Sabtu, 15 November 2025

TUHAN MENGASIHI SEMUA BANGSA

 Kotbah Minggu XXII Stlh Trinitatis

Minggu, 16 Nopember 2025

Ev. Maleaki 1:1-6



Tuhan Mengasihi Segala Bangsa


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, bagaimanakah kita membuktikan cinta kasih kita kepada orang yang kita kasihi? Tentu tidak cukup dengan kata-kata. Apalah artinya kita mengatakan aku mengasihi kami serimu kali didepan orang yang kita kasihi namun tidak pernah memperhatikan dia yang kita kasihi? Bagaimana mungkin kita membanggakan orang yang kita kasihi namun sama sekali kita tidak bangga pada dia dan tidak ada tindakan yang kongkrit yang kita lakukan? Cinta yang palsu dan kasih yang tidak murni seperti itulah yang diungkapkan oleh Maleaki dalam kotbah Minggu ini. Allah telah memberikan dan membuktikan cinta kasihnya kepada umatNya namun mereka sendiri tidak dengan hati yang sungguh-sungguh mengasihi Allah. Maleaki kembali menyampaikan curahan hati Tuhan kepada umat Allah agar mereka berbalik sebelum hari Tuhan. 


1. Kitab Maleakhi dan krisis iman umat setelah pembuangan


Maleaki dalam bahasa Ibrani asal kata "melekh" artinya utusan tamba akhiran "yi" artinya pronaun "aku". Dengan demikian Maleaki berarti "utusanKu" dalam hal ini utusan Tuhan. Maleaki sebagai utusan Allah menyampaikan maksud Tuhan keada umatNya setelah kembali dari pembuangan Babel. Setelah pembuangan ada memang masalah yaitu kesungguhan hati mempercayai dan mengikuti perintah Allah. Maleaki mengajak umat Allah agar benar-benar mencari Allah dan sunggu-sungguh menunjukkan bahwa mereka mengasihi Allah. Mereka memang beribadah namun hanya formalitas, mereka memberikan kurban persembahan namun sekedar bahkan memberika korban yang tidak pantas (1:13), mereka memberikan perpuluhan namun mereka tidak memberikannya dari kesungguhan hati bahkan menipu Allah dengan perpuluhan (3:10). Atas praktek ibadah seperti itu Maleakhi sangat murka terhadap imam. Seharusnya tugas imamlah yang menjelaskan pemahaman ibadah, kurban persembahan, ketaatan kepada Tuhan dan pengajaran iman. Mereka seharusnya mengasihi Allah karena Allah sendirilah yang lebih dahulu memberkati dan memberikan apa yang mereka mohon di dalam doa dan permohonan mereka. 


Maleakhi melihat bahwa kemunduran spiritualitas umat yang kembali dari pembuangan salah satunya adalah faktor kawin campur, anak-anak Tuhan kawin mengawinkan dengan yang tidak percaya akhirnya lahirlah anak-anak yang tidak mengenal Allah dan tidak sungguh-sungguh mengasihi Allah (2:11). Bagi Maleakhi runtuhnya iman keluarga umat Allah sehingga tidak menaati perintah Allah berakar pada perkawinan campur. Memang ada tradisi proselite bagi Yahudi, yaitu menjadikan keluarga non Yahudi menjadi Yahudi namun melalui pengajaran. Namun bagi Maleakhi bahaya synkritisme yang terbawa-bawa akhirnya melahirkan generasi Yahudi yang tidak sungguh-sungguh beribadah. Maka Maleaki menggerakkan kembali kemurnian pernikahan bagi kaum Yahudi.  

Memang Alkitab tidak meniadakan realitas perkawinan campur, dengan cerita kitab Ruth dimana Ruth lahir dari non Yahudi menikah dengan keluarga Yahudi namun kebaikan dan ketulusan hatinya sungguh-sunggu menjadi Yahudi dan ketaatannya keapda Tuhan benar-benar dihayatinya dalam susah dan senang. Dengan megatakan Rut 1:16-17 (TB) Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; 

di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"


Artinya jika kita baca keseluruhan kitab Maleaki ini, ada dua sorotan utama nabi Maleaki, yaitu: peribadahan yang tidak sungguh-sungguh dan bahaya perkawinan campur. 


Pada bagian akhir Maleaki ini, Maleaki mendorong untuk sungguh-sungguh memperbaiki peribadahan mereka, kesungguhan hati untuk memberi persembahan menopang pembangunan Bait Allah. Allah sendiri berjanji akan memberkati mereka. Allah amsih menunggu kesungguhan hati mereka, jika tidak pada hariNya kelak hari Tuhan tiba tidak ada lagi kesempatan karena pintu telah tertutup. Pada kesempatan inilah Maleaki sebagai utusan Tuhan mengetuk hati mereka agar memperbaiki ketaatan damn kesungguhan hati mereka mengasihi Tuhan karean Tuhan telah lebih dahulu mengasihi mereka.


2. Allah mengasihi umatNya: 


Cinta bertepuk sebelah tangan? Seolah demikianlah gambaran hubungan cinta kasih Allah dengan umatNya. Allah telah mengasihi dan membuktikan cinta kasihNya dalam sepanjang sejarah bangsa Israel, dari pemanggilan Bapa Leluhur, hingga masa Kerjaaan, pembuangan dan setelah kembali dari pembuangan Allah tetap mengasihi umatNya. Allah terikat dengan janji "Covenant" kepada umatNya dan Allah setia di dalam janjinya itu. Cinta kasih Allah tetap karena terikat dengan janji. 


Namun apa yang terjadi cinta kasih Allah ini tidak berbalas dari umat Allah, berulah kali umat Allah mendukakan hati Tuhan. Khususnya di konteks kita Maleakhi ini terjadi krisis iman, mereka tidak mengasihi Allah, tidak menuruti perintahNyaa, mereka tidak beribadah dengan sesungguhnya dan bahkan menghina Tuhan dengan memberikan korbah bercacat. Menereka menipu dengan tidak benar-benar memberikan persepuluhan yang menjadi hak Tuhan. Semuanya kemunduran iman ini tentu didasari tidak ada kasih. Kasih akan mempertebal kedekatan dan ketaatan. Sama seperti kita dalam kehidupan sehari-hari terhadap orang yang kita cintai, kita pasti hormat, memberi perhatian dan hubungan yang akrab. Di dalam konteks kitab Maleakhi ada ke gersangan. 


Malekhi mencari alasan dimana letak semua ini, jika kita baca Maleakhi 1:2 (TB) "Aku mengasihi kamu," firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?" "Bukankah Esau itu kakak Yakub?" demikianlah firman TUHAN. "Namun Aku mengasihi Yakub, 


Mereka sudah meragukan cinta kasih Allah kepada mereka, mereka seolah bukan Yakub yang dikasihi oleh Tuhan tetapi Esau yang telah terbuang. Disinilah Maleakhi mengingatkan mereka bukanlah Esau yang terbuang tetapi Yakub yang dikasihi, diberkati bahkan dipelihara sepanjang perjalanan hidupNya. 


Kata Yakub dipakai Maleakhi disini juga mengingatkan Yakub sebelum pertobatannya, Yakub berulang kali menipu: menipu esau, menipu pamannya Laban dan dia berhasil dalam segala usahanya. Tapi lihatlah saat diperintahkan Tuhan kembali ke Kanaan, Yakub bergulat di Sungai Jabok dan Jakub berubah nama menjadi "Israel. 


Maleakhi mau mengatakan: Allah tetap mengasihi umatNya. Mereka bukan Esau yang mejadikan milik pusakanya padang gurun, tetapi mereka dalah anak-anak Yakub yang dituntun di Kanaan, tanah yang berlimpash susu dan madu, tanah perjanjian dan tanah yang diberkati. 

 

3. Allah memberi ganjaran kepada umat bukti kasih-Nya


Maleakhi 1:4 (TB) Apabila Edom berkata: "Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu," maka beginilah firman TUHAN semesta alam: "Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya." 


Saya menafsirkan ayat 4 ini demikian, kalau Tuhan mengasihi umatNya mengapa ada hukuman dan pembuangan? Maleakhi menjawab bahwa Tuhan memberikan ganjaran kepada umat yang dikasihiNya. Sama seperti seorang Bapak yang memberikan ganjaran kepada anak jika salah. Setelah diberi ganjaran maka kembali merangkulnya dan memeluknya. Jadi ganjaran adalah bukti cinta kasih.


Berbeda dengan Edom, Allah memberikan hukuman dan hukuman itu selama-lamanya. Allah meruntuhkan kota itu dan tidak akan terbangun kembali. Murkanya selama-lamanya. Namun berbed dengan umat yang dikasihinya, diberi pelajaran dan ganjaran namun kembali merangkulnya dengan kehangatan kasih sayang. 


Artinya: hukuman keapda Edom adalah selama-lamanya, namun ganjaran kepada umatNya adalah hukuman yang mendidik agar mereka mengenal kesalahannya,mengaku dan memohon pengampunan. Allah senantiasa membuka jalan pertobatan dan pengampunan karena Allah sungguh-sungguh mengasihi umatNya. 


4. Tegoran keras kepada Imam: 


Maleakhi 1:6 (TB) Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"


Apa masalah dibalik megersangan iman, ketidak taatan dan kesemuan ketaatan umat terhadap Allah? Bagi Maleakhi letak kegersangan iman dan krisis kepercayaan umat terletak pada imam. Imamlah yang bertanggung jawab mengajari, membimbing dan mendidik ketaatan kepada perintah Allah. Imamlah yang mediator Allah menyampaikan maksud Allah kepada umatNya dan sebaliknya perantaraan umat menyampaikan doa dan penyembahan kepada Allah. Maka dibalik semua krisis iman dan kepercayaan setelah pembuangan ada pada kelemahan para imam. 


Sebelum memberikan korban seharusnya imam teliti dan cermat akan jenis korban yang akan dipersembahkan sehinga tidak terjadi korban bakaran yang cacat dan tercela. Demikian dengan praktek ibadah lainnya serta menurunnya ketaatan umat kepada Allah adalah karena imam tidak sungguh-sungguh memberikan pengajaran iman yang sesuai dengan tradisi levi yang telah dirintus sejak zaman Musa. 


Teguran Nabi Maleakhi ini juga menjadi hentakan bagi kita, jika pembinaan warga tidak terjadi dengan seharusnya kelemahan itu ada pada gembala. Jaman akan terus berubah dan dalam perubahan zaman itu akan senantiasa ada tantangan yang mempengaruhi pemahaman, nilai dan keyakinan. Namun jika pembinaan warga dilakukan dengan baik, iman akan mampu menghadapinya. Imanlah yang mengalahkan dunia bukan sebaliknya oleh perubahan dunia iman kita semakin kering dan ketaatan kita kepada Tuhan tergerus. (Baca 1 Yohanes 5:1, 5 (TB) Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari padaNya.

Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?). Amin


Salam

Pdt Nekson M Simanjuntak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...