Sabtu, 25 Januari 2025

KESATUAN DAN KEPEDULIAN JEMAAT

 Kotbah Minggu III Setelah Ephipanias

Minggu, 26 Januari 2025

Ev. 1 Korintus 12:12-20




KESATUAN DAN KEPEDULIAN JEMAAT


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, gereja adalah esa, keesaanNya digambarkan sebagai satu tubuh. Sekalipun banyak anggota tubuh namun satu tubuh dimana Kristus sebagai kepala. Inilah kekayaan keesaan gereja yang digambarkan dalam 1 Korint 12,12-27. Analogi tubuh ini yang dipakai oleh Paulus ini sangat membantuki kita memahami perbedaan di dalam kesatuan dan kesatuan di dalam gereja. Persekutuan orang percaya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan yang lain. 


Kesatuan jemaat itu digambarkan seperti tubuh, tubuh ini terdiri dari berbagai anghitabtubuh, ada tangan, kaki, kepala, mata dll, semua itu adalah anggota tubuh dan memiliki tempat dan fungsi khusus dan istimewa sebagaimana ditetapkan Allah. Tiada yang lebih tinggi dan terhormat, tiada yang lebih utama dari yang dengan yang lain tetapi semuanya adalah anggota tubuh yang memiliki fungsi. Jika dia terpisah dari anghgota tubuh yang lain maka tak berfungsi. Tangan tidak lebih utama dari kaki, dan sebaliknya atau mata tidak lebih penting dari telinga dan sebaliknya, tetapi saling membutuhkan demi kesempurnaan tubuh. Dengan penjelasan Paulus tentang kesatuan  jemaat mereka menyadari bahwa kita satu di dalam Kristus, kita adalah anggota tubuh Kristus, dan Kristus sebagai kepala.


Dalam kotbah minggu ini, baiklah kita mengambil tiga hal yang menjadi pelajaran bagi kita;


1. Kesatuan jemaat - Kristus Kepala


Kesatuan jemaat haruslah dipelihara, setiap ada permasalahan harus menghidari perpecahan. Kita harus menyadari bahwa akan selalu ada banyak issu yang segera dapat membuat perpecahan di kalangan jemaat; baik itu latar belakang etnis (Jahudi dan non Jahudi, latar belakang pemberita injil, pengikut Apolos, Paulus, atau Kefas, latar belakang ekonomi, status dan posisi dalam masyarakat) semuanya dapat membuat perpecahan di jemaat. Ada banyak unsur yang dapat dijadikan sebagai sumber perpecahan, semua perbedaan harus dilihat sebagai keunikan dan fungsi khusus masing-masing. 


Banyaknya anggota tubuh mencerminkan pula banyaknya kasih karunia melalui fungsi masing-masing. Fungsi dan peran masing-masing itu adalah anugerah yang tidak dapat digantikan dengan yang lain. Tangan adalahbtangan dan fungsinya sebagai tangan, demikian kaki dan anggilota tubuh lainnya. Semuanya berharga dan semuanya bermanfaat. 


Kita semua berharga di hadapan Tuhan, dan keberhargaan kita saat menjalankan fungsi dan peran. Peran masing-masing akan membawa kita kepada suatu keasarann kita saling merasakan yang satu membutuhkan yang lain. 1 Korintus 12:14  Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.   (For the body is not one member, but many). Coba anda bayangkan bagaimana kalau tangan semua, atau kaki semua. Tubuh ini telah sempurna dibuat oleh Tuhan untuk menjalankan peran kita sebagai manusia.


Selain peran anggota tubuh, kita juga harus menyadari bahwa penempatan anggota tubuh ini juga telah sempurna dibuat oleh Tuhan. Sebagai contoh, coba anda pikirkan robah temoat anggita tibuh anda di dalam.alam pikiranmu, dengan berbagai alasan. Maka akan selalu ada jawaban lucu. Dannharus kita sadari bahwa anggota tubu di losisi sekara ini adalah sempurna sebagai ciptaaan Tuhan. Jika itu tidak seperti itu maka akan disebut dengan "tidak normal". 


2. Saling menghormati dan menghargai, 

Memahami anggota tubuh sebagai anugerah sangat penting agatr tidak ada yang merasa lebih utama. Semunya yang utama dan saat berfungsi dan berguna. Tidak ada anggota tubuh yang meremehkan pekerjaan anggota tubuh lainnya, namun semua sempurna. 


Penjelasan analogi tubuh ini sangat lenting juga agar ada saling menghargai realitas yang satu dan yang lain. Kaki adalah berfungsi berjalan, tak mungkin disamakan dengan fungsi tangan, demikian mata tidak mungkin berfungsi untuk mendengar, tetapi untuk melihat. Namun penglihatannya sangat berfungsi bagi keseluruhan anggota tubuh. Menghargai fungsi masing masing adalah penting, agar ada saling memahami bahwa semuanya itu diciptakan oleh Allah secara unik dan dihargai sesuai dengan fungsinya. 1 Korintus 12:21  Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." 


Contoh ini sangat penting untuk diterjemahkan dalam kehidupan bergwraja dan kehiduoan sehari-hari kita. Adalah manusiawi menurut kaca mata manusia mengambil peran yang kebih strategis atau utama. Namun kotbah ini mengajarkan apapun itu, status dan keberadaannya saat diabdikan dan dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan disitu kita berharga. 


Saya mencoba membuat dialog keluh tangan kanan dan tangan kiri. Contoh mengahak kita untuk menghargai dan menghormati dan tidak boleh ada yang disombongkan atau yang cemburui semuanya. Biarlah semuanya menerima keberadaanya serta berfungsi menurut peran masing-masing.


Begini ceritanya: 

"Tangan kanan pernah mengeluh kepada tangan kiri dan curhat.  Hai tangan kiri hidupmu terlalu enak dibandingkan dengan aku: jika ada cicin kejarimu yang disematkan, ada jam tangan dan perhiasan gelang semuanya ke tangan kiri. Pokoknya apa yang berharga selalu disematkan ditangan kiri. Demikianlah keluh tangan kanan kepada tangan kiri. 

Maka tangan kiri pun cerita bahwa sesungguhnya sudah lama ingin curhat cemburu kepada tangan kanan. Coba perhatikan jika ada tamu kau yang berjabat tangan undangan dan siapun selalu engkau didahulukan untuk berjabat tangan, jika ada sesuatu yang disajilan pada orang lain kamu yang mengerjakan, pokoknya semuanya yang terhormat adalah pada tangan kanan. Jika aku pingin menyalam sebagai ucapan terima kasih, maka orang akan membentak, jangan tangan kiri, ngak sopan? Dimana salahku kok tangan kiri tidak sopan? Sejak itulah tangan kanan dan kiri akur semuanya bekerja dan berfungsi tanpa memikirkan lebih utama atau lebih baik, yang tama adalah dapat bekerja dan melayani. 


Dalam menghargai dan menghormati ini dapat juga kita hubungan dengan karunia. Tuhan telah mempercayakan dan menganugerahkan kepada orang percaya bernagai karunia, melalui potensi dan sumberdaya yang ada pada diri orang percaya. Karunia itu tidak sama tetapi berbeda-beda, namun semuanya itu adalah sangat berharga untjk saling menopang dan meneguhkan satu dengan yang lain. Tidak ada yang utama dan tidak ada yang direndahkan, tidak ada yang lebih bagus atau yang lain lebih jelek sehingga yang lain lebih terhormat yang lain kurang dihargai. Disini semuanya adalah anugerah berdasarkan pemberian Tuhan dan kepelbagaian karunia itu dipersembahkan untuk membangun tubuh Kristus. 


3. Solidaritas, 

Kesatuan jemaat ada pada solidaritas. Apa yang dirasakan anggota tubuh yang satu dirasakan oleh anggita tubuh yang lain.

Maka solidaritas dan kepedulian ini merupakan hal yang sangat penting, jika kaki sakit maka seluruh anggota tubuh merasakannya, tidak mungkin tangan bergembira karena kaki terantuk, semua anggota  tubuh lainnya akan merasakan sakit, bahkan tangan akan bertindak untuk membalut lika yang terantuk. Analagi tubuh ini sangat penting di antara jemaat agar ada saling  merasakan perasaan orang lain, bukan dengan egois anggota tubuh yang satu untuk diperhatikan, tetapi untuk memperhatikan yang lain. Di dalam gereja mesti ada solidaritas, merasakan persaan anggota tubuh yang lain. Duka yang dialami jemaat yang satu adalah duka bagi seluruh jemaat. 


1 Korintus 12:24-26  Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,

supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. 

Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.  (For our comely parts have no need: but God hath tempered the body together, having given more abundant honour to that part which lacked:

That there should be no schism in the body; but that the members should have the same care one for another.

And whether one member suffer, all the members suffer with it; or one member be honoured, all the members rejoice with it.)


Dari sini kita diberikan makna pentinganya menyadari kesatuan di dalam jemaat, saya dan yang lain adalah saling membutuhkan, saling menghormati dan saling merasakan apa yang dialami oleh yang lain. Kesatuan jemaat ini adalah kesempurnaan tubuh Kristus. Tuhan menganugerahkan kepada kita masing-masing keunikan, kelebihan dan kekurangan, pada saat yang sama kita menyadsrimkelebihan kita itu adalah tanggungjawab untuk menopang yang lain, kelemahan kita adalah menyadari begitu pentingnya kita membutuhkan orang lain.


Bagaimana dengan persekutuan gereja? Apalah perasaan dan kepedulian di dalam anggita tubuh kita sama dengan apa pelaksanaannya di dalam gereja? Mungkin masih jaih dari yang diharapkan, tetapi kepekaan, kepedulian dan solidaritas harus dipelihara. 


Satu hari kami diojakhon di distrik pelayanan kami Jabartengdiy, malamnya ada banjir diberbagai daerah di Jawa Tengah: Pekalongan, Grobogan dan Kaliwungu dengan cepat para pelayan langsung mendata dan memberikan dokungan doa dan bantuan bagi yang korban banjir. Itu salah satu wujud solidaritas dan kepedulian. Saat ada musibah di jemaat lain kita semua ikut terbeban dengan memberikan bantuan. Kepekaan semacam ini harus terus dipelihara gereja sebagai bentuk solidaritas. Amin


Tuhan memberkati!

Salam: Pdt Nekson M Simanjuntak

Sabtu, 18 Januari 2025

BANGSA-BANGSA MELIHAT KEMULIAAN ALLAH

 Kotbah Minggu II Stlh Ephipanias

Minggu, 19 Januari 2025

Ev. Yesaya 62:1-5


BANGSA-BANGSA MELIHAT KEMULIAAN ALLAH


Selamat Hari Minggu ! sahabat yang baik hati, Minggu Ephipanias berarti "patar" atau "hapapatar" (Batak), jika diterjemahkan artinya kemuliaan Allah terpancar atau menampakkan kemuliaanNya dan menjadi nyata. Ephipanias berasal dari dua kata Yunani, yakni: ἐπί (epi) berarti "di atas" atau "di permukaan." φαίνω (phainō) berarti "menyatakan" atau "menampakkan."

Minggu Ephipanies dalam gereja ditetapkan tgl 6 Januari, diambil dari tradisi orang Majus berjumpa dengan Yesus. Orang Majus yang mencari sinar bintang akhirnya menemukannya di Bethlehem (Mat 2:1-12).  Adu juga yang menghubungkannya dengan Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis saat itu langit terbuka dan Roh Tuhan turun atasNya dan suara yang berseru: Inilah AnakKu yang Kukasihi kepadaNyalah Aku berkenan (Mat 3:12-17) dan Ada juga yang menghubungkan Ephipanias dengan Mujizat diperkawinan di kana, karena disinilah Yesus pertama kali melakukan mujizat (Yoh 2:1-11). Semua yang hendak diceritakan adalah bahwa kemulian Allah dinyatakan. Makna Ephipanias dalam kalender gerejawi berarti umat Tuhan merayakan penampakan kemulian Allah nyata bagi semua oran.


Berkaitan dengan topik Minggu ini Bangsa-bangsa Melihat Kemuliaan Allah. Suatu visi nabi Yesaya, bahwa setelah kepulangan umat Allah ke Yerusalem, seluruh bangsa-bangsa akan melihat dan menyaksikan kebenaran dan kemuliaan Allah. Allah berkuasa atas segala bangsa, Allah mengalahkan Babelonia melalui raja Persia dan Raja Persia sendiri yakni Kores dipakai Allah memulahkan umat Allah dari pembuangan Babel. Bukan hanya itu, menurut nabi Yesasa sebagaimana dalam kotbah minggu ini bahwa segala bangsa akan menyaksikan kemuliaan Allah. Disebutkan dalam Yesaya 62:2 (TB)  Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu, dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh TUHAN sendiri. 

Sion bukan hanya pusat beribadahan umat Allah, namun segala bangsa-bangsa akan sujud dan beribadah ke Sion. 


Sekarang baiklah kita memetik beberapa pelajaran dari kotbah Minggu ini. 

Kitab Yesaya 62 masuk dalam Trito Yesaya - masa setelah pembuangan. Umat Allah sedang mempersiapkan pembangunan Bait Suci dan pembangunan kembali tembok Yerusalem. Memang ada keluhan, karena mereka baru kembali dari pembuangan, selain masi mengawali kehidupan di Yeruselem, membuat rumah, mempersiapkan ladang dan ternak dan kebutuhan lainnya, namun mereka menerima sati amanat untuk membagun Sion. Sekalipun  pembangunan itu berat namun visi Yesaya ini menginspirasi dan emmotivasi umat Allah, akan karya besar Allah. Dengan kembalinya Allah berdiam di Sion, segala bangsa akan melihat kebesaran, keagungan dan kemuliaan Allah. 


1. TUHAN tidak berdiam diri.


Yesaya 62:1-5 menekankan bagaimana Allah tidak akan diam atau berhenti bekerja sampai kebenaran dan keselamatan umat-Nya bersinar seperti terang. "Allah tidak pernah berhenti mengasihi dan memulihkan"


Allah Tidak Pernah Diam untuk Umat-Nya (Ayat 1) Allah menunjukkan kasih-Nya yang aktif dan penuh komitmen. Seperti seorang penjaga yang berjaga sepanjang malam, Allah terus bekerja untuk memastikan umat-Nya dipulihkan. Dengan demikian kita diajak untuk percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka, bahkan dalam kesulitan atau penderitaan.


Allah tidak berdiam diri

Dalam teks asli bahasa Ibrani, kata "berdiam diri" berasal dari kata kerja "חָשָׁה" (ḥāšâ), yang berarti "tetap diam," "tidak berbicara," atau "tidak bertindak." Dalam konteks Yesaya 62:1, frasa "לְמַעַן צִיּוֹן לֹא אֶחֱשֶׁה" diterjemahkan sebagai "Demi Sion, aku tidak akan berdiam diri" (TB). Ini menunjukkan komitmen Allah untuk tidak tinggal diam, melainkan bertindak aktif demi umat-Nya.


Allah Tidak Pasif: Kata ini menekankan bahwa Allah tidak akan membiarkan keadaan umat-Nya tetap seperti itu. Ia tidak bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan, kehancuran, atau ketidakadilan yang dialami umat-Nya. Allah secara aktif memperjuangkan pemulihan, kebenaran, dan keselamatan umat-Nya. Kesetiaan Allah kepada Janji-Nya: Frasa ini menunjukkan bahwa Allah setia kepada janji-Nya terhadap Sion (Yerusalem sebagai simbol umat Allah). Kesetiaan Allah mendorong tindakan-Nya yang terus-menerus, meskipun umat-Nya sering gagal dalam kesetiaan.


Pekerjaan Allah yang Berkelanjutan:

Dalam ayat ini, "tidak berdiam diri" juga dapat dipahami sebagai pekerjaan Allah yang tidak berhenti sampai tujuan-Nya tercapai, yaitu kebenaran Sion bersinar seperti terang dan keselamatan-Nya seperti suluh yang menyala (ayat 1b).


2. Identitas Baru yang Diberikan oleh Allah (Ayat 2-3)


Yesaya 62:2b (TB)  dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh TUHAN sendiri. 


Pada bahagian ini Yesaya menyampaikan bahwa bangaa-bangsa akan melihat kebenaran Allah dan menyaksikan kemuliaan Allah. Pemulihan Allahbatas umatnya mengangkat nama Umat Allah. Keadaan ini berbeda dengan apa yang mereka alami sebelumnya, yaitu merasa terasing, tersingkir  dan terbuang. Selama di pembuangan mereka dilanda kwkuatiran akan masa depan, mereka tidak percaya diri dan terkungkung atau terpenjara dalam "mental pembuangan".

Namun tindakan Allah memulihkan dan mengembalikan mereka ke Yerusalem serta agenda pemulihan Tuhan akan Sion membuat mereka dipandang dan berharga di mata orang. 


Pemulihan Allah setelah kembalinya ke Yerusalem bangsa-bangsa akan menyebut umat Allah menjadi nama baru. Penamaan itu tentu berkaitan dengan identitas dan situasi baru yang dimasuki oleh imat Allah setelah kembali dari pembuangan Babel. 


Umat Tuhan akan diberi nama baru, mencerminkan status mereka yang diperbarui sebagai milik Allah. Mahkota kemuliaan menunjukkan betapa berharganya umat Allah di mata-Nya.


Nama lama seperti "Yang Ditolak" atau "Yang Ditelantarkan" (ayat 4) mencerminkan dosa, kehancuran, dan penderitaan masa lalu. Dipulihkan dengan mwmiliki nama baru "yang disukai-Nya" dan  "yang menjadi istri") mencerminkan pemulihan hubungan dan kasih Allah kepada umat-Nya.


Identitas baru sebagai Umat yang Dimuliakan disebut sebagai "mahkota keagungan di tangan TUHAN" dan "serban kerajaan di tangan Allahmu." Mahkota Keagungan: Simbol kehormatan dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada umat-Nya.

Di Tangan TUHAN: Ini menunjukkan bahwa identitas baru umat Allah tidak hanya mulia, tetapi juga aman dalam perlindungan dan pemeliharaan-Nya. Umat yang sebelumnya terhina karena dosa-dosa mereka sekarang menjadi lambang kemuliaan Allah di hadapan bangsa-bangsa.


Nama baru ini bukan hasil usaha manusia, tetapi diberikan oleh Allah sendiri. Ini menunjukkan bahwa identitas baru umat Allah adalah bagian dari karya penebusan dan anugerah-Nya. Pengakuan oleh Bangsa-Bangsa: Ayat 2 menyebutkan bahwa bangsa-bangsa akan melihat kebenaran dan kemuliaan umat Allah. Identitas baru ini bukan hanya untuk pemulihan internal umat, tetapi juga menjadi kesaksian bagi dunia.


Dalam kehidupan jemaat pemulihan dari masa lalu dan ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak mendefinisikan mereka berdasarkan dosa atau kegagalan masa lalu, tetapi berdasarkan rencana-Nya untuk memulihkan dan memuliakan mereka.


Sebagai contoh seperti Paulus yang sebelumnya Saulus (penganiaya gereja) diberi identitas baru sebagai rasul Kristus.


Berikutnya untuk menjelaskan nama baru ini dapat kita bandingkan seperti seorang anak yang diadopsi dari situasi yang sulit, menerima nama keluarga baru. Nama itu bukan hanya tanda pemulihan, tetapi juga menunjukkan bahwa ia sekarang memiliki tempat, kasih, dan tujuan yang baru.

Demikian juga, Allah memberi nama baru kepada umat-Nya, menunjukkan bahwa mereka diterima sepenuhnya dalam kasih-Nya.


3. Pemulihan relasi: Allah sebagai Mempelai Laki-Laki (Ayat 4-5)


Umat yang sebelumnya disebut "yang ditinggalkan" akan disebut "yang diperkenan." Ini menggambarkan kasih Allah yang menghapus rasa malu dan kesedihan.

Relasi antara Allah dan umat-Nya digambarkan seperti hubungan mempelai laki-laki dan perempuan, penuh kasih dan kesetiaan.


Apa jadinya jika seorang suami meninggalkan isterinya? Tentu berat bukan?  Apa lagi pada jaman perjanjian Lama. Seorang yang diringgal suami akan malang, tiada pelindung, tiada penolong dan akan dioandang rendah orsng lain karwna tidak bisa memelihara hubungan dengan suaminya. Tidak heran jika pada PL janda menjadi perhatian para nabi. Allah membela nasib para janda dan yatim karwna sering mejadi korban ketidak adilan, penindasan dan kesewenangan.


Seorang wanita yang ditinggal suami dalam pandangan PL demikianlah digambarkan dalam kotbah ini, kembalinya suami adalah bentuk pemulihan, perlindungan dan memelihara kembali hubungan yang intim dan hidup dalam kebahagiaan. 


Aspek lain adalah suami yang kembali ke isterinya hendak menjelaskan tentang kasih setia dan pengampunan. Sekalipun umat Allah tidak setia dan berbalik kepada ilah lain, namun Allah tetap setia pada janjiNya. Demi kasihNya dan janjiNya Allah melupakan pelanggaran umatNya dan datang untuk menyelamatkanNya. Amin


Salam Ephipanias: 

Pdt Nekson M Simanjuntak


Sabtu, 11 Januari 2025

DIUTUS UNTUK MEMBERITAKAN FIRMAN

 Kotbah Minggu I Setelah Ephipanias

Minggu, 12 Januari 2025

Ev. Kisah Rasul 8:14-25




DIUTUS UNTUK MEMBERITAKAN FIRMAN


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, pemberitaan Injil adalah tugas setiap orang percaya. Setiap orang percaya bukan hanya menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus tetapi berkewajiban untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Inilah yang disebut dengan "mandat Allah". Jika pada masa penciptaan Allah memberikan mandat kepada manusia untuk mengelola dan memelihara ciptaan, maka mandat orang percaya dalam Perjanjian Baru adalah memberitakan Injil: menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini Pekerjaan Yesus yang telah menyelamatkan manusia melalui kematian dan kebangkitanNya. Injil harus diberitakan dan menjadi saksi Kristus dimulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke Ujung Bumi. (Baca Kis 1:8, Matius 28:19-20 Markus 16:15), Seluruh ciptaan dan segala suku bangsa mendaoatkan Berita Injil.


Tugas pemberitaan itu dilakukan oleh para murid-murid dengan tuntunan Roh Kudus. Tanpa penyertaan Roh Kudus para rasul tidak dapat mengerjakan tugas pemberitaan ini. Jika kita baca keseluruhan kitab Kisah para Rasul maka akan kita temukan berita tentang penyebaran Injil dimulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, Asia Kecil dan Eropa dan seterusnya. Jemaat bertumbuh oleh pemberitaan para rasul terkhusus oleh Paulus yang sangat banyak mempengaruhi pertumbuhan Kekristenan di luar Yerusalem.


Kotbah Minggu ini diambil dari kisah pemberitaan Injil di Daerah Samaria oleh rasul Filipus. Kehadiran Injil di Samaria menjadi sukacita kepada para rasul lainnya. Petrus dan Kawan-kawannya sangat bergembira mendengar kabar itu dan ingin segera mengunjungi Samaria. Karena dalam catatan sejarah, Orang Samaria sangat sulit menerima orang Yahudi dan sebaliknya. Orang Yahudi menganggap orang Samaria adalah orang yang berdosa dan sebaliknya orang Samaria merasa bahwa Yahudi tidak beraahat kepada mereka. Peran pemberitaan Filipus di Samaria menjadi berita baik, Yesus Kristus telah diberitakan dan diterima di Samaria.


Kunjungan Petrus ke Samaria menjadi berita yang yang menakjubkan bagi orang yang bernama Simon. Simon adalah ahli dalam perdukunan namun dia sudah percaya. Simon melihat Roh Kudus adalah karunia yang luar biasa pada Petrus maka dia meminta Petrus untuk memberikan karunia itu kepada Simon, Simon mau membelinya asalakan rasul memberikannya. Inilah praktek "simoni", mencari keuntungan ekonomis dibalik karunia, karuni pemberitaan bukan lagi pada pemberitaan Injil tetapi keuntungan uang dibalik pemberitaan. Permintaan Simon ini ditentang dan dihentikan para rasul.


Sahabat yang baik hati, marilah kita memetik beberapa pelajaran dari kotbah minggu ini;


1. Pemberitaan Injil harus terus menerus dilanjutkan


Salah satu klritik terhadap gereja mainstream adalah lebih fokus pada pembenaan organisasi dan peran atau posisi di dalam masyarakat. Fokus pada pembinaan warganya kurang menjangkau orang yang belum mengenal Kristus. Kritik terhadap gereja mainstream kurang memberikan perhatian besar pada penyebaran atau pemberitaan Injil. Sebaliknya gereja yang menamakan dirinya "Injili" sering bukan memberitakan Injil ke luar kekristenan namun lebih menyasar kepada warga gereja yang nota bene sudah Kristen. Kotbah minggu ini sangat baik menyapa kita semua sebagai gereja dan sebagai warga jemaat untuk mengerjakan pemberitaan Injil.


Kehadiran Filipus di Samaria, Paulus ke Asia Kecil hingga Eropa mengingatkan gereja harus terus memberitakan Injil. Injil harus diberitakan kepada segala bangsa, memberitakan Injil ke segala mahkluk dan menggembalakan warga jemaat yang telah menjadi warga Kristen, memberdayakan warga jemaat menjadi gereja yang missioner. Amanat Agung Tuhan Yesus adalah tugas dan tanggjawab gereja dan warga jemaat yang terus menerus dikerjakan, baik melalui PI maupun melalui kesaksian pribadi. 


Gereja yang benar jika PI masih berjalan, jika PI sudah tidak dijalankan maka gereja itu pada hakekatnya mati. Gereja harus terus menerus mengerakannya PI. Disisi lain gereja harus terus menerus mengkaji model-model dan metode penginjilan. Dunia ini membutuhkan sapaan Injil agar penuh dengan damai sejahtera sesuai dengan visi Allah. Dunia ini dengan segala persoalannya membutuhkan tatanan nilai-nilai Kristiani. Dunia ini terus mengalami perubahan, perubahan sikap dan nilai-nilai seturut dengan zaman, Injil harus menyinari perilaku dan perbuatan umat manusia. 

 

Kehadiran Petrus dan kawan-kawan ke Ssamaria, hasil penginjilan Filipus menjadi pelajaran penting bagi gereja. Pemberitaan Injil harus saling menopang dan mendukung, menguatkan dan meneguhkan yang lain. Para pekerja dalam PB disebut dengan rekan sekerja Allah (sinergoi), maka demikianlah dalam mengemban PI ini gereja-gereja, hamba Tuhan dan seluruh pelayan ssaling menopang dan saling membangun untuk melanjutkan dan mengembangkan pemberitaan Injil.


2. Pemberitaan Injil dipenuhi Roh Kudus


Para pakar PB lebih setuju menyebutkan kitab Kisah Para Rasul dengan Pekerjaan Roh Kudus. Usulan ini bisa diterima karena kalau kita baca keseluruhan dari Kitab ini bagaimana para rasul memberitakan Injil semuanya dituntun oleh Roh Kudus. Setelah Roh Kudus turun atas para murid, Roh Kudus menuntun para rasul mengerjakan pemberitaan Injil. 


Pada saat Yesus memberikan amanat Agung, Yesus mengingatkan mereka tyidak boleh berangkat sebelum Roh Kudus Turun atas mereka (Kis 1:7), jadi penyertaan Roh Kudus adalah dasar pemberitaan Injil. Roh Kudus yang memenuhi para rasulmemberitakan Injil, Roh Kudus yang menggerakkan kemana para rasul pergi memberitakan Injil, Roh Kudus yang mengajari rasul apa yang hendak disampaikan kepada orang dan Roh Kudus pula yang mengarahkan dan menggerakkan hati orang untuk mendengarkan Injil (band Sida-sida Kis 8:38 dan kel. Cornelius, Kis 10:1dyb). Artinya Peran Roh Kudus mengingatkan bahwa hasil pekerjaan dari semua pemberitaan Injil adalah pekerjaan Roh Kudus. 


Peran Roh Kudus dalam pemberitaan Injil tidak dapat dilepaskan dasar Alkitab Lukas 24:49 dan 

Kisah Para Rasul 1:8, gereja atau orang percaya menerima baptisan untuk diperlengkapi dengan 

kuasa Allah di dalam memberitakan Injil. Melalui baptisan Roh Kudus, Allah memberi karunia-karunia pelayanan, sehingga gereja sebagai tubuh-Nya dapat melaksanakan tugasnya, khususnya memberitakan Injil. Peran Roh Kudus dalam penginjilan sangat nampak pada Roh Kudus menyertai pemberita Injil, menobatkan orang-orang berdosa. Roh Kudus juga mematahkan penghalang-penghalang pemberitaan Injil dan memimpin serta member kuasa kepada para pemberita Injil. Peran Roh Kudus membawa dampak berkembangnya dan pertumbuhan gereja. 


Pada akhirnya, Roh Kudus memberdayakan pemberitaan dengan bekerja di dalam dan di samping perkataan seseorang untuk menjadi saksi bagi Yesus Kristus —dan bukan melalui kepribadian atau keterampilan retorika pengkhotbah. 15 Pengkhotbahan tanpa kuasa Roh Kudus tidak akan pernah menghasilkan kehidupan yang diubahkan. Pertobatan dan kesediaan orang menerima Yesus Kristus adalah pekerjaan Roh Kudus. 


3. Pemberitaan Injil menghentikan PRAKTEK SIMONI.


Menyogok dengan uang untuk memperoleh Kasih Karunia yang diceritakan dalam Kisah Rasul 8:18-24 ini menjadi peringatan keras kepada gereja. Inilah yang disebut dengan "praktek Simoni". Ceritanya diawali dengan permintaan seorang bernama Simon, yang hendak memberikan uang kepada Rasul Petrus agar dia memperoleh kasih karunia penumpangan tangan seperti yang dimiliki oleh para Rasul


Peristiwa Simoni, bermula dari seorang bernama Simon yang dianm-diam memperhatikan ada suatu karunia yang dimiliki oleh para rasul setelah menumpangkan tangan: menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat dan orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, yang bisu dapat berbicara. semua karunia itu adalah semata-mata pemberian Roh Kudus. Mujizat seperti ini menarik baginya, dan Simon pun ikut dibaptis. Namun tujuannya ikut dibaptis adalah agar memiliki kasih karunia yang seperti dimiliki para rasul. Setelah dia dibaptis dia menjumpai rasul Petrus dan memohon kepadanya agar dia dapat memiliki karunia seperti yang dimiliki oleh para rasul. 


Kisah Rasul 8:18 Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka,

8:19 serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus."


Ini suatu motif yang sangat unik dalam alkitab, karena kuasa Allah tidak dapat dibeli dengan uang, namun Simon nampaknya hendak memiliki kasih karunia atau kuasa Roh Kudus dengan menyogok Rasul Petrus dengan uang. Inilah suatu iman yang palsu; ikut menerima baptisan, menerima sakramen dan tujuannya memperdagangkan karunia dan kuasa itu untuk kepentingan diri sendiri. 


Atas permintaan Simon ini, Rasul Petrus bangkit dan mengecam keras Simon. Petrus berkata: 

20.... "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.

8:21 Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah.

8:22 Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini;


Sikap keras dan tegas dari Petrus akan keingina Simon, yang kita sebut dengan praktek Simoni. Petrus mengutukinya dan binasa dengan segala uang yang dimilikinya. Kuasa Allah dan Kuasa Roh Kudus yang ada pada para hambaNya tidak dapat dibeli oleh uang. Karunia Roh adalah semata-mata pemberian Allah. 


Dinilah suatu peristiwa pada gereja mula-mula yang dicatat oleh Lukas penulis Kisah Para Rasul. Ada saja manusia yang oportunis dan membaptis diri untuk menerima kuasa Roh dengan tujuan bukan memuliakan Allah atau pelayanan sesuai dengan missi Allah, namun hendak memperoleh karunia dan Kuasa Roh dengan tujuan kepentingan ekonomi dan kepentingan diri. Inilah yang disebut dengan Praktek Simoni; praktek sogok dengan uang untuk menerima kuasa roh. Praktek Simoni dan segala modus yang sama dalam praktek yang berbeda harus dijauhkan dari pikiran orang percaya. karunia dan Kuasa Roh adalah pemberian Allah sendiri dan mesti dipergunakan untuk pelayanan yang tulus untuk memuji dan memuliakan Allah. Karunia tidak bisa diperdagangkan atau dibisniskan, kasih karunia adalah untuk kemuliaan Allah dan pelayanan bagi banyak orang dengan pamrih. 


Bukan saja dalam pelayanan gereja, praktek suap dalam bidang pekerjaan apapun harus dijauhkan dari seluruh orang percaya. Kita mesti kerja dan dari hasil pekerjaan kita itulah kita memperoleh berkat. Jangan ambil berkat orang lain untuk diri sendiri, masing-masing harus mensyukuri bahagian yang ditentukan Allah untuk dirinya. Nats ini mengajarkan kita agar menjauhkan diri dari segala praktek suap. 



Sahabat yang baik hati, kotbah minggu inimengingatkan kita akan amanat Tuhan Yesus kepada kita pribadi lepas pribadi, kita diutus untuk memberitakan Injil Kristus, memberitakan Firman Tuhan kepada semua orang dalam segala keadaan. Kita percaya Roh Kudus akan menyertai dan memenuhi orang percaya melakukan amanat ini. Kotbah mingguini juga mengingatkan kita semua bahwa pelayanan yang kita terima adalah pengabdian dan pelayanan yang tulus. Orang percaya, pelayan dan pekerja gereja buka. Menerima tugas atau karunia untuk mengumpulkan kekayaan tetapi mengumpulkan banyak orang untuk menerima Yesus Kristus sebagai Yuruselamat pribadi. AMIN



Salam dari kami

Pdt Nekson M Simanjuntak



Sabtu, 04 Januari 2025

TUHAN MEMULIHKAN UMATNYA

 Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru

Minggu, 5 Januari 2024

Ev. Yeremia 31:10-14



TUHAN MEMULIHKAN UMATNYA


Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kebutuhan orang yang tertawan adalah pembebasan. Umat Allah terbuang di Babelonia selama 70 tahun. Mereka menantiakan Mesias yang akan melepaskan mereka dari pembuangan dan kembali ke Yerusalem inilah pemulihan yang dinanti-nantikan oleh Israel.


Pemulihan umat Israel dari pembuangan merupakan suatu impian bersama yang telah mereka tunggu-tunggu. Karsma Allah adalah setia terhadap janjiNya. Allah tidak akan membiarkan umat pilihanNya dan umat kesayangannya berakhir di Pembuangan. Tuhan sendiri akan.membebaskan dan menebus umatNya. 


Dampak pembuangan telah membuat mereka tercerai berai, terpukul dan terbeban. Tidak sedikit dari antara mereka yang meninggalkan Tuhan namun di antara umat yang di pembuangan masih ada yang terus setia dan memiliki pengharapan penuh kepada Allah, itulah Sisa-sisa Israel. Sisa-sisa ini sesungguhnya komunitas yang lemah, ada yang cacat, ada yang lumpuh namun umat yang lemah, yang dianggap sisa-sisa dan terabaikan akan dikumpulkan dari empat penjuru mata angin. Tuhan menyatukan mereka menjadi suatu komunitas yang besar yang memperoleh pemulihan dari Tuhan. Mereka akan menjadi komunitas yang besar, ibu-ibu yang mengandung akan melahirkan generasi-generasi baru dan dibawanya kembali dengan penuh suka cita.


Dalam Kotbah Minggu ini bentuk pemulihan Allah dihadirkan oleh Yeremia dengan:


1. Tuhan menggembalakan umatnya


Yeremia 31:10 (TB) Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! 


Komunitas yang telah ditindas bangsa-bangsa dan telah tercerai beraikan akan dikumpulkan oleh Allah. Allah sendiri akan menjadi gembala atas mereka. Mereka akan dituntun kepada padang hijau, mereka akan mendapat kesejahteraan dan kemakmuran. Mereka akan menikmati panen gandum dan anggur hasil dari ladang mereka sendiri. Masa pembuangan akan segera berakhir dan Tuhan akan memulihkan keadaan mereka. 


Mengapa dari kumpulan yang lemah, cacat dan terpinggirkan? Allah sendiri hendak menyatakan bahwa mereka kembali dan menjadi bangsa yang dipulihkan bukan karena kekuatan dan kelebihan mereka sendiri. Tetapi apa yang lemah dan yang dianggap hina oleh bangsa asing, dikuatkan dan dipulihkan oleh kekuatan Allah sendiri. Inilah suatu kebajikan Allah atas umatNya. Atas semya pemulihan Allah ini, Tuhan sendirilah imam dan gembala yang memuaskan dan mengeyangkan umatNya. 

Yeremia 31:14 (TB) Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan, dan umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 


2. Tuhan membebaskan dan menebus umatNya


Yeremia 31:11 (TB) Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya. 


Apa yang kita baca dari kotbah Minggu hari adalah Tuhan sendiri akan bertindak membebaskan dan menebus umatNya. Tuhan tidak tidur dan berdiam diri melihat orang2 yang dikasinya terpuruk dan ditimpa kemalangan atau keadaan. Dalam segala keadaan Tuhan dapat bertindak dan merancang keselamatan bagi orang-orang yang dikasihinya. 


Ada dua istilah ya g dipakai dalam ayat 11 ini yaiti "membebaskan" dan "menebus". 

Membebaskan adalah konteks perang. Biasanya orang yang ditawan sangat menderita, disiksa dan diperlakukan dengan sewenang-wenang. Melawan tidak bisa karwna tertawan dan lari tak mungkin karena akan dijaga. Dalam konteks demikianlah Allah hadir untuk membebaskan umatNya yang terbuang di Babelinia. Allah akan memimpin pembebasan sama swperi Allah membebaskan imatNya dari Mesir, demikianlah Allah membebaskan mereka dari pembuangan Babel dan menghantarkan mereka kembali ke Yerusalem.


Istilah yang kedua adalah "menebus". Penebusan dalam konteks perbudakan. Seorang budak tidak akan pernah bebas, dia terikat dan tuntuk kepada tuannya dan milik tuannya. Seorsng budak diperdagangkan dan bisa dibeli oleh orang lain. Ketika dibeli dengan uang tebusan maka budak yang dibeli itu akan menjadi milik yang menebusnya. 

Dalam kotbah Minggu ini Allah sendiri akan menebus umatNya dan mereka akan menjadi milik Allah. Allah tidam akan membiarkan mereka di perbudak di Babelonia, Allah akan menebus mereka.


Istilah menebus juga dapat kita pakai dsri istilah bisnis, seperti pegadaian: jika seseorang butuh uang, maka dia akan menggadaikan barang tertentu dalam pegadaian. Barang yang digadai itu akan dibawah penguasaan pihak pegadaian sampai ditebus kembali oleh pemiliknya. Jadi istilah penebusan itu penting agar Allah menjadi pemilik satu-satuNya umatNga, mereka dalah umatNya, umat perjanjianNya dan umat kesayagannya dan milik pusakaNya.


3. Tuhan menganugerahi mereka dengan kelimpahan. 


Yeremia 31:14 (TB) Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan, dan umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 


Di pembuangan mereka sangat menderita, memang ada saja mungkin yang menikmati hidup di pembuangan, namun secara umum mereka menderita. Terbatas akan hak kepemilikan dan tetap sebagai orang asing dan mereka akan menjadi warga kelas dua di negeri Babelonia. Dampaknya adalah kemiskinan keterbelakangan dan kelaparan serta terjajah di negeri asing. 


Yeremia hadir memberikan peneguhan bahwa Allah memulihkan mereka dengan kelimpahan, memuaskan mereka dan keyang dengan kebajikan. Bentuk pembebasan dan penebusan Allah kepada umatNya dijelaskan oleh Yeremia:


Dari kelaparan dengan tersedianya hidangan lezat

Dari berkekurangan menjadi hidup berkelimpahan

Dari kemiskinan menjadi hidup berkecukupan

Dari penderitaan kepada hidup bahagia

Dari keterbelakangan menjadi hidup berkelimpahan dengan hikmat


Itukah janji Tuhan kepada umatNya melalui nabi Yeremia. Janji Tuhan ini juga meneguhkan kita menjalani tahun 202t. Mungkin banyaknhal yang membuat kita ragu, takut, terbeban dan berbagai kekuatiran kita menjalani tahun 2025 ini. Janjin

 Tuhan menjadi pegangan bagi kita. Tuhan gembala kita, Tuhan membebaskan dan melepaskan kita dari beban serta memberikan kita kelimpahan hikmat menghadapi tantang sepanjang tahun 2025 ini. Amin


Sahabatku, selamat tahun baru dan selamat menjalani tahin 2025 di dalam anugereahNya. Kita percaya Tuhan sendiri akan menerangi setiap jalan yang kita tempuh. Amin


Salam dari Pdt Nekson M Simanjuntak


DOSAMU TELAH DIAMPUNI

 KOTBAH MINGGU JUDIKA Minggu, 6 April 2025 Ev. Lukas 7:41-50 DOSAMU TELAH DIAMPUNI Selamat Hari Minggu! Sahabat yang baik hati, kotbah Mingg...