Sabtu, 25 Oktober 2025

MEMPERLENGKAPI ORANG PERCAYA MELAKUKAN PERBUATAN BAIK

 Kotbah Mingu XIX Stlh Trinitatis

Minggu, 26 Oktober 2025

Ev. 2 Timotius 3:10-17



MEMPERLENGKAPI ORANG PERCAYA.


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, saya yakin kita semua mengenal ungkapan ini: "ingkarso sung tulodo". Ungkapan ini berasal dari Sansekerta jika diterjemahkan berarti pemimpin menjadi contoh di depan. Dengan contoh pemimpin di depan tersebut maka orang yang dibelakangnya akan mengikutinya.


Saya kurang tahu apakah prinsip ingkarso sung tulodo ini akan tetap berlaku, jika misalnya contoh pemimpinnya tidak bagus? Sikap arogan dan ugal-ugalan? Kata jaman now: no way. Tidaklah. Sedangkan contoh yang baik saja kadang tidak selalu diikuti oleh follower karena berbagai alasan. Bagaimana pula kalau pemimpin tidak memberikan contoh yang baik? Maka kacau balaulah yang akan terjadi. Dalam ketiadaan contoh Pengkotbah mengingatkan: Amsal 29:18 (TB) Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. 

Jika pemimoin tidak tekahah, aturan dan hukjm tak jalan maka akanbterjadi anarkhisme, liar dan tidak terkontrol. 


Sahabat yang baik hati, dalam kotbah minggu ini kita diajak memperlengkapi orang percaya. Suatu nasihat rasul Paulus kepada Timotius. Firman Tuhan adalah kebenaran, yang bermanfaat bagi orang percaya: menegor kesalahan, menasihagi, memperbaiki kesalahan dan memperlengkapi orang percaya. 


Prinsip inilah juga yang mendorong saya menuliskan renungan harian: Firman Tuhan adalah sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi dengan tujuan agar Firman memperlekapi orang percaya agar memiliki displin rohani dan diperlengkapi melakukan perbuatan baik. Dalam memperlengkapi orang percaya. Paulus mengajak anak rohaninya Timotius untuk tetap melanjutkan visi Tuhan Yesus yang telah diteruskan kepada para rasul. Maka tugas rasuli ini harus terus diemban dalam keadaan apapun, baik atau tidak baik waktunya pelayan harus memberitakan Injil Kerajaan Allah. Orang-orang yang telah menerima Kristus harus diperlengkapi dengan Firman Tuhan. 


Apa yang disampaikan oleh rasul Paulus kepada Timotius dalam kotbah Minggu ini menjadi tugas gereja dalam pelayanannya di masa kini. Gereja harus memperlengkapi jemaat dengan memberi keteladanan, berpegang teguh kepada kebenaran. Setiap orang percaya mengajarkan Firman Tuhan dan segala manfaatnya bagi kehidupan ini.


Berikut ini baiklah kita ambil beberapa pokok penting dalam kehidupan kita:


1. Memberi keteladanan bagi semua orang


2 Timotius 3:10 (TB) Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. 


Hal pertama yang kita temukan dalam kotbah ini adalah Paulus telah memberikan keteladanan. Paulus asalah guru dan bapak bagi Timotius. Paulus telah memberikan contoh yang baik dalam kehidupannya, tentang pengajaran, cara hidup (gaya hidup), pendirian (prinsip), iman, kesabaran, kasih dan ketekunan dalam menjalani perlnderitaan.


Hidup yang telah ditunjukkan oleh Paulus adalah pengajaran bagi Timotius. Cara hidup yang ditampilkan oleh Paulus telah menjadi contoh dan panduan dalam hidup Timotius. Dengan demikian, Timotius memiliki figur yang dapat ditekadani di dalam pengajaran dan prinsip hidup. 


Apa yang disampaikan ini menjadi koreksi dalam kehidupan kita para pelayan yang tergolong pengajar (edukator dan pengkotbah), terkadang kita mengajarkan sesuatu pada orang lain namun kita sendiri tidak menghidupi ajaran yang kita ajarkan. Jadi hanya seperti selokan yang hanya mengalirkan saja. Bahkan ada juga dengan bangga mengatakan jangan lihat saya namun dengarkan apa yang saya katakan. Bagaimana kita bisa mendengarkan nasihatnya dia sendiri tidak menghidupi nasihatnya. 


Dalam tradisi Rabbi Yahudi, seseorang pengajar yang sudah dinobatkan menjadi rabbi adalah yang mengahayati kebenaran dan penghayatan kebenaran menyatu dalam hidupnya dan apa yang dihidupinya itulah yang diajarkan. Jadi dia bukan hanya penyalur ajaran tetapi benar-benar teladan dan menghidupi apa yang diajarkannya.


Dalam kaitan memperlengkapi orang percaya bagaimana kita memperlengkapi orang percaya namun kita sendiri sebagai "guru" atau pelayan atau hamba Tuhan tetapi tidak memberikan contoh hidup yang baik? Kotbah ini mengingatkan kita, pengajaran kita harus didahului dengan keteladanan diri, sebelum mengajarkan kepada orang lain maka dimulai dengan diri sendiri. Mengajarkan prinsil hidup harus dengan contoh, bagaimana mungkin seorang mengajarkan karakter namun tidak berkarakter, mengajarkan moral namun perilaku lnya tidak bermoral, mengajarkan kenenaran namun hiduo tidak benar, menuntut keadilan namun dia sendiri berlaku tidak adil bahkan menindas?


Kita saat ini miskin teladan, berorasi nyaring dan garing tentang anti korupsi namun kena OTT, berkoar-koar zero korupsi tetapi sangat koruptif. Hari ini firman Tuhan ini mengingatkan berilah keteladanan. Bukan kata-kata manis yang dibutuhkan atau orasi yang mempesona tetapi contoh hidup yang nyata. Jika kita kehilangan teladan dalam pemimpin publik berhaflrap dalam pelayanan gereja masih ada keteladanan. 


2. Berpegang teguh pada kebenaran


2 Timotius 3: 14 (TB) Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.


Paulus adalah contoh paling kuat dalam memegang kebenaran. Sebelum pertobatannya karena pemahamannya tentang kebenaran agama Yahudi dia mengejar dan menganiaya jemaat mula-mula. Dia tidak mau kebenaran agama Yahudi diselewengkan. Namun setelah ditangkap dan menerima kebenaran hakiki di dalam Yesus Kristus dia dangat gigih dalam memberitakan Injil dan mendirikan jemaat. 


Berpegang teguh di dalam kebenaran tidak mengenal takut, itulah tuntutan Paulus kepada Timotius, sekalipun muda ada banyak guru-guru hebat, penguasa-penguasa dan berbagai kekuatan lain yang anti Injil menekan dan menolak kehadiran Injil, apapun yang terjadi harus tetap berpegang pada Kebenaran Injil. 


Kebenaran Injil adalah “kebenaran hakiki” kebenaran universal. Kebenaran yang dianut setiap orang mungkin saja berbeda, karena nilai yang dianut dan diyakini dibentuk oleh pengalaman hidup sejak dalam kandungan. Nilai kebenaran selalu diuji dan dibaharui seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan zaman. Kebenaran di dalam Yesus Kristus adalah universal. Kasih diterima oleh semua orang, sehabat apapun kebencian orang kepada kebensran Injil orang percaya harus berpegang teguh di dalamnya. 

 

Paulus menasehati Timoteus agar berpegang kepada kebenaran yang sudah pernah diajarkan kepadanya sejak dia masih kecil. Kebenaran hakiki mengenai keyakinan kepada TUHAN, yang diajarkan oleh ibunya, yang bernama Eunike, melalui Kitab Suci. Sekali pun dia hidup di lingkungan berkebudayaan Yunani, dan ayahnya sendiri adalah Yunani, tetapi ibunya mengajarkan Timoteus untuk mengenal Kitab Suci. Kemungkinan besar menjelang dewasa Timoteus harus kehilangan ayahnya, dan dia hidup bersama ibunya. Dalam perjalanan missionarisnya Paulus bertemu dengan ibu Timoteus dan meminta agar Paulus mengajarkan Iman Yahudi kepada Timoteus. Paulus yang pernah juga mempergumulkan “kebenaran” yang diyakininya mengenai Judaisme, akhirnya mengenal bahwa Kristus adalah Sang Kebenaran itu. Maka Paulus mengajar Timoteus untuk melihat Sang Kebenaran itu dan membawa serta Timoteus untuk mengabarkan Injil.


Di dalam Yesus Kristus kita dapat mengenali kebenaran hakiki mengenai YANG ILAHI. Ajaran Yesus, perbuatanNya, keteguhan hati-Nya yang mengasihi, ketaatan-Nya, dampak dari kebangkitan-Nya, dan segalanya mengenai Kristus perlu kita pelajari. Kitab Suci akan menuntun kita. Meyakini dan mengatakan kebenaran tanpa pengetahuan sama dengan fanatisme sempit yang akan membawa hanya kepada perdebatan dan perselisihan. Kebenaran Allah yang dinyatakan dalam realitas hidup Kristus yang melayani dan rela berkorban demi keselamatan menyatakan kepada kita bahwa kita harus rela melayani dengan Kasih. Kita akan dimampukan melayani dengan kasih hanya jika kita mau meneladani Kristus yang rela mengosongkan diri. 


3. Firman Tuhan memperlengkapi orang percaya.


Jika kita baca 2 Timotius 3:16 Paulus menjelaskan tentang apa itu Firman Tuhan dan manfaatnya bagi orang percaya. Firman Tuhan yang tertulis dalam alkitab dapat kita baca dan teruskan bagi orang lain.


3.1. Alkitab adalah Firman Tuhan, tulisan dalam kitab suci bukanlah huruf dan kata-kata semata, tetapi tulisan hang diilhamkan oleh Allah melalui orang-orang yang dipilihnya menyampaikan kehendak Allah. Jadi kitab suci bukanlah teks-teks biasa ansih tetapi di dalamnya ada maksud dan kehendak Allah yang dinyatakan. 


3.2. Manfaat Firman Tuhan,

Dalam Paulus secara rinci menjelaskan manfaat Firman Tuhan dalam hidup orang percaya. Di dalam 2 Timotius 3:16 (TB) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.


- Mengajar: firman Tuhan mengajarkan tentang kebenaran dan kehendak Allah. Manusia membutuhkan keberan dalam menjalani kehiduoan ini agar tidak tersesat dan kebenaran itu ada di dalam Alkitab.

- Menyatakan kesalahan: Firman Tuhan mengingatkan manusia atas kesalahan, pelanggaran dan ketidak setiaan. Firman Tuhan menyadarkannkita akan dosa maka kita membutuhkan keselamatan.

- Memperbaiki kelakuan, manusia yang salah dan menyimpang jalannya diperbaiki melalui Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah petunjuk hidup baru. Firman Tuhan adalah pandu baginorang percaya.

- Mendidik orang dalam kebenaran: dengan Firman Tuhan orang percaya terdidik dan terlatih serga memiliki displin rohani. Displin rohani ini menimbulkan spiritualitas yang tinggi pada diri seseorang.


3.3. Firman Tuhan Memperlengkapi orang kudus melakukan perbuatan baik. 

Merangkumkan semua manfaat Firman Tuhan dalam penjelasan Paulus adalah memperlengkapi orang percaya melakukan perbuatan baik. Kita adalah manusia yang tidak sempurna, memiliki kelemahan dan berbagai kesalahan. Namun dengan Firman Tuhan orang percaya diperlengkapi.

Tugas memperlengkapi ini bagi saya ini penting, sehebat apapun seseorang dalam hidupnya tidak akan lengkap jika tidak digarami dengan Firman Tuhan. Sehina apapun seseorang dalam berbagai kesalahan dan pelanggarannya akan memperlengkapi jika menerima Firman Tuhan. 

2 Timotius 3:17 (TB) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. 


Mari jadikankah Firman Tuhan menjadi pedoman dalam hidup. Firman Tuhan akan memperlengkapi dan menyemournakan segala kekurangan dan kelebihan hidup kita. Amin


Salam

Pdt Nekson M Simanjuntak



Minggu, 19 Oktober 2025

AKU MELIHAT TUHAN NAMUN AKU MASIH HIDUP

 Kotbah Minggu XVIII Stlh Trinitatis

Minggu, 19 Oktober 2025

Ev. Kejadian 32:22-32


*"Aku Telah Melihat Allah dan Nyawaku Tertolong"*


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, ada banyak orang terhambat memasuki masa depan karena tidak mau meninggalkan masa lalu yang kelam. Misalnya seperti kebiasaan buruk, tidak mau berubah dan memperbaiki diri akhirnya tidak maju-maju. Istilah teologisnya adalah tidak mau bertobat, pada akhirnya mati dalam dosanya. Perilaku buruk terus terbawa-bawa dan akhirnya menghambat dia untuk berubah atau bertransformasi.


Contoh hidup Yakup adalah cerita yang menarik, bagaimana masa lalu sudah berlalu dan masa lalu itu harus ditinggalkan dengan hiduo yang baru sebelum memasuki tanah Kanaan. Setelah mapan di rumah Laban mertuanya fia kembali ke kamoung halaman orangtuanya Ishak, namun dia harus bergulat dan bergumul hebat di tepi sungai Yabok. Malaikat tidak membiarkan Yakub masuk, baru setelah namanya berubah. Nama "Yakub" tidak akan disebutkan lagi tetapi telah berubah menjadi "Israel". Yakub berubah dari "menipu" menjadi Israel berarti "berjalan bersama Tuhan" atau dan bisa juga diterjemahkan dengan "hamba Tuhan".


Baiklah kita ambil beberapa pokok penting pesan kotbah minggu ini khususnya pergulatan Yakub di sungai Yabok? Saya mencoba mendeskripsikan tiga hal berikut ini: 


*1. Yakub harus bergerak: dikejar bayang-bayang Laban dan kekuatiran menhadapi luka dan amarah Esau.*


Kisah Yakub ini merupakan novel yang sangat menarik. Kisah hidupnya dapat kita pelajari dan ada segment-segment kehidupan yang memberikan pesann yang sangat berarti. Penulis Kitab Kejadian ini menempatkan Jakub dalam bayang-bayang masa lalu. 


Yakub berangkat ke negeri pamannya Laban dengan menipu ayahnya dan meninggalkan luka bagi Esau dengan "mengambil" hak kesulungan. Di rumah pamannya juga dia pekerja keras akhirnya mendapatkan isteri dan anak-anak. Selain keturunan untuk mendapatkan ternak yang lebih banyak dia punya cara atau "strategi khusus" sehingga ternak yang berbintik-bintik. Dia telah sepakat dengan pamannya, jika ternak domba hitam, berbintik dan berbelang adalah milik Yakub dan domba putih adalah milik Laban (Kej 31:32-37). Dengan "cara tertentu" Yakub melakukan suatu cara, dia mengumpulkan dahan, pohon dan kulit kayu mungkin semacam zat pewarna dalam getah kulit kayu. Saat mau minum domba putih melewatinya maka kelihatan berbelang sehingga lebih banyak yang berbintik dan berbelang dibandingkan milik pamannya yang putih polos (Ay 37-38). 

Intinya Yakub mendapat keuntungan besar dari pamannya lama dapatt isteri, keturunan, ternak dan kekayaan. Setelah itu dia ingin kembali ke Kanaan karena disana kampung halamannya. 


Laban memang telah merelakan kepergian Yakub, karena apa yang didapatkannya legal sekalipun dengan cara khusus dan dengan perjanjian. Namun keterangan ini membuktikan bahwa Laban memiliki pikiran yang tidak biasa terhadap Yakub. Kejadian 31:1-2 (TB) Kedengaranlah kepada Yakub anak-anak Laban berkata demikian: "Yakub telah mengambil segala harta milik ayah kita dan dari harta itulah ia membangun segala kekayaannya."

Lagi kelihatan kepada Yakub dari muka Laban, bahwa Laban tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadanya. 

Maka atas petunjuk Tuhan Yakub pamit dan meninggalkan Laban dengan segala yang menjadi miliknya. Laban pun mengejar Yakub dan bagi Laban pelarian Yakub tidak dapat diterimanya. Hasilnya pun akhir mereka bernegosiasi Yakub mempertahankan miliknya dan apa yang dibawanya adalah sesuai dengan perjanjian. 


Di seberang ada juga tantangan yaitu luka Esau. Karena Yakub meninghalkan luka bagi Esau mencurinhak kesulungan kakaknya itu. Jika kita perhatikan ayat 23, Yakub mengantisipasinya dengan cerman, awalnya dia menyeberangkan Isteri dan anak-anaknya, setelah semua menyeberang dia berangjat belakangan dan pada saat itulah Yakub bergulat hebat dengan malaikat. Yakub tidak bisa menyeberang dan dihambat. Yakub orang yang kuat pergulatan Yakub dan makaikat itu sampai fajar menyingsing. Berarti pertarungan semalam dan pergulatan yang sangat panjang. Dalam memyeberangi sungai Yabok: Yakub mendapat perlawanan dari malaikat sebagaimana nas cerita yang kita bacakan dalam evangelium minggu ini. Malaikat tidak membiarkan Yakub menyeberang dengan mulus, dia dihambat dan bergulat hebat seharian. Sampai akhirnya dua konsekwensi dari Yakub harus diterimanya, yaitu nama Yakub dirubah menjadi Israel dan pangkal pahanya dipukul dan pincang.


Peristiwa di sungau Yabuk ini memiliki catatan sejarah perubahan dalam Yakub dan juga peraturan bagi Israel tidak bisa memakan langkal paha dsri daging yang disembelih. Peristiwa pergulatan di Yabok adalah keoutusan Yakub untuk melanjutkan kehidupannya dan anak-anaknya. 


*2. Transformasi Yakub menjadi Israel*

Hal kedua mengambil makna dan pesan Kisah pergulatan Yakub ini sesungguhnya merupakan kisah perubahan - transformasi, Yakub dan segala masa lalunya harus dirubah menjadi Israel. "Yakub" dalam bahasa Ibrani "penipu", menjadi "Israel": Allah bergulat bersamanya atau ada juga yang menerjemahkan "hamba Allah". 


Jadi kisah Yakub ini adalah sikap mengambil keputusan dan mengambil resiko, berangkat dari Laban dengan segala resika sikap Laban padanya, kemudian berani berhadapan dengan Esau dengan segala resiko yang dihadapinya. Bagaimana pun kalau Yakub tetap di rumah Laban akan terjadi konflik dan ketidak sukaan terhadap kemajuan yang dimiliki Yakub dari anak-anak Laban. Maka keputusan pun harus dijalankan dengan bersngkat membawa segala apa yang menjadi miliknya. 


Yakub sadar akan ada perjumpaan dengan Esau yang dulu sempat terluka. Yakub tidak menghindarinya tetapi memiliki keberanian untuk kembali sekalipun resiko berjumpa Esau tidak terhindarkan, apakah buruk atau baik. Yakub menyeberang.


Ada banyak orang takut kalah sebelum bertanding, tidak memiliki langkah apa pun dan tidak bergerak karena dihantui oleh asumsi-asumsi negatip. Berbeda dengan cerita Yakub di dwlam kotbah minggu ini. Dalam bayang-bayang pengejaran Laban dan murka Esau yang meneninya, Yakub berjalan. Inilah pergumulan di sungai Yabok. Konsekwensinya penyelesaiannya adalah bertransformasi. Yakub bukan lagi Yakub tetapi menjadi Israel. Yakub adalah cara hidup lama, dengan kerja keras dan segala upaya untuk memenangkan diri sendiri dan keuntungan sendiri harus berubah menjadi berjalan bersama Allah, bekerja dan mengoptimalkan segala potensi diri untuk kemuliaan Tuhan.


Yakob adalah presentasi kehadiran manusia yang ingin memenangjan keuntungan diri sendiri, berubah atau bertransformasi menjadi pribadi yang memenangkan dan memuliakan Tuhan. 


Janji dan komitmen Yakub: Aku tidak membiarkan Engkau pergi sebelum Engkau memberkati aku.

Kejadian 32:26 (TB) Lalu kata orang itu: "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub: "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku."


Kalimat ini merupakan kunci yang memahami lebih dalam pergulatan Yakub. Dia memiliki kekuatiran masa lalu, Apakah ancaman Esau yang menghambat dia, atau suruhan Laban yang tidak rela melepaskan Yakub? Representasi kehadiran kekuatiran masa lalu Yakub inilah yang dihadirkan dipergulatan Yakub berjuang sampai fajar. Yakub hafus menyelesaikan masalah masa lalu ini sebelum menyambut hari yang baru. 


*3. Konsep Anugerah: Aku telah melihat Tuhan, namun aku masih hidup.*


Mengapa Yakub spontan mengatakan: Aku telah melihat Tuhan namun aku hidup? ini adalah suatu hal menarik karena ada satu pemahaman dalam tradisi PL gambaran tetang Allah k itu kudus, mulia dan agung, tidak seorang pun yang dapat melihat Allah. Bandingkan cerita Musa di sinai, Musa menutupi wajahnya (Kel 3:6) maka Musa menutup matanya, membuka kasutnya untuk datang menghmpiri tempat Kudus. Kemudian dalam kisah berikutnya Tuhan berfirman kepada Musa: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup. (Kel 32:20). Bandingkan juga pengalaman Yesaya (Yes 6:3-4), menyadari Allah yang Maha Kudus menampakkan diri dan dia orang yang najis bibir. 


Inilah pengalaman Yakub: Aku melihat Tuhan namun aku hidup. Semestinya dia sudah berakhir namun Tuhan memberikan kesempatan. Dia bergulat dengan Tuhan namun dia diberi kesempatan untuk hidup. Inilah anugerah atau waktu untuk berubah. Cerita ini hendak menyampaikan pesan; Allah memberikan kesempatan bagi Yakub untuk hidup, namun konsekwensiny adalah berubah. Allah tidak membiarkan Yakub menyeberang sebelum namanya berubah menjadi Israel. '


Disini kita mengembangkan anugerah, kesempatan untuk hidup ada. Allah memberikannya kepada kita. Allah tidak mebalaskan kejahatan kita setimpal dengan perbuatan kita, namun Allah membiarkan kita hidup. Maksud Allah besar pada orang yang diberikan kesempatan hidup, yaitu menjadi saluran rencana Allah bagi manusia. Itulah hidup Yakub yang berubah menjadi Israel. 


Yakub bisa mengalami semua apa yang terjadi dalam hidupnya adalah anugerah, Yakub bisa menyeberang ke Kanaan karena Tuhan memberikan kesempatan dan membiarkan kita hidup. 


Demikianlah hidup kita, hidup ini adalah anugerah, maringunakan kesempatan untuk menghasilakan sesuatu yang nerguna melanjutkan kehidupan ini. Akan selalunada tantangan yangbterbentsng, akan selalu muncul.kecemasan yang mengkuatirkan. Namun pengalam Yakub ini meyakinkan kita untuk terus berjalan. Di dalam perjalanan ini harus ada yang yang kita pelajari dan harus kuta ubah dalam hidup ini. Amin

Tuhan


memberkati.


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak



Rabu, 15 Oktober 2025

Memuji Tuhan Yang Memulihkab

 FIRMAN TUHAN SUMBER HIDUP

Kekuatan, Inspirasi dan Motivasi

Rabu, 15 Oktober 2025


"Memuji Tuhan yang Memulihkanku"


Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah menggunakan waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan Firman Tuhan.


Efesus 5:7 (TB) Sebab Allah berfirman:

"Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka"


Ephesians 5:7 (NKJV) Therefore do not be partakers with them.”


Plato, seorang Filsuf Yunani pernah berkata: "Jangalah engkau berteman dengan orang jahat karena sifatmu akan mencuri sifatnya tanpa engkau sadari." Namun kebaikan akan menyatukan orang-orang yang mencintainya, meskipun mereka dalam keadaan saling memarahi dan membenci.


Sahabat yang baik hati, dalam banyak situasi yang buruk di dalam kehidupan ini terkadang kita dengan percaya diri menyatakan bahwa kita tidak akan terpengaruh dan tidak akan dirusak karena kita sudah menemukan jati diri dan mampu menguasai diri. Namun seiring waktu berjalan, kita mulai memaklumi lalu mentoleransi kemudian tanpa kita sadari kita pun tanpa keberatan diikut-sertakan menjadi bagian dari kejatahan tersebut tanpa keberatan sama sekali. Mungkin kita dengan percaya diri mampu membentengi diri dan tidak akan sama dengan mereka yang tidak baik, dan memutuskan untuk tidak menegur karena rasa sungkan atau merasa tidak enak. Orang-orang yang baik yang menjaga perasaaan orang-orang yang jahat memutuskan tetap duduk bersama dalam sebuah lembaga yang sama, namun tanpa disadari ketika kejahatan semakin tidak terbendung, orang-orang baik akhirnya tidak berdaya melakukan apapun dan terseret kedalam situasi buruk tersebut. Bukankah demikian yang sedang terjadi di lembaga-lembaga di dunia saat ini? Tidak terkecuali, di Gereja pun saat ini sedang memasuki fase yang tersebut di atas, yang membuat banyak orang-orang luar menjadi apatis dan kehilangan simpati terhadap kelembagaan Gereja/ kelembagaan Agama di dunia ini. Padahal kenyataannya, hanya segelintir orang yang tidak baik yang melakukan hal buruk namun karena didiamkan label buruk itu menjadi menyeluruh kepada satu kelembagaan. Maka jangan diam, jangan merasa tidak tersentuh, atau tidak mampu dirusak oleh sijahat. JIka kejahatan sudah menjadi terlalu besar untuk dibendung atau sudah melembaga, maka orang baik yang ada di lembaga tersebut pun sudah ikut jahat oleh karena kejahatan mereka. Masih kah anda merasa baik-baik saja? Masihkah anda tidak tersentuh oleh kejahatan itu? Bangunlah, sahabat yang baik hati, semua tidak baik-baik saja!


Firman Tuhan hari ini adalah peringatan awal dari Rasul Paulus untuk semua orang-orang percaya dan semua orang-orang baik di seluruh Gereja di segala masa: Janganlah kamu berkawan dengan mereka! Mereka yang dimaksud dijelaskan di ayat 3-6 untuk segala perilaku buruk, segala hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, termasuk hal-hal yang menyesatkan dan perkataan-perkataan kosong: tidak bermuatan rohani dan kebenaran, yang menyesatkan. 'Jangan Berteman' berarti agar jangan mengambil bagian atau ikut serta dalam perilaku/kegiatan yang mereka kerjakan, ikut dalam perencanaan, atau dalam bagian tertentu ikut dalam mengeksekusi tujuan yang dimaksud mereka. Ambil sikap yang tegas: Menjauh! Tidak ikut di dalam mereka! Menyingkirlah dari mereka! Anda tidak sekuat itu! sadar atau tidak, jika selalu sejalan dengan mereka, maka awalnya mungkin hanya sekedar toleransi, namun di kemudian hari bisa saja membenarkan apa yang mereka kerjakan apalagi ketika suatu saat bisa saja pekerjaan mereka menolong finansial lembaga kita, atau memberi kelonggaran bagi keberadaan


kita. Amin (FH)

Sabtu, 11 Oktober 2025

MEMBERITAKAN INJIL DENGAN SEGENAP HATI

 Kotbah Minggu XVII Stlh Trinitatis

Minggu, 12 Oktober 2025

Ev. Rom 1:8-15



MEMBERITAKAN INJIL DENGAN SEGENAP HATI


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, di era yang sangat prakmatis dan transaksional kini mungkin amat jarang kita menemukan ketulusan hati. Seseorang yang mengabdikan dirinya untuk melakukan suatu missi dengan sukarela dan dilakukan dengan segenap hati tanpa mengharapkan balas jasa. Pelayanan yang tulus hati, itulah yang dilakukan Paulus setelah pertobatannya. Paulus berlar-lari dari satu desa ke desa lain, dari kota ke kota lain untuk memberitakan Injil dan mendirikan jemaat. Dari seluruh rasul Paulus merupakan memberitakan Injil yang paling gigih dan paling banyak mendirikan jemaat sangat banyak. Selain itu ada juga jemaat yang berdiri hasil dari pemberitaan Injil rasul lainnya semua itu membuat Paulus bersukacita karena apa ya g ditabur bertumbuh dan jemaat-jemaat berdiri di Yerusalem, Yudea, Asia hingga ke Eropa. 


Sebagai pemberita Injil Paulus bersukacita dan berdoa kepada Tuhan kalua mengingat jemaat Roma. Selain itu ada kerinduan yang mendalam untuk mengunjungi mereka, bertemu dan bersekutu. Satu alasan mengapa Paulus bersukacita dan ingin mengunjungi jemaat Roma dituliskan dalam kotbah ini, yaitu: Iman Yang Tersiar. Iman jemaat Roma bertumbuh dan terberita kemana-mana, dalam konteks now Jemaat Roma viral karena iman mereka. Pertumbuhan iman mereka telah menjadi kesaksian bagi banyak orang. 


Keistimewaan Jemaat Roma bagi Paulus mendorong Paulus menuliskan pengajaran Iman Kwkwristenan lebih lengkap dibandingkan dengan surat-surat lain. Paulus memberikan penjelasan yang leboh menyeluruh tentang iman Kekristenan yang berpusat pada Kristus sampai pada etika orang Kristen di dalam kehidupan sosial masyarakat. Jika di dalam surat-surat lain Paulus menjawab beberapa persoalan yang dihadapi jemaat lokal, namun dalam surat Roma Paulus menuliskan secara menyeluruh tentang iman Kekristenan. Para ahli Perjanjian Baru menyebutkan, lengkapnya Surat Roma dengan pengajaran kekristenan hingga surat ini disebut dengan Testamentum. Artinya surat Roma ibarat surat wasiat yang berharga yang ditinggalkan orangtua pada anak-anaknya. Demikianlah juga Surat Roma, wasiat yang berharga dari Paulus menjelaskan pokok-pokok pengajaran iman kekristenan.


Sekarang marilah kita mengambil beberapa pelajaran oenting dari kotbah minggu ini:



1. Iman yang tersiar - kualitas iman jemaat Roma menjadi kesaksian, inspirasi dan motivasi bagi orang lain.


Paulus memulai surat ini menjelaskan sukacitanya kepada Tuhan karena iman jemaat Roma. 

Roma 1:8 (TB) Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia.


Iman jemaat Roma bertumbuh, disatu sisi Roma Pusat pemerintahan kekaisaran Romawi, namun disitu juga ketatnya pengawasan terhadap agama-agama baru. Di luar agama resmi kekaisaran akan mendapat tantangan.

Penderitaan jemaat Roma pada masa Gereja mula-mula terutama disebabkan oleh penganiayaan oleh kekaisaran Romawi, yang mengakibatkan kematian, penolakan sosial, dan penderitaan lainnya karena penolakan umat Kristen untuk menyembah dewa-dewa Romawi atau Kaisar. Penganiayaan ini terjadi selama berabad-abad dan menjadi bagian dari perjuangan umat Kristen untuk mempertahankan iman mereka. 


Salah satu peristiwa memedihkan adalah Kebakaran Besar Roma tahun 64 M terjadi di sekitar Circus Maximus dan berlangsung selama enam hari, menghanguskan sebagian besar kota, namun tidak ada bukti Kaisar Nero membakarnya, meskipun ia kemudian disalahkan dan menjadikan orang-orang Kristen sebagai kambing hitam. Sejarawan kuno seperti Tacitus dan Suetonius menulis tentang kejadian ini, menuduh Nero, tetapi cendekiawan modern meragukan keterlibatannya karena tidak ada bukti langsung.  


Penganiayaan yang begitu pahit, diusir, dianiaya bahkan banyak yang dieksekusi mati namun tetap mempertahakan iman. Inilah yang disebutkan oleh Paulus iman yang tersiar. Iman yang tersiar berdampak pada:


1.1. Paulus bersyukur dan berdoa kepada Tuha, dalam.penganiayaan hang luar biasa ada iman yang luar biasa. Ini adalah sukacita bagi seorsng pemberita Injil. Injil yang mereka beritakan bertumbuh dengan baik, tangguh dan berbuah besar yang akhirnya berdampak bagi orang lain. 


1.2. Iman yang tersiar memmbuat Paulus semakin termotivasi (dapotan hiras ni roha). Sekalipun dia dipenjara namun semangatnya menyala-nyala karena ada iman yang tangguh dari jemaat Roma. Paulus berkata. Roma 1:12 (TB) yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku. (Bahasa Batak: "dapotan hiras ni roha"). Iman yang tangguh dwri jemaat Roma menjadi motvasi yang menyala-nyala bagi Paulus untuk memberitakan Injil.


1.3. Iman yang tersiar dari Roma menyemangati Paulus membina persekutuan. Paulus rindu untuk bertemu dan bersekutu bersama jemaat Roma. Dia ingin berbagi kesaksian dan oengalaman. Apa ysng mereka alami akan menjadi kekuatan bagi Paulus dan apa yang dialami Paulus akan menjadi inspirasi bagi mereka. Iman yang tersiar akan membuat orang semakin rindu dalam persekutian jemaat. Bukan sebaliĺlknya, ada orang yang mengaku bertumbuh imannya namun kekuar dari persekutuan induknya, memisahkan diri dan akhirnya jatuh pada kesombongan rohani dan merasa kebih benar? Lebih suci dan lebih saleh dari yang lain. Paulus berbeda, iman yang tersiar itu membuat dia semakin rindu ingin bersekutu dan berdiam di tengah-tengah mereka. 


2. Pemberitaan Injil adalah hutang


1 Korintus 9:16 (TB) Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.


Mengutip pandangan Paulus, TB Simatupang mengangkatnini menjadi judul buku ukang tajun ke 70: Saya Adalah Orang Yang Barhutang. Sebagai kesaksian pemberian dan kasihbkarunia Tuhan adalah hutang hang harus dioersembahkan melalui pelayanan dan pengabdian. 


Hidup Paulus sebekum pertobatannya gigih menganiaya dan mengejar jemaat. Namun setelah pertobatannya, Paulus benar-benar menyerahkan hifuonya sebagai persembahkan kepada Tuhan. Dia melayani dengan tulus hati. Dia benar-benar menyerahkan totalitas hidupnya kepada Injil. Dia meninggalkan masa lalunya, dan berjalan menuju ke depan meraih mahkota kehidupan. 


Paulus menyadari bahwa duku dia menganiaya jemaat, mengejar hingga menerima legitimasi dari Mahkamah Agama Yahudi untuk menganiaya jemaat mula mula. Namun setelah ditangkap oleh Kristus dia merasa berhutang karena berada dijalan yang keliru. Membanyar hutang itu dia bangkit dan berlari dari satu desa ke desa lain, dari satu kota ke kota lain untuk memberitakan Injil. 


Bagi Paulus waktu kedatangan Tuhan itu singkat dan segera. Maka dia berlari terus memberitakan Injil sampai ke ujung bumi sebelum Kristus datang. Itulah sebabnya Paulus begitu gigih berjuang pergi memberitakan Injil. 


Bagi Paukus segaka waktu dan segala keadaan tetap memberitakan Injil. Saat dia terpenjara dia memberitakan Injil melalui surat dan nasihatnya kepada para sioir penjara. Saat kapalnya terhempas di pulau Kreta menjadi jalan Bagi Pulaus memberitakan Injil. Itulah sebabnya Paulus berkata: Aku adalah orang yang berhutang.


Roma 1:14 (TB) Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.


Injil harus sampai ke ujung bumi sebelum Kristus datang. 


3. Memberitakan Injil tanpa membeda-bedakan - Injil milik semua orang.


Memberitakan Injil dengan segenap hati, topik di atas mengajak kita untuk meneladani Paulus dalam memberutakan Injil Kristus. Kristus yang telah mati dan bangkit adalah keselamatan universal milik semua orang. 


Hal pertama adalah spirit pemberitaan Injil dari Paulus. Paulus yang memiliki kesungguhan hati, baginya pemberitaan Injil adalah hutang hang harus dibanyar dengan sungguh-sungguh. Injil sudah harus diberitakan sebelum Kristus datang. 


Hal kedua, untuk siapa Injil diberitakan? 

Paulus rindu mengunjungi Roma karena posisi strategis Romawi yang mempengaruhi peradaban di jaman kekaisaran Romawi. Maka bagi Paulus Injil harus diberitakan kepada orang Yunani. Karena setelah Yahudi tentulah Yunani orang yang berpengaruh jaman kekaisaran Romawi. Selain kepada Yunani, Injil juga harus diberitakan kepada non Yunani, suku-suku bangsa yang ada di kekaisaran Romawi. Hal ini hendak menekankan tidak ada element masyarakat yang tidak menjadi perhatian Paulus.


Pembedaan kedua memberitakan Injil kepada orang terpelajar maupun tidak terpelajar. Pembedaan terpelajar dan tidak terpelajar hendak menjelaskan status sosial dan kemampuan intelektualitas. Injil tidak membedakan mereka yang berpendidikan dan yang tidak memiliki pendidikan. Injil adalah milik semua orang secara universal; yangbterpelajar, yang biasa-bisa dan awam sekalipun ada ruang bagi Injil. Artinya Injil bukan hanya milik cendikian, menerima Kristus bukan harus didasari tingkat pemahaman intelektual tertentu. Tetapi Injil itu milik semua orang baik yang berpendidikan dan tidak berpendidikan. Kristus diterima bukan karena kemampuan intelektual tetapi diterima melalui iman dan keyakinan. 


Inti dari semua itu, Injil ada untuk semua orang dan harus sampai sebelum Kristus datang. Injil adalah milik semua orang: milik Yahudi dan non Yahuni, Yunani dan non Yunani, kaum terpelajar dan non terpelajar, orang kaya atau miskin, orang merdeka atau hamba, perempuan dan laki-laki. Di dalam Injil semuanya sama.

Dalam surat Galatia Paulus menyampaikan: "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." (Galatia 3:28).


Sahabat yang baik, memberitakan Injil afalah turas rasuli orang percaya. Memberitakan Injil bukan hanya tigas rasul, pastor atau pendeta, atauntugas evangelis atau pengerja gereja semata. Namun memberitakan Injil adalah tugas semua orang. Mari mengikuti teladan Paulus dalam memberitakan Injl dengan segenap hati. Tuhan memberkati. Amin


Salam : Pdt Nekson M Simanjuntak




Sabtu, 04 Oktober 2025

TUHAN MAHA KUDUA DAN MAHA TAHU

 Kotbah Minggu XVI Stlh Trinitatis

Minggu, 5 Oktober 2025

Ev. Habakuk 1:12-17



TUHAN ALLAH MAHA KUDUS DAN MAHA TAHU


Selamat Hari Minggu! Mengapa Tuhan membiarkan ketidak adilan terjadi? Masakah Tuhan berdiam atas kelaliman? Para penjahat bebas melakukan kejahatannya? Sebaliknya orang benar tertindas dan tidak ada yang menolong. Inilah pergumulan nabi Habakuk.

Habakuk 1:2-3 (TB) Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong? 

Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.


Demikianlah perasaan hati Habakuk dituangkan dalam kitab ini. Disatu sisi dia meronta dan tidak berterima atas keadaan, tetapi pada akhirnya Habakuk menyadari bahwa mata Tuhan terlalu suci untuk melihat kejahatan dan tak akan membiarkannya. Orang benar akan hidup oleh iman, orang fasik akan menerima hukuman atas perbuatannya. 


Kotbah Minggu ini tertulis pada Habakuk 1:12-17 berisi tentang konfrontasi bathin Habakuk atas realitas yang dialami. Melalui kotbah ini kita diajak merenungkan bagaimana Habakuk membuat refleksi teologis atas realitas yang tidak dapat diterima tetapi harus dijalani. Memberontak dan terus berseru Tuhan seolah tidak mendengar, apatis dan tidak mau tahu berlawanan dengan hati nurani. Habakuk tahu Allah itu merangkul semuanya dan reqlitas yang tidak dapat diterima pada akhirnya ada makna yang dalam. Allah tetap setia dalam janjinya, Allah mengasihi umatNya dan Allah tidak membuarkan kejahatan tetapi pada waktunya Tuhan akan menghukum kejahatan. Jika realitas yang terjadi tidak dapat kita terima, jalani dan ambil makna yang berguna bahwa Allah hadir menunjukkan maksudNya dan menunjukkan kuasaNya


Habakuk 3:4-6 (TB) Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah terselubung kekuatan-Nya. 

Mendahului-Nya berjalan penyakit sampar dan demam mengikuti jejak-Nya. 

Ia berdiri, maka bumi dibuat-Nya bergoyang; Ia melihat berkeliling, maka bangsa-bangsa dibuat-Nya melompat terkejut, hancur gunung-gunung yang ada sejak purba, merendah bukit-bukit yang berabad-abad; itulah perjalanan-Nya berabad-abad. 


Sahabat yang baik hati! Jika ada realitas kehidupan yang memprihatinkan, ada ketidak adil dan rasa bathin memberontak, marilah kita belajar dari nabi Habakuk. Dari kotbah ini kita mendapatkan pelajaran berharga, yaitu: 


1. Tetap percaya - Tuhan setia di dalam perjanjianNya.


Sekalipun ada kegundahan nabi Habakuk dan ada konfrontasi di dalam hatinya terhadap situasi dan keadaan yang terjadi bahkan protes terhadap Tuhan, namun satu hal yang diperlihatkan nabi Habakuk adalah dia tetap percaya kepada Tuhan. Semua keadaan ini dapat berubah oleh Tuhan. 


Bagi Habakuk, Tuhan maha kuasa, adil dan benci terhadap penindasan. Tuhan berkuasa atas segala ciptaan dan ditetapkan untuk menghukum semua orang menurut perbuatannya. 

Habakuk 1:12 (TB) Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa. 


Keyakinan terhadap Tuhan tetap terpelihara, Allah adalah gunung batu dan perlindungan dan oleh kuasa Tuhan umat yang tertindas tidak akan mati. 


Berbeda sekali dengan banyak orang, ada orang memberontak di dalam batinnya namun akhirnya sama sekali putus asa dan tidak memiliki harapan. Kalau Habakuk berbeda, dia memberontak di dalam bathin tetapi masih tetap memiliki iman dan harapan kepada Tuhan. 


2. Berapa lama lagi: Apakah Tuhan membiarkan kejahatan dan manusia hidup diatas hukum rimba?


Hal kedua dari Habakuk, mengeluhkan san protes lebih jauh yaitu keyakinanya terhadap Tuhan akan nyata. Nabi Habakuk percaya bahwa Tuhan yang Maha Kudus tidak membiarkan ketidak adilan, penindasan dan kejahatan ini berlarut-larut. 


Ada analogi yang dipakai oleh Habakuk tentang eksistensi manusia menjal!ni kehidupannya. Disebutkan di dalam Habakuk 1:14-15 (TB) Engkau menjadikan manusia itu seperti ikan di laut, seperti binatang-binatang melata yang tidak ada pemerintahnya? 

Semuanya mereka ditariknya ke atas dengan kail, ditangkap dengan pukatnya dan dikumpulkan dengan payangnya; itulah sebabnya ia bersukaria dan bersorak-sorai.


Ini adalah keluhan Nabi habakuk kepada Tuhan kejahatan itu ibaratkan seperti ikan akan berenang dalam.habitatnya di air, mereka menjalani kehidupannya dalam siatuasi apapun. Namun nelawmyan sewaktu-waktu datang untuk menangkap dan mengumpulkannya. Atau seperti binatang liar yang hidup di atas prinsio hukum rimba: berkeliaran sesuka hatinya, berjuang dan hidup dalam prinsip "survival of the fittest". 


Survival of the fittest: Frasa ini adalah terjemahan dari konsep "hukum rimba" dalam bahasa Inggris, yang berarti "bertahan hidup bagi yang terkuat". Ungkapan ini menggambarkan kondisi di mana yang kuat dan berkuasa menggunakan kekuatannya untuk menguasai dan mengalahkan yang lemah, yang merupakan inti dari makna hukum rimba. Yang lemah akan menjadi mangsa dan tinggal menunggu kematian.


Kita manusia seharusnya m3mbela yang lemah dan menjadi penolong. Rasa kemqnusiaan kita berbicara jangan karena kekuasan hukum diabailan. Benar ungkapan ini: Salus populi suprema lex: Ini adalah ungkapan Latin yang berarti "keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi". Ungkapan ini sering digunakan untuk menunjukkan keadaan darurat atau situasi hukum yang tidak biasa di mana tindakan yang mungkin tidak sesuai dengan norma hukum biasa diperlukan demi keselamatan umum,


Apakah kejahatan akan menang? Nabi Habakuk yakin dan menaruh harapanNya kepada Tuhan, tak akan membiarkannya. Allah hadir sebagai penyelamat dan menjadi perlindungan bagi orang yang dikasihinya dan Allah sebagai penghukum atas kejahatan. 


3. Mata Tuhan terlalu suci untuk melihat kejahatan.


Habakuk 1:13 (TB) Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia? 


Jika kita baca bagian-bagian berikutnya dalam kitab Habakuk, maka kita temukan Allah itu memberikan hukuman kepada kejahatan.

Meskipun kejahatan orang fasik mungkin menang untuk sementara waktu, tetapi Allah adalah Allah yang kudus, dan tidak menyetujui kejahatan itu (ay. 13): Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan. Setelah melihat betapa orang Kasdim itu sangat keji dan tidak takut akan Tuhan, namun betapa mereka berhasil menang melawan Israel milik Allah, sang nabi merasa tergoda untuk mengatakan bahwa sia-sia saja melayani Allah, dan bahwa Ia masa bodoh terhadap perilaku manusia. 


Namun, ia segera menepis pemikiran tersebut, dengan memegang kembali dasar pandangannya, bahwa Allah bukanlah, dan tidak bisa menjadi, sumber atau penyokong dosa. Sama seperti Dia sendiri tidak dapat melakukan kejahatan, demikian pula mata-Nya terlalu suci untuk melihat kejahatan dengan membiarkan atau menyetujuinya. Tidak, kejahatan adalah kejijikan yang dibenci Tuhan. Ia melihat semua dosa yang dilakukan di dunia, dan hal itu menyakitkan hati-Nya, menjijikkan di mata-Nya, dan orang-orang yang melakukannya sebagai akibatnya harus berhadapan dengan keadilan-Nya. Allah pada hakikatnya tidak menyukai segala kecenderungan hati dan perilaku yang bertentangan dengan hukum-Nya yang kudus. 


Dan, walaupun ada jalan yang secara membahagiakan ditemukan untuk memperdamaikan Dia dengan orang berdosa, namun Ia tidak akan pernah, dan tidak akan dapat, berdamai dengan dosa itu sendiri. Inilah dasar pandangan yang harus kita pegang teguh, meskipun terkadang dispensasi penyelenggaraan-Nya mungkin untuk sementara waktu, dan dalam hal-hal tertentu, kelihatannya tidak selaras dengan dasar pandangan tersebut. Perhatikanlah, apabila Allah membiarkan dosa, itu bukan berarti Dia menyetujuinya, sebab Ia bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan (Mzm. 5:5-6). Kelaliman yang di sini dikatakan tidak dipandang Allah itu mungkin terutama merujuk pada kejahatan yang diperbuat terhadap umat Allah oleh para penganiaya mereka. Sekalipun Allah melihat alasan untuk mengizinkannya, namun Ia tidak menyetujuinya. 


Jika kita baca pada pasal dua, Habakuk menguraikan dua hal.

3.1. Orang benar akan hidup oleh iman. Sekalipun ada tekanan, ancaman, intimidasi dan perlakuan yang menindas orang benar akan menjalani kehidupannya di dalam iman. Iman menuntun dia hidup di dalam kebenaran. 


2. Orang fasik akan mendapat hukuman. Tuhan tidak akan tidur, Tuhan adalah hakim yang adil, orang yang benwr tidak akan mati oleb kefasikan. Tuhan sendiri mwnegakka keadilan dan hukuman bagi k3fasikan. 


Habakuk 2:4-5 (TB) Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. 

Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya." 


Sahabat yang baik hati, Tuhan menghendaki kita hidup menurut jalanNya. Orang benar akan menjalani hidup ini dengan kebenaran. Tetaplah percaya dan jangan melirik kejahatan yang seolah berkuasa dan berkeliaran serta sesuka hatinya melakukan kejahatan. Tuhan adalah gunung baru dan perlindungan bagi orang benar dan penghukum atas kejahatan. Amin


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak 





DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...