WASPADAI PERKATAAN YANG MEMECAH BELAH
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Kamis, 01/06/2017
1 Samuel 24:9 (TB) (24-10) Lalu berkatalah Daud kepada Saul: "Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu?
1 Samuel 24:9 (UKJV) And David said to Saul, Wherefore hear you men's words, saying, Behold, David seeks your hurt?
Dalam berbagai kasus ada konflik tanpa mengetahui akar permasalahan yang sesungguhnya. Dua sahabat bisa saling membenci dan bahkan saling menyakiti. Marah dan membenci karena prasangka atau data yang failed yang disampaikan orang ketiga. Tanpa membenarkan konflik, tentu kita semua tak berterima jika difitnah dan dijelek-jelekkan orang lain. Kadang tanpa berpikir panjang langsung naik darah, emosi dan menimbulkan pertengkaran hingga kebencian mendalam. Padahal hanya ulah "sipahit lidah" orang ketiga sengaja memprovokasi dan membuat gaduh. Dalam bahasa Batak tipe orang ini disebut dengan: "dila pamolamola" artinya lidah yang pemecah belah yang menyebarkanngosip dan fitnah. Lidah pemecahbelah ini biasanya: menangkap perkataan orang dan menyampaikan perkataan dengan maksud agar seseorang itu membeci yang dimusuhinya bahkan jika perlu mengarang cerita yang macam-macam. Banyak korban perselisihan bahkan hingga perceraian keluarga karena ulah semacam itu. Benar apa yang disampaikan oleh Yakobus bahwa agar hati-hati terhadap lidah (Yakobus 3). Jagalah perkataan yang membuat orang lain tersinggung atau perkataan atau cerita yang membuat orang membenci orang lain.
Perselisihan Saul dan Daud begitu mendalam hanya karena perkataan orang. Awalnya tidak ada permusuhan dari mereka berdua, namun perkataan orang yang memuji Daud ketika mengalahkan Goliat, dimana para perempuan menyanyikan: "Saul mengalahkan musuh beribu-ribu, namun Daud berlaksa-laksa." Nyanyian itu membuat Saul geram dan marah pada Daud. Jika kita telisik, sebenarnya Daud telah hadir sebagai penolong dan pembantu Saul. Daud mengalahkan Goliat yang membuat Saul gemetar dan ketakutan. Ketika Roh Tuhan undur sari Saul, mengalami goncangan kejiwaan, namun Daud memainkan kecapi dan menyanyikan Mazmur sehingga pikirannya tenang.
Selain nyanyian yang membuat Saul geram itu, rupanya ada juga disekitar Saul yang meracuni pikirannya bahwa Daud adalah musuh bahkan berencana membunuh Saul. Saul pun makin geram hingga mengejar dengan tiga ribu pasukan untuk menangkap dan membunuh Daud. Suatu ketika Saul memasuki padang gurun En Gedi, masuk ke gua. Tanpa disadari Saul, Daud memotong punca jubahnya. Sebagai simbol sesungguhnya nyawanya telah di tangan Daud jika dia mau. Namun Daud tidak menjamah Saul karena Daud sadar bahwa Saul adalah orang yang diurapi Tuhan. Pengikut Daud mendesak hendak membunuh Saul namun Daud tampil memerintahkan agar tak menyentuh Saul yang diurapi itu. Ketika Saul hendak beranjak, Daud menyampaikan kekeliruan Saul terhadapnya: mengapa mendengar perkataan yang menghasut dan memfitnah Daud. Hingga Saul terperdaya bahwa Daud musuhnya yang berikhtiar mencelakainya. Atas peristiwa ini Saul menyesali dirinya, menangis dan menyesal. Daud telah melakukan yang baik pada dirinya padahal dirinya selalu merencanakan kejahata dan upaya mencelakainya.
Anda pernah difitnah, dihasut dan mungkin disakiti oleh orang lain. Tiada kesempatan membela diri atau menjelaskan perkara yang sebenarnya. Bersabar dan berdoa, waktunya akan tiba sesuai dengan rencana Tuhan kebenaran akan terungkap secara terang benderang seperti kisah Daud di atas. Pelajaran kedua dari renungan hari ini mengingatkan kita agar lebih hati-hati berbicara apalagi sikap dan perbuatan yang dapat membakar kebencian dan amarah. Ada banyak kebenaran yang perlu kita tahu namun tak perlu disampaikan pada orang lain jika itu dapat membakar amarah seperti menyulut api pada bensin. Bahkan kita harus menjadi orang yang membawa kesejukan, merajut dan mempertebal kebersamaan dan persahabatan. Jauhkanlah diri dari "dila pamolamola" (lidah pemecah) namun jadilah pembawa kesejukan dan kedamaian bagi sesama.
Rabu, 31 Mei 2017
Selasa, 30 Mei 2017
SABAR DAN TEGUH HATI
SABAR DAN TEGUHKANLAH HATIMU
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati marilah megambil waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Rabu 31/05/2017
Yakobus 5:8 (TB) Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
James 5:8 (UKJV) Be all of you also patient; establish your hearts: for the coming of the Lord draws nigh.
Kesabaran adalah buah iman. Rasul Yakobus berulang kali menasihatkan jemaat mula-mula untuk sabar dalam penderitaan. Kesabaran sangat dibutuhkan dalam siatuasi yang menghimpit mereka. Kesabaran ini penting, karena kita tau bahwa semakin mengeluh tentu beban berat semakin menekan, semakin bersungut-sungut semakin menyerang daya tahan tubuh dan semakin menyalahkan orang lain atas situasi sulit yang kita hadapi akan semakin melemahkan diri sendiri dan tak kuat memikul beban hidup. Cara terbaik adalah bersabar dan meneguhkan hati dalam menjalani semua kesesakan dan masalah yang menghimpit. Adalah benar, semakin tinggi tingkat kecemasan semakin rendah daya tahan tubuh. Namun sebaliknya semakin tinggi tingkat kepasrahan dan bersabar maka tingkat daya tahan seseorang mengahadapi keadaan sulit akan semakin tinggi pula. Sabar adalah suatu potensi diri manusia yang harus dikembangkan dalam menghadapi masalah.
Inilah nasihat rasul Petrus bagi jemaat mula-mula yang banyak mengalami pergumulan. Dalam pasal 5 ini saja ada sebanyak 5 kali kata sabar disebutkan, lain lagi dengan kata yang memiliki makna yang serupa. Ini dapat dimaklumi karena jemaat mula-mula menghadapi penderitaan karena iman. Mereka dikejar, dianiaya dan harus menyelamatkan diri dari berbagai pengejaran. Mereka harus menahan diri atas segala hasutan dan fitnahan karena dianggap sebagai pemberontak kepada kekaisaran Romawi, dibenci kaum Yahudi dan ditindas para tuan-tuan kaya. Bagi Yakobus semua ini akan berlalu dan hanya tinggal sesaat lagi. Bertahanlah, bersabar dan teguhkan hati menghadapi semua kesesakan ini. Tuhan melihat, Tuhan menyertai dan segera menolong dan menghantarkan kita hingga garis finis. Ibarat dalam berlari, berlarilah terus karena garis finis sudah di depan mata. Ibarat perahu yang berlayar maka harus menahan ombak dan badai karena pelabuhan sudah dekat dan bertahanlah. Demikian orang percaya harus terus berlayar hingga sampai ke tujuan yaitu pelabuhan iman; kedatangan Kristus sudah dekat dan hampir tiba. Bersabar dan berteguh hati dalam iman karena mahkota kehidupan kekal akan segera dianugerahkan bagi orang yang setia sampai mati pasa kedatangan Kristus.
Sabar dan berteguh hati adalah buah dari iman dan pengharapan. Bersabar bukan karena kemampuan diri menghadapi semua itu, namun kesabaran itu muncul karena kepasrahan dan pengharapan kepada Tuhan yang akan datang menolong. Prinsip demikian sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hati apalagi dalam menghadapi berbagai pergumulan. Renungan ini menjadi kekuatan dan inspirasi bagi kita; apapun masalah yang kita hadapi dalam keluarga, masalah ekonomi, masalah pribadi hingga masalah yang timbul di tengah-tengah masyarakat kita yang kacau balau. Percayalah kepada Tuhan, bersabar dan berteguh hati dalam prinsip iman. Semuanya akan berlalu seperti pengharapan Marthin Luther King menghadapi penghinaan dan diskriminasi: we shall overcome, we shall overcome. Some day! Rasisme berlalu, diskriminasi berakhir, mereka bisa duduk bersma dengan saudara mereka kulit putih, duduk bersama dan menikmati kebebasan: mereka bebas memasuki kampus terbaik, duduk di bus umum dan restoran terbaik manapun tanpa ada lebel "nigger" atau sebutan bagi kulit hitam.
Bersabarlah dalam segala pergumulan we shall overcome some day. Waktunya Tuhan akan menjawab dan sesak didada akan lega, wajah murung dan masam akan berubah menjadi senyum manis dan bersahaja.
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati marilah megambil waktu sejenak di pagi hari ini untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita. Rabu 31/05/2017
Yakobus 5:8 (TB) Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
James 5:8 (UKJV) Be all of you also patient; establish your hearts: for the coming of the Lord draws nigh.
Kesabaran adalah buah iman. Rasul Yakobus berulang kali menasihatkan jemaat mula-mula untuk sabar dalam penderitaan. Kesabaran sangat dibutuhkan dalam siatuasi yang menghimpit mereka. Kesabaran ini penting, karena kita tau bahwa semakin mengeluh tentu beban berat semakin menekan, semakin bersungut-sungut semakin menyerang daya tahan tubuh dan semakin menyalahkan orang lain atas situasi sulit yang kita hadapi akan semakin melemahkan diri sendiri dan tak kuat memikul beban hidup. Cara terbaik adalah bersabar dan meneguhkan hati dalam menjalani semua kesesakan dan masalah yang menghimpit. Adalah benar, semakin tinggi tingkat kecemasan semakin rendah daya tahan tubuh. Namun sebaliknya semakin tinggi tingkat kepasrahan dan bersabar maka tingkat daya tahan seseorang mengahadapi keadaan sulit akan semakin tinggi pula. Sabar adalah suatu potensi diri manusia yang harus dikembangkan dalam menghadapi masalah.
Inilah nasihat rasul Petrus bagi jemaat mula-mula yang banyak mengalami pergumulan. Dalam pasal 5 ini saja ada sebanyak 5 kali kata sabar disebutkan, lain lagi dengan kata yang memiliki makna yang serupa. Ini dapat dimaklumi karena jemaat mula-mula menghadapi penderitaan karena iman. Mereka dikejar, dianiaya dan harus menyelamatkan diri dari berbagai pengejaran. Mereka harus menahan diri atas segala hasutan dan fitnahan karena dianggap sebagai pemberontak kepada kekaisaran Romawi, dibenci kaum Yahudi dan ditindas para tuan-tuan kaya. Bagi Yakobus semua ini akan berlalu dan hanya tinggal sesaat lagi. Bertahanlah, bersabar dan teguhkan hati menghadapi semua kesesakan ini. Tuhan melihat, Tuhan menyertai dan segera menolong dan menghantarkan kita hingga garis finis. Ibarat dalam berlari, berlarilah terus karena garis finis sudah di depan mata. Ibarat perahu yang berlayar maka harus menahan ombak dan badai karena pelabuhan sudah dekat dan bertahanlah. Demikian orang percaya harus terus berlayar hingga sampai ke tujuan yaitu pelabuhan iman; kedatangan Kristus sudah dekat dan hampir tiba. Bersabar dan berteguh hati dalam iman karena mahkota kehidupan kekal akan segera dianugerahkan bagi orang yang setia sampai mati pasa kedatangan Kristus.
Sabar dan berteguh hati adalah buah dari iman dan pengharapan. Bersabar bukan karena kemampuan diri menghadapi semua itu, namun kesabaran itu muncul karena kepasrahan dan pengharapan kepada Tuhan yang akan datang menolong. Prinsip demikian sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hati apalagi dalam menghadapi berbagai pergumulan. Renungan ini menjadi kekuatan dan inspirasi bagi kita; apapun masalah yang kita hadapi dalam keluarga, masalah ekonomi, masalah pribadi hingga masalah yang timbul di tengah-tengah masyarakat kita yang kacau balau. Percayalah kepada Tuhan, bersabar dan berteguh hati dalam prinsip iman. Semuanya akan berlalu seperti pengharapan Marthin Luther King menghadapi penghinaan dan diskriminasi: we shall overcome, we shall overcome. Some day! Rasisme berlalu, diskriminasi berakhir, mereka bisa duduk bersma dengan saudara mereka kulit putih, duduk bersama dan menikmati kebebasan: mereka bebas memasuki kampus terbaik, duduk di bus umum dan restoran terbaik manapun tanpa ada lebel "nigger" atau sebutan bagi kulit hitam.
Bersabarlah dalam segala pergumulan we shall overcome some day. Waktunya Tuhan akan menjawab dan sesak didada akan lega, wajah murung dan masam akan berubah menjadi senyum manis dan bersahaja.
Senin, 29 Mei 2017
MISSI PEMBEBASAN
MISSI PEMBEBASAN
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini. Selasa 30/05/2017
Yesaya 42:7 (TB) untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
Isaiah 42:7 (UKJV) To open the blind eyes, to bring out the prisoners from the prison, and them that sit in darkness out of the prisonr house.
HKBP salah satu gereja di Sumatera Utara memiliki satu lembaga sosial yang disebut dengan HEPATA. Tempat ini para penyandang disabilitas (buta dan lumpuh) dilatih untuk memiliki berbagai ketrampilan; kerajinan tangan, bertani dan juga seni. Sehingga mereka dapat mandiri dan hidupnya produtktif. Hingga saat ini lembaga ini terus melakukan pelayanan sebagai praksis pembebasan bagi penyandang disabilitas. Nama HEPATA diangkat dari perkataan Tuhan Yesus ketika menyembuhkan seorang yang tuli dan bisu dalam narasi Markus 7:34. Ini salah satu contoh gereja yang melaksanakan tugas mulia dalam pelayanan untuk membebaskan saudara kita yang dari beban hidup yang dialami. Gereja (baca: orang percaya) dipanggil untuk ikut berperan membebaskan sesama dari berbagai bentuk yang menghambat dan membebani hidupnya.
Dapat kita bayangkan bagaimana rindunya seorang buta. Dunia ini gelap dan oleh kebutaannya dia terbatas ruang geraknya. Demikian dengan seorang tahanan yang rindu mendapat gratia pembebasan. Dikungkung dan dibatasi oleh terali dan tembok-tembok. Dalam PL penjara bagi tahanan berat dibuat di ruang bawah tanah agar semakin sulit dibebaskan. Ruangan yang sangat gelap hanya satu titik cahaya yang didesign sedemikian rupa. Dalam kondisi buta dan tawanan satu-satunya kerinduan dan haraoannya adalah pembebasan; bebas dari kebutaan dan bebas dari tahanan. Demikianlah kehadiran Allah untuk menyelamatkan manusia. Apa yang membatasi, membebani dan memenjarakan diri seseorang dibebaskan oleh Tuhan.
Orang percaya yang telah menerima keselamatan dipanggil untuk missi pembebasan. Hal dilakukan sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang Tuhan berikan. Amanat ini disampaikan oleh nabi Yesaya bahwa Umat Allah dipanggil dan diselamatkan untuk menjadi terang bagi bangsa bangsa, membuka mata orang buta, melepaskan mereka yang tertawan dan membawa mereka yang duduk di dalam kegelapan. (Yes 42:6-7). Bagaimana mereka bisa melakukan ini sementara mereka berada dalam pembuangan Babel. Inilah mental pembuangan. Seolah membebaskanndiri dulu baru melakukan bagi ornag lain. Mentalitas pembebasan adalah dalam segala keterbatasan diri kita dapat melakukan sesuatu bagi orang lain. Memang benar jauh lebih sulit membebaskan diri sendiri. Sekalipun demikian nabi Yesaya dalam renungan ini Tuhan telah menyelamatkan kita dan memanggil kita untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Tentu masih bayak disekitar kita yang "buta" dan "terpenjara". Buta karena gelap mata tak melakukan kebaikan. Matanya terbuka namun tak tergerak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Buta demikian jauh lebih parah dari buta fisik. Demikian dengan manusia yang terdera oleh berbagai kepentingan, hutang, ambisi dan obsesi diri. Jangan biarkan hidupmu diikat dan didera oleh berbagai perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sesungguhnya kita telah dibebaskan dan dimerdekakan Kristus, karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi diperhamba oleh dosa (Band Gal 5:1). Kita dapat beranjak dari berbagai hak yang membatasi dan memenjarakan kita dalam hidup ini.
Renungan harian in mengingatkan kita akan tugas orang percaya. Kita dipanggil untuk meretas segala belenggu dosa, belenggu penindasan dan belenggu yang menghambat dan membatasi manusia untuk hidup dalam kasih karunia Tuhan. Jika lembaga Hepata membebaskan orang buta dan lumpuh hingga produktif dalam hidupnya. Tentu masih banyak yang dapat kita lakukan terhadap sesama agar terbebas dari belenggu hidupnya.
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini. Selasa 30/05/2017
Yesaya 42:7 (TB) untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
Isaiah 42:7 (UKJV) To open the blind eyes, to bring out the prisoners from the prison, and them that sit in darkness out of the prisonr house.
HKBP salah satu gereja di Sumatera Utara memiliki satu lembaga sosial yang disebut dengan HEPATA. Tempat ini para penyandang disabilitas (buta dan lumpuh) dilatih untuk memiliki berbagai ketrampilan; kerajinan tangan, bertani dan juga seni. Sehingga mereka dapat mandiri dan hidupnya produtktif. Hingga saat ini lembaga ini terus melakukan pelayanan sebagai praksis pembebasan bagi penyandang disabilitas. Nama HEPATA diangkat dari perkataan Tuhan Yesus ketika menyembuhkan seorang yang tuli dan bisu dalam narasi Markus 7:34. Ini salah satu contoh gereja yang melaksanakan tugas mulia dalam pelayanan untuk membebaskan saudara kita yang dari beban hidup yang dialami. Gereja (baca: orang percaya) dipanggil untuk ikut berperan membebaskan sesama dari berbagai bentuk yang menghambat dan membebani hidupnya.
Dapat kita bayangkan bagaimana rindunya seorang buta. Dunia ini gelap dan oleh kebutaannya dia terbatas ruang geraknya. Demikian dengan seorang tahanan yang rindu mendapat gratia pembebasan. Dikungkung dan dibatasi oleh terali dan tembok-tembok. Dalam PL penjara bagi tahanan berat dibuat di ruang bawah tanah agar semakin sulit dibebaskan. Ruangan yang sangat gelap hanya satu titik cahaya yang didesign sedemikian rupa. Dalam kondisi buta dan tawanan satu-satunya kerinduan dan haraoannya adalah pembebasan; bebas dari kebutaan dan bebas dari tahanan. Demikianlah kehadiran Allah untuk menyelamatkan manusia. Apa yang membatasi, membebani dan memenjarakan diri seseorang dibebaskan oleh Tuhan.
Orang percaya yang telah menerima keselamatan dipanggil untuk missi pembebasan. Hal dilakukan sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang Tuhan berikan. Amanat ini disampaikan oleh nabi Yesaya bahwa Umat Allah dipanggil dan diselamatkan untuk menjadi terang bagi bangsa bangsa, membuka mata orang buta, melepaskan mereka yang tertawan dan membawa mereka yang duduk di dalam kegelapan. (Yes 42:6-7). Bagaimana mereka bisa melakukan ini sementara mereka berada dalam pembuangan Babel. Inilah mental pembuangan. Seolah membebaskanndiri dulu baru melakukan bagi ornag lain. Mentalitas pembebasan adalah dalam segala keterbatasan diri kita dapat melakukan sesuatu bagi orang lain. Memang benar jauh lebih sulit membebaskan diri sendiri. Sekalipun demikian nabi Yesaya dalam renungan ini Tuhan telah menyelamatkan kita dan memanggil kita untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Tentu masih bayak disekitar kita yang "buta" dan "terpenjara". Buta karena gelap mata tak melakukan kebaikan. Matanya terbuka namun tak tergerak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Buta demikian jauh lebih parah dari buta fisik. Demikian dengan manusia yang terdera oleh berbagai kepentingan, hutang, ambisi dan obsesi diri. Jangan biarkan hidupmu diikat dan didera oleh berbagai perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sesungguhnya kita telah dibebaskan dan dimerdekakan Kristus, karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi diperhamba oleh dosa (Band Gal 5:1). Kita dapat beranjak dari berbagai hak yang membatasi dan memenjarakan kita dalam hidup ini.
Renungan harian in mengingatkan kita akan tugas orang percaya. Kita dipanggil untuk meretas segala belenggu dosa, belenggu penindasan dan belenggu yang menghambat dan membatasi manusia untuk hidup dalam kasih karunia Tuhan. Jika lembaga Hepata membebaskan orang buta dan lumpuh hingga produktif dalam hidupnya. Tentu masih banyak yang dapat kita lakukan terhadap sesama agar terbebas dari belenggu hidupnya.
Minggu, 28 Mei 2017
KEBERANIAN MENGHAMPIRI TAHKTA KASIH KARUNIA
KEBERANIAN MENGHAMPIRI TAHKTA KASIH KARUNIA
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini. Senin 29/05/2017
Ibrani 4:16 (TB) Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
Hebrews 4:16 (UKJV) Let us therefore come boldly unto the throne of grace, that we may obtain mercy, and find grace to help in time of need.
Beriman butuh keberanian, itu suatu kesimpulan yang kita temukan dalam renungan hari ini. Keberanian untuk menghampiri tahkta kasih karunia yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia di dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah. Dia adalah imam besar yang mendamaikan manusia dengan Allah. Pada pihak Allah, Allah telah mau berdamai dengan manusia, melupakan dosa dan pelanggaran kita. Allah menggantikan tuntutan dengan anugerah. Pada pihak manusia, memasuki realitas baru yaitu hidup baru di dalam kasih karunia. Bukan lagi Adam yang diasingkan dari Eden, namun yang telah dirangkul oleh kasih karunia di dalam diri Yesus Kristus.
Mengapa manusia butuh keberanian menghampiri Allah? Hal ini sangat menarik untuk dipahami bahwa dosa membuat manusia takut kepada Tuhan. Lihatlah ketika Adam jatuh ke dalam dosa. Adam bersembunyi dihadapan Allah. Demikian dengan Kain yang membunuh adiknya Habil memiliki ketakutan. Sekalipun dia mencoba membohongi Allah pada akhirnya mengakui dihadapan Allah dan Kain memiliki ketakuan dan akhirnya Allah memberi tanda bagi Kain dan jaminan tak akan ada yang membunuhnya. Dosa telah membuat kita takut berhadapan muka dengan Allah. Namun oleh Yesus Kristus Kristus kita telah menerima pengampunan dan pendamaian. Kita dipanggil bukan untuk dihukum melainkan untuk diselamatkan dan memperoleh anugerah.
Demikianlah penulis kitab Ibrani ini mengajarkan agaw kita memiliki keberanian untuk menghampiri tahta anugerah. Kita harus percaya bahwa kita telah dibenarkan di dalam diri Yesus Kristus. Dosa kita telah dihapusnya dan kita harus berani menghampiri tahta kasih karunia.
Mungkin pernah anda mendengar kisah telor rajawali dierami oleh induk ayam. Setelah menetas rajawali tak terbang namun seperti anak ayam lainnya, mengais dan ikut induknya. Setelah ada rajawali terbang diatas dia, lama kelamaan ia sadar bahwa dia juga burung raja wali yang bisa terbang dan setelah dicobanya ia pun bisa terbang. Benar atau tidak kisah itu boleh juga dicoba. Namun menurut saya itu hanya contoh mengingatkan kita adalah anak-anak terang, anak-anak yang diberi kasih karunia, maka harus berani meninggalkan hidup lama dan memasuki kehidupan baru di dalam kasih karunia Kristus. Selagi kita hidup tidak berubah dan memasuki kehidupan baru tentu kita tidak merasakan manfaat dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita yang mendapat kasih karunia.
Saudaraku, mari jadikan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita dalam hidup ini.
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini. Senin 29/05/2017
Ibrani 4:16 (TB) Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.
Hebrews 4:16 (UKJV) Let us therefore come boldly unto the throne of grace, that we may obtain mercy, and find grace to help in time of need.
Beriman butuh keberanian, itu suatu kesimpulan yang kita temukan dalam renungan hari ini. Keberanian untuk menghampiri tahkta kasih karunia yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia di dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah. Dia adalah imam besar yang mendamaikan manusia dengan Allah. Pada pihak Allah, Allah telah mau berdamai dengan manusia, melupakan dosa dan pelanggaran kita. Allah menggantikan tuntutan dengan anugerah. Pada pihak manusia, memasuki realitas baru yaitu hidup baru di dalam kasih karunia. Bukan lagi Adam yang diasingkan dari Eden, namun yang telah dirangkul oleh kasih karunia di dalam diri Yesus Kristus.
Mengapa manusia butuh keberanian menghampiri Allah? Hal ini sangat menarik untuk dipahami bahwa dosa membuat manusia takut kepada Tuhan. Lihatlah ketika Adam jatuh ke dalam dosa. Adam bersembunyi dihadapan Allah. Demikian dengan Kain yang membunuh adiknya Habil memiliki ketakutan. Sekalipun dia mencoba membohongi Allah pada akhirnya mengakui dihadapan Allah dan Kain memiliki ketakuan dan akhirnya Allah memberi tanda bagi Kain dan jaminan tak akan ada yang membunuhnya. Dosa telah membuat kita takut berhadapan muka dengan Allah. Namun oleh Yesus Kristus Kristus kita telah menerima pengampunan dan pendamaian. Kita dipanggil bukan untuk dihukum melainkan untuk diselamatkan dan memperoleh anugerah.
Demikianlah penulis kitab Ibrani ini mengajarkan agaw kita memiliki keberanian untuk menghampiri tahta anugerah. Kita harus percaya bahwa kita telah dibenarkan di dalam diri Yesus Kristus. Dosa kita telah dihapusnya dan kita harus berani menghampiri tahta kasih karunia.
Mungkin pernah anda mendengar kisah telor rajawali dierami oleh induk ayam. Setelah menetas rajawali tak terbang namun seperti anak ayam lainnya, mengais dan ikut induknya. Setelah ada rajawali terbang diatas dia, lama kelamaan ia sadar bahwa dia juga burung raja wali yang bisa terbang dan setelah dicobanya ia pun bisa terbang. Benar atau tidak kisah itu boleh juga dicoba. Namun menurut saya itu hanya contoh mengingatkan kita adalah anak-anak terang, anak-anak yang diberi kasih karunia, maka harus berani meninggalkan hidup lama dan memasuki kehidupan baru di dalam kasih karunia Kristus. Selagi kita hidup tidak berubah dan memasuki kehidupan baru tentu kita tidak merasakan manfaat dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita yang mendapat kasih karunia.
Saudaraku, mari jadikan firman Tuhan sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita dalam hidup ini.
Sabtu, 27 Mei 2017
TERPUJILAH TUHAN, IA MENANGGUNG BEBAN KITA HARI DEMI HARI
TERPUJILAH TUHAN, IA MENANGUNG BEBAN KITA HARI DEMI HARI
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah mingggu ini dari Mamzur 68:20-22;32-36 ajakan pemazmur memuji dan memuliakan kebesaran Tuhan. Tuhan memelihara, menanggung beban kita dan melepaskan kita hari demi hari.
Masih segar diingatan kita tentang gerakan spontan penyalaan lilin bukan? Lilin untuk kepedulian A Hok dan Kepedulian untuk NKRI yang kita cintai ini. Ada banyak makna dibalik lilin. Lilin adalah terang yang bersinar sehingga kegelapan ditelanjagi. Sinar lilin tidak menyilaukan mata orang yang memandanganya, lilin adalah pengorbanan dan yang tidak kalah penting juga yang harus kita sadari bahwa lilin tak tahan atas angin kencang. Ketika angin kencang bertiup lilin pun akan padam. Hal ini mengingatkan kita akan ketidak mampuan dan ketidak berdayaan kita menghadapi pergumulan dengan kekuatan diri sendir. Dalam ketidak berdayaan itu kita percaya bahwa Tuhan lah yang menanggung beban. Orang percaya tidak mampu dari dirinya sendiri menahan beban dan pergumulan hidup namun Tuhan lah yang menanggungnya.
Inilah berita sukacita dari kotbah Minggu ini;
1. TUHAN menanggung beban kita. Tuhan adalah keselamatan kita, Tuhan adalah kekuatan kita dalam menghadapi pergumulan berat dan beban yang menimpa hidup ini. Jangan andalkan kekuatan diri sendiri, namun andalkan Tuhan dalam segala hal karena Ia menanggung kita. Yesus berseru datanglah kepadaku hai kamu yang letih lesu (Mat 11:28). Yesaya juga mengingatkan kita tentang Hamba yang menderita, sesunggunghnya beban kitalah yang dipikulnya (Yes 53). Demikian dengan Epistel, Iblis mengintai seperti singa yang siap menekam mangsanya. Jangan takut Tuhan menangung beban kita. Inilah berita suka cita bagi kita bahwa Tuhan menanggung beban dan pergumulan kita dalam hidup ini.
2. Bangsa-bangsa akan memulikan Tuhan. Siapa yang tidak mengenal Mesir bangsa yang memperbudak Israel. Namun nats ini mengatakan Mesir akan membawa tembaga dan bangsa Etiopia segera mengukurkan tangan untuk Tuhan. Etiopia adalah negara lecil yang dijajah Mesir selama 500 tahun. Beberapa kali disebutkab dalam Alkitab sebagai budak belia (2 Sam 18:21l dan memang ada beberapa pejabat penting (Yer 38:7). Seruan Mazmur ini mengingatka baik negara yang kuat dan negara yang dianggap lemah datang kehadapan Tuhan memuji dan memulikan kebesaran Tuhan. Inilah hal diluar perkiraan kita. Tuhan memakai siapa saja untuk menolong kita.
3. Hanya Bagi Tuhan: Kekuasaan, Kemuliaan.
Pemazmur mengajak kita memuji dan memuliakan Tuhan dan berseru: Bagi Tuhan hirmat, kekuasan dan kemuliaan. Sikap kita memuji Tuhan tentulah harus diiringi dengan kerendahan hati dihadapan Allah dan sesama.
Pada bagian ini penting kita merefleksikan bagaimana sikap memuji dan memuliakan Tuhan dalam bersikap terhadap sesama. Memuji dan memuliakan Tuhan mengangkat tangan menghadap hadirat Tuhan dan sekaligus mengulurkan tangan memberkati sesama. Kita harus menyadari bahwa kita adalah tanah liat dan debu. Namun kita berharga dimata Tuhan karena kita diciptakan segambar dengan rupa Allah. Sikap memuji dan memuliakan Tuhan harus selaras dengan sikap menghormati sesama. Rumus paling baik dijelaskan oleh rasul Yohanes: bagaimana mungkin kita mengasihi Allah yang tidak kelihatan, padahal membenci saudaranya? (1 Yoh 4:20). Keberagamaan kita yang memuji Tuhan, yang mengagungkan Allah yang maha besar dan nyanyian kita yang berseru: halleluya, haleluya, puji Tuhan, bukanlah hanya di ruang-ruang ibadah namun praktek hidup nyata dalam sikap terhadap sesama. Orang yang memuliakan Tuhan adalah orang menghargai harkat dan martabat manusia ciptaan Tuhan.
Sungguh disayangkan atas nama Tuhan mengorbankan orang lain, atas nama agama menyebar kebencian dan sikap sinis terhadap sesama. Saya percaya Tuhan tidak menghendaki mulut orang-orang yang beragama dan memuji Tuhan namun dihati kita ada kebencian dan amarah bagi sesamana. Memuliakan Tuhan nampak dalam sikap menghargai sesama karena jantung keagamaan kita adalah kemanusiaan.
Dalam pergumukan kita di Indonesia, minggu Exaudi sangat relevan mengajak kita bersama dengan segala kerendahan hati memohon kepada Tuhan: Dengarlah Tuhan seruan yang kusampaikan dan kasihanilah kami. Keberanian kita menyerukan karena kita percaya Tuhan berkenan menanggung beban kita dan melepaskan kita dari setiap masalah.
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah mingggu ini dari Mamzur 68:20-22;32-36 ajakan pemazmur memuji dan memuliakan kebesaran Tuhan. Tuhan memelihara, menanggung beban kita dan melepaskan kita hari demi hari.
Masih segar diingatan kita tentang gerakan spontan penyalaan lilin bukan? Lilin untuk kepedulian A Hok dan Kepedulian untuk NKRI yang kita cintai ini. Ada banyak makna dibalik lilin. Lilin adalah terang yang bersinar sehingga kegelapan ditelanjagi. Sinar lilin tidak menyilaukan mata orang yang memandanganya, lilin adalah pengorbanan dan yang tidak kalah penting juga yang harus kita sadari bahwa lilin tak tahan atas angin kencang. Ketika angin kencang bertiup lilin pun akan padam. Hal ini mengingatkan kita akan ketidak mampuan dan ketidak berdayaan kita menghadapi pergumulan dengan kekuatan diri sendir. Dalam ketidak berdayaan itu kita percaya bahwa Tuhan lah yang menanggung beban. Orang percaya tidak mampu dari dirinya sendiri menahan beban dan pergumulan hidup namun Tuhan lah yang menanggungnya.
Inilah berita sukacita dari kotbah Minggu ini;
1. TUHAN menanggung beban kita. Tuhan adalah keselamatan kita, Tuhan adalah kekuatan kita dalam menghadapi pergumulan berat dan beban yang menimpa hidup ini. Jangan andalkan kekuatan diri sendiri, namun andalkan Tuhan dalam segala hal karena Ia menanggung kita. Yesus berseru datanglah kepadaku hai kamu yang letih lesu (Mat 11:28). Yesaya juga mengingatkan kita tentang Hamba yang menderita, sesunggunghnya beban kitalah yang dipikulnya (Yes 53). Demikian dengan Epistel, Iblis mengintai seperti singa yang siap menekam mangsanya. Jangan takut Tuhan menangung beban kita. Inilah berita suka cita bagi kita bahwa Tuhan menanggung beban dan pergumulan kita dalam hidup ini.
2. Bangsa-bangsa akan memulikan Tuhan. Siapa yang tidak mengenal Mesir bangsa yang memperbudak Israel. Namun nats ini mengatakan Mesir akan membawa tembaga dan bangsa Etiopia segera mengukurkan tangan untuk Tuhan. Etiopia adalah negara lecil yang dijajah Mesir selama 500 tahun. Beberapa kali disebutkab dalam Alkitab sebagai budak belia (2 Sam 18:21l dan memang ada beberapa pejabat penting (Yer 38:7). Seruan Mazmur ini mengingatka baik negara yang kuat dan negara yang dianggap lemah datang kehadapan Tuhan memuji dan memulikan kebesaran Tuhan. Inilah hal diluar perkiraan kita. Tuhan memakai siapa saja untuk menolong kita.
3. Hanya Bagi Tuhan: Kekuasaan, Kemuliaan.
Pemazmur mengajak kita memuji dan memuliakan Tuhan dan berseru: Bagi Tuhan hirmat, kekuasan dan kemuliaan. Sikap kita memuji Tuhan tentulah harus diiringi dengan kerendahan hati dihadapan Allah dan sesama.
Pada bagian ini penting kita merefleksikan bagaimana sikap memuji dan memuliakan Tuhan dalam bersikap terhadap sesama. Memuji dan memuliakan Tuhan mengangkat tangan menghadap hadirat Tuhan dan sekaligus mengulurkan tangan memberkati sesama. Kita harus menyadari bahwa kita adalah tanah liat dan debu. Namun kita berharga dimata Tuhan karena kita diciptakan segambar dengan rupa Allah. Sikap memuji dan memuliakan Tuhan harus selaras dengan sikap menghormati sesama. Rumus paling baik dijelaskan oleh rasul Yohanes: bagaimana mungkin kita mengasihi Allah yang tidak kelihatan, padahal membenci saudaranya? (1 Yoh 4:20). Keberagamaan kita yang memuji Tuhan, yang mengagungkan Allah yang maha besar dan nyanyian kita yang berseru: halleluya, haleluya, puji Tuhan, bukanlah hanya di ruang-ruang ibadah namun praktek hidup nyata dalam sikap terhadap sesama. Orang yang memuliakan Tuhan adalah orang menghargai harkat dan martabat manusia ciptaan Tuhan.
Sungguh disayangkan atas nama Tuhan mengorbankan orang lain, atas nama agama menyebar kebencian dan sikap sinis terhadap sesama. Saya percaya Tuhan tidak menghendaki mulut orang-orang yang beragama dan memuji Tuhan namun dihati kita ada kebencian dan amarah bagi sesamana. Memuliakan Tuhan nampak dalam sikap menghargai sesama karena jantung keagamaan kita adalah kemanusiaan.
Dalam pergumukan kita di Indonesia, minggu Exaudi sangat relevan mengajak kita bersama dengan segala kerendahan hati memohon kepada Tuhan: Dengarlah Tuhan seruan yang kusampaikan dan kasihanilah kami. Keberanian kita menyerukan karena kita percaya Tuhan berkenan menanggung beban kita dan melepaskan kita dari setiap masalah.
Jumat, 26 Mei 2017
PERSEMBAHAN YANG MENGUBAH KEPUTUSAN TUHAN
PERSEMBAHAN YANG MENGUBAH KEPUTUSAN TUHAN
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah sejenak mengambil waktu untuk berdoa, membaca dan merenungkan firmanbTuhan di pagi hari ini, Sabtu 27/05/2017
Kejadian 8:21 (TB) Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
Genesis 8:21 (UKJV) And the LORD smelled a sweet savour; and the LORD said in his heart, I will not again curse the ground any more for man's sake; for the imagination of man's heart is evil from his youth; neither will I again strike any more every thing living, as I have done.
Dosa telah membuat Tuhan menyesal menciptakan manusia. "Allah menyesal" suatu kalimat yang sangat jarang ditemukan dalam Alkitab. Hanya satu kali dalam kitab Kejadian (6:6) dan 3 kali dalam kitab nabi-nabi (Yeremia 18:10; Amos 7:3 dan 6). Konteksnya adalah Allah menyesal karena telah merencanakan hukuman bagi manusia. Hukuman itu karena dosa yang sudah keterlaluan. Dalam Kejadian 6 bahwa dosa telah merajalela, manusia memproduksikan dosa dan di dalam hatinya hanya kejahatan. Maka Tuhan menghukum manusia dan penghuni bumi. Hanya Nuh dan keluarganya yang mendapat kasih karunia. Itu pun sudah mendapat tantangan dari masyarakat karena Nuh membuat perahu. Bagi yang binasa pekerjaan Nuh adalah sesuatu yang tak lazim, namun Nuh sebagai orang saleh dan berpegang pada perintah Tuhan tetap membuat bahtera sesuai perintahNya. Oleh perahu Nuh dan keluarganya selamat.
Jika oleh Dosa, Allah telah mendatangkan murka, maka oleh persembahan yang harum dari Nuh berjanji tidak mendatangkan hukuman kepada manusia lewat air bah. Persembahan Nuh disukai Tuhan. Hal ini mengingatkan kita bahwa hal yang dikehendaki Tuhan dari manusia adalah Persembahan. Persembahan bukan hanya kurban ternak atau kurban bakaran di hadapan Allah namun persembahan dengan arti luas mempersembahan hidup ini untuk pelayanan dan kemuliaan Tuhan. (Baca Rom 12:1)
Persembahan Nuhbtelah membuat keputusan penting dalam keputusan Tuhan tentang jaminana keselamatan manusia dan penghuni bumi. Setelah Nuh keluar dari bahtera hal pertama dilakukan oleh Nuh membangun altar persembahan, beribadah dan membakar korban persembahan bagi Tuhan. Atas korban yang harum itu Allah membuat suatu keputusan penting ditandai dengan bujur Tuhan bahwa tak akan mendatangkan air bah untuk menghukum manusia dan penghuni bumi ini. Bahkan ada kalimat penting, sekalipun hatinya jahat sejak kecil namun Tuhan tidak membinasakan mereka.
Namun tidaklah boleh disalah artikan, bahwa Allah membiarkan manusia berhati jahat? Sama sekali tidak. Penghukuman seperti masa air bah tidak akan pernah lagi. Tuhan panjang sabar dan penuh kasih karunia, tidak dibalaskannya setimpal dengan apa yang kita perbuat. Sekalipun kasihNya tidak terukur namun tetap menghukum kejahatan dan puncak hukuman itu adalah pada penghakiman kelak. Manusia berdiri dihadapan Allah mempertanggungjawabkan hidupnya. Tuhan tidak menghendaki dosa. Upah dosa adalah maut. Namun Allah sendiri telah menggantikan hukuman itu dengan kasih karunia. Yesus telah mati di kayu salib untuk.menggantikan kita manusia berdosa. Sesungguhnya dosa kitalah yang ditanggungnya sehingga kita dibenarkan dan beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Apa yang menarik dari renungan ini? Sungguh besar peran orang yang mendapat kasih karunia. Tuhan berkenan atas kurban Nuh. Tuhan menetapkan tak akan mengutuk bumi dan membinasakan manusia seperti hukuman air bah. Demikian halnya dengan Abraham, ketika Tuhan hendak menjatuhkan hukuman terhadap Sodom dan Gomora, seolah ada tawar menawar Abraham dengan Tuhan sebelum menjatuhkan hukuman. Namun hal Sodom dan Gomora tak terelakkan lagi. Orang benar dan yang mendapat kasih karunia dari Tuhan sangat berperan menjadi berkat bagi sesama dan bagi dunia ini. Marilah menyampaikan doa syafaat untuk kebaikan bangsa dan negara kita. Mari kita menyampaikan permohonan dihadapan Tuhan untuk kesatuan dan persatuan bangsa kita agar Tuhan tidak mendatangkan murkanya atas perilaku dan perbuatan segelintir orang yang merusak kedamaian dan ketenteraman kita. Mari naikkan doa syafaat sebagaimana Nuh dan Abraham agar Tuhan melunakkan hatinya untuk tidak mendatangkan hukuman bagi bangsa kita. Mari pula kita berdoa untuk mereka yang selalu menyebarkan kebencian agar diubah menjadi berhati damai. Tuhan tidak membinasakan manusia lagi di bumi oleh air bah, namun angkara murka manusia yang membuat orang dan pembunuhan sadis adalah buah dosa dan kejahatan. Inilah tugas agama yang menggarami dan menerangi setiap hati manusia yang berkewajiban mendatangkan kedamaian.
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah sejenak mengambil waktu untuk berdoa, membaca dan merenungkan firmanbTuhan di pagi hari ini, Sabtu 27/05/2017
Kejadian 8:21 (TB) Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
Genesis 8:21 (UKJV) And the LORD smelled a sweet savour; and the LORD said in his heart, I will not again curse the ground any more for man's sake; for the imagination of man's heart is evil from his youth; neither will I again strike any more every thing living, as I have done.
Dosa telah membuat Tuhan menyesal menciptakan manusia. "Allah menyesal" suatu kalimat yang sangat jarang ditemukan dalam Alkitab. Hanya satu kali dalam kitab Kejadian (6:6) dan 3 kali dalam kitab nabi-nabi (Yeremia 18:10; Amos 7:3 dan 6). Konteksnya adalah Allah menyesal karena telah merencanakan hukuman bagi manusia. Hukuman itu karena dosa yang sudah keterlaluan. Dalam Kejadian 6 bahwa dosa telah merajalela, manusia memproduksikan dosa dan di dalam hatinya hanya kejahatan. Maka Tuhan menghukum manusia dan penghuni bumi. Hanya Nuh dan keluarganya yang mendapat kasih karunia. Itu pun sudah mendapat tantangan dari masyarakat karena Nuh membuat perahu. Bagi yang binasa pekerjaan Nuh adalah sesuatu yang tak lazim, namun Nuh sebagai orang saleh dan berpegang pada perintah Tuhan tetap membuat bahtera sesuai perintahNya. Oleh perahu Nuh dan keluarganya selamat.
Jika oleh Dosa, Allah telah mendatangkan murka, maka oleh persembahan yang harum dari Nuh berjanji tidak mendatangkan hukuman kepada manusia lewat air bah. Persembahan Nuh disukai Tuhan. Hal ini mengingatkan kita bahwa hal yang dikehendaki Tuhan dari manusia adalah Persembahan. Persembahan bukan hanya kurban ternak atau kurban bakaran di hadapan Allah namun persembahan dengan arti luas mempersembahan hidup ini untuk pelayanan dan kemuliaan Tuhan. (Baca Rom 12:1)
Persembahan Nuhbtelah membuat keputusan penting dalam keputusan Tuhan tentang jaminana keselamatan manusia dan penghuni bumi. Setelah Nuh keluar dari bahtera hal pertama dilakukan oleh Nuh membangun altar persembahan, beribadah dan membakar korban persembahan bagi Tuhan. Atas korban yang harum itu Allah membuat suatu keputusan penting ditandai dengan bujur Tuhan bahwa tak akan mendatangkan air bah untuk menghukum manusia dan penghuni bumi ini. Bahkan ada kalimat penting, sekalipun hatinya jahat sejak kecil namun Tuhan tidak membinasakan mereka.
Namun tidaklah boleh disalah artikan, bahwa Allah membiarkan manusia berhati jahat? Sama sekali tidak. Penghukuman seperti masa air bah tidak akan pernah lagi. Tuhan panjang sabar dan penuh kasih karunia, tidak dibalaskannya setimpal dengan apa yang kita perbuat. Sekalipun kasihNya tidak terukur namun tetap menghukum kejahatan dan puncak hukuman itu adalah pada penghakiman kelak. Manusia berdiri dihadapan Allah mempertanggungjawabkan hidupnya. Tuhan tidak menghendaki dosa. Upah dosa adalah maut. Namun Allah sendiri telah menggantikan hukuman itu dengan kasih karunia. Yesus telah mati di kayu salib untuk.menggantikan kita manusia berdosa. Sesungguhnya dosa kitalah yang ditanggungnya sehingga kita dibenarkan dan beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Apa yang menarik dari renungan ini? Sungguh besar peran orang yang mendapat kasih karunia. Tuhan berkenan atas kurban Nuh. Tuhan menetapkan tak akan mengutuk bumi dan membinasakan manusia seperti hukuman air bah. Demikian halnya dengan Abraham, ketika Tuhan hendak menjatuhkan hukuman terhadap Sodom dan Gomora, seolah ada tawar menawar Abraham dengan Tuhan sebelum menjatuhkan hukuman. Namun hal Sodom dan Gomora tak terelakkan lagi. Orang benar dan yang mendapat kasih karunia dari Tuhan sangat berperan menjadi berkat bagi sesama dan bagi dunia ini. Marilah menyampaikan doa syafaat untuk kebaikan bangsa dan negara kita. Mari kita menyampaikan permohonan dihadapan Tuhan untuk kesatuan dan persatuan bangsa kita agar Tuhan tidak mendatangkan murkanya atas perilaku dan perbuatan segelintir orang yang merusak kedamaian dan ketenteraman kita. Mari naikkan doa syafaat sebagaimana Nuh dan Abraham agar Tuhan melunakkan hatinya untuk tidak mendatangkan hukuman bagi bangsa kita. Mari pula kita berdoa untuk mereka yang selalu menyebarkan kebencian agar diubah menjadi berhati damai. Tuhan tidak membinasakan manusia lagi di bumi oleh air bah, namun angkara murka manusia yang membuat orang dan pembunuhan sadis adalah buah dosa dan kejahatan. Inilah tugas agama yang menggarami dan menerangi setiap hati manusia yang berkewajiban mendatangkan kedamaian.
Kamis, 25 Mei 2017
NUANSA RELIGIUS DI BULAN PUASA
NUANSA RELIGIUS DI BULAN RAMADHAN
Selamat Manunaikan Ibadah Puasa bagi saudara-saudara umat muslim di Indonesia
Kita sangat perihatin atas peristiwa bom bunuh diri di kampung Melayu Rabu 24/05. Kita berdoa agar korban yang masih dirawat cepat sembuh. Terkhusus bagi keluarga korban yang meninggal dunia kiranya Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan atas kehilangan anggota keluarga. Bom Kampung Melayu ini sangat mengejutkan kita semua sembari mengingatkan bahwa teror ada di sekitar kita. Selain mengejutkan, kejadian ini sangat menciderai makna agama karena teror ini dilakukan ketika warga muslim mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadhan. Seharusnya amal ibadah dipertebal dengan mengedepankan penguasaan diri justru terjadi mengorbankan jiwa orang lain. Teroris adalah musuh bersama umat beragama.
Apapun kejadian di sekitar kita tetaplah kita jadikan sebagai pelajaran. Momen hari Puasa ini bagi umat muslim tentu menjadi bahan refleksi yang mendalam agar terus bersama-sama mensosialisasikan islam yang rahmatan; rahmat bagi semua orang dan lingkungan hidup.
Sebagai seorang outsider saya melihat makna yang sangat dalam dari bulan puasa, diantaranya:
1. Penguasaan Diri
Satu hal yang sangat kental dari yang ditekankan bulan Ramadhan adalah penguasaan diri. Umat muslim belajar menahan diri atas lapar dan haus harus ditahan sepanjang hari. Makan dan minum adalah kebutuhan pokok manusia, dengan berpuasa dipahami bahwa manusia dapat menguasai dirinya dalam hal yang pokok sekalipun. Penguasaan ini disini tentu menjadi pusat perhatian. Dengan berpuasa tentu umat muslim terlatih dan terbiasa dalam penguasaan diri. Sungguh suatu praktek keagamaan yang sangat mulia, apalagi jika hal ini menjadi habit (kebiasaan) tentu akan menjadi karakter pribadi yang sangat mulia. Penguasaan diri ini bukan pula hanya bagi umat muslim yang sedang berpuasa, namun umat beragama lain pun akan sontak menghargainya kebiasaan merokok di tempat publik misalnya akan berkurang termasuk aktifotas lainnya demi menghargai bulan suci Ramadhan. Ini satu contoh sederhana bahwa penguasaan diri bukan hanya bagi umat muslinm yang menjalankan ibadah puasa, namun umat beragama lain pun diingatkan untuk menghargai bulan puasa dengan penuh kesadaran akan penguasaan diri dan kesucian hidup.
2. Nuansa Religius: Di Indonesia kita sangat merasakan ini. Setiap memasuki bulan Ramadhan ada nuansa yang berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya atau sesudahnya. Dalam bulan Ramadhan media Televisi misalnya memperdengarkan lagu rohani muslim diiringi gambus dan rebana yang mengagumkan, pengajian alquran terus diperdengarkan menjelang berbuka puasa, para pemuka dan publik figur (termasuk para artis) tampak tampil lebih religius dengan pakaian muslim. Tak kalah penting selalu ada renungan-renungan (khotbah) dari pada para ulama-ulama yang sangat bernas dan mengugah hati. Tak kalah penting, Iklan-iklan media pun berubah lebih banyak memiliki pesan-mesan penting dalam mengingatkan makna Ramadhan, sekalipun ada kesan mengkomersilakan bulan Ramadhan dengan menjual produk unggulan mereka. Memang itu prinsip ekonomi yang sagat kental dalam moment apapun selalu mencari untung. Berbeda dengan masyarakat biasa seperti pedagang kecil mereka menutup warung makan mereka untuk menghargai bulan suci Ramadhan. Kalau pun ada yang buka hanya buka setengah saja untuk melayani mereka yang tidak berpuasa.
Inilah suasana dan nuansa sehari-hari ketika memasuki bulan Ramadhan, nuansa religius yang sangat kental dalam kehidupan sehari hari kita di Indonesia
3. Bulan Puasa Penuh Bhakti:
Ada satu hal yang khusus dari catatan seorang outsider dalam melihat fenomena bukan Ramadhan. Saudara-sausara muslim melalukan suatu bhakti sosial dengan berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Berita akan silih berganti para publik figur berbuka puasa bukan hanya di mesjid-mesjid saja namun berbuka puasa bersama dengan berbagai lembaga-lembaga sosial seperti panti asuhan, panti jompo, anak jalanan dan berbagai masyarakat marjinal lainnya. Tentu ini menggambarkan bulan bhakti penuh amal. Praktek ini menunjukkan bahwa ibadah bukan dipahami dalam bentuk pemenuhan kebutuhan rohani ansih atau mengikuti ibadah menurut ketentuan agama, namun dengan kentalnya bulan bhakti di bulan ramadhan menunjukkan bahwa ibadah sebenarnya adalah praksis hidup yang berbagi kepada sesama, memberi uluran tangan bagi yang membutuhkan pertolongan.
Puasa di Bulan Ramdhan dengan menahan diri tidak makan dan tidak minum sepanjang hari tidak membuat merek lemah, namun energik dan potensial untuk berbhakti dan berbagi dengan orang lain.
4. Kebersamaan dan Harmoni
Selain berbhakti dan beramal di bulan puasa, satu hal yang memiliki makna khusus dalam melaksanakan puasa di Bulan ramadhan adalah makna harmoni yang luar biasa. Masing-masing keluarga nampaknya mempersipkan moment istimewa untuk berbuka puasa bersama. Ini momen penting, dalam aktifitas sehari-hari apalagi kehiduoan di kota yang serba sibuk dalam mencari nafkah moment kebersamaan ini seolah direnggut dari setiap keluarga. Melalui bukan puasa ini suatu momen kebersamaan yang kental baik; mengawali hari dengan makan bersama diwaktu subuh dan mengakhir aktifitas dengan berbuka bersama. Masing-masing keluarga melaksanakan ini. Tentu pesan moral yang sangat dalam akan pentingnya kebersamaan. Kebersamaan dan harmoni dalam keluarga tentu akan bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan masyarakat.
Selamat berpuasa bagi saudara-saudara kami, sahabat dan teman kami umat Muslim di Indonesia.
Selamat Manunaikan Ibadah Puasa bagi saudara-saudara umat muslim di Indonesia
Kita sangat perihatin atas peristiwa bom bunuh diri di kampung Melayu Rabu 24/05. Kita berdoa agar korban yang masih dirawat cepat sembuh. Terkhusus bagi keluarga korban yang meninggal dunia kiranya Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan atas kehilangan anggota keluarga. Bom Kampung Melayu ini sangat mengejutkan kita semua sembari mengingatkan bahwa teror ada di sekitar kita. Selain mengejutkan, kejadian ini sangat menciderai makna agama karena teror ini dilakukan ketika warga muslim mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadhan. Seharusnya amal ibadah dipertebal dengan mengedepankan penguasaan diri justru terjadi mengorbankan jiwa orang lain. Teroris adalah musuh bersama umat beragama.
Apapun kejadian di sekitar kita tetaplah kita jadikan sebagai pelajaran. Momen hari Puasa ini bagi umat muslim tentu menjadi bahan refleksi yang mendalam agar terus bersama-sama mensosialisasikan islam yang rahmatan; rahmat bagi semua orang dan lingkungan hidup.
Sebagai seorang outsider saya melihat makna yang sangat dalam dari bulan puasa, diantaranya:
1. Penguasaan Diri
Satu hal yang sangat kental dari yang ditekankan bulan Ramadhan adalah penguasaan diri. Umat muslim belajar menahan diri atas lapar dan haus harus ditahan sepanjang hari. Makan dan minum adalah kebutuhan pokok manusia, dengan berpuasa dipahami bahwa manusia dapat menguasai dirinya dalam hal yang pokok sekalipun. Penguasaan ini disini tentu menjadi pusat perhatian. Dengan berpuasa tentu umat muslim terlatih dan terbiasa dalam penguasaan diri. Sungguh suatu praktek keagamaan yang sangat mulia, apalagi jika hal ini menjadi habit (kebiasaan) tentu akan menjadi karakter pribadi yang sangat mulia. Penguasaan diri ini bukan pula hanya bagi umat muslim yang sedang berpuasa, namun umat beragama lain pun akan sontak menghargainya kebiasaan merokok di tempat publik misalnya akan berkurang termasuk aktifotas lainnya demi menghargai bulan suci Ramadhan. Ini satu contoh sederhana bahwa penguasaan diri bukan hanya bagi umat muslinm yang menjalankan ibadah puasa, namun umat beragama lain pun diingatkan untuk menghargai bulan puasa dengan penuh kesadaran akan penguasaan diri dan kesucian hidup.
2. Nuansa Religius: Di Indonesia kita sangat merasakan ini. Setiap memasuki bulan Ramadhan ada nuansa yang berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya atau sesudahnya. Dalam bulan Ramadhan media Televisi misalnya memperdengarkan lagu rohani muslim diiringi gambus dan rebana yang mengagumkan, pengajian alquran terus diperdengarkan menjelang berbuka puasa, para pemuka dan publik figur (termasuk para artis) tampak tampil lebih religius dengan pakaian muslim. Tak kalah penting selalu ada renungan-renungan (khotbah) dari pada para ulama-ulama yang sangat bernas dan mengugah hati. Tak kalah penting, Iklan-iklan media pun berubah lebih banyak memiliki pesan-mesan penting dalam mengingatkan makna Ramadhan, sekalipun ada kesan mengkomersilakan bulan Ramadhan dengan menjual produk unggulan mereka. Memang itu prinsip ekonomi yang sagat kental dalam moment apapun selalu mencari untung. Berbeda dengan masyarakat biasa seperti pedagang kecil mereka menutup warung makan mereka untuk menghargai bulan suci Ramadhan. Kalau pun ada yang buka hanya buka setengah saja untuk melayani mereka yang tidak berpuasa.
Inilah suasana dan nuansa sehari-hari ketika memasuki bulan Ramadhan, nuansa religius yang sangat kental dalam kehidupan sehari hari kita di Indonesia
3. Bulan Puasa Penuh Bhakti:
Ada satu hal yang khusus dari catatan seorang outsider dalam melihat fenomena bukan Ramadhan. Saudara-sausara muslim melalukan suatu bhakti sosial dengan berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Berita akan silih berganti para publik figur berbuka puasa bukan hanya di mesjid-mesjid saja namun berbuka puasa bersama dengan berbagai lembaga-lembaga sosial seperti panti asuhan, panti jompo, anak jalanan dan berbagai masyarakat marjinal lainnya. Tentu ini menggambarkan bulan bhakti penuh amal. Praktek ini menunjukkan bahwa ibadah bukan dipahami dalam bentuk pemenuhan kebutuhan rohani ansih atau mengikuti ibadah menurut ketentuan agama, namun dengan kentalnya bulan bhakti di bulan ramadhan menunjukkan bahwa ibadah sebenarnya adalah praksis hidup yang berbagi kepada sesama, memberi uluran tangan bagi yang membutuhkan pertolongan.
Puasa di Bulan Ramdhan dengan menahan diri tidak makan dan tidak minum sepanjang hari tidak membuat merek lemah, namun energik dan potensial untuk berbhakti dan berbagi dengan orang lain.
4. Kebersamaan dan Harmoni
Selain berbhakti dan beramal di bulan puasa, satu hal yang memiliki makna khusus dalam melaksanakan puasa di Bulan ramadhan adalah makna harmoni yang luar biasa. Masing-masing keluarga nampaknya mempersipkan moment istimewa untuk berbuka puasa bersama. Ini momen penting, dalam aktifitas sehari-hari apalagi kehiduoan di kota yang serba sibuk dalam mencari nafkah moment kebersamaan ini seolah direnggut dari setiap keluarga. Melalui bukan puasa ini suatu momen kebersamaan yang kental baik; mengawali hari dengan makan bersama diwaktu subuh dan mengakhir aktifitas dengan berbuka bersama. Masing-masing keluarga melaksanakan ini. Tentu pesan moral yang sangat dalam akan pentingnya kebersamaan. Kebersamaan dan harmoni dalam keluarga tentu akan bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan masyarakat.
Selamat berpuasa bagi saudara-saudara kami, sahabat dan teman kami umat Muslim di Indonesia.
SEMBAHLAH DIA,
SEMBAHLAH DIA, SATU-SATUNYA ALLAH YANG MENCIPTAKAN LANGIT DAN BUMI
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini. Jumat 26/05/2017
Wahyu 14:7 (TB) dan ia berseru dengan suara nyaring: "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air."
Revelation 14:7 (UKJV) Saying with a loud voice, Fear God, and give glory to him; for the hour of his judgment has come: and worship him that made heaven, and earth, and the sea, and the fountains of waters.
Salah satu tujuan penulisan kitab wahyu adalah meneguhkan jemaat mula-mula menghadapi penderitaan dan penganiayaan terhadap kekristenan. Kaisar Romawi semakin menunjukkan permusuhan besar terhadap kekristenan dan juga termasuk ekstrimis Yahudi seperti gerakan-gerakan zelotis. Puncak kemarahan Kaisar Romawi adalah ketika Kaisar Nero yang memerintahkan pengepungan dan penghancuran Bait Suci Yerusalem tahun 70. Hal itu dilakukan untuk menghentikan perlawanan dari kelompok-kelompok yang dicurigai melakukan perlawanan kepada pihak kelaisaran. Bait Suci akhirnya hancur dan semua orang Yahudi dan umat Kristen menjadi sasaran kebencian Kaisar. Bukan hanya itu tahun 80-90 muncul Kaisar Domitianus yang mengeluarkan perintah agar seluruh penduduk romawi menyembah sebagai dewa orang Romawi. Perintah ini membuat penderitaan semakin lengkap karena Yahudi dan keristenan tidak menyembah dewa. Konsekwensi penolakan penyembahan kaisar akan berat yaitu hukuman mati bahkan ada yang dimasukkan ke gua singan sebegai tontonan dan sebahagian dibakar hidup-hidup sebagai obor di jalan. Cara itu dilakukan sebagai peringatan bagi setiap usaha melawan perintah kaisar.
Pergumulan itulah yang dialami jemaat mula-mula dalam konteks renungan ini. Kitab wahyu mengingatkan agar tidak mau tunduk pada kaisar dan menyembahnya. Orang percaya harus lebih takut kepada kepada Tuhan dari pada manusia. Hanya Tuhan satu-satunya yang harus disembah dan dipuja, yaitu Tuhan Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang kita kenal di dalam nama Yesus Kristus. Dialah Tuhan dan raja, yang memberikan kehidupan. Dialah air hidup yang memberikan kehidupan yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepadaNya.
Jangan takut, bertahanlah dan tetaplah setia dalam prinsip iman yang kuat itu karena malaikat memberitahukan bahwa tidak lama lagi penghakiman itubakan datang. Setiap orang akan dilucuti dan memberikan pertanggungjawaban hidupnya dihadapan Allah. Lebih baik setia dan menahan dalam penderitaan karena upah orang setia akan memperoleh kehidupan kekal, dari pada menyangkal iman kehilangan pengharapan dan penghukuman kekal. Dalam ayat berikutnya malaikat memberitahukan bahwa tinggal sesaat lagi Babilonia itu akan runtuh. Istilah Babelonia itu ditujukan kepada Kaisar yang menganiaya kekristenan.
Ujian terhadap iman dan setia kepada Allah menjadi kunci pokok dalam renungan ini. Memang konsekwensinya sangat berat apalagi diperhadapkan dengan hukuman yang berat. Beriman adalah konsekwensi taruhan nyawa, sama seperti pengalaman Daniel dkk di Babelonia yang dipaksa menyembah Nebukadnezar. Namun Tuhan melindungi dan menjaga Daniel dkk.
Kesetiaan kepada Allah pencipta dan kepada Yesus Kristus merupakan harga mati. Apalah artinya segala sesuatu dapat dimiliki di dunia ini namun kehilangan nyawanya? Firman ini menguatkan jemaat mula-mula agar tetap setia di dalam iman dan menyembah Allah saja, satu-satunya Allah yang harus dipuji dan disembah.
Sahabat sekalian, tantangan iman kita tentu sangat berbeda dengan jaman kitab ini. Kita saat ini diuji bukan karena tekanan, namun lebih banyak karena godaan dan cobaan. Dalam setiap cobaan dan pergumulan yang kita hadapi setialah di dalam iman. Hanya Tuhan Pencipta langit dan bumi satu-satunya Allah yang kita sembah yang memberikan kehidupan bagi kita. Jangan sampai kehilangan pengharapan dan upah yang sudah dipersiapkan bagi orang yang percaya. Yaitu kehidupan yang kekal.
Sahabatku, marilah jadikan firman Tuhan sebagainsumber kekuatan, inspirasi dan motivasi di dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberikan kekuatan bagi kita semuanya.
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini. Jumat 26/05/2017
Wahyu 14:7 (TB) dan ia berseru dengan suara nyaring: "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air."
Revelation 14:7 (UKJV) Saying with a loud voice, Fear God, and give glory to him; for the hour of his judgment has come: and worship him that made heaven, and earth, and the sea, and the fountains of waters.
Salah satu tujuan penulisan kitab wahyu adalah meneguhkan jemaat mula-mula menghadapi penderitaan dan penganiayaan terhadap kekristenan. Kaisar Romawi semakin menunjukkan permusuhan besar terhadap kekristenan dan juga termasuk ekstrimis Yahudi seperti gerakan-gerakan zelotis. Puncak kemarahan Kaisar Romawi adalah ketika Kaisar Nero yang memerintahkan pengepungan dan penghancuran Bait Suci Yerusalem tahun 70. Hal itu dilakukan untuk menghentikan perlawanan dari kelompok-kelompok yang dicurigai melakukan perlawanan kepada pihak kelaisaran. Bait Suci akhirnya hancur dan semua orang Yahudi dan umat Kristen menjadi sasaran kebencian Kaisar. Bukan hanya itu tahun 80-90 muncul Kaisar Domitianus yang mengeluarkan perintah agar seluruh penduduk romawi menyembah sebagai dewa orang Romawi. Perintah ini membuat penderitaan semakin lengkap karena Yahudi dan keristenan tidak menyembah dewa. Konsekwensi penolakan penyembahan kaisar akan berat yaitu hukuman mati bahkan ada yang dimasukkan ke gua singan sebegai tontonan dan sebahagian dibakar hidup-hidup sebagai obor di jalan. Cara itu dilakukan sebagai peringatan bagi setiap usaha melawan perintah kaisar.
Pergumulan itulah yang dialami jemaat mula-mula dalam konteks renungan ini. Kitab wahyu mengingatkan agar tidak mau tunduk pada kaisar dan menyembahnya. Orang percaya harus lebih takut kepada kepada Tuhan dari pada manusia. Hanya Tuhan satu-satunya yang harus disembah dan dipuja, yaitu Tuhan Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang kita kenal di dalam nama Yesus Kristus. Dialah Tuhan dan raja, yang memberikan kehidupan. Dialah air hidup yang memberikan kehidupan yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepadaNya.
Jangan takut, bertahanlah dan tetaplah setia dalam prinsip iman yang kuat itu karena malaikat memberitahukan bahwa tidak lama lagi penghakiman itubakan datang. Setiap orang akan dilucuti dan memberikan pertanggungjawaban hidupnya dihadapan Allah. Lebih baik setia dan menahan dalam penderitaan karena upah orang setia akan memperoleh kehidupan kekal, dari pada menyangkal iman kehilangan pengharapan dan penghukuman kekal. Dalam ayat berikutnya malaikat memberitahukan bahwa tinggal sesaat lagi Babilonia itu akan runtuh. Istilah Babelonia itu ditujukan kepada Kaisar yang menganiaya kekristenan.
Ujian terhadap iman dan setia kepada Allah menjadi kunci pokok dalam renungan ini. Memang konsekwensinya sangat berat apalagi diperhadapkan dengan hukuman yang berat. Beriman adalah konsekwensi taruhan nyawa, sama seperti pengalaman Daniel dkk di Babelonia yang dipaksa menyembah Nebukadnezar. Namun Tuhan melindungi dan menjaga Daniel dkk.
Kesetiaan kepada Allah pencipta dan kepada Yesus Kristus merupakan harga mati. Apalah artinya segala sesuatu dapat dimiliki di dunia ini namun kehilangan nyawanya? Firman ini menguatkan jemaat mula-mula agar tetap setia di dalam iman dan menyembah Allah saja, satu-satunya Allah yang harus dipuji dan disembah.
Sahabat sekalian, tantangan iman kita tentu sangat berbeda dengan jaman kitab ini. Kita saat ini diuji bukan karena tekanan, namun lebih banyak karena godaan dan cobaan. Dalam setiap cobaan dan pergumulan yang kita hadapi setialah di dalam iman. Hanya Tuhan Pencipta langit dan bumi satu-satunya Allah yang kita sembah yang memberikan kehidupan bagi kita. Jangan sampai kehilangan pengharapan dan upah yang sudah dipersiapkan bagi orang yang percaya. Yaitu kehidupan yang kekal.
Sahabatku, marilah jadikan firman Tuhan sebagainsumber kekuatan, inspirasi dan motivasi di dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberikan kekuatan bagi kita semuanya.
Rabu, 24 Mei 2017
Missi Agung: MENJADI SAKSI KRISTUS
MISSI AGUNG: Menjadi Saksi Kristus
Selamat Merayakan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus!
Kenaikan Yesus Kristus adalah memiliki makna fundamental dalam kekristenan. Keselamatan di dalam diri Yesus Kristus telah digenapi secara sempurna. Yesus naik ke surga, duduk disebelah Kanan Allah Bapa. Yesus menyediakan tempat bagi kita di rumah Bapa di Sorga.
Sungguh menarik firman Tuhan dalam merayakan hari kenaikan ini dari Kisah 1:1-11, jangan tertegun hanya melihat dan menatap langit namun bekerja, bersaksilah di dunia ini menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allab. Yesus telah naik ke sorga dan memastikan dan menjamin kewargaan kita dalam Kerajaan Sorga. Kini pertanyaan apa yang menjadi tugas kita di dunia ini?
1. Yesus Naik ke Sorga, Bagaimana Nasib Kerajaan Israel?
Ini adalah pertanyaan dari murid-murid ketika memberitahukan bahwa Yesus akan meninggalkan mereka. Adakah pemulihan Israel, jika ada mengapa Yesus meninggalkan para murid? Pertanyaan ini muncul karena para murid memahami bahwa Yesus datang hendak memulihkan Kerajaan Israel di dunia ini sebagaimana zaman Daud. Yesus tidak menjawab langsung pertanyaan murid namun semakin nyata bahwa Dia datang bukan mau mendirikan Kerajaan Israel, namun Kerajaan Allah di dunia ini di dalamnya ada kebenaran, keadilan, sukacita dan damai sejahtera. Inilah tanda-tanda kerajaan Allah, hal ini yang harus nyata dalam kehidupan masyarakat. Menghadirkan Kerajaan Allah menjadi amanat agung yang disampaikan oleh Yesus kepada murid-murid. Orang percaya diutus untuk menghadirkan syalom Allah di tengah-tengah masyarakat.
Kembali kepada kerjaan Israel. Kitab Injil jelas menekankan bahwa missi Yesus Kristus bukann hanya memulihkan Israel yang kita kenal dengan anak-anak Yakub. Namun Israel yang diperbaharui. Yesus bukan mau memulihkan kebangsaan anak-anak Abraham secara lahiriah, namun kebangsaan anak-anak Abraham yang diikat oleh perjanjian. Orang menerima Yesus Kristus adalah pewaris janji dan di dalam Yesus Kristus kita menjadi anak-anak Abraham melalui iman dan dimateraikan melalui baptisan.
Yesus naik ke sorga, membuktikan bahwa Yesus bukan mempersiapkan suatu kerajaan di dunia ini, namun mempersiapkan dunia ini memiliki pengharapan kepada kehidupan kekal. Sebelum bersama Yesus dalam kerajaan Allah kita tetap tinggal di dunia ini menghadirkan kerajaan Allah. Dari perspektif ini kita bisa melihat peran Kekristenan di tengah-tengah dunia, gereja dan masyarakat. Allah tidak meninggalkan mereka sendiri di namun mereka menghadirkan Kerajaan Allah dengan kuat kuasa Kudus.
2. Penyertaan Roh Kudus. Pesan ini sangat penting bahwa murid tidak boleh beranjak sebelum menerima kuasa roh kudus. Disini murid-murid tidak dapat bekerja dan melayani tanpa kuasa Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus menjadi energy atau dynamit yang kuat di dalam diri murid-murid melakukan pelayanan. Mereka tidak berdaya dan tak dapat melakukan apa-apa tanpa Roh Kudus.
Sangat disayangkan jika peran roh kudus hanya dipersempit dengan kemampuan berbahasa roh. Padahal peran roh kudus sangan fundamental bagi orang percaya. Roh mengajar, menghibur, memenguatkan dan memelihara orang percaya hingga akhir jaman. Karunia-karunia Roh yan berbeda-beda pada setiap diri setiap orang semestinya dipersembahkan untuk pelayanan Kerajaan Tuhan di dunia ini.
3. Menjadi Saksi:
Saksi disini bisa seperti saksi dalam pengadilan: menjelaskan suatu kejadian dengan benar. Menjadi saksi disini bisa lebih dalam yaitu memberitakan (proclaim) perbuatan Allah. Memberitakan cerita tentang Yesus Kristus Anak Allah. Dia adalah yuruselamat dunja. Menjadi saksi berarti menceritakan peristiwa yang mereka alami sebagai pengalaman iman. Pengalaman orang percaya dapat menguatkan sesama.
Menjadi saksi tidak diam, namun ada pergerakan: mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Keselamatan yang kita terima tidak berhenti pada diri kita sendiri. Namun kita dipanggil menjadi saksi Kristus di dunia ini
Lewat apa kita menjadi saksi Kristus? Ada gerakan yang sangat disesalkan akhir-akhir ini dalam kekristenan, mempendetakan berbagai orang. Meninggalkan berbagai karier dan professi yang sangat strategis dalam pelayanan dan missi dunia. Seharusnya menjadi saksi adalah masuki berbagai bidang dan dunia pekerjaan apapun itu sehingga orangbpercaya dapat menjadi saksi dan teladan. Menjadi garam dan terang, sehingga seluruh dunia ini dan berbagai bidang-bidang kehidupan ini disentuhboleh Injil dan melalui kesaksian hidup orang percaya yang berada di sana.
Inilah makna menjadi saksi berarti bergerak, memasuki dunia ini dalam berbagai pekerjaan dan professi. Injil menggarami dan menerangi dunia ini lewat keteladanan kehidupan orang percaya. Meneladani hidup Yesus Kristus.
Selamat Merayakan Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus!
Kenaikan Yesus Kristus adalah memiliki makna fundamental dalam kekristenan. Keselamatan di dalam diri Yesus Kristus telah digenapi secara sempurna. Yesus naik ke surga, duduk disebelah Kanan Allah Bapa. Yesus menyediakan tempat bagi kita di rumah Bapa di Sorga.
Sungguh menarik firman Tuhan dalam merayakan hari kenaikan ini dari Kisah 1:1-11, jangan tertegun hanya melihat dan menatap langit namun bekerja, bersaksilah di dunia ini menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allab. Yesus telah naik ke sorga dan memastikan dan menjamin kewargaan kita dalam Kerajaan Sorga. Kini pertanyaan apa yang menjadi tugas kita di dunia ini?
1. Yesus Naik ke Sorga, Bagaimana Nasib Kerajaan Israel?
Ini adalah pertanyaan dari murid-murid ketika memberitahukan bahwa Yesus akan meninggalkan mereka. Adakah pemulihan Israel, jika ada mengapa Yesus meninggalkan para murid? Pertanyaan ini muncul karena para murid memahami bahwa Yesus datang hendak memulihkan Kerajaan Israel di dunia ini sebagaimana zaman Daud. Yesus tidak menjawab langsung pertanyaan murid namun semakin nyata bahwa Dia datang bukan mau mendirikan Kerajaan Israel, namun Kerajaan Allah di dunia ini di dalamnya ada kebenaran, keadilan, sukacita dan damai sejahtera. Inilah tanda-tanda kerajaan Allah, hal ini yang harus nyata dalam kehidupan masyarakat. Menghadirkan Kerajaan Allah menjadi amanat agung yang disampaikan oleh Yesus kepada murid-murid. Orang percaya diutus untuk menghadirkan syalom Allah di tengah-tengah masyarakat.
Kembali kepada kerjaan Israel. Kitab Injil jelas menekankan bahwa missi Yesus Kristus bukann hanya memulihkan Israel yang kita kenal dengan anak-anak Yakub. Namun Israel yang diperbaharui. Yesus bukan mau memulihkan kebangsaan anak-anak Abraham secara lahiriah, namun kebangsaan anak-anak Abraham yang diikat oleh perjanjian. Orang menerima Yesus Kristus adalah pewaris janji dan di dalam Yesus Kristus kita menjadi anak-anak Abraham melalui iman dan dimateraikan melalui baptisan.
Yesus naik ke sorga, membuktikan bahwa Yesus bukan mempersiapkan suatu kerajaan di dunia ini, namun mempersiapkan dunia ini memiliki pengharapan kepada kehidupan kekal. Sebelum bersama Yesus dalam kerajaan Allah kita tetap tinggal di dunia ini menghadirkan kerajaan Allah. Dari perspektif ini kita bisa melihat peran Kekristenan di tengah-tengah dunia, gereja dan masyarakat. Allah tidak meninggalkan mereka sendiri di namun mereka menghadirkan Kerajaan Allah dengan kuat kuasa Kudus.
2. Penyertaan Roh Kudus. Pesan ini sangat penting bahwa murid tidak boleh beranjak sebelum menerima kuasa roh kudus. Disini murid-murid tidak dapat bekerja dan melayani tanpa kuasa Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus menjadi energy atau dynamit yang kuat di dalam diri murid-murid melakukan pelayanan. Mereka tidak berdaya dan tak dapat melakukan apa-apa tanpa Roh Kudus.
Sangat disayangkan jika peran roh kudus hanya dipersempit dengan kemampuan berbahasa roh. Padahal peran roh kudus sangan fundamental bagi orang percaya. Roh mengajar, menghibur, memenguatkan dan memelihara orang percaya hingga akhir jaman. Karunia-karunia Roh yan berbeda-beda pada setiap diri setiap orang semestinya dipersembahkan untuk pelayanan Kerajaan Tuhan di dunia ini.
3. Menjadi Saksi:
Saksi disini bisa seperti saksi dalam pengadilan: menjelaskan suatu kejadian dengan benar. Menjadi saksi disini bisa lebih dalam yaitu memberitakan (proclaim) perbuatan Allah. Memberitakan cerita tentang Yesus Kristus Anak Allah. Dia adalah yuruselamat dunja. Menjadi saksi berarti menceritakan peristiwa yang mereka alami sebagai pengalaman iman. Pengalaman orang percaya dapat menguatkan sesama.
Menjadi saksi tidak diam, namun ada pergerakan: mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Keselamatan yang kita terima tidak berhenti pada diri kita sendiri. Namun kita dipanggil menjadi saksi Kristus di dunia ini
Lewat apa kita menjadi saksi Kristus? Ada gerakan yang sangat disesalkan akhir-akhir ini dalam kekristenan, mempendetakan berbagai orang. Meninggalkan berbagai karier dan professi yang sangat strategis dalam pelayanan dan missi dunia. Seharusnya menjadi saksi adalah masuki berbagai bidang dan dunia pekerjaan apapun itu sehingga orangbpercaya dapat menjadi saksi dan teladan. Menjadi garam dan terang, sehingga seluruh dunia ini dan berbagai bidang-bidang kehidupan ini disentuhboleh Injil dan melalui kesaksian hidup orang percaya yang berada di sana.
Inilah makna menjadi saksi berarti bergerak, memasuki dunia ini dalam berbagai pekerjaan dan professi. Injil menggarami dan menerangi dunia ini lewat keteladanan kehidupan orang percaya. Meneladani hidup Yesus Kristus.
Selasa, 23 Mei 2017
KASIHNYA TETAP HINGGA BERIBU-RIBU KETURUNAN
KASIHNYA TETAP HINGGA BERIBU-RIBU KETURUNAN
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan bagi kita. Rabu 24/05/2017
Ulangan 7:9 (TB) Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan,
Deuteronomy 7:9 (UKJV) Know therefore that the LORD your God, he is God, the faithful God, which keeps covenant and mercy with them that love him and keep his commandments to a thousand generations;
Janji membutuhkan kepastian! Kepastian itu penting karena sifat manusia yang berubah-ubah. Pasti setiap orang akan hormat melihat kualitas pribadi seseorang yang kommit dan tepat janji. Sebaliknya kita akan ragu kepada seseorang yang sering berjanji namun tak pernah menepatinya. Persoalan kemanusiaan kita sering terjadi di seputar memenuhi janji. Misalnya hubungan kasih, seorang kecewa berat bahkan bisa menjadi bunuh diri karena kekasihnya tidak memenuhi janji. Makanya ungkapan lama sering diingatkan: janji adalah hutang yang harus dibanyar. Makanya jangan berjanji jika tidak mampu merealisasikannya.
Janji dalam pemahaman Alkitab sangat menarik. Istilah yang dipakai adalah "mengikat perjanjian" atau "memotong perjanjian". Bahasa Ibrani disebut Karat Beryth. Dalam mengikat perjanjian atau memotong perjanjian biasanya ada kurban ternak yang dipotong. Jika ada pihak yang membatalkan janji maka darahnya akan menjadi kurban seperti darah kurban yang dipotong. Allah memilih Abraham dan mengadakn perjanjian dengan Abraham memakai istilah Karath Beryth. Suatu kepastian bahwa Tuhan akan memenuhi janjiNya kepada Abraham dan pada pihak Abraham akan setia menuruti perintah Allah.
Kepastian janji Allah diulangi oleh Musa kepada umat Allah yang hendak memasuki tanah Kanaan. Janji Allah itu pasti, bukan hanya sekarang tetapi beribu-ribu keturunan. Allah akan setia mengasihi umatNya dan memberkati mereka di Tanah Kanaan hingga beribu-ribu keturunan. Namun sebagaimana syarat janji kedua pihak harus memelihara janji. Jika Allah setia pada janjinya yang mengasihi dan memberkati umatNya, maka Umat Israel harus setia memelihara dan melakukan perintah Allah. Umat yang setia akan menikmati kasih Allah, bukan hanya mereka tapi leturunan mereka. Bukan hanya satu generasi, tetapi beribu-ribu generasi. Itulah keabadian janji Allah.
Peringatan kesetiaan ini penting diingatkan Musa; karena mereka akan memasuki suasana baru di Kanaan. Kanaan tanah yang subur, penuh kemakmuran dan kelimpahan. Namun ada pula tantangan baru yaitu godaan pada ilah orang Kanani yang menyembah dewa-dewi kesuburan. Mereka akan berhadapan dengan masyarakat di sekitar, melihat praktek hidup mereka yang bisa menggoda untuk melupakan Tuhan. Apa yang disampaikan Musa benar, ketika Yosua memimpin mereka memasuki Kanaan; praktek hidup mereka berbeda bahkan sudah hampir meninggalkan Tuhan. Dengan keras Josus berseru: Aku dan seisi rumahku hanya beribadah kepada Allah (Yosua 24:15)
Sahabatku, kita adalah bahagian yang menerima janji Allah. Kasih setianya bukan hanya beribu-ribu keturunan saja, namun kekal dan abadi. Kasih setia Allah bukan hanya di dunia ini, tapi kita pewaris janji memasuki kehidupan yang kekal. Jika Allah telah setia pada janjinya yang memelihara dan memberkati kita, maka kita dituntut untuk setia kepada Tuhan. Dalam keadaan apapun, ketika berkelimpahan berkat jangan lupakan Tuhan. Ada anekdot yang sering terjadi dalam kehidupan orang percaya: ketika menerima berkat kita berseru: "halleluya!" Namun ketika menjalani masalah: hallelupa! Atau sebaliknya ketika kita memperoleh berkat memuji diri dan lupa bahwa itu semua adalah karya Tuhan. Baru setelah jatuh ingat Tuhan.
Sahabatku; dalam segala keadaan tetaplah percaya dan setia pada Tuhan
Mari jadikan firman sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi dalam hidup ini.
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan bagi kita. Rabu 24/05/2017
Ulangan 7:9 (TB) Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan,
Deuteronomy 7:9 (UKJV) Know therefore that the LORD your God, he is God, the faithful God, which keeps covenant and mercy with them that love him and keep his commandments to a thousand generations;
Janji membutuhkan kepastian! Kepastian itu penting karena sifat manusia yang berubah-ubah. Pasti setiap orang akan hormat melihat kualitas pribadi seseorang yang kommit dan tepat janji. Sebaliknya kita akan ragu kepada seseorang yang sering berjanji namun tak pernah menepatinya. Persoalan kemanusiaan kita sering terjadi di seputar memenuhi janji. Misalnya hubungan kasih, seorang kecewa berat bahkan bisa menjadi bunuh diri karena kekasihnya tidak memenuhi janji. Makanya ungkapan lama sering diingatkan: janji adalah hutang yang harus dibanyar. Makanya jangan berjanji jika tidak mampu merealisasikannya.
Janji dalam pemahaman Alkitab sangat menarik. Istilah yang dipakai adalah "mengikat perjanjian" atau "memotong perjanjian". Bahasa Ibrani disebut Karat Beryth. Dalam mengikat perjanjian atau memotong perjanjian biasanya ada kurban ternak yang dipotong. Jika ada pihak yang membatalkan janji maka darahnya akan menjadi kurban seperti darah kurban yang dipotong. Allah memilih Abraham dan mengadakn perjanjian dengan Abraham memakai istilah Karath Beryth. Suatu kepastian bahwa Tuhan akan memenuhi janjiNya kepada Abraham dan pada pihak Abraham akan setia menuruti perintah Allah.
Kepastian janji Allah diulangi oleh Musa kepada umat Allah yang hendak memasuki tanah Kanaan. Janji Allah itu pasti, bukan hanya sekarang tetapi beribu-ribu keturunan. Allah akan setia mengasihi umatNya dan memberkati mereka di Tanah Kanaan hingga beribu-ribu keturunan. Namun sebagaimana syarat janji kedua pihak harus memelihara janji. Jika Allah setia pada janjinya yang mengasihi dan memberkati umatNya, maka Umat Israel harus setia memelihara dan melakukan perintah Allah. Umat yang setia akan menikmati kasih Allah, bukan hanya mereka tapi leturunan mereka. Bukan hanya satu generasi, tetapi beribu-ribu generasi. Itulah keabadian janji Allah.
Peringatan kesetiaan ini penting diingatkan Musa; karena mereka akan memasuki suasana baru di Kanaan. Kanaan tanah yang subur, penuh kemakmuran dan kelimpahan. Namun ada pula tantangan baru yaitu godaan pada ilah orang Kanani yang menyembah dewa-dewi kesuburan. Mereka akan berhadapan dengan masyarakat di sekitar, melihat praktek hidup mereka yang bisa menggoda untuk melupakan Tuhan. Apa yang disampaikan Musa benar, ketika Yosua memimpin mereka memasuki Kanaan; praktek hidup mereka berbeda bahkan sudah hampir meninggalkan Tuhan. Dengan keras Josus berseru: Aku dan seisi rumahku hanya beribadah kepada Allah (Yosua 24:15)
Sahabatku, kita adalah bahagian yang menerima janji Allah. Kasih setianya bukan hanya beribu-ribu keturunan saja, namun kekal dan abadi. Kasih setia Allah bukan hanya di dunia ini, tapi kita pewaris janji memasuki kehidupan yang kekal. Jika Allah telah setia pada janjinya yang memelihara dan memberkati kita, maka kita dituntut untuk setia kepada Tuhan. Dalam keadaan apapun, ketika berkelimpahan berkat jangan lupakan Tuhan. Ada anekdot yang sering terjadi dalam kehidupan orang percaya: ketika menerima berkat kita berseru: "halleluya!" Namun ketika menjalani masalah: hallelupa! Atau sebaliknya ketika kita memperoleh berkat memuji diri dan lupa bahwa itu semua adalah karya Tuhan. Baru setelah jatuh ingat Tuhan.
Sahabatku; dalam segala keadaan tetaplah percaya dan setia pada Tuhan
Mari jadikan firman sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi dalam hidup ini.
Senin, 22 Mei 2017
PRODUKTIF KEPADA KEBAIKAN
PRODUKTIF KEPADA KEBAIKAN
Jangan balaskan kejahatan dengan kejahatan
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini. Selasa, 23/05/2017
1 Tesalonika 5:15 (TB) Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.
1 Thessalonians 5:15 (UKJV) See that none render evil for evil unto any man; but ever follow that which is good, both among yourselves, and to all men.
Ajaran inti kekristenan adalah produktif terhadap kebaikan hidup. Injil menegaskan: Sekalipun dibenci, namun harus penuh kasih, mendoakan dan memberkati mereka yang berbuat jahat. Yesus tidak pernah mengajarkan kekerasan sekalipun untuk untuk menghentikan kejahatan karena penghakiman adalah milik Allah. Tugas manusia adalah mengusahan dan menghasilkan buah-buah kebaikan.
Dengan menjalankan ajaran demikian mungkin saja kita berpikir bahwa orang Kristen menjadi alien (orang asing) di dunia ini. Sama sekali tidak justru dengan tidak membalaskan kejahatan dengan kejahatan dunia akan lebih damai, tenang dan lebih banyak waktu untuk memghasilkan kebaikan. Dapat kita bayangkan bagaimana anggaran negara-negara maju, berkembang dan negara-negara miskin mempersiapkan senjata untuk mengantisipasi dan membalaskan kejahatan. Anggaran pertahanan le ih beaar dibandingkan dengan anggaraj kesehatan dan kesejahteraan. Itulah mahalnya hidup mengantosopasi kejahatan. Dari senjata sederhana hingga senjata nuklir serta pasukan militer dari infantri, zipur, armed dll seluruhnya dipersiapkan untuk membalaskan kejahatan. Seandainya itu semua dianggarkan untuk perbuatan baik mungkin manusia akan lebih produktif terhadap kebaikan.
Ada lagi satu contoh yang sangat menarik di salah satu suku di Indonesia yaitu "budaya carok". Saya tidak usah menyebutkan suku mana, namun itu bisa anda temukan sendiri melalui googling. Hal ini saya tahu ketika mempersiapkan artikel untuk studi tentang akar kekerasan. Dalam budaya carok ini, seorang ibu akan menyimpan dendam atas kematian suaminya dengan menyimpan pakaian suaminya yang berlumuran darah dan senjata yang dipaikainya ketika berkelahi dengan musuhnya. Ketika anaknya sudah dewasa dan dianggap sudah matang untuk membalaskan dendam, sang ibu akan menunjukkan pakaian yang berlumuran darah tersebut kepada anaknya. Maka tugas anak ini adalag untuk membalaskan dendam dan keadilan bagi ayahnya yang telah meninggal. Demikianlah carok trus mewarisi kekerasan dan membalas dendam, maka akan terus ada pertumpahan darah dan mati dicarok.
Ini salah satu contoh saja, tentu jika kita periksa dalam setiap kelompok masyarakat hal yang menyimpan dendam dan mengajarkan hukum membalas sangat kental di tengah masyarakat. Apa yang mau saya sampaikan adalah ini salah satu contoh warisan budaya manusia yang melestarikan dan memelihara kejahatan dan kekerasan bahkan dianggap sebagai bentuk keadilan. Sehingga kejahatan dan kekerasan terus menjadi bahagian dari kehidupan. Inilah kelebihan ajaran kekristenan memutuskan mata rantai kejahatan dan kekerasan.
Jangan membalaskan kejahatan dengan kejahatan. Penghakiman adalah milik Tuhan. Benar melalui alkitab kita memahami Tuhan murka terhadap kejahatan, namun tak satu pun manusia menerima mandat untuk membalaskan kemarahan Tuhan terhadap sesamanya. Tugas manusia menurut orang percaya adalah menghasilkan kebaikan. Kebaikan yang pro kepada kehidupan.
Jangan membalaskan kejahatan dengan kejahatan tetapi produktiflah menghasilkan kebaikan menjadi amanat untuk menghentikan segala akar pahit di dalam diri manusia. Hentikan dendam dendam, kebencian dan kekerasan dengan menghasilkan kebaikan, damai sejahtera dan segala buah baik yang pro kehidupan. Roma 12:21 (TB) Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!
Sahabatku, mari jadikan firman sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita menghasilkan kehidupan yang lebih baik dan lebih damai dengan tidak.membalaskan kejahatan dengan kejahatan. Tuhan memberikan kekuatan bagi kita menghasilkan kebaikan.
Jangan balaskan kejahatan dengan kejahatan
Selamat Pagi! Sahabat yang baik hati, marilah mengambil waktu sejenak untuk berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan di pagi hari ini. Selasa, 23/05/2017
1 Tesalonika 5:15 (TB) Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.
1 Thessalonians 5:15 (UKJV) See that none render evil for evil unto any man; but ever follow that which is good, both among yourselves, and to all men.
Ajaran inti kekristenan adalah produktif terhadap kebaikan hidup. Injil menegaskan: Sekalipun dibenci, namun harus penuh kasih, mendoakan dan memberkati mereka yang berbuat jahat. Yesus tidak pernah mengajarkan kekerasan sekalipun untuk untuk menghentikan kejahatan karena penghakiman adalah milik Allah. Tugas manusia adalah mengusahan dan menghasilkan buah-buah kebaikan.
Dengan menjalankan ajaran demikian mungkin saja kita berpikir bahwa orang Kristen menjadi alien (orang asing) di dunia ini. Sama sekali tidak justru dengan tidak membalaskan kejahatan dengan kejahatan dunia akan lebih damai, tenang dan lebih banyak waktu untuk memghasilkan kebaikan. Dapat kita bayangkan bagaimana anggaran negara-negara maju, berkembang dan negara-negara miskin mempersiapkan senjata untuk mengantisipasi dan membalaskan kejahatan. Anggaran pertahanan le ih beaar dibandingkan dengan anggaraj kesehatan dan kesejahteraan. Itulah mahalnya hidup mengantosopasi kejahatan. Dari senjata sederhana hingga senjata nuklir serta pasukan militer dari infantri, zipur, armed dll seluruhnya dipersiapkan untuk membalaskan kejahatan. Seandainya itu semua dianggarkan untuk perbuatan baik mungkin manusia akan lebih produktif terhadap kebaikan.
Ada lagi satu contoh yang sangat menarik di salah satu suku di Indonesia yaitu "budaya carok". Saya tidak usah menyebutkan suku mana, namun itu bisa anda temukan sendiri melalui googling. Hal ini saya tahu ketika mempersiapkan artikel untuk studi tentang akar kekerasan. Dalam budaya carok ini, seorang ibu akan menyimpan dendam atas kematian suaminya dengan menyimpan pakaian suaminya yang berlumuran darah dan senjata yang dipaikainya ketika berkelahi dengan musuhnya. Ketika anaknya sudah dewasa dan dianggap sudah matang untuk membalaskan dendam, sang ibu akan menunjukkan pakaian yang berlumuran darah tersebut kepada anaknya. Maka tugas anak ini adalag untuk membalaskan dendam dan keadilan bagi ayahnya yang telah meninggal. Demikianlah carok trus mewarisi kekerasan dan membalas dendam, maka akan terus ada pertumpahan darah dan mati dicarok.
Ini salah satu contoh saja, tentu jika kita periksa dalam setiap kelompok masyarakat hal yang menyimpan dendam dan mengajarkan hukum membalas sangat kental di tengah masyarakat. Apa yang mau saya sampaikan adalah ini salah satu contoh warisan budaya manusia yang melestarikan dan memelihara kejahatan dan kekerasan bahkan dianggap sebagai bentuk keadilan. Sehingga kejahatan dan kekerasan terus menjadi bahagian dari kehidupan. Inilah kelebihan ajaran kekristenan memutuskan mata rantai kejahatan dan kekerasan.
Jangan membalaskan kejahatan dengan kejahatan. Penghakiman adalah milik Tuhan. Benar melalui alkitab kita memahami Tuhan murka terhadap kejahatan, namun tak satu pun manusia menerima mandat untuk membalaskan kemarahan Tuhan terhadap sesamanya. Tugas manusia menurut orang percaya adalah menghasilkan kebaikan. Kebaikan yang pro kepada kehidupan.
Jangan membalaskan kejahatan dengan kejahatan tetapi produktiflah menghasilkan kebaikan menjadi amanat untuk menghentikan segala akar pahit di dalam diri manusia. Hentikan dendam dendam, kebencian dan kekerasan dengan menghasilkan kebaikan, damai sejahtera dan segala buah baik yang pro kehidupan. Roma 12:21 (TB) Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!
Sahabatku, mari jadikan firman sebagai sumber kekuatan, inspirasi dan motivasi bagi kita menghasilkan kehidupan yang lebih baik dan lebih damai dengan tidak.membalaskan kejahatan dengan kejahatan. Tuhan memberikan kekuatan bagi kita menghasilkan kebaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)
DALAM KESUSAHAN TETAP BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN
Catatan Kotbah Minggu Misericordias Domini Minggu, 19 April 2026 Ev. Habakuk 3:10-19 DALAM KESUSAHAN BERGEMBIRA DI DALAM TUHAN Selamat Har...