Sabtu, 26 Juli 2025

BERDOA SYAFAAT MEMOHON KESELAMATAN

 Kotbah Minggu VI Stlh TRINITATIS

Minggu, 27 Juli 2025

Ev. Kejadian 18:22-33



DOA SYAFAAT MEMOHON KESELAMATAN!


Selamat Hari Minggu ! Sahabat yang baik hati, sehari-hari kita menerima salam selamat: seperti selamat pagi, selamat siang, selamat malam dan ucapan selamat lainnya dalam berbagai event dan kegiatan. Orang Batak selalu menyapa dengan kata: "Horas", Sahabat kita Muslim menyapa "Assalamualaikum" dan Orang Israel sempaikan Syalom. Jika kita cari dalam berbagai suku bangsa yang ada tentu akan ada sapaan harian mengucapkan selamat. Bagi saya itu suatu tanda bahwa setiap orang membutuhkan keselamatan, selamat dalam menjalani dan melaksanakan kehidupan sehari-hari. 


Dalam Kotbah Minggu ini, kita juga berbicara untuk memohon keselamatan, dan jika kita perhatikan teks kotbah ini, doa permohonan Abraham memohon keselamatan bukan keselamatan dirinya sendiri atau keluarganya, tetapi memohon keselamatan Sodom dan Gomora. Memang ada ikatan keluarga dari Abraham dengan Sodom karena Lot ada disana. Jadi Abraham berdoa syafaat untuk orang lain. Hal ini menjadi pesan penting bagi umat Kristen, yang menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus berdoa syafaat untuk keselamatan orang lain. 


Allah menyampaikan rencanaNya kepada Abraham untuk menghukum Sodom. Alkitab mencatat dosa-dosa Sodom diantaranya: perzinahan, kesombongan dan ketidak percayaan. Mereka sangat kejam terhadap orang asing hingga menginginkan orang lain sebagai mangsa (Kej 18). Nabi Yehezkiel juga menyinggung dosa Sodom dalam Yehezkiel 16:49-50 (TB) "Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. Mereka menjadi tinggi hati dan melakukan kekejian di hadapan-Ku; maka Aku menjauhkan mereka sesudah Aku melihat itu."

Sodom dan Gomora mrnjsdi prase yang mengingatkan dahsyatnya dosa dan hukuman Allah atas dosa. 


Sodom dan Gomora dimusnahkan Tuhan melalui Api dan Belerang sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 18-19 ini. Dalam studi Archeologi bahwa Sodom dan Gomora yang dihancurkan itu berlokasi di Yordania bernama Tel-El Hamman atau ujung utara Laut Mati. Tel-El Hamman hancur diperkirakan 1.000 kali lipat dari bom atom di Hirosima. Tentu penelitiaan akan kota Sodom penting untuk mengungkapkan kebenaran Alkitab. 


Dalam pemberitahuan hukuman Tuhan adakah keselamatan? Disinilah kotbah Minggu ini yang menarik, yaitu doa syafaat Abraham memohon keselamatan. Baiklah kita ambil beberapa pokok penting yang dapat kita pelajari dari kotbah ini: 


1. Pemberitahuan rencana Allah

Ada satu makna spiritual di dalam nats kotbah ini, yaitu: Abraham memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan. Tuhan mengungkapkan rencananya kepada Abraham untuk menghukum Sodom dan Gomora. Tentu tidak kepada semua orang kita menyampaikan rencana kita, hanya kepada orang yang akrab dan mengerti isi hati kita. Disini Allah sendiri yang memberitahuklan rencanaNya tentang hukuman terhadap Sodom. Abraham pun menyampaikan pendapatnya dan permohonannya kepada Tuhan. 


Rencana Allah telah matang, dosa Sodom dan Gomora tidak terampuni lagu dan harus dihukum. Perilaku bezat dan dosa yang tidak dapat ditolerir harus dihentikan dengan memusnahkan mereka dan tidak seorang pun yang tertinggal. Naluri kemanusiaan Abraham terusik, apakah rencana Allah ini tidak keliru? Apakah Tuhan memusnahkan orang benar bersama orang fasik disana? Apakah Tuhan tidak keliru dengan keputusan itu? Itulah kesan Abraham setelah Allah memberitahukan rencanaNya, maka Abraham pun mulai bernegosiasi menyampaikan permohonan. 


Hal menarik disini adalah selain akrab bergaul dengan Tuhan, kita juga memaknai bahwa rencana Allah selalu disampaikan kepada umatNya. Sekalipun rencana Allah terkadang sulit di mengerti, karena sejauh timur dari Barat demikian rencana manusia dibanding dengan rencana Allah. Tetapi rencana Allah itu diberitahukan melalui para hamba-hambaNya. Allah tidak menghukum tanpa alasan, Allah menyampaikannya melalui peringatan namun sering sekali peringatan itu diabaikan sehingga tiba pada penghukuman. 


Allah memilih Abraham menyampaikan rencananya tentang Sodom, menurut saya perlu kita kembangkan bahwa kita orang percaya adalah juga yang dipercaya Tuhan menyampaikan rencana Allah dalam hidup kita di masa kini. Alkitab telah menyampaikan Firman didalamnya maksud dan rencana Allah, Allah merencanakan keselamatan bagi setiap orang agar tidak binasa, rencana Allah ini harus terus kita sampaikan sampai ke ujung bumi. Kita adalah duta-duta Allah seperti Abraham duta menyampaikan maksud Allah tentang Sodom, maka demikian juga kita di masa kini menerima tugas itu. Di dalam gereja tugas inilah yang disebut dengan tigas pastoral, atau tugas menyampaikan suara nabiah berupa kritik atau peringatan terhadap situasi yang terjadi. Jika peringatan ini diindahkan semuanya akan mendapatkan keselamatan dan jauh dari murka dan hukuman. 


2. Permohonan Abraham: Dari 50, 40, 20 dan 10, "tak seorang pun selamat karena perbuatannya." 


Naluri kemanusiaan Abraham bangkit setelah mengetahui rencana Tuhan menghukum Sodom dan Gomora. Hukuman ini nampaknya telah final dan akan dijatuhkan. Disini ada kepedulian Abraham, dia memohon belas kasihan kepada Tuhan terhadap orang-orang yang didalam pikiran Abraham baik hati. Mungkin saja dalam pandangan Abraham adalah kerabatNya Lot berserta keluarganya. Mereka adalah sama seperti Abraham, mereka berpisah hanya untuk menghindari konflik karena semakin diberikan Tuhan kemakmuran. Itulah sebabnya permohonan Abraham diawali dengan seandainya ada 50 Orang yang benar apakah mereka dimusnahkan juga? 


Abraham tidak terlalu jauh berpikir akan ada banyk orang benar di Sodom, dia hanya menjangkau siapa yang dia anggap baik dan di kenal yaitu Lot beserta keluarganya beserta para hamba-hambanya. Maka, Tuhan pun menjadwab seandainya ada orang benar 50 orang disana Tuhan tidak akan menghukumnya. Maka Spontan Abraham selanjutnya menawar lagi dengan 40 Orang, Jawaban yang sama dari Tuhan. Tuhan tidak akan menghukum Sodom jika ada 40 orang benar disana. Abraham dengan berat hari memohon kepada Tuhan dan memohon dengan penuh belas kasihan, bagaimana dengan 20? Tawaran dua pulu ini memungkinkan Lot Isterinya dan anak-anaknya beserta hamba-hamba terdekat. Tetapi lihatlah jawaban yang sama, Abraham pun memohon sekali lagi apakah Tuhan menjatuhkan hukuman jika ada 10 orang benar disana? Firman Tuhan: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." 


Abraham pun diam dan kembali ke tempat tinggalnya. Mungkin Abraham berpikir positip terhadap penduduk Sodom masih ada yang dapat diharapkan selamat dari sana, namu Abraham tidak melanjutkannya lagi dan kembali ke tempat tinggalnya. 


Selanjutnya dalam pasal 19, Allah sendiri bertindak dan berinisiat menyelamatkan Lot dan isterinya beserta anak perempuannya serta kerabatnya. Malaikat itu menyampaikan pesan agar Lot membangunkan calon menantunya agar ikut diselamatkan namun calon menantun menganggapknya seobagai bahan olokan. Sehinga Hanya empat orang yang mau berangkat meninggalkan kota itu. Isteri Lot gagal karena ia melangar pesan malaikat agar tidak melihat ke belakang sebagaimana diperintahkan. Akhirnya ia menjadi tiang garam Kej 19:26) . Jadi hanya Lot dan dua putrinya yang luput dari hukuman Sodom dan Gomora. 


Drama penyelamatan Lot dan kedua putrinya menjadi menarik, Allah sendirilah yang berinisiatip dan bertindak menyelamatkannya. Ini suatu pelajaran bahwa keselamatan itu adalah inisiatp Allah dan manusia harus menerima rencana Allah di dalam hidupoNya dan mengikuti perintahNya. 


3. Keselamatan adalah Anugerah Tuhan


Berhentinya Abraham menawar jumlah orang yang selamat menurut saya perlu diperdalam dengan pemahaman bahwa tidak seorang pun yang dapat benar dihadapan Tuhan, semuanya telah berdosa dan akan diberikan hukuman. Peristiwa Sodom menjadi contoh bahwa tidak seorang pun yang dapat luput dari hukuman karena semuanya telah berdosa dan tidak seorang pun yang benar. Hanya Allah sendirilah yang dapat menyelamatkan, manusia dari dirinya sendiri tidak dapat diselamatkan. Inilah ajaran keselamatan di dalam pandangan kekristenan, keselamatan itu adalah anugerah yang kita terima di dalam Yesus Kristus.


Dengan demikian ajaran tentang keselamatan harus dipahami bahwa kita selamat bukan karena perbuatan, atau karena kebaikan atau karena budi baik kita, Kita diselamatkan oleh karena Kasih Allah yang begitu besar. Setelah manusia jatuh dalam dosa memang dosa telah berkuasa atas manusia dan manusia tidak dapat melepaskan diri dari kuasa dosas. Itulah sebabnya Allah sendiri berinisiatip dan bertindak menyelamatkan manusai yang jatuh dalam dosa melalui pengorbanan Yesus Kristus. J

Roma 5:17 (TB) Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. 


Kedua, keselamatan disini adapat juga kita pahami sebagai pemeliharan Tuhan dalam hidup orang percaya. Allah memberikan jaminan keselamatan kepada setiap orang yang percaya. Yesus berkata: Lukas 21:18 (TB) Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.


Ketiga. Apa yang dilakukan oleh Abraham berdoa syafaat untuk Sodom memberikan hal yang signifikan tentang tugas orang percaya yaitu berdoa syafaat bagi keselamatan orang lain. Keselamatan bangsa, raja-raja dan alam semesta. Orang percaya bukan berdoa hanya untuk kebutuhannya sendiri, tetapi berdoa syafaat untuk keselamatan.

Paulus juga mengingatkan jemaat mula-mula melalui Timotius untuk berdoa syafaat. 1 Timotius 2:1-2 (TB) Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, 

untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.


Apa yang kita doakan kita percaya Tuhan akan mengabulkannya, disebutkan di dalam Matius 21:22 (TB) Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Band Mat 7:7).


Sahabat yang baik hati, pelajaran dari peristiwa Sodom mengingatkan murka Allah teradap dosa. Takseorang pun luput dari hukuman Allah. Allah sendiri bertindak untuk menyelamatkan dan tsnggung jawab orang yang memperoleh keselamatan adalah wajib berdoa syafaat bagi orang-orang yang mengasihi kita. Amin


Salam dari HKBP Pekalongan

Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 19 Juli 2025

MILIH BAGIAN YANG TERBAIK

 Kotbah Minggu V Stlh TRINITATIS

Minggu, 20 Juli 2025

Ev. Lukas 10:38-42



MEMILIH BAGIAN YANG TERBAIK


Lukas 10:39b Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, sering kali dalam hidup kita sering memikirkan hal-hal tehnis ketimbang dari hal yang substansial. Mungkin anda pernah mendengar ungkapan: Yang pokok disampingkan, yang samping dipokokkan. Suatu pesan yang menggambarkan dalam melakukan sesuatu pekerjaan seseorang mengabaikan hal pokok karena urusan pendukung tehnis, akhirnya berubah demi hal-hal tehnis akhirnya hal yang substansial telah kehilangan makna. 


Dalam kotbah minggu ini mengingatkan kita untuk memilih yang terbaik. Dalam ilmu manajemen ini disebut dengan memprioritaskan yang utama. Dalam bahasa Inggris ini disebut dengan: "first things first" mengutamakan yang paling utama. Itulah yang dilakukan oleh Maria. Kotbah ini bukan mau membandingkan siapa yang lebih baik Maria atau Marta tetapi bagaimana Maria mengambil sikap mementingkan yang utama. Yesus hadir untuk mengajar dan orang banyak datang untuk mwndengarkan pwngajaran dan kitbah-kotbah Yesus. Maria mempersiapkan diri melakukan yang terbaik yakni membuka hati dan duduk dekat kaki Yesus mendengarkan kotbah dan pengajaranNya. 


Baiklah kita mendalami kotbah Minggu ini


1. Yesus berkenan datang bagaimana respon kita? 

Kehadiran Yesus di rumah Marta dan Maria menjadi pelajaran penting untuk kita pelajari. Maria dan Martha adalah dua sahabat Tuhan Yesus yang tergolong sangat dekat. Bagaimana aktifitas kedua perempuan ini menjadi ikon dalam mendalami peran perempuan di dalam pelayanan gereja dan masyarakat. Bagimana mereka menyambut kehadiran Tuhan Yesus di rumahNya menjadi cerita yang hidup dan dapat menggali pelajaran apa yang seharusnya kita lakukan dalam pelayanan.


Sukacita Martha saat mendengar Yesus akan datang ke rumahnya membuat dia sibuk untuk urusan rumah, mungkin mulai dari menata kursi, dimana duduknya bagaimana menata ruangan agar rapi dan berbagai kudapan atau snack yang disediakan untuk tamu kehormatan yakni Tuhan Yesus. Pokoknya sebelum dan sesudah kehadiran Yesus ke rumah mereka Martha repot kesana kemari bagaimana mempersiapkan yang terbaik sebagai tamu istimewa di rumahnya.


Kehadiran Yesus bagi Maria berbeda, Maria memilih duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan terus perkataan-perkataan Tuhan Yesus. Bagi Maria kehadiran Yesus menjadi kesempatan besar untuk mendengarkan cerita, kotbah, pengajaran atau perkataan yang keluar dari Yesus. Bagi Maria, orang banyak pergi kemana-mana untuk mendengarkan kotbah, pengajaran dan perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus. Apalagi pada kesempatan itu Yesus datsng.ke rumahnya. Mari memiliki kerinduan akan Pengajaran dan kotbah Yesus. Saat Yesus tiba di rumahnya dia ingin sekali banyak mendengar perkataan dan cerita dari Tuhan Yesus. Martha mungkin agak kesal dengan sikap Maria, seolah tidak mau membantu kakaknya, sampai Martha ingin agar Yesus menegor Maria dan meminta untuk mengerti dan dapat membantu Martha. Namun jawaban Yesus ini membuat kita semakin mendalami akan arti dekat dengan dengan Tuhan Yesus adalah spiritualitas utama dan kerinduan mendengar FirmanNya.

Yesus berkata dalam Lukas 10:41-42 (TB) Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."


Martha adalah orang yang baik, terampil dan terus bekerja untuk melakukan yang terbaik menjadi teladan juga untuk melayani orang lain. Namun Maria mengambil peran yang terbaik. Maria memilih untuk duduk dekat dan mendengarkan perkataan Yesus. Pilihan Maria duduk di kaki Yesus adalah kerinduan kita juga. Kita ingin dekat dengan Yesus. Duduk dekat di kaki Tesus adalah spiritualitas tertinggi di dalam kekristenan. Firman atau Perkataan Yesus adalah sumber kehidupan bagi kita. Firman yang disampaikan oleh Yesus adalah air kehidupan atau roti kehidupan baginya. Kita hidup oleh karena perkataan Yesus. 


Artinya renungan ini hendak mengajak kita marilah mengambil peran yang terbaik dalam pelayanan kita masing-masing. 


2. Kebaikanmu jangan digunakan menegor atau menyalahkan orang lain.


Martha seorang yang baik hati, dia melakukan persiapan dengan baik mempersiapkan segala sesuatu untuk menjamu Tuhan Yesus di rumahnya. Saya dapat gambarkan bagaimana seorang ibu yang mempersiapkan arisan rumah tangga. Mulai dari kursi, makanan camilan, menu makanan, minumannya, fooding dll. Pokoknya semuanya dipersiapkan. Mempersiapkan apa yang baik bagi tamu qdalah baik, namun dimana letak masalah yang terjadi dengan Martha?


Baiklah kita perhatikan ayat ini Lukas 10:40 (TB) sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."


Sibuk melayani adalah pekerjaan baik, namun kalimat selanjutnya adalah: 


- 'Tuhan, tidakkah Engkau peduli'? Martha yang sibuk sendiri kok jadi Tuhan yang dianggap tidak peduli? Asumsi seperti inilah yang perlu diperhayikan. Yesus tidak meminta dia mempersiapkan ini dan itu, justru Yesus ingin bincang-bincang dengan mereka. Tapi karena Martha ingin persiapkan ini dan itu akhirnya momebt untuk lebih banyak mendengar dan bincang-bincang jadi habis karena persiapan sana-sini.


Perlu diluruskan, Tuhan itu tetap peduli, Tuhan sangat memperhatikan keadaan Martha dan Maria namun sibuknya mempersipakan menjamu Tuhan Yesus, Martha keholangan moment untuk share dan bercerita dengan Tuhan Yesus.


- 'suruhlah dia membantu aku". Yesus tidak meminta Martha melakukan jamuan dengan segala menu ini dan itu. Tapi lihatlah, Martha lelah sendiri dengan segala yang dipersiapkan. Akhirnya Martha pun meminta Yesus untuk menyuruh Maria membantunya. 


Dua catatan di atas menjadi perhatian kita dalam menangkap makna kotbah ini. Ats keluh Marta ini Yesus menegor Martha.


Lukas 10:38, 41 (TB) Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,


Yesus datang untuk berjumpa dan hendak menyampaikan pesan berharga dalam hidup Maria dan Martha. Namun Martha sibuk dengan segala kekuatiranya akhirnya kehilangan moment mendengarkan pesan dan pengajaran Tuhan Yesus. Selain itu Yesus juga menegor Martha karena kesibukannya dan segala kekuatirannya. Apalagi kesibukannya pada akhirnya menyalahkan orang lain. Inilah yang diingatkan oleh Yesus. Segala kesibukan kita dalam pelayanan jangan sampai kehilangan hal yang paling berharga yang itu berjumpa dengan Yesus. Itukah yang dilakukan oleh Maria dengan duduk dekat Tuhan Yesus dan mendengarkan sabdaNya. 


3. Mengkombinasikan peran Maria (mendengar) dan Martha (melayani)


Perlu diingatkan bahwa dalam kotbah ini bukan mau membandingkan siapa yang lebih baik apakah Maria atau Marta. Tetapi merupakan apa perwn yang dilakukan Maria dan peran yang dilakukan Martha. Dalam konteks kotbah minggu ini Maria mengambil bagian yang utama yaitu mendengar Yesus berbicara dan mengajar. Maria haus akan firman, keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang apa kehendak Tuhan dalam hidup ini. Sementara Martha bersedia dan bergegas melakukan sesuatu yang dibutuhkan, masalahnya jangan berlebihan dan jika sudah berlelah jangan salahkan orang lin dengan segala apa yang kita lakukan.


Bagaimana kita mengkombinasikan kedua tokoh ini. Dalam pelayanan ada baiknya kita melakukan apa yang dilakukan oleh Maria: bersedia mendengar, mau dibekali dengan Firman Tuhan. Setelah mengerti apa kehendak Tuhan maka berlanjut dengan mengimplementasikannya dalam berbagai aktifitas pelayanan. Namun harus dicatat jangan berlebihan, lakukan pelayanan dengan tulus dan jangan salahkan orang lain dengan segala apa yang engkau lakukan.


Pada bahagian penutup kotbah ini, mengambil peran yang utama bukan berarti lainnya tidak penting. Jika kita telah memutuskan yangbutama dalam pelayanan baiklah kita semua ambil.peran sesuai dengan talent dan potensi yang ada. Sehingga pelayanan daoat dilakukan dengan lebih maximal. 


Tuhan memberkati pelayanan kita masing-masing. Amin


Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak


Sabtu, 12 Juli 2025

MENGASIHI TUHAN DAN HIDUP MENURUT JALANNYA

 Kotbah Minggu IV Setelah Trinitatis

Minggu, 13 Juli 2025

Ev. Ulangan 30:15-20



*MENGASIHI TUHAN DAN HIDUP MENURUT JALANNYA*


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, Hidup ini adalah pilihan. Dalam banyak hal kita diperhadapkan pada pilihan, kadang pilihan mudah, kadang pilihan sulit bahkan pilihan dalam buah simalakama: dipilih ini resiko ini, dipilih itu resiko itu. Namun harus kita sadari bahwa manusia memiliki akal dan hikmat untuk menentukan pilihan, manusia diberi kekuatan dalam memperjuangkan pilihannya. Pada akhirnya manusia harus berpaut pada hasil alhir ditentukan oleh Tuhan.


Hidup ini adalah pilihan didasarkan pada pemahaman bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Setiap orang bebas menentukan pilihannya namun setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya dan akan menerima segala konsekwensinya. Memilih sukses maka konsekwensinya berusaha keras untuk menggapai tujuannya. Anda harus relah berlelah dan berikutbya akab menikmati apa yang dicapai. Tidak ada orang ingin meraih sukses namun tidak ada upaya atau effort, itu hanya terjadi dalam mimpi. Orang yang ingin berhasil namun tidak ada upaya ibarat orang terus bermimpi, tidak mau bangun dan bangkin namun terus tidur melanjutkan mimpinya.


Sahabat yang baik hati! Kotbah Minggu ini mengajak kita untuk memilih jalan kehidupan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kanaan, Musa mengumpulkan umat Allah dan memberikan nasihat. Nasihat itu berisi pilihan pilihan kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk dan keberuntungan atau kebinasaan. Musa memperhadapkan pilihan ini sebelum mereka memasuki tanah Kanaan. Jika ingin hidup berpautlah kepada Tuhan, setia mengasihi dan berjalan di jalan yang Tuhan berikan. Namun sebaliknya jika mereka berpaling dari Tuhan maka mereka akan menuju kebinasaan. 


1. Menentukan pilihan: 

Bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir berjalan kepada satu tujuan, yaitu menjadi bangsa yang berdaulat, memiliki tanah yang subur, masyarakat yang makmur berlimpah susu dan madu serta menjadi bangsa yang masyur.  

Itulah janji Allah kepada umat Allah dan memanggil mereka keluar dari perbudakan Mesir. Menerima janji ini tentu mereka akan berjalan ke Kanaan dan menanggung segala konsekwensinya di dalam perjalanan. 


Jika kita baca kitab Keluaran, kisah mengenai keluarnya Israel dari perbudakan merupakan kisah perjuangan yang luar biasa, Allah dengan tangan yang kuat melakukan mujizat membebaskan Israel sampai menunggang balikkan Firaun di laut Merah. Itu semua dilakukan Allah demi pemenuhan janji umat Allah akan tinggal di negeri yang dijanjikan Tuhan Allah kepada mereka. 


Perjalanan ini sudah sedemikian jauh, pengalaman demi pengalaman di dalam perjalanan sudah mereka alami. Selamat perjalanan itu tentu umat Allah memperoleh pendidikan tentang bagaimana Tuhan memelihara hidup mereka. Mereka bisa sejauh ini tentu karena pemeliharaan Tuhan.


Tujuan sudah di depan mata, Kanaan di seberang jika Tuhan berkenan sebentar lagi mereka akan memasuki tanah Kanaan, Musa memanggil dan meneguhkan janji dan komitment mereka setia kepada Allah. Pemanggilan ini sangat penting Musa mengingatkan dan memperhadapkan mereka kehidupan atau kematian, berkat atau kutukan keberuntungan atau kebinasaan. 


Jika kita simak, pilihan ini sebenarnya tidak begitu sulit pasti pilihan semua orang mau hidup, mau beruntung dan dapat berkat. Namun konsekwensi pilihan itu yang harus diingatkan oleh Musa, yaitu kesungguhan hati untuk mencapai goal dengan segala konsekwensinya. Kesungguhan hati untuk setiap kepada Tuhan, tidak terpengaruh oleh godaan asing dan pengaruh lain.


Kitab Ulangan sebagaimana namanya mengulangi, ibarat seorang guru dalam mempersiapkan ujian dia mengulangi kembali pelajaran yang diberikan sehingga apapun pertanyaan saat ujian sudah siap.menghadapinya. 


Sedikit catatan mengenai kitab Ulangan.

Banyak penafsir menghubungkan penemuan kitab Ulangan ini saat transformasi Yosia raja di Yehuda di masa krisis sebelum pembuangan. Kitab suci ini ditemukan dan ditulis kembali dengan tujuan mengembalikan ketaatan total kepada Allah. Bagi Josia transformasi terjadi dengan jalan satu-satunya komitmen dan janji umat Allah setia kepada Allah. Transformasi terjadi dimulai dari kepala. Maka Yosia memimpin perubahan dengan menjadi teladan dalam kesetiaan dan pengabdian kepada Allah. Disebut Ulangan karena ada banyak isi kita temukan sama dengab apa yang telah dituluskan dalam kitab keluaran. 

Hal menarik adalah kesetiaan itu terbentuk melalui diaplin, dengan mengulang-ulangi, sehingga hapal dan paham tidak satuoun yang tertinggal.


2. Konsekwensi pilihan: janji Allah tetap dan hukumannya juga


Hidup di negeri Kanaan adalah impian dari umat Allah, mereka ingin hidup sejahtera, makmur, memiliki rumah dan ladang sendiri serta panjang umur melihata anak dan cucu bertumbuh dan berkembang. Impian menjadi bangsa yang besar, sejajar bahkan dihormati bang asing. Mereka adalah umat pilihan Allah. Allah setia pada janjinya. Artinya konsekwensi kesetiaan kepada Allah mereka akan menerima segala janji Allah.


Musa mengingatkan kembali akan konskwensi pilihan. Srtia mendapat berkat dan ketidak setiaan mereka akan mendapat kebinasaan. 

Ulangan 30:17-18 (TB) Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,

maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.


Artinya jika tidak setia maka murka dan hukuman akan menimpa dan kpnsekwensinya adalah kebinasaan. 

Konsekwensi ini dapat kita pahami dari arti "perjanjian". Dalam Bahasa Ibrani perjanjian disebut "charat berith" artinya memotong perjanjian. Kedua belah pihak sepakat dan berjanji memenuhi kesepakatan. Jika semua memelihara janji dan memenuhinya maka akan memperoleh hasil dsri janji. Sebaliknya jika ada yang melanggarnya maka dia akan mati dan darahnya akan tercurah seperti kurban yang disembelih. Jadi janji berpaut pada konsewensi, jika tidak setia akan menuju kebinasaan.


Musa menegaskan konsekwensi ini karena pengalaman sejak keluar dari Mesir dan tantangan yang dia hadapi memimpin Israel selalu labil dan seringkali bersungut-sungut bahkan sering melanggar perintah dan ketetapan Tuhan akhirnya mereka mendapat murka. Musa mengingatkan umat Allah sebelum memasuki Kanaan harus setia dan taat, jika tidak akan binasa. 


Jika kita coba merefleksikan dalam kehidupan ini sering kali manusia berjanji. Namhn janji tinggal janji, bukankan oara pejabat publik kita ini berjanji? Namun bagaimana komitmennya memelihara janji? Mereka tidak setia dan menaati janjinya akhirnya terjerumus pada baju orange.


3. Setia di jalan Tuhan dengan melakukan 3 hal ini


Bagaimana memelihara komitment? Musa memberikan tiga hal yang selalu dilakukan, yakni:


3.1. Mengasihi Tuhan

Mengasihi Tuhan bukanlah hal baru bagi Israel, sejak mereka menerima Perintah Allah di Sinai, umat Israel sudah berjanji akan mengasihi Tuhan. Inti dari Sepukuh Perintah Tuhan adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, akal dan budi. Mengasihi Allah ini dirumuskan dalam bentuk "Syema" atau "pengakuan iman". Dengarlah Israel, Allah itu Esa kemudian dengan perintah untuk.mengasihi Tuhan Allah dengan senap hayi, kekuatan dan budi. (Ulangan 6:4-11)


Mengasihi Allah ini merupakan kewajiban syukur atas segala karya dan perbuatan Allah yang ajaib. Umat Alllah telah menyaksikan sendiri mujizat yang besar membebaskan Israel dsri perbudakan Mesir dan pemeliharaan sepanjang perjalanan semua itu adalah karya Tuhan yang besar. Dengan pengalaman ini.mereka tanpa diperintahpun seharusnya bersyukur san mengasihi Tuhan.


3.2. Mendengarkan Tuhan

Ada ungkapan dalam orang Batak: "pantun hangoluan tois hamagoan". Nasihat ini bisanya disampaikan saat seseorang pergi merantau, atau mencari mencari ilmu atau pekerjaan. Nasihat itu harus didengar jika ingin hidup, namun sebaliknya akan binasa jika tidak taat pada nasihat.

 

Mendengar adalah kunci keberhasilan. Bangsa Israel dalam menempuh perjalanan harus membuka telinga dan mendengar perintah. Jangan mengandalkan pikiran sendiri, namun berjalan meneurut petunjuk dan perintah Tuhan.


Jika kita baca Perjanjian Lama baik dalam Taurta, Nabi-nabi dan sastera hikmat formula: dengarlah hai Israel. Formula semacam itu terus disampaikan Allah bersabda dan mereka harus menengarkan dan melakukannya. 

Yesus menyampaikan dalam Lukas 11:28 (TB) "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."


3.3. Berpaut kepada Tuhan

Kata berpaut disini menjelaskan kesetiaan mengikuti. Ibarat dalam suatu perjalanan kemana pemimpinnya pergi kesitulah semua anggotanya mengikuti, tidak menyimpang dan atau berbalik arah. Ibarat dalam zaman sekarang ini kita sebut follower. Namun follwer dalam media sosial mudah unfollow. 

Disini berbeda, berpaut kepada Tuhan, mengikuti jejak, jemapa pergi yang harus mengikutinya. Jika tidak akan tertinggal, kehilangan arah dan tersesat. Maka agar sampai ke tujuan mengikut dibelakang. 

Yosua juga mengikuti pola ini, saat memasuki kota Kanaan Yosua berpidato dihadapan umat Allah dan berjanji setia dan berpaut kepada Allah. 

Yosua 22:5 (TB) Hanya, lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum, yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, yakni mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti perintah-Nya, berpaut pada-Nya dan berbakti kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."


Dalam perjanjian baru istilah berpaut ini bisa kita terjemahkan kepada kata "mengikut". Kata ini digunakan oleh Yesus saat memanggil murid-muridNya dan berkata: "Ikutlah Aku!" Mengikut Yesus berarti percaya kepadaNya, mengikuti jalanNya dan bersedia melakukan apa yang siperintahkanNya.


Demikianlah kata berpaut ini: umat Allah harus bersedia mengikuti perintah-perintahNya, mengikuti jalan yang diberikan oleh Tuhan serta setia dalam segala konsekwensinya.


Sahabat yang baik hati! Marilah memilih kehidupan dan setia di dalam pilihan hidup ini. Hasil ditentukan oleh Tuhan dan Tuhan setia pada janjiNya. Amin


Salam: 

Pdt Nekson M Simanjuntak




Sabtu, 05 Juli 2025

MENJADI CIPTAAN BARU

 Kotbah Minggu III Stlh TRINITATIS

Minggu, 6 Juli 2025

Ev. Galatia 6:11-18



MENJADI CIPTAAN BARU


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, topik kotbah minggu ini diberi judul dengan menjadi manusia baru. Topik ini merupakan salah satu topik sentral di dalam Kristologi. Salib Kristus telah menciptakan kita menjadi manusia baru, manusia lama diperbaharui menjadi manusia yang benar-benar baru. Kristus telah menebus kita dari manusia lama melalui pengorbanannya di kayu salib. Hal itu dilakukan sekali untuk selamanya karena tisak ada lagi syarat lain dalam keselamatan. Keselamatan adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus tidak ada tanda lahiriah berupa peraturan keagamaan apapun yang ditambahkan menjadi syarat di dalam keselamatan. 


Masalahnya di dalam jemaat Galatia adalah masih ada kaum Yudaistik yang memaksakan tradisi Yahudi menjadi syarat dalam keselamatan. Mereka memaksakan syarat Taurat dan sunat bagi orang-orang Kristen non Yahudi. Selain itu, mereka meragukan keabsahan kerasulan Paulus, dan Injil yang diberitakan Paulus tablnpa hukum Taurat dan sunat keselamatan seolah tidak sempurna. Guru-guru penyesat ini nampaknya berhasil memprovokasi jemaat Galatia akhirnya berbalik dari Injil yang diberitakan oleh Paulus kepada "injil lain yang bukan Injil". Mereka memberitakan keselamatan di dalam Yesus Kristus dengan syarat-syarat tambahan: hukum Taurat, peraturan-peraturan keagamaan dan tanda-tanda lahiriah seperti sunat. Mereka berhasil mengacaukan jemaat dan meragukan kerasulan Paulus sehingga banyak yang berbalik dari pengajaran Paulus kepada ajaran pengajar-pengajar palsu yang mengacaukan jemaat tentang keselamatan. Itulah sebabnya Paulus menyampaikan dalam Galatia 1:6-7 (TB) Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. 


1. Injil Kristus: tidak ada syarat lain di dalam keselamatan 


Bagi Paulus tidak ada syarat lain dalam keselamatan Injil yang diberitakan Paulus murni dan tidak ada Injil lain. Paulus menegaskan Galatia 1:8-9 (TB) Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.


Selain itu, para pengajar palsu ini bermegah atas pekerjaan orang lain. Paulus yang mendirikan jemaat-jemaat di berbagai kota dan desa dari Asia sampai ke Eropa, namun Paukus sedikit tidak pernah memegahkan dirnya atas semua yang kerjakannya. Sebaliknya para pengajar palsu ini memegahkan diri dari apa mereka kerjakan. Mereka mengajar secara meyakinkan dan mempesona sampai-sampai jemaat Galatia terpesona dan meninggalkan ajaran Paulus. Paulus berkata dalam Galatia 3:1 (TB) Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?


Paulus sangat kecewa terhadap jemaat Galatia yang mudah goyah oleh rupa-rupa pengajar baru. Mereka tidak berdiri teguh di dalam Injil yang diberitakan oleh Paulus. Maka untuk memenangkan jemaat Galatia dari pengajr-pengajar palsu ini Paulus menegaskan kembali bahwa Kristus telah disalibkan untuk menebus manusia, Kristus telah mati untuk kita mematikan manusia lama dan di dalam Kristus kita benar-benar menjadi ciptaan baru. 


Tidak ada syarat lain di dalam keselamatan. Keselamatan adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Keselamatan tidak didapatkan lewat usaha manusia atau kemampuan manusia melakukan Taurat. Keselamatan adalah anugerah yang kita terima di dalam iman. 


2. Menjadi manusia ciptaan baru


Di dalam surat-suratnya Paulus menjelaskan salib adalah penebusan dan pendamaian. Namun di dalam dalam Galatia ini Paulus menghubungkan salib Kristus dengan menjadi ciptaan baru. Hal ini memperdalam makna keselamatan. Penebusan menjelaskan manusia yang telah diperhamba dosa maka seorang hamba tidak dapat melepaskan diri menjadi manusia merdeka dari dirinya sendiri. Menjadi manusia merdeka hanya dilakukan melalui tindakan penebusan. Demikianlah manusia berdosa, sejak kejatuhan manusia dalam dosa manusia menjadi hamba dosa. Salib Kristus membebaskan manusia dari hamba dosa menjadi manusia merdeka di dalam Yesus Kristus (Baca Galatia 5:1). Kata kedua yang digunakan Paulus adalah "pendamaian", salib adalah pendamaian Allah menerima manusia yang telag diasingkannya sejak kejatuhan manusia dalam dosa. Salib adalah pendamaian Allah sendiri mendamaikan dirinya dengan manusia. Dengan salib Allah memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah dirusak oleh dosa. 


Hal menarik di dalam Galatia ini Salib Kristus dihubungkan dengan penciptaan manusia baru. Galatia 6:15 (TB) Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Jadi pengorbanan Kristus hendak memperbahatui manusia, jangan kembali lagi kepada peraturan keagamaan, hukum Taurat, Sunat dan peraturan keagamaan seolah sebagai syarat dalam keselamatan. Salib Kristus menjadikan kita benar-benar menjadi ciptaan baru. Jika oleh dosa citra manusia yang segambar dengan rupa Allah rusak maka di dalam Salib kita diciptakan menjadi baru.  


Penjelasan makna salib sebagai penciptaan ini menambah dan memperdalam makna keselamatan. Di dalam peristiwa salib, Kristus melakukan penebusan dan penciptaan. Allah menebus manusia yang diperhamba dosa dan di dalam salib manusia menjadi baru. Kristus memulikan citra manusia yang segambar dengan rupa Allah. Dengan demikian Salib Kristus Yesus memulihkan hubungan manusia, yang dulu terasing kita di dalam anugerah (in xaris). 


3. Menjadi ciptaan baru: hindarilah tiga hal ini


Jika kita baca kembali perikop kotbah ini, kita menemukan nasiha Paulus yang dapat kita jadikan menjadi perintah yang bersifat larangan, yaitu: 


3.1. Jangan memaksakan kehendak

Paulus menjelaskan sumber kekacauan di dalam jemaat Galatia adalah pemaksaan kehendak kam Yudaistik terhadap non Yahudi. Seolah kleselamatan non Yahudi tidak sempurna karena tidak bersunat. Mereka menambahkan syarakat keselamatan dengan memaksa non Yahudi harus bersunat. Bagi Paulus sunat hanyalah tanda lahiriah. Pemaksanaan non Yahudi bersunat tidak memiliki arti apa-apa, itu hanya tanda lahirah. Keselamatan adalah anugerah Allah, suatu kekayaan rohani yang kita miliki yang diberikan oleh Allah secara gratis. 


Pemaksaan kehendak adalah sumber kekacauan, ini suatu peringatan Paulus bagi kita di masa kita. Pemaksaan kehendak bukanlah nilai-nilai Kristiani. Kekayaan rohani kita adalah ketiak setiap orang menyadari dirinya siapa dan dengan sukarela melayani Kristus tanpa paksaan tetapi dengan penuh tanggung jawab. 


3.2. Jangan memegahkan diri

Lawan Paulus di Galatia sangat pintar memegahkan diri, memuji pekerjaannya dan seolah menjadi paling sempurna dalam segala hal. Padahal Pauluslah yang paling berjasa atas berbagai pendirian jemaat di Asia sampai ke Eropa. Paulus berlari-lari dari satu desa ke desa lain dari satu kota ke kota lain. Jika kita membaca seluruh Kitab Para Rasul, ada sebanyak tiga kali Paulus melakukan rute pekabaran Injil dan penyebaran gereja mula-mula di luar Yahudi umumnya dikerjakan oleh Paulus. Tetapi Paulkus tidak pernah memegahkan diri atas semua itu, justru menganggap bahwa tugas pemberitaan itu adalah hutang. 


Berbeda dengan pengajar palsu di Galatia, mereka hanya pintar ngomong, pandai menghasut dan kata-katanya mempesona namun tidak menghasilkan apa-apa, tiada hasil pekerjaannya yang bisa ditunjukkan selain memprovokasi. Di jaman now ini disebut dengan pencitraan, melakukan berbagai hal hanya untuk cover namun kosong isi. 


Paulus di dalam ktobah ini mengajak kita, manusia ciptaan baru tidaklah manusia cover atau pencitraan dengan maksud memegahkan diri. Manusia baru adalah berpedoman pada hati yang melayani dengan tulus dan sungguh-sungguh. Dalam semua pelayanannya biarlah Kristus yang dimuliakan. 


3.3. Jangan menyusahkan orang lain


Mengahdapi lawan-lawannya di Galatia, memang Paulus terganggu bahkan menyusahkan Paulus. Namun gangguan dan kesusahan tidak membuat Paulus surut. Paulus tetap fokus pada tujuan pemanggilannya, yaitu memberitakan Injil Kristus sampai ke ujung bumi. Bisi Paulus adalah Injil sudah harus sampai ke ujung bumi sebelum Kristus datang kembali


Hanya satu permintaan Paulus dalam semua beban dan tanggung jawab pelayananya, janganlah ada lagi yang menyusahkan dirinya yang sudah susah oleh beban dan tanggung jawab sebagai pemberita Injil. Disebutkan dalam Galatia 6:17 (TB) Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. 


Sahabat yang baik hati, apa yang disampaikan dalam kotbah minggu ini mengajak kita untuk menghayati satus baru kita, yaitu manusia ciptaan baru. Salib Kristus telah menciptakan kita menjadi manusia baru, manusia yang diperbaharui dari kejatuhan dosa kepada keselamatan, dari kererasingan menjadi hidup di dalam anugerah, dari hubungan yang rusask oleh dosa ditata ulang kembali. Salib Kristus memulihkan hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Amin


Tuhan memberkati!

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak 



DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...