Kotbah Minggu III Stlh Ephipanias
Minggu, 25 Januari 2026
Ev. Haggai 2:1-9
TUHAN SEMESTA ALAM MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA
Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, peran Bait Allah dalam kehidupan umat Allah sangat sentral. Sesuai dengan rencana Daud, Sion menjadi Kota Allah: Pusat Kerajaan dan Pusat Peribadahan dimana Allah hadir dan bersemayam di Bait Allah. Sekakipun Daud yang merencanakan pembangunan Bait Allah, namun raja Salomolah yang dipilih Tuhan membangun Bait Allah.
Di Bait Allah mereka menerima pengajaran, tempat menyampaikan rasa bersyukur, berdoa, menyerahkan kurban persembahan dan berbagai aktifitas lainnya untuk menopang kehidupan rohani. Di Bait Allah juga mereka menerima bimbingan dan nasihat dari para imam untuk menuntun mereka tetap takut akan Tuhan dan memelihara perintahNya. Di daerah yang jauh dari Bait Allah mereka mendirikan synagoge. Di synagoge mereka melakukan aktifitas kerohanian, keagamaan, pendidikan dan ajaran moral tidak terlepas dari kehidupan Isrsel. Namun sekalipun ada synagoge Bait Alkah adalah remoat yang mereka rindukan sebagaimana banyak dituangkan dalam banyak Mazmur. Mazmur 26:8 (TB) TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam.
Hal terpenting disitu adalah diyakini Allah hadir Bait Allah dan bukti diam bersama-sama dengan umatNya.
Umat Allah hampir tak percaya saat Babelonia meruntuhkan Bait Allah. Umat Allah percaya bahwa Bait Allah tempat Maha Kudus dimana Allah yang Maha kuasa mersemayam tetapi dapat diruntuhkan Babel dan tak satupun batu bertindih. Mereka diangkut ke pembuangan Babilonia dan ada rasa hampa dan keyakinan terhadap Tuhan yang diimani sirnah bagi sebahagian orang. Penaklukan Yerusalem oleh Babel di bawah Raja Nebukadnezar II terjadi dalam tiga tahap utama (sekitar 605, 597, dan 586 SM) sebagai respons atas pemberontakan Kerajaan Yehuda. Puncak kehancuran terjadi pada 586 SM, di mana Bait Suci pertama dibakar, tembok kota dirobohkan, dan penduduknya dibuang ke Babel, menandai dimulainya masa Pembuangan Babel.
Syukurlah ada sisa-sisa Israel yang tetap berpengharapan dan memelihara perintah Allah dalam kehidupan mereka. Setelah 70 Tahun di Babelonia Tuhan memakai Raja Kores membebaskan Yehuda dari Babilonia. Mereka diberangkatkan untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah dan tembok Yerusalem.
Hagai adalah salah satu nabi yang bekerja setelah pembuangan. Nabi Hagai meyakinkan kembali umat Allah agar percaya pada kasih setia Tuhan. Tuhan setia menjaga, memelihara dan memberkati umatNya dalam segala keadaan. Allah memelihara mereka dalam pembuangan dan memulangkan mereka kembali ke Yerusalem. Bukan hanya kembali ke Yerusalem, tetapi raja Koresh membekali umatNya dengan sejumlah kebutuhan mereka dan mempersiapkan material yang dibutuhkan membangun kembali Bait Allah dan tembok Yerusalem. Allah telah membuktikan kasih setianya dalam perjalanan umatNya tetapi bagaimanakah jawaban umat atau kasih setia Tuhan?
01. Motivasi Nabi Haggai
Ada pelajaran berharga dari peran nabi nabi Haggai ditengah-tengah umat Allah. Hagai seorang nabi yang fokus memotivasi umat Allah untuk menyelesaikan pembangunan Bait Allah di Yerusalem. Setelah kembali dari pembuangan ada dua fokus program nasional umat Allah, yakni: pembangunan kembali tembok Yerusalem. Hal ini penting karena Yerusalem telah menjadi puing dan kota lama korban perang. Dapat dibayangkan selama 70 tahun di pembuangan, kota ini kosong dan tak berpenghuni, tentu sangat membutuhkan pembangunan agar kota itu ramai kembali seperti sedia kala. Kedua adalah pembangunan kembali Bait Allah. Ezra dan Nehemia bahu membahu untuk mewujudkan pembangunan Bait Allah. Memang ada dukungan dana pembangunan Bait Allah dari raja Koresh namun ada juga tanggungjawab umat untuk mengumpulkan uang dan berupa harta benda serta kewajiban agama seperti perpuluhan yang harus dipersembahkan untuk pembangunan Bait Allah. Ezra 1:2 (TB) "Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda.
Disinilah nabi Hagai hadir untuk mengajak seluruh umat Allah untuk berkomitmen menyokong pembangunan Bait Allah. Jangan ada yang berdalih apalagi meragukan apa yang harus kami beri? Tuhan sendiri pemilik segala apa yang ada, tinggal bagaimana kita percaya sepenuhnya tanpa ragu akan berkat dan kasih setia Tuhan.
2. Mengenang kejayaan masa lalu mengasah harapan: masih adakah yang menyaksikan Rumah Tuhan?
Hagai 2:3 (TB) (2-4) Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya?
Di atas sudah disampaikan bahwa peran Bait Allah sangat sentral dalam kehidupan umat Allah. Bait Allah adalah kebanggaan Israel yang dibangun oleh Raja Salomo. Salamo adalah raja yang sangat masyur dan tidak ada yang mengimbangi Salomo baik sebelum dia dan sesudah dia. 2 Tawarikh 9:22 (TB) Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.
Kebanggaan atas bangunan Bait Allah merupakan aset termegah. Menurut catatan material pembangunan Bait Allah dirinci sebagai berikut. Bait Allah yang dibangun Raja Salomo (sekitar 966-959 SM) di Gunung Moria, Yerusalem, adalah simbol kemewahan luar biasa, dibangun selama 7 tahun menggunakan bahan terbaik seperti emas murni, kayu aras dari Libanon, kayu sanobar, dan batu-batu mahal. Seluruh interior, termasuk dinding, lantai, dan ruang belakang, dilapisi emas murni serta dihiasi ukiran kerub, pohon kurma, dan bunga, menciptakan nuansa istana surgawi yang bernilai tinggi dan megah. (Baca 1 Raja 5-6)
Kemegahan Bait Allah menjadi milik kebanggan umat Allah dibangkitkan oleh Nabi Hagai kembali dengan menanyakan siapakah diantara kamu yang melihat Rumah Allah? Pertanyaan retoris ini bertujuan mengembalikan semangat untuk membangun Bait Allah. Bait Allah adalah kekaguman dan kebanggaan umat Allah karena itu harus kembali dibangun. Setiap orang yang pernah melihat Bait Allah akan mengingat kembali kemegahan Allah ditengah-tengah umat Allah.
Setelah kembali ke Yerusalem ada harapan itu terwujud kembali. Nabi Hagai optimis atas bantuan pemerintah dan kalangan imam niscaya pembangjnan Bait Allah dapat terwujud. Hal inilah yang diyakinkan Hagai, pembangunan kembali Bait Allah adalah kesempatan berharga (kairos) untuk membangun kejayaan umat Allah.
3. Motor Pembangunan adalah pemimpin: bekerjalah dan bangkitlah Tuhan menyertaimu
Hagai 2:2, 4 (TB) (2-3) "Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada selebihnya dari bangsa itu, demikian:
(2-5) Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam,
Transformasi dimulai dari kepala. Pemimpin adalah motor dan penggerak perubahan. Hal ini ditekankan oleh Hagai, makanya hal pertama yang disapa oleh Hagai adalah Bupati Yudea dan Imam yang memimpin di masa itu.
Sealtiel adalah Bupati atau kepala daerah yang memiliki otoritas untuk program pembangunan. Segala perencanaan pembangunan kota akan ditentukan oleh Bupati. Maka disini Hagai menyapa dan menyemangati sebagai pemerintah hang bertanggung jawab untuk kemajuan dan pembangunan daerah. Pembangunan Bait Allah dan tembok Yerusalem adalah program strategis yang dapat meningkatkan harkat dan martabat Yudea.
Sedangkan kepala imam pada saat Hagai adalah Yosua bin Yozadak. Hagai mendorong pemimpin agama karena perannya sangat menentukan spiritualitas umat. Imam memiliki otoritas untuk memberikan kewajiban agama (religius) berupa persembahan dan kurban serta pembiayaan untuk menopang pembangunan Bait Allah.
Apa yang dilakukan oleh Hagai mengajak pemerintah dan rohaniawan untuk bangkit membangun Yerusalem. Hai bupati dan hai imam, hai pemimpin daerah dan pemimpin agama bangkitlah, bekerjalah! Tuhan sendiri yang menyertai dan memberkati pekerjaan hingga berhasil.
4. Jangan Takut:
4.1. Jangan takut: di dalam Tuhan segala sesuatu tersedia
Hagai 2:8 (TB) (2-9) Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam.
Disatu sisi secara ekonomi mereka belum kuat. Mereka orang-orang yang baru kembali dari pembuangan masih ada yang membangun rumah dan membuka ladang pertanian atau usaha mereka. Namun alasan ekonomi tidak bisa menjadi alasan untuk tidak membangun Bait Allah.
Hagai menegaskan jangan takut! Hal itu telah dimulai dengan peran Raja Koresh, memulangkan dan membekali mereka. Nehemia dipakai Tuhan dengan hikmat yang luar biasa, dia meminta agar raja Persia membuat surat kepada seluruh bupati untuk menopang pembangunan Bait Allah (Baca Nehemia 2-3). Ketiga diharapkan dari topangan unat melalui persembahan dan perpuluhan sebagaimana ketentuan religius yang tekah diwajibkan sejak zaman Musa. Ada kewajiban-kewajiban agama yang harus diberikan kepada pembendaharaan pembangunan Bait Allah.
Wajar saja ada kekuatiran tentang biaya yang begitu besar untuk menopang pembangunan tersebut, namun Hagai menegaskan bahwa sumber segala sesuatu ada pada Tuhan sebagaimana disebutkan dalam ay 8. Pada Tuhan segala sesuatu ada: perak, emas dan segala kekayaan. Karena Dialah Allah semesta.
4.2. Jangan takut: Tuhan memberikan damai sejahtera.
Hagai 2:9 (TB) (2-10) Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam."
Nabi Hagai menyebutkan hal damai sejahrera. Hal ini terkait dengan pengalaman real dimana akan selalu muncul negara adikuasa untuk menaklukan negara-negara sekitar. Sebagaimana kita tahu negara adikuasa silih berganti: Mesir, Assyur, Babelonia dan Persia. Tentu dengan realitas ini ada kekuatiran akan kekejaman perang.
Dalam ancaman dan kekuatiran akan kekejaman perang ini, Hagai menjawab: Tuhan mendatangkan damai sejahtera. Allah adalah Maha Kuasa, berdaulat bukan hanya kepada Israel, atau Yehuda saja. Tetapi Tuhan berdaulat dan mengatur raja-raja dan semesta alam. Tuhan mendatangkan damai sejahtera.
Sahabat yang baik hati, kehadiran Nabi Hagai menjadi motivasi bagi kita. Sebagai nabi dia memotivasi umat Allah agar memilikk semngat dan menumbuhkan optimis bahwa mereka bisa dan mampu membangun kembali Bait Allah. Dia bukan hanya memotivasi umat, tetapi juga menyemangati para pemimpin, baik pemerintah maupun pemimpjn agama. Posisi mereka sangat strategis untuk membangun kembali Bait Allah. Ada banyak kebutuhan, ada banyak kekuatiran tetali Tuhan semesta alam berkuasa untuk mengatasinya. Amin
Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak
Praeses HKBP D.18 Jabartengdiy
_20260124_182325_0000.jpg)
_20260124_182325_0000.jpg)
_20260117_100521_0000.jpg)
_20260103_082555_0000.jpg)

