Kotbah Minggu XVI Stlh Trinitatis
Minggu, 5 Oktober 2025
Ev. Habakuk 1:12-17
TUHAN ALLAH MAHA KUDUS DAN MAHA TAHU
Selamat Hari Minggu! Mengapa Tuhan membiarkan ketidak adilan terjadi? Masakah Tuhan berdiam atas kelaliman? Para penjahat bebas melakukan kejahatannya? Sebaliknya orang benar tertindas dan tidak ada yang menolong. Inilah pergumulan nabi Habakuk.
Habakuk 1:2-3 (TB) Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?
Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.
Demikianlah perasaan hati Habakuk dituangkan dalam kitab ini. Disatu sisi dia meronta dan tidak berterima atas keadaan, tetapi pada akhirnya Habakuk menyadari bahwa mata Tuhan terlalu suci untuk melihat kejahatan dan tak akan membiarkannya. Orang benar akan hidup oleh iman, orang fasik akan menerima hukuman atas perbuatannya.
Kotbah Minggu ini tertulis pada Habakuk 1:12-17 berisi tentang konfrontasi bathin Habakuk atas realitas yang dialami. Melalui kotbah ini kita diajak merenungkan bagaimana Habakuk membuat refleksi teologis atas realitas yang tidak dapat diterima tetapi harus dijalani. Memberontak dan terus berseru Tuhan seolah tidak mendengar, apatis dan tidak mau tahu berlawanan dengan hati nurani. Habakuk tahu Allah itu merangkul semuanya dan reqlitas yang tidak dapat diterima pada akhirnya ada makna yang dalam. Allah tetap setia dalam janjinya, Allah mengasihi umatNya dan Allah tidak membuarkan kejahatan tetapi pada waktunya Tuhan akan menghukum kejahatan. Jika realitas yang terjadi tidak dapat kita terima, jalani dan ambil makna yang berguna bahwa Allah hadir menunjukkan maksudNya dan menunjukkan kuasaNya
Habakuk 3:4-6 (TB) Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah terselubung kekuatan-Nya.
Mendahului-Nya berjalan penyakit sampar dan demam mengikuti jejak-Nya.
Ia berdiri, maka bumi dibuat-Nya bergoyang; Ia melihat berkeliling, maka bangsa-bangsa dibuat-Nya melompat terkejut, hancur gunung-gunung yang ada sejak purba, merendah bukit-bukit yang berabad-abad; itulah perjalanan-Nya berabad-abad.
Sahabat yang baik hati! Jika ada realitas kehidupan yang memprihatinkan, ada ketidak adil dan rasa bathin memberontak, marilah kita belajar dari nabi Habakuk. Dari kotbah ini kita mendapatkan pelajaran berharga, yaitu:
1. Tetap percaya - Tuhan setia di dalam perjanjianNya.
Sekalipun ada kegundahan nabi Habakuk dan ada konfrontasi di dalam hatinya terhadap situasi dan keadaan yang terjadi bahkan protes terhadap Tuhan, namun satu hal yang diperlihatkan nabi Habakuk adalah dia tetap percaya kepada Tuhan. Semua keadaan ini dapat berubah oleh Tuhan.
Bagi Habakuk, Tuhan maha kuasa, adil dan benci terhadap penindasan. Tuhan berkuasa atas segala ciptaan dan ditetapkan untuk menghukum semua orang menurut perbuatannya.
Habakuk 1:12 (TB) Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa.
Keyakinan terhadap Tuhan tetap terpelihara, Allah adalah gunung batu dan perlindungan dan oleh kuasa Tuhan umat yang tertindas tidak akan mati.
Berbeda sekali dengan banyak orang, ada orang memberontak di dalam batinnya namun akhirnya sama sekali putus asa dan tidak memiliki harapan. Kalau Habakuk berbeda, dia memberontak di dalam bathin tetapi masih tetap memiliki iman dan harapan kepada Tuhan.
2. Berapa lama lagi: Apakah Tuhan membiarkan kejahatan dan manusia hidup diatas hukum rimba?
Hal kedua dari Habakuk, mengeluhkan san protes lebih jauh yaitu keyakinanya terhadap Tuhan akan nyata. Nabi Habakuk percaya bahwa Tuhan yang Maha Kudus tidak membiarkan ketidak adilan, penindasan dan kejahatan ini berlarut-larut.
Ada analogi yang dipakai oleh Habakuk tentang eksistensi manusia menjal!ni kehidupannya. Disebutkan di dalam Habakuk 1:14-15 (TB) Engkau menjadikan manusia itu seperti ikan di laut, seperti binatang-binatang melata yang tidak ada pemerintahnya?
Semuanya mereka ditariknya ke atas dengan kail, ditangkap dengan pukatnya dan dikumpulkan dengan payangnya; itulah sebabnya ia bersukaria dan bersorak-sorai.
Ini adalah keluhan Nabi habakuk kepada Tuhan kejahatan itu ibaratkan seperti ikan akan berenang dalam.habitatnya di air, mereka menjalani kehidupannya dalam siatuasi apapun. Namun nelawmyan sewaktu-waktu datang untuk menangkap dan mengumpulkannya. Atau seperti binatang liar yang hidup di atas prinsio hukum rimba: berkeliaran sesuka hatinya, berjuang dan hidup dalam prinsip "survival of the fittest".
Survival of the fittest: Frasa ini adalah terjemahan dari konsep "hukum rimba" dalam bahasa Inggris, yang berarti "bertahan hidup bagi yang terkuat". Ungkapan ini menggambarkan kondisi di mana yang kuat dan berkuasa menggunakan kekuatannya untuk menguasai dan mengalahkan yang lemah, yang merupakan inti dari makna hukum rimba. Yang lemah akan menjadi mangsa dan tinggal menunggu kematian.
Kita manusia seharusnya m3mbela yang lemah dan menjadi penolong. Rasa kemqnusiaan kita berbicara jangan karena kekuasan hukum diabailan. Benar ungkapan ini: Salus populi suprema lex: Ini adalah ungkapan Latin yang berarti "keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi". Ungkapan ini sering digunakan untuk menunjukkan keadaan darurat atau situasi hukum yang tidak biasa di mana tindakan yang mungkin tidak sesuai dengan norma hukum biasa diperlukan demi keselamatan umum,
Apakah kejahatan akan menang? Nabi Habakuk yakin dan menaruh harapanNya kepada Tuhan, tak akan membiarkannya. Allah hadir sebagai penyelamat dan menjadi perlindungan bagi orang yang dikasihinya dan Allah sebagai penghukum atas kejahatan.
3. Mata Tuhan terlalu suci untuk melihat kejahatan.
Habakuk 1:13 (TB) Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?
Jika kita baca bagian-bagian berikutnya dalam kitab Habakuk, maka kita temukan Allah itu memberikan hukuman kepada kejahatan.
Meskipun kejahatan orang fasik mungkin menang untuk sementara waktu, tetapi Allah adalah Allah yang kudus, dan tidak menyetujui kejahatan itu (ay. 13): Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan. Setelah melihat betapa orang Kasdim itu sangat keji dan tidak takut akan Tuhan, namun betapa mereka berhasil menang melawan Israel milik Allah, sang nabi merasa tergoda untuk mengatakan bahwa sia-sia saja melayani Allah, dan bahwa Ia masa bodoh terhadap perilaku manusia.
Namun, ia segera menepis pemikiran tersebut, dengan memegang kembali dasar pandangannya, bahwa Allah bukanlah, dan tidak bisa menjadi, sumber atau penyokong dosa. Sama seperti Dia sendiri tidak dapat melakukan kejahatan, demikian pula mata-Nya terlalu suci untuk melihat kejahatan dengan membiarkan atau menyetujuinya. Tidak, kejahatan adalah kejijikan yang dibenci Tuhan. Ia melihat semua dosa yang dilakukan di dunia, dan hal itu menyakitkan hati-Nya, menjijikkan di mata-Nya, dan orang-orang yang melakukannya sebagai akibatnya harus berhadapan dengan keadilan-Nya. Allah pada hakikatnya tidak menyukai segala kecenderungan hati dan perilaku yang bertentangan dengan hukum-Nya yang kudus.
Dan, walaupun ada jalan yang secara membahagiakan ditemukan untuk memperdamaikan Dia dengan orang berdosa, namun Ia tidak akan pernah, dan tidak akan dapat, berdamai dengan dosa itu sendiri. Inilah dasar pandangan yang harus kita pegang teguh, meskipun terkadang dispensasi penyelenggaraan-Nya mungkin untuk sementara waktu, dan dalam hal-hal tertentu, kelihatannya tidak selaras dengan dasar pandangan tersebut. Perhatikanlah, apabila Allah membiarkan dosa, itu bukan berarti Dia menyetujuinya, sebab Ia bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan (Mzm. 5:5-6). Kelaliman yang di sini dikatakan tidak dipandang Allah itu mungkin terutama merujuk pada kejahatan yang diperbuat terhadap umat Allah oleh para penganiaya mereka. Sekalipun Allah melihat alasan untuk mengizinkannya, namun Ia tidak menyetujuinya.
Jika kita baca pada pasal dua, Habakuk menguraikan dua hal.
3.1. Orang benar akan hidup oleh iman. Sekalipun ada tekanan, ancaman, intimidasi dan perlakuan yang menindas orang benar akan menjalani kehidupannya di dalam iman. Iman menuntun dia hidup di dalam kebenaran.
2. Orang fasik akan mendapat hukuman. Tuhan tidak akan tidur, Tuhan adalah hakim yang adil, orang yang benwr tidak akan mati oleb kefasikan. Tuhan sendiri mwnegakka keadilan dan hukuman bagi k3fasikan.
Habakuk 2:4-5 (TB) Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.
Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya."
Sahabat yang baik hati, Tuhan menghendaki kita hidup menurut jalanNya. Orang benar akan menjalani hidup ini dengan kebenaran. Tetaplah percaya dan jangan melirik kejahatan yang seolah berkuasa dan berkeliaran serta sesuka hatinya melakukan kejahatan. Tuhan adalah gunung baru dan perlindungan bagi orang benar dan penghukum atas kejahatan. Amin
Salam:
Pdt Nekson M Simanjuntak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar