Sabtu, 11 Oktober 2025

MEMBERITAKAN INJIL DENGAN SEGENAP HATI

 Kotbah Minggu XVII Stlh Trinitatis

Minggu, 12 Oktober 2025

Ev. Rom 1:8-15



MEMBERITAKAN INJIL DENGAN SEGENAP HATI


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, di era yang sangat prakmatis dan transaksional kini mungkin amat jarang kita menemukan ketulusan hati. Seseorang yang mengabdikan dirinya untuk melakukan suatu missi dengan sukarela dan dilakukan dengan segenap hati tanpa mengharapkan balas jasa. Pelayanan yang tulus hati, itulah yang dilakukan Paulus setelah pertobatannya. Paulus berlar-lari dari satu desa ke desa lain, dari kota ke kota lain untuk memberitakan Injil dan mendirikan jemaat. Dari seluruh rasul Paulus merupakan memberitakan Injil yang paling gigih dan paling banyak mendirikan jemaat sangat banyak. Selain itu ada juga jemaat yang berdiri hasil dari pemberitaan Injil rasul lainnya semua itu membuat Paulus bersukacita karena apa ya g ditabur bertumbuh dan jemaat-jemaat berdiri di Yerusalem, Yudea, Asia hingga ke Eropa. 


Sebagai pemberita Injil Paulus bersukacita dan berdoa kepada Tuhan kalua mengingat jemaat Roma. Selain itu ada kerinduan yang mendalam untuk mengunjungi mereka, bertemu dan bersekutu. Satu alasan mengapa Paulus bersukacita dan ingin mengunjungi jemaat Roma dituliskan dalam kotbah ini, yaitu: Iman Yang Tersiar. Iman jemaat Roma bertumbuh dan terberita kemana-mana, dalam konteks now Jemaat Roma viral karena iman mereka. Pertumbuhan iman mereka telah menjadi kesaksian bagi banyak orang. 


Keistimewaan Jemaat Roma bagi Paulus mendorong Paulus menuliskan pengajaran Iman Kwkwristenan lebih lengkap dibandingkan dengan surat-surat lain. Paulus memberikan penjelasan yang leboh menyeluruh tentang iman Kekristenan yang berpusat pada Kristus sampai pada etika orang Kristen di dalam kehidupan sosial masyarakat. Jika di dalam surat-surat lain Paulus menjawab beberapa persoalan yang dihadapi jemaat lokal, namun dalam surat Roma Paulus menuliskan secara menyeluruh tentang iman Kekristenan. Para ahli Perjanjian Baru menyebutkan, lengkapnya Surat Roma dengan pengajaran kekristenan hingga surat ini disebut dengan Testamentum. Artinya surat Roma ibarat surat wasiat yang berharga yang ditinggalkan orangtua pada anak-anaknya. Demikianlah juga Surat Roma, wasiat yang berharga dari Paulus menjelaskan pokok-pokok pengajaran iman kekristenan.


Sekarang marilah kita mengambil beberapa pelajaran oenting dari kotbah minggu ini:



1. Iman yang tersiar - kualitas iman jemaat Roma menjadi kesaksian, inspirasi dan motivasi bagi orang lain.


Paulus memulai surat ini menjelaskan sukacitanya kepada Tuhan karena iman jemaat Roma. 

Roma 1:8 (TB) Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia.


Iman jemaat Roma bertumbuh, disatu sisi Roma Pusat pemerintahan kekaisaran Romawi, namun disitu juga ketatnya pengawasan terhadap agama-agama baru. Di luar agama resmi kekaisaran akan mendapat tantangan.

Penderitaan jemaat Roma pada masa Gereja mula-mula terutama disebabkan oleh penganiayaan oleh kekaisaran Romawi, yang mengakibatkan kematian, penolakan sosial, dan penderitaan lainnya karena penolakan umat Kristen untuk menyembah dewa-dewa Romawi atau Kaisar. Penganiayaan ini terjadi selama berabad-abad dan menjadi bagian dari perjuangan umat Kristen untuk mempertahankan iman mereka. 


Salah satu peristiwa memedihkan adalah Kebakaran Besar Roma tahun 64 M terjadi di sekitar Circus Maximus dan berlangsung selama enam hari, menghanguskan sebagian besar kota, namun tidak ada bukti Kaisar Nero membakarnya, meskipun ia kemudian disalahkan dan menjadikan orang-orang Kristen sebagai kambing hitam. Sejarawan kuno seperti Tacitus dan Suetonius menulis tentang kejadian ini, menuduh Nero, tetapi cendekiawan modern meragukan keterlibatannya karena tidak ada bukti langsung.  


Penganiayaan yang begitu pahit, diusir, dianiaya bahkan banyak yang dieksekusi mati namun tetap mempertahakan iman. Inilah yang disebutkan oleh Paulus iman yang tersiar. Iman yang tersiar berdampak pada:


1.1. Paulus bersyukur dan berdoa kepada Tuha, dalam.penganiayaan hang luar biasa ada iman yang luar biasa. Ini adalah sukacita bagi seorsng pemberita Injil. Injil yang mereka beritakan bertumbuh dengan baik, tangguh dan berbuah besar yang akhirnya berdampak bagi orang lain. 


1.2. Iman yang tersiar memmbuat Paulus semakin termotivasi (dapotan hiras ni roha). Sekalipun dia dipenjara namun semangatnya menyala-nyala karena ada iman yang tangguh dari jemaat Roma. Paulus berkata. Roma 1:12 (TB) yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku. (Bahasa Batak: "dapotan hiras ni roha"). Iman yang tangguh dwri jemaat Roma menjadi motvasi yang menyala-nyala bagi Paulus untuk memberitakan Injil.


1.3. Iman yang tersiar dari Roma menyemangati Paulus membina persekutuan. Paulus rindu untuk bertemu dan bersekutu bersama jemaat Roma. Dia ingin berbagi kesaksian dan oengalaman. Apa ysng mereka alami akan menjadi kekuatan bagi Paulus dan apa yang dialami Paulus akan menjadi inspirasi bagi mereka. Iman yang tersiar akan membuat orang semakin rindu dalam persekutian jemaat. Bukan sebaliĺlknya, ada orang yang mengaku bertumbuh imannya namun kekuar dari persekutuan induknya, memisahkan diri dan akhirnya jatuh pada kesombongan rohani dan merasa kebih benar? Lebih suci dan lebih saleh dari yang lain. Paulus berbeda, iman yang tersiar itu membuat dia semakin rindu ingin bersekutu dan berdiam di tengah-tengah mereka. 


2. Pemberitaan Injil adalah hutang


1 Korintus 9:16 (TB) Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.


Mengutip pandangan Paulus, TB Simatupang mengangkatnini menjadi judul buku ukang tajun ke 70: Saya Adalah Orang Yang Barhutang. Sebagai kesaksian pemberian dan kasihbkarunia Tuhan adalah hutang hang harus dioersembahkan melalui pelayanan dan pengabdian. 


Hidup Paulus sebekum pertobatannya gigih menganiaya dan mengejar jemaat. Namun setelah pertobatannya, Paulus benar-benar menyerahkan hifuonya sebagai persembahkan kepada Tuhan. Dia melayani dengan tulus hati. Dia benar-benar menyerahkan totalitas hidupnya kepada Injil. Dia meninggalkan masa lalunya, dan berjalan menuju ke depan meraih mahkota kehidupan. 


Paulus menyadari bahwa duku dia menganiaya jemaat, mengejar hingga menerima legitimasi dari Mahkamah Agama Yahudi untuk menganiaya jemaat mula mula. Namun setelah ditangkap oleh Kristus dia merasa berhutang karena berada dijalan yang keliru. Membanyar hutang itu dia bangkit dan berlari dari satu desa ke desa lain, dari satu kota ke kota lain untuk memberitakan Injil. 


Bagi Paulus waktu kedatangan Tuhan itu singkat dan segera. Maka dia berlari terus memberitakan Injil sampai ke ujung bumi sebelum Kristus datang. Itulah sebabnya Paulus begitu gigih berjuang pergi memberitakan Injil. 


Bagi Paukus segaka waktu dan segala keadaan tetap memberitakan Injil. Saat dia terpenjara dia memberitakan Injil melalui surat dan nasihatnya kepada para sioir penjara. Saat kapalnya terhempas di pulau Kreta menjadi jalan Bagi Pulaus memberitakan Injil. Itulah sebabnya Paulus berkata: Aku adalah orang yang berhutang.


Roma 1:14 (TB) Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.


Injil harus sampai ke ujung bumi sebelum Kristus datang. 


3. Memberitakan Injil tanpa membeda-bedakan - Injil milik semua orang.


Memberitakan Injil dengan segenap hati, topik di atas mengajak kita untuk meneladani Paulus dalam memberutakan Injil Kristus. Kristus yang telah mati dan bangkit adalah keselamatan universal milik semua orang. 


Hal pertama adalah spirit pemberitaan Injil dari Paulus. Paulus yang memiliki kesungguhan hati, baginya pemberitaan Injil adalah hutang hang harus dibanyar dengan sungguh-sungguh. Injil sudah harus diberitakan sebelum Kristus datang. 


Hal kedua, untuk siapa Injil diberitakan? 

Paulus rindu mengunjungi Roma karena posisi strategis Romawi yang mempengaruhi peradaban di jaman kekaisaran Romawi. Maka bagi Paulus Injil harus diberitakan kepada orang Yunani. Karena setelah Yahudi tentulah Yunani orang yang berpengaruh jaman kekaisaran Romawi. Selain kepada Yunani, Injil juga harus diberitakan kepada non Yunani, suku-suku bangsa yang ada di kekaisaran Romawi. Hal ini hendak menekankan tidak ada element masyarakat yang tidak menjadi perhatian Paulus.


Pembedaan kedua memberitakan Injil kepada orang terpelajar maupun tidak terpelajar. Pembedaan terpelajar dan tidak terpelajar hendak menjelaskan status sosial dan kemampuan intelektualitas. Injil tidak membedakan mereka yang berpendidikan dan yang tidak memiliki pendidikan. Injil adalah milik semua orang secara universal; yangbterpelajar, yang biasa-bisa dan awam sekalipun ada ruang bagi Injil. Artinya Injil bukan hanya milik cendikian, menerima Kristus bukan harus didasari tingkat pemahaman intelektual tertentu. Tetapi Injil itu milik semua orang baik yang berpendidikan dan tidak berpendidikan. Kristus diterima bukan karena kemampuan intelektual tetapi diterima melalui iman dan keyakinan. 


Inti dari semua itu, Injil ada untuk semua orang dan harus sampai sebelum Kristus datang. Injil adalah milik semua orang: milik Yahudi dan non Yahuni, Yunani dan non Yunani, kaum terpelajar dan non terpelajar, orang kaya atau miskin, orang merdeka atau hamba, perempuan dan laki-laki. Di dalam Injil semuanya sama.

Dalam surat Galatia Paulus menyampaikan: "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." (Galatia 3:28).


Sahabat yang baik, memberitakan Injil afalah turas rasuli orang percaya. Memberitakan Injil bukan hanya tigas rasul, pastor atau pendeta, atauntugas evangelis atau pengerja gereja semata. Namun memberitakan Injil adalah tugas semua orang. Mari mengikuti teladan Paulus dalam memberitakan Injl dengan segenap hati. Tuhan memberkati. Amin


Salam : Pdt Nekson M Simanjuntak




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...