Kotbah Minggu XXI Stlh Trinitatis
Minggu, 9 Nopember 2025
Ev. Yudas 1:17-23
MEMELIHARA DIRI DALAM KASIH ALLAH
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, tiga hal yang menetap didalam diri orang percaya adalah: iman, pengharapan dan kasih (1 Kor 13;13). Ketiga hal ini merupakan nasihat dari rasul Paulus agar setiap orang percaya tidak meninggalkan ketiga hal di atas. Dengan iman kita memiliki dasar kehidupan, yaitu percaya kepada Yesus Kristus sebagai Yuruselaman. Berpengharapan mengajak kita bahwa kita memiliki masa depan dan hidup di dalam kasih adalah prinsip hidup orang percaya. Kasih adalah gaya hidup orang percaya menjalani kehidupan ini sampai marantha.
Jika kita baca surat-surat dalam Perjanjian Baru, kita menemukan nasihat para rasul pada bagian akhir surat. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan surat serta urgensinya surat menurut pengamatan dan analisis rasul terhadap apa yang terjadi di tengah-tengah jemaat. Maka di bagian akhir surat-surat Perjanjian Baru akhirnya rasul memberikan nasihat untuk dipedomani dan dipelihara oleh jemaat.
Khusus surat Yudas ini sangat singkat merupakan surat terpendek dari beberapa surat di dalam Perjanjian Baru karena hanya satu pasal. Namun sekalipun satu pasal isinya benar-benar menyapa secara konferehensip tentang eksistensi iman kekristenan. Surat ini melihat adanya tantangan zaman yang mengancam dan menggoncangkan iman jemaat, kemudian menasihati agar tetap berdiri kokoh di dalam iman sebagaimana diajarkan oleh rasul serta menunjukkan kasih kepada sesama dan semua orang sebagai bukti hidup orang yang telah dikasihi oleh Tuhan.
Sebelum menjelaskan beberapa pokok penting dalam kotbah Minggu ini, ada baiknya sa jelaskan mengenai surat Yudas.
Mendengar kata Yudas mungkin kita terpikir tentang murid yang menghianati Tuhan Yesus, namanya Yudas Iskariot. Yudas Iskariot mati bunuh diri karena menyesali telah menjual dan menghianati Tuhan Yesus. Yudas dalam Perjanjian Baru ada beberapa kali disebutkan, yaitu: Yudas disini adalah seorang murid Tuhan Yesus bukan Judas Iskariot merujuk kepada catatan-catatan Injil Yudas disini ada dua yakni: Yudas anak Yakobus yakni salah satu murid Tuhan Yesus (Baca Lukas 6:16 atau Yohanes 14:22). Yudas murid Tuhan Yesus ini juga disebut dengan Tadeus (baca Mat 10:3 dan Markus 3:18). Satu lagi Yudas adalah juga saudara Yesus dari ibunya Maria (Mat 13:55 dan Markus 6:3).
Menurut keterangan Yudas 1:1 Penulis Surat Yudas adalah saudara Yakobus yang adalah murid Kristus.
Salah satu keprihatinan rasul Yudas adalah keprihatinan yang mendalam atas hadirnya guru-guru palsu dan penyesat yang mengacaukan iman jemaat mula-mula. Guru-guru palsu ini datang dari dalam kekristenan sendiri yang mengajarkan rupa-rupa ajaran menyesatkan yang sama sekali berbeda dengan ajaran rasul-rasul. Mereka adalah orang-orang yang menyalah gunakan kasih karunia Allah, mengatasnamakan pelayanan Allah namun pelayanannya bukan untuk tujuan pelayanan Allah tetapi hanya melampiaskan hawa nafsu mereka (1:4). Rasul Yudas sangat mengecam guru-guru palsu dan meyakinkan jemaat mereka akan mendapat hukuman dari Tuhan dan hukuman terhadap mereka akan sama seperti hukuman Tuhan terhadap Sodom dan Gomora (1:7).
Atas keganasan guru-guru palsu yang menyesatkan ini secara massif rasul Yudas menyampaikan nasihat kepada jemaat mula-mula dengan menekankan:
1. Mengantisipasi tantangan zaman - kehadiran guru-guru palsu yang menyesatkan.
Yudas sangat keras terhadap pengajar-pengajar palsu ini, selain menyelewengkan kasih karunia bagi Yudas mereka adalah seperti binatang (ayat 10), mereka menyusup ke persekutuan jemaat, melayani dengan gaya Bileam yang memburu upah. Bileam adalah bernubuat karena uang, demikian guru-guru palsu ini mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Apapun rencana mereka yang menyesatkan dan mengacaukan jemaat bagi Yudas mereka akan mendapatkan hukuman yang berat seperti Sodom dan Gomora. Sekalipun mereka lihai dan cerdik namun Yudas menegaskan mereka itu seperti awan kekring yang tidak berair. Awan biasanya datang dan menghadirkan embun dan menjadi hujan yang membasahi bumi, namun guru palsu adalah awan yang kering dan tertiup angin. Selanjutnya Yudas menjelaskan guru-guru palsu sama seperti pohon di musim gugur yang tidak menghasilkan buah. Mereka adalah pohon yang akarnya telah mati tinggal menunggu waktu kematian dan membusuk (ay 11-12). Guru palsu akan tiba waktunya dihukum oleh Tuhan.
Nasehat inilah yang disarankan oleh Yudas agar jemaat mula-mula berhati-hadi dan mewaspadai mereka. Apalagi mereka pintar menjilat, pandai menggunakan kata-kata untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri (16). Yudas menegaskan agar jangan mudah goyah tetapi tetap memelihara ajaran para rasul yang telah mengorbankan hidupnya untuk membangun iman jemaat. Jika kita baca ayat 11-16 Yudas secara rinci menjelaskan akhir hidup orang-orang yang menyesatkan. Mereka akan berakhir dengan hukuman terhadap orang fasik.
Dalam kehidupan gereja di masa kini, kita harus memiliki hikmat dan dapat memfilter mana ajaran yang benar yang didasarkan oleh kebenaran Firman Tuhan, agar kita tidak terjebak didalam rupa-rupa ajaran palsu yang menyesatkan. Mengatasnamakan pelayanan Tuhan namun melayani diriya sendiri, mengatasnamakan Tuhan namun dirinya dikuasai roha jahat dan hawa nafsu. Benar apa yang dikatakan oleh Paulus: "ujilah segala sesuatu dan peganglah apa yang baik. (1 Tes 5:21). Sebelum teruji baiklah kita tetap hati-hati agar tidak tertipu oleh tipu muslihat.
2. Membangun diri diatas dasar iman
Yudas 1:17 (TB) Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.
Setelah menjelaskan tentang bahaya dan sifat-sifat guru-guru palsu, Rasul Yudas memberikan nasihat agar jemaat bertumbuh di dalam iman. Setiap orang percaya harus berdiri di atas dasar iman yang kokoh.
Bagaimana berdiri diatas dasar iman yang kokoh, Yudas menyarankan agar hidup menurut ajaran rasul yang telah mereka terima. Iman mereka harus bertumbuh diatas pengajaran para rasul. Menegaskan pembangunan iman ini baiklah kita kutip juga nasihat dari Paulus.
2.1. Berdiri kokoh diatas dasar: iman kepada Yesus Kristus
1 Korintus 3:11 (TB) Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.
2.2. Berakar dan bertumbuh
Kolose 2:7 (TB) Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
2.3. Berdiri kokoh jangan mau diombangambingkan
Galatia 5:1 (TB) Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
Ketiga ayat diatas dapat kita kembangkan bagaimana keinginan Yudas untuk pertumbuhan iman jemaat. Yudas menghendaki agar pengajaran rasul tetap dipelihara dan berakar, bertumbuh serta berbuah ditengah-tengah jemaat. Setia dan konsisten, tidak berubah-ubah.
3. Memelihara diri di dalam kasih Allah dengan menunjukkan kasih
Bagi Rasul Yudas, beriman tidak hanya terpelihara di dalam batin, tetapi tampak dalam praksis khidup orang percaya. Iman itu dibuktikan dengan buahnya. Orang yang beriman hidup di dalam kasih karunia Allah, namun sekaligus menghasilkan kasih karunia kepada sesama.
Itulah sebabnya rasul Yudas menasihatkan kasih Allah yang telah kita terima disalurkan melalaui tindakan kesih kepada sesama.
Dua kali Rasul Yudas menekankan agar orang percaya menunjukkan kasih kepada sesama. Yudas 1:22-23 (TB) Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu,
selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.
Penekanan ini sangat penting, menunjukkan kasih kepada orang-orang yang telah tertawan oleh guru-guru palsu. Mereka itu harus ditarik segera sama seperti merampas mereka dari api. Jika mereka tetap di dalam pengaruh guru palsu mereka akan musnah terbakar. Bukti solidaris dan kasih sayang orang percaya tidak boleh membiarkan orang tersesat dan mati di jalan yang sesat, mereka harus diselamatkan ibarat merampas mereka dari api.
Saya pernah melihat seorang ibu merampas korek api dari anak-anak, dia sudah mulai membuka korek api dan mencoba menyalakannya tiba-tiba siibu merampas korek tersebut dari anak. Anaknya menangis dan meronta, dimata anak mungkin itu tindakan yang tidak mengenakkan, namun dimata semua orang tindakan ibu adalah bukti kasih sayang agar anak tidak terbakar.
Kadan dalam hidup ini seperti itu, sering merasa risih dengan kometar dan nasihat yang mungkin tidak nyaman dan tidak enak, namun jika dianalisa dengan pikiran sehat justru harusnya bersyukur karena tindakan seperti itu telah menyelamatkan dirinya dari kesalahan yang fatal.
Sahabat yang baik hati, nasihat Yudas ini membakar semangat kita untuk menunjukkan kasih kepada semua orang, baik berupa dukungan atau sokongan ataupun kritikan yang pedas demi merampas kita dari api yang menghanguskan. Amin
Salam:
Pdt Nekson M Simanjuntak
Praeses D.18 Jabartengdiy


Tidak ada komentar:
Posting Komentar