Senin, 09 Desember 2019
TUHAN MELEPASKAN AKU DARI USAHA JAHAT
TUHAN MELEPASKAN AKU DARI USAHA JAHAT
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Selasa, 10/12/2019
2 Timotius 4:18 (TB) Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.
2 Timothy 4:18 (RWV) And the Lord shall deliver me from every evil work, and will preserve me to his heavenly kingdom: to whom be glory for ever and ever. Amen.
Sulit kita bayangkan bagaimana seseorang beraktifitas dibawah tekanan dan ancaman usaha jahat kepada kita. Pasti ada rasa takut, was-was, curiga dan tidak akan tenang dalam melakukan sesuatu. Hanya orang yang memiliki ketenangan jiwa yang tinggi dapat mengerjakan pekerjaan dengan tenang sekalipun ada usaha jahat orang lain.
Paulus adalah contoh yang melakukan pekerjaan dengan baik, sekalipun banyak tekanan dan yang memusuhi pekerjaannya. Ketika dia memberitakan Injil, kaum Yahudi membenci Paulus dan ajarannya, kelompok Herodian (penguasa) mengejar dan berusaha menghentikan karena dianggap bertentangan dengan kaisar. Dimana Paulus memberitakan Injil, kesitu juga guru-guru palsu dan musuh-musuh Injil hendak merusak pekerjaannya. Paulus terus dimusuhi oleh orang-orang jahat tetapi Paulus tetap berbuah dan berkarya. Sekalipun musuhnya dapat memenjarakan Paulus, namun dia tetap bersukacita dan dapat melayani jemaat melalui surat-surat kirimannya.
Apa yang membuat Paulus dapat melakukan pekerjaannya sekalipun banyak usaha orang-orang di sekitarnya merencanakan yang jahat kepadanya? Kuncinya ada pada nas renungan ini, bahwa Paulus percaya bahwa Tuhan akan melindungi dia dari segala yang jahat. Paulus tidak pernah ragu akan pertolongan Tuhan. Dia tidak takut dikejar, sekalipun musuhnya dapat memenjarakannya dia percaya Tuhan melindunginya. Berulang kali dia dipenjara namun Tuhan menyuruh malaikatNya membuka pintu gerbang penjara.
Alasan kedua ketenangan Paulus bekerja sekalipun dikelilingi orang-orang yang jahat dapat kita lihat pada keyakinannya tentang penebusan Kristus di salib. Bagi Paulus, Tuhan telah menyelamatkan manusia melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Dengan percaya kepada Yesus Kristus kita telah ditebus dari dosa dan ikut dalam kerajaan Allah. Paulus berkata: bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (Filipi 1:21). Pandangan Paulus ini menjadi asuransi yang meneguhkan imannya bahwa apapun yang terjadi adalah mendatangkan kehendak Allah. Jika dia hidup itu adalah kesempatan berbuah bagi Tuhan. Jika kematian tiba itu adalah keuntungan baginya karena kesempatan untuk beraama-sama dengan Tuhan dalam kemuliaanNya.
Bagi Paulus tak ada beban, semuanya diserahkan kepada Tuhan.
Hidup ini adalah kesempatan baginya untuk memulihkan Tuhan, ketika dipuji, ketika disambut bahkan ketika dihujat, difitnah dan segala usaha orang-orang jahat untuk menghentikannya.
Sahabat yang baik hati! Prinsip Paukus yang luar biasa ini menjadi pengalaman bagaimana mengubah mindset berpikir kita. Bukankah terlalu sering seseornag tidak melkukan hal-hal produktif karena ragu dan takut. Mari teladani Paulus, demi Missi Injil dia tetap melakukan pekerjaannya dengan tenang sekalipun dikelilingi orang jahat. Bagi Paulus kuasa Tuhan lebih kuat melindungi orang benar dari kekuatan orang jahat.
Sahabatku, dimanapun saudara berada, percayalah perlindungan dan penyertaan Tuhan. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Minggu, 08 Desember 2019
WAKTU TELAH SINGKAT
WAKTU TELAH SINGKAT
Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Senin, 09/11/2019
1 Korintus 7:29 (TB) Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri;
1 Corinthians 7:29 (RWV) But this I say, brethren, the time is short: it remaineth, that both they that have wives be as though they had none;
Setelah memasuki bulan Desember ini kita pasti mengatakan waktu ini sangat singkat. Tahun lalu kita merayakan natal tanpa terasa suasana natal itu telah tiba kini. Waktu begitu cepat berlalu: detik demi detik tanpa terasa. Apalagi jika kita merenung begitu banyak waktu berlalu tanpa kegiatan produktif.
Dalam Bahasa Yunani ada dua istilah yang dipergunakan menjelaskan waktu. Pertama adalah "kronos", menunjukkan waktu itu adalah linear, waktu yang berjalan dan berkesinambungan. Dari kata kronos inilah kita mengenal kronologi, bagaimana proses terjadinya menurut perjalanan waktu. Waktu sebagai kronos ini berjalan maju ke depan, liniar dan tidak akan mundur. Kata kedua adalah "kairos" berarti "saat", "moment" atau "kesempatan", menjelaskan waktu jangka tertentu yang muncul dan tidak akan terulang. Kairos adalah peluang yang datang untuk digunakan, jika tidak akan berlalu.
Dalam kesempatan ini, Paulus memberikan nasihat kepada jemaat Korintus, bahwa waktu bagi mereka menunggu Tuhan adalah kairos. Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk mengatakan tunggu dulu atau besok dulu. Waktu yang tersedia adalah kairos, waktu telah singkat dan hanya sebentar saja karena itu bergegas dan lakukanlah sesuatu.
Apa yang harus dilakukan oleh Jemaat Korintus dalam waktu yang dekat ini? Paulus menasihati jemaat Korintus hidup tanpa kekuatiran. Semua mereka fokus untuk melakukan hukum-hukum Tuhan. Tak usah kuatir akan begini dan begitu apalagi diombang-ambingkan ajaran yang menyesatkan dengan doktrin-doktrin yang menekankan keharusan: harus bersunat, harus kawin, harus ini dan itu menurut menurut ukuran pikiran manusia.
Bagi Paulus, jemaat harus fokus pada pertumbuhan iman dan setia kepada Tuhan. Jika ada masalah-masalah anggap saja tidak ada masalah tetapi bagaimana setiap orang fokus pada menyongsong Tuhan.
Nas harian hari ini harus kita pahami dalam bahagian dari ayat 29-32 suatu nasehat dari Paulus agar orang lebih memikirkan persiapan dirinya menyambut Tuhan. Apa yang terjadi dalam hidup kita, dalam.keluarga, dalam relasi kita dengan orang lain, apa yang kita miliki semuanya akan berlalu. Jika demikian jika ada sesuatu yang terjadi dalam hidup ini yang mengganggu iman dan penantian kita kepada Tuhan anggap sajalah itu tidak seolah-olah tidak ada agar dapat fokus pada penantian kepada Tuhan. Baiklah kita baca secara lengkap 1 Korintus 7:29-32 (TB) Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli;
pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.
Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya.
Demikianlah dengan penantian kita di Minggu Advent ini. Waktu telah singkat! Kita harus siaga dan siap sedia menyongsong Tuhan. Waktunya hampir tiba dan tidak ada lagi waktu untuk menunda-nunda. Dalam waktu singkat ini, mari kita selesaikan segala sesuatu yang kita anggap menjadi penghalang dan menghambat kita menyambut hari Tuhan. Sehingga kita benar-benar siap menyongsong kedatangan Tuhan.
Sahabat yang baik hati! Waktu adalah singkat! Mari pergunakan waktu sebaik-baiknya melakukan hal yang neeguna dan membangun kehidupan kita dan orang lain. Paulus memberikan penjelasan kepada jemaat Efesus: Efesus 5:16 (TB) dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
Demikan pada Kolose 4:5 (TB) Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.
Sahabatku, Tuhan memberkati saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup saudara. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Sabtu, 07 Desember 2019
FIRMAN TELAH MENJADI MANUSIA
Kotbah Minggu Advent II
Minggu, 8 Desember 2019
Nas: Yohanes 1:14-18
MENYAMBUT KRISTUS YESUS SANG FIRMAN YANG TELAH MENJADI MANUSIA
Selamat Advent II bagi kita semua! Jika Advent pertama kita diarahkan untuk menantikan Mesias yang akan datang menyelamatkan umatNya.
Maka pada Advent II kita diarahkan untuk penantian dan pengharapan akan langit dan bumi yang baru. maka tema pembaharuan menjadi pokok sentral pada Advent II.
Kotbah Minggu diambil dari Yohanes 1:14-18, suatu penjelasan tentang bagaimana dunia ini diperbaharui yaitu: Yesus Kristus yang turun ke bumi. Firman yang telah menjadi manusia. Allah yang penuh kemuliaan turun ke bumi dan menjadi manusia. Dialah terang yang sesungguhnya yang menerangi dunia ini dari kegelapan. Yesus Kristus adalah Firman yang telah menjadi manusia disaksikan oleh Yohanes Pembaptis. Kesaksiannya telah membawa banyak orang mengenal kehendak Allah dan bertobat meninggalkan perbuatan dalam kegelapan. Menurur Yohanes, memang, Tuhan telah memberikan hukum Taurat kepada umatNya agar mereka melakukan perintah Allah, namun tak seorang pun benar karena melakukan hukum Taurat. Maka menurut Yohanes, Hukum Taurat tidak menyelamatkan, tetapi telah menuntun manusia mengenal kehendak Allah sampai kepada pemenuhan janji keselamatan. Janji keselamatan itu dipenuhi didalam diri Yesus Kristus, Firman yang telah menjadi manusia.
Untuk lebih mendalami kotbah ini, ada tiga pelajaran yang sangat berharga di Minggu Advent II bagi kita dalam menyongsong Tuhan.
1. Siapakah yang kita nantikan?
Yohanes 1:14 (TB) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Dari keterangan ayat 14 di atas Yohanes memberikan penjelasan bahwa keselamatan yang kita nantikan ialah Firman yang telah menjadi manusia. Allah turun ke bumi dan menjadi manusia. Allah yang adalah Firman, mulia dan agung turun ke bumi untuk menyelamatkan manusia dalam dunia. Dialah terang yang menerangi dunia yang gelap. Dunia ini tidak mengenal terang karena diliputi oleh kegelapan. Dunia ini akan binasa, namun dengan kehadiran Yesus Kristus sang terang dunia, dunia akan dipenuhi dengan sinar kemuliaan Allah.
Allah menggenapi janjinya dengan caranya sendiri. Hal ini digambarkan oleh Injil Yohanes adalah “Firman yang telah menjadi manusia”, Dia adalah Allah yang turun ke bawah, menjadi manusia diam dan bersama-sama dengan manusia.
Mengapa Firman menjadi manusia? bukankah manusia telah berdosa dan menyimpang dari jalan Allah. Itulah kasih karunia Allah yang senantiasa kasih dan yang berkenan memberikan kelepasan bagi manusia. Allah bersedia turun ke bawah untuk menyelamatkan dunia ini yang ditutupi oleh kegelapan. Kesaksian Yohanes ini telah disambut dan diterima umat, sehingga banyak yang bertobat dan memberi diri mereka dibaptis.
Ada tiga predikat yang melekat Yesus Kristus sang Firman yang telah menjadi manusia dalam ayat 14 adalah penuh kemuliaan Allah, Penuh kasih karunia dan Kebenaran. Ketiga istilah ini menjadikan kita mengenal Yesus Kristus sepenuhnya dan mengapa dia harus turun ke bumi, yaitu:
a) Penuh dengan kemuliaan Allah. Firman yang telah menjadi manusia ini adalah penuh kemuliaan. Yesus tidak sama seperti Adam lama. Jika Adam dibentuk dari tanah dan diberikan kemuliaan karena diciptakan segambar dengan rupa Allah namun telah jatuh oleh dosa. Makna kesegambaran itu rusak.oleh dosa. Yesus Kristus sang Firman yang telah menjadi manusia (humaliation), turun ke dalam dunia ini dengan penuh kemuliaanNya dengan tujuan untuk memulihkan kemuliaan manusia yang segambar dengan rupa Allah.
b) Penuh kasih karunia: Firman yang telah menjadi manusia, tidaklah hakim yang melucuti manusia dengan mendakwa dosa-dosa dan pelanggaran, tetapi Yesus Kristus turun kebumi membawa anugerah Allah. Dia hadir sebagai Tuhan yang penuh Rahmat dan kasih karunia, yang mengampuni dan memaafkan.
c) Penuh kebenaran, Firman yang telah menjadi manusia hadir di dunia ini untuk.membenarkan manusia dari segala pelanggaran. Manusia yang telah menyimpang, melanggar dan membelok dari kehendak Allah dibenarkan didalam diri Yesus Kristus. Kehadiran Yesus Kristus hendak memulihkan manusia agar hidup benar dihadapan Tuhan dan mengaaihi Tuhan dengan penuh kasih setia dan cinta kasih
Ketiga istilah ini menjadikan kita mengenal Yesus Kristus sang Firman yang telah menjadi manusia. Dia datang untuk memulihkan manusia yang hina karena jatuh dalam dosa dipulihkan kembali untuk menerima manusia baru. Manusia yang tidak setia.memeliharanperintah Allah dibenarkan di dalam diri Yesus Kristus.
2. Sikap menyongsong Yesus Kristus - meneladani Yohanes Pembaptis.
“Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Yoh 1:14
Yohanes Pembaptis adalah teladan dalam menyongsong Tuhan. Sebagai pendahulu, Yohanes Pembaptis melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga banyak orang bertobat. Sebagai bukti pertobatan mereka bersedia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Dari berbagai lapisan, Yohanes pembaptis mengurus,
Bagaimana Yohanes Pembaptis menjadi teladan menyongsong Tuhan?
a) Terus menyuarakan pertobatan. Menurut Para Ahli Perjanjian Baru, Yohanes Pembaptis adalah anggota kaum Essenne, suatu komunitas yang menghayati pertobatan dan kesalehan pribadi. Mereka dalam jangka waktu tertentu mundur dari kesibukan dengan bersemedi untuk meraih pencerahan Budi. Artinya sebelum memulai pelayanannya Yohanes Pembaptis telah terlebih dahulu mempersiapkan dirinya menyongsong Tuhan, baru menyuarakan persiapan orang lain.
b) Yohanes Pembaptis adalah suara yang berseru-seru dipadang gurun. Ini suatu istilah yang menarik. Siapa yang mendengarkan suara di padang gurun? Pasti sepi, lengang dan tak ada yang menghiraukan. Sekeras alapun suara yang diserukan, pasti tidak banyak orang yang mendengarnya. Sekalipun demikian Yohanes Pembaptis terus menyuarakan pertobatan tanpa dipengaruhi banyak kecilnya orang yang mendengarkannya. Jadi Yohanes menyaksikan Yesus Kristus tanpa pertimbangan ramai tidaknya dia melayani, banyak kecilnya orang yang mendengarkan. Baginya fokus utama adalah menyerukan pertobatan.
c) Kerendahan hati: Yohanes Pembaptis menyaksikan Yesus Kristus dengan penuh kesederhanaan dan rendah hati. Dia menyadari dirinya siapa di hadapan Tuhan. Dia sadar bahwa membuka tali kasutnya pun dia tak layak (Yoh 1:27). Dalam perkembangan pelayanan yang dilakukan Yohanes, sekalipun semakin banyak muridnya dan bertambah-tambah orang yang dibaptisnya, Yohanes Pembaptis tetap rendah hati melayani. Dia berkata: "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yoh 3:30)
Dalam menyongsong Tuhan di Minggu Advent II ini, marilah teladani sikap Yohanes Pembaptis.
3. Hukum Taurat pembimbing sampai kepenuhan janji Allah.
Yohanes 1:17 (TB) sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
Pada bahagian ketiga ini, Yohanes memberikan pengajaran yang sama dengan pemahaman pandangan Paulus tentang hukum Taurat. Hukum Taurat diberikan Musa untuk membentuk bangsa Israel menjadi umat Tuhan yang kudus. Di dalam Hukum Taurat, kita mengenal kehendak Allah, mengenal dosa dan pelanggaran kita. Jadi hukum Taurat tidak menyelamatkan, karena tak seorang pun benar karena setia melakukan hukum Taurat.allah telah memenuhi janji keselamatan itu didalam diri Yesus Kristus, Firman telah menjadi manusia. Keselamatan itu adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus.
Sebelum janji itu dipenuhi, hukum Taurat adalah pembimbing dan penuntun keapda Injil.
Galatia 3:24-25 (TB) Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.
Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
Sahabatku, Tuhan memberkati kita semua. Selamat Advent dan beribadah.
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Jumat, 06 Desember 2019
CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP
CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP
Amos 5:4 (TB) Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!
Amos 5:4 (RWV) For thus saith the LORD to the house of Israel, Seek ye me, and ye shall live:
Bagaimanakah umat Israel bisa hidup mengatasi semua krisis yang mereka alami? Ini adalah pertanyaan yang dijawab oleh Nabi Amos.
Nabi Amos pada pasal 5 ini memberitahukan tentang hukuman terhadap Israel dan alasan mengapa mereka di hukum. Kondisi Yerobeam II yang memimpin Kerajaan Israel Utara sangat menyengsarakan rakyat, seluruh beban istana dibebankan kepada rakyat melalui pajak yang meningkat, bahkan pajak yang sangat menindas onserta memiskinkan rakyat. Tiadalah lagi teguran atas nasihat yang mengingatkan kebijakan, orang bijak telah diam dan tidak ada yang berani tampil menasihati dan menyampaikan kritik terhadap raja. Para pakar dan ahli telah diam membisu. Mereka membangun rumah dengan tembok tetapi dari hasil menginjak-injak orang miskin. Sungguh suatu kesengsaraannyang sangat menyakitkan bagi masyarakat.
Amos 5:10-12 (TB) Mereka benci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas. Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, — sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang.
Bukan hanya kebijakan politik raja yang menyengsarakan, Amos melihat Amoa praktek ibadah yang tidak sinkron dengan kehidupan sehari-hari. Mereka rajin datang berdoa, beribadah serta memberikan kurban persembahan ke Gilgal dan Betel tetapi hidup mereka tidak berbuah pertobatan. Bagi Amos mengapa datang beribadah dan menyampaikan korban padahal melakukan kekejian bagi Tuhan dengan menindas orang miskin, menumpahkan darah orang yang tidak berdosa dan penuh ketidak adilan. Apa artinya mengunjungi tempat ibadah, menyampaikan kurban namun tak memberikan hati bagi Tuhan. Ini pesan penting sekali dari Amos yang menyampaikan. Amos 5:5 (TB) Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap."
Carilah Tuhan berarti menemukan kembali jati diri umat Allah sebagai umat pilihan, umat perjanjian yang harus setia melakukan perintah Tuhan. Bagi Amos memperkuat pasukan perang merupakan kesiasiaan bagi raja Israel, karena selain masyarakat sudah miskin dan muak dengan seluruh kebijakan yang menindas. Jalan satu-satunya adalah carilah Tuhan agar kamu hidup dengan diikuti upaya mengembalikan spiritualitas bangsa Israel, pemimpin politik dan pemimpin agama.
Sahabat yang baik hati! Carilah Tuhan suatu seruan yang sangat menarik untuk kita terapkan dalam hidup kita di jaman now. Tantangan dan ancaman ada di sekitar kita, jangan andalkan diri dan kemampun tetapi andalkan Tuhan.
Sahabatku! Tuhan memberkati saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup saudara. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Kamis, 05 Desember 2019
SIAPA YANG HENDAK TERUTAMA? JADILAH PELAYAN BAGI SESAMANYA
SIAPA YANG HENDAK TERUTAMA? JADILAH PELAYAN BAGI SESAMANYA
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah gunakan wakti di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Jumat, 06/12/2019
Markus 9:35 (TB) Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."
Mark 9:35 (RWV) And he sat down, and called the twelve, and saith to them, If any man desireth to be first, the same shall be last of all, and servant of all.
Dalam diri setiap orang pasti ada yang namanya perasaan lebih dari orang lain. Itu wajar, namun jika perasaan itu berlebihan, apalagi sampai pada sikap merendahkan orang lain karena menganggap diri lebih itu adalah penyakit kejiwaan yang dapat berdampak buruk bagi diriya sendiri, sulit menerima keadaan dan jarang menghargai orang lain.
Perasaan lebih dari yang lainnya juga perbah terjadi pada murid-murid. Dalam perjalanan bersama Tuhan Yesus dari Galilea ke Kapernaum, ada diantara mereka berdiskusi siapa yang terbesar dan terutama di kalangan murid. Diskusi ini telah mengundang perhatian Tuhan Yesus sampai-sampai menanyakan kepada murid-murid: "apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" (Markus 9:33). Kesempatan demikian dipakai Tuhan Yesus untuk memberikan pengajaran bahwa barang siapa yang ingin lebih terdahulu dan terutama diantara sesamanya ada syarat yang harus dilakukan, yaitu: menjadi hamba atau pelayan bagi sesama dan jadilah orang yang mendahulukan orang lain.
Siapa yang terbesar di kalangan murid, nampaknya telah menjadikan pertikaian di kalangan murid. Jika kita perhatikan dalam Markus 10, ada reaksi kemarahan dari murid-murid lainnya ketika Yakobus dan Yohanes meminta sesuatu kepada Yesus: yakni, kelak dalam KerajaanNya agar diijinkan mendapat jabatan terbesar: satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kirinya. Mendengar itu murid-murid lainnya marah dan menjadi titik rawan di kalangan para murid. Markus 10:41 (TB) Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.
Yesus sangat paham perasaan murid-murid yang lain, karena sipapun orang pasti berlomba menjadi orang terdekat, berlomba menjadi orang nomor satu dan terbaik dan tidak suka menjadi orang pinggiran atau di kulit luar saja. Selain menyadari titik rawan ini Yesus juga paham betul letak kesalahan permintaan Yakobus da Yohanes, karena dalam Kerajaan Allah yang diajarkan Yesus bukan sama seperti kerajaan dunia ini, menjadikan panglima terdekat, orang-orang terdekat dan berlomba menjadi nomor satu dengan kuasa dan kekerasan. Tidaklah demikian dengan Kerajaan Allah. Yesus mengajarkan: siapa yang mau terbesar harus bersedia menjadi hamba. Menjadi yang terbesar adalah siapa yang mau melayani. Karena anak manusia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani (Mark 10:45)
Bersedia menjadi hamba yang melayani orang lain jaman ini sangat penting. Ibarat seorang hamba terhadap tuannya, maka siapa yang terbesar harus bersedia mengosongkan diri dan mau melayani orang lain. Jadi siapa yang terbeamsar adalah kesediaan mengosongkan diri dan bersedia melayani orang lain. Ini sungguh terbalik dari keinginan setiap orang, menjadi terbesar umumnya bertujuan agar banyak orang yang melayaninya. Namun inilah kelebihan Yesus sang Guru Agung menawarkan moralitas baru bagi umat manusia. Siapa yang terbesar bukan berlomba menjadi mental tuan yang dilayani atau memiliki kemampuan menundukkan orang lain sebanyak-banyaknya tetapi tetapi berlomba menjadi hamba yang melayani orang lain.
Sahabat yang baik hati! Renungan di pagi hari ini memberikan arah baru akan karakter pribadi yang luhur bagi kita. Siapa terbesar jadilah pelayan bagi sesama. Pemimpin besar bukanlah ditentukan kemampuannya mencapai puncak kepemimpinan, tetapi sejauh mana jabatan yang dipimpinnya untuk melayani orang lain. Kepemimpinan inilah yang kita kenal dengan kepemimpinan hamba - humble leadership. Pemimpin besar bukan seorang yang memiliki kemampuan untuk memaksa orang lain mencapai tujuan, tetapi kesediaan merendahkan diri menjadi pelayan bagi sesamanya.
Sahabatku, Tuhan memberkati saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup saudara. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Rabu, 04 Desember 2019
MINTA, CARI DAN KETOKLAH
MINTA, CARI DAN KETOKLAH...!
Selamat pagi! Sahabat yang baik hati marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Kamis, 05/12/2019
Lukas 11:9 (TB) Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Luke 11:9 (RWV) And I say to you, Ask, and it shall be given you; seek, and ye shall find; knock, and it shall be opened to you.
Berdoa adalah aktifitas yang tidak dapat dipisahkan dari orang percaya. Di dalam doa kita membuka diri dihadapan Tuhan. Di dalam doa kita meminta apa butuhkan dan menyerahkan apa yang kita miliki kepada Tuhan. Kenapa kita berdoa dan meminta kepada Tuhan? Karena kita percaya bahwa Tuhan akan memberikan apa yang kita minta kepadaNya.
Nats ini merupakan pengajaran Tuhan Yesus perihal berdoa yang juga ditemukan pada Matius 7:7. Konteksnya juga sama bahagian dari pengajaran Yesus tentang berdoa. Didalam doa ada pengharapan dan percaya bahwa apa yang kita butuhkan tersedia bagi Allah dan Allah yang adalah Bapa kita berkenan memenuhinya.
Pertanyaannya adalah apakah setiap meminta dalam doa kita menerimanya? Kata "amin" mengakhiri doa bukanlah hanya sebagai kalimat pengakhir doa, tetapi kepastian akan suatu doa. Kita sebut amin, berarti benar dan pasti. Sesungguhnya benar adanya dan itu akan kita terima karena kita percaya pada Bapa semuanya tersedia dan Dia adalah Bapa kita yang baik hati dan berkenan memberkan yang kita minta.
Yesus dalam hal ini mengajarkan sederhana bagaimana prinsip dalam doa yang disingkat pada tiga kata: minta, cari dan ketok. Urutan ini memberikan makna bagaimana berdoa dan apa yang harus kita lakukan ketika kita berdoa.
Mintalah, akan diberikan kepadamu!
Allah itu adalah baik, pemurah dan memberi apa yang kita minta. Allah adalah Bapa yang rahmani yang berkenan memberikan apa yang diminta oleh anak-anakNya. Dia hanya sejauh doa. Bagi Allah ada semua, karena Dialah yang empunya segalanya. Mintalah suatu ajakan yang menanamkan rasa optimis dalam hidup, bagi Allah segalanya tersedia. Dia adalah Bapa kita dan kita anak-anakNya. Kasih Allah jauh melebihi kasih seorang kepada anaknya. Tak mungkin seorang ayah memberikan batu ketika anak meminta roti, atau memberi ular sementara anaknya meminta ikan (Mat 7:9-10) atau seorang sahabat memulangkan sahabatnya sementara apa yang diminta ada padanya. Kasih Allah itu jauh lebih dari seorang bapa terhadap anak dan kasihnya melebihi dari seorang saudara (baca Lukas 11:5dyb)
Carilah, kamu akan mendapatkan!
Meminta kepada Tuhan bukan seperti menunggu rejeki seperti durian runtuh (penunggu pasif), namun harus ada usaha, mengerjakan apa yang kita doakan. Jika kita berdoa memohon sesuatu bagaimana cara Allah memberikan itu pada kita? Untuk itu carilah. Jika seorang petani ingin menikmati hasil panen melimpah ruah, tentu bekerjalah mengolah lahan, memilih bibit dan merawatnya. Itulah medium Allah memberkati panen kita dengan melimpah. Tuhan akan memberkati tanaman yang kita tanam untuk mendatangkan hasil yang baik.
Ketoklah, pintu akan dibukakan!
Disini yang ditekankan butuh keasabaran. Hal sederhana saja misalnya jika kita mau memasuki rumah teman atau sahabat. Setelah kita ketuk (bell) tentu kita tidak langsung masuk dan menjumpainya di dalam rumah bukan? Namun setelah kita ketok, kita akan menunggu beberapa saat dan ketika tuan rumah mengetahuinya sang tuan rumah pun membuka pintu dan mempersilahkan kita masuk rumah. Jadi Yesus disini hendak mengajarkan suatu ajakan agar kita menunggu respon Allah atas apa yang kita minta. Kita percaya Allah akan mendengarkan doa dan memberikan apa yang kita minta dan memberikannya tepat pada waktunya. Sebagaimana kata Pengkotbah: segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkotba 3:11a)
Sahabat yang baik hati apa yang diajarkan Yesus pada renungan pagi ini merupakan ajakan untuk hidup optimis. Tuhan akan menjawab doa kita. Sebagaimana disebutkan dalam Matius 21:22 (TB) Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."
Sahabatku di mana pun saudara berada, Tuhan memberkati dengan melimpahkan segala kebaikan kepada saudara. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Selasa, 03 Desember 2019
ALLAH TURUT BEKERJA MENDATANGKAN KEBAIKAN
ALLAH TURUT BEKERJA MENDATANGKAN KEBAIKAN
Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Rabu, 04/12/2019
Roma 8:28 (TB) Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Romans 8:28 (RWV) And we know that all things work together for good to them that love God, to them who are the called according to him purpose.
Dalam hidup ini banyak sekali yang kita rencanakan dengan matang namun hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Pada kesempatan lain, moment tertentu yang tak kita duga namun telah mendatangkan peluang yang sangat besar dan sangat menentukan dalam hidup kita. Hal seperti itu membuktikan bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita bukan semata-mata hasil dari pekerjaan kita, namun Tuhan turut bekerja dan menentukan apa yang seharusnya terjadi dalam hidup manusia. Dengan demikiannjika Tuhan menentukan kemujuran bagi hidup ini tetaplah bersyukur, dan jika ada beban jalanilah dengan pertolongan Roh Kudus.
Paulus dalam Roma 8 menjelaskan dengan baik bahwa Roh Kudus memimpin hidup orang percaya. Roh Kudus yang telah berdiam di dalam diri setiap orang percaya memiliki kuasa (dinamis) mendorong manusia untuk melakukan kehendak Tuhan. Roh Kudus memanggil, mengajari dan membimbing serta meneguhkan orang percaya sampai hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Roh tidak pasif dalam diri manusia dan Roh Kudus turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi orang percaya.
Ada banyak pergumulan dan penderitaan yang menimpa orang percaya dari jaman gereja mula-mula. Mereka dikejar dan dianiaya, mereka terus dikejar-kejar dari satu kota kekota lain. Seolah tidak ada ruang dan kesempatan untuk bernafas, semua nya didesak oleh penderitaan. Namun pengejaran itu membuat Injil semakin cepat tersebar.
Roh Kudus adalah penolong bagi orang percaya. Dalam pergumulan dan penderitaan yang tak terucapkan dengan kata-kata i, Roh kudus membantu kita menyampaikan doa dan permohonan kita kepada Allah.
Karena itu jika seseorang menghadapi pergumulan jangan pernah berputus asa menghadapi penderitaan, tetapi jalanilah dengan pertolongan Roh Kudus.
Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita. Seperti peneguhan Musa di perjalanan Gurun, Keluaran 14,14 dikatakan: "Tuhan berperang untuk kamu, asal kamu diam saja." Diam bukan berarti pasif, kita mesti berjalan dalam terang Tuhan, usaha kita kita serahkan kepada Tuhan agar diberkati dan sesuai dengan kehendakNya.
Sahabat yang baik hati! Dalam pergumulan dan beban yang sangat seolah tak mampu memikulnya, jangan berputus asa. Percayalah bahwa Tuhan turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita.
Sahabatku, dimanapun saudara berada Tuhan memberkati saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup saudara. Amen
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Senin, 02 Desember 2019
SUKACITA SORGAWI MENYAMBUT ORANG BERTOBAT
SUKACITA SORGAWI MENYAMBUT ORANG BERTOBAT
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Selasa, 03/11/2019
Lukas 15:7 (TB) Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Luke 15:7 (RWV) I say to you, that likewise joy shall be in heaven over one sinner that repenteth, more than over ninety and nine righteous persons, who need no repentance.
Renungan hari ini sepintas rasanya tidak fair: orang baik dinilai biasa-biasa saja, padahal orang jahat berubah baik dinilai berlebih malah disebut penghuni sorga bersuka cita. Apakah lebih berharga seorang yang bertobat dari sembilan puluh sembilan orang yang telah menyukakan hati Tuhan? Renungan hari ini mau menekankan bahwa Tuhan sangat menghargai pertobatan seseorang.
Memelihara baik tetap baik berbeda sekali dengan perjuangan seorang yang biasa berperilaku buruk menjadi baik. Coba anda bayangkan bagaimana jika seorang alkoholik berhenti dari kebiasannya? Seorang perokok berat berhenti kepulan asap dan pemakai narkoba berhenti dari kebiasaannya. Hal-hal semacam itu bukanlah pekerjaan mudah namun membutuhkan tekad, perjuangan dan niat yang gigih dalam hati untuk berubah. Apalagi kebiasaan buruk yang terikat dengan orang lain. Coba dibanyangkan bagaimana kerasnya perjuangan seseorang keluar komunitas komplotan penjahat, sindikat mafia dan komplotan gankster karena didorong oleh kesadaran ingin memperbaiki hidupnya dan menata masa depannya. Pasti membutuhkan tekad yang kuat dari dalam dirinya, mungkin berhadapan dengan intimidasi dan ancaman dari komunitas yang ditinggalkannya. Maka benar apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus bahwa penghuni sorga akan bersukacita karena seseorang berdosa bertobat.
Bagaimana dengan kebalikannya jika orang baik berubah jahat. Tentu semua orang akan kecewa jika seorang yang baik justru menjadi jahat. Ini suatu kesedihan yang luar biasa. Bukan hanya sahabat sekitarnya yang kecewa, tetapi penghuni sorgawi akan ikut sedih karena anak yang baik jatuh dan terjerembab dalam perbuatan buruk.. ini adalah kesedihan, bagi orang yang bersangkutan dan bagi penghuni Sorgawi.
Jika penghuni Sorgawi bergembira atas pertobatan seseorang, bukan berarti mengabaikan orang yang sudah baik selama ini. Orang baik sudah menjadi bahagian yang dikehendaki oleh Tuhan. Namun orang yang berbuat buruk dan telah menjadi kesedihan selama ini berubah menjadi baik adalah suatu lompatan imaan yang bagi orang tuanya dan kini berbahagia.
Yesus datang bukan untuk orang sehat, tetapi kepada orang yang sakit. Yesus sebagai gembala tidak akan mencari domba yang ada dalam kumpulan kawanan domba, tetapi dia akan mencari domba yang tersesat. Inilah kehadiran Yesus ke dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan kita agar kembali kepada pangkuan bapak. Orang berdosa ibarat domba yang tersesat, jauh dari kehendak Tuhan. Selama kita jauh dari kehendaknya, Tuhan sedih.
Yesus dalam renungan hari ini, memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari bahwa Tuhan dan seluru penghuni sorgawi akan bersukacita jika seseorang bertobat. Lukas 15:4-5 (TB) "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira.
Sahabat yang baik hati! Tuhan Yesus telah datang ke dunia ini, menyapa dan memanggil kita lembut agar meninggalkan segala perbuatan kita yang mendukakan hati Tuhan. Mari sambut panggilan pertobatan Tuhan Yesus yang berseru-seru dan mengajak kita sebagaimana dalam Syair lagu KJ 353 iniyang dikutip dari Matius 11:28
1. Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil, memanggil aku dan kau.
Lihatlah Dia prihatin menunggu aku dan kau.
Reff:
"Hai mari datanglah, kau yang lelah, mari datanglah!" Sungguh
lembut Tuhan Yesus memanggil, "Kau yang sesat, marilah!"
2. Janganlah ragu, Tuhanmu mengajak, mengajak aku dan kau;
Janganlah enggan menerima kasihNya terhadap aku dan kau.
Reff:
"Hai mari datanglah, kau yang lelah, mari datanglah!" Sungguh
lembut Tuhan Yesus memanggil, "Kau yang sesat, marilah!"
3. Waktu serta kesempatan berlalu yang dib'ri aku dan kau;
nanti gelap kematian membayang mengancam aku dan kau.
Reff:
"Hai mari datanglah, kau yang lelah, mari datanglah!" Sungguh
lembut Tuhan Yesus memanggil, "Kau yang sesat, marilah!"
4. Yesus berjanji memb'rikan kasihNya kepada aku dan kau.
Ia mengampuni orang berdosa seperti aku dan kau.
Sahabatku! Dimanapun saudara berada, Tuhan memberkati saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup saudara. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Minggu, 01 Desember 2019
MASUK MELALUI PINTU
MASUK MELALUI PINTU
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa membaca dan merenungkan Firman Tuhan sebagai sumber kekuatan inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Senin, 02/12/2019
Yohanes 10:2 (TB) tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.
John 10:2 (RWV) But he that entereth by the door is the shepherd of the sheep.
Pintu adalah salah satu bahagian utama dari rumah. Dalam membangun rumah pintu diusahakan strategis, bagus dan menarik karena bahagian terdepan serta orang akan masuk keluar rumah melalui pintu. Pintu rumah adalah wajah rumah. Semakin bagus pintu, makan rumah pun akan tampak semakin anggun. Jika ada tamu orang pasti mengajaknya dari pintu utama sebagai sambutan dalam rumah. Selain pintu utama kadang ada juga pintu samping atau belakang, namun amatlah jarang tuan rumah mengajak tamunya masuk rumah melalui pintu samping atau belakang. Itu tak wajar dan tak sepatutnya. Apalagi ada orang yang mau masuk melalui melalui jendela, itu sudah lain ceritanya. Pastilah pencuri atau ada orang bermaksud jahat.
Peran pintu dalam rumah dipergunakan oleh Yesus sebagai perumpamaan untuk mengajar murid-muridnya. Yesus memperkenalkan diri sebagai pintu untuk mempermudah memahami kehadiran Yesus ditengah-tengah orang oercaya. Sama seperti kawanan domba masuk keluar dari pintu kandang. Kala keluar sang gembala akan menuntun domba-dombanya lewat pintu.
Perumpamaan pintu ini diakui sulit dipahami oleh murid-murid dikatakan dalam Yohanes 10:6 (TB) Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
Maka Yesus memberikan pengajaran tentang gembala yang baik. Yesus berkata: "Akulah gembala hang baik!" Gembala yang baik akan diikuti domba-dombanya karena mereka mengenal suara gembalanya. Jika pun ada orang asing berusaha membuka pintu hendak menuntun domba, domba tidak akan mengikut karena domba-domba mengenal gembalanya. Apalagi datang dan masuk bukan melalui pintu, itu adalah perampok dan penjahat yang bermaksud jahat atas domba-domba.
Barang siapa masuk melalui pintu itulah gembala! Jika kita baca keseluruhan pasal 10 ini, ada dua jenis gembala: Gembala yang baik dan gembala yang jahat. Yesus adalah gembala yang baik (Yoh 10:11), yang menuntun domba-domba ke padang rumput hijau, membawa ke air yang tenang, menjaga dan melindungi domba-dombanya serta menyerahkan nyawanya demi domba-dombanya. Gembala yang baik akan dikenal oleh domba-dombanya dan dituruti. Gembala yang baik masuk melalui pintu untuk menggembalakan domba-domba. Sebaliknya gembala yang jahat akan masuk dari jendela dan membiarkan domba-domba terlantar dan mangsa predator. Demikian dengan gembala upahan, baginya yang utama memperoleh penghasilan dari domba bukan merawat dan menggembalakannya.
Yesus bekata: "Akulah pintu!", Yesus menjelaskan bahwa oleh Yesus dan melalui Yesus kita mengenal Bapa, dan Yesuslah pintu dalam memasuki kerajaan Allah. Yohanes 10:7, 9 (TB) Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.
Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Sahabat yang baik hati! Kekayaan pengajaran Injil Yohanes akan diri Yesus menuntukmkita memahami siapa Yssus. Yesuslah pintubagi kita memasuki kerajaan Allah (Yoh 10:6). Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6) dan Yesus adalah Gembala yang baik (Yoh 10:11) yang menuntun umatNya sampai ke rumah bapak di Sorga kelak. Mari semakin percaya kepada Yesus yang adalah pintu dan jalan menuju kerajaan Allah. Mari menyerahkan hidup kita digembalakan oleh Yesus sang gembala baik yang telah menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkan domba-dombanya.
Sahabatku, dimanapun saudara berada. Tuhan memberkati saudara dengan melimpahkan segala kebaikan dalam hidup saudara. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Sabtu, 30 November 2019
TUHAN SEGERA DATANG MENGHIBUR UMATNYA
Kotbah Minggu Advent I,
Minggu, 1 Desember 2019
Nas: Yesaya 40:1-8
TUHAN SEGERA DATANG MENGHIBUR UMATNYA
Selamat Advent bagi kita semua! Sahabat yang baik hati, tanpa terasa waktu satu tahun gerejawi telah berlalu. Dalam kalender gerejawi, akhir tahun gerejawi pada minggu peringatan orang meninggal minggu lalu dan gereja mengenang dan membacakan nama-nama jemaat yang meninggal. Kini kita sudah masuk Advent I, memasuki tahun baru gereja. Empat Minggu ke depan kita merayakan Advent mempersiapkan diri menyambut dan menyongsong Tuhan.
Dalam ibadah Minggu Advent, biasanya gereja menyalakan lilin Advent dan dihias dengan "adventskranz" (lingkaran adven). Penyalaan lilin ini sebagai tanda kesiap-sediaan menantikan Tuhan. Sedangkan lingkaran Adven ini tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi semata melainkan mempunyai makna dari setiap lambang-lambang yang menyertai Lingkaran Adven tersebut. Karangan Advent selalu berbentuk lingkaran karena lingkaran tidak mempunyai awal dan akhir. Lingkaran tersebut melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir. Lingkaran dihias dengan beberapa jenis daun cemara yang selalu hijau sepanjang musim. Daun-daun cemara yang senantiasa hijau dan hidup melambangkan Yesus Kristus yang mati namun hidup kembali untuk selamanya.
Firman Tuhan di Minggu Advent pertama ini merupakan kabar gembira dan sukacita bagi umat Israel dalam pembuangan. Allah sendiri akan datang menghibur umatNya. Tak lama lagi waktunya, Tuhan akan memulangkan umatNya dari pembuangan Babelonia kembali ke Yerusalem. Karena itu bersiap-siaplah menyambut Media dan persiapkanlah jalan, ratakan yang berlubang dan berbukit sebagai suatu bukti persiapan menyambut kedatanganNya.
Dari nats kotbah Minggu Advent pertama ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang berharga bagi kita.
1. Penghiburan dari Tuhan segera datang (1-2)
Evangelium Minggu kita diangkat dari konteks pengharapan Umat Israel yang terbuang di Babelonia. Di pembuangan mereka hidup penuh penderitaan, penindasan dan ratap tangis. Jauh di negeri orang dan di perbudak. Dari manakah akan datang pertolongan ? Tuhan tetap setia pada perjanjianNya, mengasihi umatNya, Dia melawat umatNya dan telah mendengarkan jeritan UmatNya. Firman Minggu ini memperdengarkan penghiburan dari Tuhan, pertolongan akan segera tiba, Allah akan menolong umatNya.
Tuhan segera datang menghibur umatNya, mengubah ratap tangis menjaga tawa bahagia. Kuk kesengsaraan dan penindasan akan berakhir dengan karena Tuhan datang membebaskan umatNya. Pembuangan akan berakhir dan segera pulang ke negeri impian.
Pembebasan dan penghiburan Tuhan ini sangat indah dituliskan dalam Mazmur 126:1-3 (TB) Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.
Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"
TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
2. Mari bergegas Persiapkan jalan bagi Tuhan! (Ayat 3-5).
Hal ini merupakan undangan untuk mempersiapkan diri menyongsong Tuhan. Bagaimana menyambut kehadiran Mesias sang pemberi penghiburan itu? Disini Yesaya memakai istilah dalam masyarakat mempersiapkan jalan menyambut petinggi yang datang dalam suatu daerah. Istilah pop saat ini disebut dengan "mempersiapkan karpet merah", memberi dukungan dan mememperlancar proses yang diharapkan.
Dengan ungkapan yang disebutkan dalam ayat 3-5 sungguh begitu banyak yang harus dibenahi. Gurun pasir yang kering harus menjadi hijau, padang belantara yang sunyi akan ramai dijalani seperti jalan raya, lembah yang curam hendaknya ditutupi dan gunung yang berbukit-bukit menjadi penghalang harus diratakan dalam menyambut kedatanganNya. Demikianlah umat Tuhan mendata hal-hal apa saja menyambut kedatangan Tuhan yang segera datang menghibur umatNya.
Mempersiapkan jalan bagi Tuhan memiliki arti yang dalam juga dalam pribadi maing-masing. Dimana pada masa advent ini kita diingatkan untuk berbedah mempersiapkan hati kita masing-masing, menyambut penghiburan dan pertolongan dari Tuhan. Apabila masih ada kesunyian di hati isilah dengan berbagai hal positip yang membahagiakan. Apabila hati panas dan tersimpan amarah, dinginkanlah dengan pikiran yang jernih, penuh damai dan tak membalas. Jika hati hampa dan kosong berdoalah dan isilah dengan Firman Tuhan yang memotivasi dan mengisnpirasi. Jika hidup kita sepanjang tahun ini menimbun persoalan hingga menggunung, hendaknya kita urai satu-persatu mencari solusi terbaik karena Kristus akan datang dan mau menolong kita.
Dalam Perjanjian Baru, seruan pertobatan inilah yang dikutip oleh Johannes Pembaptis. Dia teruslah menyuarakan pertobatan sekalipun dipadang pasir mungkin sang angin akan membisikkan ke telinga semua orang. Jadi mempersiapkan jalan bagi Tuhan adalah seruannpertobatan yang nyata melalui perubahan sikap.
Pesan ini harus kita sambut sebagai kesempatan mempersiapkan diri menyambut Tuhan. Hati yang terluka oleh kata dan tindakan segeralah saling memaafkan dan mengampuni. Demikianlah kita memahami bukit dan lembah harus diratakan demi menyongsong Tuhan, segala kelebihan dan perbuatan yang terlanjur salah melukai orang lain harus dikoreksi dan diperbaiki. Lembah kekurangan harus diisi dengan kesediaan hati menerima kritikan dan masukan dari orang lain.
3. Semuanya Berlalu, hanya Firman yang Abadi. (Ayat 6-8)
Kotbah di Advent pertama ini mengingatkan bahwa segala sesuatu akan berlalu. Kemuliaan, kejayaan dan prestasi mengagungkan yang diabadikan orang dalam bentuk penghargaan dan prasasti apapun akan berlalu. Tiada yang tetap semuanya berlalu sama seperti rumput yang hijau segar saatnya akan tiba kering dan tertiup angin. Kemuliaan manusia sama seperti bunga rumput mekar dan merekah di pagi hari namun kala senja akan layu dan gugur. Demikianlah hidup ini, tak usalah sombong dan meninggikan diri atas prestasi yang diraih karena semua itu akan berlalu.
Hal ini disampaikan untuk meneguhkan Israel. Yesaya mengaskan bahwa keagungan dan kejayaan Babelonia yang menindas Israel akan berakhir dan segera berlalu. Seturut dengan itu, penderitaan umat Allah akan berganti menjadi sukacita.
Suatu seruan dari nabi Yesaya ini mengajak bangsa Israel melakukan perenungan atas apa yang mereka alami. Kejayaan Israel, yang mereka anggap abadi, rumah Allah yang megah, bangsa umat pilhan Allah harus terbuang ke Babel. Ini adalah pengalaman real bangsa Israel, apa yang mereka banggakan sebagai umat pilihan, kebanggaan mereka atas kejayaan-kejayaan semuanya berakhir, bahkan Bait Suci yang mereka agungkan sebagai simbol kehadiran Allah telah runtuh dan rata dengan tanah. Hanya satu yang dapat menguatkan bangsa Israel, yaitu Firman Allah.
Jika Tuhan memberikan kita kesempatan mengalami kemujuran maka syukurilah dan tetaplah rendah hati atas semua perbuatan Tuhan yang diberi. Sebaliknya jika kita mengalami keterpurukan jangan berkecil hati dan berputus asa waktunya akan datang Tuhan memulihkan keadaan kita.
Dalam menguatkan gereja mula-mula agar bertahan terhadap penindasan kekaisaran Romawi, ayat 6-8 ini dikutip oleh Rasul Petrus. 1 Petrus 1:24-25 (TB) Sebab: "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.
Sahabat yang baik hati! Kotbah minggu ini menjadi pengharapan bagi kita. Tuhan mengetahui penderitaan yang kita alami dan penghiburanNya segera datang. Karena itu mari menantikan pertolongan Tuhan dengan mepersiapkan hati masing-masing. Lihat ke dalam hati siapa tahu ada ruang-ruang kosong, lembah kekurangan dan sikap yang berlebihan, mari bergegas membenahi kekurangan, jangan tunggu besok jika dapat dilakukan hari ini. Mari melangkah menuju pertobatan mengikuti Tuhan.
Selamat Advent! Tuhan memberkati
Pdt Nekson M Simanjuntak
Jumat, 29 November 2019
SEMUA BANGSA MEMUJI TUHAN
SEMUA BANGSA MEMUJI TUHAN
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Sabtu, 30/11/2019
Roma 15:11 (TB) Dan lagi: "Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia."
Romans 15:11 (RWV) And again, Praise the Lord, all ye Gentiles; and laud him, all ye people.
Kitab Roma merupakan kitab yang sangat sistematis meletakkan pokok-pokok ajaran Kristen. Teolog Perjanjian Baru menyebutkan kitab Roma adalah 'Testamentum Paulus'. Testamentum diibaratkan seperti orang tua yang menuliskan wasiat didalamnya dijelaskan secara rinci dan lengkap tentang pembagian warisan bagi anak-anaknya. Demikianlah warisan ajaran dalam kitab Roma menjelaskan pokok-pokok ajaran kekristenan.
Dalam surat Roma ini, Paulus menjelaskan sejak semula Allah merencakan keselamatan dan dipenuhi di dalam Yesus Kristus. Paulus menentang ajaran eksklusifisme Yahudi yang beranggapan hanya Yahudilah pewaris keselamatan karena mereka umat pilihan Allah, memiliki Taurat, bersunat dan keturunan Abraham. Dalam melawan pandangan ini Paulus mengurai dengan jelas bahwa keselamatan bukan hanya untuk orang Yahudi tetapi kepada semua bangsa. Keselamatan yang dijanjikan bukan hanya kepada keturunan Abraham secara genetik, tetapi juga kepada "keturunan Abraham secara rohani". Inilah orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus dari segala bangsa dan suku bangsa di dunia ini.
Dengan demikian segala bangsa akan memuji Tuhan dan segala suku bangsa memuliakan namaNya. Keselamatan yang universal di dalam diri Yesus Kristus membawa persaudaraan baru bagi umat manusia. Di dalam Kristus setiap orang didorong untuk saling menerima yang satu dengan yang lain dan bersama-sama memuji dan memuliakan Allah.
Dengan demikian, hal yang pertama ditekankan Paulus: janganlah ada lagi diantara orang percaya hanya mencari kepentingan sendiri, sukunya sendiri tetapi menjalankan amanat Tuhan Yesus yang mengutus murid-muridNyanke dunia ini untuk memberitakan Injil dan menjadikan segala bangsa menjadi murid Tuhan Yesus. (Band Mat 28:19-20)
Jika segala bangsa diundang memuji dan memuliakan Tuhan, maka Kristus telah menjadi perekat bagi segala bangsa. Maka segala sesuatu yang menghalangi kita bergandeng tangan dengan orang lain harus disingkirkan. Segala sikap dan idiologi yang memisahkan kita dengan yang lain seperti diskriminasi, rasisme, ekslusifisme harus kita singkirkan menuju kepada budaya egaliter dan menanamkan rasa kebersamaan dan persaudaraan. Kita percaya, Kristus telah meruntuhkan tembok pemisah diantara segala suku bangsa. Semuanya kita bersaudara di dalam Yesus Kristus.
Sahabat yang baik hati! Visi Paulus ini mengingatkan kita akan tanggung-jawab semua orang percaya. Mari tanamkan rasa kebersamaan dan sikap bersahabat bagi semua orang. Bersama dengan suku bangsa lainnya di dunia ini, kita dipanggil untuk memuji dan memuliakan Allah melalui perbuatan dan perlakuan yang mulia terhadap sesama.
Sahabatku, dimanapun saudara berada, Tuhan memberkati saudara dengan melimpahkan segala yang baik dalam hidup saudara. Amen
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Langganan:
Postingan (Atom)
DALAM KESUSAHAN TETAP BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN
Catatan Kotbah Minggu Misericordias Domini Minggu, 19 April 2026 Ev. Habakuk 3:10-19 DALAM KESUSAHAN BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN Selamat Har...