Sabtu, 03 Januari 2026

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru

Minggu, 4 Januari 2026

Ev. Yohanes 1:10-17



DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA


Selamat Tahun Baru dan Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati dengan rasa syukur kita masuki tahun 2026 ini. Kita percaya bahwa kalau kita diberikan Tuhan memasuki tahun baru tentu merupakan kasih karunia Guhan dan percaya ada rencana Tuhan dalam kehidupan kita masing-masing di tahun ini.


Seturut dengan kotbah Minggu pertama di tahun ini setelah Tahun Baru dari Yohanes 1:10-17 kita diingatkan kita bisa menjalani kehidupan ini karena kasih karunia. Kehadiran Yssus Kristus adalah kepenuhan rencana Allah untuk.menyelamatkan dunia. Sesungguhnya dunia ini setelah jatuh di dalam dosa telah rusak dan dilingkupi oleh kegelapan. Allah melalui utusannya, para nabi menyampaikan janji keselamatan namun manusia tidak menuruti perintahNya. Allah sendiri di dalam Yesus Kristus turun ke bumi untuk memenuhi janji keselamatan. Dalam teologi Yohanes Pembaptis disebutkan dengan istilah "Firman menjadi daging" atau Allah menjadi manusia. Itulah kepenuhan Yesus Kristus yang datang menyelamatkan dunia dari pengaruh dosa, dari dunia yang dilingkupi kegelapan kepada terang Allah. 


Mengawali Minggu tahun 2026 ini, jika kita baca Nas kotbah Yohanes 1:10-17 ini baiklah kita ambil pesan firman Tuhan kepada kita saat ini:


1. Janji Tuhan Pasti


Kotbah Minggu ini memberikan suatu kepastian bagi kita Allah memenuhi janjiNya. Allah srtia di dalam janjiNya sekalioun umatNya tidak memenuhi janjiNya. Jika kiga runut sejarah keselamatan dalam theologi PL bahwa Allah mengikat perjanjian dengan umatNya. Allah setia memelihara janjiNya namun sebaliknya umatNya tidak setia, seringkali mereka meluoakan Tuhan dan melanggar perintahNya. Bahkan dalam aya 10-11 Allah itu Immanuel, ada di tengah-tengah umatNya namun umatNya sendiri tidak mengenalNya. Allah hadir di tengah-tengah umatNya namun umatNya sendiri tidak menerimaNya. Sekalioun demikian Allah tidak memperhitungkan pelanggaran umatNya dalam memenuhi janji Allah. Allah sendiri memenuji janjiNya karena dia setia. Allah memenuhi janjiNya karena kasihNya. Allah tetap mernyertai umatNya sekalipun mereka menolakNya.


Kotbah di awal tahun ini hendak menyapa kita, yang pasti Tuhan menyertai dan kasih karunianya menyertai kita. Allah telah membuktikan janjiNya dan kesetiaanNya bagaimana dengan kita? Alangkah ironisNya jika Allah yang setia itu dibalas dengan sikap acuh dan menolakNya dalam kehidupan kita. Diawal tahun ini kita diajak mari semakin mengenal jalan Allah dalam setiap kehidupan kita. Ada janji dan komitmen kita dihadapan Tuhan mari di tahin 2026 ini kita wujudkan. Jangan hanya janji tinggal janji tetapi dikerjakan dengan sungguh-sungguh. 


2. Orang percaya menerima Kuasa: 


Yohanes 1:12 (TB)  Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;


Apa kekuatan kita mengikuti Tuhan dengan setia? Di dalam ayat 12 di atas diberitahukan bahwa orang percaya menerima kuasa, yaitu kuasa anak-anak Allah yang percaya di dalam namaNya. 


Kuasa disini disebutkan dengan istilah "eksusian"  εξουσιαν atau eksusia. Exousia adalah kata Yunani yang paling sering diterjemahkan sebagai "otoritas" atau "kekuasaan". Kata ini terutama digunakan dalam hal pengaruh moral. Exousia juga dapat diartikan sebagai yurisdiksi atau kekuasaan atas suatu wilayah, hak, keistimewaan, atau kemampuan tertentu. Eksusia disoni melkat dengan entitas anak-anak Allah. Artinya kuasa itu melekat dengan status anak-anak Allah. Jika status anak Allah ini terpisah tidak memiliki kekuatan apapun.


Dengan pengertian ini kita memahami kuasa disini bukan jabatan atau posisi, kedudukan atau pangkat tetapi wibawa seseorang menyatakannsesuatu atau kuasa berupa kekuatan atau energy di dalam diri seseorang yang besar sehingga mampu menjalani kehidupan ini dengan setia sekalipun banyak beban. 


Kasih karunia menjadi anak-anak Allah bukan karena faktor genetik (daging) atau karena suatu hasil karya atau usaha manusia, tetapi karena iman. Orang yang percaya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus sebagai Yuruselamat memperoleh kuasa. Itulah kekuatan iman. 


Yesus sendiri menyebutkan kekuatan iman yang memindahkan gunung (Matius 17:20). Berikutnya iman yang mengalahkan dunia di sebutkan dalam 1 Yohanes 5:4-5 (TB)  sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? 


Bagaimna iman mengalahkan dunia? Itulahnkuasa dan kekuatan yang mengubah dunia yang helap menjadi terang, dunia yang penuh perseteruan menjadi penuh damai. Dunia yang penuh ambisi dan serakah menjadi dunia yang harmoni mendahulukan orang lain. Yesus sendiri berkata dalam Markus 10:43-44 (TB)  Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.


Kuasa pelayanan dan menjadi hamba baginorang lain adalah kuasa yang mengalahkan dunia. Jadi iman adalah andalah anak-anak Allah.


3. Firman menjadi daging


Yohanes 1:14 (TB)  Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.


Disini kita kembali diingatkan tema Natal tentang Immanuel. Allah yang transedent menjadi immanent, Allah yang jauh dalam jangkauan jauh telah menjadi dekat dengan kehadiran Yesus Kristus. Dia ada dan diam bersama sama dengan manusia, mengalami dan merasakan apa yang dialami manusia. Inilah cara Allah memenuhi janjiNya. Jadi hubungan manusia dengan Allah sangat dekat dan ada di tengah-tengah kita.


Firman yang telah menjadi daging penuh kasih karunia. Kehadiran Yesus di dunia adalah rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Sejak manusia jatuh dalam dosa manusia terasing, kena hukum dan jauh dari kasih karunia. Upah dosa adalah maut. Allah menghendaki manusia selamat. Allah memelihara janjiNya, memberikan kepada manusia perintah namun melanggarnya, berulang kali mengutus hambaNya namun ditolqk dan diabaikanNya. Semestinya oleh perbuatan dan pelanggaran manusia menerima hukum, tetapi lasih Allah kita diselamatkan. Maka Allah sendiri mengutus anakNya yang Tunggal sebagai jalan keselamatan. Inilah anugerah yang kita terima keselamatan bukan upaya manusia tetapi anugerah Allah di salam Yesus Kristus.


Firman menjadi daging adalah kebenaran. Kebenaran dimaksud bukankah benar karena perbuatan manusia teyapi  kebenaran Allah. Allah membenarkan manusia yang seharusnya mati oleh pelanggaran namun kita dibenarkan karena gratia. Gratia itu adalah kasih karunia Allah. Inilah kebenaran Allah yang menyelamatkan manusia. Firman telah menjadi daging adalah penuh kebenaran Allah. Inilah yang seharusnya diketahui oleh setiap orang agar menhadari kasih karunia Allah. Allah telah membenarkan kita bukan karena kita benar, tetapi karena kasihNya yang begitu besar Allah membenarkan kita melalui caranya sendiri.  


Sahabat yang baik hati! Di tahun baru 2026 ini kita diyakinkan akan kasih karunia Allah menyertai kita. Kita menjalani tahun Baru 2026 ini dengan diyakinkan Firman Tuhan sebagaimana tertulis dalam 2 Korintus 12:9 (TB)  Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Amin


Selamat Tahun Baru

Pdt Nekson M Simanjuntak

PENGAJRAN IMAN DI TENGAH KELUARGA

 TAHUN TRANSFORMASI:

Penjaran Iman di Tengah-tengah Keluarga (Ulangan 6:7)



Pendahuluan

HKBP telah mengagendakan 2025-2028 merupakan Tahun Transformasi dengan agenda khusus setiap tahun. Pada Tahun 2025 menekankan Janji dan Komitmen Jemaat dan Pelayan. Diharapkan seluruh jemaat telah membaca ulang kembali makna dari setiap janji dan komitment yang telah diikrarkan di altar dihadapan Tuhan Yesus Kristus Raja Gereja dan dihadapan Jemaat yang ada. Janji dan komitmen ruas di adalah Janji orangg tua membawa anak saat dibaptis, janji saat sidi, janji pernikahan, janji penerimaan tahbisan pelayanan dan janji jemaat saat adanya peresmian huria dan Mameakhkn Batu Ojahan (MBO). Semua janji itu jika dibaca dan dimaknai ulang tahun transformasi ini patutlah jemaat HKBP memiliki spiritualitas yang tinggi dan rasa cinta akan kehidupan bergereja. Di dalam janji-janji itu termaktub ikrar dan janji yang menuntut ketaatan dan kepatuhan kepada Yesus Kristus Raja Gerejawi. Jika setiap jemaat melaksanakan janji dan komitmen di depan altar gereja akan berdampak pada perubahan dari warga jemaat yang lebih setia, lebih taat dan lebih giat dalam pelayanan Tuhan.


Tahun 2026: Pengajaran Iman di Tengah Keluarga

Kita telah memasuki tahun 2026 dengan menekankan "Pengajaran Iman di Tengah-tengah Keluarga". Dengan penekanan program tahun 2026 ini diharapkan setiap keluarga HKBP dapat menggunakan kesempatan penting ini membenahi keluarga agar benar-benar mengisi waktu berdoa bersama, bertumbuh bersama di dalam iman dan tangguh menghadapi tantangan jaman yang semakin berat serta setia di dalam iman kepada Yesus Kristus sebagai Yuruselamat.


Kita harus menyadari bahwa tantangan jaman terus menerpa keluarga, nilai-nilai keluarga semakin luntur, dan moralitas yang semakin runtuh di tengah-tengah peradaban ini. Kita harus menyadsri dunia terus berubah dengan segala konsekwensinya, dampak perubahan sosial semakin nyata di dalam kekuarga: maraknya penyakit sosial, ancaman narkoba, tawuran dan bergesernya orientasi seksual dengan maraknya LGBT, semakin banyaknya anggota keluarga memilih sendiri serta tantangan lainnya yang sulit kita deteksi. 


Pemerintah juga masih berjuang untuk menuntaskan stanting, namun di saat yang sama ada banyak keluarga menghadapi masalah anak-anak yang autis, anak yang aktif (hyper aktif/ADHD, Attention Deficit Hyperactivity Disorder) serta obesitas dan berbagai tantangan lainnya. Tidak kalah pentingnya fenomena di kalangan masyarakat anak-anak, remaja dan dewasa yaitu Nomophobia (No Mobile Phobia) dan FOMO (Fear Of Missing Out) adalah rasa takut merasa “tertinggal” karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Sebuah perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, tren, dan hal lainnya. Rasa takut ketinggalan ini mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik. Faktor utamanya adalah media sosial. 


Semuanya itu menjadi beban dan tantangan bagi keluarga Kristen di masa kini. Mungkin orang tua telah bersusah payah mencoba memberikan nasihat kepada anggota keluarga, berkonsultasi dengan ahli atau konselor di bidangnya serta yang dianggap dapat memberikan jalan keluar. Apapun tantangan jaman, gereja harus menerjemahkan nilai-nilai dan ajaran alkitab ke setiap zaman sehingga pengajaran Alkitab kontekstual sepanjang zaman. 


Dasar Pijakan: Ulangan 6:6-7

Memahami tahun transformasi 2026 dengan topik Pengajaran Iman Di Tengah-tengah Keluarga sangat krusial. Baiklah kita simak dasar Alkitab dari tema tahun 2026 ini


Ulangan 6:6-7 (TB)  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,  

haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.


Dari Nats diatas kita menerima pesan yang sangat berharga untuk didalami: 


1. Pengajaran iman di tengah-tengah keluarga adalah perintah Tuhan.


Tuhan menghendaki umatNya memiliki akar iman yang kuat sehingga Allah memerintahkan agar setiap orang tua mengajarkan iman kepada anak-anaknya. Jika kita hubungkan Credo Israel maka seriap orang tua akan menceritakan kesaksian leluhur mereka sebagai cerita yang diwariskan kepada anak dan cucu mereka.


Credo ini Israel tertulis pada Ulangan 6:21-23 (TB)  maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. 

TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita;

tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita.


Dengan Credo ini setiap angkatan dan generasi ke generasi umat Allah menjadi saksi atas perbuatan Tuhan dalam sejarah bangsa Israel di masa lalu.  Sekalipun itu jauh ratusan tahun sebelumnya tetapi setiap orang mengetahui perbuatan Allah. Formula Credo ini selalu dihapalkan dan diwariskan.


2. Metode Pengajaran: berulang-ulang


Sesuatu pengajaran yang diulang-ukang bukanlah hanya srbagai ilmu srmata, tetaoi sudah menjadi habit. Kebiasaan yang terbiasa dan melekat oada otak sebagai hapalan, pada hati sebagai afeksi dan tindakan sebagai motorik. 


Jika kita perhatikan dalam training atau pelatihan yang ada, seseorang akan terampil jika terus-meneurs diulangi. Perulangan itu penting agar benar-bensr meresak. Mengulanhi oengajaran bukan hanya sekedar tahu, tetapi dengan mengulang-ulangi akan menjadi endapan dalam spiritualitas seseorang


3. Membicarakannya dalam segala keadaan: topik yang selalu menarik


Jika ada top news, wawancara atau diskusi publi yang ditayangkan oleh TV, Podcas dan media sosial dalam bernmbagai flatform yang  viral salah satunya adalah topik yang relevan. Suatu topik yang menjadi buah bibir di tengah-tengah masyarakat.  Mengapa kita mengikuti? Tentu karena topik yang diperbincangkan adalah topik yang viral dan relevan atau issu yang beredar di gengah masyarakat. Semakin banyak diperbincanhkan semakin menjadi topik yang hot news.


Tugas kita di dalam Ulangan 6:7 ini adalah mempercakapkan hal.iman meruoakan sesuatu topik yabg relevan  bagi keluarga. Membicarakannya saat bagun pagi, saat jalan-jalan saat duduk-duduk dll. Pokoknya dalam setiap waktu dan kesempatan keluarga menyampaikan pengajaran iman bagi anak-anak.  Pengajaran iman di dalam keluarga harus menjadi hit news yang selalu dibicarakan akan setiap orang bersikap dan bergegas untuk mengisi pengajaran iman dibalik muluapnya  informasi melalui media sosial yang didalamnya belum tentu dilandaskan kebenaran.


Pengajaran iman di tengah-tengah keluarga menjadi aktifitas yang selalu menjadi perhatian kita sehari-hari. Saat berada di rumah, saat jalan-jalan atau saat di luar rumah atau saat mau berbaring di tempat tidur. 


HKBP di Tahun 2026 ini hendaknya memiliki perencanaan yang baik di setiap huria agar sehinga momen program tahun 2026 tidak berlalu atau hanya label saja. 


Selamat Tahun Baru 2026

Pdt Nekson M Simanjuntak, MTh


Selasa, 23 Desember 2025

ALLAH HADIR MENYELAMATKAN KELUARGA

 Khotbah Malam Natal , 24 Desember 2025

Nas: Matius 1:18-25



ALLAH HADIR MENYELAMATKAN KELUARGA - 

Immanuel: Tuhan Menyertai Kita


Selamat Natal bagi semua! Malam Natal ini tenth hari yang kita tunggu-tunggu di tahun ini. Sepanjang tahun kita bmelakukan berbagai aktifitas dan semua aktofotas yang kita lakikan itu semata-mata anugwrah Tuhan di dalam Yesus Kristus. Dia lahir untuk kita, Dia datang dalam kesederhanaan hendak memberi contoh bagi kita meneladani kesederhanan. Dia hadir di tengah-tengah keheningan, teduh dan penjh damai sebagai bahahian rencana Allah bahwa Ysses hadir tengah-tengah kita untuk menyelamatkan kita dan memberi kedamaian dan ketenteraman. 


Malam Natal ini, tentulah banyak kesusahan yang kita alami, apalagi.melihat begitu banyak korban bencana alam yang melanda Sumatera, Tapanuli, Sumut, Sumbar dan Aceh. Seolah amarah alam memakan korbah rakyat kecil. Seribuh lebih meninghal, ratusan orang hilang dan ribuan rumah hilang dibawa banjir, diterjang longsor, tertimbun dan kerusakan lainnya yang tidak terhidung. Ladang dan swah sebagai sumber kehidupan warga lilenyap ditimbun lomour, pasir dan batu. Sungguh pwnderiaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kiranya Malam Natal jni juga menyentuh semua korban dan keluarga. Yesus hadir menyelamatkan keluarga mereka. Yesus hafir menghibur dan menguatkan mereka. Yesus hadir mengingatkan dan mengetuk hati setiap orang untuk berubah dan memperbaiki sikap dan kebinakan terhadap alam. 


Di era media sosial.sekarang sangat mudah orang merkeam dan menyebarkan peristiwa, tidak sedikit vidio yang memilukan hati bagaimana pedihnya hati orang-orsng yang mengalami korban, begitubgigihnya oara relawan mencari korban yang meninggal bahkan sampai sekarsng uoaya itu masih terus dilakukan. Tak tahan rasanya saat relawan mengangkat mayat dari timpaan lumpur dan kayu. Ratusan lagi yang tidak ditemukan, kita percaya bahwa mereka juga di dalam perlindungan Tuhan. Karena baik hidup dan maupun mati kita adalah milik Tuhan. Kehidupan ini adalah milik Tuhan.


Apapun keadaan yang kita alami hari ini, kita percaya semua itu atas pengetahuan Tuhan. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa diketahuinya. Tuhan adalah penciota, pemelihara dan penyelamat kita. Dia datang melawat manusia dalam semua, Dia hadir bersama-sama umat yang mengalami penderitaan. Dia hadir hendak menyertai kita dalam apa yang akan terjadi esok. Tuhan datang, menjadi manusia menyertai perjalanan ini daei peralihan hidup di dunia i isampai memasuki kehidupan yang kekal. Itulah yang kita rayakan di hari Natal. Allah itu Immanuel, Dia tidak jauh, tetapi ada bersama-sama dengan kita.


Berita kelahiran Yesus menurut versi Matius ini diuraikan cerita yang sangat menarik. Allah hadir dalam hidup Yusuf dan Maria, dan kedua hamba Tuhan ini mau mengabdi untuk maksud Allah. Injil Matius tidak meniadakan kekuatiran Maria dan Yusuf, namun dalam sisi kemanusiaan mereka Firman Tuhan bekerja meneguhkan merekan dan oleh kuasa Firman Tuhan mereka mau melalukan firman Tuhan dalam hidupnya. Jadilah kehendak Allah lewat peristiwa natal. Maria dan Yusuf menjadi abdi Allah yang mulia, hidup mereka telah menjadi saluran kasih karunia bagi seluruh bangsa di bumi.


*1. Kelahiran Yesus adalah Peristiwa Ilahi*

Pengakuan Iman rasul mengutip Matius 1:18 ini menjadi peristiwa penting. Lahirnya Yesus Kristus bukanlah peristiwa biologis tetapi peristiwa ilahi. Bukan peristiwa kodrati, tetapi peristiwa adikodrati. Kata dikandung Roh Kudus menegaskan bahwa bayi Yesus ada bukanlah buah genetik Maria dan Yusuf, tetapi peristiwa ada dari ciptaan Ilahi. Allah mencipta ada dari yang tidak ada. Demikianlah kelahiran Yesus bukanlah peristiwa kelahiran yang harus ditangani oleh bidan tetapi karya Allah melalui Roh Kudus. Allah menciptakan keselamatan manusia dari dunia yang jatuh ke dalam dosa kepada kehidupan yang penuh kasih karunia.


Matius memakai kata perawan Maria dalam bahasa Yunani disebut "parthenos" berarti perawan secara manusia belum bersetubuh. Kata parthenos dalam PB ini sepadan dengan kata "almah " dan bahasa Ibrani sebagaimana dinyatakan dalam Yesaya 7:14 (TB) Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel. 


Kelahiran Yesus bukanlah semata-mata merayakan peristiwa lahirnya bayi Yesus, tetapi merayakan perbuatan Allah memenuhi janjiNya membebaskan umatNya dari segala penindasan, dosa dan maut. Nubuatan 700 tahun masa Proto-Yesaya dipenuhi Allah di peristiwa Natal.


Jadi Injil Matius menegaskan, ada tiga kata yang dipakai menunjukkan kelahiran Yesus bukan peristiwa biologis dengan:

- dikandung oleh Roh Kudus (ay 18,20)

- lahir dari anak dara Maria (ayat 23)

- tidak bersetubuh (ay 25)

Peristiwa Natal adalah Peristiwa Ilahi. Kelahiran Yesus hendak menciptakan manusia hidup dalam kasih karunia Allah.


*2. Kesalehan dan ketulusan Yusuf*

Penulis Injil Matius sangat realistis atas apa yang dialami oleh Yusuf. Wajar saja dia tak menerima ada perubahan pada diri Maria. Dia akan mengandung dan melahirkan satu anak yang akan diberi nama Yesus sesuai dengan pesan malaikat (baca Lukas 1:26-38). 


Jika pada malam Natal kita diperkenalkan pribadi seorangbperempuan berhati mulia, maka kotbah di Natal I ini kita diperkenalkan tokoh pria yang baiknhati. Yusuf adalah pribadi yang saleh, taat beragama dan juga tidak mau mempermalukan Maria. Dia berencana dengan diam-diam akan memutuskan hubungan dengan Maria. Tampak kematangan pribadi Yusuf, dia tidak temperamen dan dengan emosi yang meledak-ledak merespon perubahan pada diri Maria. Tapi dengan sikap dewasa secara perlahan akan undur dari Maria.


Tuhan campur tangan. Tuhan mengerti apa perasaan laki-laki seperti Yusuf. Tuhan meyakinkan Yusuf bahwa apa yang terjadi pada Maria adalah kehendak Allah. Matius 1:20 (TB) Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 


Natal merubah suatu peristiwa yang sulit diterima oleh akan namun dimainkan oleh orang yang memahami dan mengerti maksud Allah.


*3. IMMANUEL: Tuhan menyertai kita*

Bangsa Israel adalah umat yang merasa terasing dan terbuang, mereka menantikan kejayaan Israel, namun bangsa-bangsa asing silih berganti menjajah mereka. Mereka hanya negara boneka dan jajahan negara asing sejak kembali dari pembuangan Babelonia. Pada jaman Perjanjian Baru, Yahuda berada dibawah jajahan Romawi. Mereka menderita dan memimpikan orang yang menyertai mereka merasakan pahitnya dibawah jajahan bangsa asing.


Tentu kebutuhan orang yang terasing adalah pendamping yang menyertai mereka dalam keadaannya yang merasa terasing. 


Yesus adalah Immanuel, Allah menyertai kita menjadi sejarah baru. Tuhan tidak membiarkan mereka terasing, terbuang dan terjajah, tetapi Tuhan mendampingi, menyertai dan bersama-sama umatNya. Dengan kata Immanuel Tuhan tidak pernah meninggalkan dan membiarkan orang-orang yang dikasihiNya. 


Orang Batak mengenal ungkapan sakitnya orang yang terasing sendirian dengan "songon tandiang na hapuloan", artinya terdampar sendirian di pulau terasing. Keadaan demikian pasti hampa dan kosong, tiada sahabat, tiada teman yang mengerti, memahami dan merasakan kesedihan. Semuanya dialami sendirian. Dosa telah membuat kita terasing dari Tuhan, dari sesama. 


Tema Natal 2025 ini ditetapkan: Allah hadir menyelamatkan keluarga. Spontan kita bertanya apa ancaman yang terjadi di tengah-tengah keluarga kita saat ini?

Setidaknya ada tiga:


a. Gadget telah merampas kebahagiaan, waktu dan relasi kita di dalam keluarga. Kita sudah jarang memiliki sentuhan komunikasi langsung secara verbal mengucapkan pujian, harapan, dan kata-kaylta yang menyentuh hati dan perasaan seseorang. Duduk bersama saja pesan kita sampaikan lewat WA atau messenger. Waktu anak-anak dihabiskan dengan gadget bahkan mempengaruhi orestasi sekolah karena game dan flatform media sosial yang memihat hati dan waktu. Kurangnya kemesraan antara suami isteri karena HP menempel terus di tangannya sehinnga tak ada waktu membelai rambut pasangan. 

Tema natal ini mengingatkan kita Krostus telah hafir menyelamatkan keluarga, jangan sampai HP ini merebut kebahagiaan dan keselamatan keluarga.


b. Ancaman perceraian: Data Statistisk BPS angka perceraian di Indonesia 2024 mencapai 399.921 kasus. 82 persen itu perceraian dituntunt oleh isteri dan tiga faktor utama adala: 1) pertengkaran terus menerus, 2) masalah ekonomi 3) mabuk-mabukan dan KDRT.

Ti gkat perceraian tertinggi ada di Jawa Barat, Menyus Jawa Timur dan Jawa Tengah dan keempat Sumatera Utara. Sekalioun tidak eksplisit menyebutkan data perceraian di kalangan Kristen namun tingginya angka perceraian ini menggugah gereja sebagai.lembaga yang terlibat mempersatukan dan memberkati keluarga. Gereja harus berperan dan melakukan langkah-langkah kongkrit agar jangan sampai perceraian ini melanda keluarga Kristen. 


c. Menunda pernikahan - ancaman bagi pemuda dan pemudi. Sudah menjadi faktual ada banyak kawula muda menunda pernikahan dengan berbagai alasan, mapan dulu baru menikah. Rupanya kemapanan tidak kunjung tiba dan akhirnya waktu terus berjalan sehingga usia subur dan produktif berlalu. Ini adalah ancaman serius, kemapanan dan berbagai alasan menunda pernikahan adalah ancaman bagi regenerasi umat manusia.

Keluarga harus mendiskusikannya secara serius agar anak-anak muda dapat secara serius mendiskusikan ini. 


Teologi Alkitab tidaklah demikian, setekah Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Allah mempersatikan dan memberkati mereka kemudian Tuhan membawa mereka kr Taman Edrn. Disana Tuhan mempersiapkan yang mereka butuhkan dalam keluarga: pangan, sungai penuh emas dan segala kebutihan manusia. Jadi Allah sendirilah yang memverikan berkag dalam keluarga. Teologi penciptaan tidak pernah merekomendasikan mapan duku baru menikah. Tetapi setelah Allah menciotakan pendamping bagi Adam, Guhan me.persatukannya dan memberkatinya.


Kiranya tema Natal 2025 mengembalikan essensi keluarga yaitu cinta kasih. Kemapanan tidak serta merta mendatangkan kasih, namun perrcayalah bahwa keluarga yang didasari oleh Kasih Allah akan menikmati kebahagiaan dari Tuhan. 


Selamat Malam Natal, 24 Desember 2025

Tuhan menyertai kita semua


Dari kami

Pdt Nekson M Simanjuntak dan Family

Sabtu, 13 Desember 2025

BERHARAP KEPADA ALLAH YANG MEMYELAMATKAN

Kotbah Minggu Advent III

Minggu, 14 Desember 2025

Ev. Mikha 7:7-13




Berharap Kepada Allah Yang Menyelamatkan


Selamat Advent III! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu Advent III ini berisi tentang penantian dan pengharapan atas kemulihan Allah. Mikha tetap berharap pada Tuhan sekalioun dia merasakan cemoohkan dan dipermalukan oleh musuh. Sekalipun keadaan demikian Mikha tetap bertahan dan berpengharapan Tuhan datang menyelamatkan dan memulihkan umatNya.


Pesan kotbah ini sangat menarik karena kita menerima pelajaran uji mental? Biasanya seseorang sangat PD saat menang, saat berkuasa dan merasa dapat mengendalikan san menguasai keadaan, semua bisa diatur dan orang-orang yang dianggap musuh segera dikucilkan. Itulah mental penguasa dan cara berpikir dari pihak status quo. Tindakan penindasan dan memperdaya tidak lagi dianggap sebagai dosa tetapi kemenangan strategy untuk melanggengkan kekuasaan. 


Bagi saya ini suatu realitas "kengerian" atau ironi kekuasaan yang terjadi disekitar kita. Ada upaya melanggengkan kekuasaan seolah apapun dilakukan untuk membenarkan diri. Maka terjadilah seperti cerita yang diilustrasikan oleh sahabat dari seberang: Sibisu berbisik pada Situli bahwa Sibuta melihat Silumpuh berlari kencang. Apapun cerita dikarang untuk meyakinkan sekalipun semuanya sudah benar-benar cerita kosong. Beri klarifikaalsi dan penjelasan ini itu meyakinkan orang seolah-olah benar semuanga hampa dan nihil karwna orang yang melihat, merasakan dan mengalami sendiri. Sungguh falsifikasi yang terstruktur terjadi disekitar kita. Sungguh suatu tragedi kemanusiaan di tengah-tengah masyarakat kita melanggengkan falsifikasi - palsu.


Saya terdiam dan bingung tidak tahu mengatakan apa. Namun saya sedikit bersemangat setelah membaca nas Kotbah Minggu advent ke III ini. Nabi Mikha hadir menginspirasi dan menyemangati dari perspektif yang berbeda. Dalam keadaan sukit tegap berharap kepada Tuhan. Sekalipun terjepit jangan langsung menjerit, sekalipun dihimpit, jangan ikit berpikir picik, sekalipun ditindas dan ditekan jangan cepat berputus asa. Tetaplah berintegritas dan menjunjung kebenaran serta senantiasa berharap akan Tuhan. Sejalan dengan nabi Mikha ini benar apa yang dikatakan oleh nabi  Yesaya 2:22 (TB)  Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas.


Baiklah kita ambil tiga pelajaran dari kotbah ini:


1. Menunggu dan mengharapkan keselamatan dari Tuhan

Mikha 7:7 (TB)  Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku! 


Dalam perenungan kita di Advent III, ketajaman mendengar kita diuji Tuhan. Ketahanan dan elastisitas kita diuji sekalipun beban dan pergumulan melanda sekitar kita. 

Inilah yang disebut dengan relisiensi. Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi, bangkit kembali, dan tetap tangguh menghadapi tekanan, trauma, atau kesulitan hidup, serta mampu pulih dan berfungsi secara optimal meski dalam situasi yang menantang. Ini adalah kekuatan mental untuk merespons secara sehat, mencari solusi, dan melihat hidup sebagai proses pembelajaran untuk tumbuh, bukan hanya hambatan. 


Menunggu Tuhan adalah sikap orang beriman menunggu dan menantikan tindakan Tuhan. Dalam situasi emergency nabi Mikha tetap menantikan Tuhan. Kotbah ini menekankan kualitas iman yang bersandar dan menunggu keselamatan dari Tuhan.


Konteks pergumulan di jaman nabi Mikha Konteks utama Kitab Mikha adalah seruan untuk pertobatan dari ketidak adilan sosial, korupsi, penyembahan berhala dan agama palsu di Kerajaan Israel (Samaria) dan Yehuda pada abad ke-8 SM, dengan pergumulan pokoknya menyoroti penghakiman Tuhan atas dosa-dosa ini, sambil tetap menawarkan harapan akan Mesias dan pemulihan di masa depan, menekankan bahwa Tuhan menghendaki keadilan, kasih, dan ketaatan, bukan hanya ritual. 


Mungkin saja ada beberapa alternatif yang ditawarkan kepada umat, namun bagi Mikha satu-satunya jalan keluar menunggu keselamatan dari Tuhan. 


2. Relisiensi - Bertahan dalam kejayaan musuh

Mikha 7:10 (TB)  Musuhku akan melihatnya dan dengan malu ia akan menutupi mukanya, dia yang berkata kepadaku: "Di mana TUHAN, Allahmu?" Mataku akan memandangi dia; sekarang ia diinjak-injak seperti lumpur di jalan. 


Dalam semua beban yang menimpa kita membutjhkan daya tahan atau relisiansi. Diatas telah saya jelaskan arti relisiansi; suatu sikap mental tahan banting dalam segala keadaan.

Pada 7: 10 ini nabi Mikha telah mengungkapkan bahwa musuh-musuhnya telah menertawakannya bahkan lawan-lawannya telah bersorak-sorai atas dirinya. Sulit memang di sistuasi dimana seseorang terpojok dalam situasi sulit. Ibarat dalam suatu pertandingan tinju seseorang petinju sudah babak belur dari awal ronde hingga ronde akhir dan seolah tidak mungkin ada kemenangan namun masih bisa bertahan. 


Bukan hanya kekalahan mental namun di dalam pergumulan nabi Mikha sampai kepada pertarungan iman. Musuh-musuhnya telah mempertanyakan Allah yang diyakini dan disembah dan berkata: "dimanakah Tuhan, Allahmu?" Ini merulakan pukulan berat dan beban yang sangat sulit dinawab.


Namun ada hal menarik disini, Nabi Mikha tidak menjawab musuhnya dia berkonsentrasi pada bagaimana bertahan pada badai dan semua beban ini. Mikha membiarkan oertanyaan terbuka kepada Tuhan dan percaya Tuhan akan menjawab doanya. Inilah kepasrahan dan pengharapan kepada Tuhan


3. Pemulihan Tuhan akan tiba


Apakah pemulihan yang diharapkan oleh nabi Mikha?  Jika kita perhatikan keseluruh isi kitab ini pemukihan hang diharapkan adalah pengampunan dosa, kasih karunia Tuhan, kedamaian, kemakmuran, dan keselamatan, yang akan terwujud melalui pertobatan, nubuat tentang Mesias dari Betlehem, dan janji Tuhan untuk mengumpulkan kembali umat-Nya untuk hidup aman di bawah gembalaan-Nya, mencerminkan keadilan dan kasih setia Tuhan yang tak tertandingi. 


Pemulihan itu ada pada Allah, Allah hafir sebagai gembala atas umatNya. Jika imam, para nabi dan para pemimpin tidak hadir sebagai gembala atas umatNya maka Allah sendirilah yang datang sebagai Gembala.


Dalam.masa-masa advent dan Natal nubuatan nabi Mikha merupakan nas yang selalu dirujuk untuk menujukkan oenggenapan Yesus sebagai Mesias yang lahir di Bethlehem. Mikha (TB)  (5-1) Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. 


Selain pemulihan sebagai bangsa, Nabi Mikha juga menubuatkan pemulihan dan pembangunan kota Yerusalem. Yerusalem harus menjadi pusat peribadahan umat Allah. Dari Yerusalemlah keselamatan Allah digenapi.


Sahabat yang baik hati! Kotbah Minggu Advent III ink meneguhkan iman kita. Milikilah resiliensi, daya tahan dan kemampuan untuk bangkit. Sekalipun ditimpa beban yang berat, musuh terlalu kuat seolah tak berdaya menghadapinya. Kotbah di Advent III menginspirasi kita tetap berengharapan dan menunggu keselamatan hanya dari Tuhan. Amin!


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 06 Desember 2025

BERTOBATLAH...! SEBAB KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT

Kotbah Minggu Advent II

Minggu, 7 Desember 2025

Ev. Matius 3:1-12




BERTOBATLAH...! KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT


Selamat Hari Minggu dan selamat memasuki Advent II. Sahabat yang baik hati, dalam suasana duka yang mendalam atas bencana terbesar di Sumatera (Tapanuli, Aceh dan Sumbar), masyarakat sepanjang jajaran Bukit Barisan meratap karena bencana alam. Ini dampak pembabatan hutan di hulu dan berbagai tempat yang seharusnyabterpelihara dari berbagai vidio dari vidiotron di media sosial menunjukkan pembabagan hutan menjadi penyebab bencana banjir longsor yang terjadi. Doa kita semoga pemerintah mengambil langkah tegas untuk menghentikan segala perusakan hutan ini dan pihak-pihak terkait menyadari kesalahan ini menuju pertobatan dan keselamatan semua orang. 


Bencana banjir dan longsong seiring dengan seruan Kotbah di Advent II. Pertobatan mutlak karena hukuman sudah dekat. Bagi Yohanes Pembaptis pertobatan adalah jalan satu-satunya selamat dari hukuman Tuhan.  

Kerasnya seruan petobatan Yohanes Pembaptis bukan hanya kalangan masyarakat biasa, dia juga berseru kepada tokoh agama, aparatur negara dan pemerintah karena dia mengkritik perilaku Herodes. Seruan pertobatan dari Yohanes Pembaptis adalah gerakan moral seluruh lapisan warga. Demi keselamatan harus bertobat jika tidak hukuman segera tiba.


Di advent II ini sangat tepat merefleksikan bencana banjir yang melanda Sumatera. Ada orang  yang menyebutkan hukuman Tuhan telah berjalan. Namun menurut hemat saya itu terlalu naif, jika bencana ini hukuman Tuhan masa masyarakat kecil yang kena hukum Tuhan? Bagi saya bencana ini kemarahan alam yang mengakibatkan orang disekitarnya mengalami bencana. Perilaku manusia yang rakus menjadikan orang lain sebagai korban. Hukuman Tuhan akan datang kepada seluruh stake holder  yang terlibat pemberi mandat dan penerima kuasa penebang hutan termasuk kita yang menyaksikan seluruh bencana ini. Karena itu satu pesan dari Kotbah Advent II ini adalah: "Bertobatlah!"


1. Gerakan moral: seruan pertobatan dari Yohanes Pembaptis


Seruan pertobatan itu sangat menohok karena keadaan masyarakat memang jauh dari kehendak Allah. Masyarakat sengsara oleh penindasan, kaum religius seperti Farisi, Sadusi asyik berpolitik akhirnya kering akan siraman rohani dan pembinaan spiritualitas. Ada juga yang datang kepada Yohanes Pembaptis seperti pemungut cukai dan  tentara, agamawan dan orang banyak. Jawaban Yohanes Pembaptis kepada mereka adalah bertobat. Bukti pertobatan adalah dengan kesediaan dibaptis dan berubah sikap dan perbuatan.


Baptisan adalah penyucian diri, membasuh perilaku yang ternoda dan tercemar. Baptisan air dsri Yohanes adalah membersihkan diri segala perbuatan dosa sehingga siap menyambut kedatangan Kerajaan Allah.  Dalam teologi PB makna baptisan ini lebih dalam lagi dalam teologi Paulus.  Manusia tidak dapat membersihkan diri dari dosa hanya Kristuslah yang dapat menyucikanNya melalui ekmatian dan kebangkitanNya. Bagi Paulus baptisan memiliki makna kita mati dan dibangkitkan di dalam Kristus. manusia berdosa dibenamkan dalam kematian dan kebangkitan Kristus dan menjadi manusia baru. (Band Rom 6:8-10)


Kembali kepada panggilan pertobatan Yohanes Pembaptis Pertobatan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan diri menyambut kehadiran kerajaan Allah. Yohaens Pembaptis dalam mentampaikan seruan pertobatannya tidak segan menasihati siapapun. Dia menegur Herodes tercatat dalam Markus 6:18 (TB)  Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"  Seruan Yohanes Pembaptis ini semacam gerakan moral untuk memperbaiki diri masing-masing dan menghasilkan buah yang baik di dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. 


Pertobatan mutlak karena hukuman akan segera tiba.  Ibarat perapian, api sudah menyaka tinggal membakar. Ibarat seperti pohon yang hendak ditebang, kapak sudah tersedia untuk segera menebangnya. Demikianlah kerajaan Tuhan sudah dekat, perlindungan satu-satunya adalah pertobatan.


2. Langkah konkrit bukti pertobatan: 


Ada dua langkah kongkrit yang disuarakan oleh Yohanes Pembaptis sebagai bukti pertobatan

Pertama secaras simbolis kesediaan dibaptis. Bagi Yohanes Pembaptis bukti pertobatan adalah dengan kesediaan diri dibaptis.  Yohanes pembaptis melakukan baptisan di sungai Yordan. Baptisan Yohanes adalah tanda bahwa seseorang mau dan bersedia berubah dari kehidupannya yang lama kepada yang baru.


Lebih jauh pembaptisan disini adalah menyucikan kita dari perbuatan dosa. Berhenti dari perbuatan yang mendatangkan amarah dan murka Allah serta bersedia diperbaharuai dan memprbaiki tingkah laku. 


Kedua, tindakan pertobatan disertai dengan buah-buah dan perilaku yang berubah. Pertobatan yang nyata melalui sikap hidup nyata, meninggalkan kebiasaan buruk kepada perilaku baik yang seturut dengan kehendak Allah. Orang yang bertobat dibuktikan dengan menghasilkan buah-buah yang manis, pikiran dan perbuatan yang membangun sesama.  Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis menyampaikan: "hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."


Buah pertobatan adalah mutlak sebagai janji dan komitmen memperbaikindiri. Bagaimana mungkin seseorsng bertobat namun buah-buah yang dihasilkan adalah hal buruk? Johanes pembaptis menyerukan:


i.  kepada kaum agamawan (Farisi dan Sadusi): Matius 3:7 (TB)  Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? 


ii. Tentara [Prajurit Romawi] 

Lukas 3:14 (TB)  Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."


iii. Kepada pemungut cukai

Lukas 3:13 (TB)  Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." 


iv. Orang banyak: hiduplah di dalam kasih Lukas 3:11 (TB)  Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."


Dalam rangkaian keseluruhan itu Yohanes Pembaptis mengajak pertobatan massal. Mulai dsri atas sampai ke bawah. Seluruh lapisan warga harus benar-benar bertobat karena penghukuman segera tiba. 


3. Kerajaan Allah sudah dekat

Kerajaan Allah sudah dekat menjelaskan waktu dan kedahsyatan penghakiman Allah. Dekat dari segi waktu dan pelaksanaan hukuman atau sudah sangat dekat. Menjelaskan hal ini baiklah kita menjelaskan tiga hal berikut:


3.1. Sudah dekat

Ada dua istikah yang digambarkan disini, dekat dari segi waktu dan dekat dari segi jarak. 

Dari segi waktu hendak menjelaskan wahwa waktunya sudah hampir tiba. Detik-detik pehakiman sudah hampir tiba. 


Sedangkat dekat dari segi jarak menjelaskan pada seseorang yang datang menuju suatu titik. Semakin datang dan semakin dekat. Penjelasan ini bisa digambarkan penantian seseorang yang datang dari suatu perjalanan dan sudah tidak jaub lagi, segera akan datang. 


3.2. Kapak sudah tersedia

Matius 3:10 (TB)  Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 


Ayat ini hendak menjelaskan bahwa penghakiman Allah segera terjadi. Sama seperti tukang kebun anggur yang menantikan pohon anggurnya berbuah, namun sudah sekian lama menunggu musim silih berganti tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Tukang kebun sudah bersabar menunggunya namun buah yang ditungguh-tunggu tidak muncul. Apakah yang harus ditunggu, apakah sang petani akan menghabiskan waktunya lagi menunggu pohon berbuah? Tidak, kapak telah tesedia dan tinggal menebasnya. Petani anggur sudah sedemikian lama menantinya dan tidak menghasilkan buah. 


Allah telah sedemikian sabar menunggu pertobatan dari manusia, namun pertobatan tidak kunjung tiba. Maka keputusan tekah diambil untuk menghukum dan tidak akan memberikan kesempatan lagi. 


Ibarat seseorang yang telah divonnis mati dan tinggal menunggu pelaksanaan eksekusi. Segala sesuatu telah dioersiapkan tinggal  menunggu detik-drtik pelaksanaannya


3.3. Tampi sudah ditangannya


Matius 3:12 (TB)  Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."


Ayat ini berangkat dari dunia pertanian juga yaitu petani gandum.  Seorang petani gandum untuk membersihkan gandum yang bernas dari gandum kosong (lapung) maka sang petani akan menampinya. Tampi adalah alat petani untuk memisahkan gandum yang bernas dari yang kosong. Gandum bernas akan dimasukkan ke dalam lumbung, sedangkan gandum lapung akan terbuang ditiup angin atau segera dibakar karena tidak berguna. 


Hal penting disini adalah waktunya Allah akan menentukan mana yang bernas yang dianugerahi mahkota kehidupan dan mana yang harua dibuang dan dibakar dalam api penghakiman. Disinilah pentingnya kotbah ini menekankan buah pekerjaan hasil dari pertobatan. Jika Tuhan telah memberikan kesempatan untuk kita namun tidak menghasilkan apa-apa, tampi akan memisahkan orang yang menghasilkan buah pertobatan dari yang sama sekali tidak berguna lagi. 


Sahabat yang baik hati, di Advent kedua ini benar-benar memanggil kita memeriksa kehidupan kita masing-masing. Ada banyak kesalahn, kekurangan dan perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Tuhan membuka jalan pengampunan dengan pertobatan. Barangsiapa yang mau menerima panggilan pertobatan ini akan mendapatkan anugerah. Amen


Selamat Advent II, Tuhan memberkati

Pdt Nekson M Simanjuntak


DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...