Sabtu, 23 Agustus 2025

KASIH SETIA TUHAN TETAP SELAMANYA

 KOTBAH MINGGU X STLH TRINITATIS

Minggu, 24 Agustus 2025

Ev. Mazmur 103:15-18



KASIH SETIA TUHAN TETAP SELAMA-LAMANYA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Kotbah Minggu ini mengajak kita merenungkan arti kehidupan. Pemazmur tidak membuat rumusan yang rumit untuk belajar memaknai hidup, tetapi dengan satu contoh yang berada disekeliling kita yaitu rumput dabn bunganta. Dengan contoh ini kita banyak belajar, hidup ini seperti rumput, rumput tidak pernah tumbuh tinggi, selain itu hanya segar di musim penghujan saat kemarau tiba akan kering di tiuup angin. Bahkan lebih pendek dari itu Pemazmur mengingatkan dengan keras bahwa kemuliaan dan kejayaan manusia hanya sesaat, seperti bunga di padang, segar dan mekar dipagi hari, siang menjelas sore sudah layu dan gugur. Demikian kemuliaan dan kejayaan manusia akan berakhir pula. Maka menjalani kehidupan ini harus dengan rendah hati, menyadari kehidupan ini hanya karena kasih setia Tuhan. 


Pelajaran berharga dari Mazmur ini dipakai oleh Rasul Petrus mengingatkan jemaat mula-mula, bahwa kita harus sadar sepenuhnya hidup ini singkat dan tidak ada kesempatan untuk memegahkan diri. Segera berlalu dan terbang ditiup angin hanya Firman Tuhan yang kekal selama-lamanya. Rasul Petrus mengingatkan itu pada 1 Petrus 1:24-25


Sahabat yang baik hati, Minggu ini kita diajak untuk memiliki hidup yang rendah hati, jauh dari kesombongan berpegang kepada Firman Tuhan dan hidup di dalam kasih setia Tuhan. Baiklah kita ambil beberapa pelajaran. 


1. Semuanya akan berlalu - seperti rumput dan bunga di ladang 


Mazmur 103:15-16 (TB) Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; 

apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. 


Who am I? Siapakah Aku? merupakan tema yang sangat mendasar didiskusikan setiap orang. Dengan pertanyaan itu kita menydari siapakan manusia dihadapan Allah, dihadapan sesama dan terhadap alam. Manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang sempurna, diciptakan segambar dengan rupa Allah dan memiliki amanat untuk memelihara dan melestarikan alam. Manusia diberikan akal dan pikiran membedakan dengan ciptaan lain. Manusia adalah ciptaan Allah. Manusia berasal dari tanah dan Allah sendiri yang menciptakan manusia segambar dengan rupa Allah. Kata Adam berarti tanah atau debu menjelaskan sesungguhnya manusa tidak berarti apa-apa, debu yang sewaktu-waktu dapat tertiup angin dan berlalu. Namun manusia berharga dimata Tuhan, Allah yang menghembuskan nafas kehidupan sehingga kita hidup. Makna pentiptaan ini hendak mengingatkan manusia tidak boleh meinggikan diri, sombong dan songong karena Allah yang membentuk kita sehingg kita berharga. 


Alkitab sangat menentang kesombongan manusia: Adam dan Hawa diusir dari Firdaus karena ingin sama seperti Allah. Allah menggagalkan pendirian Menara Babel yang hendak menggapai Allah. Firaun ditunggang balikkan di Laut Merah karena sombong dan menindas umat Allah. Nebukadnezar raja Babel yang meninggikan diri paling berkuasa diatas bumi akhirnya merumput. Kisah-kisah Alkitab yang menentang kesombongan (chauvenism) manusia adalah pelajaran agar kita manusia merendahkan diri dihadapan Tuhan. 


Demikianlah Kotbah Minggu ini, Pemazmur mengingatkan Manusia sama seperti rumput, selain pendek masanya juga sangat singkat. Bertumbuh di musim semi dan kering di musim gugut. Kemukiaan manusia, pencapaian dan kejayaannya sama seperti bunga di ladang, mekar wangi dipagi hari namun sesaat kemudian akan layu, terbakar dan tertiup angin. Jadi manusia tidak perlu memegahkan diri, jika ada keahlian, kemampuan dan kelebihan kita dari yang lain itu pun tidak menjadi alasan manusia memegahkan diri, karena kemuliaan manusia lebih pendek lagi sama seperi bunga di ladang, mekar dan semerbak di pagi hari, namun siang akan layu dan gugur. 


Pelajaran akan rumput dan bunga di ladang menyapa kita, siapa kita dihadapan Tuhan saat ini menemukan satu makna yang berarti kita adalah tanah liat yang tidak berharga hanya karena Tuhan kita hidup. Tuhan telah menganugerahkan kehidupan kepada kita mari semakin rendah hati. Jadikan hidup berarti karena waktu kita sesaat lamanya, hasilkan buah terbaik dan yang berguna bagi orang lain. 


2. Kasih setia Tuhan tetap selama-lamanya


Mazmur 103:17 (TB) Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, 


Jika hidup manusia sesaat, cepat berlalu maka apakah pegangan hidup kita? Tuhan Yesus berkata dalam Markus 13:31 "langit dan bumi akan berlalu namun Firmanku tidak akan berlalu. Jadi Firman Tuhan adalah pegangan yang abadi. Hal yang sama ditekankan oleh Rasul Petrus .

1 Petrus 1:25 (TB) tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu. 


Tuhan memberikan petunjuk hidup bagi ornag-orang yang dikasihinya. Bisa saja dalam hidup ini kita kecewa terhadap janji manusia, orang yang kita percaya hanya pemberi harapan palsu. Tidaklah demikian janji Tuhan. Janjinya tetap, Ia setia memenuhi janjinya. Kasih setianya kekal selama-lamanya. Yeremia menggubah satu syair dalam kitab Ratapan 3:22-23 (TB) Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! 

Ayat ini disampaikan saat mereka berkabung dalam pembuangan, nabi Yeremia meyakinkan bahwa kasih setia Tuhan tetap dan tidak akan berubah. 


Mungkin ada banyak harapan dan impian kita yang belum terwujud, janji Tuhan seolah belum terpenuhi dalam diri kita. Saat ini kita diyakinkan kembali bahwa kasih setia Tuhan tetap. Atau mungmin ada diantara kita yang mengalami kesusahan dan kesulitan seolah Tuhan tidak campur tangan dalam kehidupan kita. Hingga saat ini terus bertanya dimana Tuhan, kenapa belum menjamah hidupku? Saat ini Tuhan menyatakan bahwa kasih setianya tetap memelihara dan menyertai kita.  


Jika kesulitan menimpa, atau beban menimpa kita. Dalam.keadaan demikian kita merasa ditinggal dan tak ada pertolongan. Kotbah ini meneguhkan kita kasih setua Tuhan tetap selama-lamanya. 


3. Diberkatilahborang yang takut akan Tuhan dan berpegang pada perintahNya


Bagian terakhir dari kotbah ini, bahwa kita harus takut akan Tuhan dan berpegang pada janjiNya. 

Disini Pemazmur mengingatkan janji Tuhqn terhadap Musa. Setelah Musa memberikan dekalog ada hukuman dan janji. Tuhan akan menghukum orang yang tidak setia melakukan perintahNya namun Tuhan akan memberkati orang yang setia memelihara perintahNya. 

Keluaran 20:5-6 (TB) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, 

tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.


Takut akan atuhan dan berpegang kepada perintaaanya menuntut kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Kesetiaan dan ketaatan itu hanya bisa terjadi karena takut akan Tuhan. 

Jika kita boleh buat oerbandingan, jika ada orang yang kita hormati dan kita sayangi, rasa hormay dan sayang kita dibuktikan dengan tidak berani ingkar janji kepqdanya. Lebih dari itulah kitq mengadihi dan mengaati Tuhan dengan takut akan Dia.


Sejalan dengan itu, Marthin Luther memberikan penjelasan akan makna dari ke sepuluh Perintah atuhan dengan kalimat. Bahasa Batak: Ingkon haholonganta do Debata, jala umbiar jala umpos mida Debata sa mida nasa na adong. Ketaatan lepada Tuhan adalah bukti takut akan Tuhan. 


Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini memgingatkan kita agar selalu menyadari siapa kita. Jika ada sesuatu yang kita miliki syukurilah karena itu oemberiannya, jika ada sesuatu yangnkita banggakan dalam hidup ini persembahkanlah untuk kemuliaan Tuhan. Jika diberi kesempatan berjabatan atau memiliki posisi ingatlah itu adalah amanah dan waktunya akan berlalu. Amin


Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak


Sabtu, 16 Agustus 2025

MILIKILAH CARA HIDUP YANG BAIK DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK

 KOTBAH MINGGU IX STLH TRINITATIS

Minggu, 17 Agustus 2025

Ev. 1 Petrus 2:11-17



MILIKILAH CARA HIDUP YANG BAIK DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK


Selamat hari minggu! Sahabat yang baik hati, bagaimana orang Kristen hidup ditengah-tengah masyarakat majemuk, beda agama, ras, suku dan bangsa? Rasul Petrus dalam kotbah minggu ini memberikan pelajaran penting dimana orang percaya harus memiliki cara hidup yang baik. Cara hidup yang baik dimaksudkan oleg Rasul Petrus adalah cara hidup yang menghayati nilai-nilai kekristenan dan menjadi kesaksian bagi orang lain. Pesan ini sangat penging jangan sampai hidup orang percaya menjadi batu sandungan bagi orang lain.  


1. Cara hidup baik: sadar kita hidup di tengah masyarakat majemuk


1 Petrus 2:12 (TB) Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 


Pelajaran pertama dalam kotbah ini adalah kita harus menyadari bahwa kita hidup di dalam masyarakat majemuk, berbeda budaya, berbeds cara hidup yang baik atau hidup beretiket sadar dalam kemajemukan ganda. Gereja adalah persekutuan masyarakat yang majemuk dan tinggal pula di tengah-tengah masyarakat majemuk. Atas dasar inilah rasul Petrus mengingatkan jemaat mula-mula agar memelihara cara hidup yang baik. Cara hidup yang beretiket ini dituntut dari kenyataan bahwa jemaat mula-mula adalah majemuk, datang dari berbagai suku bangsa dan tradisi yang berbeda, dan mereka hidup di konteks masyarakat yang majemuk pula. Ajaran para rasul menjadi dasar penting yang dapat dikembangkan bagi jemaat agar memiliki cara hidup yang baik, yaitu hidup di dalam kasih. Kasih adalah nilai tertinggi dalam kehidupan umat manusia, yang didalamnya ada pengorbanan, hormat dan peduli terhadap orang lain. Jadi semakin kuatnya jemaat hidup di dalam etiket yang baik, itu merupakan cerminan dari semakin tingginya penghayatan akan nilai-nilai Kristiani yang terdapat dalam Alkitab. Paulus sendiri dalam 1 Kor 12:31 mengatakan bahwa kasih adalah jalan yang paling utama di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Inilah alasan Paulus menjelaskan arti kasih dalam 1 Kor 13:1dyb.


Etiket baik lahir dari kesadaran bahwa gereja mula-mula adalah majemuk. Semula memang jemaat yang percaya kepada Tuhan Yesus berasal dari kalangan Yahudi. Namun dalam Kis 9:15 Pertobatan Paulus ditetapkan menjadi Pemberita Injil kepada Non Yahudi (“kepada bangsa-bangsa lain, raja-raja dan orang-orang Israel”). Gereja mula-mula adalah hasil pemberitaan Petrus dkk dan hasil pemberitaan Paulus dan timnya membentuk jemaat-jemaat yang tersebar mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung bumi. Jemaat Kristen Mula-mula yang terdiri dari Yahudi dan non Yahudi, mereka datang dari berbagai kalangan bawah. Mereka umumnya adalah hamba, pekerja kasar dan pendatang di berbagai kota. Sekalipun demikian tidak sedikit di antara orang Kristen dari kalangan pejabat militer (Kornelius, Kis 10), pedagang Kain bernama Lidya( Kisah 16:40), pejabat pemerintah bernama Theofilus (Luk 1:1) dan orang terpandang di tengah-tengah masyarakat (Orang Tua Timoteus, Filemon, Publius) dll. Tentu latar belakang yang berbeda-beda dari setiap jemaat mewajibkan setiap orang percaya menyadari diri hidup dalam masyarakat majemuk. Kasus-kasus yang timbul di jemaat yang dihadapi Paulus banyak membahas bagaimana bersikap terhadap perbedaan (Korintus, Roma, Filipi, Koloses dll).


Kesadaran kedua adalah jemaat menyadari bahwa mereka hidup dalam masyarakat yang majemuk. Dengan demikian seorang Kristen harus memahami masyarakat setempat, kebiasaaan kaum Yahudi dan Orang Romawi dan kebiasaan mereka yang hidup dari pengaruh budaya Hellenisme. Inilah urgentnya Rasul Petrus memberikan nasihat kepada jemaat mula-mula agar memiliki cara hidup yang baik agar tidak menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Disini jemaat mula-mula dibekali agar memiliki sikap “Cross Culture” yang baik. Faktanya setiap orang pasti menjungjung tinggi budayanya, kebiasaannya namun gereja mula-mula sudah dibekali untuk menghargai orang lain, cara hidup kita jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Clash social (benturan sosial) sering terjadi ketika suatu tradisi dipaksakan bagi orang lain. Pengalaman ini juga terjadi dalam gereja Batak khususnya HKBP dalamnya pemahaman terhadap “sileban”. Di bawah tahun 1970an misalnya tidak sedikit orang Batak yang merantau merasa terasing karena menikah dengan perempuan non Batak yang dicajam itu disebut “halak sileban” (baca orang asing), akhirnya mereka meninggalkan HKBP dan menjadi jemaat teras di gereja-gereja berbasis nasional.


2. Cara hidup Yang Baik: menyadari diri sebagai pendatang dan perantau*


1 Petrus 2:13 (TB) Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,


"Si dapot solu do na ro", satu ungkapan orang Batak yang memiliki sikap adaptasi yang tinggi. Ungkapan ini muncul dari konteks danau Toba dimana kalau bepergian seseorang menggunakan solu. Maka saat bepergian tidak membawa solu dari kampungnya tetapi menggunakan solu yang ada ditempat. Maka sidapot solu berarti, apa yang tersedia di tempat itulah yang digunakan. 


Demikianlah kita harus hidup beradaptasi di mana kita tinggal beradaptasi, menaatati role dan tunduk kepada pemerintah lokal di mana mereka tinggal namun tetap mencerminkan nilai-nilai positip. 

Kontek kedua orang Batak dalam menjual beras harus menggunakan 'solup". Alat ukur beras, satu solup biasanya sekitar 2 liter. Jika ada orang datang mau membeli beras, maka solub yang digunakan adalah solup sang penjual. Ungkapan sidapo solup do naro menjadi falsafah sosial dalam upacara adat. Jika dua keluarga hendak.melaksanakan upacara adat maka pihak yang datang akan berkata: sidapot solup do na ro. Sebagai ungkapan kami bersedia mengikuti apa yang biasa dilaksanakan di kampung setempat.

Hal ini sangat menarik bahwa dalam kontek 1 Petrus ini kekristenan mengalami penindasan dan penderitaan,namun sekalipun mengalami pergumulan tetap dinasihati untuk tunduk kepada pemerintah dan ketentuan-ketentuannya. 

 

Berhubungan dengan itu, kotbah ini mengajak kita untuk mengenal diri dengan menanyakan: siapa aku (who am I), suatu pertanyaan yang harus terus menerus kita pertanyakan di dalam diri. Dengan pertanyaan ini, setiap orang mengenal dan menyadari dirinya siapa di hadapan Tuhan dan siapa terhadap sesama. Pengenalan diri sangat penting dengan mengenal diri kita dapat menempatkan diri terhadap orang lain. Petrus dalam nats ini mengingatkan jemaat mula-mula sebagai pendatang dan perantau. Orang asing dan perantau dalam konteks Perjanjian Baru tidak memiliki hak-hak sipil. Sering dicurgai dan dianggap sebagai orang yang memiliki niat jahat. Pendatang biasanya hanya dipekerjakan sebagai hamba, pekerja kasar dan sangat tergantung kepada tuannya. Namun dengan cara hidup yang baik, akan mengundang simpatik dan mereka akan diterima oleh masyarakat.


Alkitab mengajarkan pendatang harus dilindungi (Band Kel 20:10), orang Israel tidak boleh menindas mereka (Kel 22:21, 23:9; Imamat 19:33-34). Sekalipun demikian orang asing sering dianggap sebagai pembawa berhala (Yes 2:6-8), dilarang menikah dengan orang asing (Neh 13:26-27; Ezra 9-10). Namun di dalam Perjanjian Baru, orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang hidup didalam satu persekutun bahwa setiap orang bukan lagi sebagai pendatang atau orang asing, tetapi sebagai saudara pewaris kerajaan Allah. Hal ini ditegaskan oleh Paulus: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asingdan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” (Efesus 2:19). Konsep Perjanjian Baru dengan keselamatan di dalam Yesus Kristus mengubah cara pandang tentang orang asing. Di dalam Kristus semuanya bersaudara dan menjadi satu keluarga Allah.


Perjanjian Baru juga mengingatkan bahwa kita di dunia ini adalah orang asing dan pendatang, karena kewarga negaraan kita adalah di dalam sorga (Baca Filipi 3:20) Dalam Ibrani 11:9-16 mengingatkan bahwa orang percaya diam di tanah orang asing, dan menantikan kota yang yang direncanakan dan dibangun Allah, yaitu kehidupan kekal. “Karena itu di sini kita mempunyai tempat yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.” (Ibrani 13:14).


Dari apa yang diingatkan oleh Petrus bahwa kita adalah orang pendatang dan perantau, mengingatkan dua hal, relitas sosial kehadiran di tengah-tengah masyarakat dan realitas theologis bahwa kita adalah orang asing di dunia ini. Kita adalah warga kerajaan Allah yang sedang menunggu kedatangan Yesus Kristus membawa orang percaya ke Yerusalem yang Baru. Selama penantian itu orang Kristen harus hidup melawan keinginan daging tetapi harus memenangkan kehidupan rohaninya (Galatia 5:16).

Dengan pesan rasul Petrus ini gereja selama di dunia ini harus hidup dengan cara hidup yang baik, saling menerima sebagai saudara dan pewaris Kerajaan Allah, saling menasihati dan menguatkan agar dapat melakukan cara hidup yang baik di tengah-tengah masyarakat.


3. Cara terbaik melawan fitnah tidak membalaskan kejahatan.


1 Petrus 2:15 (TB) Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.


Jemaat mula-mula banyak memiliki penderitaan, banyak tuduhan dan fitnah terhadap jemaat mula-mula. Ada dua tiga fitnah terburuk yang disampaikan kepada jemaat mula-mula, yaitu; kanibal, amoral dan pemberontak. Tuduhan kanibal karena “meminum darah anak manusia”. Padahal ini adalah Ibadah perjamuan Kudus yang menerima keselamatan dengan memakan roti dan minum anggur untuk mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu Salib, namun sengaja diplintir oleh orang-orang yang tidak menyukai Kekristenan. Selain itu ada fitnah terhadap gereja mula-mula sebagai komunitas “asusila” karena mereka dalam setiap perjumpaan jemaat ada “cium kudus.” Cium kudus ini berulang ulang kita temukan di dalam PB ( Rom 16:16; 1 Korint 16:20; 2 Korint 13:12), 1 Tes 5:26), 1 Petrus 5:14). Padahal ini adalah ungkapan perasaan adanya kedekatan dalam komunitas, salam dan penghormatan. Hal ketiga adalah kaum Romawi (Herodian) terus mensiasati jemaat mula-mula karena dianggap berkomplotan dengan kaum Zelotis yang membuat pergerakan melawan romawi untuk kemerdekaan Yahudi.


Menghadapi semua fitnah ini, tidak sedikit jumlah orang percaya telah menjadi mati martyr, dikejar, dianiaya bahkan dieksekusi mati tanpa pengadilan baik oleh Pengadialan Agama Yahudi dan oleh Penguasa Romawi. Semua itu adalah penderitaan dan konsekwensi mengikut Yesus. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24) Apakah semua kekuatan orang percaya dalam menghadapi tuduhan dan fitnah semacam itu. Rasul Petrus memberikan nasihat yang berharga, yaitu: Cara hidup yang baik. Fitnah bisa saja berkuasa memutar balikkan fakta, dan menghantarkan orang menderita dan memasukkan ke dalam penjara. Namun kebenaran akan menang atas segala akal busuk, propaganda dan fitnah.


Milikilah cara hidup yang baik. Suatu nasihat ysng mengajsk kita saat ini memiliki pengaruh positip bagi orang lain. Di mana kita tinggal aroma positip terpancar dari hidup orang percaya. 


*Penutup*


1. Orang percaya harus menyadari kepelbagaian dan kemajemukan, kita hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk, berbeda bahasa, budaya, agama danerbedaan lainnya. Perbedaan bukanlah suatu hal yang harus diharamkan, namun di dalm perbedaan itu kita diajak untuk saling menghargai orang lain. Dengan pesan ini kita semakin meningkatkan saling menerima, menghargai dan memelihara perdamaian. Hidup demikian akan menjadi terang bagi sekitarnya.

Dalam 1 Petrus 2:17 dikatakan: “Hormatilah semua orang, kasihlah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!


2. Jemaat semakin menyadari bahwa kita orang asing dan pendatang di dunia ini baik dari segi realitas sosial dan juga dari realitas teologis. Dunia ini adalah tempat kita sementara dan di dunia yang sementara ini kita harus memancarkan cara hidup yang baik, penuh damai dan saling menerima sambil menantikan dunia yang baru yang kita nanti-nantikan. Benar apa yang disampaikan oleh Paulus dalam Rom 13:12-13

“Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!

Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.”


3. Kita bergumul dan berhadapan dengan dunia ini yang tidak menghendaki kehendak Allah. Karena itu cara hidup kita harus berbeda dengan dunia ini. Sedangkan sudah berbuat baik masih dimusuhi, dikutuki dan dicaci maki apalagi cara hidup kita yang tidak berpaut dengan Allah. Maka cara hidup kita harus berbeda, bersikap baik, berpikir positip, attitude yang baik serta memiliki karakter baik yang memiliki pengaruh positip bagi orwng lain. Jika dunia ini melakukan kejahatan jangan balaskan cara dunia ini dengan membalaskan kejahatan melawan kejahatan. Tetapi kalahkan kejahatan dengan cara yang hidup yang baik (Band. Rom 12:21). Dengan sikap demikian orang Kristen akan memenangkan segala fitnah dan berbagai ketidak adilan yang dialami oleh orang percaya. Amin


Salam

Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 09 Agustus 2025

MATA TUHAN TERTUJU KEPADA ORANG YSNG TAKUT ALAN DIA

 Kotbah Minggu VIII Stlh Trinitatis

Minggu, 10 Agustus 2025

Ev. Mazmur 33:12-22


MATA TUHAN TERTUJU KEPADA ORANG YANG TAKUT AKAN DIA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu ini merupakan mazmur pengajaran yang menekankan berbahagia orang yang mempercayai dan memiliki iman kepada Allah Israel. Alasan bahagia itu dijelaskan oleh pemazmur, Dialah Allah yang Maha Kuasa, Pencipta, Pemelihara, Penyelamat dan Pelindung atas seluruh ciptaanNya. Segala sesuatu oleh Dia dan tunduk kepada Dia. 


Mazmur pengajaran ini berisi pujian, menaikkan puji-pujian kepada Allah atas segala kuasanya. Mazmur 33 ini sekaligus juga mengingatkan tentang keberadaan manusia di hadapan Tuhan. Manusia tidak dapat menyelamatkan diri oleh karena kekuatan dan kelebihannya sendiri. Keselamatan hanya dari Tuhan. Harus pula disadari jika manusia bisa menjalani kehidupan ini, bukan karena kuat dan kemampuannya tetapi semuanya karena anugerah. 


Berkaitan dengan topik minggu ini, Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut akan Dia, meyakinkan kita bahwa mempercayai Tuhan yang kita kenal di dalam nama Yesus Kristus akan mendapat pertolongan dan pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak membiarkan kita menghadapi kesulitan sendirian. Memang, akan selalu ada tantangan dan badai, pendritaan bisa saja menimpa orang benar. Masalah yang kita hadapi tidak lebih besar dari kuasa Tuhan yang menyelamatkan atau dengan kata lain, jika anda merasa persoalanmu besar dan tidak berdaya menanggungnya maka percayalah kuasa Tuhan itu jauh lebih besar dari permasalahanmu. Keyakinan seperti itulah yang harus kita pegang teguh, jadi sekalipun kita seolah tidak berdaya menghadapin beban dan pergumulan hidup, tetapi percayalah kuasa Tuhan jauh lebih kuat dan lebih dahsyat dari kempuan kita sendiri. 


Baiklah kita mengambil beberapa pelajaran dari kortbah ini:


1. Tuhan pelindung: sekakipun jauh namun tetap dekat


Mazmur 33:13 (TB) TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; 


Pemazmur memberikan gambaran tentang Allah, Dia berdiam di sorga namun matanya tertuju kepada umat pilihanNya. Dia Jauh diatas sana namun nekat bagi umatNya. Pandangan in memberikan kepastian bagi kita bahwa Allah itu sekalipun trancenden namun juga immanen. 


Sekalipun Tuhan jauh ditemoat yang maha tinghi namun Tuhan melihat semua anak manusia.

Istilah semua anak manusia digunakan oleh pemazmur bahwa Allah adalah Allah yang universal. Keuniversalan Allah disebukan dengan istilan "semua anak manusia" (13), kemudian "penduduk bumi" (ay 14). Kedua istilah ini menggambarkan Tuhan mengasihi manusia tanpa membedakan siapapun.


Pandangan universal ini sering bertentangan dengan pandangan Yudaistik yang eksklusif, seolah Israel umat pilihan yang lain umat yang hatus dihukum, mereka umat diberkati dan bangsa lain umat yag dikutuki. Apa yang ditekankan kotbah ini adalah hidup yang inklusif. Percaya kepada Tuhan Allah Israel mendorong kita hidup saling terbuka dan menerima yang satu dan lain sebagai umat yang dikasihi oleh Allah. 


2. Keselamatan hanya dari Tuhan


Dalam menjalani hidup ini akan selalu ada tantangan, ancaman dan tekanan, darimana kita mendapat pertolongan? Di dunia ini penguasa menjadi sandaran banyak orang berlindung dari tekanan atau mungkin keperkasaan seorang pahlawan. Artinya orang kuat dan berkuasa menjadi sandaran bagi orang mendapat perlindungan.


Mazmur 33:16 (TB) Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa; seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan. 


Dengan kotbah Minggu ini kita beroleh penceraham bahwa baik raja atau pun pahlawan tidak dapat menyelamatlan manusia. Hanya dari Tuhanlah pertolongan dan keselamatan bagi manusia. 


Di dalam kitab Mazmur sangat banyak kita temukan nats yang menjelaskan tentang Tuha lah penolong dalam hidup kita. Kekuatan manusia terbatas maka jangan beraandar kepafa orang hang berkuasa. Raja juga tidak dapat menyelamatkan kita dari segala kekusahan. Berikut ini beberapa ayat yang menjelaskan pertolongan Tuhan. 


- Mazmur 121:1-2 (TB) Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? 

Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 


- Mazmur 121:2 (TB) Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 


- Mazmur 124:8 (TB) Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 


Hal inilah yang harus kita yakini dan percayai, Tuhan penolong bagi kita. Matanya tertuju kepada orang-orang yang dikasihiNya.


3. Jiwaku menanti-nantikan Tuhan


Hal ketiga dari kotbah ini mengajarkan tentang kesabaran. Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan jangan mudah berputus asa, jika jawaban doa kita belum terwujud jangan berputus asa namun sabarlah menantikan Tuhan. 


Mazmur 33:20 (TB) Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! 


Ada dua istilah yang dipakai pemazmur alasan menantikan Tuhan yang pertama Tuhan penolongn, dan pertolongannya sesuai dengan harapan kita. Kedua, Tuhan perisai, perisai digunakan oleh prajurit mengahadapi musuh. Perisai berfungsi membentengi diri seorang prajurit dari berbagai serangan musuh sehingga dia bisa terlindung dari berbagai serangan.


Jiwaku menanti-nantikan Tuhan menekankan tetap percaya bahwa Tuhan akan datang menolong kita. Selain itu, kita bisa bertahan karena Dialah perisai kita.


Kedatangan Tuhan tidak perlu diragukan, karena Tuhan itu setia. Kasih setianya tidak akan berupa baik kemarin, kini dan selama-lamanya.

Mazmur 33:22 (TB) Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu. 


Selamat merayakan kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup ini. Tuhan mem


berkati!


Salam dari: 

Pdt Nekson M Simanjuntak



Sabtu, 02 Agustus 2025

KENAKANLAH MANUSIA BARU!

 Kotbah Minggu VII Stlh Trinitatis

Minggu, 3 Agustus 2025

Ev. Kolose 3:5-11



KENAKANLAH MANUSIA BARU


Selamat Hari minggu, sahabat yang baik hati tema menjadi manusia baru salah satu topik yang sangat menarik untuk didiskusikan. Baik dari dasar teologinya maupun implikasi praksis hidup orang yang telah diperbaharui Kristus. Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita dan selanjutnya bagaimana kita meresponse keselamatan di dalam Kristus? Salah satu yang digunakan oleh rasul Paulus di dalam surat Kolose adalah mengunakan istilah "manusia baru". Dengan istilah ini Paulus hendak membedakan hidup sebelum menerima Kristus dan hidup sedudah menerima Kristus. Dahulu sebelum mengenal Kristus kita menghidupi manusia lama, hidup di dalam dosa dan berbagai sifat dan perilaku buruk, namun sekarang setelah menerima Yesus Kristus kita meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru. 


Jika kita baca keseluruhan Pasal 3, sebenarnya perikop kotbah minggu ini tidak bisa dipisahkan sampai dengan ayat 17. Karena disitu kita menemukan secara kongkrit apa yang ditanggalkan, apa yang harus dibuang dan apa yang harus dilakukan dan digunakan. Setelelah menanggalkan manusia lama kita memasuki era baru di dalam Kristus. Kita menjadi manusia baru siap untuk memiliki karakter yang dipenuhi belas kasihan (ayat 12), hati yang penuh pengampunan (ayat 13), memiliki kasih (ayat 14), damai sejahtera (ayat 15), menjadikan firman Tuhan sebagai pelita kehidupan sehingga pujian dan syukur senantiasa melimpah dalam hidup (ayat 16), dan memusatkan seluruh aktivitas hidup hanya terarah kepada Kristus saja (ayat 17). 


Menjadi manusia baru juga berarti hidup bersama dengan anak-anak Allah lainnya di dalam sebuah persekutuan. Persekutuan yang dimaksud adalah pertama-tama memiliki hubungan yang dekat/intim dengan Allah dan juga dengan sesama. Hubungan ini perlu dibangun secara terus-menerus dan diusahakan setiap saat. Karena Allah menuntut perubahan untuk selamanya, bukan perubahan yang sebentar saja lalu ia kembali lagi ke

kehidupan lamanya. Paulus dalam suratnya juga membahas persekutuan dengan sesama orang percaya. Ia menggambarkan bahwa gereja bukanlah sekumpulan individu melainkan sebuah kumpulan sejarah mengenai Kristus di dunia melalui hidup orang percaya. 


Sahabat yang baik hati. Dalam nats kotbah ini Paulus menjelaskan tiga hal yang harus dilakukan oleh manusia baru. Pertama matikahlah, ada sesuatu yang harus diatikan agar tidak tumbuh lagi. Kedua, buanglah sesuatu yang tidak berguna harus kita buang, sifat itu harus dibuah karena jika fibiarkan maka lama kelamaan akan membusuk dan ketiga perintah kenakanlah, ada sesuatu yang harus kita kenakan yaitu menghidupi kehidupan baru di dalam Kristus


Berikut ini baiklah kita dalami satu persatu.


1. Matikanlah, 


Kolose 3:5-6 (TB) Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].


Hal pertama diperintahklan oleh Paulus adalah, "matikanlah" Kenapa harus dimatikan karena berbahaya. Kalau ibarat dalam tubuh, ibarat virus yang mematikan, atau jika didalam tanaman ini seperti hama yang jika dibiarkan hidup pada akhirnya akan membunuh induknya. Maka harus dimatikan.


Jika kita ceck dalam bahasa Yunani Paulus menggunakan: nekrotete, νεκρωσατε artinya: matikanlah, atau bunuhlah sama seperti orang berhadapan dengan musuh harus dimatikan kalau tidak musuh akan mematikan kita. Jadi Disini ada imperatip untuk mematikannya. Memang di dalam ayat sebelumnya Kristus telah mebebus kita dari kuasa dosa, maka orang yang hidup di dalam Kristus memiliki kekuatan (dynamic) untuk mematikan perbuatan dosa di dalam dirinya. Mematikan disini bukan mematikan fisik, tetapi perbuatan yang telah diuraikan oleh Paulus. 


Demikianlah Paulus menjelaskan bahwa manusia harus mematikan beberpa virus yang akan mematikan manusia itu, yakni: 


1. Percabulan dosa seksual - Porneian (πορνείαν)

2. Kenajisan: perbuatan yang diharamkan - Akatharsian (ἀκαθαρσίαν)

3. Hawa nafsu: sifat keinginan atau kepuasan diri sendiri - Pathos (πάθος)

4. Nafsu jahat: keinginan untuk meyakiti dan menyusahkan orang lain - Epithymian kakēn (ἐπιθυμίαν κακήν)

5. Keserakahan: sikap yang tidak pernah puas dan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan - Pleonexian (πλεονεξίαν)

6. Penyembahan berhala: yakin dan mengikuti berhala demi kesusksesan dan kekayaan dan kemakmuran - Eidololatria (εἰδωλολατρία)


Apa yang disampaikan oleh Paulus ini adalah Paulus menghendaki kita mengakhiri dosa. Kita harus mematikan sifat dan perbuatan yang pada akhirnya disadari atau tidak di sadari hanya akan mendatangkan kebinasaan pada manusia itu sendiri. Paulus membandingkan kehidupan yang lama (sebelum mengenal Kristus) dengan kehidupan yang baru. Dalam kehidupan yang lama, manusia hidup menurut "anggota-anggota tubuh" yang memuaskan nafsu dosa. Dalam kehidupan yang baru, orang percaya dipanggil untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging.

Jadi, ketika Paulus berkata "matikanlah," ia tidak sedang menyuruh kita melakukan tindakan fisik yang merugikan diri sendiri. Sebaliknya, ia sedang mengajak kita untuk melakukan tindakan rohani yang radikal: menolak dan mengakhiri kekuasaan dosa dalam hidup kita, karena kita sudah mati bersama Kristus dan dibangkitkan bersama-Nya dalam hidup yang baru. 



2. Buanglah, 


Kolose 3:9 (TB) Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,  


Kata kedua yang dipakai Paulus dalam kotbah ini dalam ayat 8 adalah: "buanglah. Kata Yunani yang dipakai untuk "Buanglah" adalah ἀποθέμενοι (apothemenoi). Seperti yang disebutkan sebelumnya, kata yang digunakan adalah apothemenoi (ἀποθέμενοι). Ini adalah bentuk participle aorist tengah dari kata kerja apotithemi (ἀποτίθημι). Secara harfiah, apotithemi berarti "meletakkan sesuatu," "menanggalkan," atau "membuang." Konteks yang paling umum adalah menanggalkan pakaian.


Dalam hal ini dalam Alkitab, kata ini sering digunakan dalam metafora yang kuat. Menanggalkan pakaian lama: Paulus menggunakan gambaran ini untuk membandingkan kehidupan lama sebelum mengenal Kristus dengan pakaian yang harus dilepaskan. Konsekuensi dari keselamatan: Ini bukan sekadar saran, tetapi perintah yang mendesak. Setelah seseorang menerima Kristus, ia harus secara aktif melepaskan atau "membuang" segala sesuatu yang termasuk dalam kehidupan lamanya.


Apa yang Harus Dibuang? Paulus merinci lima hal yang harus "dibuang" di ayat 8:

1. Kemarahan (orgēn - ὀργὴν): Ini merujuk pada kemarahan yang mendalam dan berjangka panjang, seperti dendam atau kebencian yang disimpan dalam hati.

2, Kegeraman (thymon - θυμὸν): Ini adalah kemarahan yang meledak-ledak dan tiba-tiba. Paulus membedakan antara kemarahan yang terpendam (orgēn) dan kemarahan yang eksplosif (thymon).

3. Kejahatan (kakian - κακίαν): Kata ini merujuk pada niat jahat atau keinginan untuk merugikan orang lain. Ini adalah karakter dasar yang tidak baik.

4. Fitnah (blasphemian - βλασφημίαν): Secara umum, ini berarti ucapan yang merendahkan, menghina, atau merusak reputasi, baik terhadap manusia maupun terhadap Allah.

5. Kata-kata kotor (aiskhrologian - αἰσχρολογίαν) dari mulutmu: Ini adalah kata-kata yang tidak pantas, cabul, atau vulgar yang keluar dari mulut. Paulus secara spesifik menyebutkan "dari mulutmu" untuk menekankan bahwa dosa ini berkaitan dengan perkataan.


Mengapa Harus Dibuang?

Ada beberapa alasan mendalam mengapa Paulus memerintahkan hal-hal ini untuk dibuang.  


Berhubungan dengan diri yang lama: Semua perilaku ini adalah bagian dari "manusia lama" yang sudah mati bersama Kristus. Jika seseorang telah dibangkitkan dalam Kristus, maka tidak masuk akal jika ia masih "mengenakan" atau mempraktikkan hal-hal dari kehidupan lamanya. Ini adalah inkonsistensi yang fatal dalam iman.


Menghalangi pertumbuhan spiritual: Dosa-dosa ini, terutama yang berkaitan dengan relasi sosial (kemarahan, fitnah), menghalangi kesaksian yang baik dan merusak persekutuan dengan sesama orang percaya.


 Agar bisa mengenakan manusia baru: seperti halnya kita membuang pakaian kotor sebelum mengenakan pakaian bersih, anda harus membuang perbuatan-perbuatan lama agar bisa "mengenakan" manusia baru (ayat 10) yang mencerminkan karakter Kristus.

 

Apa yang disampaikan Paulus disini berkaitan dengan makna Baptisan. dalam Roma 6, Paulus menjelaskan bahwa baptisan adalah simbol kematian terhadap dosa dan kebangkitan dalam kehidupan baru. Perintah "membuang" ini adalah aplikasi praktis dari kebenaran teologis tersebut. 


Jadi, perintah "buanglah" di ayat 8 adalah panggilan Paulus agar orang percaya secara sadar dan aktif menanggalkan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan identitas baru mereka di dalam Kristus, sehingga mereka dapat hidup sesuai dengan panggilan mereka yang suci.


Dengan menggunakan matikanlah dan buanglah akan melengkapi kondinsi manusia baru, hidup di dalam Kristus dan jauh dari pengaruh dosa dan segala perbuatan dosa. 


3. Kenakanlah Manusia Baru.


Pada bagian ketiga ini Paulus menganjurkan etika hidup orang percaya, Paulus menganjurkan agar kita "mengenakan", dari ayat 10-17 Paulus memberikan karakter hidup orang percaya. seseorang yang benar-benar menghidupi kehidupan baru di dalam Kristus mencerminkan karakter hidup orang percaya. Nasihat ini sama dengan beberapa nasihat Paulus di beberapa suratNya. Salah satu yang menarik adalah di dalam 

Galatia 2:20 (TB) namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. 


atau selanjutnya kita baca dalam Roma 8:10-11 (TB) Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.  


Jika manusia lama telah mati, dan segala perbuatan dosanya telah kita buah, maka yang tercermin dalam hidup kita adalah Karakter Kristus. Paulus menyerbut dalam ayat selanjtnya disebut: Umat Pilihan. 

Selain umat pilihan kita juga ditetapkan menjadi umatNya yang kudus milik kepunyaan Allah. Kristus telah menguduskan kita melalui darahNya yang tercurah di kayu salib. 1 Petrus 1:15 (TB) tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,


Mengapa Allah menetapkan kita menjadi orang pilihannya karena Allah hendak memakai orang pilihanNya mewujudkan rencana Allah di dunia ini. Seturut dengan itu kita harus mau dibentuk agar memiliki pribadi yang seturut kehendakNya. 


Dalam kotbah ini ada 6 cerminan hidup yang dimiliki oleh orang pilihan Allah, yaitu: Kolose 3:12-14 (TB) Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 


1. Belas Kasihan

Kata yang sering digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan pekerjaan Yesus. Dalam pelayanannya melihat berbagai persoalan hidup orang banyak: sakit, pergumulan dan harapan maka Yesus tergerak hatiNya oleh belas kasihan. Kata belas kasihan ini menunjukkan sikap peduli dan mau melakukan sesuatu dari suatu kerpihatinan kepada suatu keadaan yang lebih baik. (Band Mat 9:13, 36; Mat 12:7 dll)


2. Kemurahan

Kemurahan adalah sifat Allah yang murah hati. Dermawan dan ada hati yang mau berbagi bagi orang lain. Tidak pelit dan kikir namun dengan kesadaran bahwa dirinya dipakai Tuhan menjadi saluran berkat bagi orang lain. Murah hati berarti sedia kala mempersembahkan apa yang ada padanya untuk kebaikan orang lain. Lukas 6:36 (TB) Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Band Mat 5:7)


3. Kerendahan Hati

Pribadi mulia dalam diri seseorang, sekalipun telah melakukan banyak hal namun tetap menganggap bahwa apa yang dilakukannya belum bersrti apa-apa. Niat yang tulus melayani tanpa ada keinginan untuk dihargai. Sifat rendah hati adalah kesediaan melayani, merendahkan diri dan melakukan orang lainnlebih utama dari diri sendiri. (Band Fil 2:5-8)


4. Kelemah Lembutan

Satu nats emas dari kotbah Tuhan Yesus: berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi (Mat 5:7). Kelemah lembutan ini adalah cerminan pribadi yang tetap membuka hati akan setiap permasalahan: tenang dan penuh damai dalam mengatasi dan menyelesaikan segala permasalahan.


5. Kesabaran.

Sabar adalah pribadi yang bertekun menanti keputusan Tuhan yang terbaik dalam hidup. Kata ini menunjukkan kesediaan menunggu dan menantikan keputusan Allah. Tidak semua apa gang kita harapkan terjadi seturut dengan kehendak kita. Selain itu kata sabar juga memiliki arti pengampunan, tidak mendendam atas perbuatan orang lain pada kita, tetapi berdoa dan mau mengampuni orang lain.(Kol 3:13; Rom 12:12 dll)


6. Kasih

Kasih adalah landasan hidup orang Percaya, kita mengasihi karena Kristus telah lebih dahulu mengasihi kita. Ajaran Yesus adalah kasih dan totalitas hisup pengikutnya hidup di dalam kasih. Ikatan sosial, ikatan keekluargaan dan hidup dalam relasi dengan orang lain berlan daskan kasih. 


Keenam karakter diatas menjadi kualitas pribadi yang kita harus miliki, hidup di dalam kasih dan memelihara kekudusan.


Sahabat yang baik hati! 

Kotbah Minggu ini sebagaimana tmea miggu mengenakan manusia baru: kita melakukannya dengan mematikan dosa, dan membuat sifat dan perilaku dosa serta mencerminkan hidup umat pilihan Allah. Kita tentu bangga menjadi umat pilihan namun harus mengenakan manusia baru. Setiap orang akan bangga jika disebut sebagai orang pilihan namun menjadi orang pilihan diikuti dengan tanggungjawab. Amin. 


Salam;

Pdt Nekson M Simanjuntak

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...