Sabtu, 29 Maret 2025

TUHAN SUMBER AIR KEHIDUPAN

 Kotbah Minggu Letare

MInggu, 30 Maret 2025

Ev. Bilangan 21:10-20



TUHAN SUMBER AIR KEHIDUPAN


Selamat Hari Minggu! Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah air. Secara umum seseorang dapat bertahan hidup tanpa air hanya 3 hari, sedangkan tanpa makan seseorang bisa bertahan 2-3 Minggu, tergantung cadangan lemak dalam tubuhnya. Apa artinya, ketergantungan hidup manusia dengar air melebihi makanan. Inilah sukacita (Letare) bagi kita Allah sumber air kehidupan bagi kita.


Alkitab juga menceritakan bagaimana pentingnya air dalam hidup ini. Setelah bangsa Israel menyeberangi laut merah, tiga hari kemudian mereka tidak mendapatkan air untuk di minum, seolah sukacita mereka sirna, kengerian di Mesir lebih ngeri lagi mati akibat tidak ada minum. Mereka bersungut-sungut dan sangat meram terhadap Musa. Mereka menemukan air di Mara tapi pahit. Ini menyangkut kebutuhan pokok mereka sangat murka kepada Musa, seolah mereka menyeberang hanya untuk dikubur dipadang gurun ini. Musa berdoa dan Tuhan pun melakukan mujizat dengan mengubah air pahit menjadi air segar bagi mereka dengan hanya melemparkan kayu ke dalamnya. 


Sahabat yang baik hati! kotbah minggu ini menceritakan saah satu kisah perjalanan bangsa Israel. Dalam pemeliharaan Tuhan menyediakan sumber air bagi Israel. Gersang dan kekeringan meliputi sekeliling namun di dalam Tuhan mereka menemukan sumber air kehidupan. Mereka telah bergerak dari Obot ke Abarim (Timur Moab) ke Lembah Zered, kemudian berkemah ke Arnon namun sumber air belum di temukan. Orang Amori tidak memberikan ijin untuk melewati lintasannya sekalipun Musa berjanji tidak memasuki pertanian dan sumber air mereka. Ini suatu perjalanan yang mematikan, apalagi di padang gurun, setetes air lebih berharga dari segenggam emas. Emas tidak dapat memperpanjang nafas, namun di padang gurung yang sangat haus setetes air sangat berguna untuk memberi dahaga. Disinilah pelajaran dari kotbah Minggu ini dengan topik: Tuhan menyediakan sumber air kehidupan bagi umatNya. Hal inilah yang harus kita percayai bahwa Tuhan menyediakan sumber air kehidupan bagi kita. 


Sebelum perikop kotbah ini, Tuhan murka dengan menghukum orang Israel karena bersungut-sungut kepada Musa. Bahkan disebut mereka sangat menyesali perjalanan ini karena tidak ada yang hendak dimakan dan diminum. Disebutkan dalam Bilangan 21:4 (TB) "...maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan."

Maka Tuhan pun murka dan menghukum mereka dengan ular tudung. Banyak diantara mereka mati oleh bisa ular. Sebsgai oemimlin Musa pun berdoa dan memohon pengampunan. Tuhan pun mengampuni mereka, seseorang yang dipagut ular yang memandang tiang ular tembaga mereka akan hidup. 


Demikianlah perjalan Israel di dalam segala kesulitan, Tuhan beri jalan keluar. Hati yang bersungut-sungut dihadapi dengan jalan keluar yang sungguh-sungguh. Mereka terus berjalan menuju Tanah Perjanjian. 


1. Manusia terus bergerak mencari Oasis. 

Oasis adalah sumber mata air di padang gurun. Bagi orang yang berjalan di padang gurun, oasis adalah kehidupan, dalam kekeringan ada air yang dapat memberikan kelegaan dan melepas dahaga. Oasis adalah sumber kehidupan bagi mahkluk hidup lainnya.


Perjalanan bangsa Israel di padang gurun merupakan gambaran kehidupan umat manusia yang terus bergerak mencari kehidupan. Manusia bergerak dari kampung halamannya menuju perantauan atau ibarat seorang pemuda bergerak dari kampungnya menempuh pendidikan dan selesai kuliah bergerak mencari pekerjaan dan meniti karier untuk meraih masa depan yang lebih baik. Perjalanan bangsa Israel juga demikian, mereka keluar dari perbudakan Mesir hendak menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat, memiliki tanah dan bangsa mandiri, mereka berjalan di Padang Gurun menuju cita-cita dan impian mereka yaitu Tanah Perjanjian. Impian mereka adalah tinggal dan berdiam di Negeri Kanaan, Tanah Perjanjian yang telah dijanjikan oleh Allah kepada leluhur meraka Abraham, Ishak dan Yakub - tanah yang subur, penuh susu dan madu. Disana mereka akan hidup makmur sesuai dengan janji Allah. Bagaimana menuju ke negeri impian, tentu mereka harus bergerak terus untuk mewujudkan impian mereka. 


Jarak Mesir ke Israel tidak lebih 800 KM jika ditarik gatis lurus, atau coba buka GPS sekarang berapa jaral Mesir ke Yerusalem? Baiklah selai. Jaman yang berbeda jauh, ada pelajaran berharga yakni Allah gendak membentuk mereka dengan berjalan selama 40 tahun agar sampai di Kanaan. Jika kita baca tafsiran mengenai hal ini, tentu sangat banyak pelajaran. Allah hendak membimbing, membentuk dan menjadikan mereka menjadi bangsa yang besar. Perjalanan di padang gurun adalah pelajaran kehidupan - university of live. Di padang Gurung mereka menerima perintah - DEKALOG agar mereka dilatih menjadi umat yang taat, tangguh menghadapai kesulitan; panas, dingin, tantangan alam dan segala persoalan di dalamnya. Selain tangan alam merrka juga berhadapan dengan suku-suku bangsa yang mereka lalui. Kesulitan demi kesulitan, tantangan dan hambatan yang dilalui membentuk mereka menjadi bangsa yang kuat, tidak mudah putus asa dan terus berjuang berjalan bersama Tuhan ada jalan. 


2. Tuhan menyediakan sumber air kehidupan


 Usai lepas dsri serangan ular, bangsa Israel terus bergerak, dalam perikop ini mereka bergeratk dari Obot terus berkemah di Zered yang masih dalam daerah Moab, kemudian bergerak ke Arnon batas dengan Kerajaan Moab dan Amori. Sebelum melanjutkan perjalanan bangsa Israel berkemah di Arnon, kemusian Musa minta ijin ke Raja Amori melewati negeri itu namun tidak diijinkan dan terjadi peperangan baca 21:21-23). Musa berjanji tudak akan masuk pertanian dan tidak akan mengambil sumver-sumber air namun tidak diijinkan. Dalam kesulitan seperti inilah Allah memberikan jawaban: Tuhan menyediakan sumber air kehidupan.


Bilangan 21:16-17 (TB) Dari sana mereka ke Beer. Inilah sumur di mana TUHAN berfirman kepada Musa: "Kumpulkanlah bangsa itu, maka Aku akan memberikan air kepada mereka." 

Pada waktu itu orang Israel menyanyikan nyanyian ini: "Berbual-buallah, hai sumur! Mari kita bernyanyi-nyanyi berbalas-balasan karena sumur yang digali oleh raja-raja, 


Dengan berkemah di Arnon bangsa itu berhadapan dengan dua kesulitan, kerajaan Moab dan Kerajaan Amori. Kesulutan terhadap sumber air dan bagaimana keluar dsri kebuntuan perjalanan mereka. Mundur akan berhadap dengan Moab dan Maju akan berhadapan dengan bangsa Amori. Dalam kesulitan demikianlah Allah hadir dan memberikan sumber kekuatan. Sehingga mereka bisa berkemah dan bertahan di Arnon. Bahkan dalam cerita selanjutnya mereka mengalahkan Amori. Baca Bilangan 21:24-25 (TB) Tetapi orang Israel mengalahkan dia dengan mata pedang dan menduduki negerinya dari sungai Arnon sampai ke sungai Yabok, sampai kepada bani Amon, sebab batas daerah bani Amon itu kuat.

Dan orang Israel merebut segala kota itu, lalu menetaplah mereka di segala kota orang Amori, di Hesybon dan segala anak kotanya.


Peristiwa di Arnon ini menjadi pelajaran dalam iman. Dalam keadaan terhimpit, Tuhan menyediakan jalan keluar. Inilah yang harus kita yakini bahwa Tuhan berkuasa dan pertolongannya akan selalu mengertai orang-orang yang dikasihinya. Jika kota baca selanjutnya, bukan hanya air yang fisedikan Tuhan, tetapi orang Amori ditahklukkan oleh orsng Israel. 


3. Yesus sumber air hidup - dari orang dercaya akan mengalirkan aliran air hidup.


Berkaitan dengan kotbah minggu ini, kita diingatkan tentang kehadiran Yesus dalam hidup kita. Dalam Epistel kita menemukan suatu kebenaran, Yesuslah sumber air kehidupan. Mati baca: Yohanes 4:13-14 (TB) Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,

tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."


Kita sering seperti perempuan Samaria mencari air, namun air yang kita dapatkan adalah air biasa saat minum kita dahaga sessat kemudian kita haus. Di dalam Yesus kita menemukan suatu kebenaran, yaitu: kehidupan yang kekal. Selain itu barang siapa yang percaya kepadanya dari padanya akan mengalir aliran-aliran air hidup.

Yohanes 7:38 (TB) Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."


Jadi orang percaya memiliki tugas dan tanggung jawab mengalirkan aliran-aliran air hidup yang disalurkan bagi orang lain. 


Sahabat yang baik hati, dari kotbah Minggu meyakinkan kita pada saat ini. Kita harus percaya bahwa Tuhan selalu menyediakan jalan keluar dalam setiap pergumulan dan masalah yang kita hadapi. Amin


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak


Sabtu, 22 Maret 2025

BERTOBAT AGAR TIDAK BINASA

 Kotbah Minggu Okuli, 

Minggu, 23 Maret 2025

Nas; Lukas 13:1-5




*BERTOBAT AGAR TIDAK BINASA*


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik apakah yang anda pikirkan jika seseorang atau suatu keluarga mati mengenaskan? Mungkin anda merasa takut dan bertanya mengapa bisa terjadi demikian, Apakah ada salah atau dosa mereka sampai harus mengalami kejadian yang mengenaskan? Begitulah pendapat orang pada umumnya sering sekali menghubungkan penderitaan dengan kesalahan. Kita sering tergoda untuk menghubung-hubungkan kesalahannya sehingga tergiring untuk menghakimi bahwa apa yang terjadi adalah hukuman atas perbuatan. 


Di kalangan Yahudi ada sebuah pandangan disebut dengan teodisi bahwa penderitaan yang terjadi pada seseorang adalah hukuman Tuhan. Ajaran seperti itu muncul dari pemahaman bahwa Tuhan itu baik dan akan mendatangkan kebaikan bagi orang saleh dan setia mengikuti perintahNya. Sebaliknya akan mendatangkan hukuman bagi orang yang melanggar perintah Tuhan dan perilaku jahat. Semua yang baik datang dari Tuhan, penderitaan dan hal-hal buruk merupakan buah kejahatan. Dengan pandangan demikian tercipta pemahaman jika terjadi hal buruk kepada seseorang itu dianggap sebagai hukuman Tuhan. Pandangan teodisi ini dapat membuat orang menghakimi orang lain jika ada penderitaan pasti ada kesalahan yang dilakukan sehingga mendatangkan murka Tuhan. 


Alkitab menentang pandangan teodisi yang demikian, penderitaan yang terjadi belum tentu akibat dari kesalahan seseorang. Faktanya ada kalanya orang baik dan tidak melakukan kesalahan apapun tetapi harus menjalani dan mengalami hal buruk sebagaimana dialami Ayub. Kitab Ayub dan kitab sastra hikmat lainnya mengajarkan semua yang terjadi di dunia ini diketahui oleh Tuhan, karena Tuhan pencipta dan mengatur segala ciptannyaNya. Hal buruk yang menimpa seseorang belum tentu akibat kesalahan mereka. Alkitab mengajarkan bahwa jika hal buruk terjadi pada orang baik jangan berputus asa tetapi tetap setia dan mencari hikmat dari apa yang dialami. Bisa saja dengan menjalani penderitaan meruoakan jalan Tuhan memberikan hal baik bagi orang yang dikasihi Tuhan.


Dalam kotbah Minggu ini Yesus menjawab pertanyaan murid-murid tentang suatu peristiwa sekelompok orang Galilea yang mati mengenaskan terjadi. Sekumpulan orang mati mengenaskan dibunuh oleh Pilatus saat mereka menyerahkan korban ke Bait Allah. Darah mereka tercampur dengan darah kurban yang dipersembahkan di Bait Allah. Tidak ada keterangan yang kita temukan mengenai peristiwa tersebut, tetapi dari penjelasan Yesus yang mungkin sudah mengetahui peristiwa itu. 


Jika kita baca perikop ini keseluruhan, mungkin para murid hendak menanyakan bahwa ada pasti kejahatan mereka, sehingga Allah membiarkan mereka mati dibunuh di Bait Allah. Atau hendak menanyakan apa hukuman Allah kepada Pilatus yang sangat jahat itu. Pertanyaan hendak digiring apakah kematian sekumpulan orang Galilea yang mati mengenaskan itu adalah akibat dosa mereka? Menurut catatan, memang ada sekumpulan pemberontakan orang Galilea terhadap Romawi dengan melakukan teror untuk perlawanan terhadap Romawi. Jika yang dimaksudkan, maka pertanyaan para murid hendak menegaskan bahwa pemberontakan itu merupakan kesalahan, karena Allah membiarkan mereka mati dibunuh oleh Pilatus. 


Dari jawaban Yesus dalam kotbah ini kita dibawa kepada pemahaman baru untuk mengubah pertanyaan di dalam hidup ini. Pemikiran para murid yang memikirkan dosa atau kejahatan orang lain berubah kepada menanyakan dosa sendiri. Berhentilah memikirkan dosa atau kejahatan orang lain, tetapi arahkanlah waktu dan energi untuk memperbaiki diri sendiri. 


Untuk lebih lengkapnya baiklah kita mengambil pelajaran dari kotbah Minggu ini.


*1. Jangan menghakimi, jangan tambahi duka orang yang berduka dengan prasangka yang macam-macam.*


Bagaimana orang memahami penderitaan? Merupakan salah satu hal yang dijawab oleh kotbah ini. Setelah Yesus melakukan pengajaran khusus kepada murid-muridNya (dalam pasal 12), diceritakan ada beberapa orang menyampaikan kabar tentang kematian orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus aaat mereka menyampaikan kurban di Bait Allah. Kematian mereka sangat tersebar bagi masyarakat karena kematian yang sangat menyedihkan. Darah mereka bercampur dengan korban yang mereka berikan. Spintas, bisa menjadi pertanyaan bikankan mereka berbuat baik dan membeeikan kurban? Tetapi apa yang mereka alami cukup naas. 


Yesus menjawab mereka dengan tegas dan seolah sudah tahu apa motivasi mereka menanyakannya. Lukas 13:2-3 (TB) Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?

Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.


Di kalangan Yahudi, orang Galilea kurangbdianggap dibandingkan dengan Yudea. Orang Galilea adalah kaum nelayan, pinggiran sedangkan Yudea adalah lahirnya pemimpin yang bersejarah di Israel. Bahkan jika kita baca pemanggilan murid pertama, bandingkan pertabyaan Natanael dari Yohanes 1:46 (TB) Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" 


Prasangka mereka yang menyampaikan kejadian tersebut tentu sama seperti teodisi Yahudi yang dijelaskan diatas. Mereka berprasangka bahwa kematian naas tersebut karena ada kesalahan atau dosa mereka. Suatu sikap yang menghakimi yang menambah duka bagi keluarga mereka yang kehilangan dan berduka. Prasangka buruk yang menghakimi (judge) merupakan perbuatan yang tidak kristiani. Pesan Yesua yang tegas hendak menyampaikan bahwa jika kita masih menikmati hidup ini belum tentu mereka lebih taat atau setia kepada Tuhan dari mereka yang mengalami penderitaan. Tuhan menunggu pertobatan kita, jika tidak menggunakan waktu untuk bertobat maka akan binasa.


Menampik prasangkan yang menyampaikan kabar kematian naas orang Galilea. Yesus menambahkan cerita yang sudah viral atau umum diketahui kalangan Yahudi saat itu. Dimana pernah terjadi menara dekat Siloam jatuh seketika itu 18 orang meninggal dunia. Apakah ada dosa atau kesalahan mereka? Mereka tak berbuat apa-apa tapi kejadian itu membuat mereka meninggal. Yesus menambahkan cerita ini hendak menyampaikan bahwa kematian naas yang terjadi bukanlah akibat dosa dan bukan pula karena pemberontakan atau kejahatan mereka. 


Mereka telah berduka maka jangan tambahi lagi duka mereka dengan prasangka-prasangka yang meyakitkan hati. Yesus mau memberikan pesan, jika tidak bisa mengurangi beban dan duka mereka dengan berdoa bagi mereka agar kuat dan tabah, maka diam saja.


Jika kita baca Kitab Ayub, sahabat-sahabat Ayub pernah berprasangka buruk pada Ayub atas segala penderitaan yang dialaminya. Sahabatnya berpikir tidak mungkin penderitaan datang begitu saja dan pasti ada kesalahan Ayub. Ayub membela diri dan bersedia dikoreksi dari lubuk hati yang terdalam. Prasangka sahabat-sahabat Ayub membuat Ayub kesal hingga menyebut sahabatnya sebagai "penghibur sialan". (Ayub 16:2 Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!)


*2. Jika tahu Tuhan murka atas dosa dan kejahatan maka bertobatlah agar jangan binasa.*


Tuhan murka atas kejahatan, dan hukuman akan menimpa siapa saja. Maka tugas kita bukan mau menghitung dan membuktikan hukuman Tuhan pada orang berdosa, tetapi lebih utama memoerbaiki diri sebelum hukuman tiba. Jadi jangan pikirkan dosa orang lain, tapi hindarilah hukuman dengn pertobatan. 


Dari apa yang disampaikan oleh Yesus, pelajaran kedua yang kita petik dari kotbah ini adalah jika tahi Tuhan murka atas kejahatan dan pelanggaran maka bertobatlah agar tidak binasa. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa mereka yang mengalami kejadian naas bukan lebih buruk dari mereka yang hidupnya amam-aman saja. Justru menjadi kayros untuk merenungkan secara dalam bahwa Tuhan masih memberi waktu untuk memperbaiki diri. 


Saya mengajak kita merekonstruksi kejadian menara Siloam, bagaimana duka yang dialami oleh keluarga dari 18 orang? Di luar 18 orang itu pasti ada yang selamat. Mereka yang selamat itu lasti tidak lebih baik, lebih soleh dan lebih taat dari mereka yang meninggal. Maka dapat kita tarik suatu pelajaran jika diberi kesempatan untuk hidup itu bukan karena kebaikan mereka namun Tuhan beri kesempatan untuk berubah dan menghasilkan perbuatan baik. Atau noleh kita bahasakan begi: jika Tuhan masih belum murka atas dosa dan perbuatan kita, itu bukan berarti kita tidak salah dan tidak berdosa, tetapi karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. 


Dalam kejadi kebakaran di Los Angeles? Tidak sedikit para pengkotbah dan netizen yang menghubungkan kebakaran terhebat itu dengan dosa-dosa kota itu. Banyak sekalim yang membeberkan perilaku kesalahan dosa-dosa mereka sebagai kota yang dikecam kareka kebebasannya. Saya sangat salut bagi para aktifis yang berjuang mengumpulkan apa saja yang membantu warga Los Angeles. Bantuan ibarat setetes air sejuk saat haus di musim kering. 


Menurut catatan, kebakaran hutan yang melanda Los Angeles, Amerika Serikat, meninggalkan luka mendalam bagi para warga di wilayah tersebut. Selain menghadapi trauma fisik, banyak dari mereka kehilangan tempat tinggal yang hangus dilalap api. Bencana ini tidak hanya menghancurkan rumah-rumah penduduk, tetapi juga meluluhlantakkan berbagai fasilitas umum seperti sekolah, toko, restoran, hingga pusat bisnis. Menurut Alice C. Hill, seorang peneliti dari Council on Foreign Relations, dalam tulisannya berjudul After the Fires: How to Rebuild Los Angeles, potensi kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.459 triliun (kurs Rp 16.398). (Dikutip deri detik.com, 17.01)


Dapat kita bayangkan musibah yang begitu hebat, rumah2 mewah habis seketika dan berubah menjadi debu. Bahkan trauma masa kebakaran hebat itu orang yang kaya raya sekalipun harus hidup dari pertolongan orang lain. Segelas air mineral berguna bagi LA. 


Merespon kecaman orang kepada peristiwa LA itu, sangat menarik memperhatikan respon dari Tuhan Yesus atas laporan para murid dalam kotbah ini. Yesus tidak mengabaikan dosa yang mungkin hendak disebutkan oleh muridnya, namun Yesus mengarahkan langkah yang lebih baik yang seharusnya dilakukan yaitu berhentilah membicarakan dosa orang lain, marilah kita mengarahkan diri kita kepada pertobatan. Dosa orang lain yang mengalami penderitaan mungkin tidak seberapa dibanding dengan kesalahan kita sendiri.

Itulah sebabnya Yesus sangat keras mengecam: "jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."


*3. Hiduplah dalam kemurahan Tuhan dan menghasilkan buah*


Ada juga hal yang harus kita syukur dalam kotbah ini. Jika kita sampai saat ini tidak binasa itu semata karena kemurahan Tuhan. Jika setiap orang yang melakukan kesalahan langsung mendapatl hujuman, siapakah yang hidup kini? Tentu tak seoranngpun yang tak luput dari dosa dan salah, namun kita masih hidup di dalam kemurahan Tuhan. Namun bukan berarti kalau Tuhan bermurah hati, jangan menjadi kesempatan di dalam dosa. Hidup dalam.kemurahan Tuhan justru kesempatan untuk menghasilkan buah. 


Dalam ayat berikutnya, kita membaca kisah tentang perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah tidak dikutuki. Sudah mau ditebang namun hamba itu memohon biarlah diberi kesempatan untuk mengolahnya dan berharap akan berbuah ke tahun depan. Perumpamaan pohon ara ini sangat penting diperhatikan agar jangan cepat membuat keputusan terhadap orang yang tidak menghasilkan seperti yang diharapkan, namun cerita pohon ara ini hendak mengajak kita mengasah lebih tajam apa yang dapat kita perbuat agar berbuah? Sudah tiga tahun membiarkannya bertumbuh namun tak menghasilkan apa-apa, ada baiknya ditebang saja diganti dengan tanaman lain. 


Namun hamba pekerja di kebun itu memohon: 

Lukas 13:8-9 (TB) Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,

mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"


Permohonan hamba itu merupakan permohonan kita bersama dihadapan Tuhan. Mungkin banyak hal yang diharapkan Tuhan dari kkta, namun kita belum menghasilkan apa-apa bagi Tuhan. Tidak ada alasan lagi untuk memberi waktu bagi kita. Namun Tuhan baik permohonan kita masi terus didengarkan dan diberi kesempatan.


*Sekarang marilah kita buat perencanaan seperti hamba tersebut, dia akan mencangkul dan memupuknya. Artinya dia bekerja keras lagi dan berupaya melakukan usaha extra agar dapat berbuah. Kita adalah pekerja itu dan sekaligus pohon ara. Sebagai pekerja kita berusaha agar pohon ara berbuah dengan usaha pengolahan tanah dan pemupukan. Kita jugalah pohon ara yang ditunggu-tunggu oleh Tuhan untuk menghasilkan buah. 

Mari kumpulkan tenaga dan kekuatan untuk memperbaiki diri, jangan habiskan waktu hanya untuk membicarakan dosa dan kesalahan orang lain.*


Sahabatku, Tuhan memberkati kita semua. Kiranya kotbah minggu ini memberikan semangat bagi kita untuk hidup lebih baik, sikap korektif pada diri sendiri dan memperbaiki kelakuan (bertobat) dan berusaha untuk menghasilkan buah-buah yang manis bagi Tuhan. 


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 08 Maret 2025

IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN FIRMAN

Kotbah Minggu Invocavit

Minggu, 9 Maret 2025

Ev. Roma 10:16-21




IMAN TIMBUL DARI PENDENGARAN FIRMAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini merupakan penjelasan Paukua tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus yang kita terima di dalam iman. Keselamatan itu adaalah anugerah Allah bukan karena pekerjaan hukum Taurat. Keselamatan ada di dalam iman kepada Yesus Kristus. 

Iman itu harus dipelihara agar bertumbuh dan berbuah. Paulus menjelaskan di dalam kotbah ini iman timbul dari pendengaran akan Firman dan orang yang telah hidup di dalam Firman tampak pada ketaatan.


Penjelasan keselamatan hanya kita terima di dalam iman ini sangat penting ditekankan oleh Paulus karena ada pemahaman teologis di kalangan Yahudi bahwa mereka adalah umat Allah, umat pilihan dan keturunan Abraham. Dengan identitas ini seolah-olah keselamatan itu adalah hak yang harus diterima atau sesuatu yang harus mereka terima sebagai ahli waris, yang mewarisi janji Abraham. Paulus menjelaskan bahwa keselamatan adalah anugerah yang diterima di dalam iman kepada Yesus Kristus. Bukan karena mereka umat Allah, keturunan Abraham dan kepada merwka diberi hukum Taurat. Keselamatan itu hanya kita terima di dalam percaya kepada Yesus Kristus. 

Bagaimanakah iman itu ada, yaitu iman timbul di dalam pendengaran akan Firman. Firman Tuhan di dalam diri manusia membuka pemahaman bagi seseorang kepada kehendak Allah, iman itu bertumbuh disertai dengan ketaatan untuk melakukannya. 


Dalam kita mengambil pelaharan oenting dalam hidup.


1. Mempertajam pendengaran!

Salah satu kelebihan kita saat ini adalah kemamouan berbicara, mungkin karwna sudahh banyak.menerima Pbullblic Speaking, berbicara di depan publik. Orang hanya ingin berbicara, dikasi microphone maka jangan harap microphone dapat diberikan, tetaoi akan terus memegangnya dan berbicara. Padahal seorang pemimojn yang baik harus lebih banyak mendengar dsri berbicara seperti pesan Yakobus 1:19 (TB) Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;


Berkaitan kesrimbangan mendengar dan berbicara ini saya jadi ingan ujian TOEFL. Dalam ujian TOEFL ada tiga hal yang diuji selain strukture, yaitu: "reading", "listening" dan "speaking". Dalam reading seseorang diasah untuk memahami apa yang dibaca. Listening menekankan apakah seseorsng memahami apa yang didengarkan dan speaking untuk menguji apakah seseorang itu bisa mengucapkannya dengan tepat. Teori menguji kemampuan seperti ini juga ada dalam orang percaya:

Reading: ajakan untuk membaca Alkitab karena di dalam membaca alkita kita memahami maksud Allah.

Listening: ajakan untuk mendengar Firman Tuhan melalaui renungan, kotbah dan meditasi tang dapat memperjatam pendengaran kita tentang kehendak Allah dan

Speaking: ajakan untuk membeeitakan dan menyampaikan maksud Tuhan dalam.hisup orang percaya. 



Roma 10:17 (TB) Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. 


Gereja membuat Almanak didalamnya ada pembacaan ayat harian, bacaan pagi dam sore denfan tujuan agar jemaat membaca Firman Tuhan setiap hari. Pertanyaan untuk apa orang percaya melakukan aktifitas pembacaan rutin seperti itu? Salah satu rahasia manfaat mendengarkan Firman Tuhan adalah iman. Iman itu timbul dari pendengaran akan Firman.


Kita bersyukur, sejak reformasi Marthin Luther setiap warga jemaat didorong untuk memiliki dan membaca Alkitab. Sebelumnya hanya imamlah yang memiliki dan mengetahui isi Alkitab. Umat hanya mendengar Firman dari imam. Alkitab harus dibaca oleh setiap orang percaya agar imannya bertamba dan bertumbuh. Tak heran berbagai lembaga Alkitab di dunia ini selalu menyediakan pendistribusian Alkitab ada yang subsidi dan ada yang gratis agar setiap orang dapat membaca dan mengetahui kebenaran Firman Tuhan. Bagaimana iman orang percaya timbul dan bertumbuh kalau dia tidak mendengarkan Firman? Ayat renungan hari menegaskan bahwa manfaat dari membaca dan mendengarkan Firman adalah pertumbuhan iman kepada Yesus Kristus. 


2. Keselamatan di dalam Yesus Kristus!

Semua orang percaya mengenal keselamatan yang ditentukan Allah melalui Yesus Kristus. Kita percaya tidak ada nama lain yang diberikan Allah dibawah kolong langit ini selain dari pada Yesus Kristus. Kisah Para Rasul 4:12 (TB) Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." Keyakinan itu harus terpatri di dalam diri setiap orang yang mengakui orang beriman.


Beriman kepada Yesus Kristus bertumbuh karena pendengaran akan Firman. Rom 10:17 meyebutkan didasarkan pada pendengaran akan Firman. Firman Tuhann harus dibaca, digali dan diterapkan dalam kehidupan pribadi. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dikandung dalam Alkitab harus menjadi gaya hidup kita. Jika boleh saya analogikan seperti seorang petani dengan benih yang dimiliki. Petani yang memiliki bibit jika hanya di simpan di dalam lumbung maka bibit itu tidak akan tumbuh akan tetap sebagai bibit. Petani harus bekerja, bibit itu ditaburkan dalam persemaian dan di lahan yang dipersiapkan maka bibit itu akan bertumbuh dan menghasilkan buah. Maka demikianlah juga dengan Firman bagi orang percaya. Firman Tuhan yang dituliskan dalam Alkitab, hanya disimpan dalam lemari, hanya disimpan dalam logika berpikir maka firman itu tidak akan menimbulkan pengaruh apa-apa dalam pertumbuhan iman kita. Namun jika Firman itu kita dengarkan, direnungkan dan diterapkan dalam kehidupan kita, maka Firman itu bermanfaat menumbuhkan iman sampai menghasilkan buah terbaik dalam kehidupan orang percaya. 


Selanjutnya Paulus menjelaskan akan manfaat Firman Tuhan dalam hidup orang percaya. Sebagaimana tertulis dalam 2 Tim 3:16 Firman itu bermanfaat untuk menasihati, menegor kesalahan, memperbaiki kesalahan dan memperlengkapi orang percaya sempurna dalam segala perbuatan baik. Keberimanan kita bukan hanya pada pengakuan terhadap Yesus Kristus sebagai Yuruselamat, tetapi kuasa Firman yang telah mempengaruhi hidup orang percaya memiliki buah-buah terbaik dalam hidupnya. Sahabatku yang baik hati! Saya sangat senang jika anda terus mengikut pembacaan firman dan renungan setiap hari. Aktifitas itu harus menjadi kebutuhan kita setiap hari. Yakinlah disadari atau tidak firman yang kita baca dan kita renungan itu akan meneguhkan iman kita dan membentuk pribadi kita yang dikehendaki Tuhan. Sahabatku! Tuhan memberkati saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup saudara. 


3. Konsekwensi iman adalah ketaatan


Paulus dalam ayat 21 ini mengangkat tentang sikap imang Isrsel kepada Tuhan - mereka tidak setia dan tegar tengkuk. Sekalipun bangsa Israel disebut dengan bangsa yang "tegar tengkuk" tetapi Tuhan tetap memberkati umatNya. Itulah satu kalimat penting memahami renungan hari ini.


Dalam PL kata ini muncul sebanyak 10 kali semuanya menunjukkan kepada karakter bangsa Israel yang tegar tengkuk. Sebutan itu diawali dari Musa dapat kita baca dalam Keluaran 32:9 (TB) Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.


Hal ini cukup beralasan sekalipun mereka telah menyaksikan perbuatan Allah yang besar, 10 tulah di Mesir, Kuasa Tuhan uang dahsyat menyeberangkan Israel di Laut Merah dan berbagai tanda ajaib lainnya di padang gurun. Namun jika ada kesulitan sedikit mereka bersungut-sungut dan tak segan mengatakan kepada Musa agar mereka kembali ke Mesir. 


Raja Hizkia menegor bangsa Israel agar umat Allah jangan tegar tengkuk seperti leluhur mereka (2 Taw 20:8) dan Selain tegar tengkuk nabi Yesaya menyebutkan mereka kwras kepala dn kepala batu. Yesaya 48:4 (TB) Oleh karena Aku tahu, bahwa engkau tegar tengkuk, keras kepala dan berkepala batu. 


Tegar tengkuk berarti keras kepala, tidak mau menurut. Dengan kata lain, tidak taat, tidak setia dan tidak patuh. Sikap tegar tengkuk ini terjadi dalam sejarah perjalanan bangsa Israel. Mereka sering kali menolak hamba-hamba Tuhan yang menyampaikan maksud Allah namun tidak percaya. Menurut nabi Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel bahwa dampak penolakan dan ketidak setiaan bangsa Israel membuat Tuhan murka dan menjadikan Israel terbuang ke Babel. 

Pertama: ketidak percayaan Israel tidak membuat Tuhan membatalkan kasihNya kepada Israel. Tuhan tetap sayang dan memberkati umatNya. Dalam renungan ini disebut: "Aku telah mengulurkan tanganku seoanjng hari". Allah itu senantiasa memberkati umatNya. Allah murka terhadap pelanggaran dan ketidak percayaan umatNya. Sekalipun Tuhan murka kepad umatnya namun kaaih Tuhan lebih besar dari amarahNya. Tuhan tetap mengangkat tangannya memberkati Israel.


Kebaikan Tuhan kepada umatnya bukan tergantung kepada respon atau balasan umat kepada Tuhan. Tuhan mengasiho dan membeekati umatNya karena Tuhan itu Maha Baik, penyanyang dan setia pada janjiNya yang telah menetapkan bangsa Israel menjadi umat pilihan dan kepunyaan Allah. 


Kedua, penolakan Israel menjadi kesempatan bagi bangsa-bangsa menerima kasih karunia Allah. Memang berkat itu dijanjikan kepada Israel agar mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Namun karwna pwnolakan banhsa Israel keselamatan itu disampaikan kepada bangsa-bangsa di luar Yahudi. Bagi mereka yang menyambut dan menerimanya mereka memperoleh keselamatan. Dijelaskan dalam Roma 11:6, 10-11 (TB) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.Dan biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk." Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu.


Keselamatan bagi bangsa-bangsa tidak menjadikan bangsa Israel tersandung, namun telah membuat mereka cemburu, yang seharusnya mereka menikmati kasih karunia Allah, namun berkati itu menjadi milik semua banhsa. Pada akhirnya mereka akan cemburu dan kembali kepada Allah. 


Sahabat yang baik hati, marilah kita mempertajam pendengaran akan Firman. Firman itu menimbulkan dan memelihara iman, memperlengkapi orang percaya serta menyempurnakan orang percaya melakukan perbuatan baik. Amin


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak



Sabtu, 01 Maret 2025

NYATAKAN CAHAYA KEMULIAAN

 Kotbah Minggu Estomihi (Engkalah Bukit Batu dan Pertahananku Mazmur 31:3b)

Minggu, 2 Maret 2025

Ev. Keluaran 34:29-35




NYATAKAN CAHAYA KEMULIAAN TUHAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah Minggu ini diambil dari kisah Musa menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai. Tuhan memanggil Musa untuk naik ke Sinai untuk menerima perintah Tuhan yang hendak disampaikan dan dilakukan oleh umat Israel. 

Pada pasal 24 diceritakan Musa naik ke gunung Tuhan dan berpuasa selama 40 Hari: Musa menerima perintah Tuhan dan saat Musa turun, ia sangat murka karena bangsa itu telah membuat patung lembu emas untuk disembah. Musa menghancurkan patung lembu emas dengan melemparkan dua loh batu yang dibawa dari gunung Tuhan (Kel 32:19). 


Allah adalah Tuhan yang murka terhadap pelanggaran namun penuh dengan kasih sayang dan kasih setia. Pada pasal 33 Musa pun dipanggil Tuhan untuk naik ke gunung Tuhan memohon penyertaan dalam perjalanan pada gurun dan diberi perintah untuk disampaikan ke pada umat Allah. Berikutnya Musa memohon: Keluaran 34:9 (TB) serta berkata: "Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu." Sebelum berjalan, Tuhan sendiri menuliskan perintah kepada umat Israel untuk ditaati dan dilaksanakan. Allah sendiri menuliskannya, perinta itu tertulis agar mereka mengingat dan membacanya berulang-ulang dan diwariskan kepada anak cucu mereka.


Dalam kotbah ini, ada perubahan yang dicatatkan dalam nas kotbah ini, yaitu cahaya kemuliaan yang melingkupi Musa saat menerima perintah Tuhan. Musa itu bercahaya sehingga umat Israel ketakutan, ketakutan bukan karena takut atas kemarahan seperti sebelumnya, namun dalam nas ini disebutkan karena kulit Musa memancarkan cahaya kemuliaan. 


Inilah yang harus kita gali dan kembangkan dalam kehidupan kita, bahwa Allah membentuk umatNya menjadi umat yang memancarkan sinar kemuliaan. Seperti Musa saat menerima dua log batu dari Tuhan, Musa memancarkan sinar kemuliaan. Tentu inilah pesan yang sangat berharga bagi kita. Kita dipanggil Tuhan untuk memancarkan cahaya kemuliaan dalam hidup ini. 


Bagaimana kita menyatakan dan memancarkan cahaya kemuliaan dalam kehidupan ini, dari kotbah ini kita menemukan!


1. Hidup di dalam Perintah Tuhan.

Pembebasan Israel dari Mesir merupakan rencana Allah yang besar. Allah akan membuat mereka bangsa yang besar dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Janji Allah kepada Abraham, Ishak dan Yakub adalah janji yang dipelihara dengan setia. Allah tidak membiarkan umatnya menjadi budak di Mesir, Allah membebaskan mereka dengan tangan yang kuat agar merwka menjadi bangsa merdeka dan berdaulat dan menuntun mereka ke Tanah Perjanjian. 


Pemberian Perintah Tuhan di Sinai bertujuan untuk membentuk umat Israel sebagai umat Allah yang kudus yang berbeda dengan bangsa lainnya. Allah membentuk mereka dengan menata hubungan yang baik dengan Thhan dan kwpada sesama. Mereka dibentuk menjadi umat yang taat dan setia kepada Tuhan. Karena Allah setia kepada janjinya. 


Pemberian Hukum itu lebih dijelaskan dalam kita Ulangan, mereka mereview kembali apa tujuan Tuhan membentuk umat Allah sebagai umat yang kudus, dengan memelihara pentintah dan setia kepada Tuhan. 

Ulangan 7:6-8 (TB) Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.  

Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu — bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? — 

tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.


Dengan demikian, sesungguhnya umat Allah yang setia dan taat melakukan perintah Tuhan akan memancarkan cahaya kemuliaan karena hidup di dalam perintah Tuhan menghidupi nilai-nilai yang memuliakan harkat dan hidup manusia.  


2. Musa memancarkan cahaya kemuliaan. 

Setelah peristiwa pertama Musa Murkan dan melemparkan dua log batu, pada padal 34 ini ada seuasana yang berbeda di kalangan umat Israel. Musa turun membawa kedua log batu berisi perintah Allah kulit mukanya memancarkan bercahaya. 

Keluaran 34:29 (TB) Ketika Musa turun dari gunung Sinai — kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu — tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN. 


Sebelumnya di dalam Keluaran 3:2 Allah menampakkan diri kepada Musa dalam bentuk api yang menyala. Maka Musa pun menutup wajaahnya karena tidak sanggup berjumpa dengan Allah. Dalam perikop kotbah ini, perjumpaan Musa dengan Allah membuat perubahan dalam diri Musa. Wajah Musa memancarkan cahaya kemuliaan. Peristiwa ini bisa saya terjadi secara kasat mata dampat perjumpaan Musa dengan Allah dalam bentuk Api membuat wajah Musa berbeda. Namun hal yang paling kita tekankan adalah orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan akan berdampak pada diri seseorang yang memancarkan cahaya kemuliaan. Musa yang memegang dua log batu berisi perintah Tuhan. Perjumpaan Musa dengan Tuhan mengubah pandangan umat Israel terhadap Musa. Musa bercaha dan memancarkan kemuliaan. Bukan hanya perubahan dalam Musa yang bercahaya membuat itu mereka takut mendekat kepada Musa.


Keluaran 34:30 (TB) Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampak kulit mukanya bercahaya, maka takutlah mereka mendekati dia.


"Takut mendekat kepada Musa', kata takut disini bukan dipahami sebagai ketakutan kepada seseorang yang kejam atau bengis tetapi takut karena Musa memiliki wibawa dan karisma di hadapan umat Israel. Musa itu adalah pemimpin besar, membawa umat Allah keluar dari Mesir dengan 10 tulah dan menyeberangkan mereka di laut Merah. Semua itu adalah mujizat yang besar. Musa dalam peristiwa-peristiwa besar itu digambarkan sebagai Musa sang pemimpin yang gagah dan perkasa mengalahkan musuh dan tatangan. Dalam kotbah ini Musa tampil bercahaya menggambarkan pemimpin yang ditakuti karena rasa hormat, takut karena wibawa dan disegani karena kemashurannya di mata umat Allah. 


Jadi umat Allah takut mendekati Musa karena wajahnya bercahaya, ini hendak melengkapi kharisma Musa


3. Selubung wajah

Keluaran 34:33-34 (TB) Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah mukanya. 

Tetapi apabila Musa masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia, ditanggalkannyalah selubung itu sampai ia keluar; dan apabila ia keluar dikatakannyalah kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya.


Wajah yang bercahaya membuat mata bangsa Israel silau dan tak sanggup melihat Musa. Wajah yang memancarkan cahaya kemuliaan kita temukan juga dalam Perjanjian Baru. Saat Yesus dimuliaakan di Buit, Yesus berjcakap-cakap dengan Musa dan Elia. Sampai Petrus meminta kepada Tuhan Yesus agar mendirikan kemabh diatas bukit itu. Sinar kemuliaan yang dipancarkan Yesus, Musa dan Elia membuat murid-murid betah dan hendak membangun tenda. Di dalam pemberian Perintah Tuhan kepada umat Allah, wajah Musa memancarkan cahaya kemuliaan dan umat itu ketakutan dan takut berjumpa dengan Musa. Ini sautu pelajaran penting bahwa dalam menyampaikan perintah Tuhan Musa menyelubungi wajahnya. Artinya Musa memahami bagaimana kondisi umat Allah melihat dan memandang Musa. Karena cahaya kemuliaan yang dipancarkan Musa, maka Musa memahami apa yang dirasakan oleh umat Allah, sehingga dalam menyampaikan perintah Tuhan Musa menyelubungi wajahnya. 


Kejadian ini merupakan contoh bagi para hamba Tuhan dalam menyampaikan Firman. Seseorang menyampaikan firman harus memahami siapa pendengar dan bagaimana sikap mereka. Selubuh wajah Musa menjadi solusi bagaimana Musa hadari menyampaikan perintah Tuhan kepada umatNya yang dibanyangi rasa takut dan gentar ditambah wajah Musa yang memancarkan cahaya. 

 

Sebaliknya saat menghadap Tuhan, Musa membuka selubung wajahnya. Menghadap Tuhan kita harus terbuka dan tidak ada yang membatasi kita berjumpa dengan Tuhan. Mungkin saat ini masih terpelihara bagi orang Kristen, saat berdoa spontan membuka topi, suatu pemahaman bahwa kita harus membuka diri dihadapan Tuhan. Berjumpa dengan Tuhan tidak ada selubung wajah, atau tidak ada sesuatu yang boleh ditutup-tutupi saat menghadap Tuhan. 


4. Menjadi orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan


Kualitas iman seseorang terlihat dari apakah seseorang memiliki relasi yang baik dengan Tuhan. Inilah yang juga kita temukan dalam hidup Musa. Sepanjang missi Musa membawa umat Allah dari perbudakan Mesir hingga perjalanan di padang gurun, satu hal yang kita temukan adalah bahwa Musa selalu berjumpa, berdialog dan memohon petunjuk kepada Tuhan dalam segala keadaaan. Apa artinya ini? Musa memiliki Spiritualitas dan hubungan yang dekat dengan Tuhan. 


Marilah menjadi pribadi yang senantiasa memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. hubungan personal dengan Tuhan akan membuat kita memancarkan cahaya kemuliaan. Cahaya kemuliaan itu ada pada diri kita yang menghormati dan menghargai orang lain yang segambar denganr upa Allah. Artinya sinar kemuliaan dari seseorang terpancar dari sikap dan cara bagaimana dia menghormati dan memuliakan orang lain. Amin


Selamat hari Minggu bagi kita semua, salam dari kami: Pdt Nekson M Simanjuntak  


Senin, 24 Februari 2025

MENGASIHI MUSUH

 KOTBAH MINGGU SEXAGESIMA

Minggu, 23 Februari 2025

Ev. Matius 5: 38-48




MENGASIHI MUSUH


Selamat Hari Minggu! Semua orang pasti menginginkan hidup damai dan jauh dari permusuhan. Semua orang menghendaki lingkungan dimana di hidup aman tenteram jauh dari kegaduhan dan perseteruan.  Mungkin spontan kita akan menjawab hal itu sangat sulit dan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Manusia dalam setiap memenuhi kebutuhannya ada persaingan, kompetisi bahkan harus mengalahkan lawan untuk meraih sesuatu yang diharapkan.  


Coba diperhatikan berita-berita di media sosial tentang "kriminal" rupanya ada banyak fenomena masyarakat terjadinya kekerasan sering sekali bermuara pada sakit hati dan balas dendam yang berujung kepada kematian. Saya pernah membaca satu suku di Indonesia mengenal tradisi "carok". Suatu sikap balas dendam yang terpelihara dan diwariskan kepada anak-anaknya. Seorang ayah yang meninggal di carok oleh lawannya, maka sang ibu menyimpan kain bekas darah. Setelah anaknya bertumbuh dewasa dan dirasa cukup matang sang  ibu mengeluarkan kain bekas darah ayahnya dan menceritakan musuh ayahnya. Jika sakit hati orang tua tidak dibalaskan anak-anak akan dianggap menjadi hutang dan dinilai hina. Apa jadinya jika sakit hati dibalas dengan sakit hati tentu manusia saling bermusuhan dan kalaupun sedikit nyaman hanya tinggal tunggu meledakkan dendam. Demikianlah lingkaran hitam akar kekerasan kejahatan jika dibalaskan dengan kejahatan dan dendam akan dibalaskan kepada dendam. Manusia memiliki musuh sepanjang hidupnya dan dibayangi ketakutan akan balas dendam orang lain.


Syukurlah ajaran Yesus yang Maha Agung tentang pengampunan dan kasih, sehingga orang percaya tidak akan menyimpan dendam, tidak akan membalaskan kejahatan dengan kejahtan, kesalahan dibalas dengan kesalahan, pukulan dibalas dengan pukulan, tamparan dibalas dengan tamparan namun Yesus mengajarkan agar kita mendoakan dan memberkati orang yang telah berbuat jahat kepada kita.  Ajaran kasih Yesus bukanlah sekedar mengasihi dan membalaskan kebaikan dengan kebaikan namun ajaran damai dan kasih terhadap musuh sebagaimana kotbah minggu ini dari Matius 5:38-48. Mengasihi orang yang berbuat baik kepada kita mungkin semua orang menerapkannya, namun siapakah diantara kita yang mengasihi musuh? Apakah masih ada di antara kita jika disakiti masih memberkati dan mendoakan mereka


Sahabat yang baik hati, marilah kita belajar dari kotbah minggu ini yang dapat kita gali sebagai pedoman hidup untuk tetap tinggal di dalam kasih dan tanpa pembalasan. Dengan kotbah ini kasih Kristus semakin terpancar dan menyebar sebagai nilai-nilai yang dihidupi oleh masyarakat. 


1. Jangan membalaskan  kejahatan dengan kejahatan melainkan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. 


Jika dunia mengajarkan mata ganti mata, kejahatan dibalaskan dengan kejahatan yang lebih besar maka manusia akan terus dalam lingkaran kejahatan dan kekerasan yang tiada tara. Mewariskan kejahatan demi kejahatan  dan akan terus menjadi hukum balas membalas yang saling menggigit dan memusnahkan. Yesus yang penuh kasih dan damai mengajarkan kepada kita rumus menghentikan semua itu dengan tidak membalaskan  kejahatan, tetapi mengampuni dan mengalahkan kejahatan dengan perbuatan  baik.


Matius 5:39 (TB)  Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.


Mungkin bagi sebagian orang termasuk saya, nas ini merupakan perintah tersulit yang dilakukan dalam hidup. Memaafkan dan mengampuni orang maaih bisa kita lakukan, namun memberi diri ditampar sekali lagi itu sesuatu yang berat dan teramat berat. Apa makna di balik pernyataan Yesus ini? Bagi saya, jangan sama sekali ada pembalasan. 


Sikap membalas akan menghasilkan permusuhan terus menerus, namun saat kita memiliki sikap tidak membalas maka permusuhan pun akan berakhir. Sebaliknya akan muncul rasa hormat dan berlomba untuk  hidup didalam kasih dan damai sejahtera. 


2. Melakukan sesuatu lebih dari apa yang diminta. 


Sebagai mahluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat kita memiliki harapan dan tuntutan terhadap orang lain sebagaimana hukum normatif; membantu, menolong dan memberi uluran tangan terhadap sesama.  Yesus mengajarkan jika masih membalaskan kebaikan dengan kebaikan secara normatif maka anak-anak dunia ini juga melakukan  hal yang sama. Bukankah para penjahat mengasihi sesamanya bahkan mungkin kasih mereka sangat besar yang rela berkorban demi kawannya. Kelebihan anak-anak Allah adalah melakukan  lebih dari apa yang dituntut orang lain. 


Matius 5:40-41 (TB)  Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.

Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.


Kwalitas kebaikan kita harus lebih baik dari anak-anak dunia ini. Meneladani Allah yang mengasihi tanpa mengharapkan balasan atau agape. Kasih yang tulus untuk menolong, dan bukan hanya sekedar menolong tetapi membantu orang lepas dari pegumulannya dengan tidak mengharapkan imbalan.


Melakukan lebih dari pada yang diminta! Disini kita diminta memiliki keralaan dan kesediaan melakukan lebih dari apa yang diminta. Jika kita memberi apa yang diminta itu adalah hal bisa, namun jika seseorang melakukan lebih dari yang diminta itu adalah perbuatan kasih.


3. Mengalahkan diri sendiri lebih besar dari mengalahkan musuh.


Dunia ini mengajarkan kepada kita bahwa pahlawan itu diberikan kepa orang kuat yang dapat mengalahkan musuh sebanyak-banyaknya. Seperti pahlawan perang yang dapat mengalahkan musuh sebanyak-banyaknya.  Itulah jalan dunia ini, Injil Yesus Kristus berbeda dengan jalan dunia: Yesus mengajarkan pahlawan yang sesungguhnya adalah mereka mengasihi musuh, berdoa dan memberkati mereka yang membenci dan menganiaya kita. 


Dari seluruh ajaran injil mungkin hal tersulit dilakukan adalah ajaran ini. Bagaimana kita mengasihi musuh? Kata hati kita dan sesak dihati hendak membalaslan kejahatan dan melampiaskan dendam dan angkara murka. Namun jika kita terima dengan akal sehat tentu ajara ini menyelamatkan kita dari amarah dan angakara murka. Bukankah dendam dan angkara murka hanya membawa kita kepada kebinasaan. Yesus tidak menghendaki kita binasa oleh balas dendam, namun harus selamat, hidup penuh damai sejahtera dan menjadikan dunia ini lebih baik dengan mengasihi musuh, berdia dan memberkati orang yang menyakiti dan menganiaya kita. 


Dalam menutup kotbah ini baiklah kita memohon kekuatan kepada Tuhan. kita berdoa: Ya Tuhan,  firman yang Engkau ajaran minggu ini sangat sulit kami lakukan, namun engkau menghendaki hidup kami penuh damai dengan ajaran kasih.  Berikanlah kekuatan bagi kami agar kami dapat melakukannya dalam hidup kami. Amin


Salam dari kami:

Pdt Nekson M Simanjuntak


Sabtu, 15 Februari 2025

TUHAN PENGHARAPAN KITA

 Kotbah Mingu Septuagesima

Minggu, 16 Februari 2025

Ev. Yeremia 17:12-18




TUHAN PENGHARAPAN KITA


Selamat hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kita pada minggu ini telah memasuki Minggu Septuagesima. Suatu minggu yang mengarahkan pandangan kita kepada keselamatan di dalam kebangkitan Yesus Kristus. Hidup kita yang dialami kini diarahkan pada tujuh puluh hari ke depan: jika ada beban, pergumulan dan ancaman yang menghimpit kehidupan jangan berputus asa. Sebagai orang percaya Tuhanlah pengharapan kita. Padanya ada pengampunan, kesembuhan, perlindungan dan keselamatan. Hidup orang pecaya tertuju kepada salib dan kebangkitan Kristus


Jika kita baca keseluruhan Yeremia 17, diawal telah diceritakan begitu nyatanya dosa dan pelanggaran umat Allah. Dosa berbekas dan pelanggaran yang tidak bisa dimaafkan. Yeremia mengungkapkan bahwa dosa bangsa Yehuda telah tertulis dengan pena besi yang matanya dari intan, terukir pada loh hati mereka dan pada tanduk-tanduk mazbah mereka (1). Mereka menjauh dari Allah dan menyembah berhala (2). Mereka mengandalkan manusia dan bukan Allah (5). Mereka meninggalkan Allah, Sang Sumber Air Yang Hidup. Atas perbuatan itu, Allah menghukum mereka. Allah mengizinkan harta benda mereka dirampas dan mereka kehilangan apa yang telah diberikan-Nya kepada mereka sebagai umat perjanjian (3). Mereka akan menjadi budak musuh (4). Semua itu adalah ganjaran atas dosa yang telah mereka lakukan.


Daftar dosa yag dibeberkan oleh Yeremia pada ayat 1-10 menghantarkan bahwa mereka tinggal menunggu hukuman. Tuhan akan segera mendatangkan mala petaka sebagai ganjaran atas pelanggaran dan dosa mereka. Hukuman segera tiba dan tidak satu pun yang luput dari murka Allah. Dengan demikian apakah yang dapat dilakukan oleh umat Allah? 


Dalam Kotbah Minggu ini kita menemukan ajakan dari Nabi Yeremia, yakni:

 

1. TUHAN Pengharapan kita

Dalam kondisi demikianlah Yeremia mengarahkan umat Allah bahwa di dalam Tuhan ada pengharapan. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari hukuman yang segera tiba, tetapi berharap pada Tuhan.


Allah berjanji akan memberkati setiap orang yang mengandalkan Tuhan dan yang berharap hanya kepada-Nya. Mereka akan menikmati berkat dan damai sejahtera dari Allah. Mereka juga akan memperoleh keselamatan dan kehidupan. Tentu, itu semua sesuai janji-janji Allah bahwa Dia akan memberkati umat yang mengasihi-Nya dan melakukan segala ketetapan dan perintah-Nya. Sebaliknya, Dia akan menghukum umat yang tidak setia dan melanggar segala ketetapan yang telah difirmankan-Nya.


Sekalipun hukuman telah diwartakan dan tidak seorang pun yang luput dari murkanya, tetap berharap pada Tuhan. Sekalipun Tuhan murka namun kasih setianya lebi besar dari amarahnya. Hal ini menghantarkan kita kepada suatu pengharapan bahwa di dalam Tuhan ada harapan, ada keselamatan dan kasih sayang.  


Seorang sahabat pelayan yang lama melayani orang yang hidup divonnis mati bercerita bahwa banyak diantara nara pidana yang divonnis mati ingin mengakhiri idupnya sebelum divonnis mati, merasa bersalah dan berteriak histeris. Ada juga yang tidak berterima dan terus melawan di dalam bathin bahwa kebebasan akan datang namun ada juga yang sudah siap mati namun cerita dalam hidupnya harus dicatat dan direkam untuk diberitahukan kepada semua orang. Setiap orang memiliki pergumulan tersendiri dan semakin memahami bahwa hidup ini merupakan misteri yang harus di dalami. Menjelang akhir hidup ini selalu ada suatu harapan.


2. TUHAN sumber kesembuhan

Yeremia 17:14 (TB) Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku! 


Keterpurukan umat Allah di dalam pembuangan digambarkan sebagai orang yang sakit. Mereka terluka dan terpukul akibat pembuangan yang menyakitkan. Yeremia berdoa memohon kesembuhan dari Tuhan meminta belas kasihan yang menyembuhkan dan menyelamatkan bagi dirinya. “Jika keadaan orang-orang yang menyimpang dari Allah begitu sengsara, biarlah aku selalu mendekat kepada-Nya (Mzm. 73:27-28), dan karena itu, Tuhan, sembuhkanlah aku dan selamatkanlah aku (ay. 14). Sembuhkanlah aku dari kemurtadanku, dari kecenderungan untuk murtad, dan selamatkanlah aku supaya tidak terseret oleh kuatnya arus untuk meninggalkan Engkau.” Ia terluka di dalam roh oleh kesedihan akan banyak hal. “Tuhan, sembuhkanlah aku dengan penghiburan-penghiburan-Mu, dan buatlah aku tenang.” Ia terus-menerus hendak dijahati oleh orang-orang yang tak waras. “Tuhan, selamatkanlah aku dari mereka, dan jangan biarkan aku jatuh ke dalam tangan mereka yang fasik. Sembuhkanlah aku, yaitu sucikanlah aku dengan anugerah-Mu. Selamatkanlah aku, yaitu bawalah aku pada kemuliaan-Mu.” Semua orang yang akan diselamatkan di kehidupan nanti disucikan pada saat ini. Kecuali penyakit dosa dibersihkan, jiwa tidak bisa hidup. Untuk menegaskan permohonan ini, ia menyerukan di dalam Tuhan kesembuhan dan keselamatan.


Bagaimana dengan kita sekarang ini? Coba kita review jika seseorang jatih sakit apa yang dilakukan? Dokter yang terbaik, referensi rumah sakit yang terbaik dan berbagai nasihat yang pernah sembuh dari sakit. Keluarga seorang yang sakit akan jeli mendengar obat dan tindakan medis. Pada kotbah ini, jika kita sakit atau bergumul dengan kondisi kesehatan dan mental kepada siapa kita berharap? Yeremia menghantarkan kepada kita di dalam Tuhan ada kesembuhan dan keselamatan.  


3. Tuhan perlindunganku, aku tidak mendapat malu

 

Pergumulan umat Allah di Babel bukanlah soal kekalahan dan ditahlukkan oleh bangsa lain. Persoalan yang lebih mendalam dari itu adalah ada pemahaman bahwa kekalahan Yehuda adalah kekalahan Allah yang mereka sembah. Jadi mereka yang membanggakan Tuhan dianggap juga tahluk dan kalah kepada ilah yang disembah dan dipuja oleh Babelonia. Inilah sebabnya Yeremia menyampaikan dalam ayat Yeremia 17:18 (TB) Biarlah orang-orang yang mengejar aku menjadi malu, tetapi janganlah aku ini menjadi malu; biarlah mereka terkejut, tetapi janganlah aku ini terkejut! Buatlah hari malapetaka menimpa mereka, dan hancurkanlah mereka dengan kehancuran berganda. 


Jangan aku ini menjadi malu! Israel adalah umat Allah yang dipilih bukan karena mereka lebih besar atau lebih kuat, lebih bijak atau lebih pintar. Mereka dipilih oleh Allah menjadi umat pilihan karena janji Allah Abraham, Ishak dan Yakub sehingga mereka dijadikan Allah umat Perjanjian. Allah telah berjanji keturunan Abraham menjadi umatNya dan umat menjadikan Allah menjadi Allah mereka. Umat Allah memahami bahwa Allah itu dahsyat Allah dari segalah Allah dan Tuhan dari segala Tuhan, Mazmur 96:4

Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. 


Kedahsyatan Allah Israel telah terbukti di dalam sejarah: Allah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, berbagai mujizat dan kedahsyatan telah nyata di dalam perjalanan mereka bangkan saat mereka berjalan menuju Kanaan bangsa-bangsa Kanaani ketakutan atas kedatangan Israel. Cerita kebanggaan atas Allah Israel telah turun temurun, namun dalam peristiwa jatuhnya mereka di tangan Babel membuat mereka terpuruk dan malu! Apakah semua akan menanggung malu!


Yeremia menganggat kembali kekuatan Allah Israel, Allah diatas segala Allah, Raja diatas segala raja dan Tuhan diatas segala Tuhan. Yeremia mengangkat tema ini untuk mengembalikan keyakinan umat Allah atas kemehakuaasaan Allah. Mereka tidak akan dibiarkan malu. Mereka akan berlindung di dalam nama Tuhan.

 

Sahabat yang baik hati, tema minggu Septuagesima ini mengarahkan hidup kita kepada Kristus! Kristus pengharapan, Kristus kesembuhan dan keselamatan dan di dalam Kristus kita beroleh kemenangan dan tidak akan mendapat malu. Mari jalani kehidupan ini dengan berharap kepada Tuhan. Amin


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 01 Februari 2025

GUNUNG BATU DAN BENTENG PERTAHANAN

 Kotbah Minggu IV Stlh Ephipanias, 

Minggu, 2 Februari 2025

Ev. Mazmur 71:1-6




TUHAN GUNUNG BATU DAN BENTENG PERTAHANAN


Selamat hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Setiap orang pasti memiliki rasa kuatir dan rasa kuatir itulah membutuhkan rasa aman di dalam menjalani kehidupan ini; rasa aman dari ancaman kelaparan, ancaman kesehatan, ancaman keamanan dan ancaman kepastian masa depan. Tidak sedikit orang mengalami kekuatiran berlebih hingga memiliki gangguan psikologis karena kuatir dan takut akan ancaman kehidupan in. Itu adalah manusia, membutyhkan perlindungan dan rasa aman. 


Dalam kotbah minggu ini kita dapat mempelajari bagaimana pemazmur menjawab kekuatirannya, yaitu berdoa dan percaya kepada Tuhan. Tuhan adalah perlindungan baginya dalam menghadapi hidup ini dan tentang apa yang akan terjadi esok di hari tua. 


ÀPemazmur memberikan pelajaran berharga bagi kita, bagaimana menjalani kehidupan ini dan mendapatkan rasa aman. Ada kekuatiran dalam menjalaninya dan takut di masa tua muncul berbagai persoalan yang akan menimpanya, namun pemazmur menemukan jawaban, yaitu menempatkan Tuhan sebagai gunung batu, benteng pertahanan dan bukit batu. Tuhanlah pelindung dan jaminan yang paling aman dalam menjalani kehidupan ini. Doa pemazmur ini memberikan pelajaran berharga menyerahkan jaminan kehidupan ini henya kepada Tuhan. Tuhanlah satu-satunya perlindungan yang pasti. Sehebat apapun ancaman, gangguan, tantangan dan hambatan yang mengancam kehidupna kita, di dalam Tuhan kita terlindungi. 


Baiklah kita mengambil beberapa pelajaran berharga dari kotbah minggu ini, yakni:


1. Tuhanlah Perlindungan: gunung batu, tempat berteduh dan benteng pertahanan

Mazmur 71:3 (TB)  Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.


Untuk menggambarkan perlindungan ini, pemazmur menggunakan tiga istilah "gunung batu". "tempat berteduh" dan "kubu pertahanan". Gunung Batu (Tzur) → Kekuatan yang kokoh dan tak tergoyahkan. Tempat Berteduh (Ma'on) → Rumah yang penuh kehangatan dan keamanan.

Benteng Pertahanan (Metzudah) → Perlindungan dari serangan dan ancaman.



- Tentang ALLAH adalah gunung batu, suatu istilah yang sering disebutkan dalam Alkitab yang memiliki  kekuatan yang kokoh danntak tergoyahkan. Di padang gurun, badai pasir bisa sangat berbahaya. Dalam kondisi seperti itu, gunung batu adalah satu-satunya tempat perlindungan karena dapat memberikan naungan dari angin kencang dan pasir yang beterbangan. Bayangkan seseorang di tengah gurun tanpa perlindungan, maka satu-satunya harapan adalah mencari batu besar atau tebing untuk berlindung. Ini menjadi gambaran bagaimana Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan dalam badai kehidupan.


Dalam peperangan zaman dahulu, gunung batu sering digunakan sebagai benteng alami. Musuh yang datang dari dataran rendah akan sulit menyerang mereka yang bersembunyi di dalam gua-gua di gunung. Contoh dalam Alkitab: Daud sering bersembunyi di gunung batu saat dikejar Saul (1 Samuel 23:25-28). Ini menunjukkan bahwa gunung batu memang menjadi tempat aman secara harfiah bagi orang Israel.


- Tentang ALLAH tempat berteduh adalah menjelaskan dimana seseorang mendapatkan kelegaan dan keteduhan. Untuk lebih mudah baiklah kita berikan contoh Ibarat orang dalam perjalanan di panas terik. Di pinggir ajalan ada pohon dan pohon tersebut adalah tempat perteduhan. Di masyarakat kota saya sering perhatikan para pengguna sepeda motor, tiba-tiba hujan maka jembatan layang merupakan tempat berteduh. Kedua contoh diatas menjelaskan adanya suatu titik aman dan keteduhan.


Untuk lebih jauh dan mendalam tempat berteduh bagi setiap orang adalah rumah, di rumah setiap orang merasa nyaman. Rumah menjadi tempat berteduh untuk istirahat, rumah tempat orang berteduh dari panas, dari hujan dan berbagai hal lainnya. Pemazmur dalam Mazmur 71 ini hendak menekankan bahwa Tuhan adalah temoat berteduh bagi setiap orang. Naungan sanyap Tuhan akan melindungi kita


- Sedangkan ALLAH  benteng pertahanan berkaitan dengan peradaban jaman PL. Dimana Kota-kota dalam Perjanjian Lama biasanya di kelilingi oleh tembok. Bangsa-bangsa berlomba jaya dengan merebut dan menahlukkan kota lainnya, jaman yang penuh peperangan. Maka kota yang dibangun tembok yang disebut juga kubu pertahanan. Kuatnya kota  sering diukur dari bagaimana kekuatan tembok dan benteng pertahanan yang dibangun untuk melindungi kota dari musuh. Gerbang pintu masuk kota dijaga ketat dan tembok yang kokoh yang terbuat dari bahan-bahan batu padas. Dibalik tembok mereka aman berlindung dan posisi aman untuk menyerang musuh yang datang. Dengan gambaran konstruksi kota di jaman itu kita semakin memahami arti makna Allah benteng pertahanan Selain menggambarkan kekokohan juga sebagai perlindungan paling aman karena sulit ditembus oleh musuh. 


Inilah nyanyian pemazmur, baginya tidak ada benteng pertahanan dan tempat perlindungan yang paling aman di dunia ini. Bagi pemazmur hanya Tuhan Allah sebagai gunung batu, temoat berteduh dan benteng pertahanan bagiNya. Pengakuan pemazmur ini menyadarkan kita sehebat apapun tembok kota yang dibangun terbatas  kekuatannya. Sehebat apapun penjaga mengawal kota, mereka memiliki keterbatasan. Bagi pemazmur Tuhan adalah pelindung dari segala ancaman dalam hidup.


Sahabat yang baik hati, jika saat ini ditanyakan dimana kah tempat anda merasa palung nyaman dan tenang? Mungkin sebagian menjawab rumah adalah tempat paling nyaman, ada mungkin tempat kerja, ada mungkin tempat usaha atau ada mungkin tempat wisata yang paling indah yang oernah anda kunjungi. Ketenangan, rasa aman dan perlundungan sejayi tidak ditentukan oleh tempat, namun penyertaan Tuhan di setiap tempat yang kita tempati. Seperti pengakuan pemazmur demikian kita percaya bahwa Tuhan adalah gunung batu, tempat perlindungan dan kubu pertahanan bagi kita.  Kita semakin menyadari bahwa  tidak bisa melindungi diri kita dengan kekuatan diri sendiri. Security sistem yang dibangun oleh IT harus kita akui sangat terbatas. Namun di dalam Tuhan ada perlindungan dan keamanan yang tanpa batas


2. Engkaulah Harapanku

Mazmur 71:5 (TB)  Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.


PHP satu istilah yang sangat dekat di telinga kita di jaman ini. Istilah ini bahasa gaul singkatan dari Pemberi Harapan Palsu: coba ingat jangan-jangan kita adalah pelaku PHP, mengumbar janji, namun tak dapat menepatinya; baik di rumah, teman-teman atau di pekerjaan. Jika kita korban PHP ngak enak bukan?


Bagaimana agar kita jangan menjadi korban PHP? Kotbah minggu ini menyapa kita dengan pengalaman Pemazmur.  Suatu pengakuan iman bahwa harapannya hanya kepada Tuhan. Berharap pada Tuhan bukan hanya karena keadaan tersesak atau memasuki pergumulan berat, tetap berharap akan Tuhan telah dimulai sejak kecil dan sejak masa muda. Masa muda adalah masa yang penuh energi, kuat dan masih antusias serta bangga akan kemampuan diri tetapi pemazmur berbeda sejak masa muda tidak mengandalkan potensi diri tetapi berharap hanya pada Tuhan.  Berharap kepada Tuhan sejak masa muda berarti menunjukkan kualitas spiritualitasnya yang baik. Pemazmur telah hidup bergaul akrab dengan Tuhan, beribadah dan percaya kepada Tuhan.


LAI membuat judul dari Mazmur 71 ini dengan "Doa Minta Perlindungan Di Masa Tua". Menjadi tua adalah proses alamiah pada setiap orang, namun tidak setiap orang memiliki kematangan menghadapi masa tua. Masa dua adalah harapan setiap orang namun di mana dua banyak juga pergumulan tenaga semakin surut, semakin rentan penyakit dan memasuki zona yang mungkin semakin banyak lupa. Jangan kuatir atas semua risiko-rosiko yang akan dimasuki oleh masa tua.  Mazmur di pagi ini memberikan harapan pasti. Tuhan akan menolong, melindungi dan memelihara hidup orang yang percaya kepadaNya. Jangan merasa terbeban, jangan merasa terabaikan dan tidak berguna. Masa tua bukanlah sesuatu yang harus disesali tetapi sesuatu  yang mesti disyukur karena dapat memasuki umur yang panjang, dapat menikmati kasih karunia Tuhan sampai tua. Itu semua harus kita terima dengan sukacita. Sukacita orang tua adalah kepastian akan keselamatan yang Tuhan berikan.


Sahabat yang baik hati! Tuhan pemberi harapan pasti. Jika kita tidak suka diPHP (pemberi harapan palsu) baiklah itu masa lalu. Kini melalui renungan ini, kita menerima PHP yang baru, yaitu: Tuhan Pemberi Harapan Pasti. Tuhan melindungi, memelihara dan memberikan apa yang kita butuhkan melebihi dari apa yang kita pikirkan. Syaratnya hanya satu: percaya kepada Tuhan yang telah menebus dan menyelamatkan kita di dalam diri Yesus Kristus.


3. Tuhan kekuatanku!


Dalam menghadapi kekuatiran, pemazmur mengajak kita kepada suatu kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan untuk melindungi dirinya sendiri. Sehebat apapun seorang pahlawan menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan akan selalu memiliki kelemahan. Manusia memiliki keterbatasan dalam membentengi diri. Maka dalam menghadapi semua itu, kita harus menyerahkan hidup ini kepada Tuhan, dan Tuhanlah menjadi kekuatan kita dalam menjalaninya. 


Ada hal unik yang disampaikan oleh Pemazmur yakni: pemeliharaan Tuhan itu bukan saat ada masa kesesakan, tetapi telah dipelihara sejak dari kandungan ibu. Kita terlindung dari berbagai ancaman dan bahaya tidaklah secara kebetulan, tetapi telah dirancang Tuhan sejak dari kandungan hingga kita lahir, bertumbuh hingga apa adanay sekarang semuanya karena pemeliharaan Tuhan. 


Kesadaran seperti itulah pemazmur mengajak kita dibagian akhir kotbah ini agar menyampaikan pujian dan syukur kepada Tuhan. 


Mazmur 71:6 (TB)  Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji. 


Sahabat yang baik hati! Dari kotbah minggu ini kiranya kita semua semakin bersyukur. Dalam menjalani hidup ini ada saja yang membuat kita kuatir: Tuhanlah perlindungan kita. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 25 Januari 2025

KESATUAN DAN KEPEDULIAN JEMAAT

 Kotbah Minggu III Setelah Ephipanias

Minggu, 26 Januari 2025

Ev. 1 Korintus 12:12-20




KESATUAN DAN KEPEDULIAN JEMAAT


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, gereja adalah esa, keesaanNya digambarkan sebagai satu tubuh. Sekalipun banyak anggota tubuh namun satu tubuh dimana Kristus sebagai kepala. Inilah kekayaan keesaan gereja yang digambarkan dalam 1 Korint 12,12-27. Analogi tubuh ini yang dipakai oleh Paulus ini sangat membantuki kita memahami perbedaan di dalam kesatuan dan kesatuan di dalam gereja. Persekutuan orang percaya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan yang lain. 


Kesatuan jemaat itu digambarkan seperti tubuh, tubuh ini terdiri dari berbagai anghitabtubuh, ada tangan, kaki, kepala, mata dll, semua itu adalah anggota tubuh dan memiliki tempat dan fungsi khusus dan istimewa sebagaimana ditetapkan Allah. Tiada yang lebih tinggi dan terhormat, tiada yang lebih utama dari yang dengan yang lain tetapi semuanya adalah anggota tubuh yang memiliki fungsi. Jika dia terpisah dari anghgota tubuh yang lain maka tak berfungsi. Tangan tidak lebih utama dari kaki, dan sebaliknya atau mata tidak lebih penting dari telinga dan sebaliknya, tetapi saling membutuhkan demi kesempurnaan tubuh. Dengan penjelasan Paulus tentang kesatuan  jemaat mereka menyadari bahwa kita satu di dalam Kristus, kita adalah anggota tubuh Kristus, dan Kristus sebagai kepala.


Dalam kotbah minggu ini, baiklah kita mengambil tiga hal yang menjadi pelajaran bagi kita;


1. Kesatuan jemaat - Kristus Kepala


Kesatuan jemaat haruslah dipelihara, setiap ada permasalahan harus menghidari perpecahan. Kita harus menyadari bahwa akan selalu ada banyak issu yang segera dapat membuat perpecahan di kalangan jemaat; baik itu latar belakang etnis (Jahudi dan non Jahudi, latar belakang pemberita injil, pengikut Apolos, Paulus, atau Kefas, latar belakang ekonomi, status dan posisi dalam masyarakat) semuanya dapat membuat perpecahan di jemaat. Ada banyak unsur yang dapat dijadikan sebagai sumber perpecahan, semua perbedaan harus dilihat sebagai keunikan dan fungsi khusus masing-masing. 


Banyaknya anggota tubuh mencerminkan pula banyaknya kasih karunia melalui fungsi masing-masing. Fungsi dan peran masing-masing itu adalah anugerah yang tidak dapat digantikan dengan yang lain. Tangan adalahbtangan dan fungsinya sebagai tangan, demikian kaki dan anggilota tubuh lainnya. Semuanya berharga dan semuanya bermanfaat. 


Kita semua berharga di hadapan Tuhan, dan keberhargaan kita saat menjalankan fungsi dan peran. Peran masing-masing akan membawa kita kepada suatu keasarann kita saling merasakan yang satu membutuhkan yang lain. 1 Korintus 12:14  Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.   (For the body is not one member, but many). Coba anda bayangkan bagaimana kalau tangan semua, atau kaki semua. Tubuh ini telah sempurna dibuat oleh Tuhan untuk menjalankan peran kita sebagai manusia.


Selain peran anggota tubuh, kita juga harus menyadari bahwa penempatan anggota tubuh ini juga telah sempurna dibuat oleh Tuhan. Sebagai contoh, coba anda pikirkan robah temoat anggita tibuh anda di dalam.alam pikiranmu, dengan berbagai alasan. Maka akan selalu ada jawaban lucu. Dannharus kita sadari bahwa anggota tubu di losisi sekara ini adalah sempurna sebagai ciptaaan Tuhan. Jika itu tidak seperti itu maka akan disebut dengan "tidak normal". 


2. Saling menghormati dan menghargai, 

Memahami anggota tubuh sebagai anugerah sangat penting agatr tidak ada yang merasa lebih utama. Semunya yang utama dan saat berfungsi dan berguna. Tidak ada anggota tubuh yang meremehkan pekerjaan anggota tubuh lainnya, namun semua sempurna. 


Penjelasan analogi tubuh ini sangat lenting juga agar ada saling menghargai realitas yang satu dan yang lain. Kaki adalah berfungsi berjalan, tak mungkin disamakan dengan fungsi tangan, demikian mata tidak mungkin berfungsi untuk mendengar, tetapi untuk melihat. Namun penglihatannya sangat berfungsi bagi keseluruhan anggota tubuh. Menghargai fungsi masing masing adalah penting, agar ada saling memahami bahwa semuanya itu diciptakan oleh Allah secara unik dan dihargai sesuai dengan fungsinya. 1 Korintus 12:21  Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." 


Contoh ini sangat penting untuk diterjemahkan dalam kehidupan bergwraja dan kehiduoan sehari-hari kita. Adalah manusiawi menurut kaca mata manusia mengambil peran yang kebih strategis atau utama. Namun kotbah ini mengajarkan apapun itu, status dan keberadaannya saat diabdikan dan dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan disitu kita berharga. 


Saya mencoba membuat dialog keluh tangan kanan dan tangan kiri. Contoh mengahak kita untuk menghargai dan menghormati dan tidak boleh ada yang disombongkan atau yang cemburui semuanya. Biarlah semuanya menerima keberadaanya serta berfungsi menurut peran masing-masing.


Begini ceritanya: 

"Tangan kanan pernah mengeluh kepada tangan kiri dan curhat.  Hai tangan kiri hidupmu terlalu enak dibandingkan dengan aku: jika ada cicin kejarimu yang disematkan, ada jam tangan dan perhiasan gelang semuanya ke tangan kiri. Pokoknya apa yang berharga selalu disematkan ditangan kiri. Demikianlah keluh tangan kanan kepada tangan kiri. 

Maka tangan kiri pun cerita bahwa sesungguhnya sudah lama ingin curhat cemburu kepada tangan kanan. Coba perhatikan jika ada tamu kau yang berjabat tangan undangan dan siapun selalu engkau didahulukan untuk berjabat tangan, jika ada sesuatu yang disajilan pada orang lain kamu yang mengerjakan, pokoknya semuanya yang terhormat adalah pada tangan kanan. Jika aku pingin menyalam sebagai ucapan terima kasih, maka orang akan membentak, jangan tangan kiri, ngak sopan? Dimana salahku kok tangan kiri tidak sopan? Sejak itulah tangan kanan dan kiri akur semuanya bekerja dan berfungsi tanpa memikirkan lebih utama atau lebih baik, yang tama adalah dapat bekerja dan melayani. 


Dalam menghargai dan menghormati ini dapat juga kita hubungan dengan karunia. Tuhan telah mempercayakan dan menganugerahkan kepada orang percaya bernagai karunia, melalui potensi dan sumberdaya yang ada pada diri orang percaya. Karunia itu tidak sama tetapi berbeda-beda, namun semuanya itu adalah sangat berharga untjk saling menopang dan meneguhkan satu dengan yang lain. Tidak ada yang utama dan tidak ada yang direndahkan, tidak ada yang lebih bagus atau yang lain lebih jelek sehingga yang lain lebih terhormat yang lain kurang dihargai. Disini semuanya adalah anugerah berdasarkan pemberian Tuhan dan kepelbagaian karunia itu dipersembahkan untuk membangun tubuh Kristus. 


3. Solidaritas, 

Kesatuan jemaat ada pada solidaritas. Apa yang dirasakan anggota tubuh yang satu dirasakan oleh anggita tubuh yang lain.

Maka solidaritas dan kepedulian ini merupakan hal yang sangat penting, jika kaki sakit maka seluruh anggota tubuh merasakannya, tidak mungkin tangan bergembira karena kaki terantuk, semua anggota  tubuh lainnya akan merasakan sakit, bahkan tangan akan bertindak untuk membalut lika yang terantuk. Analagi tubuh ini sangat penting di antara jemaat agar ada saling  merasakan perasaan orang lain, bukan dengan egois anggota tubuh yang satu untuk diperhatikan, tetapi untuk memperhatikan yang lain. Di dalam gereja mesti ada solidaritas, merasakan persaan anggota tubuh yang lain. Duka yang dialami jemaat yang satu adalah duka bagi seluruh jemaat. 


1 Korintus 12:24-26  Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,

supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. 

Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.  (For our comely parts have no need: but God hath tempered the body together, having given more abundant honour to that part which lacked:

That there should be no schism in the body; but that the members should have the same care one for another.

And whether one member suffer, all the members suffer with it; or one member be honoured, all the members rejoice with it.)


Dari sini kita diberikan makna pentinganya menyadari kesatuan di dalam jemaat, saya dan yang lain adalah saling membutuhkan, saling menghormati dan saling merasakan apa yang dialami oleh yang lain. Kesatuan jemaat ini adalah kesempurnaan tubuh Kristus. Tuhan menganugerahkan kepada kita masing-masing keunikan, kelebihan dan kekurangan, pada saat yang sama kita menyadsrimkelebihan kita itu adalah tanggungjawab untuk menopang yang lain, kelemahan kita adalah menyadari begitu pentingnya kita membutuhkan orang lain.


Bagaimana dengan persekutuan gereja? Apalah perasaan dan kepedulian di dalam anggita tubuh kita sama dengan apa pelaksanaannya di dalam gereja? Mungkin masih jaih dari yang diharapkan, tetapi kepekaan, kepedulian dan solidaritas harus dipelihara. 


Satu hari kami diojakhon di distrik pelayanan kami Jabartengdiy, malamnya ada banjir diberbagai daerah di Jawa Tengah: Pekalongan, Grobogan dan Kaliwungu dengan cepat para pelayan langsung mendata dan memberikan dokungan doa dan bantuan bagi yang korban banjir. Itu salah satu wujud solidaritas dan kepedulian. Saat ada musibah di jemaat lain kita semua ikut terbeban dengan memberikan bantuan. Kepekaan semacam ini harus terus dipelihara gereja sebagai bentuk solidaritas. Amin


Tuhan memberkati!

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

TUHAN SUMBER AIR KEHIDUPAN

 Kotbah Minggu Letare MInggu, 30 Maret 2025 Ev. Bilangan 21:10-20 TUHAN SUMBER AIR KEHIDUPAN Selamat Hari Minggu! Salah satu kebutuhan pokok...