Sabtu, 13 September 2025

SUKACITA MENYAMBUT ANAK YANG HILANG

 Kotbah Minggu XIII Stlh Trinitatis

Minggu, 14 September 2025

Ev. Lukas 15:11-32



Sukacita Atas Kembalinya Anak Yang Hilang


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati cerita anak hilang merupakan satu cerita yang sangat menarik dan sarat makna. Kisah ini mungkin terjadi sebagai pengalaman real dalam hidup kita sehari-hari, khususnya pengalaman orang tua terhadap anak. Mungkin kita sudah lelah menasihati namun tidak berobah, dia mengikuti kehendaknya seturut keinginanya. Namun waktu berjalan dan oleh pengalaman tertentu akhirnya menyesal dan bertobat. Mungkin juga pengalaman dalam keluarga di mana ada suami atau isteri yang tidak peduli dengan pasangannya sudah berulang kali berdiskusi dengan konselor rasanya pernikahan sukit untuk mempertahankan rumah tangganya, namun suatu ketika ada pertobatan hubungan-hubungan pulih dan kembali berbaik. Jika ada pertobatan semacam itu apa yang kita rasakan? Mungkin saja seseorang tidak langsung percaya, tunggu dulu apakah pertobatannya sungguh-sungguh? Alangkah bahagia rasanya jika pertobatan terjadi. Pertobatan mengembalikan seseorang kepada hidupnya sekaligus di dalamnya pemulihan hubungan yang rusak oleh karena kesalahan dan keinginan diri yang meninggalkan relasi-relasi sebelumnya. Alangkah sukacitanya penghuni sorga jika ada orang yang berrobat dan kembali ke pangkuan bapa.


Kotbah minggu ini tertulis dari Lukas 15:11-32. Judulnya sering dikenal dengan 'anak yang hilang" namun ada juga yang mememahi ini "kemurahan bapa yang tiada batas". Tergantung kepada anda dari mana memaknai cerita ini. Dari pengalaman real kita mungkin lebih tepat dengan judul kembalinya anak yang hilang namun dari segi pengajaran iman Kristen menggambarkan kasih Allah maka tepat juga dengan topik: kemurahan bapa yang tanpa batas.


Kisah ini menggambarkan seorang anak bungsu yang meminta warisan dari ayahnya sebelum waktunya, lalu pergi ke negeri jauh dan menghabiskan semua hartanya dalam hidup yang penuh dosa. Setelah jatuh dalam kehinaan—bekerja sebagai penjaga babi, pekerjaan yang hina bagi orang Yahudi—dia akhirnya menyadari keadaan tragisnya setelah terpuruk di kandang babi. Dalam keputusasannya, ia memutuskan untuk kembali kepada ayahnya dan memohon pengampunan. Apapun yang terjadi kemarahan atau belaskasihan namun berani kembali ke rumah bapa. Pertobatan harus berani mengambil resiko, kalau tidak tetap terpuruk.   


Baiklah kita mengambil beberapa pokok pentjng yang kita pelahari dsri kotbah ini dalam kehidupan kita.


1. Anak yang hilang - mencari kebebasan dan kepuasan diri.


Hal pertama dari kotbah ini yang menjadi pelajaran penting menurut saya adalah peringatan akan dosa. Setiap orang memiliki kehendak bebas, keinginan untuk bebas, mencari sesuatu yang belum pernah dimiliki atau dialami. Namun dalam mencari kenginan dan kepuasan diri justru disitu dekat dengan jurang kejatuhan manusia di dalam dosa.


Dalam kisah ini salah satu anak diceritakan memiliki perilaku ingin bebas. Dia tahu haknya dan meminta haknya itu dari ayahnya. Haknya itu akhirnya dihambur-hamburkan, bersenang-senang, mabuk-mabukan bersama teman-temannya hingga jatuh miskin. Selama persediaan kekayaannya ada dia masih pongah dan bangga akan kebodohannya dan melanjutkan dosanya. Akhirnya tibalah kemiskinan menimpanya, sahabatnya semasa bersenang-senang tidak ada lagi disampingnya, semuanya meninggalkannya. 


"Godang dongan mengkel, dongan tangis soada"

Ini suatu nasihat yang dikenal oleh orang Batak artinya: ada banyak teman merayakan sukacita, namun hanya sendirian yang menanggung pilu dan dltangis".


Sang anak yang mencari kepuasan diri jatuh kepada kemiskinan bahkan untuk makan pun tidak ada. Bekerja di kandang babi dan karena tidak tahan merasakan kelaparan akhirnya makanan babi pun dia makan. Sungguh suatu pengalaman yang memilukan hati, dirinya memberontak di dalam keterpurukan dan keputusasaan. Keadaan ini tidak dapat dilanjutkan maka muncullah ingatan akan kebaikan yang dimiliki dan ingatan itu menjadi titik awal untuk bertobat.


Kedaan ini hendak menasihatkan, penyesalan selalu datang terlambat. Jangan sampai jatuh sedemikian jauh. Maka kelolalah hidup kita dengan bersyukur. Jangan mencari kepuasan diri yang menghepaskan kita kepada situasi yang membuat kita sulit diperbaiki. Jika terlanjur salah mari perbaiki diri. Penyesalan memang terlambat, namun sekalipun terlambat lakukanlah pertobatan, Bapak yang murah hati menunggu kita. 


2. Beranjak dari kandang babi - bangkit dari keterpurukan


Adi sini ada dua kalimat yang mengharukan, pengakuan atas apa yang terjadi di dalam dirinya. Kedua kaliman ini menggambar pengakuan atas kesalahan dan keinginan untuk memperbaikinya. 


2.1. "Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku"


Kalimat ini menunjukkan kesadaran akan kebutuhan untuk berubah. Sang anak menyadari bahwa hidup dalam dosa tidak memberikan kepuasan, tetapi justru membawa penderitaan. Dia tidak hanya menyesali kesalahannya tetapi mengambil keputusan untuk bertindak kembali ke rumah Bapaknya. 


Hal menarik adalah ada kesadaran akan keadaan, jika tetap disitu hanya menunggu kematian. Mungkin pula ada pikiran, jika kembali dua konsekwensi akan terjadi, kemarahan atau penolakan dan resiko terburuk pun sudah dipikirkan, kalaupun tidak diterima kembali sebagai anak, menjadi hamba di rumah bapaknya juga sudah jauh lebih baik dari pada menunggu kematian di kandang babi. Maka dia pun melangkah untuk kembali.


Pertobatan sejati dimulai dari kesadaran. Kita harus menyadari bahwa tanpa Allah, hidup kita akan kehilangan arah dan damai sejahtera. Seperti anak yang hilang, kita seringkali tidak menyadari kehancuran spiritual akibat dosa. Namun, ketika kita merenungkan firman Tuhan, Roh Kudus menyingkapkan kesalahan kita dan mendorong kita untuk kembali kepada Allah.  


2.2. "Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa"


Dia menyadari kesalahannya, dan membayangkan bagaimana sikap sang bapa atas perbuatannya. Maka untuk memperoleh pengasihan dia secra terbuka menyampaikan kesalahan di hadapan Bapa. 


Ini mencerminkan pengakuan dosa. Ini merupakan pesan yang sangat berharga sang anak memahami bahwa dosa utamanya adalah melawan Allah (“sorga”) sebelum melukai sesama (dalam hal ini, ayahnya). Doa memyadari sepenuhnya bahwa hidupnya tidak akan berakhir di kandang babi, maka dengan penuh keberanian untuk mengaku dosa. Dia tidak mempertahankan egonya, tetapi dengan membuang segala rasa malu, mau mengakui kesalahan yang telah dilakulannya di dalam hidupnya. Dia juga tidak menganggap dirinya sebagai anak dihadapannya, tetapi seorang yang sadar akan dosa dan perbuatan.


Dalam kehidupan kita, dosa bukan hanya pelanggaran terhadap sesama, tetapi terutama terhadap Allah. Pengakuan ini menunjukkan kerendahan hati yang diperlukan dalam pertobatan. Mengakui dosa kesalahan adalah siarat mutlak untuk memperoleh pengampunan. Tidak semua orang yang menyadari dosanya berani untuk kembali. Ada rasa malu, takut ditolak, atau merasa tidak layak. Tapi Lukas 15:20 menunjukkan bahwa sang ayah berlari menyambut anaknya dengan pelukan, bahkan sebelum sang anak berbicara. Ini menunjukkan bahwa Allah selalu lebih dahulu menyambut kita dengan kasih-Nya.  


Sang bapa tidak mengingat kesalahannya, berapa kerugian yang ditimbulkan dan murkanya sudah dihapus dengan kesediaan kembali kerumahnya. Dari cerita ini kita menerima suatu penjelasan tentang hakekat Allah yang murah hatoi, terbua memaafkan dan mengampuni. Benar seperti yang disampaikan dalam oleh nabi Yesaya: 

Yesaya 1:18 (TB) Marilah, baiklah kita beperkara! — firman TUHAN — Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. 


3. Sukacita Sorgawi atas pertobatan*


Pengampunan tersedia, Allah dan penghuni sorgawi bersukacita menyambut orang yang berbalaik sebagaimana digambarkan dalam mazmur ini. 

Mazmur 103:8-13 (TB) TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. 

Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. 

Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, 

tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; 

sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. 

Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. 


Dalam perumpamaan ini dapat kialta ambil pelajaran sang ayah menggambarkan Allah, dan anak yang hilang melambangkan kita manusia yang seringkali menjauh dari kasih-Nya. Tindakan sang anak untuk kembali menggambarkan pertobatan, dan respons sang ayah yang penuh kasih menunjukkan sifat Allah yang siap mengampuni.  

  

Pengampunan Allah yang Penuh Kasih, Allah tidak menutup pintu untuk anaknya, namun rindu dan rasa haru yang mendalam. Begitulah sifat Allah yang menantikan pertobatan kita. Dalam ayat-ayat berikutnya (Lukas 15:20-24), sang ayah tidak hanya menerima anaknya kembali tetapi juga merayakan kedatangannya dengan pesta besar. Ini menunjukkan bahwa pertobatan satu orang berdosa membawa sukacita besar di surga (Lukas 15:7). 


Jangan takut untuk berbalik, Yesus sendiri menyambut dan menyatakan kepada orang berdosa: pada hari ini aku bersama-sama dengan engkau di dalam Firdaus. Dari pihak Allah tidak ada penghalang atau yang menghambat kita datang kepadaNya. Allah menunggu pertobatan kita. 


Salam dari Bandung: 

Pdt Nekson M Simanjuntak


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...