Sabtu, 13 Desember 2025

BERHARAP KEPADA ALLAH YANG MEMYELAMATKAN

Kotbah Minggu Advent III

Minggu, 14 Desember 2025

Ev. Mikha 7:7-13




Berharap Kepada Allah Yang Menyelamatkan


Selamat Advent III! Sahabat yang baik hati, kotbah minggu Advent III ini berisi tentang penantian dan pengharapan atas kemulihan Allah. Mikha tetap berharap pada Tuhan sekalioun dia merasakan cemoohkan dan dipermalukan oleh musuh. Sekalipun keadaan demikian Mikha tetap bertahan dan berpengharapan Tuhan datang menyelamatkan dan memulihkan umatNya.


Pesan kotbah ini sangat menarik karena kita menerima pelajaran uji mental? Biasanya seseorang sangat PD saat menang, saat berkuasa dan merasa dapat mengendalikan san menguasai keadaan, semua bisa diatur dan orang-orang yang dianggap musuh segera dikucilkan. Itulah mental penguasa dan cara berpikir dari pihak status quo. Tindakan penindasan dan memperdaya tidak lagi dianggap sebagai dosa tetapi kemenangan strategy untuk melanggengkan kekuasaan. 


Bagi saya ini suatu realitas "kengerian" atau ironi kekuasaan yang terjadi disekitar kita. Ada upaya melanggengkan kekuasaan seolah apapun dilakukan untuk membenarkan diri. Maka terjadilah seperti cerita yang diilustrasikan oleh sahabat dari seberang: Sibisu berbisik pada Situli bahwa Sibuta melihat Silumpuh berlari kencang. Apapun cerita dikarang untuk meyakinkan sekalipun semuanya sudah benar-benar cerita kosong. Beri klarifikaalsi dan penjelasan ini itu meyakinkan orang seolah-olah benar semuanga hampa dan nihil karwna orang yang melihat, merasakan dan mengalami sendiri. Sungguh falsifikasi yang terstruktur terjadi disekitar kita. Sungguh suatu tragedi kemanusiaan di tengah-tengah masyarakat kita melanggengkan falsifikasi - palsu.


Saya terdiam dan bingung tidak tahu mengatakan apa. Namun saya sedikit bersemangat setelah membaca nas Kotbah Minggu advent ke III ini. Nabi Mikha hadir menginspirasi dan menyemangati dari perspektif yang berbeda. Dalam keadaan sukit tegap berharap kepada Tuhan. Sekalipun terjepit jangan langsung menjerit, sekalipun dihimpit, jangan ikit berpikir picik, sekalipun ditindas dan ditekan jangan cepat berputus asa. Tetaplah berintegritas dan menjunjung kebenaran serta senantiasa berharap akan Tuhan. Sejalan dengan nabi Mikha ini benar apa yang dikatakan oleh nabi  Yesaya 2:22 (TB)  Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas.


Baiklah kita ambil tiga pelajaran dari kotbah ini:


1. Menunggu dan mengharapkan keselamatan dari Tuhan

Mikha 7:7 (TB)  Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku! 


Dalam perenungan kita di Advent III, ketajaman mendengar kita diuji Tuhan. Ketahanan dan elastisitas kita diuji sekalipun beban dan pergumulan melanda sekitar kita. 

Inilah yang disebut dengan relisiensi. Resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi, bangkit kembali, dan tetap tangguh menghadapi tekanan, trauma, atau kesulitan hidup, serta mampu pulih dan berfungsi secara optimal meski dalam situasi yang menantang. Ini adalah kekuatan mental untuk merespons secara sehat, mencari solusi, dan melihat hidup sebagai proses pembelajaran untuk tumbuh, bukan hanya hambatan. 


Menunggu Tuhan adalah sikap orang beriman menunggu dan menantikan tindakan Tuhan. Dalam situasi emergency nabi Mikha tetap menantikan Tuhan. Kotbah ini menekankan kualitas iman yang bersandar dan menunggu keselamatan dari Tuhan.


Konteks pergumulan di jaman nabi Mikha Konteks utama Kitab Mikha adalah seruan untuk pertobatan dari ketidak adilan sosial, korupsi, penyembahan berhala dan agama palsu di Kerajaan Israel (Samaria) dan Yehuda pada abad ke-8 SM, dengan pergumulan pokoknya menyoroti penghakiman Tuhan atas dosa-dosa ini, sambil tetap menawarkan harapan akan Mesias dan pemulihan di masa depan, menekankan bahwa Tuhan menghendaki keadilan, kasih, dan ketaatan, bukan hanya ritual. 


Mungkin saja ada beberapa alternatif yang ditawarkan kepada umat, namun bagi Mikha satu-satunya jalan keluar menunggu keselamatan dari Tuhan. 


2. Relisiensi - Bertahan dalam kejayaan musuh

Mikha 7:10 (TB)  Musuhku akan melihatnya dan dengan malu ia akan menutupi mukanya, dia yang berkata kepadaku: "Di mana TUHAN, Allahmu?" Mataku akan memandangi dia; sekarang ia diinjak-injak seperti lumpur di jalan. 


Dalam semua beban yang menimpa kita membutjhkan daya tahan atau relisiansi. Diatas telah saya jelaskan arti relisiansi; suatu sikap mental tahan banting dalam segala keadaan.

Pada 7: 10 ini nabi Mikha telah mengungkapkan bahwa musuh-musuhnya telah menertawakannya bahkan lawan-lawannya telah bersorak-sorai atas dirinya. Sulit memang di sistuasi dimana seseorang terpojok dalam situasi sulit. Ibarat dalam suatu pertandingan tinju seseorang petinju sudah babak belur dari awal ronde hingga ronde akhir dan seolah tidak mungkin ada kemenangan namun masih bisa bertahan. 


Bukan hanya kekalahan mental namun di dalam pergumulan nabi Mikha sampai kepada pertarungan iman. Musuh-musuhnya telah mempertanyakan Allah yang diyakini dan disembah dan berkata: "dimanakah Tuhan, Allahmu?" Ini merulakan pukulan berat dan beban yang sangat sulit dinawab.


Namun ada hal menarik disini, Nabi Mikha tidak menjawab musuhnya dia berkonsentrasi pada bagaimana bertahan pada badai dan semua beban ini. Mikha membiarkan oertanyaan terbuka kepada Tuhan dan percaya Tuhan akan menjawab doanya. Inilah kepasrahan dan pengharapan kepada Tuhan


3. Pemulihan Tuhan akan tiba


Apakah pemulihan yang diharapkan oleh nabi Mikha?  Jika kita perhatikan keseluruh isi kitab ini pemukihan hang diharapkan adalah pengampunan dosa, kasih karunia Tuhan, kedamaian, kemakmuran, dan keselamatan, yang akan terwujud melalui pertobatan, nubuat tentang Mesias dari Betlehem, dan janji Tuhan untuk mengumpulkan kembali umat-Nya untuk hidup aman di bawah gembalaan-Nya, mencerminkan keadilan dan kasih setia Tuhan yang tak tertandingi. 


Pemulihan itu ada pada Allah, Allah hafir sebagai gembala atas umatNya. Jika imam, para nabi dan para pemimpin tidak hadir sebagai gembala atas umatNya maka Allah sendirilah yang datang sebagai Gembala.


Dalam.masa-masa advent dan Natal nubuatan nabi Mikha merupakan nas yang selalu dirujuk untuk menujukkan oenggenapan Yesus sebagai Mesias yang lahir di Bethlehem. Mikha (TB)  (5-1) Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. 


Selain pemulihan sebagai bangsa, Nabi Mikha juga menubuatkan pemulihan dan pembangunan kota Yerusalem. Yerusalem harus menjadi pusat peribadahan umat Allah. Dari Yerusalemlah keselamatan Allah digenapi.


Sahabat yang baik hati! Kotbah Minggu Advent III ink meneguhkan iman kita. Milikilah resiliensi, daya tahan dan kemampuan untuk bangkit. Sekalipun ditimpa beban yang berat, musuh terlalu kuat seolah tak berdaya menghadapinya. Kotbah di Advent III menginspirasi kita tetap berengharapan dan menunggu keselamatan hanya dari Tuhan. Amin!


Salam:

Pdt Nekson M Simanjuntak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DARI KEPENUHANNYA KITA BEROLEH KASIH KARUNIA

Kotbah Minggu Setelah Tahun Baru Minggu, 4 Januari 2026 Ev. Yohanes 1:10-17 DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA Selamat Tahun Baru...