Minggu, 08 Juni 2025

ROH KUDUS MEMELIHARA IMAN DAN MENGHASILKAN BUAH-BUAH IMAN

 Kotbah Pesta II PENTAKOSTA - TURUNNYA ROH KUDUS

Senin, 9 Juni 2025

Ev. Titus 3:1-8



ROH KUDUS MEMELIHARA IMAN DAN MENGHASILKAN BUAH-BUAH IMAN


Selamat Pentakista! Sahabat yang baik hati, kotbah pada Pesta II Pentakosta ini merupakan tugas pastoral, menasihati, membimbing dan mengarahkan hidip orang percaya sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Roh Kuduslah yang memampukan gereja melakukan tugas pastoral. Tanpa pertolongan Roh Kudus, para hamba Tuhan tidak akan berkuasa menasihati, membimbing dan mengarahkan hidup orang percaya. 


Dalam kotbah Pesta II ini merupakan masihat Paulus kepada Titus, didalamnya berisi nasihat apa yang hendak dilakukan oleh Titus terhadap jemaat. Jemaat mula-mula harus senantiasa tunduk taat kepada pemerintah, menjauhkan sikap dan perilaku yang negatif serta bersuaka melakukan yang terbaik.


Berikut ini marilah kita ambil pelajaran dari kotbah pada Pesta II ini:


1. Tunduk kepada pemerintah


Konteks gereja mula-mula sangat terasa tekanan pemerintah; mereka dianiaya dan di kejar-kejar. Jemaat gereja mula-mula mendapat perlakuan semena-mena dari penguasa, dituduh pemberontak kepada kaisar dan dieksekusi dalam berbagai hukuman yang sangat mengerikan. Dimasukkan ke penjara, tontonan orang berhadapan dengan harimau dan dibakar hidup-hidup.


Sekalipun sudah sedemikian pedihnya penderitaan jemaat gereja mula-mula, namun para rasul menasihati jemaat tunduk kepada pemerintah. Sekalioun gereja ditindas namun gereja mula-mula memelihara ajaran perdamaian, mendokan pemerinath, penguasa agar dengan hikmat memerintah. 

Paulus dalam kotbah ini menasihati Titus untuk tetap tunduk kepada pemerintah. 


Gereja mengajarkan bahwa pemwrinah berasal dari Allah. Pemerintahan merupakan ketetapan Allah demi kebaikan semua orang, dan karena itu harus dihormati dan ditaati oleh semua orang, bukan semata karena diancam atau terpaksa, melainkan dengan sukarela dan seturut hati nurani. Pemerintah, dan penguasa, dan orang-orang yang berkuasa, yaitu seluruh penguasa sipil atau negara, baik yang tertinggi, pemimpin, ataupun bawahannya, dalam pemerintahan di mana mereka tinggal, dalam bentuk apa pun, harus mereka taati dan patuhi dalam hal-hal yang sesuai dengan hukum dan yang jujur, serta yang memang diharuskan oleh jabatan para pemimpin itu. Agama Kristen disalahartikan oleh para penentangnya sebagai agama yang merugikan hak-hak penguasa dan pemerintah, cenderung memecah-belah dan menentang, serta ingin memberontak melawan penguasa yang sah. Karena itulah, untuk membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh dan mulut-mulut para musuh yang jahat itu, orang-orang Kristen harus diingatkan untuk menjadi teladan dalam kepatuhan dan ketaatan kepada pemerintah yang berkuasa atas mereka.


Terhadap pemerintan Paulus menasihatkan agar tunduk kepada pemerintah dapat kita baca dalam Rom 13 dan taat serta siap melakukan segala pekerjaan baik. Sekalipun banyak alasan yang mungkin kurang dapat diterima karena pemerintah terus menyudutkan gereja mula-mula, dianggap sebagai bidaat dan persekutuan yang terlarang. Baru setelah Kesar Roma Konstantinus Agus pada tahun 313 menerbitkan "Edik Milano"; suatu pengakuan dari pemerintah terhadap kekristenan. Edik Milano ini membuka gerbang kebebasan beribadah bagi orang Kristen di seluruh kekuasaan Romawi. Kebebasan itu didapatkan bukan perjuangan senjata , namun oleh kegigihan orang percaya bertahan dalam iman dengan: bersikap ramah, lemah lembut dan tidak membalaskan kejahatan. Mereka semua hidup dalam cinta kasih dan penuh damai


2. Mempromosikan damai, tetap ramah, lemah lembut bagi setiap orang.


Titus 3:2 (TB) Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.


Paulus menasihati Titus dalam menjalankan tugas pelayanan di jemaat harus berdasarkan nilai-nilai firman Tuhan. Kuat menghadapi segala tantangan dan terus melakukan pelayanan terbaik demi pembentukan kedewasaan iman jemaat.


Bagian kedua dari kotbah ini meruoakan nasihat kepada Titus agar mengajarkan jemaat agar memiliki gaya hidup yang menekankan perdamaian, ramah dan lemah lembut. Sekalipun disakiti jangan membalaskan sakit hati, jangan balaskan kekerasan melawan kekerasan. Ajaran ini disebut dengan Pacifisme, berasal dari Pace atau damai, ajaran yang menekankan damai anti peperangan, anti kekerasan melawan kekerasan. Pacifisme ini mengajarkan resolusi damai adalah jalan menyelesaikan konflik dan peperangan. Dalam keadaan apapun Pacifisme mengajarkan tidak membalaskan kejahatan dengan kejahatan atau kekerasan melawan kekerasan. Ajaran Pacifisme ini merupakan gerakan moral yang bersumber dari ajaran Yesus, yang memperomosikan damai dengan sikap hidup yang lemah lembut. 


Hiduplah dengan penuh keramahan dan kelemah lembutan. Inilah kemenangan jemaat mula-mula, memenangkan orang-orang yang membenci orang Kristen. Mereka tetap melakukan kebaikan sekalipun difitnah dan dihasut. Sebagaimana ajaran Tuhan Yesus hidup didalam damai, tidak boleh membalaskan kejahatan dengan kejahatan. Jika musuhmu lapar berilah ia makan, jika musuh menampar pipi kiri berilah pipi kanan dan jika mereka meminta berjalan 1 mil berjalanlah 2 mil. Konsep kebaikan ini dalam bentuk keramah tamahan akhirnya memenangkan jiwa banyak orang. Sekalipun orang Kristen ditekan, ditindas, dikejar da dianiaya hingga mati martyr orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Yuruselamat terus semakin bertambah.

Nyatalah apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 5:5 (TB) Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.


Siapa yang ramah dan lemah lembut akan menguasai bumi. Namun siapa penyebar fitnah akan menuai badai kehidupan. Hiduplah di dalam kebenaran Injil maka damai sejahtera dan kebahagiaan akan menyertai hidup kita.


3. Peran Roh Kudus memelihara iman dan memampukan orang percaya menghasilkan perbuatan baik


Titus 3:4-5 (TB) Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, 

pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,


Keselamatan adalah anugerah Allah bagi manusia, keselamatan adalah pemberian bukan hasil perbuatan baik atau kebaikan manusia kepada Tuhan. Allah sendiri yang bertindak dengan menganugerahkan Yesus Kristus sebagai Yuruselamat bagi kita. Yesus Kristus datang ke dunia ini, menyerahkan diriNya hingga mati di kayu salib untuk menebus manusia dari dosa dan maut. Manusia selamat bukan karena perbuatan baiknya kepada Tuhan melainkan karena kabaikan Tuhan kepada manusia.


Tuhan tidak menginginkan pelanggaran, Allah menghukum manusia berdosa, seperti Adam setelah jatuhndalam dosa diberi hukuman dan dikeluarkan dari Taman Eden. Peristiwa Air bah, menurut Kej 6 bahwa keputusan Allah mendatangkan air bah karena kejahatan manusia. Allah menyesal menciptakan manusia karena manusia hidup dalam dosa. Apakah hukuman ini terus? Tuhan memerllihara umatnya dengan memberi Taurat, tetapi manusia gagal juga untuk memeliharanya. Roma 3:10 (TB) seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Jika tak seorang pun yang benar maka manusia tidak satupun yang selamat oleh karena perbuatan dan kemampuan melakukan perintah Tuhan. 


Keselamatan adalah Anugerah Allah. Anugerah berasal dari 'xaris' atau "gratia", seorang tahanan yang divonnis mati mendapat "gratia". Gratia adalah pemberian dari kepala negara untuk membebaskan seorang narapidana yang divonnis mati. Dari segi perbuatan dia layak dihukum mati, namun karena kemurahan diberi gratia. Demikianlah keselamatan dalam ajaran kekristenan, kita dibenarkan karena alanugerah dari Allah yang mengutus anakNya Yesus Kristus yang rela mati bagi kita. 


Keselamatan dari Allah inilah yang terus kita imani. Bersyukur atas kebaikan Tuhan dalam hidup ini. Orang yang menerima keselamatan harus memiliki tanggung jawab, yaitu menghasilkan buah buah iman. Jika kita berbuat baik bukanlah sebagai syarat keselamatan tetapi buah dari iman karena kita telah diselamatkan. Roh Kudus menolong dan memampukan orang percaya menghasilkan buah-buah iman.


Sahabat yang baik hati! Sebagaimana pesan Tuhan Yesua dalam Kisah Rasul 1:8, Roh Kudus adalah sumber kekuatan bagi orang percaya melaksanakan kesaksian dan missi. Demikianlah dalam Ibadaha Pesta II Pentakosta ini, kita diingatkan peran Roh Kudus salam hidup orang percaya. Roh Kudus telah berdiam di dalam hati orang percaya dan menggerakkan kita untuk memelihara keselamatan serta menghasilkan buah-buah yang baik. Amin


Salam Pentakosta 

Pdt. Nekson M Simanjuntak



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...