin Dibabat Semakin Merambat terbutan BPK Gunung Mulia tahun 1989. Buku ini berisi tentang sejarah ringkas tentang keadaan dan realitas gereja mula-mula. Judul tersebut tidak berlebihan justru memberikan gambaran yang jelas akan apa yang dialami oleh jemaat mula-mula. Mereka tidak takut terhadap tekanan dan tindakan repressif yang hendak menghentikan mereka menyaksikan iman mereka. Semakin dibabat semakin merambat, semakin tinggi usaha untuk menghentikan kekristenan dengan mengejar, menganiaya, memenjarakan hingga mati martyr; semakin banyak yang mau menjadi Kristen dan semakin banyak pula yang mengikut Yesus Kristus.
Mengapa demikian? Salah satu dibalik rahasia sejarah ini diungkapkan dalam nats renungan di pagi ini: Gereja mula-mula tidak mungkin tidak memberitakan apa yang mereka lihat dan mereka saksikan sendiri. Mereka lebih takut kepada Allah dari pada manusia. Ketika Petrus menyembuhkan seorang lumpuh sejak lahir di Bait Allah. Para tetua Yahudi menangkap mereka dan diperhadapkan dalam sidang Mahkamah agama.
Sahabat yang baik hati. Renungan di pagi ini merupakan Jawaban ini yang diberikan oleh Yohanes dan Petrus ketika di sidang di dalam Mahkamah Agama. Para tua-tua Yahudi tidak menghendaki Petrus dan rasul lainnya memberitakan Injil dan menyembuhkan dalam nama Yesus. Namun Petrus dan Yohanes berdiri di atas prinsip yang kuat. Silahkan arah tetua Yahudi memutuskan apapun, namun bagi Rasul Petrus dkk tidak mungkin tidak memberitakan apa yang mereka lihat dan saksikan sendiri.
Prinsip inilah yang membuat gereja mula-mula berkembang pesat. Semakin dianiaya dan di penjara, semakin banyak orang yang percaya. Semakin dikejar, kekristenan semakin menyebar. Semakin ditekan dan dihimpit, kekristenan semakin melejit. Mengapa demikian karena semua orang percara berdiri diatas prinsip: tetap menyaksikan imannya tanpa takut pada tantangan, tekanan dan tindakan repessif.
#pdt nekson m sjuntak
Sabtu, 01 Juli 2017
LAWAN KEPALSUAN DAN SAMBUT KEBENARAN
Selamat hari minggu! Cukup menarik topik kotbah minggu ini sesuai dengan Almanak HKBP: LAWAN KEPALSUAN DAN SAMBUT KEBENARAN dari Yeremia 28:5-9 perlawanan nabi Yeremia terhadap nubuatan nabi palsu Hanaya.
1. Enak Kedengaran atau Kebenaran?
Pada ayat sebelumnya telah diberitahukan bahwa Hanaya seorang nabi palsu telah bernubuat bahwa Yehuda akan aman-aman saja dalam kepemimpinan Yoyakim, damai bagi umat Yehuda dan jika pun terbuang dia bernubuat atas nama Tuhan bahwa pembuangan hanya dua tahun. Tuhan telah mematahkan kuk Babel yang dipimpin Nebukadnezar segera memulangkan umatNya. (Band 28:2-4).
Kata-kata Hanaya nabi palsu ini nampaknya hanya enak dan menyenangkan bagi pendengaran. Sangat berbeda dengan suara kritis dan tajam dari nabi Yeremia. Hanaya bernubuat hanya untuk memberikan kepuasan bagi pendengarnya, enak bagi raja Yoyakim dan bangsa Israel yang akhirnya terbuang ke Babel. Nubuatannya bukanlah datang dari firman Tuhan. Inilah nabi palsu yang mengatasnamakan nama Tuhan. Di mana rasa aman dan damai? Bukankah kenyataan terbalik? Yerusalem menjadi puing dan mereka diangkut ke pembuangan. Bagaimana hidup aman dan damai semuanya sudah berubah dalam suasana kaos di dalam pembuangan dan tak tentu arah.
2. Tampil Melawan Kepalsuan.
Yeremia tidak membiarkan nubuatan palsu berkembang, segera dia mengcounter dan memberikan catatan kritis terhadap nubuatan Hanaya. Yeremia mengingatkan bahwa apa yang enak ditelinga belum tentu benar. Yeremia menantang umat dalam pembuangan semoga apa yang dikatakannya benar adanya. Jangan benarkan Hanya sebelum itu terjadi. Sebagaimana kita tahu Yeremia ditolak raja Yoyakim dan umat Israel karena suaranya sangat kritis terhadap praktek hidup umat Allah yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Inilah kehebatan nabi Yeremia, menantang bangsa Israel agar berhati-hati kepada nabi palsu seperti Hanaya yang menyerukan damai, aman dan segera kembali dari pembuangan.
Sebelumnya Nabi Yeremia telah mengingatkan berulang kali jika mereka tidak berbalik dari baal maka Tuhan akan membuang mereka ke Babel selama 70 tahun. Tahun pertama pemerintahan Yoyakim telah menyampaikan masa genting dan seruan pertobatan. Jika tidak hukuman akan segera tiba. Mereka akan terbuang ke Babel.
Yeremia 25:11 (TB) Maka seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel tujuh puluh tahun lamanya.
Namun Hanaya berani menyatakan damai dan aman, pembuangan hanya sebentar dan Tuhan akan mengembalikan mereka dalam dua tahun. Tentu banyak orang mendengar dan yakin akan suara palsu Hanaya. Apalagi orang2 yang opportunis.
Ini suatu situasi yang sulit kepalsuan dianggap kebenaran, kebenaran dianggap ketidak benaran. Namun Yeremia tidak tinggal diam. Yeremia tampil menantang umat bahwa adalah kebenaran itu haru teruji jika belum teruji dan terbukti itu adalah asli palsu. Yeremia mengajak umat dalam pembuangan agar kritis dan mampu membedakan apa kebenaran dan apa yang enak kedengaran.
3. Nabi Yang Diutus: sesuainya kata dan perbuatan. Hal ini sangat penting dan menentukan dalam refleksikan dari kotbah minggu ini. Semua orang percaya dituntut sesuainya kata dan perbuatan khususnua para hamba Tuhan yang memberitakan kebenaran firman. Bagaimana mungkin mengkotbahkan damai namun hidupnya tak damai. Ini yang disuarakan oleh Yeremia melawan Hanaya. Sehebat apapun kemampuan Hanaya meyakinkan pendengarnya, kebenaran dibuktikan dengan terbuktinya apa yang disampaikannya. Nabi yang diutus bukan dilihat dari kehenlbatannya menyampaikan firman, namun kebenaran firman yang dibuktikan dan dilakukannya dalam hidupnya. Apalah artinya kata-kata mempesona, namun hampa dan kosong. Yeremia tampil dan mungkin tak enak bagi telinga pendengar namun kebenaran firman sungguh nyata.
Apa yang disampaikan Yeremia disini dapat kita bandingkan dalam kehidupan sehari-hari; kebenaran firman dari seorang pengkotbah adalah sesuainya apa yang dikotbahkan dan dilakukannya dalam hidup.
Dalam banyak hal yang palsu seakan yang paling bagus. Kotbah minggu ini mengingatkan kita lebih kritis dan tajam agar tidak diperdaya oleh kepalsuan. Benar apa yang disampaikan oleh Paulus: 1 Tesalonika 5:21 (TB) Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
Selamat hari minggu. Tuhan Yesus memberkati
#pdt nekson m sjuntak
1. Enak Kedengaran atau Kebenaran?
Pada ayat sebelumnya telah diberitahukan bahwa Hanaya seorang nabi palsu telah bernubuat bahwa Yehuda akan aman-aman saja dalam kepemimpinan Yoyakim, damai bagi umat Yehuda dan jika pun terbuang dia bernubuat atas nama Tuhan bahwa pembuangan hanya dua tahun. Tuhan telah mematahkan kuk Babel yang dipimpin Nebukadnezar segera memulangkan umatNya. (Band 28:2-4).
Kata-kata Hanaya nabi palsu ini nampaknya hanya enak dan menyenangkan bagi pendengaran. Sangat berbeda dengan suara kritis dan tajam dari nabi Yeremia. Hanaya bernubuat hanya untuk memberikan kepuasan bagi pendengarnya, enak bagi raja Yoyakim dan bangsa Israel yang akhirnya terbuang ke Babel. Nubuatannya bukanlah datang dari firman Tuhan. Inilah nabi palsu yang mengatasnamakan nama Tuhan. Di mana rasa aman dan damai? Bukankah kenyataan terbalik? Yerusalem menjadi puing dan mereka diangkut ke pembuangan. Bagaimana hidup aman dan damai semuanya sudah berubah dalam suasana kaos di dalam pembuangan dan tak tentu arah.
2. Tampil Melawan Kepalsuan.
Yeremia tidak membiarkan nubuatan palsu berkembang, segera dia mengcounter dan memberikan catatan kritis terhadap nubuatan Hanaya. Yeremia mengingatkan bahwa apa yang enak ditelinga belum tentu benar. Yeremia menantang umat dalam pembuangan semoga apa yang dikatakannya benar adanya. Jangan benarkan Hanya sebelum itu terjadi. Sebagaimana kita tahu Yeremia ditolak raja Yoyakim dan umat Israel karena suaranya sangat kritis terhadap praktek hidup umat Allah yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Inilah kehebatan nabi Yeremia, menantang bangsa Israel agar berhati-hati kepada nabi palsu seperti Hanaya yang menyerukan damai, aman dan segera kembali dari pembuangan.
Sebelumnya Nabi Yeremia telah mengingatkan berulang kali jika mereka tidak berbalik dari baal maka Tuhan akan membuang mereka ke Babel selama 70 tahun. Tahun pertama pemerintahan Yoyakim telah menyampaikan masa genting dan seruan pertobatan. Jika tidak hukuman akan segera tiba. Mereka akan terbuang ke Babel.
Yeremia 25:11 (TB) Maka seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel tujuh puluh tahun lamanya.
Namun Hanaya berani menyatakan damai dan aman, pembuangan hanya sebentar dan Tuhan akan mengembalikan mereka dalam dua tahun. Tentu banyak orang mendengar dan yakin akan suara palsu Hanaya. Apalagi orang2 yang opportunis.
Ini suatu situasi yang sulit kepalsuan dianggap kebenaran, kebenaran dianggap ketidak benaran. Namun Yeremia tidak tinggal diam. Yeremia tampil menantang umat bahwa adalah kebenaran itu haru teruji jika belum teruji dan terbukti itu adalah asli palsu. Yeremia mengajak umat dalam pembuangan agar kritis dan mampu membedakan apa kebenaran dan apa yang enak kedengaran.
3. Nabi Yang Diutus: sesuainya kata dan perbuatan. Hal ini sangat penting dan menentukan dalam refleksikan dari kotbah minggu ini. Semua orang percaya dituntut sesuainya kata dan perbuatan khususnua para hamba Tuhan yang memberitakan kebenaran firman. Bagaimana mungkin mengkotbahkan damai namun hidupnya tak damai. Ini yang disuarakan oleh Yeremia melawan Hanaya. Sehebat apapun kemampuan Hanaya meyakinkan pendengarnya, kebenaran dibuktikan dengan terbuktinya apa yang disampaikannya. Nabi yang diutus bukan dilihat dari kehenlbatannya menyampaikan firman, namun kebenaran firman yang dibuktikan dan dilakukannya dalam hidupnya. Apalah artinya kata-kata mempesona, namun hampa dan kosong. Yeremia tampil dan mungkin tak enak bagi telinga pendengar namun kebenaran firman sungguh nyata.
Apa yang disampaikan Yeremia disini dapat kita bandingkan dalam kehidupan sehari-hari; kebenaran firman dari seorang pengkotbah adalah sesuainya apa yang dikotbahkan dan dilakukannya dalam hidup.
Dalam banyak hal yang palsu seakan yang paling bagus. Kotbah minggu ini mengingatkan kita lebih kritis dan tajam agar tidak diperdaya oleh kepalsuan. Benar apa yang disampaikan oleh Paulus: 1 Tesalonika 5:21 (TB) Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
Selamat hari minggu. Tuhan Yesus memberkati
#pdt nekson m sjuntak
Langganan:
Postingan (Atom)
DALAM KESUSAHAN TETAP BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN
Catatan Kotbah Minggu Misericordias Domini Minggu, 19 April 2026 Ev. Habakuk 3:10-19 DALAM KESUSAHAN BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN Selamat Har...